Hati-hati, Bu, nanti terantuk kaca lagi. Sayang kalau kacanya sampai pecah!” goda Darren.
Eloisa mengerjap, keterpesonaan pada wajah tampan di depannya berubah menjadi kekesalan. Apa maksudnya? Gakpapa gitu kepalanya benjol asal kacanya tidak pecah?
Darren yang melihat wajah kesal Eloisa merasa gemas, dia menarik tangannya yang tadi memegangi kepala wanita itu, lalu mencubit hidung wanita itu.
“Makanya konsentrasi saat ditanya, Bu. Dimana alamat rumah Ibu?” tanya Darren lagi. Dia melirik gemas wanita di sampingnya yang ternyata sedang mendelik tajam menatapnya.
“Lama-lama kita menginap disini, loh, Bu.” gurau Darren sambil tertawa melihat wajah wanita itu. Jika wanita itu bermaksud mengintimidasi dirinya, sudah pasti wanita itu gagal. Ayah dan kakaknya jauh lebih menyeramkan saat sedang marah.
“Saya, sih, tidak masalah. Saya bisa tidur dimana saja. Apalagi, ditemani Bu Dosen cantik,” kata Darren terus menggoda Eloisa. Alisnya sekarang dinaik turunkan, senyum jail belum hilang dari bibirnya.
“Jalan Kenanga nomor enam belas!” jawab Eloisa ketus. Dia membuang muka, sekarang wajahnya menatap kaca jendela sebelahnya. Biarin sajalah, turuti saja maunya mahasiswa edan ini. Sejak tadi dia sudah bermaksud baik, tapi jika pria itu memaksa menyusahkan dirinya sendiri, ya, sudah!
“Nanti leher Ibu keseleo jika terus menoleh ke satu sisi, loh,” kata Darren usil sambil mulai menjalankan mobil itu. Dia masih terkekeh melihat kekesalan Eloisa. Sangat jarang ada wanita yang bisa marah padanya, jadi melihat dosennya ini kesal setengah mati itu benar-benar menghibur. Bukannya takut, dia malah merasa lucu. Tanpa mempedulikan Eloisa, Darren mulai bersenandung mengikuti lagu yang diputar di radio.
Eloisa mendelik lagi pada Darren. Kekesalannya sudah memuncak, mahasiswa edan ini sejak tadi terus meledek dan menertawakannya! Darren yang sedang mengemudi tidak menyadari kalau tangan Eloisa bergerak.
“Aduh!” seru Darren terkejut saat Eloisa mencubit pinggangnya, bukan cubitan genit, tapi cubitan ala guru sekolah. Bahkan pegangannya di kemudi sampai terlepas yang membuat mobil itu oleng ke arah kanan dan terdengar klakson dari arah depan.
“DARREN!” teriak Eloisa panik saat melihat truk yang hampir menabrak mereka.
TIIINNN
“DARREEENNN!” Eloisa kembali berteriak kali ini jauh lebih keras. Dia memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat tabrakan yang akan terjadi di depan matanya.
Mendengar itu, Darren langsung memutar roda kemudi itu agar kembali ke jalan yang benar. Hampir saja mobil yang dia kendarai itu menabrak truk yang sedang melaju ke arahnya karena mobilnya yang oleng ke arah kanan yang merupakan jalan dari arah sebaliknya. Gila, itu tadi truk. Matilah gue kalau sampai ketabrak!
Deg deg deg
Jarang sekali jantung Darren berdebar secepat itu saat bersama wanita, pengecualian saat ini karena mereka hampir saja mati konyol! Dia langsung menepikan mobilnya dan bersiap mengomeli wanita pemarah di sampingnya yang tidak tahu waktu, tiba-tiba mencubitnya sekeras itu saat dia sedang mengemudi!
Namun begitu dia menoleh, wajah wanita itu sepucat kertas dan tubuhnya gemetar. Semua kalimat makian yang sudah di ujung lidah, sekarang tidak jadi keluar.
“Ma-maaf. A-aku tidak ...” Eloisa berkata terbata. Dia sangat syok melihat truk yang tadi hampir menabrak mobilnya. Dia hanya kesal dan bermaksud mencubit Darren agar berhenti tertawa, tapi pria itu malah terkejut dan melepas pegangannya pada roda kemudi.
Darren menarik kepala wanita itu ke bahunya, lalu membelai pelan punggung Eloisa hingga tubuh wanita itu berhenti gementar. Karena berada di kursi depan, dia tidak bisa memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Dia menghela nafas, dia tidak tega kalau harus mengomeli wanita yang sudah gemetaran seperti ini.
“Sudah. Sudah. Yang penting kita tidak kenapa-napa. Mobilnya juga tidak lecet,” kata Darren mencoba melucu. Dia terus membelai punggung wanita itu. Dia menghidu aroma familiar dari rambut wanita itu dan mengerutkan kening. Aroma apel? Dia mencoba mengendus lagi dengan penasaran dan benar itu wangi apel. Itu wangi sampo apel yang dulu selalu dia gunakan, sampo anak-anak merk DiiDii.
Alisnya masih berkerut, namun senyum kembali terbit di bibirnya. Berapa usia wanita ini? Sepertinya belum ada tiga puluh. Tapi, apakah ada wanita dewasa yang masih menggunakan sampo anak-anak beraroma apel?
Darren dengan penasaran melihat ke sekeliling mobil dan benar saja. Ada sepasang bantal boneka hello kitty dan melody di kursi belakang dan beberapa boneka karakter sanrio dipajang di jendela belakang.
Darren lalu membayangkan dosennya ini memeluk boneka hello kitty dengan wajah datar dan tawanya menyembur. Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatapnya bingung.
“Tidak ada apa-apa, Bu. Lebih baik sekarang kita jalan, hari sudah mulai gelap,” kata Darren yang berusaha menahan tawanya dan langsung menyandarkan wanita itu di kursinya. Dia lalu mulai menjalankan mobil lagi. Lebih baik dia mengalihkan pikirannya dengan mengemudikan mobil daripada nanti tidak bisa berhenti tertawa.
Tidak ada yang berbicara lagi sepanjang perjalanan itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah Eloisa.
“Darren,” panggil Eloisa.
“Iya Bu,” jawab pria itu menoleh pada Eloisa.
“Itu … Bagaimana kalau ada bekas luka di pipimu?” tanya Eloisa khawatir.
“Hm, berarti Ibu harus bertanggung jawab!” jawab Darren santai. Dia sebenarnya tidak masalah. Tadi Dokter sudah bilang kalaupun berbekas hanyalah garis putih dan itu mudah ditutupi dengan make up. Namun, dia sekarang seakan mendapatkan cara untuk memuaskan rasa penasaran yang sejak tadi menggerogotinya.
“Iya,” jawab Eloisa.
“Eh, iya?” tanya Darren. Dia pikir dosennya ini akan komplain.
“Iya. Aku akan bertanggung jawab. Nanti aku akan membayarkan biaya bedah plastiknya,” jawab Eloisa serius. Darren terdiam agak lama karena mencerna perkataan Eloisa, lalu tawanya menyembur lagi saat menyadari maksud dosennya ini. Eloisa yang merasa tidak ada yang lucu mulai kesal lagi.
“Kurasa tidak ada yang lucu!” kata Eloisa jutek. Mendengar nada suara Eloisa membuat Darren terus tertawa. Jarang sekali dia terus tertawa saat bersama wanita.
“Aduh!” seru Darren. Dia langsung memegangi pinggangnya bagian kiri yang hari ini dua kali dicubit wanita di sampingnya.
“Bu El, jika mau membuat tanda di tubuhku, dengan bibir saja, jangan dengan tangan!” oceh Darren kesal. Cubitan wanita itu benar-benar sakit! Dia tidak menyadari kalau wanita di sebelahnya merona karena kalimat vulgarnya.
“Siapa suruh menertawakan orang terus!” sahut Eloisa jutek walaupun wajahnya merona. Untung saja sekarang sudah mulai gelap, jadi rona di wajahnya tidak terlihat jelas.
“Baiklah. Tadi Ibu mengatakan kalau Ibu mau bertanggung jawab, kan?” tanya Darren serius. Sudah tidak ada nada bercanda di suara itu.
“Ya, seperti yang tadi saya katakan, saya akan bayarkan biaya operasi plastiknya jika memang lukanya berbekas,” jawab Eloisa sama seriusnya.
“Saya tidak mau dalam bentuk operasi,” kata Darren. Walaupun dia ingin tertawa lagi saat mendengar kata ‘operasi plastik’, tapi dia harus menahannya. Sekarang dia harus bernegosiasi dengan baik.
“Jadi, kamu mau ganti rugi seperti apa?” tanya Eloisa. Alisnya mengerut bingung.
“Saya mau mencium Bu El lagi,” jawab Darren yang membuat Eloisa terbelalak. Eloisa baru mau menyemburkan amarahnya saat suara Darren terdengar lagi.
“Cuma satu kali lagi, Bu El. Ayolah, satu kali lagi dan aku tidak akan mengganggu Bu El lagi,” pinta Darren. Dia menunjukkan tatapan memohon yang sangat sulit ditolak wanita manapun kecuali ibunya yang sudah kebal.
“Kamu …!” Eloisa sampai kebingungan apa yang harus dia katakan karena terlalu terkejut. Kenapa pria ini sekarang mau terus menciumnya?
“Aku penasaran sekali kenapa bisa beda. Ya, ya, ya, Bu El …,” pinta Darren merayu.
“Beda?” Eloisa mengerutkan keningnya. Pria ini sedang membicarakan apa ya? Jangan-jangan tadi dia salah menangkap maksud pria ini.
“Iya beda. Kenapa rasanya beda saat aku mencium Ibu dengan mencium pacar-pacarku?” kata Darren jujur yang membuat Eloisa tercengang.
“Ka-kamu! Jadi, tadi kamu mencium saya lagi karena- karena ... merasa- merasa …,”
Eloisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena terlalu syok. Dan pria di depannya sekarang sedang mengangguk membenarkan apa yang dia pikirkan. Eloisa langsung menggelengkan kepalanya. Dasar gila! Dia tidak mau disamakan dengan pacar-pacarnya si buaya!
“Kamu gila! Jadi kamu akan terus mencium saya kalau tetap merasa berbeda?” Eloisa menatap horor pada buaya darat di depannya ini. Berapa banyak wanita yang sudah dicium pria ini hingga merasa semua ciuman sama saja? Eloisa memundurkan dirinya hingga punggungnya menempel pada kaca jendela.
“Satu kali lagi saja, Bu. Setelah itu tidak akan lagi. Ya, ya, ya,” jawab Darren dengan tatapan memohon yang biasanya ampuh pada wanita dari segala usia. Sayang beribu sayang, Eloisa berbeda dari wanita kebanyakan. Wanita itu masih menatapnya seakan dia hantu.
“Suer,” kata Darren lagi mencoba menyakinkan dan Eloisa masih menggeleng horor.
Setelah keheningan beberapa saat, Darren merasa dia tidak bisa menyakinkan Eloisa, akhirnya Darren menghela nafas dan membuka pintu mobil itu.
“Baiklah, saya pulang saja. Cepat masuk ke rumah, Bu El, sekarang sudah malam.” kata Darren sebelum menutup pintu itu.
Entah bagaimana sekarang Darren sudah memiliki panggilan khusus untuk Eloisa, Bu El. Dan dalam hati, Eloisa juga sudah memiliki panggilan khusus untuk Darren, buaya!
****
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya Eloisa keluar dari mobilnya. Dia melirik ke kiri dan kanan, takut mahasiswanya itu masih berkeliaran di dekat rumahnya. Entah apa yang dia takutkan? Kalau takut dicium paksa lagi, sebenarnya lebih mudah saat pria itu berada di mobilnya. Hanya saja, dia merasa tidak aman.Begitu keluar dari mobilnya, Eloisa langsung berlari masuk ke rumahnya dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak jauh dari rumahnya, Darren masih memperhatikan rumah Eloisa. Dia melihat wanita itu masuk ke rumahnya dan tidak lama terlihat lampu menyala dari jendela yang memiliki balkon di lantai dua, berarti disanalah kamar wanita itu. Dia harus memastikan kalau wanita itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Seburuk-buruknya sikapnya, ibunya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab. Jika dia mengantarkan wanita pulang, jadi, dia akan memastikan kalau wanita itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Setelahnya, dia baru akan pulang ke rumahnya atau ke tempat
“Aduh!” keluh Eloisa. Dia lalu melihat banyak mahasiswi yang berdiri mengelilingi dirinya. Dia mengenali beberapa mahasiswi yang pernah masuk kelasnya. Dia langsung berdiri dan memasang ekspresi dinginnya.“Ada apa ini?” tanyanya kaku sambil memelototi para mahasiswi itu, mencoba mengingat nama mereka.“Tidak ada yang boleh melangkahi Darren Club. Jangan berpikir karena Anda seorang Dosen, maka Anda bisa seenaknya merayu Darren!” kata salah satu mahasiswi yang tidak dia kenal.“Merayu Darren?” ulang Eloisa. Dia tercengang. Siapa yang merayu siapa disini?!“Jangan berlagak bodoh! Aku melihatmu turun bergandengan tangan dengan Darren setelah kalian berciuman!” tuduh Clara sambil menunjuk Eloisa. Eloisa sebenarnya tidak mengenal wanita itu, tapi dia mengenali suara wanita itu. Wanita yang diputuskan si buaya di rooftop.“Kalian salah sangka. Bukan seperti itu kejadiannya!” bantah Eloisa. Dengan horor Eloisa berpikir kalau semua wanita ini adalah pacar si buaya dan dia akan dikeroyok. Tid
Tidak lama kemudian, Pak Darius kembali, pria itu langsung membuka pintu klinik dan menyalakan lampu. Dengan penerangan yang cukup, matan Eloisa bisa melihat dengan lebih baik. Matanya memiliki kelainan sejak kecil, sejak di sekolah dasar dia sudah memakai kacamata plus, bukan minus. Jadi, dia bisa melihat jelas objek yang jaraknya jauh, tapi, tidak bisa melihat jelas objek yang jaraknya dekat. Apalagi saat penerangan kurang, matanya semakin sulit untuk melihat tanpa kacamata yang dibuat khusus sesuai kebutuhannya. Kekurangannya itu membuat inderanya yang lain lebih tajam. Telinganya bisa mendengar suara dari jarak cukup jauh dan cepat mengenalinya, termasuk mengenali suara orang lain. Dengan beberapa kali mendengar suara orang yang sama, dia akan langsung mengenali orang itu walaupun mereka tidak sedang berhadapan.Darius membantu wanita di depannya untuk duduk dan mulai membuka laci dan rak untuk mencari antiseptik untuk membersihkan luka. Setelah menemukan yang dia cari, dia segera
“Dia tidak mendatangi ayah dan kak Darius untuk meminta pertanggungjawaban karena mengaku kuhamili, kan?” Darren menyuarakan rasa penasarannya. Mereka sudah terbiasa dengan wanita yang tiba-tiba datang ke rumah dan mengaku dihamili oleh Darren. Jadi, dari sepuluh kali Darren duduk di kursi pesakitan keluarganya ini, minimal delapan kalinya berurusan dengan wanita.“Tidak. Namun tadi aku melihat dia dirudung oleh segerombolan mahasiswi yang sebagian dari mereka pernah kudengar namanya kau sebutkan,” jawab Darius dan Darren langsung memucat. Dan ekspresinya tentu saja terlihat jelas oleh keluarganya, yang berarti dia memang melakukan salah. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ayahnya lagi. Pertanyaan Ayahnya membuat Darren tidak jadi bertanya mengenai kondisi Eloisa pada kakaknya. Sekarang dia melirik semua orang yang ada disana, dari Kakaknya, ke Ayahnya, lalu ke Ibunya. Masa dia harus mengaku kalau dia salah mencium orang? Dosen pula!“Darren!” panggil Rosaline setelah sekian lama k
“Sekarang cepat katakan keperluanmu, lalu segera pergi!” perintah Eloisa ketus begitu kaki pria itu menapak di lantai kamarnya. Dia kesal sekali pada buaya di depannya ini. Hal buruk yang terjadi padanya beberapa hari ini adalah karena si buaya. Dan sekarang, saat dia mau beristirahat saja masih di ganggu si buaya!Bukannya menjawab, Darren malah berjalan keliling kamar itu.“Eh, ngapain kamu?” tanya Eloisa dengan nada tidak suka sambil mengejar Darren.“Saya ingin menyalakan lampu. Dimana saklar lampunya?” tanya Darren.“Untuk apa? Cepat katakan keperluanmu, lalu segera pergi dari sini!” usir Eloisa untuk kesekian kalinya.Akhirnya Darren menemukan saklar lampu dan menyalakannya. Tatapannya sekarang terpaku pada Eloisa yang menatapnya tajam. Wanita itu menggunakan baju tidur dengan gambar hello kitty besar di tengah, rambutnya terurai dan wanita itu menggunakan kacamata dengan lensa bulat besar. Kemarin dia berpikir kalau akan lucu jika melihat dosennya ini memeluk boneka hello kitt
Betapa terkejutnya Eloisa saat keluar dari rumahnya dan menemukan mobil Pak Darius disana. Belum selesai keterkejutannya, kaca jendela mobil itu terbuka dan dia melihat orang yang paling tidak ingin dia lihat setelah mantan pacarnya dan istrinya itu!“Selamat pagi, Bu El.” sapa Darren dari kursi sebelah pengemudi. Dia tertawa melihat dosennya itu membelalakkan matanya.Eloisa menghentikan lidahnya yang sudah siap memaki si buaya saat melihat Pak Darius yang berada di kursi pengemudi.“Masuklah, Bu Eloisa. Saya akan mengantar anda ke kampus. Mobil anda kemarin ditinggal di kampus,” kata Darius. Eloisa mengerjap bingung, rasanya dia tidak membuat janji untuk dijemput semalam?“Ayo Bu El. Nanti kita terlambat!” kata Darren lagi saat melihat Eloisa masih belum bergerak dari tempatnya berdiri.Akhirnya Eloisa beranjak dari tempatnya dan masuk ke pintu penumpang bagian belakang mobil. Setelah duduk dengan nyaman, dia menyapa Darius.“Selamat pagi, Pak Darius,” sapanya sopan.“Selamat pagi,
Darius menghampiri Eloisa yang masih menatap horor pada Clara. Sepertinya wanita itu agak syok. Gadis-gadis di sekitar Darren memang bisa menjadi brutal setelah diputuskan adiknya itu. “Anda tidak apa-apa, Bu Eloisa?” tanya Darius. Dia menyentuh pundak Eloisa karena mata wanita itu masih fokus pada Clara. Eloisa tersentak karena sentuhan itu dan langsung menoleh pada Darius.“I-iya Pak Darius. Saya tidak apa-apa. Ha-hanya sedikit terkejut,” jawab Eloisa terbata. Perkataannya tidak sesuai dengan wajahnya yang sudah pucat.“Kembali ke tempatmu, Clara Suyanti!” perintah Darius dan dengan terpaksa gadis itu menurut, berjalan kembali ke tempat dirinya tadi berdiri. Di saat bersamaan, terdengar pintu diketuk dan Dokter Sofi masuk ke ruangan.“Anda memanggil saya, Profesor?” tanya Dokter Safi pada Profesor Adianto yang baru saja mengirimkan pesan padanya untuk datang ke ruangan ini.“Iya, Dokter Sofi. Saya ingin bertanya, apakah minggu lalu Bu Eloisa dan Darren datang ke klinik?” tanya Adia
Neni yang merupakan bagian dari admin Darren Club yang ikut merundung Eloisa sekarang sedang menunduk bersama delapan belas anggota Darren Club lain yang tadi juga mendapatkan hukuman skorsing.Kedelapan belas anggota aktif yang merupakan pacar dan mantan pacar edisi kemarin-kemarinnya Darren ini sedang menghadapi sidang dari admin Darren Club saat Darren masuk ke dalam ruang clubnya itu.Dia menatap marah ke sembilan belas wanita yang membuatnya menerima hukuman yang paling dia benci. Dia adalah orang yang menyukai kebebasan dan tidak suka mengurusi orang lain. Sekarang dia harus menjadi asisten Dosen dan lebih parahnya, asisten Dosen Kakaknya. Kakaknya itu perfeksionis, dan itu benar-benar menyulitkan untuk dirinya yang suka mengerjakan apapun secara asal jika sedang malas.“Saya minta klub ini ditutup per hari ini!” perintah Darren.Semua admin dan anggota Darren Club langsung pucat, sebagian dari mereka bahkan tanpa sadar memekik tidak terima, namun mereka tidak berani membantah s
Eloisa sengaja datang ke kampus di waktu yang mepet dengan jam mengajarnya, agar dia tidak diinterogasi oleh rekan-rekannya lagi perihal pernikahannya kemarin. Jadi, dia masuk ke ruang dosen dan langsung menuju mejanya sambil menyapa sekilas dosen-dosen yang masih berada disana, lalu mengambil perlengkapan mengajarnya dan kembali keluar.Beberapa dosen menertawakan tingkah Eloisa yang terlihat jelas sedang menghindari mereka. Mereka yakin Eloisa juga berada di posisi yang tidak enak karena pernikahan unik ini, hanya saja, hal ini memang sangat sulit untuk dipercayai akal sehat.Mereka melihat sendiri kalau Eloisa dan Darius sudah cukup dekat, tapi tiba-tiba di hari H, yang menikah dengan Eloisa adalah adik Darius, dimana Dariusnya sendiri terkesan cuek dengan hal itu. Hari seninnya, Darius masuk kerja seperti biasa, seakan tidak ada pernikahannya yang gagal terlaksana. Apakah mungkin ada prank untuk hal sepenting sebuah pernikahan?Setelah mengantar Eloisa ke kampus dimana dia tidak d
Selama tiga hari menginap di vila, Eloisa sangat dimanjakan oleh Darren. Mereka tidak seperti pengantin baru yang menghabiskan sepanjang hari di kamar, tapi Darren mengajak Eloisa untuk pergi ke tempat-tempat bagus yang ada di sekitar vila tempat mereka menginap.Darren selama ini tidak pernah berjalan berdua dan menikmati waktu bersama-sama dengan Eloisa, walau hanya untuk makan dan melihat-lihat tempat wisata. Karenanya, dia ingin melakukannya mulai dari sekarang, dia akan membuat banyak momen untuknya dan Eloisa, istilahnya ini seperti pacaran setelah menikah. Mereka berjalan berdua di pinggir danau sambil bergandengan tangan, menikmati makanan khas di pinggir jalan. besonya, Darren mengajak Eloisa ke taman, berjalan sambil memberi makan roti tawar pada burung liar.Eloisa banyak tertawa karena memang Darren adalah orang yang menyenangkan, pria itu bisa membawa suasana menjadi ceria dengan tingkahnya. Darren juga tidak pernah menuntut apapun dari Eloisa, dia malah mendorong Eloisa
Tidak terjadi insiden apapun saat acara pemberkatan pernikahan ini, mulai dari Eloisa yang mengucapkan sumpah pernikahannya dengan baik, sampai dengan penandatanganan surat nikah mereka.Kali ini, Darren juga menjadi anak baik, saat disuruh mencium pengantinnya, dia hanya menempelkan bibirnya sebentar dengan bibir Eloisa, dia tidak melumat bibir Eloisa dengan ganas seperti biasanya.Dia mengerti kalau dia harus menjaga martabat Eloisa yang tinggal setengah itu, agar tidak amblas sampai ke dasar. Dalam hati, dia menyabarkan dirinya. Tenang, setelah ini, Eloisa sudah bebas dia peluk, cium dan yang lainnya semau dia, jadi sekarang saja dia harus menjaga sikap!Ada jamuan makan siang di ruangan lain yang sudah disulap menjadi tempat resepsi kecil-kecilan dan disanalah Eloisa tidak bisa menghindar dari rekan-rekan dosennya yang terus menggodanya dan menjadi reporter dadakan.“Ya ampun, Bu Eloisa, kenapa bisa jadi nikahnya dengan Darren?” tanya salah satu Dosen.“Iya, nih, Bu Eloisa, ternyat
Untuk kesekian kalinya, Eloisa berusaha melepaskan pegangan tangan Darren, dan untuk kesekian kalinya juga gagal. Mereka sudah berada di gereja sejak jam sepuluh, dimana keluarga Hartadi dan keluarga Renata juga sedang dalam perjalanan ke gereja ini, tempat dimana sekarang mereka sedang duduk di ruang tunggu pengantin dan keluarganya, sambil bergandengan tangan sejak lima belas menit yang lalu.Karena pernikahan ini hanya berupa pemberkatan pernikahan saja, dan semua dekorasi dan persiapan sudah dibereskan oleh staf gereja dan Lukas dkk, jadi mereka memang hanya menunggu waktu saja sekarang.“Lepaskan tanganku, Darren,” pinta Eloisa.“Tidak mau,” jawab Darren sambil tersenyum menggoda.“Kenapa juga harus pegangan tangan terus!” keluh Eloisa.“Karena aku tidak boleh memelukmu atau menciummu,” jawab Darren yang membuat Eloisa langsung cemberut, tapi lalu menyerah mencoba menarik tangannya. Sedangkan sebelah tangan Darren masih sibuk mencomot camilan yang disediakan disana, berupa kue-ku
Karena hari masih pagi dan hari ini adalah hari minggu, mobil yang dikendarai Darren tiba di rumah Eloisa dalam waktu setengah jam.Manda terkejut saat melihat Darren yang sudah rapi, di depan rumahnya. Eloisa memang sudah memberitahu kalau Darren sudah menyewa makeup artis untuk mendandani putrinya itu, tapi dia tidak tahu kalau Darren juga akan datang pagi ini, dia pikir mereka akan bertemu di gereja.“Pagi, Bu,” sapa Darren yang lalu memperkenalkan Jane.“Pagi, Darren,” Manda membalas sapaan Darren dan kemudian berkenalan dengan Jane.“Saya mengantar Jane kemari, sekalian membawa pakaian dan barang-barang saya. Ayah ada?” tanya Darren luwes yang membuat Manda kembali takjub saat melihat sebuah koper besar dan sebuah koper kecil, yang dibawa Darren.“Ayah sedang menyirami bonsainya di belakang,” jawab Manda.“Baik. Darren akan mengantar Jane ke kamar Eloisa dulu, nanti baru menyapa Ayah,” kata Darren sopan.“Ya, mari Ibu antar ke kamar Eloisa,” jawab Manda yang lalu menuntun jalan u
Hari yang ditunggu telah tiba. Darren bangun di jam enam pagi dan mandi. Dia dengan semangat menunggu Jane datang ke rumahnya untuk membantunya membereskan wajahnya yang hari ini tampak lebih mengerikan daripada kemarin, padahal dia sudah terus mengompres wajahnya itu sejak semalam.“Selamat pagi semuanya!” seru Darren semangat saat memasuki ruang makan.“Kau sangat bersemangat,” kekeh Rosaline yang sedang menyiapkan sarapan. Adianto sedang duduk dan minum kopi, sedangkan Darius sekarang sedang mandi, tadi dia mengalah dan membiarkan adiknya mandi dulu, sedangkan Donny, dia masih tidur.“Tentu saja. Aku menikah hari ini,” kata Darren riang sambil bersenandung.“Kau yakin ingin menikah dengan wajah seperti itu?” tanya Adianto menggoda putranya dan betul saja, senandung Darren langsung berhenti.“Walau aku masuk rumah sakit, Eloisa tetap harus menikah denganku disana,” kata Darren mengerucutkan bibirnya.“Mama juga, kalau ingin membantuku menikah dengan Eloisa hari ini, mengapa juga mem
Manda dan Anto memperhatikan saat Darren dan Eloisa keluar dari rumah sambil bergandengan tangan, yang katanya masih akan mengurus urusan pernikahan mereka.“Aku merasa seperti sedang bermimpi,” kata Manda dengan mata yang masih memperhatikan Darren yang sekarang sedang membukakan pintu untuk Eloisa.“Mungkin Eloisa memang akan lebih bahagia dengan Darren. Aku bisa melihat kalau Darren memang mencintai Eloisa,” kata Anto yang juga memperhatikan hal manis itu.“Menurutku, Darren sangat bucin pada Eloisa.” kata Manda sambil tertawa bahagia. Dia juga menyadari kalau sepertinya Eloisa memang juga mencintai Darren. Walau sejak tadi Eloisa terlihat agak risih dengan perlakuan manis Darren, tapi dia tidak menghindar saat Darren menunjukkan perhatiannya. Mungkin putrinya itu hanya belum terbiasa dengan sikap Darren yang terlalu jujur dalam menunjukkan perasaannya.Berbeda dengan saat bersama Viktor dulu, baik Eloisa ataupun Viktor selalu menjaga sikap, mereka hanya sesekali bergandengan tanga
“Saya mencintai Eloisa dan Eloisa juga mencintai saya. Jadi, besok sayalah yang akan menikah dengan Eloisa,” kata Darren. Sejak tadi dia sudah memikirkan banyak kalimat manis untuk membujuk kedua calon mertuanya, tapi begitu duduk di depan kedua calon mertuanya, otaknya kosong.“Kenapa langsung ngomong begitu!” omel Eloisa sambil memukul paha Darren karena perkataan frontal pria itu. Sedangkan kedua orang tua Eloisa, masih bengong menatap Darren.“A-apa maksud perkataan, Nak Darren?” tanya Anto yang masih syok. Dia berpikir kalau mungkin dia sudah tua, jadi telinganya salah dengar.“Besok saya yang akan menikah dengan Eloisa, bukan Kak Darius,” kata Darren perlahan sambil menggamit tangan Eloisa yang tadi memukul pahanya. Kedua orang tua itu semakin terbelalak saat melihat tangan Eloisa dan Darren yang menyatu.“Bukan begitu, Ayah, Ibu. Eloisa bisa jelaskan,” kata Eloisa sambil berusaha menarik tangannya dari Darren, yang tentu saja gagal karena Darren malah mengeratkan pegangannya pa
“Broken white,” jawab Eloisa berlagak tidak peduli pada tatapan syok Maya.“Mbak, pilihkan jas yang senada dengan gaun calon istriku ini, dong,” kata Darren pada Maya. Walau awalnya sangat terkejut, ditambah dengan perkataan Darren barusan, dia tetap menyahut dengan sopan.“Se-senada dengan gaun Bu Eloisa?” tanyanya memastikan.“Iya. yang paling mirip, ya,” jawab Darren sambil tersenyum.“Baik, Pak Darren,” jawab Maya yang langsung memperhatikan jas-jas berwarna broken white dan akhirnya memilih dua stel yang menurutnya cocok dipadankan dengan gaun Eloisa, lalu mengeluarkannya dari gantungan dan menunjukkannya pada Darren. Dalam hati dia berpikir kalau mungkin pria kaku yang kemarin mengambil jas tiba-tiba kabur sehari sebelum pernikahan dan pria di depannya ini adalah mempelai pengganti. Maklum, otaknya sudah sedikit konslet karena kebanyakan membaca novel roman online.“Menurutmu, bagusan yang mana, sayang?” tanya Darren pada Eloisa.“Kau coba saja mana yang pas di tubuhmu,” jawab E