Home / Romansa / Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing / 7. Pergantian Dosen Pembimbing

Share

7. Pergantian Dosen Pembimbing

last update Last Updated: 2024-01-25 12:50:38

Hari ini, Dinda membawa mobil SUV milik Dani. Ia terburu-buru, sampai akhirnya salah mengambil kunci kontak mobil. Mita mengirim pesan jika ada perubahan jadwal mata kuliah dan dosen pembimbing untuk semester ini.

Dinda menjadi penasaran. Apakah dosen pembimbingnya juga akan diganti? Ia melangkah dengan terburu-buru hingga hampir  jatuh tersungkur oleh anak tangga di depan gedung utama kampusnya.

"Pagi, Mbak Dinda," sapa ramah satpam kampus Fakultas Ekonomi. "Belum sarapan ya, Mbak?"

Dinda hanya menyengir kuda. "Pagi, Pak. Belum, Pak. Bapak mau ntraktir saya? Boleh."

Satpam yang bernama Fredi hanya tersenyum lebar. "Mencari siapa, Mbak?"

"Jadwal. Katanya ada pergantian dosen pembimbing ya, Pak?"

"Oh, itu. Keliatannya begitu. Dari tadi sudah banyak yang ke sana." Fredi menunjuk ke arah depan area ruang dosen.

Dinda langsung mengikuti arah yang ditunjukkan Fredi. "Oke. Saya ke sana dulu ya, Pak."

Dinda berusaha menyeruak kerumunan di depannya, sedang kedua netranya berusaha membaca kertas pengumuman yang terpasang di papan pengumuman. Sejenak netra Dinda terpaku pada satu nama yang tertera di sebuah kolom, di samping kolom yang tertera namanya. 

Dinda menahan napasnya. Ia mengerjap lalu kembali membaca pengumuman itu. Ada desiran aneh  yang kemudian mengalirkan sensasi dingin menyelinap di dalam hatinya. Ini pasti sebuah lelucon usil. Dinda kembali menatap papan pengumuman. Berulang kali ia membaca tapi huruf-huruf itu tidak berubah.

"Huaaaa!" Sebuah teriakan keras dan tepukan berulang di pundaknya, membuat Dinda berjingkat ke belakang.

"Ciiyeee! Kabul nih doa gua semalam. Pucuk dicinta ulam tiba. Lu akhirnya punya waktu berduaan sama doi." Bisikan Mita terdengar begitu nyaring di telinga Dinda.

Wajah Dinda menjadi tegang. "Ini hasil perbuatan lu?" Dinda menatap tajam Mita.

Dan dengan cepat Mita menggelengkan kepalanya. "Gua belum bertindak apapun. Baru berdoa doang semalam sebelum tidur."

Di saat keduanya kembali memandang ke papan pengumuman, tiba-tiba seorang mahasiswa ke luar dari ruangan dosen.

"Yang bimbingannya Pak Arya, disuruh menghadap sekarang."

Suara itu bagai petir menyambar Dinda. Ia merasa tubuhnya bagai disengat ribuan lebah. Wajahnya menjadi kaku dan tangannya menjadi dingin. Hatinya pun mulai berdetak tidak beraturan.

"Sana, gih. Doi  udah nungguin tuh." Mita menyikut lengan Dinda, tapi begitu melihat begitu banyak mahasiswa yang berjalan menuju ruangan Arya, gadis itu justru mengajak Dinda untuk menjauh sejenak dari komplek ruangan dosen itu.

"Ntar aja ke sananya. Kalau rame begini justru kalian nggak bisa leluasa ngobrolnya."

Dinda menggeleng. "Lebih baik sekarang aja. Nggak papalah nggak leluasa. Yang pentingkan gua setor muka dulu."

"Loh gimana sih lu, Din? Ni kesempatan lu buat bikin first impression ke doi. Biar doi inget terus sama elu."

"Tsk. Yang ada gua malah gak konsen ntar." Dinda melangkah meninggalkan Mita yang tampak kecewa usulnya ditolak. 

Sepanjang jalan menuju ruangan Arya, perasaan Dinda berkecamuk. Ada rasa senang akhirnya ia bisa bebas dari dosen pembimbingnya yang sangat menyebalkan itu, namun kini ia merasa tidak nyaman karena harus berkonsultasi dengan pria tampan yang digandrungi banyak mahasiswi di kampusnya. Apakah dirinya bisa selamat dari godaan maut di hadapannya itu?

"Dinda."

Tiba-tiba namanya dipanggil dari dalam ruangan. Ternyata mereka harus menunggu panggilan dari sang dosen baru bisa menghadap dan memperkenalkan diri masing-masing.

Dinda masuk dengan langkah tegas tapi tidak dengan hati yang tenang. Perasaaannya tengah kebat-kebit tidak karuan. Baru kali ini ia berhadapan langsung, face to face dengan sang dosen.

"Nama kamu benar Dinda .... "

"Dinda Erdiana Maharani, Pak."

Arya mengangkat wajahnya. Ia cukup terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depannya dan tengah menatapnya lekat. Arya mulai merasa sedikit kikuk. Ia tidak pernah membayangkan jika gadis yang sudah beberapa hari ini mengganggu pikirannya, kini menjadi mahasiswi bimbingannya.

"Oh, iya. Silakan duduk." Arya berusaha bersikap tenang.

Dinda menarik ke belakang kursi di depannya. Ia tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun dari wajah Arya, dan Arya merasa sedikit salah tingkah ditatap Dinda sedemikian rupa.

"Kamu bawa skripsi kamu?"

Dinda menggeleng. "Tidak, Pak. Saya tidak tahu kalau ada pergantian dosen pembimbing. Saya pikir itu hanya berlaku untuk yang belum maju sidang saja."

Arya mengangguk. "Sebentar. Apa dulu kamu pernah saya uji?" Arya mengetes Dinda, apakah gadis itu mengingat dirinya sebagai salah satu pengujinya.

"Kata teman saya, iya, Pak."

"Loh, kok kata temannya? Kamu sendiri tidak ingat siapa saja tim penguji kamu?"

Dinda menggeleng tapi kemudian mengangguk. "Waktu itu saya hanya ingat wajahnya dia." Dinda merasa sangat melas menyebutkan mantan pembimbingnya.

"Dia?" Arya mengerutkan alisnya.

"Eh, maaf, Pak. Maksud saya, nama yang sangat malas saya sebutkan."

"Maksudnya?" Arya semakin menajamkan tatapannya ke wajah Dinda. 

"Maaf, Pak. Maksud saya Bu Mega." Dinda akhirnya menyebut nama Mega tapi tidak dengan nama lengkapnya.

"Kamu dendam dengan beliau?" 

"Jawaban tidak jujur, tidak dendam. Kalau mau jujur, iya, Pak."

Arya tidak lagi bertanya. Ia bisa memaklumi perasaan Dinda. "Jika benar kamu pernah saya uji, harusnya skripsi kamu juga ada di saya atau ..."

"Tidak, Pak. Skripsi hanya saya serahkan saat ujian."

"Kalau begitu, kamu harus datang menghadap saya lagi besok pagi."

Dinda terkejut mendengar permintaan Arya.

"Kamu sekarang menjadi mahasiswi bimbingan saya. Jadi, sudah selayaknya sebagai dosen pembimbing kamu, saya harus tahu seperti apa skripsi yang sudah kamu susun. Kamu harus menyerahkan skirpsi kamu untuk saya pelajari lebih lanjut, agar besok ketika kamu maju sidang, saya bisa memberi sedikit bantuan saat kamu mengalami kesulitan."

Dinda terkesima. Ia tidak menyangka jika dosen pembimbingnya yang baru begitu perhatian padanya. Emang boleh seperhatian itu?

"Besok pagi ya, Pak?" Dinda meminta penegasan.

"Nanti malam juga bisa." Arya keceplosan.

"Eh?"

"Oh, maksud saya lebih cepat lebih baik."

"Oh, iya, Pak. Siap." 

"Sekarang kamu boleh keluar."

"Terima kasih, Pak." Dinda undur diri diiringi anggukan Arya.

Hati Dinda meleleh seketika. Andai tahu begini, ia akan mengajukan permintaan pergantian dosen pembimbing sejak dulu. 

"Eh. Sebentar." Arya menghentikan langkah Dinda sebelum gadis itu membuka pintu ruangannya.

Dinda memutar tubuhnya. "Iya, Pak?"

"Kamu catat nomor ponsel saya yang tertera di papan pengumuman. Hubungi saya jika kamu ingin mengkonsultasikan sesuatu. Hanya yang terkait dengan skripsi kamu saja, bukan curhatan tentang pacar kamu."

"Nggak akan, Pak. Saya belum punya suami." Kini giliran Dinda yang keceplosan. Ia langsung menutup mulutnya. "Maaf, Pak. Becanda. Permisi, Pak." Dinda langsung buru-buru membuka pintu ruangan Arya dan melesat keluar. Wajahnya sudah panas menahan malu.

Kebalikan dengan Arya. Ia tersenyum lebar. Pertanyaan jebakannya ternyata berhasil. Status Dinda yang tidak memiliki pacar atau tunangan, diketahuinya tanpa perlu repot-repot melakukan penyelidikan. Setidaknya, ia tidak punya saingan untuk sekarang ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   8. Persaingan

    Mita yang sejak tadi menunggu Dinda keluar dari ruangan dosen, langsung menghampiri Dinda. Wajah Dinda yang masih bersemu merah, menimbulkan pertanyaan dalam diri Mita. "Lu kenapa? Kok merah jambu begitu wajahnya?" Mita terus saja menatap wajah Dinda. "Nggak. Nggak ada apa-apa." "Bohong, ah. Jujurlah. Doi ngajakin makan siang bareng?" "Nggaklah." "Terus?" "Nggak ngajakin apa-apa. Cuma disuruh balik lagi besok, nyerahin skripsi buat dipelajari, biar bisa bantuin pas sidang." Mendengar itu, Mita berteriak heboh. "Ini pertanda bagus nih, Din. Moga aja kalian berjodoh. Buat mantan pembimbing lu yang dulu, mati kutu." Dinda menepuk keningnya. "Gawat ini. Kalau dia tahu dosen pembimbing gua Pak Arya, bisa-bisa dia bakal bikin masalah lagi sama gua." "Tenang. Lu kan sekarang udah punya bodyguard." "Bodyguard pala lu!" "Serius. Percaya sama gua, doi pasti jatuh cinta sama elu." "Tau dari mana?" "Feeling gua kuat soal ini. Percaya, deh." "Mau minta berapa mangkok bakso nih?" M

    Last Updated : 2024-01-25
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   9. Spesial dan Istimewa

    Mita mulai menjalankan mobilnya, kembali menuju fakultasnya, menemani Dinda menyerahkan skripsi kepada Arya. "Bawa berapa skripsi, Din?""Satu. Emang harus bawa berapa?""Biasanya pembimbing gua minta dua, tapi mungkin Pak Arya beda.""Semoga beliau tidak rewel seperti sebelumnya."Mobil itu akhirnya berhenti di halaman depan kampus Fakultas Ekonomi. Mita ikut turun tapi tidak ikut Dinda masuk ke ruangan dosen. Ia ada perlu di bagian administrasi.Tok.Tok. Tok.Dinda melirik arloji di tangan kanannya sembari berdiri tepat di depan pintu ruangan Arya, menunggu jawaban dari dalam. Angka di arlojinya menunjuk ke angka tujuh. Terlambat lima menit dari yang seharusnya. Ceklek.Pintu perlahan terbuka, menampakkan wajah putih Arya tanpa senyum. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyergap Dinda. Mungkin saja dosen di depannya ini sangat disipiln dalam waktu sehingga telat satu menit saja akan menjadi masalah yang berkepanjangan."Silakan duduk." Arya tidak menatap ke arah Dinda sedikit pun.Su

    Last Updated : 2024-01-26
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   10. Sepakat

    Dinda terkesiap mendengar perkataan Arya barusan. 'Apa maksudnya spesial dan istimewa? Memang gua martabak telor?'Arya tersenyum lebar tersenyum lebar namun dengan cepat kembali memasang wajah dingin. "Jangan GR dulu. Istimewa, karena kamu adalah mahasiswa yang sudah berjasa membantu teman-teman kamu belajar menghadapi sidang skripsi. Spesial, karena kamu dengan kecerdasan dan kepandaian yang kamu miliki, justru menjadi satu-satunya mahasiswa yang tidak lulus, dalam dua sidang skripsi berturut-turut."Dinda benar-benar tertohok dengan pernyataan Arya., dosen pembimbing baru, yang ternyata mulutnya sama kejamnya dengan mantan dosen pembimbingnya."So,..." Arya yang sedari tadi terus menatap wajah Dinda, kini mengalihkan pandangannya ke skripsi Dinda. Ia lantas mengambil skripsi yang tebalnya sekitar dua ratus halaman itu, lalu mulai membuka satu per satu halamannya.Dinda yang semula menaruh harapan besar pada dosen pembimbing barunya, kini harus menelan bulat-bulat semua harapannya..

    Last Updated : 2024-01-27
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   11. Mengganggu

    Dinda dengan langkah tergesa memasuki komplek ruangan dosen. Beberapa mahasiswa yang menyapa dirinya hanya dibalas dengan lambaian tangan, tidak seperti biasanya. Ia datang tepat di jam tujuh. Nyaris terlambat.Saat hendak mengetuk pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Arya hanya menatapnya sekilas, dan itu membuatnya berkesimpulan jika sang dosen sangat menghargai waktu."Sangat tepat waktu, tapi itu bukan poin plus untuk kamu. Seharusnya kamu datang tiga puluh menit lebih awal." Arya berjalan meninggalkan ruangannya. Tanpa disuruh, Dinda mengikuti sang dosen dari belakang, berusaha tidak tertinggal terlalu jauh. Tidak ada percakapan di antara mereka, hingga mereka tiba di gedung B lantai tiga ruangan satu."Duduk di bagian belakang paling sudut. Simak dan perhatikan apa yang akan saya sampaikan pagi ini, karena ini menyangkut pemilihan metode penelitian dalam penyusunan skripsi. Mungkin saja itu bisa membantumu mengingat seperti apa outline atau proposal pengajuan judul skripsimu ya

    Last Updated : 2024-01-30
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   12. Awal Permusuhan

    "Mulai besok, gunakan masker saat berkonsultasi dengan saya." "Masker, Pak?" Arya mengangguk. "Kamu bisa melepasnya saat sudah tidak bersama saya lagi, maksud saya, jika sudah selesai berkonsultasi, kamu bisa melepasnya." "Ooh...." Dinda masih belum mengerti alasan dirinya disuruh mengenakan masker saat berkonsultasi, tapi melihat wajah Arya yang tampaknya tidak sedang dalam mood yang baik, maka ia memilih untuk menyetujui permintaan itu. Suara ketukan terdengar, dan tanpa seijin Arya, pintu itu dibuka dari luar. Wajah oval milik Mega Sandrina muncul dari balik daun pintu. Wanita itu terkejut melihat Dinda sudah duduk di depan meja Arya. Ia lebih terkejut lagi melihat ada dua kotak coklat yang masih terbuka, dan terlihat isinya. Niat hatinya ingin mengajak pria idamannya itu sarapan pagi bersama, tapi keberadaan dua kotak coklat itu mengurungkan niatnya. "Rupanya, Pak Arya sudah sarapan pagi. Padahal, saya ingin mentraktir Pak Arya lontong sayur pagi ini." Suara Mega dibuat sese

    Last Updated : 2024-01-30
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   13. Makan Siang Bersama

    Dinda teringat saat ia mulai menjawab pertanyaan yang diajukan para penguji. Mulai dari pertanyaaan Hasan yang sangat teoritis, yang dijawab Dinda dengan lancar. Dilanjutkan Mega Sandrina yang menanyakan beberapa pengertian mendasar tentang metodologi penelitian, dan yang terakhir, dosen tampan yang baru dilihat Dinda hari itu. Sebenarnya, Dinda sedikit terkejut, melihat salah satu pengujinya adalah dosen tampan yang menghebohkan kampusnya terlebih lagi jurusan manajemen. Akan tetapi, saat itu kepalanya sudah penuh dengan skripsinya. Ia hanya merasakan kikuk sesaat ketika sang dosen menatapnya tajam dan dalam, saat memberikan pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan Arya saat itu lebih ke isi pokok skripsinya. Ia sampai harus mengeluarkan kertas untuk menjawab pertanyaan hitung-hitungan sang dosen. Selama itu, Arya memang terus menatap Dinda. Ia tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Dinda, baik wajah maupun tangan Dinda yang sibuk menghitung di kertas buram yang ternyata sudah

    Last Updated : 2024-01-31
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   14. Calon Istri

    Hasan mengedarkan pandangannya, hendak mencari keberadaan Dinda, tapi sayangnya meja yang ditempati Dinda dan Mita kosong. Keduanya, secara kebetulan sedang pergi ke belakang, mencari kamar kecil. Arya yang sempat khawatir, menarik napas sejenak. Beberapa menit kemudian, Mega akhirnya mengetahui keberadaan Dinda dan Mita di restoran itu. Ia yang meminta daftar menu, mendatangi meja resepsionis dan berpapasan dengan Dinda yang baru saja dari toilet yang terletak di belakang ruangan itu. "Kamu ada di sini juga?" tanya Mega penuh sindiran. "Lagi ada janjian sama tamu atau gimana?" Dinda yang semula hendak menyapa dengan menganggukkan kepalanya, mengurungkan niatnya begitu mendengar kalimat terakhir Mega. "Tamu? Siapa ya Bu?" Dinda berusaha menahan emosinya. "Dinda datang kemari karena diajak calon suaminya, Bu." Mita tidak tinggal diam. Jengkel juga dia mendengar tuduhan tidak mendasar Mega. "Oh, calon suami? Sudah punya calon suami rupanya? Calon suami atau pelanggan tetap?" Uc

    Last Updated : 2024-01-31
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   15. Share Loc

    Dinda duduk termenung di meja belajarnya. Laptop yang sudah menyala sejak satu jam yang lalu sama sekali belum disentuhnya. Jari jemari yang biasanya sudah menari lincah di atas keyboard, kini justru menjadi penyanggah kepalanya. Kilasan pertemuan dan perselisihannya dengan Mega kemarin kembali melintas di hadapannya. Dinda tidak habis pikir, mengapa mantan dosen pembimbingnya itu sangat membencinya. Atas dasar apa wanita yang sangat suka menyanggul rambutnya itu menaruh cemburu padanya? Dinda mengambil cermin kecil yang tergeletak di meja kecil di samping meja belajarnya. Ia mulai mengamati wajahnya sendiri. Dilihat dengan seksama, wajahnya memang putih meski ada satu-dua jerawat mungil yang menghiasi keningnya. Hidungnya memang sedikit lebih mancung dari kebanyakan orang, ini juga karena papanya yang memang memiliki gen mancung dari keluarga besarnya. Bibirnya tidak terlalu tipis pun tidak terlalu tebal standar dengan warna sedikit merah. Dinda menelungkupkan cermin itu ke atas m

    Last Updated : 2024-02-01

Latest chapter

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Ekstra Part 15

    "Bad day?" Arya menghela napasnya. "Apa mungkin saya memang tidak seharusnya menjadi rektor, ya? Menjadi pebisnis mungkin lebih cocok."Dinda tidak paham dengan kalimat Arya. "Hmm. Kalau kalimatnya dibuat sederhana gimana? Saya nggak paham."Arya menatap Dinda. Ia sadar jika Dinda sedang tidak baik-baik saja sehingga ia memutuskan untuk tidak meneruskan kalimatnya. "Lapar. Ayo, kita makan.""Belum masak tapi.""Iya. Kali ini, biar saya yang jadi tukang masaknya. Kamu cukup duduk menemani saya."Arya menarik tangan Dinda. Keduanya berjalan ke dapur. Suara Brilian dan Fahriza sama sekali tidak terdengar. "Kemana anak-anak? Kok sepi sekali.""Sedang ikut mama jalan-jalan. Nggak tahu jalan-jalan kemana."Arya tidak mengganti pakaiannya lebih dulu melainkan langsung mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak. Melihat suaminya yang langsung sibuk dengan perkakas dapur, membuat Dinda tidak tega. "Sudah-Sudah. Biar saya saja yang masak. Mas mandi dulu aja. Kecut!" Dinda mendoro

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 14

    "Gimana kalau kita jodohin dengan Bu Mega?"Wajah Dinda langsung berubah kaku dan dingin. Sama sekali tidak enak dipandang dan membuat suasana di ruang keluarga kediaman Broto menjadi tegang."Lu kalau becanda jangan kelewatan ya, Mit! Denger nama dia aja gua emosi, gimana lagi dengan keluarga gua?"Mita menggigit bibir bawahnya. Mulutnya sangat lancang mengutarakan ide gila yang tiba-tiba saja melintas di otaknya, hanya karena geram dengan ancaman Dani."Sorry, Din. Gua nggak ada maksud buat -" Mita menjadi salah tingkah."Lu udah kenal gua lama'kan? Harusnya udah sangat tahu dong, kalau gua masih nyimpen dendam ma dia dan sakit hati gua ke itu orang belum kelar?"Mita mengangguk berulang. Penyesalan selalu datang terlambat. Padahal, jujur dia tidak ada niat untuk membuat Dinda naik pitam lagi karena teringat sosok musuh bebuyutannya."Kalaupun dijodohin sama dia, gua percaya Dani pasti menolak mentah-mentah. Orang yang pernah bikin adiknya hampir gila, dia jadikan istri? Dia pasti m

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 13

    "Saya ingin berkonsultasi. Apakah Pak Arya ada waktu?" tanya Mega penuh harap.Arya tertegun sejenak. Ia masih belum menangkap maksud kedatangan wanita di depannya saat ini. Konsultasi apa yang dimaksud olehnya? Apakah dia mengambil program lanjutan? Atau konsultasi bimbingan yang artinya jika dia sudah lebih dulu mengambil program lanjutan? Jika memang sudah mengambil program lanjutan mengapa Rudy tidak memberitahunya?"Maaf. Saya tidak paham dengan maksud Bu Mega." Arya masih menganggap wanita itu sebagai rekan sesama pendidik, meski ia tidak lupa jika wanita di depannya ini adalah musuh bebuyutan sang istri. Arya secara diam-diam mengeluarkan ponsel yang baru saja ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya. "Maaf, sebentar. Ada pesan yang masuk." Arya membuka ponselnya segera.Mega setia menanti. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Arya kembali ke mejanya dan membiarkan Mega tetap berdiri di depan pintu ruangannya. Sama sekali tidak memberi ijin agar wanita itu masuk ke rua

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 12

    "Pak Arya."Suara itu kembali terdengar hingga Dinda meletakkan minumannya di meja. Suara itu mengingatkannya pada seseorang. Mita tidak kalah terkejut. Wajahnya tampak tegang dan sedikit panik. Pertanyaan besar muncul di benaknya. "Beneran itu doi?" tanya Mita pada Dinda yang bergeming dengan dahi berkerut. Arya berdeham sebelum membuka pintu ruangannya. Sosok Mega Sandrina berdiri kaku di depan pintu begitu mengetahui jika ada orang lain di ruangan itu."Maaf! Rupanya sedang ada tamu. Mungkin lain waktu saja saya datang lagi." Mega langsung putar haluan. Melihat Dinda yang menatap dirinya dengan begitu tajam, ditambah lagi Mita yang disertai wajah garangnya, Mega memilih langkah aman. Lebih baik ia menghindar daripada terlibat masalah dengan istri pemilik kampus. Arya tidak berkata apapun. Ia menatap kepergian Mega tanpa ekspresi, lalu menutup kembali pintu ruangannya. "Anggap saja itu intermezo. Iklan memang seringnya datang tanpa diundang.""Beneran'kan yang gua bilang kemarin,

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 11

    "Mega Sandrina," gumam Arya pelan. "Apa yang dia lakukan di sini?"Arya terus mengamati gerakan Mega yang masih asyik berbicara dengan sekumpulan mahasiswa. Tidak lama kemudian, Mega berbalik kembali masuk ke mobil putihnya. Mobil itu berjalan pelan keluar dari area koperasi mahasiswa, lalu melesat ke arah fakultas ekonomiKening Arya kembali mengernyit. "Kenapa ke fakultas ekonomi? Jangan-jangan dugaan Dinda benar?"Sosok pria yang pernah dengan Arya sewaktu mereka di Inggris, ternyata tidak mengarah ke Arya. Pria itu masuk ke koperasi mahasiswa lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas untuk digandakan. Arya kembali menjalankan mobilnya. Pikirannya dipenuhi dengan nama Mega. Apa yang perempuan itu lakukan di kampus ini? Pertanyaan ini terus hilir mudik di kepala Arya, membuat dirinya tidak sabar untuk menghubungi Rudy."Ya. Selamat Siang, Pak Arya.""Ada Mega Sandrina di kampus. Apakah ada tujuan dirinya kembali kemari?"Rudy terkejut. "Bu Mega? Mega Sandrina maksud Pak Arya?""Betu

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 10

    Arya mengusap lembut kepala Dinda. "Bagaimana ya mengatakannya?" Arya bersikap seolah dirinya berada dalam kebingungan yang sangat. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama. Wajah panik Dinda membuatnya urung meneruskan drama dadakannya."Bukan soal siapa atau orang, melainkan mengapa perekrutan itu dilakukan ketika saya masih berada di luar negeri."Arya mengajak Dinda untuk duduk di sofa yang memang sengaja diletakkan di samping pintu balkon kamarnya."Siapa?" Dinda menjadi penasaran."Siapa lagi kalau bukan mereka yang ada di kampus."Dinda mencebikkan bibirnya. "Kalau nggak niat cerita ya udah nggak usah cerita. Saya kan jadi sebel." Dinda melepaskan pelukan Arya."Yaaa, kenapa marah?" Arya tidak mengerti dengan perubahan ekspresi di wajah Dinda yang begitu drastis. "Nggak marah, cuma kesel. Sebel." "Merasa kesel dan sebel pasti ada alasan di belakangnya. Apa itu tidak sesuai dengan tebakan kamu?"Dengan polosnya, Dinda mengangguk. "Saya kira dia yang malas saya sebutkan namany

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 9

    Rasa was-was yang dirasakan Mita menular ke Dinda. Secara tidak sadar, perhatian Dinda kini beralih pada sosok pria tinggi yang sepertinya sengaja menutupi wajahnya dengan topi berwarna hitam. Pria itu mulai menyadari jika kehadirannya sudah diketahui Dinda. Ia memutar tubuhnya secepat mungkin, berpura-pura sibuk memilih jam yang dipajang di toko yang berada tepat di belakangnya."Buruan cabut aja deh, Din. Gua takut kenapa-kenapa." Mita mendorong kereta belanja dengan sekuat tenaga. Dalam pikirannya, mereka harus segera meninggalkan supermarket ini. Tidak ada Fahri atau Arya di samping mereka, membuat Mita bersikap sangat waspada, terlebih lagi mereka membawa dua bocah, yang sejak kedatangan mereka, sudah menarik banyak perhatian terutama Brilian.Dinda mengangguk setuju. Mereka bergegas menuju meja kasir yang kosong, untuk kemudian meninggalkan supermarket itu. Bulir keringat bermunculan di kening Mita. Ia sungguh gugup. Takut jika kejadian buruk akan menimpa mereka. Ia membawa mo

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 8

    Suasana tegang melingkupi ruangan Arya. Yusna mengusap keringat yang mulai memenuhi keningnya, sedangkan Burhan menatap nanar pemuda tampan di hadapannya, yang memiliki aura tak kalah menyeramkan dengan pemilik yayasan."Bagaimana?" Arya masih setia menunggu penjelasan kedua pria paruh baya di depannya. Batin Burhan masih terjadi pergulatan batin. Ia tidak ingin mengaku salah karena dalam kacamatanya, mengaku salah berarti salah. Ia tidak sudi mengakui kesalahannya di depan pemuda belum matang di depannya."Saya mengadakan perekrutan ini bukan tanpa pertimbangan, Pak Arya. Semua berdasarkan permintaan masing-masing fakultas. Ada banyak dosen yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. Jika kita tidak cepat mencari calon pengganti mereka, saya khawatir ini berpengaruh pada jumlah serapan mahasiswa baru tahun depan."Yusna mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Burhan tidak jauh berbeda dengan pemikirannya. Mereka harus mempersiapkan calon pengganti lebih awal beberapa bulan sebelum

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 7

    Rudy mengikuti Arya dari belakang. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada sang rektor muda. Tentang kabar Dinda dan putra mereka, termasuk kehidupan yang keluarga kecil itu jalani selama pendidikan di Inggris. Namun, aura Arya mencegahnya untuk bertanya apapun. Bibirnya seperti dikunci paksa.Keduanya kembali ke ruangan rektor. Sekretaris memberi beberapa dokumen kepada Rudy, untuk selanjutnya disampaikan kepada Arya.Rudy berhenti sejenak untuk mengecek dokumen apa saja yang diterimanya, sebelum diserahkan kepada Arya. "Yusna dan Burhan." Arya menggumam dan gumamannya berhasil mengalihkan perhatian Rudy."Ada yang harus saya lakukan, Pak Arya?" Rudy mendekat dan meletakkan dokumen yang sudah ia periksa."Apa yang mereka lakukan selama aku berada di luar negeri?" Tatapan lurus Arya membuat Rudy sontak mendekat."Saya sudah berusaha menjelaskan beberapa hal kepada beliau berdua, Pak, Akan tetapi, mereka justru menilai saya sebagai perusuh dan tidak mengerti kebutuhan kampus saat i

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status