hai hai hai, kalau ada yg tanya ciuman bibir? iyes? kok bisa? ya bisa, Galuh kan gak pake cadar. ceritanya tuh kerudung cuma gimana caranya nutup wajah dia. nah pas jatuh bangun aku menindih kakak angkatku, tuh jilbab di muka kebuka. jadi deh.... ya begitu. alfa menang banyak saudara. dan kudu dinikahkan. ye kan? siap-siap panas dingin ye kalian semua. alfa ma galuh mau buka segel. kaburrrr!
Zami hanya bisa menunduk menatap lantai rumah Intan. Tampak dia sejak tadi hanya diam saja. Tak bisa berkata apapun. Mana badannya sakit semua. Sisa bogem dari para preman masih membekas. Ini malah ditambah bogeman dari para warga ditambah bapaknya Intan, Teuku Basir juga sudah menghadiahinya tiga kali pukulan di wajah, perut dan dada Zami.“Awas saja, kau sakiti anakku, Intan. Dulu kau bilang, anakku gak cantik. Kamu gak suka, terus ini apa? Ngajakin ketemuan, main peluk segala. Cih! Anaknya Zaky gak jauh beda sama dia. Aku aja heran kenapa sampai dia jadi pemuka agama. Otak modal selangkangan. Cih!” Teuku Basir meludahi Zami. Zami naik pitam, hanya saja dia tak berani melakukan apapun di kawasan kekuasaan Teuku Basir.Zami melirik ke arah kakak tirinya. Berharap sang kakak membantu. Tapi Rafly tak melakukan apapun. Dia sejak tadi hanya diam. Bahkan tak mencoba membela adiknya saat dipukuli, dihina dan dihujat oleh para warga.“Hei, kau. Rafly! Sudah kau bilang sama bapak kau, hah?!”
Alfa mengucap salam saat menoleh ke kanan kemudian dilanjutkan salam saat menoleh ke samping kiri. Tak lupa setelahnya mengusap wajah. Setelah itu dia tampak khusuk melakukan wirid dan terakhir menengadahkan tangan untuk berdoa. Salah satu doanya berisi ucapan rasa syukur, ucapan terima kasih pada Allah dan doa-doa kebaikan lainnnya untuk diri sendiri, istri dan orang-orang yang dia cintai. Setelah selesai, dia segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu tempat dia sudah ditunggu. Untuk saat ini dia masih lolos dari bogeman mentah Aiman entah nanti pas setelah dia bercerita, apakah wajahnya masih aman atau tidak. "Keluarga ini baik. Pantas Galuh betah dengan mereka. Masakan Ibu Zainab dan Ibu Anjani juga enak." Alfa memegang perutnya yang sudah kenyang. Dia mengingat setelah keluar dari kamar Galuh, Aiman menyuruhnya makan, mandi dan sholat dulu. "Kamu belum sholat kan? Belum makan kan? Sana makan dulu, mandi terus sholat habis itu cerita dan kalau sudah selesai cerita, kita l
Galuh membuka matanya, sedikit demi sedikit dia sudah bisa memfokuskan diri dengan keadaan sekelilingnya. "Aku tidur rupanya," ucapnya lirih. Galuh merasakan nyeri di pergelangan kaki kanannya. Dia sedikit merintih. Galuh mencoba duduk. Dia pun lalu mengedarkan pandangan dan kini tatapannya ke arah bawah ranjang, dimana terdapat Alfa yang sedang tertidur nyenyak berselimut sarung milik Aiman. Galuh sedikit terhenyak, dia sedang mengingat sesuatu hingga ingatan-ingatan dari saat dia dijebak Zami sampai bisa menikah dengan Alfa kembali berputar di kepalanya. Tanpa bisa dicegah senyumnya terkembang. "Kami sudah sah," ucap Galuh lirih. Galuh masih mesam-mesem hingga kemudian merasakan keinginan untuk ke kamar mandi. Dengan pelan, Galuh mencoba berdiri. Tapi, karena posisi kakinya masih sakit dia jadi tak bisa menapak dengan benar dan malah terjatuh tepat menimpa Alfa. Alfa sontak kaget dan terbangun. "Apa yang--- Galuh!" Alfa sontak bangun dan membantu Galuh duduk di ranjang.
Zahra meletakkan telinganya di tembok. Tak lupa kedua telapak tangannya menempel di tembok juga. Persis cicak. Zahra menarik tubuhnya. Dia mengernyitkan dahi sambil bersedekap. Tatapannya lalu dia alihkan ke jam dinding. Pukul tiga lewat dua puluh menit. "Aneh. Tadi kayaknya aku denger suara pintu kamar Lulu kebuka, terus kayak lagi pada ngomong cuma gak jelas. Terus kenapa ini sepi banget ya? Gak ada suara. Masa langsung bobo gitu? Gak malam pertama dulu apa? Ish ish ish. Aku kan jadi penasaran." Zahra kembali menempelkan kupingnya, dia mencoba mencuri dengar. "Kok anteng bener ya? Masa gak ada yang ngajak ngobrol gitu? Atau, malam pertama." Zahra terkikik menyadari pikiran mesumnya. Sebetulnya ini tidak sopan. Nguping malam pertamanya orang lain. Tapi gimana ya? Dia kepo. Apalagi teman-temannya yang mengajar di Dayah sering bercerita setiap harus menginap di rumah Teungku Zaky, katanya setiap malam mereka akan mendengarkan suara-suara aneh, teriakan serta ucapan-ucapan cabul
Brak Bruk Brak. Bunyi sesuatu yang patah, benda jatuh serta jeritan dari kamar sebelah membuat aktivitas dua muda mudi yang tengah bercumbu rayu terhenti. Alfa menjauhkan bibirnya dari leher putih sang istri. Dia duduk, telinganya dia pasang baik-baik. Galuh yang sedang rebahan di atas kasur lantai menarik selimut menutupi tubuhnya yang setengah polos. Dia juga mendengar kegaduhan itu. Alfa dan Galuh saling pandang. Mereka sama sekali tak bersuara. Karena itu, kasak kusuk hingga suara-suara Aiman, Zahra dan yang lain terdengar jelas. Alfa mengernyit saat mendengar suara khas Zahra yang cempreng melengking yang menjelaskan bagaimana ranjangnya bisa terkoyak. Dia mau tertawa tapi sengaja menutup mulut. Galuh sendiri sudah menutup mulutnya dengan selimut. Tertawa dia dari balik selimut. Keduanya masih bertahan dengan mencoba tak bersuara. Hingga terakhir suara tiga orang tua terdengar jelas di depan pintu kamar. "Mereka tidurnya kayak kebo!" "Bukan kayak kebo, Mas. Galuh rajin sho
Setelah sesi yang mendebarkan, menyenangkan dan menghangatkan berakhir, baik Alfa dan Galuh belum ingin beranjak dari peraduan. Keduanya masih saling memeluk dengan deru napas yang mulai beraturan. Suara orang mengaji kini terdengar. Galuh mengeratkan pelukannya pada sang suami. Alfa terkekeh dan sesekali mengecup kening istrinya. "Mandi?" Galuh mendongak menatap sang suami lalu mengangguk."Cium dulu ya?""Dasar." Galuh mencubit perut sang suami.Alfa sedikit menjerit tapi segera saja dia menyergap bibir sang istri. Membawanya pada ciuman-ciuman memabukkan yang membuatnya melayang. "Pengen lagi," bisik Alfa setelah melepas ciumannya."Apaan sih, Mas? Udah pagi juga.""Berarti kalau udah malam boleh?""Dasar!" Galuh memukul manja dada suaminya. Alfa terkekeh. Dia mengetatkan pelukannya.Suara orang mengaji kembali terdengar jelas karena keduanya tak bersuara. Alfa melepas pelukan. "Kayaknya kita harus bangun, kelamaan begini aku maunya ngajakin kamu berbuat mesum mulu."Galuh ter
"Ini gimana ceritanya, sih?! Ranjang pengantennya yo aman. Tapi ranjang perawan malah koyo ngene. Kowe sebenere semalam ngapain sih Nduk?" ketus Aiman yang bolak-balik dari dalam kamar, keluar kamar, mengambil papan yang dia pesan dari toko bangunan dan kemudian terdengar suara gergaji yang beradu dengan kayu. Tak berapa lama suara palu pun terdengar.Zahra si pembuat masalah hanya bisa menunduk malu, Galuh yang berada di sampingnya tak tahan untuk tertawa."Kamu kok ngetawain aku sih?" bisik Zahra sambil menggerutu."Ya habis kamu lucu. Bisa-bisanya sampai ranjangmu patah. Kamu gak habis salto, kan?""Ck!"Zahra tak mungkin mengatakan kebenarannya. Dia malu. Lagian dari semalaman sampai tragedi ranjang terkoyak dia nguping juga gak denger apa-apa dari kamar Galuh. Malah dia yang celaka. Coba nguping lagi juga gak ada suara. Sampai dia lelah dan memutuskan bobo cantik."Lu.""Hem.""Semalam Mas Alfa tidur dimana?""Di kamar.""Ck! Ya aku tahu di kamar maksudnya ... di ranjang apa kasu
"Luh, kamu bisa ceritain ke kita semua. Apa yang sebenarnya terjadi? Zami emangnya mau ngapain? Kok ngajakin kamu ke tempat sepi begitu?"Galuh menghela napas. Lalu dia pun bercerita dari mulai Musa dan Rian datang hingga dia dijebak oleh Zami. Bagaimana Zami mengatakan tujuan dia mengunci Galuh agar dia digrebek bersama Galuh oleh warga, dikira berbuat mesum dan terakhir bagaimaan usaha Galuh untuk kabur hingga diselamatkan oleh Alfa."Si Zami ini otaknya dimana ya Allah?" Rafly hanya bisa beristighfar setelah mendengar semua cerita Galuh."Bisa-bisanya mikir jebak kamu. Ya Allah, kalau aku ketemu pengen tak hajar dia!" ucap Rafly kesal. Cut Syifa mencoba menenangkan sang suami.Lalu dia ingat cerita ibunya kalau Alfa dan Galuh kepergok warga berbuat mesum hingga harus menikah. Dia pun menatap ke arah Alfa."Terus, aku juga bingung kenapa kalian bisa dinikahkan secara paksa? Bukannya Zami yang jebak Lulu biar Lulu bisa nikah sama dia? Tapi kenapa kamu yang malah nikah sama Lulu dan d
Alfa sampai di rumah menjelang jam empat. Dia terlihat kelelahan karena baru saja menyelesaikan segudang pekerjaan dimulai dari meninjau lokasi kebun durian miliknya, mengecek usaha miliknya, memberi materi kewirausahaan di salah satu sekolah pertanian yang ada di Purwokerto hingga menemui salah satu rekan kerjanya guna membahas kontrak kerja sama yang baru."Assalamualaikum," ucap Alfa ketika memasuki rumah."Wa'alaikumsalam.""Abah!"Alfa yang awalnya merasa lelah langsung semangat gara-gara mendengar suara sang putri. Dia pun mencari keberadaan putrinya yang ternyata sedang duduk menonton TV ditemani Zahra."Fay.""Abah."Alfa langsung merentangkan kedua tangan sementara Fairuz berlari ke arahnya. Alfa membopong putri cantiknya dan diciuminya kedua pipi Fairuz dengan gemas. Membuat Fairuz tertawa karena kegelian."Geli, Abah.""Masa sih? Gak geli ah.""Geli."Bukannya melepaskan sang putri, Alfa terus mencandai sang putri hingga kemudian dia sadar akan keberadaan Zahra."Mbak Zahra
"Ami Syakib gimana kabarnya, Ba?""Udah lebih baik. Udah ikhlas dia. Amira selalu ada di sampingnya. Jadi motivator terbaik buat ami kamu. Ditambah sudah ada Rafatar. Jadi proses penyembuhannya lebih gampang."Satu Minggu setelah kematian Habiba, Galuh dan Fairuz masih berada di Andalusia. Alfa sendiri sudah kembali ke Kebumen, tiga hari setelah kematian Habiba. Sebab ada banyak urusan pekerjaan dan pondok yang harus dia lakukan.Meski Galuh juga ingin ikut balik, tapi di sisi lain dia juga masih ingin bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Menyebabkan Alfa yang mengalah dan membiarkan Galuh tetap berada di Tegal sampai rasa rindu sng istri pada kedua orang tuanya terobati.Karena Galuh di Tegal, Fairuz jadi ikutan ngintilin uminya. Membuat Alfa sedikit uring-uringan tapi mau bagaimana lagi dia gak bisa egois. Dia paham Galuh pasti masih ingin banyak waktu bersama kedua orang tuanya. Dan Fairuz yang baru merasakan punya ibu, juga begitu. Alfa deh yang harus berbesar hati membiarkan
Syakib dan yang lain masih dalam kondisi terguncang. Alfa yang berada di balik kemudi mobil Syafiq bahkan sampai mencengkeram kemudi."Tidak. Tidak Habiba."Syakib segera membuka pintu belakang, sebelah kiri. Dia berlari menuju ke kerumunan. Dia bahkan mendorong beberapa orang untuk sampai ke sosok yang tergeletak tak berdaya di aspal."Ya Allah, Bibah. Bibah. Tidak. Tidak Bibah!"Syakib terduduk di dekat Habiba. Dia hendak meraih tubuhnya namun dihalangi oleh beberapa orang dengan alasan, Habiba harus dicek oleh tenaga medis dulu."Aku harus membawanya. Bawa dia ke rumah sakit.""Ini kan pintu keluar rumah sakit. Tunggu petugas medis dulu.""Kita harus angkat dia. Harus bawa dia." Syakib berontak hendak membawa Habiba."Dokter. Panggil dokter!" teriak Syakib.Dia terus memberontak. Ingin mendekat ke arah Habiba. Beruntung Syafiq dan Faris sudah mendekat. Mereka pun ikut menahan Syakib."Tenanglah. Itu petugasnya sudah datang," pinta Faris. Dia menahan sambil merangkul sepupunya karen
Habiba duduk terpekur di dalam sel lapas yang baru dia tempati selama dua puluh menit yang lalu. Sejak dia dibawa ke lapas, belum ada satu pun yang menjenguknya. Habiba beberapa kali tertawa sendiri, menangis lalu berteriak. Aksinya sangat mengganggu napi lain terutama teman satu selnya.Bahkan beberapa menit yang lalu, dia baru saja mendapatkan beberapa pukulan dari salah satu teman selnya yang merasa terganggu dengan suara teriakan atau tangisan Habiba. Melihat kondisi Habiba yang bisa saja menjadi bulan-bulanan warga sel lain, dia pun akhirnya ditempatkan dalam sel sendirian.Namun, pilihan ini pun juga ada minusnya. Habiba makin menjadi. Dia makin sering menangis keras dan berteriak. Meski sangat mengganggu, setidaknya Habiba aman karena berada di selnya sendirian."Kak Umar. Kamu di mana? Kak Umar. Kak Umar tolong Bibah. Kak Syakib. Kamu ke mana Kak Syakib? Bantu aku. Keluarkan aku dari sini. Aku kan istri kamu. Hahaha. Kamu kan cinta mati sama aku. Hahaha.""Aba, Umi. Hei, kalia
"Mati?" lirih Faris."Iya. Mati. Hiks hiks hiks."Habiba mencoba melepaskan diri. Tapi tak berhasil. Dia bahkan kini terduduk, dengan menahan rasa sakitnya. Sorot matanya menampilkan aura kemarahan dan dendam."Kamu ingin Kak Umar Mati?" tanya Syafiq tak percaya."Iya!" jawab Habiba dengan lantang. "Dasar kurang ajar!" hardik Syafiq."Apa kamu gak takut masuk penjara, hah?" sambung Syafiq."Aku tak peduli. Tak peduli. Hidupku sudah hancur. Aku tak punya apa pun yang bisa aku jadikan semangat untuk hidup!" teriak Habiba."Makanya lebih baik dia mati. Hahaha.""Edan! Gila kamu.""Iya aku gila. Gila. Dulu Kak Umar segalanya bagiku. Dia adalah tujuan hidupku. Aku bertahun-tahun menunggu dia. Menunggu dia berpaling padaku. Menatapku. Menerima hadirku. Tapi apa? Apa, hah?! Aku gak pernah dia lirik. Sampai kulitku keriput, rambutku putih. Dia gak pernah melirikku. Padahal demi Kak Umar. Demi kamu, Kak. Aku ngelakuin apa pun. Demi bisa dapat perhatian dan cintamu, Kak Umar. Bahkan kejahatan
Anjani dan dua menantu Abu Hasan sedang sibuk di dapur. Sesekali mereka bercerita dan tertawa. Mereka tampak akrab karena secara umur mereka sepantaran."Habis ini, aku berharap kehidupan kita semua lebih baik lagi," celetuk Ulfa.Kedua iparnya menoleh pada Ulfa."Ya dengan tidak adanya Bibah, aku harap keluarga kita jadi lebih baik. Masalahnya kan sejak dulu, yang jadi biang masalah ya dia," sambung Ulfa.“Kadang aku gak ngerti sama pola pikir dia. Udah ada Syakib yang baik, yang cinta sama dia. Masih juga ngejar Kak Umar. Andai Aba Hasan gak ada janji sama orang tua Bibah, pasti deh tuh orang bakalan didepak sama Aba dari dulu. Gak perlu nunggu berpuluh tahun sampai Bibah sendiri yang minta cerai. Hah!" ucap Ulfa menggebu-gebu."Untung aja ada kamu, Mira. Dan untung aja Kak Umar setia orangnya. Aku gak bisa bayangin kalau Syakib masih bucin atau Kak Umar nerima dia. Lihat aja kelakuannya. Udah tua, bukannya jadi pribadi lebih baik, lebih bijak tapi ya begitu deh.”Baik Amira dan Anj
"Dasar wanita bodoh. Keturunan najis. Cih! Kamu selain bodoh punya kelebihan apa hah? Kamu pakai pelet apa sih, sampai Umar anakku kesengsem sama kamu. Kenapa dia gak mau sama Bibah yang sempurna? Eh eh eh, malah nangis. Bisanya cuma nangis, dasar tolol! Sana kamu ke kamar saja. Sepet mataku lihat kamu. Jangan pernah nongol di sini. Perkumpulan ini hanya untuk keluarga Al Hilabi, sama orang-orang terhormat seperti Bibah. Orang miskin kayak kamu gak pantes di sini. Gak pantes jadi istrinya Umar. Gak pantes jadi mantuku!" ucap Umi Lutfiyah sambil menatap Anjani jijik dan penuh kebencian.Bayangan demi bayangan kian berlarian dalam ingatan Habiba. Habiba seakan ditarik paksa dari kisah lampau. Kisah dimana dia dulu dipuja, dibela dan bisa sombong. Kini dia malah tersiakan, tak dilirik, tak diinginkan.Habiba sedikit terhuyung. Bayang-bayang masa silam masih begitu kentara dalam pikirannya. Dulu dia selalu dibela oleh Umi Lutfiyah dan menyebabkan keluarga Al Hilabi juga mendukungnya. Tapi
“Cerai?” ucap Syakib. Meski dia sudah sadar kalau suatu hari nanti Habiba akan meminta cerai darinya, namun ketika mendengar langsung, terasa ada tusukan pisau yang menembus ke jantungnya. Syakib rupanya belum siap mendengar ajakan cerai Habiba. Hal ini terbukti, tanpa aba-aba air matanya turun. Yara dan Amira sendiri terlalu shock, keduanya belum mampu merespon ucapan Habiba. “Cerai?” ulang Syakib. “Ya cerai. Aku sudah tidak tahan menikah denganmu. Bahkan aku merasa kalau selama ini aku sudah banyak melewatkan masa mudaku cuma buat status gak penting ini. Sekarang … aku mau bahagia. Aku mau meraih masa depanku dan itu bukan kamu!” teriak Habiba. Syakib diam. Dia terlalu shock mendengar kata ‘cerai’ dari mulut Habiba. Namun, beberapa saat kemudian, Syakib bisa mengendalikan diri. Yara dan Amira juga. Tapi keduanya memilih tak mengatakan apapun. Tak mau ikut campur. Amira memilih untuk melihat saja, apa yang akan suaminya putuskan. “Jadi, akhirnya hanya sampai di sini saja,”
Habiba tersenyum penuh kemenangan menatap Faris yang hanya bisa terdiam. Hari ini, dia datang ke Andalusia bersama dua orang polisi dengan tujuan untuk menangkap Anjani. Habiba memberikan beberapa bukti seperti hasil visum dan foto dirinya yang terluka. Dia juga membawa tiga orang saksi yang merupakan santri Andalusia yang bisa dia suap agar bisa memberikan keterangan terjadinya pemukulan yang dia terima dari Anjani. Dalam hati, Habiba yakin kalau rencananya saat ini akan berhasil.“Kami memberi kesempatan Anda untuk menyiapkan pengacara, tapi sebelumnya, kami harus membawa Nyonya Anjani ke kantor polisi,” ucap salah satu polisi.Faris menghela napas dia menatap sedih pada Anjani. Dia pun membawa tangan Anjani pada genggaman jemari tangannya.“Kamu ikut dulu ya? Galuh yang akan temani kamu ke sana sama Alfa. Mas akan hubungi salah satu pengacara kenalan Mas. Semoga dia bisa bantu buat bebasin kamu. Kamu jangan khawatir ya Sayang. Mas akan lakukan apapun untuk menyelamatkan kamu.”Anja