Mata Chris menatap tajam, lalu melayangkan pandangan sekilas ke Rafael. Padahal yang digendongnya itu istrinya sendiri, apa urusannya sama Rafael?Namun, Rafael sama sekali tak terpengaruh oleh tatapan tajam itu. Dia tetap sibuk memperhatikan Milla. "Kebetulan aku bawa minyak pijat untuk memar. Nanti aku bantu oleskan.""Terima kasih, aku baik-baik saja." Milla tersenyum ringan.Ekspresi Chris semakin gelap. Anak ini benar-benar berani menggoda istrinya di depan matanya! Selain itu, ini bukan pertama kalinya juga!Chris hendak menarik Milla kembali ke sisinya, tetapi sebelum dia sempat bergerak, tim produksi sudah mengenalinya dan langsung mengerubunginya. "Pak Chris? Anda ada di sini? Kenapa nggak kasih tahu kami dulu sebelumnya? Kami nggak ada persiapan sama sekali ...."Wilson yang melihat wajah bosnya semakin kelam, segera maju untuk mengendalikan situasi. "Pak Chris tertarik untuk berinvestasi dalam produksi film dokumenter kota ini.""Wah! Itu luar biasa!"Tim produksi langsung b
Milla duduk di ujung ranjang. Hatinya yang panik sontak bergetar. Chris, si pria dingin ini selalu saja memberinya kelembutan di saat hatinya lengah."Bukannya kamu sibuk? Kenapa bengong saja?" tanya Chris yang memejamkan matanya. Milla tersentak dan buru-buru meraih naskahnya dan pergi ke ruang tamu, takut kalau pria itu tiba-tiba berubah pikiran.Baru setelah menyelesaikan semua hafalan naskahnya, Milla meregangkan tubuh dan menghela napas panjang. Chris sudah terlelap di lantai.Dengan langkah ringan, dia mengambil selimut dan menyelimutinya dengan hati-hati, sebelum keluar menuju ruang rias umum untuk mencuci wajah dan melakukan perawatan malam.Di lantai yang sama, salah satu kamar hotel telah diubah menjadi ruang rias sementara yang digunakan oleh semua anggota tim produksi. Saat Milla masuk, dia tak menyangka bahwa Grace juga ada di sana!'Sudah selarut ini. Apa dia juga sedang menghafal naskah?'Namun, Grace tidak berpikir seperti itu. Dia menunggu semua kru selesai bekerja dan
Kalau saja semua orang tidak mendengar sendiri suara khas Grace yang selalu penuh drama, mereka pasti tidak akan percaya bahwa wanita berwajah bengkak di depan mereka ini adalah Grace, putri kesayangan Keluarga Young."Kamu ... kenapa jadi begini?" tanya sutradara dengan kaget.Grace menunduk dan menggertakkan giginya, sambil mengepalkan tangan dengan erat. "Wajahku alergi ....""Alergi apa sampai bisa bikin wajahnya kayak gini?" Semua orang di sekitarnya saling berbisik.Hanya Milla yang matanya memancarkan kilatan dingin. Dia langsung teringat pada botol royal jelly miliknya yang tiba-tiba berkurang drastis. Jangan-jangan wanita bodoh ini menggunakannya sebagai masker wajah?Milla hampir tak bisa menahan tawa. Melihat ekspresi geli di wajahnya, Grace semakin menggertakkan gigi dalam diam.Setelah cukup puas menahan tawa, sutradara dan beberapa kru lainnya akhirnya berkata, "Begini, jadwal syuting kita nggak bisa diundur. Semua sudah tertulis dalam kontrak. Kalau kamu bisa menghilangk
Lingkungan di sekitar begitu tenang dan damai. Ladang bunga ini dikelilingi oleh lembah yang sunyi, sementara lembah itu sendiri mengalirkan sungai jernih yang berkelok-kelok.Di kejauhan, gunung bersalju yang suci berdiri megah, menciptakan pemandangan yang memukau. Karena bukan musim liburan, jumlah wisatawan sangat sedikit. Namun, bunga-bunga di sepanjang jalan bermekaran dengan indah.Milla melangkah lebih dalam.Tiba-tiba, di antara hamparan bunga camellia yang luas, dia melihat sekuntum bunga berwarna biru keunguan.Bunga meconopsis!Mata Milla membelalak sedikit. Bunga langka ini hanya tumbuh di Kota Cevo. Dan ini adalah pertama kalinya dia melihatnya secara langsung!Karena penasaran, Milla mendekat dan menghirup aromanya. Wangi khas bunga itu memenuhi indra penciumannya. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan aromanya meresap.Seketika, berbagai inspirasi baru untuk kompetisi peracikan parfum mulai bermunculan di benaknya.Namun ... kenapa bunga langka ini bisa tumbuh di anta
"Siapkan mobil!"Usai bicara, Chris langsung bangkit dan melangkah keluar dengan cepat. Mobilnya melaju kencang menuju lokasi syuting tim produksi. Dari kejauhan, dia sudah bisa melihat kerumunan kru yang panik dan berlarian ke sana kemari.Wilson langsung menarik sutradara ke hadapan Chris.Sutradara menelan ludah. Melihat wajah Chris yang muram, dia mengira bahwa pria itu kecewa dengan tim mereka dan mungkin batal berinvestasi. Dengan cepat, dia berusaha menjelaskan, "Pak Chris, ini memang kesalahan kami. Tapi sebelumnya kami nggak pernah mengalami insiden seperti ini ....""Orangnya sudah ketemu belum?" Chris memotong basa-bas sutradara dengan suaranya yang ketus.Sutradara itu gemetar karena terkejut. "Sementara ini masih belum ... kami ... kami sedang melakukan pencarian semaksimal mungkin ...."Kelopak mata Chris berkedut. Pikirannya yang biasanya rasional, kini menjadi tak terkendali."Pak, tim penyelamat sudah turun ke sungai untuk mencari. Airnya memang dalam, tapi arusnya ngg
"Ngerti sedikit," jawab Milla."Aku nggak percaya!" Binar harapan dalam mata pria tua itu langsung berubah menjadi ucapan sinis, "Cuma anak ingusan seperti kamu ini memangnya bisa tahu seberapa banyak?""Di dalam rumah ini ada aroma camellia, magnolia, primrose, dan azalea. Kalau aku nggak salah, kamu sedang meracik wewangian berbau sedang. Semua bunga ini punya aroma yang ringan dan elegan, tapi kamu butuh sebuah aroma yang lebih kuat dan mendalam untuk menyeimbangkannya.""Itulah sebabnya kamu menunggu masa berbunga mecopnosis, bukan?"Hanya dengan sedikit menggerakkan hidungnya, Milla berhasil menganalisis seluruh kombinasi aroma di ruangan itu. Mata pria tua itu langsung bersinar tajam. Dia terdiam selama beberapa detik, lalu menatap Milla lekat-lekat."Kamu menyimpulkan semua itu hanya dari penciumanmu? Hanya dengan hidungmu?"Melihat ekspresi terkejut pria tua itu yang agak berlebihan, Milla tersenyum samar meskipun bibirnya terasa kering dan pecah-pecah. "Benar sekali."Pria tua
"Mereka menghancurkan bunga mecopnosis milikku! Apa aku bisa diam saja dan nggak cari tahu siapa pelakunya?" Pria tua itu bersungut-sungut, masih merasa sakit hati mengingat bunga-bunga yang dirusak.Milla segera bertanya lagi, "Kalau begitu, apa Anda melihat seperti apa orang itu?"Pria tua itu mendecak kesal. "Apa bedanya lihat atau nggak? Aku nggak kenal dia dan aku bukan polisi." Dia lalu melirik Milla tajam sebelum menambahkan, "Lagian, kamu masih hidup, 'kan? Semoga kejadian ini bisa membuatmu sedikit lebih pintar di masa depan!"Milla tertawa kecil, "Sebenarnya, aku memang sudah menduga ini jebakan ....""Lalu kenapa tetap melompat? Bodoh sekali!" Pria tua itu langsung mengejeknya.Milla tersenyum, lalu menjawab dengan jujur, "Tapi situasinya darurat. Nggak ada orang lain di sekitar. Kalau orang itu benar-benar tenggelam dan aku nggak menolongnya, dia pasti mati."Pria tua itu mengerucutkan bibirnya. "Siapa bilang nggak ada orang? Memangnya aku bukan orang?""Kalau begitu, apa A
Setelah berkata demikian, pria tua itu berbalik dan berjalan keluar. Namun, sebelum pergi, dia masih sempat mengingatkan, "Kamar kosong itu untukmu. Cepat tidur, jangan acak-acakin di studio parfumku."Dengan tangan bersedekap di belakang, pria tua itu melangkah pergi.Milla masih belum beranjak dari studio parfum. Sebagai seseorang yang sangat mencintai dunia wewangian, tempat ini terasa sangat menarik baginya.Mungkin itulah sebabnya dia bisa membangun komunikasi yang lebih santai dengan pria tua itu. Meskipun ruangan ini tidak besar, setiap peralatan dan bahan di dalamnya sangat lengkap. Bahkan, banyak kombinasi aroma yang belum pernah dia temui sebelumnya.Dalam hati, Milla berdecak kagum.Meskipun penampilannya sederhana, pria tua ini memiliki pendekatan unik dan wawasan yang luar biasa dalam dunia parfum. Berada di tempat ini membuatnya merasa seperti membuka gerbang baru dalam pemahamannya tentang wewangian.Hal-hal yang sebelumnya terasa membingungkan, kini mulai dia pahami den
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Laura mengangkat telepon. "Ada apa, Kak Kenrick?""Laura, kamu pernah bilang nggak akan salah jalan. Tapi, sekarang kamu hampir menghancurkan Jauhari Parfum. Mereka cuma menghapus cuplikanmu, tapi apa perlu sampai memojokkan Grup Jauhari sedemikian rupa?" tanya Kenrick."Kalau Jauhari Parfum bisa hancur hanya karena hal kecil seperti ini, bukankah itu membuktikan kalau mereka memang lemah?" Laura menimpali dengan santai. Dia baru saja menyelesaikan siaran langsung. Beberapa produk kecantikan yang dia promosikan laris manis, membuatnya semakin puas."Mereka sudah tahu kalau ini ulahku." Kenrick menghela napas, tak menyembunyikan apa pun dari Laura."Apa?" Nada suara Laura langsung berubah penuh emosi. "Kamu bilang kalau ini ulahku?"Kenrick mengerutkan kening, suaranya rendah. "Nggak.""Oh, bukan begitu maksudku .... Maksudku, kamu baik-baik saja?" Laura segera mencari alasan untuk memperbaiki suasana.Kenrick awalnya ingin mengatakan bahwa keluarga
Kenrick kembali ke kantornya. Yang mengejutkannya, perusahaan tidak lagi mengirim orang untuk mengawasinya ....Dia masih teringat suasana di rapat dewan direksi tadi. Semua pemegang saham menargetkan keluarganya karena perbuatannya. Dia juga teringat wajah ayahnya yang marah besar. Hatinya terasa berat.Dia membuka internet dan mencari perkembangan terbaru tentang skandal parfum Grup Jauhari. Situasinya ternyata jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan. Meskipun demikian, Milla masih menjaga harga dirinya.Di tengah kebingungannya, Kenrick melihat ponselnya dan ragu-ragu apakah harus menelepon Laura atau tidak. Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, Milla sudah mengetuk pintu ruangannya.Dia panik dan buru-buru meletakkan ponselnya. Milla masuk dengan ekspresi tenang dan berucap, "Aku ingin kamu mendengar sebuah rekaman. Kamu masih ingat beberapa hari yang lalu, saat aku difitnah memiliki kehidupan pribadi yang kacau di Cube Mansion?"Kenrick mengangguk. Kasus itu sempat menjadi s
Dua puluh menit kemudian, rapat dewan direksi darurat pun dimulai.Kenrick bisa dibilang adalah orang yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia langsung mengakui semua yang telah dia lakukan, bahkan menjelaskan secara detail bagaimana informasi itu bocor.Seperti yang diduga, para pemegang saham lain langsung mengarahkan kemarahan mereka kepada ayah Kenrick."Ini keterlaluan! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu sudah mencelakai kita semua!""Kami tahu dulu kamu adalah bawahan Donny, tapi lihat bagaimana keadaan Donny sekarang! Kamu masih memilih berdiri di pihaknya?"Para pemegang saham mengkritiknya dengan suara lantang. Wajah Kenny memerah karena marah, tubuhnya sedikit gemetar. Dia berdiri dan menunjuk Kenrick sambil menghardik."Anak durhaka! Apa kamu diancam seseorang? Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Apa kamu dijadikan kambing hitam oleh seseorang? Katakan sesuatu!"Milla yang merasa tersindir oleh ucapan itu, hanya tersenyum dingin dan tenang. "Pak Kenny, aku
Salah satu karyawan wanita mengambil ponselnya dengan gugup, membuka media sosial, dan menyerahkannya kepada Milla. Gerak-geriknya hati-hati, seolah-olah sedang mengakui kesalahan."Bu Milla, aku menambahkan WhatsApp-nya waktu menangani iklan dengan Laura hari itu ...."Semua orang tahu bahwa saat terakhir kali syuting iklan, Milla dan Laura sempat berselisih. Mereka khawatir akan menyinggung Milla karena hal ini.Namun, Milla tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada layar ponsel. Di sana, Laura mengunggah postingan terbaru.[ Malam panjang lagi, hanya bisa diselamatkan oleh masker wajah .... ]Di kolom komentar, Kenrick menunjukkan kepeduliannya.[ Kalau bisa tidur, tidurlah sebentar. Jaga kesehatanmu. ]Kalimat itu ... sepertinya hubungan mereka cukup dekat.Milla mengedipkan matanya. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sebelumnya ketika naik mobil Kenrick, ponsel Kenrick berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Laura. Ternyata Laura yang sama?"Terima kasih." Milla mematikan ponsel i
Milla mendongak dengan terkejut. Yang dilihatnya adalah leher panjang dan dagu Chris. Pria itu merangkulnya ke dalam mantel, seolah-olah dia adalah zirah pelindungnya.Di belakang, bawahan dan pengawal Chris segera menahan beberapa orang yang membuat onar itu. Salah satu dari mereka maju untuk bertanya, "Pak, apa yang harus kami lakukan terhadap orang-orang ini?""Bawa mereka kembali, cari tahu dalang di balik ini!" Chris memberi perintah tanpa menoleh."Baik!"Suasana di belakang langsung menjadi tenang. Milla keluar dari pelukannya, melihat punggungnya yang basah kuyup. Ujung mantel Chris masih terus meneteskan air."Kamu baik-baik saja?" Ada banyak hal yang ingin Milla tanyakan, tetapi akhirnya hanya itu yang keluar."Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku cuma perlu mengganti pakaian," jawab Chris dengan tenang. "Kamu naik saja, aku akan mengantarmu ke lift.""Baik." Milla mengangguk tanpa banyak bicara.Chris mengantarnya ke lift. Begitu sampai di kantor, asisten sudah menunggu di depa
"Dulu, aku pernah dengar dari ayahku kalau ayah Milla berhasil membesarkan Jauhari Parfum dengan usahanya sendiri dalam waktu singkat. Padahal, saat itu industri parfum sedang mengalami masa sulit! Di kalangan profesional, beredar kabar kalau dia punya penciuman yang luar biasa dan ahli dalam meracik aroma.""Jangan-jangan Milla juga mewarisi bakat itu?" tanya Levis sambil mengingat kembali semua yang terjadi."Tapi, kamu sendiri yang mengatakan itu cuma rumor," ujar asistennya dengan hati-hati, tidak yakin dengan arah pemikiran Levis.Levis mengusap kumisnya dengan santai. "Mana ada rumor yang muncul tanpa alasan? Kirim lebih banyak orang untuk menyelidiki masalah ini dengan baik!""Baik!" Asisten itu segera mengiakan.....Milla belum tiba di kantor Grup Jauhari, tetapi di internet sudah muncul lagi seorang ahli yang memberi pernyataan.Kali ini, mereka mengatakan bahwa dokumen verifikasi yang dirilis Grup Jauhari hanya berasal dari perusahaan, tanpa sertifikasi dari pusat sertifikas
"Kok bisa?" Milla mengerutkan alisnya."Kami juga nggak tahu apa yang terjadi. Yang bersuara bukan hanya satu orang, masalah ini sudah cukup besar. Sekarang tim humas kita sedang bekerja sama dengan tim humas pihak ketiga untuk mencari solusi," kata asisten.Saat mereka berbicara, telepon Joy juga masuk.Milla berpikir sejenak, lalu memberi instruksi kepada asistennya, "Segera hubungi tim kendali mutu dan periksa ulang parfum yang kita distribusikan untuk uji coba. Pastikan apakah benar ada masalah atau nggak.""Tapi, kita sudah melakukan verifikasi berulang kali. Bahkan pusat sertifikasi juga nggak menemukan masalah, 'kan?" tanya asisten itu dengan bingung."Apa pun hasil sebelumnya, sekarang sudah ada laporan masalah, kita tetap punya tanggung jawab untuk memeriksa ulang. Kalau memang kesalahan ada pada kita, kita harus memberi kompensasi dan permintaan maaf yang seharusnya."Setelah mengatakan itu, Milla mengakhiri panggilan dan menerima panggilan dari Joy."Milla, jangan-jangan ada
Suara Graham yang kaku terdengar dari telepon."Ya, kamu punya nomorku, sementara aku nggak punya nomormu. Aku sempat berpikir kamu sudah lupa dan nggak butuh aku membayar utangku lagi," sahut Milla sambil tersenyum."Aku ini orang yang perhitungan! Mana mungkin aku melupakan orang yang berutang padaku!" Graham berbicara dengan serius, "Bereskan barang-barangmu, aku akan kirim alamat studioku.""Sekarang?" Milla sedikit terkejut."Kenapa kalau sekarang?" Graham terdengar tidak puas. "Orang-orang di Kota Huari terlalu ramah. Mereka baru saja mengantarku pulang, tapi besok aku harus pergi lagi. Kamu nggak ingin menepati janji atau bagaimana?""Ya sudah, kirim alamatnya. Aku segera ke sana," balas Milla dengan tegas.Setelah mengakhiri panggilan, Milla menggoyangkan ponselnya di depan Chris dan berkata dengan nada agak menyesal, "Aku harus keluar sebentar. Lokasinya agak jauh, mungkin aku akan pulang sangat larut. Jangan tunggu aku."Usai berbicara, dia mulai bersiap-siap. Namun, saat aka
Sopir tidak berani bicara lagi dan langsung membelokkan mobilnya. Mereka kembali ke arah Milla, lalu perlahan berhenti di sampingnya.Sebelum mobil benar-benar berhenti, Chris sudah membuka pintu dan turun. Dia melangkah cepat ke arah Milla. "Kamu kenapa?"Milla masih merasa pusing. Mungkin karena belum makan, kadar gula darahnya turun. Dia tidak punya tenaga untuk menjawab, hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Chris mengerutkan alisnya. Tanpa banyak bicara, dia membungkuk dan langsung menggendongnya masuk ke mobil. "Bukannya tadi kamu melarangku naik mobilmu?"Milla menatap pria di sampingnya dengan alis terangkat."Kondisimu sudah seperti ini, tapi masih keras kepala?" Chris menegur dengan nada kesal.Milla cemberut. Entah siapa yang mulai duluan?"Ke rumah sakit!" perintah Chris."Nggak mau." Suara Milla tidak besar, tetapi nadanya sangat tegas. Melihat pria di sebelah hampir marah, dia menambahkan, "Rumah sudah dekat. Aku nggak mau ke rumah sakit. A