"Rigel, jika kau memintanya ... aku akan bertaruh untuk membawamu kembali," ucap Harlan. Rigel terdiam usai mendengar ucapan Harlan. Kebebasan, itulah yang ia rindukan. Rigel terdiam sejenak mendengar ucapan Harlan. Ia hanya rindu pulang dan bebas. Perutnya mendadak terasa bergejolak dan bergerak samar. Rigel mengusap perutnya agar bayinya tidak bergerak yang menyebabkan rasa kram yang samar. "Pasti sulit mengalami masa kehamilan sendiri ya?" celetuk Corrie yang masih ada dalam tampilan layar. Corrie menatap Rigel dengan prihatin. "Kalau begitu kembalilah Yang Mulia," sahut Kaelar yang berdiri diambang pintu.Rigel terkejut menatap kehadiran Kaelar yang sudah melihat semuanya. "Aku ... tidak." Rigel bergumam dengan panik karena baru saja merasakan secercah harapan kini harus terpaksa kandas lagi. Rigel lelah dengan keinginan hampanya untuk merasakan kebebasan itu."Aku benar-benar mendukungmu Yang Mulia," ucap Kaelar. "Kenapa kau melakukan itu?" tanya Rigel sulit percaya."Menyaks
"Rigel, wah, kau tampak luar biasa cantik," ucap Adriel yang mendatangi kamar Rigel. Kala itu Rigel sudah bersiap mengenakan gaun panjang hijau tua. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai. Rigel masih duduk di depan meja riasnya. Ia tetap diam saat Adriel mendekatinya sembari mengusap perut bundarnya itu. "Sebentar lagi kau jadi Raja, apakah dengan begitu aku akan bebas ke bumi?" tanya Rigel sembari memejamkan kedua matanya merasakan sensasi hangat tangan Adriel yang mengusap perutnya. Rigel tak membenci Adriel apalagi dengan kenyataan jika dialah ayah dari bayi yang ia kandung. Rigel hanya benci cara Adriel mencintainya. Adriel terkekeh geli namun masih mengusap perut Sang Permaisuri. "Candaanmu setiap hari selalu menggemaskan, aku sudah memberimu istana dan keamanan, seharusnya kau selalu ada disisiku," jawab Adriel tetap sama."Itu pertanyaan terakhirku, jadi apakah kau tetap mengurungku disini?" tanya Rigel."Sayang, kita sudah bahas soal ini bukan? Seorang Permaisuri seharusnya me
"Yang Mulia, pesawatmu sudah siap," ucap Kaelar berbisik pada Rigel. Rigel sempat terdiam sejenak. Ia harus melarikan diri saat kesempatan emas ada di depan matanya. "Bagaimana dengan Adriel?" tanya Rigel."Pendeta Stella juga akan membantu mengalihkan Yang Mulia Adriel," jawab Kaelar."Apa dia juga tahu?""Benar, Yang Mulia Stella ... beliau yang memberi kapal pesawat pribadinya untukmu, namun hamba tak bisa membantumu menyetir pesawat itu tapi jangan khawatir pada koordinat tertentu Kapten Zidane sudah menunggumu saat ini juga," "Aku harus bergegas Kaelar," ucap Rigel. Kala itu seharusnya Rigel segera bergegas melarikan diri dari hiruk pikuk pesta namun dari kerumunan Para Bangsawan yang mengelilingi Adriel. Pria itu, yang baru saja menaiki takhta kerajaan justru berjalan keluar untuk menghampiri Sang Isteri. Rigel saat itu baru berdiri dari kursi tempatnya duduk. Ia sempat melirik Kaelar Sang Ajudan yang langsung berdiri sigap. Rencananya tetap harus berhasil, setidaknya itula
"Itu bukan ...," ucap Adriel terjeda karena Rigel meringis pelan sembari memengangi perutnya. Adriel langsung mengusap perut Rigel sambil juga mengusapi lekuk pinggangnya. Adriel tetap mengusap pelan perut Rigel dengan sayang sampai Rigel perlahan-lahan tak meringis lagi."Aku benci padamu tapi anak ini tampaknya menyayangimu," sahut Rigel. Adriel menatap Rigel dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apakah begitu?" tanyanya. Rigel menoleh untuk menatap langsung tatapan dari Adriel, Setidaknya ia berharap akan ada secercah harapan untuknya. Rigel tertegun sejenak untuk menatap sepasang mata biru yang dingin memandangnya itu. Rigel tahu jika Adriel tak mau ditentang meski ini mengenai perasaannya sendiri. Tatapan biru nan dingin itu sudah jadi jawaban atas pertanyaannya sendiri."Raja bisa memerintah kerajaannya tapi tidak dengan hati seseorang," ucap Rigel sembari membalikkan tubuhnya. "Rigel!" panggil Adriel. "Kau milikku, itulah hal yang pasti." Adriel berucap tegas meski saat itu
"Yang Mulia Stella, alihkan perhatian para penjaga, kumohon!" Kaelar memohon pada Stella juga sembari menghampiri Rigel. "Serahkan padaku," sahut Stella yang juga berpisah dengan mereka.Kini Rigel menaiki mobil yang dikendarai oleh Kaelar. Kaelar menyetir dengan cepat. "Kita bertaruh dengan waktu karena saat ini penjagaan sedang mengawasi keamanan Yang Mulia Adriel, Anda bisa memanfaatkan waktu ini," ucap Kaelar sesekali melirik Rigel. Rigel sedari tadi hanya diam membungkam karena isi kepalanya penuh dan berisik. Banyak hal yang Rigel pikirkan terutama ia harus kembali dengan kenyataan kemampuan yang ia miliki. "Baiklah, aku harus pergi ... bagaimana denganmu sendiri?" tanya Rigel."Keamanan Anda dan hidup banyak lebih penting dari nyawaku," ucap Kaelar sembari menyetir. Kedua mata Pria itu kemilau karena berkaca-kaca. Ia langsung menaikkan kecepatan mobil untuk melesat membelah jalanan sepi karena hiruk pikuk keramaian sedang berada di Kuil Dewi Bulan. Rigel hanya diam menuruti
"Maaf Nak, aku bukan jahat padamu karena menjauhkanmu sebentar dari ayahmu ... kita harus beri dia pelajaran sedikit," ucap Rigel berbicara dengan bayi dalam kandungannya itu. Padahal tanggal kelahirannya cukup dekat. Rigel langsung menghidupkan seluruh mesin. "Vetle ... aku tahu kau di sana, bantulah aku," perintah Rigel.Seketika hologram sosok Vetle pun muncul. "Baik Yang Mulia," ucap Vetle."Beri aku koordinat bumi, bawa aku kesana." Rigel memberi perintah. Kebebasan memiliki bayaran yang mahal. Rigel menatap langit angkasa yang gelap dan hening dari Kapal Pesawat yang ia kendarai. Tangan kanannya menarik pedal persneling perlahan membawa benda itu terapung-apung di ruang hampa. Rigel nyaris tidak mengenali waktu jika bukan karena bantuan kendaraan canggih ini. Sesekali menghela napas karena perutnya kembali bergejolak namun Rigel berusaha menahannya. Rigel mengalihkan rasa sakit dengan fokus mengendarai pesawat ini saat melintasi bebatuan meteor yang kebetulan ada di depannya.
"Rig, media menyoroti hilangny dirimu karena berbagai tuduhan terhadapmu saat ini sedang marak namun beruntungnya bulan demi bulan, berita tentang dirimu mulai padam." Harlan menatap langsung kedua mata ruby Rigel yang baru ia ketahui. Setidaknya dulu Harlan mengenal Rigel sebagai bintang biru bukan Betelgeus Sang Bintang Merah. Rigel menggeleng pelan karena isi kepalanya mulai penuh. "Banyak yang terjadi, aku pun mengalami kesulitan," ucap Rigel yang mengusap perutnya. Cincin pernikahannya bahkan tampak dipandang Harlan yang bungkam saat itu."Apa kau mencintai ayah dari bayi itu?" tanya Harlan tanpa memandang Rigel. Lebih tepatnya tak siap akan jawaban yang akan Rigel ucapkan. Biar bagaimana pun Rigel masih melekat dihatinya. Alih-alih menjawab, Rigel mendekati Harlan sembari menyentuh permukaan pipi tirus Harlan. "Apa tidurmu cukup? lihatlah jenggot yang mulai tumbuh ini, aku terbiasa melihat sosokmu yang berpakaian formal, rapi dan tegas," ucap Rigel. Harlan membelalakkan kedua
“Kau pasti punya alasan tersendiri untuk pergi dan kembali?” celetuk Corrie yang sedang duduk dipinggiran ranjang tidur.Rigel kemarin baru tiba tapi seharian harus melalui beberapa tahap agar bisa masuk ke bumi. Salah satunya pemeriksaan kesehatan yang diawasi langsung dengan Alex. Sebenarnya posisi Rigel yang tiba-tiba hilang misterius dan kembali misterius sudah jadi lirikan para Penjabat Atas tapi berkat perjanjian yang diajukan oleh Harlan, Rigel setidaknya dapat jaminan keamanan dari Harlan namun yang tak Rigel tahu jika Harlan rela menggadaikan jabatannya untuk keamanan Rigel.Corrie tahu hal itu tapi ingin tahu alasan Rigel terlebih dahulu. “Kau itu ... selalu menanggung beban sendiri tanpa mau berbagi,” ucap Corrie.Rigel tertegun mendengar Corrie. Ia yang setengah duduk di ranjang tidur dengan sebelah tangan yang masih diinfus nutrisi tambahan hanya bisa menghela napas. “Aku sudah pernah melakukan kesalahan jadi kali ini aku mau mempertahankannya,” jawab Rigel sambil mengusa
"Jika kau memahami mereka, Rigel menyayangi Harlan seperti saudaranya ... rasa sayang Rigel pada Harlan itu polos dan murni, Nak," ucap Ibu sembari tersenyum kecil. "Saat tahu jika ada laki-laki lain yang sudah bersamanya lagi, Rigel memang tampak seperti membencinya tapi percayalah ... dia akan memilik laki-laki itu." Ibu menatap Corrie sembari menepuk pundaknya. "Mari bantu aku melakukan persalinan," ajak Ibu.Corrie mengangguk. Ia tetap sahabat Rigel. Ia pun berlari menghampiri Rigel yang sedang menjerit kesakitan. Corrie yang iba langsung memengangi tangan Rigel. "Kau bersamaku, meski Adriel tidak," ucap Corrie.Rigel menitikkan air matanya. Perasaannya sakit dan hampa bersamaan, peristiwa penting ini seharusnya ia rasakan bersama Adriel. Rigel masih pada egoisnya sementara Adriel masih pada ambisinya. Rigel menggeleng saat rasa perutnya sakit kembali."Bagus Nak, pembukaan sudah lengkap," ucap Ibu. Ibu dan Corrie bersama-sama membantu persalinan dari Rigel. Cairan darah merah m
"Tolong ... argh, perutku, ketubanku sudah pecah," ucap Rigel memberitahu Corrie."Bertahanlah, kita akan menuju Rumah Sakit," ucap Corrie.Rigel segera menggeleng. Ia memengangi tangan Corrie. Perutnya bergejolak dan ketubannya sudah lebih dulu keluar. "Tidak akan sempat, panggil ibuku, karena ... argh, Adriel akan menyerang kita semua," ujar Rigel. Corrie lagi-lagi terkejut karena ia sudah berusaha sebisa mungkin menjauhkan informasi invasi ini dari Rigel. "Kenapa kau harus tahu Rigel? itu akan membebani pikiranmu," ucap Corrie sembari membopong tubuh Rigel kembali ke ranjang kasur. Rigel mengerang kesakitan. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersenggal karena saat ini ia sudah memasuki kontraksi yang akan berjalannya persalinan. "Panggil ... ibuku," ucap Rigel dengan napas terengah-engah."Baiklah, aku akan menelpon ibumu." Corrie langsung menghidupkan ponselnya sembari menghubungi Ibu dari Rigel. Corrie mengabari semua orang, dari ibunya Rigel dan Alex. Sebelumnya Corrie sudah
"Betapa bodohnya aku termakan tipuan wanita iblis sepertimu!" bentak Harlan yang kecewa."Kau manusia yang menjijikkan, beruntung memiliki tekad yang bahkan bukan bagian dari keagungan dewi tapi berani menghinaku!" sahut Aquilina tak mau kalah."Tentu saja, aku beruntung jadi manusia ... kau, katakan kenapa kau melakukan ini semua?" tanya Harlan.Aquilina masih memasang wajah arogan. "Karena Rigel sudah merebut lelakiku, Adriel!" sahut Aquilina. Kini Harlan jadi tahu semua tipuan dari Julia Violens, tunangannya, alias Aquilina. Sebenarnya Harlan sama sakit hatinya dengan Aquilina tapi Harlan memilih berbesar hati. Saat ia hendak kembali menanyai Aquilina, Gadis itu dan Pria Misterius itu sudah lenyap menghilang. "Harlan, hey Harlan, apa yang sedang kau lakukan?" celetuk Alex yang baru tiba.Harlan menggeleng. "Aku harus bergegas menyelesaikan ini karena aku harus bertemu dengan Rigel," ucap Harlan."Oh iya, Corrie mengabariku jika Rigel dalam masa persalinan karena ini kehamilan per
“Hentikan sikapmu, ini membahayakan banyak orang,” ucap Rigel memelas. “Itu semua tergantung pada pilihanmu Rigel, kau sudah tahu itu bukan?” Adriel menatap langsung kedua mata ruby Rigel yang mulai bergetar. Adriel tetap pada pendiriannya. Jika Rigel tak bersamanya maka dia harus menyingkirkan penyebab Rigel tidak bersamanya. Harlan jadi orang yang akan menerima kemurkaannya kali ini karena pasukan armadanya nyaris memasuki atmosfir bumi. Rigel yang meringis kesakitan akibat kontraksi pada perutnya itu memaksakan diri untuk menduduki dirinya. Rigel menarik kerah baju Adriel agar mendekat padanya. "Kau ... haa ... eungh ... bumi ini juga bagian dari hembusan alam dari anakmu, jangan sekali-kali meratakannya," ucap Rigel yang memicingkan kedua matanya dengan berani. Ia tak perduli meski kontraksi perutnya semakin kuat terasa. Adriel membelalakkan kedua mata birunya. Ini pertama kalinya orang lain berani menentang keinginannya. Adriel tersenyum tipis kemudian meraih tangan Rigel yang
"Katakan padaku apakah kau masih mencintai Kapten Harlan?" tanya Adriel sembari menatap langsung kedua mata Rigel."Aku tidak mencintai Siapapun," jawab Rigel. Rigel tak lama pun menghela napas cukup Panjang kemudian berjalan menuju ranjang Kasur. Ia berusaha mengabaikan Adriel yang saat itu keberadaannya nyaris sirna. Rigel sempat menoleh langsung pada Adriel kemudian terdiam sejenak. Perutnya mendadak terasa berputar sehingga membuat Rigel merasakan nyeri tak tertahan.Adriel sontak mendekati Rigel kemudian menduduki pinggiran Kasur sembari mengarahkan kedua tangannya untuk mengusap perut Wanita Hamil itu. Didalam sana ada darah dagingnya, ia tahu karena merasakan ikatan yang sama. Perut Rigel yang terasa tendangan kecil membuat Adriel tersenyum.“Jangan menyusahkan ibumu, jadilah jagoan dan jaga ibumu, Nak,” ucap Adriel membujuk bayi dalam kandungan Rigel.Rigel memejamkan kedua matanya karena usapan yang Adriel lakukan pada perutnya membuatnya merasa nyaman. Rigel membenci mengaku
"Katakan apa maumu, Raja Adriel?" tanya Harlan tanpa berbasa-basi. "Kau sudah tahu itu, Kapten," jawab Adriel dengan kedua mata biru menyalang menatap Harlan.Sontak semua orang diruangan Komunikasi Nasional tertegun mendengar jawaban Adriel. Seluruh pasang mata menatap Harlan yang masih berdiri dengan tatapan datarnya itu. Harlan bukan pria yang tenang memainkan ancaman seperti Adriel, sebaliknya Harlan lebih senang meladeni lawannya tapi mengingat armada yang dibawa oleh Adriel memiliki kecanggihan berkali lipat dengan bumi yang sudah usang ini. "Apa yang coba dia katakan, Kapten, kau tahu sesuatu?" celetuk Kepala Divisi Komunikasi dengan tatapan horornya. Harlan hanya terdiam sembari menatap layar monitor yang memenuhi seisi ruangan, sambungan komunikasi masih terhubung dengan Adriel. "Dia bagian dari bangsa ini yang telah mendedikasikan diri untuk yang terinfeksi, wahai Raja Adriel," ucap Harlan.Gelegar tawa Adriel terdengar ke seluruh penjuru ruangan. setelah itu tatapan kedu
Keadaan markas Tyre sedang genting. Para staff pemerintahan sedang berlalu lalang berkat adanya radar luar angkasa yang mendeteksi kehadiran armada militer asing. Rapat para petinggi sedang diadakan secara dadakan, seluruh petinggi sektor bertemu tak terkecuali pertahanan. Harlan Zidane, sudah memakai pakaian formal dengan mantel hijau tuanya berjalan tegap memasuki lift. Sepasang sepatu bootsnya terdengar tegas terdengar setiap kali ia berjalan. Sang Mantan Kapten Pertahanan Udara antariksa sekaligus mantan Kapten Anti-Crocus kembali memasuki area yang sempat ia tinggalkan.Harlan menghela napas sembari merogoh saku mantel panjangnya, ia tengah memasang sepasang sarung tangan hitamnya. Terasa ponselnya bergetar, ia segera melihat tampilan layar yang menyala itu. Nama Rigel muncul kemudian terdapat pesan singkat yang masuk."Aku akan pulang ke rumah memakai taxi." isi pesan singkat itu cukup membuat kedua mata zambrud beningnya mengkerut. Harlan lagi-lagi menghela napas, seharusnya i
Pagi ini Rigel diperbolehkan istirahat di rumah karena demam serta kondisi tubuhnya sudah membaik daripada kemarin. Rigel kini sedang mengemasi beberapa helai bajunya ke dalam koper. Perutnya sudah semakin besar bahkan kelahirannya hanya menghitung hari tapi Rigel memilih menunggu hari persalinan di rumah, ia rindu ketenangan seorang diri di rumah. Rigel sampai selesai berkemas tak mendapati sosok Harlan. Ia pun kembali duduk di sofa kemudian mengambil ponselnya. Rigel mencoba untuk menelpon Harlan tapi sambungan sepihak itu tak digubris Harlan. Rigel menghela napas kemudian mengiriminya pesan singkat."Aku akan pulang ke rumah memakai taxi." Rigel mengirimi pesan singkat itu kemudian duduk sejenak. Saat seorang diri terkadang Rigel rindu sosok Adriel. Perutnya terasa bergejolak karena tendangan Si Kecil. Rigel meringis pelan sambil menarik napas dan menghembuskan dengan perlahan. "Kau tahu, Nak, saat kita di New Neoma padahal ayahmu jarang mengunjungi kita," ucap Rigel teringat aka
"Dimana benda itu?" tanya Rigel sembari menarik tangan Harlan yang sedari tadi berdiri disamping ranjang kasur. "Benda apa yang kau maksud Rig?" tanya Harlan keheranan."Berikan anting itu padaku!" teriak Rigel.Harlan termagun saat Rigel melempar anting itu ke lantai kemudian menginjaknya sampai hancur. Harlan melihat raut wajah panik sekaligus murka dari Rigel tapi Harlan yang mulai paham pun memilih diam sejenak."Apa yang kau lakukan Rigel?" tanya Corrie. "Aku melakukan kebodohan, sekarang aku hanya membahayakan banyak orang," jawab Rigel meracau. Rigel membaringkan dirinya sembari menutup dahi dengan punggung tangan kirinya sendiri. Ia menatap langit-langit ruang perawatan yang hampa. Kepalanya terasa sakit dan dadanya juga jadi sesak. Wajah Rigel mulai bersemu kemerahan dan kedua matanya berkaca-kaca. Rigel menoleh menatap Harlan yang sedang memengang tangan kanannya."Kau harus kembali ke barak, karena bisa saja dia membuat kekacuan," ucap Rigel pada Harlan.Harlan menggelen