Aku berusaha mengabaikan tatapan para karyawan yang memandangku dengan penuh tanya saat Mahendra masih menggenggam tanganku di lobi. Jantungku masih berdebar kencang, bukan hanya karena genggamannya, tetapi juga karena perasaan tidak nyaman mengetahui bahwa Radit sudah menemukan tempat kerjaku.Mahendra menoleh padaku, lalu mengecilkan suaranya agar hanya aku yang bisa mendengar. “Mulai sekarang, kau harus selalu berada dalam pengawasanku. Jika ada hal mencurigakan, segera beri tahu aku.”Aku menelan ludah dan mengangguk.Saat itu juga, Rani—teman sekantorku—berjalan mendekat dengan ekspresi penuh selidik. “Liana… kau datang bersama Pak Mahendra?” bisiknya.Aku belum sempat menjawab, Mahendra sudah mendahuluiku. “Ya, dan dia akan tinggal di tempatku sementara waktu.”Rani membelalakkan mata. “APA?”Aku hampir tersedak mendengar cara Mahendra mengatakannya. “M-Mahen! Jangan bicara seperti itu, nanti orang-orang salah paham!”Mahendra malah tersenyum tipis. “Biar saja.”Aku menutup waja
Malam itu, aku merasa lebih waspada dari sebelumnya. Mahendra memutuskan untuk membawaku ke penthouse-nya, dengan alasan bahwa tempat itu jauh lebih aman daripada apartemenku.“Aku punya sistem keamanan yang ketat di sini,” katanya saat kami masuk ke dalam lift. “Radit tidak akan bisa mendekat tanpa ketahuan.”Aku hanya mengangguk, meski jauh di dalam hati, aku masih merasa gelisah. Radit bukan orang yang mudah menyerah. Jika dia bisa menemukan tempat kerjaku, maka bukan tidak mungkin dia juga akan menemukan tempat ini.Sesampainya di penthouse, aku terkejut melihat betapa luas dan mewahnya tempat itu. Dinding kaca besar menampilkan pemandangan kota yang gemerlap di malam hari. Interiornya bernuansa monokrom dengan furnitur mahal yang tertata rapi.“Mulai sekarang, kau tinggal di sini,” ujar Mahendra dengan nada tegas.Aku menoleh padanya. “Tapi… aku tidak bisa terus bergantung padamu, Mahen.”Dia mendekat, menatapku dalam. “Kau bukan bergantung padaku, Liana. Kau sedang kulindungi.”
Pagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan. Aku masih belum bisa tidur setelah kejadian semalam. Bayangan sosok ber-hoodie itu masih menghantui pikiranku. Mahendra pun terlihat sama gelisahnya, meskipun dia berusaha menyembunyikannya dariku.Saat aku melangkah ke ruang makan, aroma kopi menguar di udara. Mahendra sudah duduk di kursi, dengan laptop terbuka di depannya. Dia tampak serius, sesekali mengetik sesuatu sambil menyeruput kopinya."Apa yang kau lakukan?" tanyaku sambil menarik kursi di depannya."Memeriksa rekaman CCTV," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku ingin tahu bagaimana dia bisa masuk ke area apartemen ini tanpa terdeteksi."Aku menggigit bibir. "Apakah kau menemukannya?"Mahendra menghela napas panjang, lalu memutar laptop ke arahku. "Lihat ini."Di layar, terlihat sosok pria ber-hoodie hitam berjalan menyusuri koridor dengan hati-hati. Dia menundukkan kepala, menghindari sorotan kamera. Tapi saat dia berhenti sejenak di depan pintuku, aku bisa mel
Aku duduk di tepi ranjang Mahendra, masih memegang ponsel dengan tangan gemetar. Pesan dari Radit terasa seperti bayangan gelap yang terus mengintai di setiap langkahku.Mahendra berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar, kedua tangannya terkepal erat. Aku tahu dia sedang berusaha menahan amarahnya."Kita tidak bisa membiarkan dia berkeliaran bebas," katanya akhirnya. "Aku akan mencari tahu dari mana pesan ini dikirim."Aku hanya mengangguk, masih merasa ketakutan. Mahendra mendekat dan berlutut di depanku, tangannya menggenggam tanganku erat."Kau aman di sini," katanya lembut. "Aku akan memastikan itu."Aku ingin percaya padanya, tapi Radit selalu punya cara untuk membuatku merasa tak berdaya.~~*Keesokan paginya, suasana di rumah Mahendra terasa lebih tegang. Mahendra sibuk dengan panggilan telepon, sementara beberapa pria berbadan tegap datang dan pergi, berbicara dalam nada serius.Aku duduk di ruang makan bersama ibunya, yang tampak lebih tenang meskipun aku bisa melihat so
Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan rasa panik yang mulai merayapi tubuhku. Foto-foto itu… mengapa dia harus memata-mataiku? Apa yang sebenarnya Radit inginkan dariku?Mahendra menutup amplop itu dengan ekspresi gelap di wajahnya. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.“Cari dia. Segera,” katanya tegas, lalu menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang.Aku menatapnya dengan cemas. “Kita harus bagaimana sekarang?”Dia menoleh padaku, lalu menggenggam tanganku erat. “Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu.”Aku ingin percaya padanya, tapi di sudut hatiku, aku tahu bahwa Radit bukan orang yang bisa dianggap remeh. Jika dia benar-benar mengawasiku selama ini, maka dia pasti sudah menyiapkan rencana yang lebih besar.~~*Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku hanya berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit, sementara Mahendra duduk di sofa di sudut kamar, masih berkutat dengan ponselnya.“Mahendra?” panggilku pelan.Dia mengangkat w
Keesokan paginya, suasana di rumah Mahendra terasa begitu tegang. Para pengawal terlihat lebih waspada dari biasanya, seolah setiap sudut rumah ini bisa menjadi celah masuk bagi bahaya. Aku duduk di ruang makan, menatap sarapan di depanku tanpa selera sedikit pun.Mahendra duduk di seberangku, matanya tak lepas mengawasi setiap gerak-gerikku. Dia bahkan belum menyentuh makanannya sendiri."Kau harus makan, Naya," ucapnya lembut.Aku menghela napas. "Aku benar-benar tidak bisa. Perutku rasanya penuh dengan rasa cemas."Mahendra berdiri, berjalan mengelilingi meja, lalu menarik kursi di sampingku. Tanpa banyak bicara, dia menyendokkan bubur ke sendok dan menyuapkannya langsung ke mulutku.Aku terbelalak. "Mahendra, aku bukan anak kecil...""Tapi kau keras kepala," potongnya. "Kalau kau sakit, aku yang repot."Aku mengerucutkan bibir, tapi akhirnya membuka mulut juga. Di tengah ketegangan ini, aku tak bisa menahan rasa hangat yang merayapi dadaku. Perhatian kecil seperti ini membuatku se
Malam terasa begitu panjang. Aku masih meringkuk di tempat tidur dengan kepala bersandar di dada Mahendra. Jantungnya berdetak pelan, kontras dengan kepanikan yang baru saja kami alami. Tangannya melingkari pinggangku erat, seolah takut aku menghilang jika ia lengah sedikit saja.“Aku nggak nyangka Radit berani sampai segila ini,” suaraku lirih, nyaris seperti bisikan.Mahendra mengecup keningku singkat, tapi hangatnya menyusup sampai ke dada. “Aku juga nggak menyangka. Tapi aku janji, aku nggak akan membiarkan dia sentuh kamu, Naya. Aku janji.”Aku mendongak, menatap wajah Mahendra yang hanya berjarak beberapa senti. Di bawah cahaya bulan yang menerobos masuk melalui jendela, wajahnya terlihat begitu sempurna—hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, serta mata tajamnya yang kini terlihat lebih lembut.“Kenapa kamu mau segininya buat aku?” tanyaku, jujur dari hati.Mahendra tersenyum kecil, jemarinya menyentuh pipiku pelan. “Kamu tahu nggak? Sejak pertama lihat kamu di depan ruma
Hari itu, aku dan Mahendra kembali ke kantor setelah sekian lama berkutat dengan drama dan masalah yang datang silih berganti. Rasanya aku ingin mencoba hidup normal, menjalani hari-hari tanpa gangguan berarti. Tapi ternyata, harapan itu terlalu muluk.Baru saja aku duduk di meja kerjaku, seorang resepsionis datang menghampiri sambil membawa amplop putih.“Bu Laila, ini ada kiriman surat untuk Anda.”Aku mengernyit. Surat? Siapa yang masih mengirim surat manual di zaman sekarang? Apalagi, pengirimnya anonim, tanpa nama maupun alamat jelas.Perasaan was-was langsung menyergap. Dengan hati-hati, aku membuka amplop itu. Sepucuk kertas polos di dalamnya, dengan tulisan tangan yang berantakan."Jangan pernah merasa aman. Aku masih mengawasi. Siap-siap kehilangan semua yang kamu miliki."Tanganku gemetar. Aku tahu betul siapa yang menulis ini—Radit.Aku buru-buru membawa surat itu ke ruangan Mahendra. Begitu melihat wajah tegangku, ia langsung bangkit dari kursi.“Ada apa, Sayang?” tanyanya
Aku menatap pria di depanku dengan napas memburu. Cahaya bulan menyorot wajahnya, dan aku tak bisa mempercayai penglihatanku."Kau..." suaraku hampir bergetar. "Ini tidak mungkin. Kau seharusnya sudah mati."Dia hanya menyeringai, wajahnya masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya—hanya saja ada bekas luka panjang di pelipisnya, seakan membuktikan bahwa dia telah melalui sesuatu yang buruk."Kau benar-benar mengira aku mati?" suaranya terdengar penuh ejekan. "Kau naif sekali."Jantungku berdetak semakin cepat. Sierra, Adrian, dan Reynand masih bertarung di dalam rumah. Aku harus berpikir cepat."Apa maumu?" aku berusaha tetap tenang.Dia mendekat, berjongkok agar bisa menatapku lebih jelas. "Aku hanya ingin mengobrol. Kau tahu, tentang masa lalu kita. Dan... tentang bagaimana aku masih hidup."Aku merasakan dingin menjalar di tulang punggungku. Ini bukan sekadar pertemuan kebetulan. Dia ada di sini karena alasan tertentu.Sebelum aku bisa merespons, aku mendengar suara langkah k
Aku masih bisa merasakan adrenalin mengalir deras di tubuhku. Mobil melaju kencang di jalanan gelap, meninggalkan gudang yang kini sudah pasti dikepung musuh."Mereka siapa sebenarnya?" aku bertanya dengan napas tersengal. "Dan kenapa mereka bisa menemukan kita?"Adrian menatap ke kaca spion dengan rahang mengeras. "Itu yang harus kita cari tahu."Reynand, yang duduk di kursi belakang dengan luka di lengannya, merintih pelan. Sierra merobek bagian bawah bajunya dan menekannya ke luka Reynand untuk menghentikan pendarahan."Kita butuh tempat untuk berlindung," kata Sierra dengan nada tegas. "Nggak mungkin kita terus melarikan diri tanpa rencana."Reynand mengangguk. "Aku tahu tempatnya."Adrian meliriknya sekilas melalui kaca spion. "Dimana?""Ada rumah aman di luar kota. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sana, tapi tempat itu benar-benar aman. Paling tidak untuk sementara."Aku bisa merasakan kelegaan kecil di dalam hatiku. Setidaknya kami punya tujuan.Mobil terus melaju di jalana
Mobil kami akhirnya melambat setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam. Udara malam mulai menusuk, dan aku bisa merasakan ketegangan di dalam mobil yang masih belum hilang. Reynand duduk diam di kursinya, matanya tajam menatap jalanan, sementara Sierra terlihat sibuk memeriksa pistolnya, memastikan setiap peluru siap digunakan.Aku menoleh ke Adrian. “Kita mau ke mana?” tanyaku, suaraku masih sedikit bergetar setelah kejaran brutal tadi.Adrian menatap ke kaca spion sebentar sebelum menjawab, “Reynand bilang dia tahu tempat aman. Aku percaya padanya.”Aku mengerutkan dahi, lalu menatap Reynand. “Kita bakal ke mana?”Reynand akhirnya menoleh padaku. “Sebuah tempat persembunyian. Hanya orang-orang tertentu yang tahu lokasinya.”Aku masih curiga, tapi mengangguk. Aku tahu, untuk saat ini, kami tidak punya pilihan lain.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gudang tua di pinggiran kota. Bangunannya tampak terbengkalai, dengan dinding beton yang mulai retak dan p
Mobil melesat di jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berkelebat melewati kaca jendela yang sebagian retak akibat tembakan. Aku masih berusaha mengatur napas, sementara tangan Reynand tetap menggenggam pergelangan tanganku erat, seolah takut aku akan menghilang begitu saja.“Tahan setirnya sebentar!” teriak Reynand pada Adrian, lalu dengan sigap ia membuka jendela dan mengarahkan pistolnya ke belakang.DOR! DOR! DOR!Aku melihat salah satu mobil yang mengejar kami kehilangan kendali dan menabrak trotoar, tapi dua mobil lainnya masih memburu tanpa ampun.“Brengsek, mereka tidak mau menyerah!” geram Adrian sambil membanting setir ke kanan, memasuki jalan kecil yang nyaris kosong.Sierra mengetuk layar ponselnya dengan cepat. “Aku akan mencoba mematikan lampu lalu lintas di jalur utama, bikin kekacauan, mungkin mereka kehilangan jejak kita.”Aku menggigit bibirku, merasa sedikit lega karena Sierra selalu punya cara untuk membuat segalanya lebih kacau bagi musuh.Tapi harapa
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku berputar-putar memikirkan semua yang baru saja terungkap. Om Martin… orang yang selama ini kuanggap sebagai pelindung ternyata menyembunyikan sesuatu dariku.Aku duduk di balkon kamar hotel tempat kami menginap. Kota di bawah sana masih hidup dengan cahaya lampu dan suara kendaraan yang tak pernah berhenti. Tapi bagiku, semuanya terasa hening.“Aku tahu kau tidak akan bisa tidur.”Aku menoleh. Reynand berdiri di ambang pintu, bersandar dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Cahaya dari kamar menerangi wajahnya yang penuh perhatian.Aku memaksakan senyum. “Bagaimana aku bisa tidur setelah semua ini?”Dia berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahku. Angin malam menyentuh wajahku, tapi kehadirannya membuatku merasa sedikit lebih hangat.“Kau masih ragu?” tanyanya pelan.Aku menghela napas panjang. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin semua ini tidak nyata. Aku ingin percaya kalau Om Martin benar-benar menyayangiku… bukan karena ada sesuatu yang dise
Aku masih berdiri terpaku, memandangi Sierra dengan mata membelalak.“Saudara kembar?” suaraku nyaris berbisik.Sierra mengangguk pelan, ekspresinya tenang, seolah dia sudah siap menghadapi reaksiku. “Ya, Laura. Aku adalah saudaramu. Dan sudah waktunya kau mengetahui semuanya.”Aku berusaha memproses kata-katanya, tapi rasanya seperti otakku menolak untuk menerimanya. Ini tidak masuk akal. Jika aku punya saudara kembar, mengapa aku tidak pernah tahu?Reynand tampak tidak percaya. “Aku tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya. Dan aku sudah menyelidiki latar belakang Laura cukup lama.”Sierra tersenyum kecil. “Karena ini adalah rahasia yang dijaga ketat oleh orang-orang yang ingin mengendalikan hidupnya.”Aku menggelengkan kepala, mencoba mencari kepastian. “Bagaimana… bagaimana aku bisa mempercayaimu?”Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu lagi—sebuah foto lama yang sudah agak pudar. Dia menyerahkannya padaku dengan pelan.Tanganku gemetar saat aku menerimanya.Itu ada
Pertarungan masih berlangsung sengit. Ruangan penuh dengan suara tembakan, dentingan besi bertemu, dan jeritan kesakitan. Aku menekan kain ke luka Selena, mencoba menghentikan pendarahannya.“Apa kau bisa bertahan?” tanyaku.Dia mengangguk lemah. “Aku tidak mau mati di sini…”Aku menoleh, mencari Reynand dan yang lainnya. Liam dan Tristan bertarung berdampingan, masing-masing melumpuhkan lawan dengan cepat dan efisien. Reynand berada di sudut ruangan, menahan seseorang dengan tangan kosong, wajahnya penuh amarah.Tiba-tiba, sesuatu bergerak di pinggir penglihatanku.Seseorang sedang berusaha kabur.Dan aku mengenali siluet itu.Adrian.Darahku mendidih. Setelah semua yang terjadi, dia masih berusaha melarikan diri? Tidak akan!Aku berlari, menerobos medan pertempuran, mengabaikan teriakan Reynand di belakangku. “Jangan gegabah, Laura!”Tapi aku tidak bisa berhenti sekarang.Aku mengikuti Adrian ke lorong gelap, napasku memburu. Aku bisa mendengar langkah kakinya di depan, cepat dan te
Malam semakin larut, tapi ketegangan di dalam rumah ini terasa begitu pekat. Kami semua bersiap menghadapi serangan yang akan datang, tapi ada sesuatu yang terasa… aneh.Aku berdiri di dekat Reynand, sementara ayah, Tristan, dan Selena sibuk berdiskusi tentang strategi. Aku bisa melihat wajah-wajah mereka yang serius, penuh kewaspadaan. Tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.“Laura, kau baik-baik saja?” Reynand berbisik di sampingku.Aku menoleh dan mengangguk. “Aku hanya merasa ada sesuatu yang janggal.”Reynand menatapku dalam, lalu menoleh ke arah ayah dan yang lainnya. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama.Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu belakang. Semua orang langsung menegang.“Siapa itu?” bisik Selena.Tristan memberi isyarat agar kami tetap diam. Dengan gerakan hati-hati, dia berjalan menuju pintu belakang, mengintip melalui celah kecil di jendela.Lalu, sebelum kami bisa bereaksi…BRAK!Pintu itu didobrak dari luar, dan dala
Aku masih terpaku, jantungku berdetak kencang saat menatap pria yang berdiri di hadapanku. Ayah. Aku tak pernah menyangka akan melihatnya lagi, apalagi dalam situasi seperti ini.Reynand masih menggenggam tanganku erat, seolah takut aku akan runtuh sewaktu-waktu. Aku bisa merasakan ketegangannya, begitu juga dengan Tristan, Arya, dan Selena yang menatap ayahku dengan waspada.“Apa maksudmu aku dalam bahaya?” suaraku nyaris bergetar.Ayah menghela napas panjang, lalu menatap sekeliling. “Ini bukan tempat yang aman untuk membicarakannya. Kita harus pergi.”Aku ragu. Bertahun-tahun aku hidup tanpa kehadiran ayah, dan sekarang dia datang begitu saja, menyuruhku mengikutinya?Selena tampak tidak percaya. “Tunggu dulu, bagaimana kami bisa yakin bahwa kau bisa dipercaya?”Ayah menatapnya tajam. “Aku adalah satu-satunya alasan kalian masih hidup sekarang.”Selena membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar. Dia jelas tidak menyukai sikap ayahku, tapi dia juga tidak bisa menyangkal bahwa polisi