Share

9. Spesial dan Istimewa

last update Last Updated: 2024-01-26 15:12:19

Mita mulai menjalankan mobilnya, kembali menuju fakultasnya, menemani Dinda menyerahkan skripsi kepada Arya. 

"Bawa berapa skripsi, Din?"

"Satu. Emang harus bawa berapa?"

"Biasanya pembimbing gua minta dua, tapi mungkin Pak Arya beda."

"Semoga beliau tidak rewel seperti sebelumnya."

Mobil itu akhirnya berhenti di halaman depan kampus Fakultas Ekonomi. Mita ikut turun tapi tidak ikut Dinda masuk ke ruangan dosen. Ia ada perlu di bagian administrasi.

Tok.Tok. Tok.

Dinda melirik arloji di tangan kanannya sembari berdiri tepat di depan pintu ruangan Arya, menunggu jawaban dari dalam. Angka di arlojinya menunjuk ke angka tujuh. Terlambat lima menit dari yang seharusnya. 

Ceklek.

Pintu perlahan terbuka, menampakkan wajah putih Arya tanpa senyum. Rasa bersalah tiba-tiba datang menyergap Dinda. Mungkin saja dosen di depannya ini sangat disipiln dalam waktu sehingga telat satu menit saja akan menjadi masalah yang berkepanjangan.

"Silakan duduk." Arya tidak menatap ke arah Dinda sedikit pun.

Suara Arya terdengar sangat berbeda dengan tadi pagi. Siang ini suara itu begitu dingin dan tidak bersahabat.

Dinda menurut. Ia menarik pelan kursi di depannya, lalu mendudukkan tubuhnya dengan sangat hati-hati seperti takut jika gerakannya itu, akan menimbulkan suara yang akan semakin merusak suasana sang dosen.

Lima menit berlalu. Dinda masih duduk diam menanti sepatah dua-patah kata dari dosen pembimbingnya yang baru. Sayangnya, hingga menit ke sepuluh, pria berwarjah putih itu tetap diam sambil terus membaca sesuatu di ponsel miliknya.

Suasana hening itu pecah gara-gara ponsel Dinda yang berdering tiba-tiba, membuat Arya mengangkat wajahnya, dan memandang Dinda dengan tatapan menusuk Dinda langsung menegakkan punggung tubuhnya, tangannya bergerak mencari ponsel yang ada di dalam tas ranselnya.

Panggilan dari Mita.

Mengabaikan tatapan tajam Arya, Dinda menekan tombol hijau.

"Ada apa?" Dinda menjawab  panggilan Mita sambil berbisik.

*Lu ada dimana? Masih di ruangan Pak Arya?

Suara Mita begitu nyaring membuat Dinda terpaksa menjauhkan ponsel itu dari telinganya. 

"Lu pulang duluan aja deh. Bye-bye." Dinda cepat-cepat mengakhiri percakapan itu.

*Buruan lu kenalin pak dosen  sama bokap-nyokap lu, Din. Gua tunggu  undangan lu.

Klik. Dinda segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

"Sudah?" Arya ternyata masih memperhatikan Dinda sejak gadis itu mengambil ponselnya.

Dinda menggangguk cepat seraya tersenyum kikuk. Ia tidak menyangka jika sang dosen ternyata masih terus menatapnya.

"Ada janji sore ini?" 

Dinda agak terkejut dengan pertanyaan Arya. "Tidak ada, Pak."

"Bagus."

"Bagus?" Dinda tidak mengerti.

"Berarti kita segerakan saja diskusinya."

"Diskusi?"

"Jelaskan semuanya. Mulai dari tahapan kamu menyusun proposal sampai penulisan bab akhir skripsi kamu."

"Sekarang, Pak?"

"Mau kamu kapan? Nanti malam?"

"Oh, tentu tidak, Pak. Masa iya kita diskusi malam-malam di kampus. Mana berani saya, Pak."

"Kan ada saya." 

"Iya, Pak. Memang ada Bapak. Tapi kan Bapak pasti pulang dulu. Pamit sama istri dan anak-anak, baru datang kemari lagi. Nah, saya nungguin Bapak berapa lama sampai Bapak tiba di sini lagi? Mana saya nungguin sendiri lagi."

Suara Dinda mirip dengan seseorang yang sedang berkeluh kesah.

"Saya belum berkeluarga, jadi saya punya banyak waktu untuk meladeni kamu."

Dinda langsung terbatuk. Kata meladeni yang diucapkan sang dosen sangat mengganggu dirinya, dan sangat tidak baik bagi pikiran dan daya khayalnya.

"Hmm, maksud saya, kita bisa mendiskusikan skripsi kamu dengan leluasa." Arya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Kenapa sih mulutnya selalu saja mengucapkan kata-kata yang menjurus, setiap kali berhadapan dengan gadis ini

"Oh. Bagaimana dengan pacar, Bapak? Tunangan? Saya kan tidak mau jadi kambing congek. Saat saya menjelaskan alasan pemilihan judul, Bapak nanti malah sibuk sendiri dengan pacar atau tunangan bapak itu." 

"Mengapa kamu justru yang menginterogasi saya? Saya kan sudah menjelaskan kalau saya tidak terikat dengan siapa pun?!" Arya akhirnya kesal juga. Niat hati ingin menginterogasi, tapi justru dirinya yang diinterogasi secara tidak langsung oleh mahasiswinya.

Suara Arya yang tiba-tiba meninggi dan terdengar begitu galak, membuat nyali Dinda ciut seketika. "Baik, Pak." Gadis itu kini memilih menunduk. Mana berani dia beradu tatapan dengan sang dosen yang kini terlihat sangat ingin memakannya.

Tok. Tok. Tok.

Terdengar ketukan berulang. 

"Masuk." Tanpa pikir panjang Arya mengijinkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.

"Maaf, Pak. Saya mau menyerahkan skripsi saya." Mahasiswa itu melirik ke arah Dinda yang masih duduk sambil menundukkan kepalanya.

"Kamu letakkan saja di meja sana. Akan saya baca besok." 

"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi, Pak."

Ruangan kembali sunyi. Baik Arya dan Dinda sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Arya kembali sibuk dengan ponselnya, sedang Dinda kini bermain dengan jari jemarinya, menunggu dengan rasa bosan yang mulai datang menghampirinya.

Suara ketukan kembali terdengar. Dan Arya kembali mengijinkan sang tamu untuk masuk dan mengatakan keperluannya. Hal ini berulang sampai tiga kali.

Saat mahasiswa yang datang terakhir kali menyerahkan skripsinya, dan hendak  berpamitan,  Arya kembali memanggil mahasiswa itu. "Tunggu dulu!"

Arya menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

"Iya, Pak?"

"Katakan pada semua yang baru ditransfer bimbingannya ke saya, skripsinya dikumpulkan ke Pak Rudy di ruang administrasi rektorat. Tidak perlu satu per satu mendatangi ruangan saya seperti ini. Hanya orang tertentu saja yang boleh memasuki ruangan saya saja. Mengerti? "

"Baik, Pak."

Dinda diam menyimak. Mengapa begitu? Mengapa hanya dirinya yang dituntut menjelaskan skripsinya? Dinda melirik-lirik ke arah Arya secara sembunyi-sembunyi. Ingin bertanya tapi ia takut.

"Mengapa? Kamu heran yang lain tidak seperti kamu? Menceritakan detil mulai proposal sampai skripsi?" Arya menangkap lirikan Dinda. Wajah tidak terima Dinda jelas terlihat dan itu membuat Arya merasa gemas.

Dinda tidak berani bergerak dan menjawab. Ia takut mulutnya akan seperti sebelumnya. Berbicara terus tanpa bisa direm. Akan tetapi ia juga penasaran mengapa dirinya mendapat perlakuan berbeda yang sangat tidak mengenakkan seperti ini?

"Mau tahu jawabannya?"

Dinda bergeming. 

"Karena kamu spesial dan istimewa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   10. Sepakat

    Dinda terkesiap mendengar perkataan Arya barusan. 'Apa maksudnya spesial dan istimewa? Memang gua martabak telor?'Arya tersenyum lebar tersenyum lebar namun dengan cepat kembali memasang wajah dingin. "Jangan GR dulu. Istimewa, karena kamu adalah mahasiswa yang sudah berjasa membantu teman-teman kamu belajar menghadapi sidang skripsi. Spesial, karena kamu dengan kecerdasan dan kepandaian yang kamu miliki, justru menjadi satu-satunya mahasiswa yang tidak lulus, dalam dua sidang skripsi berturut-turut."Dinda benar-benar tertohok dengan pernyataan Arya., dosen pembimbing baru, yang ternyata mulutnya sama kejamnya dengan mantan dosen pembimbingnya."So,..." Arya yang sedari tadi terus menatap wajah Dinda, kini mengalihkan pandangannya ke skripsi Dinda. Ia lantas mengambil skripsi yang tebalnya sekitar dua ratus halaman itu, lalu mulai membuka satu per satu halamannya.Dinda yang semula menaruh harapan besar pada dosen pembimbing barunya, kini harus menelan bulat-bulat semua harapannya..

    Last Updated : 2024-01-27
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   11. Mengganggu

    Dinda dengan langkah tergesa memasuki komplek ruangan dosen. Beberapa mahasiswa yang menyapa dirinya hanya dibalas dengan lambaian tangan, tidak seperti biasanya. Ia datang tepat di jam tujuh. Nyaris terlambat.Saat hendak mengetuk pintu, pintu itu terbuka dari dalam. Arya hanya menatapnya sekilas, dan itu membuatnya berkesimpulan jika sang dosen sangat menghargai waktu."Sangat tepat waktu, tapi itu bukan poin plus untuk kamu. Seharusnya kamu datang tiga puluh menit lebih awal." Arya berjalan meninggalkan ruangannya. Tanpa disuruh, Dinda mengikuti sang dosen dari belakang, berusaha tidak tertinggal terlalu jauh. Tidak ada percakapan di antara mereka, hingga mereka tiba di gedung B lantai tiga ruangan satu."Duduk di bagian belakang paling sudut. Simak dan perhatikan apa yang akan saya sampaikan pagi ini, karena ini menyangkut pemilihan metode penelitian dalam penyusunan skripsi. Mungkin saja itu bisa membantumu mengingat seperti apa outline atau proposal pengajuan judul skripsimu ya

    Last Updated : 2024-01-30
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   12. Awal Permusuhan

    "Mulai besok, gunakan masker saat berkonsultasi dengan saya." "Masker, Pak?" Arya mengangguk. "Kamu bisa melepasnya saat sudah tidak bersama saya lagi, maksud saya, jika sudah selesai berkonsultasi, kamu bisa melepasnya." "Ooh...." Dinda masih belum mengerti alasan dirinya disuruh mengenakan masker saat berkonsultasi, tapi melihat wajah Arya yang tampaknya tidak sedang dalam mood yang baik, maka ia memilih untuk menyetujui permintaan itu. Suara ketukan terdengar, dan tanpa seijin Arya, pintu itu dibuka dari luar. Wajah oval milik Mega Sandrina muncul dari balik daun pintu. Wanita itu terkejut melihat Dinda sudah duduk di depan meja Arya. Ia lebih terkejut lagi melihat ada dua kotak coklat yang masih terbuka, dan terlihat isinya. Niat hatinya ingin mengajak pria idamannya itu sarapan pagi bersama, tapi keberadaan dua kotak coklat itu mengurungkan niatnya. "Rupanya, Pak Arya sudah sarapan pagi. Padahal, saya ingin mentraktir Pak Arya lontong sayur pagi ini." Suara Mega dibuat sese

    Last Updated : 2024-01-30
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   13. Makan Siang Bersama

    Dinda teringat saat ia mulai menjawab pertanyaan yang diajukan para penguji. Mulai dari pertanyaaan Hasan yang sangat teoritis, yang dijawab Dinda dengan lancar. Dilanjutkan Mega Sandrina yang menanyakan beberapa pengertian mendasar tentang metodologi penelitian, dan yang terakhir, dosen tampan yang baru dilihat Dinda hari itu. Sebenarnya, Dinda sedikit terkejut, melihat salah satu pengujinya adalah dosen tampan yang menghebohkan kampusnya terlebih lagi jurusan manajemen. Akan tetapi, saat itu kepalanya sudah penuh dengan skripsinya. Ia hanya merasakan kikuk sesaat ketika sang dosen menatapnya tajam dan dalam, saat memberikan pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan Arya saat itu lebih ke isi pokok skripsinya. Ia sampai harus mengeluarkan kertas untuk menjawab pertanyaan hitung-hitungan sang dosen. Selama itu, Arya memang terus menatap Dinda. Ia tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Dinda, baik wajah maupun tangan Dinda yang sibuk menghitung di kertas buram yang ternyata sudah

    Last Updated : 2024-01-31
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   14. Calon Istri

    Hasan mengedarkan pandangannya, hendak mencari keberadaan Dinda, tapi sayangnya meja yang ditempati Dinda dan Mita kosong. Keduanya, secara kebetulan sedang pergi ke belakang, mencari kamar kecil. Arya yang sempat khawatir, menarik napas sejenak. Beberapa menit kemudian, Mega akhirnya mengetahui keberadaan Dinda dan Mita di restoran itu. Ia yang meminta daftar menu, mendatangi meja resepsionis dan berpapasan dengan Dinda yang baru saja dari toilet yang terletak di belakang ruangan itu. "Kamu ada di sini juga?" tanya Mega penuh sindiran. "Lagi ada janjian sama tamu atau gimana?" Dinda yang semula hendak menyapa dengan menganggukkan kepalanya, mengurungkan niatnya begitu mendengar kalimat terakhir Mega. "Tamu? Siapa ya Bu?" Dinda berusaha menahan emosinya. "Dinda datang kemari karena diajak calon suaminya, Bu." Mita tidak tinggal diam. Jengkel juga dia mendengar tuduhan tidak mendasar Mega. "Oh, calon suami? Sudah punya calon suami rupanya? Calon suami atau pelanggan tetap?" Uc

    Last Updated : 2024-01-31
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   15. Share Loc

    Dinda duduk termenung di meja belajarnya. Laptop yang sudah menyala sejak satu jam yang lalu sama sekali belum disentuhnya. Jari jemari yang biasanya sudah menari lincah di atas keyboard, kini justru menjadi penyanggah kepalanya. Kilasan pertemuan dan perselisihannya dengan Mega kemarin kembali melintas di hadapannya. Dinda tidak habis pikir, mengapa mantan dosen pembimbingnya itu sangat membencinya. Atas dasar apa wanita yang sangat suka menyanggul rambutnya itu menaruh cemburu padanya? Dinda mengambil cermin kecil yang tergeletak di meja kecil di samping meja belajarnya. Ia mulai mengamati wajahnya sendiri. Dilihat dengan seksama, wajahnya memang putih meski ada satu-dua jerawat mungil yang menghiasi keningnya. Hidungnya memang sedikit lebih mancung dari kebanyakan orang, ini juga karena papanya yang memang memiliki gen mancung dari keluarga besarnya. Bibirnya tidak terlalu tipis pun tidak terlalu tebal standar dengan warna sedikit merah. Dinda menelungkupkan cermin itu ke atas m

    Last Updated : 2024-02-01
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   16. Kencan Pertama

    "Mengapa lama sekali?" Arya menatap tajam Dinda yang baru saja datang ke ruangannya. "Hmm, Maaf, Pak. Tadi pagi badan saya agak meriang, tapi sekarang sudah lebih baik." "Kamu sudah sarapan?" "Sudah, Pak." "Banyak?" "Dua lapis roti tawar plus selai kacang dan keju, satu gelas coklat panas." "Berarti itu belum cukup untuk mengembalikan stamina kamu hari ini. Temani saya makan." Arya bangkit dari duduknya, dan tanpa banyak bicara ia langsung menarik tangan Dinda, memaksa gadis itu mengikuti kemauannya. "Eh, tapi, Pak .... Bagaimana kalau ...." Arya menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Dinda dengan begitu serius. Dinda menjadi salah tingkah sesaat, namun gadis itu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membuka tas lalu mengambil masker dan langsung memakainya. "Anak pintar." Arya tersenyum tipis, membuat Dinda langsung mengucap kalimat istighfar. 'Mengapa Tuhan menghukum gua dengan melihat pemandangan seindah ini?' "Ikuti saya dan jangan banyak protes." Dinda diam. Ia menyerah

    Last Updated : 2024-02-01
  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   17. Perjuangan Dimulai

    Rudy sedang menata kembali beberapa lembar kertas yang baru saja di tanda-tangani oleh Arya. Ia seperti ingin menanyakan sesuatu. "Ehm, Pak Arya." Pria muda itu sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya. "Ya?" "Itu tadi ... kok bisa bareng dengan Mbak Dinda?" "Oh, itu. Kebetulan berpapasan di depan kampus. Ini juga jadwal dia konsultasi dengan saya." "Oooh, begitu ternyata. Sekarang Pak Arya menjadi pembimbing Mbak Dinda. Syukurlah kalau begitu. Pak Arya harus membantu Mbak Dinda. Mendorong sepenuhnya agar Mbak Dinda bisa lulus secepatnya." "Secepatnya gimana Pak Rudy, orang jadwal sidang juga masih tetap, tiga bulan. Tidak berubah." "Ya maksud saya, di sidang besok, Mbak Dinda bisa lulus, nggak seperti kemarin, Pak Arya." Arya hanya tersenyum. "Tugas berat ini." Rudy tampaknya paham dengan maksud. "Tidak, Pak Arya. Jika Pak Arya melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, pasti hasilnya juga bagus." "Bercanda, Pak Rudy. Saya akan membantu sebisa saya, selebihnya

    Last Updated : 2024-02-02

Latest chapter

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Ekstra Part 15

    "Bad day?" Arya menghela napasnya. "Apa mungkin saya memang tidak seharusnya menjadi rektor, ya? Menjadi pebisnis mungkin lebih cocok."Dinda tidak paham dengan kalimat Arya. "Hmm. Kalau kalimatnya dibuat sederhana gimana? Saya nggak paham."Arya menatap Dinda. Ia sadar jika Dinda sedang tidak baik-baik saja sehingga ia memutuskan untuk tidak meneruskan kalimatnya. "Lapar. Ayo, kita makan.""Belum masak tapi.""Iya. Kali ini, biar saya yang jadi tukang masaknya. Kamu cukup duduk menemani saya."Arya menarik tangan Dinda. Keduanya berjalan ke dapur. Suara Brilian dan Fahriza sama sekali tidak terdengar. "Kemana anak-anak? Kok sepi sekali.""Sedang ikut mama jalan-jalan. Nggak tahu jalan-jalan kemana."Arya tidak mengganti pakaiannya lebih dulu melainkan langsung mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak. Melihat suaminya yang langsung sibuk dengan perkakas dapur, membuat Dinda tidak tega. "Sudah-Sudah. Biar saya saja yang masak. Mas mandi dulu aja. Kecut!" Dinda mendoro

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 14

    "Gimana kalau kita jodohin dengan Bu Mega?"Wajah Dinda langsung berubah kaku dan dingin. Sama sekali tidak enak dipandang dan membuat suasana di ruang keluarga kediaman Broto menjadi tegang."Lu kalau becanda jangan kelewatan ya, Mit! Denger nama dia aja gua emosi, gimana lagi dengan keluarga gua?"Mita menggigit bibir bawahnya. Mulutnya sangat lancang mengutarakan ide gila yang tiba-tiba saja melintas di otaknya, hanya karena geram dengan ancaman Dani."Sorry, Din. Gua nggak ada maksud buat -" Mita menjadi salah tingkah."Lu udah kenal gua lama'kan? Harusnya udah sangat tahu dong, kalau gua masih nyimpen dendam ma dia dan sakit hati gua ke itu orang belum kelar?"Mita mengangguk berulang. Penyesalan selalu datang terlambat. Padahal, jujur dia tidak ada niat untuk membuat Dinda naik pitam lagi karena teringat sosok musuh bebuyutannya."Kalaupun dijodohin sama dia, gua percaya Dani pasti menolak mentah-mentah. Orang yang pernah bikin adiknya hampir gila, dia jadikan istri? Dia pasti m

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 13

    "Saya ingin berkonsultasi. Apakah Pak Arya ada waktu?" tanya Mega penuh harap.Arya tertegun sejenak. Ia masih belum menangkap maksud kedatangan wanita di depannya saat ini. Konsultasi apa yang dimaksud olehnya? Apakah dia mengambil program lanjutan? Atau konsultasi bimbingan yang artinya jika dia sudah lebih dulu mengambil program lanjutan? Jika memang sudah mengambil program lanjutan mengapa Rudy tidak memberitahunya?"Maaf. Saya tidak paham dengan maksud Bu Mega." Arya masih menganggap wanita itu sebagai rekan sesama pendidik, meski ia tidak lupa jika wanita di depannya ini adalah musuh bebuyutan sang istri. Arya secara diam-diam mengeluarkan ponsel yang baru saja ia masukkan ke dalam saku celana panjangnya. "Maaf, sebentar. Ada pesan yang masuk." Arya membuka ponselnya segera.Mega setia menanti. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Arya kembali ke mejanya dan membiarkan Mega tetap berdiri di depan pintu ruangannya. Sama sekali tidak memberi ijin agar wanita itu masuk ke rua

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 12

    "Pak Arya."Suara itu kembali terdengar hingga Dinda meletakkan minumannya di meja. Suara itu mengingatkannya pada seseorang. Mita tidak kalah terkejut. Wajahnya tampak tegang dan sedikit panik. Pertanyaan besar muncul di benaknya. "Beneran itu doi?" tanya Mita pada Dinda yang bergeming dengan dahi berkerut. Arya berdeham sebelum membuka pintu ruangannya. Sosok Mega Sandrina berdiri kaku di depan pintu begitu mengetahui jika ada orang lain di ruangan itu."Maaf! Rupanya sedang ada tamu. Mungkin lain waktu saja saya datang lagi." Mega langsung putar haluan. Melihat Dinda yang menatap dirinya dengan begitu tajam, ditambah lagi Mita yang disertai wajah garangnya, Mega memilih langkah aman. Lebih baik ia menghindar daripada terlibat masalah dengan istri pemilik kampus. Arya tidak berkata apapun. Ia menatap kepergian Mega tanpa ekspresi, lalu menutup kembali pintu ruangannya. "Anggap saja itu intermezo. Iklan memang seringnya datang tanpa diundang.""Beneran'kan yang gua bilang kemarin,

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 11

    "Mega Sandrina," gumam Arya pelan. "Apa yang dia lakukan di sini?"Arya terus mengamati gerakan Mega yang masih asyik berbicara dengan sekumpulan mahasiswa. Tidak lama kemudian, Mega berbalik kembali masuk ke mobil putihnya. Mobil itu berjalan pelan keluar dari area koperasi mahasiswa, lalu melesat ke arah fakultas ekonomiKening Arya kembali mengernyit. "Kenapa ke fakultas ekonomi? Jangan-jangan dugaan Dinda benar?"Sosok pria yang pernah dengan Arya sewaktu mereka di Inggris, ternyata tidak mengarah ke Arya. Pria itu masuk ke koperasi mahasiswa lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas untuk digandakan. Arya kembali menjalankan mobilnya. Pikirannya dipenuhi dengan nama Mega. Apa yang perempuan itu lakukan di kampus ini? Pertanyaan ini terus hilir mudik di kepala Arya, membuat dirinya tidak sabar untuk menghubungi Rudy."Ya. Selamat Siang, Pak Arya.""Ada Mega Sandrina di kampus. Apakah ada tujuan dirinya kembali kemari?"Rudy terkejut. "Bu Mega? Mega Sandrina maksud Pak Arya?""Betu

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 10

    Arya mengusap lembut kepala Dinda. "Bagaimana ya mengatakannya?" Arya bersikap seolah dirinya berada dalam kebingungan yang sangat. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama. Wajah panik Dinda membuatnya urung meneruskan drama dadakannya."Bukan soal siapa atau orang, melainkan mengapa perekrutan itu dilakukan ketika saya masih berada di luar negeri."Arya mengajak Dinda untuk duduk di sofa yang memang sengaja diletakkan di samping pintu balkon kamarnya."Siapa?" Dinda menjadi penasaran."Siapa lagi kalau bukan mereka yang ada di kampus."Dinda mencebikkan bibirnya. "Kalau nggak niat cerita ya udah nggak usah cerita. Saya kan jadi sebel." Dinda melepaskan pelukan Arya."Yaaa, kenapa marah?" Arya tidak mengerti dengan perubahan ekspresi di wajah Dinda yang begitu drastis. "Nggak marah, cuma kesel. Sebel." "Merasa kesel dan sebel pasti ada alasan di belakangnya. Apa itu tidak sesuai dengan tebakan kamu?"Dengan polosnya, Dinda mengangguk. "Saya kira dia yang malas saya sebutkan namany

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 9

    Rasa was-was yang dirasakan Mita menular ke Dinda. Secara tidak sadar, perhatian Dinda kini beralih pada sosok pria tinggi yang sepertinya sengaja menutupi wajahnya dengan topi berwarna hitam. Pria itu mulai menyadari jika kehadirannya sudah diketahui Dinda. Ia memutar tubuhnya secepat mungkin, berpura-pura sibuk memilih jam yang dipajang di toko yang berada tepat di belakangnya."Buruan cabut aja deh, Din. Gua takut kenapa-kenapa." Mita mendorong kereta belanja dengan sekuat tenaga. Dalam pikirannya, mereka harus segera meninggalkan supermarket ini. Tidak ada Fahri atau Arya di samping mereka, membuat Mita bersikap sangat waspada, terlebih lagi mereka membawa dua bocah, yang sejak kedatangan mereka, sudah menarik banyak perhatian terutama Brilian.Dinda mengangguk setuju. Mereka bergegas menuju meja kasir yang kosong, untuk kemudian meninggalkan supermarket itu. Bulir keringat bermunculan di kening Mita. Ia sungguh gugup. Takut jika kejadian buruk akan menimpa mereka. Ia membawa mo

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 8

    Suasana tegang melingkupi ruangan Arya. Yusna mengusap keringat yang mulai memenuhi keningnya, sedangkan Burhan menatap nanar pemuda tampan di hadapannya, yang memiliki aura tak kalah menyeramkan dengan pemilik yayasan."Bagaimana?" Arya masih setia menunggu penjelasan kedua pria paruh baya di depannya. Batin Burhan masih terjadi pergulatan batin. Ia tidak ingin mengaku salah karena dalam kacamatanya, mengaku salah berarti salah. Ia tidak sudi mengakui kesalahannya di depan pemuda belum matang di depannya."Saya mengadakan perekrutan ini bukan tanpa pertimbangan, Pak Arya. Semua berdasarkan permintaan masing-masing fakultas. Ada banyak dosen yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. Jika kita tidak cepat mencari calon pengganti mereka, saya khawatir ini berpengaruh pada jumlah serapan mahasiswa baru tahun depan."Yusna mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Burhan tidak jauh berbeda dengan pemikirannya. Mereka harus mempersiapkan calon pengganti lebih awal beberapa bulan sebelum

  • Dibimbing Jadi Istri Dosen Pembimbing   Extra Part 7

    Rudy mengikuti Arya dari belakang. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada sang rektor muda. Tentang kabar Dinda dan putra mereka, termasuk kehidupan yang keluarga kecil itu jalani selama pendidikan di Inggris. Namun, aura Arya mencegahnya untuk bertanya apapun. Bibirnya seperti dikunci paksa.Keduanya kembali ke ruangan rektor. Sekretaris memberi beberapa dokumen kepada Rudy, untuk selanjutnya disampaikan kepada Arya.Rudy berhenti sejenak untuk mengecek dokumen apa saja yang diterimanya, sebelum diserahkan kepada Arya. "Yusna dan Burhan." Arya menggumam dan gumamannya berhasil mengalihkan perhatian Rudy."Ada yang harus saya lakukan, Pak Arya?" Rudy mendekat dan meletakkan dokumen yang sudah ia periksa."Apa yang mereka lakukan selama aku berada di luar negeri?" Tatapan lurus Arya membuat Rudy sontak mendekat."Saya sudah berusaha menjelaskan beberapa hal kepada beliau berdua, Pak, Akan tetapi, mereka justru menilai saya sebagai perusuh dan tidak mengerti kebutuhan kampus saat i

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status