Share

Bab 7

Author: Kharamiza
last update Last Updated: 2025-02-01 11:49:25

Mobil yang ditumpangi Inara berhenti di seberang kantor suaminya agar keberadaannya tak menarik perhatian. Dia melirik jam tangan, memastikan bahwa jam kerja Damian sebentar lagi selesai.

Benar saja, begitu hari mulai gelap dan suasana kantor juga sudah lenggang, Inara melihat Damian tiba-tiba muncul di pintu keluar kantor dan langsung menuju mobilnya. Seketika ia mengepalkan tangan saat hatinya sedang diliputi kegelisahaan.

“Bukankah katanya akan lembur, tapi mengapa dia pulang tepat waktu?” Inara merasa napasnya tercekat. Semakin yakin kalau memang ada yang disembunyikan Damian darinya.

Ketika mobil suaminya itu berlalu, Inara juga meminta sopir taksi untuk mengikuti dengan perlahan, membiarkan mobil Damian tetap dalam jangkauan pandangannya.

Hatinya berdebar kencang, tidak percaya bahwa ia sampai harus memata-matai suaminya sendiri seperti seorang target yang melakukan kejahatan.

Semua bermula karena Damian yang mulai bertingkah, diam-diam keluar rumah tadi malam membuat istrinya menaruh curiga dan terpaksa mencari tahu kebenaran, meskipun mungkin ini akan menyakitinya.

Mobil Damian melaju menuju daerah perumahan, sedangkan mobil yang membawa Inara menepi di ujung jalan sembari memperhatikan mobil sang suami kini berhenti di depan sebuah rumah yang ia tidak tahu itu rumah siapa?

“Rumah siapa itu dan untuk apa Mas Damian ke sini?”

“Apa dia sedang ada pertemuan dengan klien di sini?” Ia masih mencoba berpikir positif.

Tak lama, bocah laki-laki keluar rumah dan langsung berlari memeluk Damian, disusul seorang wanita yang cukup Inara kenal. Ingatannya cukup kuat meskipun cuma pernah bertemu sekali, di restoran—saat makan malam dengan keluarga kecilnya, tetapi wanita itu tiba-tiba datang dan diminta Damian bergabung dengan mereka.

“Selena?”

Pemandangan di depan terlihat seperti pertemuan ayah dan anak yang sedang melepas rindu. Namun, pemandangan hangat itu justru membuat hati Inara seperti ditusuk ribuan jarum hingga air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

“Mas Damian mengatakan akan lembur, ternyata ini dia lembur yang dimaksud?” bisiknya dengan suara bergetar.

Air matanya buru-buru dihapus dengan kasar. Keluar dari mobil dan berdiri di sebelah mobil. Masih menatap suaminya dari kejauhan yang tersenyum hangat pada wanita lain.

“Ini yang kamu bilang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, bahkan kamu rela menemuinya saat malam-malam begini?” Inara menggeleng tak percaya.

Tak lama, mereka bertiga terlihat berjalan masuk ke rumah. Namun, di saat bersamaan, Inara mengambil ponsel dan segera menelepon Damian.

Pandangannya tak lepas mengawasi setiap pergerakan suaminya yang terlihat meminta izin pada Selena untuk menerima telepon. Setelah beberapa saat, terdengar suara di balik benda pipih tersebut. “Halo, Ra.”

“Mas di mana?” tanya Inara, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun dadanya bergemuruh penuh emosi.

“Di kantor, Ra.Tadi pagi bukannya sudah kubilang akan lembur? Soalnya banyak kerjaan akhir bulan yang harus diselesaikan,” jawab Damian tanpa sedikit pun merasa ragu.

“Bahkan, sekarang kamu sudah lihai berbohong demi wanita itu, Mas.” Inara mengatakannya dalam hati sambil mengepalkan tangan erat-erat.

“Sudah makan, Mas?” tanyanya lagi, sengaja basa-basi. Hanya ingin tahu respons Damian.

“Belum, tapi nanti aku pesan makanan. Kamu sendiri gimana? Jangan tunggu aku, tidur aja dulu kalau sudah ngantuk,” ujar Damian, suaranya terdengar seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Inara menarik napas panjang. Amarahnya yang sudah di ubun-ubun sudah tak tertahankan lagi. “Lembur bersama Selena?” Suaranya terdengar dingin, tetapi cukup tajam.

Damian terdiam. Seketika gugup, bahkan gelagatnya tampak gelisah. “A-apa maksudmu, Ra?”

“Aku tak habis pikir, kamu rela berbohong, demi menemuinya,” kata Inara pelan. Namun, berhasil membuat Damian gelagapan.

Suami sah Inara itu sontak menoleh sekeliling. Dia membelalakkan mata saat pandangannya melihat sebuah mobil dan Inara berdiri di sebelahnya dengan tatapan terluka.

“Ra, ini enggak ....”

Tut ... tut ... tut!

Tangan Inara bergetar saat sambungan telpon diakhiri sepihak olehnya. Ia mendongak, berusaha menahan air mata sebelum masuk ke mobil.

Sesak sudah memenuhi dadanya, seperti ada sesuatu yang berhimpitan di dalam, tetapi ia juga tahu tak boleh tetap berada di tempat itu agar emosinya tak meledak.

Di si lain, Damian tak tinggal diam. Pria itu berlari keluar dari halaman rumah Selena mendekati mobil Inara.

“Inara! Tunggu!” Suaranya menggema di malam yang sunyi.

Hanya saja, Inara tak peduli. “Jalan, Pak!” titahnya.

“Ra, dengarkan aku. Kamu salah paham!” Damian berteriak lebih keras sambil berlari, berusaha menghentikan laju mobil itu, bahkan menggedor-gedor pintu mobil di sebelah istrinya, berharap Inara akan mendengarkan penjelasannya. “Aku bisa jelaskan semuanya!”

“Jalan cepat aja, Pak. Tidak usah pedulikan dia,” kata Inara lagi dengan pandangan lurus ke depan.

“Ra! Tunggu, tolong dengar aku!” Damian hampir kehilangan keseimbangannya saat mobil melesat makin cepat.

Dia berhenti, terengah-engah di tengah jalan, hanya mampu menatap punggung mobil yang membawa istrinya itu makin jauh.

Damian yang diliputi rasa bersalah buru-buru berbalik, hendak mengambil mobil dan mengejar. Tahu kalau Inara sangat kecewa padanya sekarang sehingga ia merasa harus memberikan penjelasan agar tak ada kesalahpahaman yang membuat hubungan dengan istrinya makin merenggang.

Hanya saja, sebelum sempat membuka pintu mobil, Selena memanggilnya. “Mas Damian!”

Gerakan tangannya terhenti, berbalik pada Selena yang sudah berada di belakangnya.

“Kamu mau ke mana? Vano sudah lapar. Ayo, kita ke dalam dan mulai makan malamnya,” katanya membuat Damian kebingungan untuk memilih.

Kemarin, dia sudah berjanji pada Vano untuk makan malam bersama hari ini, tetapi bagaimana dengan Inara? Damian tidak ingin Inara berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

“Aku pergi sebentar, nanti kembali lagi.” Damian akan pergi, tetapi lagi-lagi, Selena memegang pergelangan tangannya.

“Tapi, Damian, Vano ....” Selena menjeda ucapannya, melirik ke arah putranya, begitu Damian melihat Vano dengan tatapan penuh pengharapan di dekat pintu.

“Dia sangat menantikan makan malam ini bersamamu. Dari tadi dia terus bertanya kapan kamu datang. Kalau kamu pergi sekarang, dia pasti kecewa berat.” Mata Selena tampak berkaca-kaca, menambah kesan pilu pada wajahnya yang selalu bisan membuat Damian iba.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 8

    “Dam, aku mohon, tinggallah dulu … demi Vano. Sudah lama, dia tidak merasakan makan malam bersama ayahnya, jadi dia sangat berharap bisa makan malam bersamamu, meskipun kamu bukan ayah kandungnya. Setidaknya, kehadiranmu bisa mengobati rindu pada ayahnya.” Damian mengusap wajah frustrasi, perasaannya campur aduk. Ia makin bingung apakah harus menyusul istrinya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini atau tinggal menemani Vano yang juga sangat mengharapkan kehadirannya. Sekali lagi, Damian menatap putra Selena yang masih berdiri di dekat pintu dengan tampang polosnya membuat hati kecil ayah anak satu itu tak bisa mengabaikan begitu saja. Akhirnya, setelah berpikir, Damian dengan berat hati mengangguk. “Baiklah ….” Selena tersenyum samar mendengar keputusan Damian. Matanya berbinar, merasa puas atas keberhasilan rencananya menahan Damian berada di sisinya lebih lama. Mereka berjalan kembali ke rumah Selena. Damian berusaha tersenyum di depan Vano walau nyatanya beban di dad

    Last Updated : 2025-02-01
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 9

    Alih-alih mengakui kesalahan, Damian justru bersikap seolah-olah ia melakukan tindakan yang benar. “Ra, jangan berkata begitu. Aku benar-benar hanya ingin memastikan Vano tidak merasa kehilangan figur ayah. Dia masih kecil, Ra,” katanya. Inara menggeleng, makin tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. “Lalu bagaimana dengan Alma, Mas? Apa menurutmu, dia tidak kehilangan figur ayah dengan sikap kamu yang seperti ini?” Ia mendengus kecil, mecoba menahan tawa sarkas yang nyaris meledak. “Alma dan Vano beda, Ra. Rasa sayangku ke Alma tidak sama seperti Vano. Tentu, aku sangat menyanyangi Alma. Tapi, kamu juga harus mengerti kalau Vano kehilangan ayahnya dan harus tumbuh tanpa sosok ayah, sedangkan Alma, dia masih punya orang tua lengkap.” Siapa yang tahu kalau kalimat pembelaan diri Damian itu justru semakin menyakitkan hati istrinya. “Begitu yang kamu pikirkan?” Senyum bengis Inara tercetak dari bibirnya, dia melipat tangan di depan dada, mencoba menahan amarahnya yang makin mem

    Last Updated : 2025-02-02
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 10

    [Kamu tau kalau aku dan Damian pernah bersama selama 7 tahun sebelum kamu hadir dalam hidupnya. Mana mungkin dia bisa begitu cepat melupakanku, meskipun ada dirimu, Inara?] Inara menggigit bibir, jemarinya mengepal di atas selimut. Jantungnya berdetak cepat, tapi ia memaksa tetap membaca pesan itu. [Aku menyesal pernah meninggalkan Damian dulu, tapi sekarang aku sudah kembali. Oh, iya, kamu juga harus tau kalau sebelum bertemu denganmu, Damian itu cinta mati padaku. Mungkin, sekarang kamu memang istrinya, tapi cinta sejatinya tetap aku.] Mata Inara perlahan memanas. Hatinya terasa seperti ditusuk pisau tak kasat mata berkali-kali. Tangannya gemetar membaca pesan demi pesan dari mantan kekasih suaminya, tetapi bukannya berhenti, ia terus melanjutkan. [Kamu tau, kan, kalau seorang pria sangat sulit melupakan cinta pertamanya? Ya, itu aku, Inara. Kamu hanya pelariannya. Cepat atau lambat, aku akan merebut Damianku kembali.]

    Last Updated : 2025-02-03
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 11 - Antara Istri dan Mantan?

    Inara menggigit bibir dengan hati gelisah. Berusaha menahan tangisnya yang hampir meledak. Ponsel masih digenggam erat, terus mencoba menghubungi Damian. Namun, hasilnya tetap sama—tak ada jawaban.Air matanya mulai jatuh. Suaranya tercekat penuh kepiluan. “Di saat penting seperti ini, kamu ke mana, Mas?”Kembali menatap sang putri di pangkuannya. Bibir mungil itu makin pucat membuat Inara sangat khawatir Alma akan kenapa-kenapa.Pandangannya menyapu sekeliling, berusaha mencari pertolongan. Akan tetapi, suasana malam cukup sepi membuat Inara mengembuskan napas putus asa. Mau minta tolong pada tetangga, rumah tetangganya pada jauh-jauh, kemungkinan tak ada yang menyadari ada kebakaran di sini.Tak ada pilihan lain. Di tengah rasa khawatir pada kondisi Alma serta rasa kecewa dan frustrasinya pada Damian yang hilang bagai ditelan bumi, tangannya kembali bergerak, menekan nomor lain dengan cepat. Begitu panggilan tersamb

    Last Updated : 2025-02-03
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 12 - Kepala Batu

    “Dam?” Setelah beberapa saat berpikir, Damian mengangguk kecil meskipun dengan sedikit berat hati. “Baiklah. Aku akan tetap di sini,” katanya langsung menciptakan senyum penuh kemenangan dari bibir Selena. Begitu Selena masuk ke ruang perawatan Vano, Damian meraih ponsel untuk memberi kabar istrinya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat puluhan panggilan dari Inara. Nahasnya, karena baru saja ia akan menelepon balik, ponselnya tiba-tiba mati. Damian mendengus frustrasi. “Sial ... kenapa malah mati sekarang?” gumamnya sambil menggenggam ponsel itu kuat-kuat. Perasaannya mulai tak tenang dengan banyaknya panggilan Inara. Tanpa ia sadari, di lorong rumah sakit yang lain, sebuah brankar melaju dengan cepat, didorong oleh dua perawat yang tergesa-gesa. Di atas ranjang itu, Alma terbaring dengan masker oksigen menutupi wajahnya. Tubuh kecil itu lemah, nyaris tak bergerak. Ditemani 2 pria yang tadi

    Last Updated : 2025-02-04
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 13 - Frustrasi

    Dari celah pintu, Inara bisa melihat pemandangan yang membuat hatinya berdenyut perih. Suami yang sedari tadi dihubunginya, kini duduk di tepi ranjang, tersenyum dan tertawa bersama dengan putra mantan kekasihnya. Damian terlihat begitu santai, seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi. “Om, aku senang Om Damian berada di sini,” kata Vano disambut dengan senyum manis Damian. Ayah satu anak itu beralih mengusap kepala Vano dengan penuh kelembutan. Jelas sekali terlihat kalau ia sangat menyayangi anak itu. “Pasti, Om di sini untuk menemani kamu. Jadi, cepatlah sembuh. Nanti Om akan membelikanmu mainan baru.” “Janji, ya, Om?” tanya Vano dengan mata berbinar, jari kelingkingnya diacungkan ke arah Damian. Damian mengaitkan kelingking pada kelingking kecil Vano. “Janji,” katanya mantap. Di sudut ruangan, Selena tersenyum puas, lalu menghampiri mereka. “Lihat, kan? Mama bilang apa? Om Da

    Last Updated : 2025-02-04
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 14 - Curiga

    Dengan sedikit gelisah, Inara membuka pintu ruangan dokter setelah mengetuknya beberapa kali. Pintu terbuka menampilkan dokter wanita yang tengah duduk di balik mejanya, sementara seorang pria duduk di kursi lain sambil mengutak-atik ponsel.Benar kata Daffa, di sini ada kakaknya yang sedang menunggu. Inara tak menyangka hal ini.“Duduklah,” ujar pria itu dengan suara tenang begitu melihat Inara berjalan mendekat. Inara mengernyit. “Kak Rafiq? Kakak di sini?”Rafiq—kakak kandung Inara mengangguk pelan. “Aku langsung pulang dari kantor begitu dapat kabar dari Rafa,” jawabnya, menatap Inara yang tak bisa menyembunyikan raut cemasnya.Tanpa membuang waktu, Inara menoleh ke arah dokter dan bertanya, “Dok, bagaimana keadaan Alma?”Dokter menghela napas, menatap mereka bergantian, sebelum dengan berat hati menjawab, “Bu Inara, putri Anda mengalami ARDS atau Sindrom Gangguan Pernapasan Akut akibat paparan asap.”Dahi

    Last Updated : 2025-02-05
  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 15 - Cacat

    Inara kembali menatap wajah kecil yang masih tertidur itu. Dia yang terlalu rapuh, tanpa sadar mengeluarkan air matanya lagi, tetapi buru-buru dihapus sebelum dua saudaranya menyadari.Sayangnya, karena Rafiq sudah lebih dulu melihatnya. Pria itu menghela napas berat, seakan-akan mengerti suasana hati saudara perempuannya itu. Rafiq lantas saja menegur adik bungsunya. “Rafa, ini bukan waktunya membahas masalah seperti itu. Jangan membuat pikiran Inara makin kacau.”“Bukan waktunya katamu, Kak?” Rafa mendengus sinis. “Terus kapan waktunya?”“Kak Inara terluka saat berusaha menolong Alma dari kebakaran itu. Dia sampai berlari ke sana kemari mencari pertolongan. Dan, di saat itu ke mana suaminya? Sibuk? Mau alasan kerja? Emang jabatannya apa sampai sesibuk itu? CEO? Presiden? Penguasa negara? Bahkan, kalaupun iya, dia tetap enggak bakal seharusnya begitu sibuk untuk orang yang disayanginya. Kalau beneran sayang.”Hening. Inara menunduk, men

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 87 - Dipecat

    “Tarik napas dalam-dalam ya, Alma,” ujar dokter wanita itu lembut. Mulai membersihkan bagian yang memar dan sedikit bengkak pada tangan Alma. Beberapa jari mungil itu terlihat kemerahan, dua di antaranya bahkan sedikit lecet karena tekanan pintu tadi. Damian duduk di samping putrinya, tak lepas menatap wajah yang masih berlinang air mata itu. “Sedikit perih, ya, Sayang. Tapi, sebentar lagi selesai.” Alma meringis, tetapi dia berusaha keras menahannya. Hingga ketika dokter mulai membalut empat jarinya dengan perban lembut, tangisnya kembali pecah. Damian mengusap-usap punggung Alma, menenangkan. “Sebentar lagi selesai, ya, Sayang.” “Papa ... tangan Alma.” Ia terisak pilu. “Tangan Alma bakalan dipotong, ya?” Tatapan polosnya itu menyiratkan rasa takut yang dalam. “Nanti, Alma tidak punya tangan lagi.” Damian tersentak. Ia langsung memeluk putrinya erat. “Tidak, Sayang. Tangan Alma

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 86 - Pengemis

    “Apa?!” Rafiq berdiri, menggebrak meja, terkejut dengan pengakuan adik bungsunya itu.Perbuatannya, nyaris membuat Rafa terjengkang. Mulut pria itu terbuka sedikit, tetapi kemudian buru-buru ditutup dan memukul lengan sang kakak.“Kamu ini, bisa selow sedikit? Kayak apa aja?” cibir Rafa.Rafiq menggaruk pelipisnya yang tak gatal sambil terkekeh salah tingkah. “Jadi, selama ini kamu juga sering dijodohkan orang tua kita? Kok bisa aku tidak tau hal itu?”Rafiq mengangkat bahu, terlihat sangat santai. “Kamu terlalu sibuk kerja. Dan, Ayah membahas itu saat kami memang hanya duduk berdua.”“Oh, ya?”“Hm. Tapi, karena aku dan Kak Inara itu sehati, makanya tidak terlalu menanggapi. Bedanya, Kak Inara terang-terangan melawan, sedangkan aku diam-diam bergerak, mencari cara biar calon-calon pasangan aku ilfeel.”Rafiq mengangguk-angguk. Mengusap-usap dagunya pelan. Sedikit tak percaya, jika di balik sikap santainya Rafa,

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 85 - Pilih Kasih

    Entah tidur jam berapa Inara semalam, ia tak mengingatnya, yang pasti harus kembali bangun pagi-pagi untuk bekerja.Ia hendak keluar kamar ketika pintu tiba-tiba terbuka.“Bunda!” Alma masuk, langsung menghampirinya. Bocah itu sudah mengenakan seragam sekolahnya yang rapi. Rambutnya dikuncir kepang dua, membuatnya tampak semakin menggemaskan.“Eh, Sayang ....” Inara tersenyum. Mengusap-usap pipi Alma. “Udah mau berangkat sekolah?”Alma mengangguk. Namun, di detik kemudian, dia mendongak menatap wajah bundanya seolah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. “Bunda, di sekolah Alma ada lomba menggambar. Terus, kemarin Bu Guru minta Alma untuk ikutan, soalnya gambar Alma bagus-bagus kata Bu Guru,” katanya dengan mata berbinar. Senang sekali menyampaikan hal itu pada bundanya.Inara akhirnya berjongkok, menyamakan tinggi dengan putrinya. “Wah, hebat putri Bunda! Terus, Alma mau ikut?” ia bertanya sambil merapikan sedikit kerah baju Alma.

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 84 - Goyah

    Malam itu, Inara berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang redup. Matanya enggan terpejam meski sudah sedari tadi ia miring kanan, miring kiri, mencari posisi terbaik agar bisa tidur. Kepalanya masih dipenuhi oleh kata-kata Daffa tadi pagi. “Iya, aku mencintaimu, bahkan sebelum Damian mencintaimu.”Inara menggeleng. Bagaimana bisa Daffa mencintainya? Pria itu tak pernah mengatakan soal perasaannya, bahkan untuk sinyal suka padanya ....Ingatan Inara seketika kembali ke masa lalu—masa putih abu-abu mereka yang masih tersimpan rapi dalam bingkai kenangan.Hari itu, hujan turun cukup deras saat pulang sekolah. Inara menatap halaman sekolah dari koridor lantai dua sambil sesekali menghela napas. Ia lupa membawa payung. Jadi, terpaksa menunggu hujan reda, meski mungkin akan lama, daripada basah-basahan. Nanti yang ada malah sakit.Baru saja hendak kembali ke kelas, suara seseorang menghentikan langkahnya.

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 83 - Kehilangan

    Begitu sambungan video call dengan Alma berakhir, Damian langsung terdiam di kursinya. Tangan kanannya mengepal erat di atas meja, sementara rahangnya mengeras. Sedikit tidak percaya apa yang baru saja didengar daei putrinya.Inara akan menikah lagi. Dan, otomatis Alma akan memiliki papa baru?Kepalanya berdenyut. Secepat itukah Inara memutuskan untuk mengakhiri kesendirian? Apa ia begitu kesepian sampai terlalu buru-buru mengambil keputusan?Apa jangan-jangan, semua ini gara-gara orang tuanya? Mungkin, Inara mengadu soal keinginan Alma yang ingin punya adik, lalu mereka menekan Inara agar menikah lagi.Ah, sial! Pikiran pria itu semakin kacau.Punggungnya ditegakkan, lalu mengusap wajah dengan gusar. Bayangan pria lain yang akan menggantikan posisinya di sisi Alma membuat dadanya terasa sesak.Ia tak mungkin membiarkan itu terjadi begitu saja. Bagaimana kalau lelaki itu tidak bisa menyayangi Alma seperti dirinya?

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 82 - Papa Baru

    “Ya itu, Ra, orang tua Kita sudah saling mengenal sejak lama. Kamu juga tau itu. Jadi, kita bisa—”“Menikah agar hubungan bisnis mereka makin kuat?” Inara memotong cepat, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan kalimatnya. Dia tertawa kecil, menatap Daffa dengan sinis. Senyumnya bengis, seolah tak habis pikir. “Kak Daffa setuju dengan pernikahan bisnis?”“Bukankah itu sudah menjadi hal lumrah di kalangan para pengusaha?” tanya Daffa hati-hati. Sangat menjaga agar Inara tak tersinggung. Ia tahu jelas, Inara adalah salah satu dari sebagian anak pengusaha dan penguasa yang menentang perjodohan sesama anak pengusaha. Sayangnya, karena Inara sudah tersinggung. Tangannya mengepal di bawah meja. Semula dipikir, Daffa itu berbeda dari keluarganya, makanya hingga di usia menginjak kepala 3 belum menikah karena mungkin tidak ingin dijodohkan. Nyatanya, dia sama saja.Kepala mereka hanya diisi dengan bisnis, yang penting menguntungkan kubu mereka.

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 81 - Melamar

    Hati Inara mencelos mendengar kalimat itu. Dengan lembut, ia mengusap punggung putrinya, lalu mengeratkan pelukan, mencoba memberikan ketenangan untuk Alma.“Sayang ....” Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. “Bunda minta maaf sama Alma. Bunda tidak pernah bermaksud membuat Alma merasa sedih.”Namun, permintaan maafnya tak bisa menghapus kesedihan bocah itu. Alma justru makin terisak, menenggelamkan wajahnya dalam dekapan sang bunda, seolah tak ingin melepaskannya.“Tapi, Alma sudah sedih, Bunda. Alma sedih karena ternyata Bunda dan Papa sudah berpisah? Alma sudah tidak memiliki orang tua lengkap lagi. Apa kalian sudah tidak sayang sama Alma?”Inara terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibir, menahan air mata yang hampir saja jatuh.Dia tahu, sesakit apa pun hatinya, sang putri-lah orang yang paling terluka.Dengan penuh kasih sayang, Inara mengusap kepala Alma. “Bukan begitu, Sayang ....” Bisikannya lirih nan lembut. “

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 80 - Menikah Lagi?

    “Inara, ada yang ingin Papa obrolin sama kamu,” ujar sang ayah begitu mereka kembali ke dalam rumah.Kening Inara mengernyit penuh tanya, terlebih mendengar nada suara ayahnya yang cukup tenang, tetapi terdapat ketegasan di dalamnya.Inara mengangguk pada akhirnya. “Aku akan urus Alma dulu, Pa. Setelah itu baru menemui Papa.”Gegas, ia melangkah ke kamar putrinya, membantu Alma bersih-bersih. Pulang dari pantai, kepala anak itu malah seperti habis mandi pasir.Keluar dari kamar Alma, Inara melipir ke kamarnya. Membersihkan diri juga. Baru setelah itu, ia menuju ruang tengah, tempat kedua orang tuanya sudah menunggu.Entah mengapa, perasaan Inara jadi tak nyaman. Apalagi, melihat ekspresi orang tuanya yang sama-sama serius. Entah hal penting apa yang ingin diobrolin?Langsung saja, Inara mengambil tempat di sofa yang berhadapan dengan Ayah ibunya. “Ada apa, Pa?” tanyanya pelan.Ayah mengambil napas barang beberapa saat, l

  • Dicampakkan Suami Setelah Mantan Kekasihnya Kembali    Bab 79 - Kesempatan

    Sampai mereka dalam perjalanan pulang, Inara masih tak bisa berpikir jernih. Kepalanya terus terngiang permintaan Alma di pantai tadi yang bahkan BMKG pun tak bisa memprediksinya. Ia bersandar di kursi mobil dengan wajah yang terlihat ditekuk.Punya adek? Permintaan macam apa itu? Dikira prosesnya kayak ngadon donat? Bahkan, kalau hubungan dengan papanya Alma baik-baik saja, Inara tetap tak akan bisa memberikannya dengan mudah. Butuh proses panjang yang hasilnya pun belum tentu berhasil.Damian, yang sedang fokus menyetir, sesekali melirik ke arahnya. Dia tahu persis apa yang ada di pikiran mantan istrinya, tetapi memilih diam. Kalau dia menyinggung hal itu sekarang, Alma pasti kepo ingin tahu segalanya. Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di mansion keluarga Inara. Wanita itu melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Begitu juga Damian yang buru-buru turun dan membukakan pintu untuk putrinya. “Alma, masuk duluan,

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status