Ranumnya bergerak pelan, mencetak senyum tipis begitu kaki jenjangnya menginjak pada lantai Apartement miliknya.
Perasaan senang tiba-tiba menghampiri, merasa bahwa kini ada seseorang di dalam sana yang mungkin saja tengah tidur atau menunggu kepulangannya?
Berhasil memasukkan pin, langkah yang tadinya berayun cepat mulai menurunkan temponya. Mendapati gelapnya ruang itu.
Tangan kirinya terjulur pelan, mencari saklar lampu yang berada tak jauh dari pintu utama.
Ctak.
Cahaya menyilaukan itu menyambut kepulangannya. Rasa lelah kian menyelimutinya, menuntut agar segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk nan nyamannya.
Perlahan tungkainya membawa tubuhnya ke arah dapur, tempat di mana ia kemarin melihat gadis itu menunggunya pulang.
Gelap.
Suasana yang sama kembali ia dapati.
"Apa dia suka kelegapan? Dan kini memilih tidur?" tanyanya dalam hati.
Merasa bodoh dengan dirinya sendiri. Seo
Dengan berat kedua kelopak mata itu membuka pelan, sempat terpejam kembali saat merasa sinar lampu yang begitu terang menubruk ke arah matanya. Sampai pada akhirnya, setalah ia membuka matanya kembali, pandangan mulai netral dan menerima cahaya itu dengan baik. Aera meringis pelan saat merasakan kepalanya yang begitu sakit. Dan juga, ia mulai menyadari suhu tubuhnya yang sangat panas bercampur rasa menggigil di sekujur tubuhnya. Tak biasanya seperti ini. Dengan cepat ia genggam selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Sampai pada akhirnya sesuatu terlintas di ingatannya. Ada yang tidak beres. Pikirnya. Aera terbatuk pelan beberapa kali. Dan entah dari mana datangnya sosok pria yang kini terlihat berdiri di samping tempat tidurnya dengan ekspresi wajah yang sangat sulit ia tebak. "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" tanya Aera cepat, mengambil alih duduk di sisi ranjang Aera, tak menghiraukan tatapan heran yang Aera tujukan
Deg. Rasanya jantung Reagan ingin berhenti berdetak saja. Ia tahu apa yang tengah Aera pikirkan saat kedua manik jernih itu menatap nanar ke arah pakaiannya yang ia kenakan. "Apa yang sudah kau lakukan padaku?" teriak Aera dengan suara tertahan. "Apa?" tanya Reagan polos dengan wajah datar. Meski begitu tidak bisa menutup kegugupan yang malah keluar dari suaranya yang terdengar sedikit tergagap dan patah-patah. Menghiraukan seluruh rasa sakit yang masih tersisa di tubuhnya, Aera bangun dari ranjangnya dengan cepat dan berjalan ke arah Reagan dengan tatapan tajam. Namun jauh di dalam hatinya ia berteriak kencang, bisa-bisanya pakaiannya kini sudah berganti. Ia ingat, bukan baju ini yang ia pakai sebelumnya. Dan jika memang Reagan yang sudah mengganti pakaiannya, dia pastikan tidak akan mudah memaafkan pria itu. "Wah, kau seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan," hardik Aera, tanganya berkacak di pinggangnya. Wajahn
Kedua netra jernih kecoklatan itu berpendar pelan, menilik ke adaan sekitar dapur yang terlihati sunyi sekali, padahal dia sangat yakin bahwa sebelumnya, beberapa menit yang lalu ada Reagan di sana. Dan meski pada akhirnya ia berhasil mendapati sosok Reagan yang baru saja masuk dari arah pintu di belakangnya, yang mengarah langsung pada kamar mandi yang ada di sana. "Ku pikir kau sudah pergi!" seru Aera singkat, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja menjadi canggung. Reagan melirik singkat begitu mendapat menuturan dari Aera, namun tak berniat sedikitpun untuk menyahut. "Kau sudah buat sarapan sendiri?" tanya Aera begitu mendapati beberapa helai roti yang sudah tersaji di atas piring yang ada di depannya. Reagan mengikuti arah yang dilihat Aera, mengangguk sekilas dan perlahan bergerak mendekat pada Aera. Deg Jantung Aera terasa dua kali berdoa lebuh cepat, melihat Reagan dari jarak yang begitu
Pagi yang cerah dan tubuhnya yang terasa enakan. Siap dengan style kasualnya, Aera beranjak pergi meninggalkan apartemennya dengan membawa tas gendong kecil berwarna coklat susu di pundaknya. Sangat kecilnya tas itu, hanya muat untuk memasukkan barang-barang kecil berupa ponsel dan lipbalm serta sunscreen miliknya saja. Janjinya dengan Attha masih beberapa jam lagi, namun ia memutuskan untuk pergi keluar sekedar memudarkan rasa bosan dan upaya menghilangkan bayang-bayang perihal Aile dan Dalva. Langkah kaki jenjang itu berhenti tepat pada perpustakaan umum kota, yang terlihat sedang sepi-sepinya. Kedua netra jernihnya bergetar pelan, meski tidak terlalu ambis dalam membaca buku, bukan berarti dia tidak suka dengan buku. Dulu sewaktu sekolah, ia sering menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan jika sedang tak lapar di jam itu. Perlahan langkahnya menapak, netranya langsung menyapa ribuan buku yang tersusun rapih di depannya. S
Ranum itu memaju sedikit, mengutarakan kejengkelannya pada sosok tidak tahu diri yang sedari tadi mengikutinya. Aera terus berdoa dalam hati, semoga saja dia tidak salah mengajak bicara orang. Mengingat kasus-kasus pembunuhan oleh orang yang tak di kenal mulai merambah di sekitar kotanya. Dan wajar saja, kota yang ia tinggali saat ini adalah kota besar. Akh bukan lagi, malah kotanya ini adalah pusat negaranya. Ibukota negaranya. Aera sampai pada locker miliknya. Ujung matanya menangkap sosok pria yang meminta masker padanya tengah mengikutinya di belakang. Masih sama, dia terus menutup kepalanya dengan topi hoodie miliknya serta menunduk. Masih, Aera terus menduga-duga apa yang pria itu tengah alami. "Mungkinkah dia tengah di kejar seseorang? Sampai-sampai dia bersikap seperti itu?" Aera memberikan spekulasi yang lain pada dirinya sendiri. "Ini!" lirih Aera, tangan kanannya menyodorkan sebuah masker yang masih baru-terbungkus rap
Langkah teratur namun terkesan cepat dan menuntut itu menjadi pengiring dari kesunyian yang tercipta di sekitar lorong panjang itu. Tak ada percakapan, karena memang nyatanya dua-duanya tak berniat untuk saling berbicara. Hanya ada helaan nafas pelan dan harap-harap cemas yang menyelimuti pria bertubuh jangkung nan tegap itu. Sampai pada akhirnya langkah keduanya terhenti pada sebuah pintu yang kini ada di hadapan mereka. Pintu yang letaknya begitu jauh dari lift dan juga paling sudut dari pintu ruang-ruang yang lain. "Aku sudah bilang, jangan mencari masalah!" tutur Jarrel-sang pemilik kulit seputih susu itu akhirnya membuka suara. Entah sejak kapan dirinya kembali ke agensi, padahal tadi pagi Aiden tidak melihatnya. "Aku tidak mencarinya! Dia yang mendatangiku kak!" bantah yang tubuhnya lebih tinggi-Aiden pada Jarrel. "Kau-" suara Jarrel seakan-akan tercekat mendengar penuturan dari Aiden- adik tingkatnya di dunia perbintan
Ketukan pelan dan sedikit bernada menjadi pengiring kebosanan dari pemilik bibir plum itu, mendapati sang adik tersayang ternyata datang terlambat, lewat dari jam janji mereka. Terhitung sudah memasuki sekitar setengah jam, namun Aera masih setia dengan lemon tea miliknya yang tersisa sedikit lagi. Sampai pada akhirnya sosok dari pemilik tubuh yang lebih tinggi darinya datang dari arah pintu cafe, mengedarkan pandangannya ke segala arah upaya mencari keberadaan sang kakak. Satu titik ia temukan pada objek yang kini juga tengah menatap malas dengan wajah muram-ke arahnya. "Maaf aku terlambat," serunya sembari mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Aera. Dengan gusar Aera menyenderkan punggungnya pada sandaran kursk, masih setia dengan bibir manyunnya. Jika orang yang tidak tahu bahwa mereka adalah adik kakak, pasti akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih, yang mana wanitanya lebih dewasa da
"Bagaiamana sekolahmu? Semenjak tadi kita tidak membicarakan perihal kehidupanmu di sekolah. Ayolah, beritahu kakak!" Aera mengguncang pelan lengan kokoh milik sang adik yang berjalan di sampingnya. Kini mereka tengah berjalan beriringan di trotoar jalan, menikmati suasana sore yang sangat damai, dan juga di ikuti oleh angin-angin dingin di akhir musim gugur. Aera mengeratkan hoodie yang ia pakai saat rasa dingin kian menusuk sampai ke kulitnya. "Tidak ada yang spesial, kau tahu itu," sepertinya minat Attha tak sebagus Aera saat sedang membahas perihal kehidupan sekolah mereka. "Ya, kenapa begitu? Jangan berbohong padaku! Cepat ceritakan! Aku mau dengar." Aera kembali memaksa, hendak mencubit Attha, namun tangannya langsung di gandeng oleh Attha. "Ayo kita foto bersama! Agar tidak ada lagi gadis-gadis centil yang menggangguku," tanpa menunggu persetujuan dari Area, Attha langsung menarik Aera sedikit menuju ke ujung trotoar,
"Kau sudah pulang?" tanya Aera basa-basi saat mendati Reagan masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun, melewatinya yang kini tengah duduk santai di depan TV.Tak mendapat jawaban dari Reagan, Aera inisiatif untuk mengikutinya. Belakangan ini tugasnya sudah bertambah, yaitu menyiapkan air hangat untuk Reagan setiap pria itu pulang dari kerjanya."Kau mau kubuatkan sesuatu untuk makan malam?" tanya Aera lagi saat sudah berhadapan langsung dengan Reagan.Reagan menghela nafas kasar, sepertinya dia punya banyak masalah hari ini, lihatlah wajahnya yang tertekuk masam dan juga tampak sangat letih.Dan ya Aera! Sebaiknya kau jangan banyak bicara dan bertanya padanya. Atau kalau tidak pasti kau akan berakhir oleh repetannya yang sangat memekakkan telinga."Kau ingin menonton?"Aera sontak memutar tubuhnya yang hampir mencapai pintu kamar mandi. Matanya membola dengan sempurna, apakah ini ajakan kencan?Wah, Reagan
"Sepertinya konsentrasimu sedang terganggu ya?" tanya Aile, karena sedari tadi ia memanggil pria di sampingnya ini namun tak kunjung mendapatkan sahutan darinya. "Ya?" seperti tersadar, Dalva mmebawa buku miliknya lagi ke dala ruang matanya, berpura-pura membacanya tanpa suara. "Aku sedang bicara padamu, kenapa kau malah melihat ke situ, dasar tidak sopan sekali!" rutuk Aile seraya menarik buku bacaan milik Dalva. Karena mereka punya banyak waktu libur, jadi keduanya memutuskan untuk menghabiskan masa libur mereka dengan membaca buku. Ya hitung-hitung untuk menambah ilmu sebelum mereka masuk kuliah bulan depan. "Ck, menganggu saja!" keluh Dalva, tampaknya tak suka dengan perlakuan Aile. Gadis itu mendengus pelan, dia tentunya tahu pria di sampingnya inu jelas-jelas tengah memikirkan sesuatu yang berat. Setidaknya jika Dalva mau, dirinya bersedia mendengar ceritanya. Dari dulu juga begitu bukan? Jika ada masalah antara Aera dan juga Dalva,
-Sepertinya moodmu sedang baik hari ini?-"Tau dari mana dia moodku sedang baik hari ini, dasar sok tau. Aera bercelutuk pelan, mendapati pesan dari Aiden. Sesaat setelahnya senyum kecil muncul dibibirnya.-Sok tau banget-Balasnya kemudian. Ia tunggu beberapa menitpun tak kunjung mendapat balasan dari Aiden, akhirnya Aera memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Reagan sudah pergi beberapa jam yang lalu, hubungan merekapun jadi membaik belakangan ini.Ia ayunkan kakinya, upaya menuju balkon kamarnya, angin sejuk langsung menerpa tubuh mungilnya. Aera membawa kedua tangannya ke atas pagar balkon yang menjadi pembatas kamarnya dan juga ruang kosong di depan sana.Tatapannya kini turun kebawah, lagi-lagi Aera tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika jatuh je bawah sana. Pasti sangat sakit, oh atau lebih tepatnya dia akan meregang nyawa saat itu juga."Mmmm tak ada hal bagus yang bisa aku lakukan saat ini," perlaha
Sepasang tungkai itu sampai lada depan pintu apartemen Aera, sedikit memberikan senyuman perpisahan dan juga lambaian tangan yang terpaksa, Aera akhirnya memijakan kakinya masuk ke dalam.Masih sama, terasa sepi, Reagan beluk juga pulang. Jika boleh jujur, Aera sedikit merindukan pria pemilik bahu lebar itu."Kenapa pikiranmu terus terdoktrin padanya sih Ra? Dasar menyebalkan sekali," rutuknya tak terima memukul kepalanya sendiri."Dia itu pria yang menyebalkan kau tahu? Egois dan hanya mementingkan diri sendiri, tidak tahu malu dan sangat kurang ajar!" umpatannya tak berhenti sampai di situ saja.Perhatiannya teralihkan sesaat ketika ponselnya bergetar, ada pesan masuk ke dalam sana. Meski malas melihatnya tapi pada akhirnya ia memeriksa pesan itu, dan benar saja meski itu tanpa keterangan nama di sana dia sudah bisa menebak itu dari siapa. Siapa lagi kalau bukan orang yang mengantarnya barusan.Aera dengan sangat terpaksa
"Bisakah kita berteman?" pertanyaan itu terlontar cepat dari bibir Aiden. Senyuman tipis turut terpatri di wajah mereka. Kini keduanya sudah keluar dari cafe dan berada memilih tempat yang lebih privacy lagi untuk berbincang, seperti di dalam mobil Aiden ini contohnya. Detik itu juga Aera menyesali untuk di antar oleh Aiden kembali ke apartemen. Mengharuskan dirinya kini berakhir menuju hubungan yag semakin dekat dengan Aiden. Susah cukup saja pikirannya menjadi sakit beberapa dan batinnya tertekan semenjak menikah dengan Reagan, tentu ia tak ingin menambah kesialan lagi bukan. "Teman?" gadis berparas cantik itu menoleh pada Aiden yang kini tengah mengemudikan mobilnya. Tersirat jelas bahwa ia tak ingin berlarut-larut terlibat dengan pria di sampingnya ini. "Ya, kenapa tidak? Kau seharusnya merasa bangga karena aku sang "solois terkenal -Aiden" mau menawarkanmu pertemanan. Jarang-jarang aku bersikap baik seperti ini," j
"Mau kemana kalian pagi-pagi begini?" Aera tahu, pertemuan dirinya dengan kedua orang itu bukanlah kebetulan, pasti mereka sudah membuat janji untuk temuan. "Kami akan pergi untuk mendaftar ulang di kampu," jawab Aile. Aera mendengus kasar, jika mengingat pembicaraan mereka bertiga tadi. Sungguh merasa sangat iri bisa kembali belajar dan bertemu banyak orang, sedangkan dirinya hanya seperti orang bodoh yang tidak tahu harus bagaimana menghabiskan hari yang membosankan ini. Aera memilih satu tempat, si sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari taman kota, aneh memang pagi-pagi sudah ke cafe saja. Tapi mau bagaimana, dia juga tidak suka jika harus terkena paparan sinar matahari. Saat pikirannya masih teralihkan pada beberapa orang yang masuk ek dalam cafe, ponsel miliknya bergetar serta mengeluarkan nyanyian yang ia kenali sebagai nada dering ponselnya. Segera ia meraih ponselnya di dalam tas, kedua netranya membelalak tak
Ketiganya terdiam, duduk berhadapan dengan pandangan saling mengarah ke arah lain, tak banyak yang mereka bicarakan sedari tadi.Salah satu diantaranya mulai menggerakkan matanya, menilik sang sahabat yang hidungnya memerah, serta matanya yang masih sembab karena menangis tadi. Rasa simpati terus mendatanginya, memikirkan bagaimana kehidupan Aera semenjak pernikahannya. Dan semenjak itu pula mereka lost contact.Aile jelas sangat merindukan Aera lebih dari apapun, dia sudah menganggap gadis itu sebagai saudara kandungnya sendiri. Aile tak bisa membayangkan jika hal ini terjadi padanya, dirinya menikah dengan kakak dari pacarnya sendiri.Sudut matanya menangkap beberapa tanda kemerahan pada leher Aera yang hampir memudar, sungguh ia sangat terkejut. Tapi bukankah hal itu wajar bagi pasangan yang sudah menikah. Apakah Aera benar-benar sudah melakukannya dengan Reagan? Pertanyaan itu kini terngiang-ngiang di otaknya.Hembusan nafas lembut l
Pagi menjelang begitu cepat meninggalkan mereka yang masih tertidur nyenyak dan bermain lebih lama dengan dunia mimpinya. Namun beberapa diantaranya lebih memilih untuk bangun lebuh awal sebelum snah surya menyonsong, entah itu dikarenakan pekerjaan yang mereka miliki, ataupun permasalahan pribadi lainnya. Kedua tangan itu dengan cekatan menyusun beberapa menu sarapan yang sudah ia masak beberapa waktu yang lalu. Memiliki untuk sarapan lebih dulu, padahal ini belum masuk jadwalnya untuk sarapan. Masih terlalu dini, tapi ia mencoba tidak perduli. Pikirannya sedang berkutat keras. Siap denga sarapannya, gadis itu-Aera membawa dirinya masuk kedalam kamarnya lagi, sesudah sebelumnya meninggalkan notes kecil di atas meja. Untuk orang lain yang tinggal bersamanya. Sejak kejadian dua hari lalu itu, Aera selalu menghindari Reagan bagaimanapun caranya. Dan salah satunya begini, bangun pagi-pagi dan sarapan dengan diam secara sendiri. Setelahnya ia akan m
"Tunggu!" "Kya!" pekik Aera kuat, tak bisa menahan rasa keterkejutannya tatkala mendapati kehadiran Reagan yang tiba-tiba di depan pintu kamarnya. "Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya lagi, berusaha menutup pintu kamarnya yang sedikit lagi akan menutup dengan sempurna, tapi sayang tinggal sayang, Reagan menahan agar pintu itu tidak tertutup dengan kedua tangannya. Dirinya harus benar-benar menyelesaikan masalah ini dengan Aera. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" tuturnya masih menahan pintu. "Apapun itu, aku tidak peduli! Sana pergi! Aku mau tidur!" usir Aera, namun selanjutnya Aera melotot lebar sesaat mendapati tubuh sempurna Reagan kini sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya reflkes menjauh untuk berjaga-jaga Reagan akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Ujung matanya kini sibuk mencari benda untuk ia layangkan kehadapan Reagan. Aera berjalan cepat mendekati tempat tidurnya, sebelum