Home / Fantasi / Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir / BAB 23: ARYA KERTAJAYA MENYELIDIKI

Share

BAB 23: ARYA KERTAJAYA MENYELIDIKI

last update Last Updated: 2025-02-08 07:00:09

Matahari mulai tenggelam di balik pegunungan, menciptakan siluet lembut yang menyelimuti istana Gilingwesi. Cahaya senja yang hangat perlahan memudar, digantikan oleh bayang-bayang malam yang semakin pekat. Udara dingin mulai menyelimuti kerajaan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang dibasahi embun. Bau asap yang masih tersisa dari serangan malam sebelumnya bercampur dengan aroma tanah gersang, menciptakan rasa tidak nyaman bagi para penduduk istana. Suara tangisan keluarga korban terdengar samar-samar dari kejauhan, menambah beban emosional pada suasana yang sudah penuh ketegangan.

Di salah satu ruangan terpencil di sayap utara istana, Arya Kertajaya duduk sendirian di balik meja kayu besar, matanya menatap selembar kertas papyrus yang dipenuhi coretan-coretan. Wajahnya tampak murung, alisnya berkerut dalam-dalam, seolah-olah beban berat ada di pundaknya. Ia telah menghabiskan sepanjang hari untuk menginterogasi para pelayan istana, mencari bukti bahwa Raka adalah mata-mata at
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 24: DYAH SULASTRI MENGUNGKAP RAHASIA BESAR

    Malam semakin larut, dan udara di istana Gilingwesi terasa semakin dingin. Bulan purnama bersinar redup di balik awan tipis, menciptakan bayang-bayang panjang yang menyelimuti halaman istana. Di kejauhan, suara angin berdesir lembut di antara dedaunan, membawa aroma tanah basah dan embun malam. Namun, suasana yang tenang ini tidak mampu meredakan ketegangan yang melingkupi hati Dyah Sulastri.Dyah duduk sendirian di tepi kolam kerajaan, matanya menatap air yang tenang dengan sorot mata penuh beban. Wajahnya tampak murung, seolah-olah ia sedang memikul beban yang jauh lebih besar daripada usianya. Ia tahu bahwa waktunya semakin dekat—ritual korban akan segera dilaksanakan, dan nasib kerajaan bergantung pada dirinya. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam yang menghantui pikirannya—sebuah rahasia besar yang selama ini ia simpan rapat-rapat.Raka mendekati Dyah dengan langkah pelan, tak ingin mengganggu ketenangannya. Ia bisa merasakan aura kesedihan yang mengelilingi sang putri, dan itu me

    Last Updated : 2025-02-08
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 25: KONFLIK BATIN RAKA

    Matahari mulai terbit di balik pegunungan, menciptakan siluet lembut yang menyelimuti istana Gilingwesi. Cahaya pagi yang hangat perlahan mengusir bayang-bayang malam, tetapi tidak mampu meredakan beban yang melingkupi hati Raka. Udara segar pagi itu membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang dibasahi embun, namun bagi Raka, suasana itu terasa berat—seolah-olah seluruh kerajaan menekannya dengan rahasia-rahasia yang belum sepenuhnya ia pahami.Raka duduk sendirian di tepi kolam kerajaan, matanya menatap air yang tenang dengan sorot mata penuh pertanyaan. Di tangannya, ia memegang cermin perunggu kuno yang membawanya ke masa lalu. Retakan kecil di permukaannya tampak berkilauan dalam cahaya matahari, seolah-olah mencoba memberitahunya sesuatu. Namun, semakin ia memandangi cermin itu, semakin ia merasa bahwa ada rahasia besar yang disembunyikannya—rahasia yang mungkin bisa mengubah segalanya.Raka mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba menahan amarah dan frustrasinya. Ia tahu bahwa ia

    Last Updated : 2025-02-08
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 26: RAMALAN LENGKAP

    Malam itu, langit di atas Kerajaan Gilingwesi terlihat begitu gelap, seolah-olah bintang-bintang enggan menampakkan diri. Udara dingin menyelimuti seluruh istana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang jatuh dari pepohonan kuno di halaman belakang. Raka duduk di sebuah ruangan kecil yang remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkedip-kedip lemah. Di depannya, Resi Agung Darmaja duduk dengan sikap tenang, wajahnya tertutup bayangan sehingga sulit dibaca.Di antara mereka terbentang gulungan papyrus tua yang tampak rapuh, seolah satu sentuhan saja bisa membuatnya hancur menjadi debu. Gulungan itu adalah transkrip lengkap ramalan kuno—ramalan yang telah mengguncang fondasi kerajaan ini sejak lama. Bau kemenyan dan dupa yang menyelimuti ruangan semakin memperkuat atmosfer spiritual yang melingkupi mereka."Orang dari Kala Lain," ujar Resi Agung Darmaja pelan, suaranya serak namun berat seperti gema dari zaman purba. Matanya yang tajam menatap Raka, seakan mencoba memba

    Last Updated : 2025-02-08
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 27: ARYA KERTAJAYA MENANTANG RAKA

    Matahari baru saja mulai meninggi di langit, menyinari halaman luas di belakang istana Gilingwesi. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang masih lembap oleh embun malam. Namun, ketenangan pagi itu segera terpecah saat suara logam beradu memenuhi udara—pedang kayu yang saling bertabrakan menciptakan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Di tengah lapangan latihan prajurit, dua sosok berdiri tegak—satu dengan pedang kayu di tangan, yang lain dengan tatapan dingin penuh determinasi.Arya Kertajaya, panglima perang kerajaan yang gagah perkasa, mengambil posisi siaga. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut oleh baju besi ringan, sementara pedang kayunya tampak kokoh di tangannya. Matanya yang tajam seperti elang menatap lurus ke arah Raka, pemuda dari masa depan yang kini menjadi pusat kontroversi di istana.Raka, meskipun tidak memiliki pengalaman bertarung formal, tetap berdiri tegak dengan pedang kayu yang diberikan padanya. Ia tahu bahwa ini bukan sekadar du

    Last Updated : 2025-02-08
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 28: DYAH SULASTRI MENGAJARKAN SPIRITUALITAS

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi begitu tenang, seolah-olah alam pun ikut menahan napas. Di sebuah halaman dalam istana yang dikelilingi oleh pepohonan besar dan bunga melati yang harum, Dyah Sulastri duduk bersila di atas tikar anyaman pandan. Cahaya bulan purnama menyinari wajahnya yang anggun namun penuh keteguhan. Di hadapannya, Raka duduk dengan posisi yang kurang nyaman, mencoba meniru cara Dyah duduk bersila. Ia merasa sedikit canggung, tetapi ada rasa penasaran yang mendalam di matanya."Kita mulai dengan meditasi," kata Dyah pelan, suaranya lembut namun tegas. "Tutup matamu, tarik napas dalam-dalam, dan biarkan pikiranmu mengalir seperti air sungai."Raka mengikuti instruksi itu, meskipun awalnya ia merasa sulit untuk fokus. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan—tentang ramalan kuno, tentang hubungannya dengan Dyah, tentang kerajaan ini yang semakin terjerat dalam misteri. Namun, perlahan-lahan, suara napasnya sendiri dan hembusan angin malam membantu menenangkan

    Last Updated : 2025-02-08
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 29: MAKHLUK MITOLOGI MUNCUL LAGI

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi berubah menjadi tegang. Udara yang semula tenang kini dipenuhi dengan energi gaib yang tak terlihat namun dapat dirasakan oleh setiap orang yang berada di sekitar istana. Di tengah halaman dalam istana, Raka dan Dyah Sulastri sedang berdiri di bawah pohon beringin raksasa yang konon dihuni oleh roh-roh penjaga kerajaan. Cahaya bulan yang redup menembus dedaunan tebal, menciptakan pola bayangan yang bergerak-gerak seperti makhluk hidup.Tiba-tiba, angin dingin berhembus kencang, membuat dedaunan bergoyang liar meskipun tidak ada tanda-tanda badai. Api obor yang tersebar di sekitar halaman mulai berkedip-kedip, seolah-olah kekuatan besar sedang mengganggu elemen-elemen alam. Bau asap dari api obor yang berkedip-kedip menambah atmosfer misterius malam itu. Dyah menoleh ke arah Raka dengan ekspresi waspada. "Ada yang mendekat," katanya pelan, suaranya penuh ketegangan.Raka merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak perlu diberitahu dua kali untuk men

    Last Updated : 2025-02-09
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 30: INTRIK KI JAGABAYA

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi tampak tenang di permukaan, namun di balik bayang-bayang yang menyelimuti sudut-sudut kerajaan, ada sesuatu yang gelap dan berbahaya sedang bergerak. Di sebuah hutan kecil di luar perbatasan istana, Ki Jagabaya berdiri di bawah sinar bulan purnama yang redup, dikelilingi oleh pasukan bayangan—makhluk-makhluk gaib yang sebelumnya menyerang istana. Mereka adalah prajurit tanpa wujud nyata, hanya siluet hitam dengan mata merah menyala, mencerminkan kekuatan jahat yang mereka layani.Ki Jagabaya, yang biasanya tampak tenang dan terkendali, kini memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Ia mengenakan jubah panjang berwarna hitam dengan sulaman simbol-simbol kuno di tepinya, tanda bahwa ia bukan sekadar penasihat kerajaan biasa. Dengan suara rendah namun tegas, ia memberikan instruksi kepada para makhluk bayangan."Kalian telah gagal dalam serangan pertama," katanya, nada suaranya tidak meninggalkan ruang untuk bantahan. "Namun, kali ini kita tidak

    Last Updated : 2025-02-11
  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 31: RITUAL GAIB

    Malam itu, suasana di istana Gilingwesi begitu tegang. Di halaman dalam istana, sebuah lingkaran besar telah digambar dengan kapur putih di atas tanah, dikelilingi oleh lilin-lilin yang menyala dengan api biru kehijauan. Udara terasa berat, seolah-olah dipenuhi oleh energi gaib yang tak terlihat. Para pendeta kerajaan berdiri di sekitar lingkaran, mengenakan jubah panjang berwarna merah dan hitam, sambil membawa genta kecil dan tongkat kayu bertatahkan simbol-simbol kuno. Mereka mulai melantunkan mantra-mantra dalam bahasa yang asing, suaranya bergema seperti guntur di udara malam.Di tengah lingkaran, Raka berdiri bersama Dyah Sulastri. Wajah mereka tampak tegang, namun penuh tekad. Rakai Wisesa, raja kerajaan, berdiri di tepi lingkaran, matanya penuh harap namun juga waspada. Ritual ini adalah upaya terakhir untuk menenangkan roh-roh yang marah—roh-roh yang diyakini menjadi penyebab semua ketegangan dan ancaman yang menghantui kerajaan."Kita harus memulai ritual ini dengan hati yang

    Last Updated : 2025-02-13

Latest chapter

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 206: PERTEMPURAN DIMULAI

    Fajar baru saja menyingsing, namun langit di atas istana Gilingwesi sudah dipenuhi oleh awan kelabu yang bergulung-gulung bak ombak lautan. Udara terasa berat, seolah-olah seluruh alam sedang menahan napas. Di luar dinding istana, pasukan loyalis dan makhluk gaib telah berkumpul dalam formasi rapi, siap untuk menghadapi ancaman besar yang kini bergerak mendekat. Dari kejauhan, gema langkah kaki pasukan bayangan Ki Jagabaya dan pasukan asing mulai terdengar. Mereka bergerak cepat seperti badai yang tak terbendung, membawa aura gelap yang mencekam. Mata mereka berkilau merah dalam cahaya pagi yang temaram, sementara senjata mereka berkilau tajam, memantulkan sinar matahari yang lemah. Raka berdiri di garis depan bersama Dyah Sulastri dan Arya Kertajaya, meskipun kondisi Arya masih lemah setelah luka parah yang ia alami. Wajah Raka penuh tekad, matanya bersinar biru kehijauan, mencerminkan kekuatan spirit

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 205: KLIMAKS AWAL PERANG BESAR

    Pagi mulai menyingsing, dan cahaya matahari yang lembut menembus kabut tipis di sekitar istana Gilingwesi. Di luar dinding istana, pasukan loyalis berkumpul dalam formasi yang rapi, bersiap untuk menghadapi ancaman besar yang akan datang. Para prajurit memeriksa senjata mereka, sementara para tabib dan dukun spiritual mempersiapkan ramuan serta mantra untuk mendukung pasukan. Namun, bukan hanya manusia yang hadir di medan perang ini. Makhluk-makhluk gaib juga turut berkumpul, masing-masing dengan kekuatan unik mereka. Banaspati, roh api yang melindungi kerajaan, berdiri di barisan depan dengan tubuhnya yang bercahaya merah menyala. Buto Ijo, penjaga candi yang perkasa, berdiri tegak di sisi lain, siap untuk melindungi tanah kerajaan dari musuh-musuh yang mencoba menyerang. Genderuwo, makhluk bayangan yang biasanya menghindari manusia, kini bergerak di antara pasukan, menggunakan kemampuannya untuk menyusup ke barisan musuh.

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 204: ARYA KERTAJAYA TERLUKA PARAH

    Setelah pasukan bayangan Ki Jagabaya mundur sementara, suasana istana dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Darah dan reruntuhan mengotori halaman istana, saksi bisu dari pertempuran brutal yang baru saja terjadi. Raka berdiri di tengah puing-puing, menatap medan pertempuran dengan rasa marah dan putus asa. Ia merasakan beban tanggung jawab semakin berat, terutama setelah menyadari bahwa pengorbanan mereka belum berakhir. Namun, fokus utama saat ini adalah Arya Kertajaya. Panglima perang yang gagah itu terluka parah saat melindungi Dyah Sulastri dari serangan mendadak pasukan bayangan. Tubuhnya dilarikan ke ruang medis oleh para prajurit, kondisinya kritis. Raka merasakan getaran aneh dari artefak perunggu yang ia simpan di sakunya. Getaran itu begitu kuat hingga ia tidak bisa mengabaikannya. Ia mengeluarkan artefak tersebut, dan saat ia menyentuhnya, pandangannya mulai kabur. Sebuah visi singkat mun

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 203: SERANGAN MENDADAK DI MALAM HARI

    Malam itu, istana Gilingwesi tampak tenang di bawah sinar bulan sabit yang redup. Udara dingin menyelimuti halaman istana, dan hanya suara angin yang berdesir lembut di antara pepohonan yang memecah keheningan. Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak beres—sebuah firasat buruk merayap di benak Raka. Ia berdiri di teras istana, menatap kegelapan malam dengan perasaan waspada. "Aku merasakan sesuatu," gumam Raka pelan kepada Arya Kertajaya, yang berdiri di sampingnya. "Ada yang tidak beres." Arya Kertajaya mengangguk, tangannya erat mencengkeram pedangnya. "Aku juga merasakannya. Tapi kita harus tetap waspada. Jika Ki Jagabaya benar-benar akan menyerang, ia akan melakukannya saat kita lengah." Tiba-tiba, suara gemerisik muncul dari arah hutan. Daun-daun bergoyang tanpa angin, dan bayangan hitam mulai bergerak di tepi cahaya obor. Para prajurit penja

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 202: RITUAL GAIB UNTUK MELINDUNGI KERAJAAN

    Malam semakin larut, dan angin dingin berdesir lembut di sekitar istana. Udara dipenuhi oleh aroma dupa yang menyengat, bunga kenanga yang harum, dan belerang dari api ritual yang menyala-nyala. Di halaman dalam istana, Dyah Sulastri memimpin persiapan untuk ritual gaib yang akan dilakukan untuk memperkuat pertahanan kerajaan. Para pendeta kerajaan berkumpul di sekitarnya, membawa berbagai artefak kuno dan simbol spiritual. Raka berdiri di tepi halaman, mengamati segala sesuatunya dengan perasaan campur aduk. Ia merasakan getaran magis yang kuat di udara—energi yang membuat bulu kuduknya berdiri. Meskipun ia bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal mistis, ia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi malam ini. "Dyah," panggil Raka pelan saat ia mendekati sang putri. "Apa yang akan kau lakukan? Ini terlihat... sangat berbahaya." Dyah S

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 201: PENYIHIR GELAP MENGIRIM ANCAMAN TERAKHIR

    Malam itu, Raka tertidur di kamarnya setelah seharian mempersiapkan strategi pertahanan kerajaan. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh kekhawatiran tentang pertempuran yang akan datang. Namun, tidurnya tidak tenang. Sebuah mimpi mengerikan menghampirinya—mimpi yang lebih nyata daripada yang pernah ia alami sebelumnya. Dalam mimpi itu, Raka berdiri di tengah hutan mistis yang gelap dan dingin. Udara terasa berat, membawa aroma belerang yang menusuk hidungnya. Di depannya, sosok penyihir gelap muncul dari bayangan. Wajahnya tertutup topeng hitam, dan matanya bersinar merah seperti bara api. Suaranya dalam dan penuh ancaman, menggema di udara malam. "Kau pikir kau bisa melindungi kerajaan ini?" kata penyihir gelap dengan nada sinis. "Kau hanya seorang manusia biasa yang tersesat dalam waktu. Kehadiranmu di sini adalah kesalahan besar." Raka mencoba

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 200: RESI AGUNG DARMAJA MUNCUL LAGI

    Malam itu, udara di istana terasa lebih berat daripada biasanya. Angin dingin berdesir lembut, membawa aroma bunga kenanga dan tanah basah yang menguar dari hutan sekitar. Raka sedang duduk sendirian di halaman belakang istana, memandangi api unggun kecil yang menyala di depannya. Pikiran-pikirannya dipenuhi oleh ketegangan yang semakin mendekat—pertempuran besar melawan pasukan bayangan Ki Jagabaya dan penyihir gelap hanya tinggal beberapa hari lagi. Tiba-tiba, langkah kaki pelan terdengar di balik bayang-bayang pohon kenanga. Raka menoleh, dan ia melihat sosok tua yang akrab muncul dari kegelapan. Resi Agung Darmaja, pendeta kerajaan yang selama ini misterius, berjalan perlahan menuju api unggun. Matanya yang tajam seperti menyimpan ribuan rahasia, dan senyum tipisnya terlihat bijaksana namun sulit dibaca. "Resi Agung," kata Raka dengan nada hormat, meskipun ada rasa waspada di dalam hatinya. "Aku ti

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   Bab 199: Dyah Sulastri Menghadapi Ketakutan

    Malam itu, langit di atas Kerajaan Gilingwesi tampak lebih kelam daripada biasanya. Awan tebal menutupi bulan, hanya menyisakan sedikit cahaya yang menerangi halaman istana. Udara dingin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk. Di sudut istana, kolam suci tampak tenang, namun permukaannya memantulkan bayangan-bayangan gelap yang tak terlihat oleh mata biasa.Dyah Sulastri duduk di tepi kolam, matanya tertuju pada air yang diam namun penuh rahasia. Ia merasakan beban besar di pundaknya, seolah-olah seluruh nasib kerajaan ini bergantung pada keputusan-keputusannya. Tangannya gemetar saat ia menyentuh air, mencoba mencari jawaban dari kedalaman kolam yang mistis."Apakah aku benar-benar penyebab kehancuran ini?" gumam Dyah pelan, suaranya ny

  • Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir   BAB 198: ARYA KERTAJAYA MEMIMPIN DIVISI LOYALIS

    Di bawah sinar bulan yang redup, Arya Kertajaya berdiri di tengah halaman istana, diapit oleh barisan prajurit loyalis. Udara malam terasa dingin dan berat, dipenuhi aroma tanah basah dari hutan lebat yang mengelilingi kerajaan. Api unggun menyala terang di sekitar mereka, menciptakan bayangan dramatis di wajah para prajurit yang tegang. Angin dingin berdesir pelan, membawa aroma belerang yang samar namun menusuk. Arya Kertajaya memandang pasukannya dengan ekspresi tegas, namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Ia tahu bahwa pertempuran besar akan segera datang, dan tanggung jawab untuk melindungi Dyah Sulastri serta kerajaan Gilingwesi ada di pundaknya. "Kita tidak punya banyak waktu lagi," katanya lantang, suaranya menggema di udara malam. "Ki Jagabaya dan pasukan bayangannya sudah dekat. Mereka juga bekerja sama dengan makhluk gaib jahat dan pasukan asing. Tapi kita tidak boleh takut.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status