Pagi berikutnya, Clara tiba lebih awal di kantor. Pagi itu terasa berbeda. Semua terasa lebih sunyi, lebih hening. Hanya ada suara langkah kakinya yang menggema di sepanjang lorong kantor. Meskipun seluruh dunia terasa sama, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaan yang dia rasakan sejak pertemuannya dengan Kieran kemarin semakin menggelora. Kata-kata Kieran terngiang di telinganya, memutar ulang setiap detil percakapan mereka. Aku sangat menghargaimu lebih dari yang kamu bayangkan.Kalimat itu mengusik pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud Kieran. Apa benar kata-kata itu hanya sekedar ungkapan dukungan profesional? Ataukah ada lebih banyak yang ingin ia sampaikan? Clara berusaha mengalihkan pikirannya dengan menatap layar komputernya, berharap pekerjaan yang menumpuk bisa membuatnya fokus kembali. Namun, ada sesuatu yang menghalangi pikirannya—keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Kieran. Perasaan itu semakin sulit untuk dibendung.
Clara menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai lelah. Setiap detik yang berlalu terasa seperti beban berat di pundaknya. Meskipun bekerja dengan Kieran sudah menjadi rutinitas yang familiar, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa dia pungkiri. Setiap kali dia bertemu dengannya, rasanya ada jarak yang semakin besar, meskipun mereka hanya berada beberapa langkah dari satu sama lain.Ponsel di tangannya bergetar. Clara segera mengangkatnya, berharap itu adalah Kieran yang ingin membahas beberapa hal penting.“Clara, bisa ketemu di kantor sebentar? Ada hal yang perlu dibicarakan,” suara Kieran terdengar begitu serius, bahkan sedikit dingin. Clara bisa merasakan ketegangan yang mengalir dalam kata-katanya.“Baik, saya akan segera ke sana,” jawab Clara, berusaha menjaga ketenangan dalam suaranya meskipun hatinya berdebar tak karuan.Setelah menutup telepon, Clara menatap sekilas ke luar jendela. Cuaca yang mendung seakan mencerminkan perasaan yang sedang m
Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda bagi Clara. Setiap kali dia bertemu Kieran, perasaan di antara mereka semakin sulit untuk disembunyikan. Setiap tatapan, setiap senyuman, bahkan setiap kali mereka berbicara, terasa lebih dalam, lebih penuh makna. Namun, meskipun ada kedekatan yang mulai tumbuh, Clara merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Sebuah perasaan takut yang tak bisa dia singkirkan begitu saja.Di sisi lain, Kieran juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang semakin kuat. Dia tahu bahwa hubungan mereka yang awalnya profesional kini telah bergeser, tetapi dia juga tidak bisa lagi mengabaikan perasaan itu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Clara, tetapi dalam proses itu, dia juga merasakan kecemasan—apakah keputusan yang mereka ambil ini benar? Apakah mereka siap menghadapi konsekuensinya?Suatu sore yang mendung, Kieran mengajak Clara untuk berjalan-jalan setelah rapat yang cukup panjang. Mereka berdua berjalan keluar dari kantor, menuju tam
Keesokan harinya, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Matanya masih sedikit berat, seolah semalam tidur tidak cukup, tapi ada satu hal yang membuatnya terjaga lebih cepat dari biasanya—panggilan yang sudah lama ia hindari. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih telepon genggamnya. Pesan dari Kieran masuk beberapa menit lalu._"Clara, bisa kita bicara serius hari ini? Aku butuh kamu di kantor lebih awal. Ada keputusan penting."_Clara menatap layar teleponnya, berpikir sejenak. Beberapa minggu terakhir, ia merasa hubungan mereka semakin intens. Tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi mereka yang mulai berkembang ke arah yang tidak terduga. Meskipun dia mencoba untuk tetap profesional, ada perasaan yang sulit diabaikan.Dia mengenakan jas hitam yang sudah siap disiapkan di lemari, memperhatikan dirinya di cermin. Wanita itu merasa siap, tetapi hatinya terasa tidak sepenuhnya tenang. Ada pertanyaan yang terus menghantui pikirannya: Apakah
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu, dan Clara merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan yang tak kunjung menemukan petunjuk yang jelas. Meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya, bayang-bayang percakapan dengan Kieran terus menghantui pikirannya. Setiap detik, setiap menit, ia merenung, berusaha mencari jawaban yang tepat. Kieran, di sisi lain, memberi ruang untuk Clara. Ia tidak mendesak, tidak memaksa. Ia tahu bahwa keputusan itu harus datang dari Clara sendiri. Meski demikian, ia tetap merasa cemas. Setiap kali ia melihat Clara di kantor, ada kerinduan di matanya, sebuah harapan yang belum sepenuhnya terkubur. Pagi itu, Clara berdiri di depan cermin di kamarnya, mencoba untuk meresapi setiap kata yang pernah ia dengar. "Aku ingin kita bersama, dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tapi aku menghormati keputusanmu." Kata-kata Kieran itu terus mengiang di telinganya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan di dalam hatinya yang terus bergejol
Clara duduk di kursi kayu yang ada di balkon kantor Kieran, matanya menatap jauh ke horizon. Udara malam yang sejuk menyentuh kulitnya, namun pikirannya masih terperangkap dalam kebingungannya.Sebentar lagi, hari besar yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan akan datang, dan Clara merasa cemas akan segala hal yang bisa terjadi.Di sisi lain balkon, Kieran berdiri memandangi Clara dengan tatapan penuh perhatian. Meskipun kehadirannya selalu tenang dan terkendali, kali ini ada yang berbeda. Ada rasa khawatir yang samar, tapi jelas terlihat dalam gerakan kecilnya saat ia melangkah mendekat."Clara," suaranya rendah namun penuh ketegasan, seperti biasa, tetapi ada kehangatan yang menyelimutinya. "Kenapa kamu tampak jauh? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."Clara menghela napas panjang, kemudian menatap Kieran. Matanya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, kekhawatiran yang dia coba sembunyikan di balik senyuman tipisnya. "Aku... hanya merasa ragu, Kieran. Ragu akan se
Hari-hari berlalu begitu cepat, dan Clara mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Perasaan takut yang selama ini membelenggunya perlahan mulai menghilang, digantikan oleh rasa percaya diri yang lebih kuat. Setiap hari, ia semakin terlibat dalam proyek besar itu, dan setiap keputusan yang ia buat terasa lebih matang.Ia tahu bahwa Kieran selalu ada di belakangnya, memberikan dukungan yang tidak terhingga.Namun, di balik kemajuan yang ia rasakan, ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya. Ada satu pertanyaan yang terus terulang dalam benaknya, satu hal yang belum ia ungkapkan sepenuhnya kepada Kieran. Sesuatu yang lebih dalam, yang menyentuh perasaan yang ia coba sembunyikan.Pagi itu, di ruang kerjanya yang terletak di lantai yang sama dengan Kieran, Clara duduk di mejanya, memandangi layar komputer yang terbuka di depannya. Meski tampak fokus, pikirannya tidak sepenuhnya terpusat pada pekerjaan. Sesekali ia melirik ke arah pintu ruang kerja Kieran, berpikir tentang bagaiman
Seiring berjalannya waktu, hubungan Clara dan Kieran semakin berkembang. Mereka tak lagi hanya rekan kerja, tetapi juga menjadi teman sejati yang saling mengandalkan. Clara merasa bahwa dunia yang dulu terasa berat, kini mulai terasa lebih ringan. Setiap langkah yang mereka ambil bersama seolah menghapus segala keraguan dan ketakutan yang pernah menghantuinya.Meskipun masih banyak tantangan yang mereka hadapi, kedekatan mereka memberi Clara kekuatan yang luar biasa. Kieran, yang dulunya hanya seorang kolega yang misterius dan tertutup, kini menjadi seseorang yang tak tergantikan dalam hidupnya. Setiap percakapan dengan Kieran, setiap tatapan matanya, seolah mengingatkan Clara bahwa ia tidak lagi sendiri.Namun, di balik kebahagiaan yang mulai mereka bangun, Clara tidak bisa menutupi perasaan bingung yang kadang-kadang muncul. Ada hal yang ia rasakan belum sepenuhnya ia pahami. Perasaan yang tumbuh antara mereka begitu kuat, namun ada saat-saat di mana Clara merasa ada batasan y
Malam itu, setelah menyelesaikan rapat yang panjang dan melelahkan, Clara kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa cemas tentang proyek yang sedang dijalankan, dan lebih cemas lagi tentang Kieran. Ia tahu betul bahwa meskipun Kieran terlihat kuat di luar, ada sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang ia simpan jauh di dalam hatinya.Sesampainya di rumah, Clara duduk di ruang tamunya dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ia merenung sejenak, mengingat percakapan mereka sore tadi. Kieran, dengan segala misterinya, bukan hanya menyimpan masalah pribadi, tetapi juga beban yang tak ia ungkapkan sepenuhnya. Clara merasa tidak adil jika hanya dirinya yang terbuka kepada Kieran, sementara Kieran selalu menjaga jarak tentang hal-hal pribadi.Tapi, Clara tahu bahwa mereka harus saling membuka diri jika mereka ingin hubungan ini bertahan. Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan mereka telah berkembang pesat, dan meskipun penuh tantangan, Clara merasa ada ikatan yang
Seiring berjalannya waktu, hubungan Clara dan Kieran semakin berkembang. Mereka tak lagi hanya rekan kerja, tetapi juga menjadi teman sejati yang saling mengandalkan. Clara merasa bahwa dunia yang dulu terasa berat, kini mulai terasa lebih ringan. Setiap langkah yang mereka ambil bersama seolah menghapus segala keraguan dan ketakutan yang pernah menghantuinya.Meskipun masih banyak tantangan yang mereka hadapi, kedekatan mereka memberi Clara kekuatan yang luar biasa. Kieran, yang dulunya hanya seorang kolega yang misterius dan tertutup, kini menjadi seseorang yang tak tergantikan dalam hidupnya. Setiap percakapan dengan Kieran, setiap tatapan matanya, seolah mengingatkan Clara bahwa ia tidak lagi sendiri.Namun, di balik kebahagiaan yang mulai mereka bangun, Clara tidak bisa menutupi perasaan bingung yang kadang-kadang muncul. Ada hal yang ia rasakan belum sepenuhnya ia pahami. Perasaan yang tumbuh antara mereka begitu kuat, namun ada saat-saat di mana Clara merasa ada batasan y
Hari-hari berlalu begitu cepat, dan Clara mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Perasaan takut yang selama ini membelenggunya perlahan mulai menghilang, digantikan oleh rasa percaya diri yang lebih kuat. Setiap hari, ia semakin terlibat dalam proyek besar itu, dan setiap keputusan yang ia buat terasa lebih matang.Ia tahu bahwa Kieran selalu ada di belakangnya, memberikan dukungan yang tidak terhingga.Namun, di balik kemajuan yang ia rasakan, ada sesuatu yang masih mengganggu pikirannya. Ada satu pertanyaan yang terus terulang dalam benaknya, satu hal yang belum ia ungkapkan sepenuhnya kepada Kieran. Sesuatu yang lebih dalam, yang menyentuh perasaan yang ia coba sembunyikan.Pagi itu, di ruang kerjanya yang terletak di lantai yang sama dengan Kieran, Clara duduk di mejanya, memandangi layar komputer yang terbuka di depannya. Meski tampak fokus, pikirannya tidak sepenuhnya terpusat pada pekerjaan. Sesekali ia melirik ke arah pintu ruang kerja Kieran, berpikir tentang bagaiman
Clara duduk di kursi kayu yang ada di balkon kantor Kieran, matanya menatap jauh ke horizon. Udara malam yang sejuk menyentuh kulitnya, namun pikirannya masih terperangkap dalam kebingungannya.Sebentar lagi, hari besar yang sudah dipersiapkan selama berbulan-bulan akan datang, dan Clara merasa cemas akan segala hal yang bisa terjadi.Di sisi lain balkon, Kieran berdiri memandangi Clara dengan tatapan penuh perhatian. Meskipun kehadirannya selalu tenang dan terkendali, kali ini ada yang berbeda. Ada rasa khawatir yang samar, tapi jelas terlihat dalam gerakan kecilnya saat ia melangkah mendekat."Clara," suaranya rendah namun penuh ketegasan, seperti biasa, tetapi ada kehangatan yang menyelimutinya. "Kenapa kamu tampak jauh? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."Clara menghela napas panjang, kemudian menatap Kieran. Matanya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, kekhawatiran yang dia coba sembunyikan di balik senyuman tipisnya. "Aku... hanya merasa ragu, Kieran. Ragu akan se
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu, dan Clara merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan yang tak kunjung menemukan petunjuk yang jelas. Meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya, bayang-bayang percakapan dengan Kieran terus menghantui pikirannya. Setiap detik, setiap menit, ia merenung, berusaha mencari jawaban yang tepat. Kieran, di sisi lain, memberi ruang untuk Clara. Ia tidak mendesak, tidak memaksa. Ia tahu bahwa keputusan itu harus datang dari Clara sendiri. Meski demikian, ia tetap merasa cemas. Setiap kali ia melihat Clara di kantor, ada kerinduan di matanya, sebuah harapan yang belum sepenuhnya terkubur. Pagi itu, Clara berdiri di depan cermin di kamarnya, mencoba untuk meresapi setiap kata yang pernah ia dengar. "Aku ingin kita bersama, dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tapi aku menghormati keputusanmu." Kata-kata Kieran itu terus mengiang di telinganya. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan di dalam hatinya yang terus bergejol
Keesokan harinya, Clara terbangun dengan perasaan campur aduk. Matanya masih sedikit berat, seolah semalam tidur tidak cukup, tapi ada satu hal yang membuatnya terjaga lebih cepat dari biasanya—panggilan yang sudah lama ia hindari. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih telepon genggamnya. Pesan dari Kieran masuk beberapa menit lalu._"Clara, bisa kita bicara serius hari ini? Aku butuh kamu di kantor lebih awal. Ada keputusan penting."_Clara menatap layar teleponnya, berpikir sejenak. Beberapa minggu terakhir, ia merasa hubungan mereka semakin intens. Tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi mereka yang mulai berkembang ke arah yang tidak terduga. Meskipun dia mencoba untuk tetap profesional, ada perasaan yang sulit diabaikan.Dia mengenakan jas hitam yang sudah siap disiapkan di lemari, memperhatikan dirinya di cermin. Wanita itu merasa siap, tetapi hatinya terasa tidak sepenuhnya tenang. Ada pertanyaan yang terus menghantui pikirannya: Apakah
Hari-hari setelah percakapan itu terasa berbeda bagi Clara. Setiap kali dia bertemu Kieran, perasaan di antara mereka semakin sulit untuk disembunyikan. Setiap tatapan, setiap senyuman, bahkan setiap kali mereka berbicara, terasa lebih dalam, lebih penuh makna. Namun, meskipun ada kedekatan yang mulai tumbuh, Clara merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Sebuah perasaan takut yang tak bisa dia singkirkan begitu saja.Di sisi lain, Kieran juga tidak bisa menyembunyikan perasaan yang semakin kuat. Dia tahu bahwa hubungan mereka yang awalnya profesional kini telah bergeser, tetapi dia juga tidak bisa lagi mengabaikan perasaan itu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Clara, tetapi dalam proses itu, dia juga merasakan kecemasan—apakah keputusan yang mereka ambil ini benar? Apakah mereka siap menghadapi konsekuensinya?Suatu sore yang mendung, Kieran mengajak Clara untuk berjalan-jalan setelah rapat yang cukup panjang. Mereka berdua berjalan keluar dari kantor, menuju tam
Clara menatap layar ponselnya dengan mata yang mulai lelah. Setiap detik yang berlalu terasa seperti beban berat di pundaknya. Meskipun bekerja dengan Kieran sudah menjadi rutinitas yang familiar, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa dia pungkiri. Setiap kali dia bertemu dengannya, rasanya ada jarak yang semakin besar, meskipun mereka hanya berada beberapa langkah dari satu sama lain.Ponsel di tangannya bergetar. Clara segera mengangkatnya, berharap itu adalah Kieran yang ingin membahas beberapa hal penting.“Clara, bisa ketemu di kantor sebentar? Ada hal yang perlu dibicarakan,” suara Kieran terdengar begitu serius, bahkan sedikit dingin. Clara bisa merasakan ketegangan yang mengalir dalam kata-katanya.“Baik, saya akan segera ke sana,” jawab Clara, berusaha menjaga ketenangan dalam suaranya meskipun hatinya berdebar tak karuan.Setelah menutup telepon, Clara menatap sekilas ke luar jendela. Cuaca yang mendung seakan mencerminkan perasaan yang sedang m
Pagi berikutnya, Clara tiba lebih awal di kantor. Pagi itu terasa berbeda. Semua terasa lebih sunyi, lebih hening. Hanya ada suara langkah kakinya yang menggema di sepanjang lorong kantor. Meskipun seluruh dunia terasa sama, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaan yang dia rasakan sejak pertemuannya dengan Kieran kemarin semakin menggelora. Kata-kata Kieran terngiang di telinganya, memutar ulang setiap detil percakapan mereka. Aku sangat menghargaimu lebih dari yang kamu bayangkan.Kalimat itu mengusik pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya dimaksud Kieran. Apa benar kata-kata itu hanya sekedar ungkapan dukungan profesional? Ataukah ada lebih banyak yang ingin ia sampaikan? Clara berusaha mengalihkan pikirannya dengan menatap layar komputernya, berharap pekerjaan yang menumpuk bisa membuatnya fokus kembali. Namun, ada sesuatu yang menghalangi pikirannya—keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Kieran. Perasaan itu semakin sulit untuk dibendung.