Setelah pertempuran sengit di markas Ki Jagabaya, Raka, Dyah Sulastri, dan Arya Kertajaya memulai perjalanan kembali ke istana. Meskipun mereka berhasil merebut artefak, suasana di antara mereka tetap tegang. Arya, yang masih terluka parah, dipapah oleh dua prajurit setia yang menyusul mereka di tengah jalan. Wajahnya pucat, namun tatapannya tetap tegas—ia bersumpah untuk mendukung Raka sepenuhnya meskipun nyawanya dalam bahaya.Raka sendiri tampak cemas. Ia memegang artefak itu dengan hati-hati, merasakan getaran halus yang menjalar dari benda tersebut ke seluruh tubuhnya. Cahayanya redup, namun energinya terasa hidup, seolah-olah artefak itu memiliki kesadaran tersendiri. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Apakah artefak ini benar-benar bisa menyelamatkan kerajaan? Ataukah ia hanya menjadi alat bagi takdir yang lebih besar?Dyah berjalan di samping Raka, matanya sesekali menatap artefak itu dengan campuran rasa penasaran dan waspada. "Kita h
Di ruang singgasana yang luas dan dingin, Rakai Wisesa duduk sendirian di atas tahtanya. Cahaya lilin yang redup memantulkan bayangan panjang tubuhnya di lantai marmer yang retak. Suara angin malam berdesir pelan melalui celah-celah jendela tinggi, membawa aroma belerang yang menyengat—sebuah tanda bahwa dunia gaib semakin dekat.Matanya tertuju pada artefak yang kini tergeletak di atas meja kecil di samping tahta. Artefak itu masih memancarkan cahaya redup, seolah-olah memiliki nyawa tersendiri. Getaran halus dari benda tersebut membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat, seakan menuntut perhatian penuh.Rakai Wisesa menghela napas panjang, tangannya menutupi wajahnya yang tampak lelah. Pikirannya dipenuhi oleh kegagalan demi kegagalan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. Serangan pasukan bayangan Ki Jagabaya, protes penduduk lokal, hingga pengkhianatan Arya Kertajaya—semua ini adalah beban yang terlalu besar untuk ditanggungnya sendirian."Apa aku benar-benar layak menjad
Setelah keputusan Rakai Wisesa untuk menyerahkan tahta kepada Raka—meskipun ditolak oleh pemuda itu sendiri—suasana di istana semakin tegang. Semua orang menyadari bahwa kerajaan Gilingwesi berada di ambang perubahan besar, dan tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya.Namun, satu hal yang pasti: artefak kuno yang kini berada di tangan Raka adalah pusat dari semua ini. Getaran energinya semakin kuat, seolah-olah benda itu memiliki kehidupan tersendiri dan sedang menuntut sesuatu dari mereka yang memegangnya.Resi Agung Darmaja, yang selama ini tampak bijaksana namun misterius, akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan agenda tersembunyinya. Ia meminta pertemuan tertutup dengan Rakai Wisesa, Raka, Dyah Sulastri, dan beberapa penasihat senior di ruang meditasi spiritual di sayap utara istana. Ruangan itu dipenuhi aroma dupa kemenyan, cahaya lilin yang redup, serta getaran energi gaib yang membuat atmosfernya semakin mencekam.Angin malam berdesir pelan melalui celah-cela
Di tengah malam yang sunyi, suasana di istana Gilingwesi berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa. Udara terasa lebih panas dari biasanya, seolah-olah alam sedang menahan amarah besar. Api-api kecil mulai muncul di sudut-sudut istana, membakar beberapa bangunan penting tanpa sebab yang jelas. Para prajurit dan penduduk istana bergegas keluar untuk memadamkan api, tetapi mereka menyadari bahwa api tersebut tidak bisa dipadamkan dengan air biasa.Rakai Wisesa, Raka, Dyah Sulastri, dan para penasihat berkumpul di halaman utama istana. Semua mata tertuju pada api-api aneh itu, yang tampak seperti nyala gaib yang menyala dengan sendirinya. Mereka semua tahu bahwa ini bukanlah kejadian alami—ini adalah pertanda kemarahan dunia gaib."Banaspati," gumam Resi Agung Darmaja pelan, suaranya penuh ketegangan. "Roh api pelindung kerajaan kita... ia marah."Semua orang terdiam, menyadari gravitasi situasi. Banaspati, roh api yang selama ini melindungi kerajaan dari ancaman luar, kini menunjukkan tan
Setelah kejadian kemarahan Banaspati, suasana di istana Gilingwesi semakin tegang. Api-api gaib telah padam, tetapi bekas-bekasnya masih terlihat di beberapa bangunan penting. Para prajurit dan penduduk lokal mulai mempertanyakan apakah kerajaan ini benar-benar akan bertahan dari badai ancaman yang datang dari dalam maupun luar.Raka, Dyah Sulastri, Rakai Wisesa, dan Resi Agung Darmaja berkumpul di ruang meditasi spiritual di sayap utara istana. Ruangan itu dipenuhi aroma dupa kemenyan, cahaya lilin yang redup, serta getaran energi artefak yang semakin kuat. Semua mata tertuju pada benda kuno itu, yang kini berada di tengah meja kecil, memancarkan cahaya redup namun intens.Angin malam berdesir pelan melalui celah-celah jendela tinggi, membawa aroma belerang yang menyengat—sebuah tanda bahwa dunia gaib semakin dekat. Suara angin itu seperti bisikan halus, seolah-olah roh-roh leluhur sedang mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan. Getaran energi spiritual artefak yang dibawa Raka ju
Setelah kejadian kemarahan Banaspati dan penemuan baru tentang artefak, Raka menyadari bahwa mereka membutuhkan jawaban lebih mendalam untuk memahami kekuatan benda itu. Resi Agung Darmaja menyarankan agar mereka melakukan perjalanan spiritual ke puncak Gunung Suci, tempat para leluhur kerajaan sering bermeditasi untuk mendapatkan petunjuk dari dunia gaib.Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya (yang meskipun masih pulih tetap bersikeras ikut), dan beberapa prajurit setia memutuskan untuk memulai perjalanan ini. Mereka membawa artefak serta perlengkapan minimal, karena perjalanan ini bukan sekadar fisik—melainkan ujian spiritual yang akan menguji keyakinan, ketabahan, dan hubungan mereka dengan dunia gaib.Gunung Suci dikenal sebagai tempat suci yang dijaga oleh makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Genderuwo, dan Naga Niskala. Ada legenda bahwa hanya mereka yang memiliki hati murni dan tujuan mulia yang bisa mencapai puncaknya tanpa terhalang oleh rintangan supranatural.Angin malam be
Setelah mencapai puncak Gunung Suci, tim Raka menemukan altar batu kuno yang dikelilingi oleh api kecil milik Banaspati. Altar itu tampak seperti tempat meditasi, dengan simbol-simbol kuno yang terukir di permukaannya. Udara di sana terasa lebih dingin dan berat, seolah-olah waktu melambat. Suara angin malam membawa aroma belerang yang semakin kuat, menciptakan atmosfer mistis yang mendalam.Resi Agung Darmaja menginstruksikan agar mereka semua duduk dalam lingkaran di sekitar altar. "Kita harus memahami kekuatan artefak ini," katanya dengan suara tegas. "Namun, untuk melakukannya, kita harus membuka pintu ke masa lalu. Hanya dengan memahami sejarah kerajaan ini, kita bisa menemukan jawaban."Raka, Dyah Sulastri, Arya Kertajaya, dan beberapa prajurit setia duduk dalam posisi meditasi, sementara Resi Agung Darmaja mulai melantunkan mantra spiritual. Artefak di tangan Raka mulai berdenyut, cahayanya menyilaukan dan memenuhi seluruh area di sekitar mereka. Getaran energi spiritualnya sema
Setelah penglihatan mendalam tentang masa lalu kerajaan, suasana di puncak Gunung Suci semakin tegang. Raka masih terduduk di dekat altar batu, tubuhnya gemetar karena beban emosional dari apa yang ia lihat. Dyah Sulastri duduk di sampingnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Arya Kertajaya dan para prajurit lainnya berdiri agak jauh, memberikan ruang bagi Raka untuk merenung.Angin malam berdesir pelan melalui pepohonan tinggi, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Suara angin itu seperti bisikan halus, seolah-olah roh-roh leluhur sedang mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan. Getaran energi spiritual artefak yang dibawa Raka juga semakin intens, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam.Resi Agung Darmaja, yang sejak awal tampak tenang, kini melangkah maju dengan langkah perlahan namun penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap Raka, seolah-olah ia telah menunggu momen ini selama bertahun-tahun."Saudara Raka," kata Resi Agung Darmaja dengan suara berat namun lembut, "apa yang
Malam itu, angin dingin berdesir melalui reruntuhan istana Gilingwesi. Raka berdiri di ruang bawah tanah yang gelap, tempat portal waktu kini aktif kembali. Cahaya biru keperakan dari artefak perunggu memancar dengan intensitas yang membuat udara di sekitarnya bergetar seperti gelombang energi kosmik. Ia merasakan tarikan kuat dari portal itu—sebuah panggilan yang sulit diabaikan.Namun, suara lain juga terdengar di kepalanya. Suara-suara halus dari masa lalu dan masa depan bergema bersamaan, membisikkan pilihan-pilihan yang saling bertentangan. "Kembalilah... duniamu menantimu," bisik salah satu suara. "Tetaplah... hanya kau yang bisa menyelamatkannya," balas suara lainnya.Raka menutup matanya erat-erat, mencoba menghalau keraguan yang mulai memenuhi pikirannya. "Apa
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, suasana di istana Gilingwesi mulai mereda. Namun, ketegangan masih menyelimuti udara. Raka berdiri di tepi sungai suci, artefak perunggu di pinggangnya bergetar lemah. Ia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi—sesuatu yang melampaui kemenangan sementara atas pasukan asing dan penyihir gelap.Saat ia memandangi artefak itu, cahaya biru keperakan tiba-tiba memancar dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Getarannya semakin kuat, hingga nyaris terlepas dari genggamannya. Suara gemuruh rendah bergema di udara, seperti desiran energi kosmik yang membangunkan seluruh istana."Raka!" seru sebuah suara di belakangnya. Arya Kertajaya berlari mendekat, wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran. "Apa yang terjadi? Apakah itu cerminmu?"
Setelah pertempuran besar yang menghancurkan, pasukan asing akhirnya mundur. Penyihir gelap telah dikalahkan oleh kekuatan spiritual Raka, dan pasukan loyalis berhasil menekan sisa-sisa pasukan bayangan Ki Jagabaya. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa harga mahal. Kerajaan Gilingwesi terlihat seperti reruntuhan—istana utama hancur sebagian, desa-desa di sekitarnya luluh lantak, dan banyak korban jiwa berjatuhan.Angin dingin berembus di medan perang, membawa aroma darah dan abu yang masih menyelimuti udara. Asap tebal mengepul dari bangunan-bangunan yang terbakar, menciptakan suasana kelabu yang suram. Prajurit loyalis berkumpul di lapangan istana, wajah mereka lelah namun penuh rasa syukur atas kemenangan yang diraih dengan susah payah.Namun, bagi Raka, kemenangan ini terasa kosong. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan prajurit, tetapi pikirannya jauh dari perayaan. Matanya tertuju pada reruntu
Pertempuran besar di luar istana mulai mereda setelah kekalahan penyihir gelap. Pasukan loyalis berhasil menekan pasukan bayangan Ki Jagabaya, yang kini tercerai-berai tanpa pemimpin mereka yang menghilang bersama penyihir gelap. Namun, Arya Kertajaya tidak puas dengan hasil ini. Ia tahu bahwa Ki Jagabaya adalah otak di balik serangan mematikan terhadap kerajaan, dan ia bertekad untuk menangkap pria itu sebelum ia melarikan diri. Di tengah kekacauan medan perang, Arya Kertajaya memimpin pasukan kecil menuju lokasi rahasia di hutan lebat tempat Ki Jagabaya diketahui bersembunyi. Ia telah mendengar desas-desus dari beberapa prajurit bayangan yang tertangkap bahwa Ki Jagabaya sedang mempersiapkan langkah selanjutnya—rencana yang lebih berbahaya daripada serangan pertama. Setelah berjam-jam mencari, Arya Kertajaya dan pasukannya akhirnya menemukan Ki Jagabaya di sebuah gua tersembunyi di tepi sungai suci.
Setelah Dyah Sulastri jatuh ke dalam koma, medan perang terasa semakin sunyi bagi Raka. Tubuhnya masih gemetar karena kelelahan dan emosi yang memuncak. Ia berlutut di tanah, memegang tubuh tak berdaya sang putri dengan erat, air mata mengalir deras di pipinya."Kenapa harus seperti ini?" gumamnya pelan, suaranya penuh rasa bersalah dan kemarahan. "Kenapa aku tidak bisa melindungimu?"Pasukan loyalis mencoba mendekat untuk membawa Dyah Sulastri ke tempat aman, tetapi Raka menolak mereka dengan gerakan tangan yang tegas. Matanya kosong, namun di dalam dirinya, api kemarahan mulai menyala. Ia merasakan sesuatu yang baru—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Angin dingin berdesir, membawa aroma belerang yang semakin kuat. Penyihir gelap muncul kembali, tertawa dingin di tengah kabut hitam yang menyelimuti medan perang. "Lihatlah dirimu, Raka," ejeknya. "Kau
Pertempuran besar di luar istana mencapai puncaknya. Suara senjata yang beradu, teriakan prajurit, dan raungan makhluk gaib menggema di udara malam. Api melahap beberapa sudut benteng, sementara asap hitam membumbung tinggi ke langit, menyelimuti medan perang dalam kabut pekat. Pasukan bayangan Ki Jagabaya dan sekutunya dari dunia gaib terus menyerang tanpa henti, memanfaatkan setiap celah dalam pertahanan kerajaan.Di tengah medan perang yang kacau, Raka berdiri di garis depan, menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Meskipun ia berhasil menahan serangan-serangan awal, kekuatannya mulai terasa melemah. Ia merasakan energinya terkuras habis dengan cepat, membuat tubuhnya semakin goyah.Penyihir gelap muncul di tengah medan perang, dikelilingi oleh kabut hitam yang pekat. Matanya bersinar seperti bara ap
Medan perang yang sudah penuh dengan kekacauan semakin memanas saat penyihir gelap muncul di tengah-tengah pertempuran. Tubuhnya dikelilingi oleh energi hitam pekat yang mengintimidasi, dan matanya berkilat merah seperti bara api. Ia melangkah maju dengan gerakan anggun namun menakutkan, seolah-olah seluruh dunia ada dalam kendalinya."Kalian semua telah bermain cukup lama," katanya dengan suara dingin yang menusuk. "Sekarang, saatnya kalian membayar harga atas perlawanan kalian."Penyihir itu mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi hitam besar di udara. Pusaran itu mulai melepaskan serangan sihir yang menghantam barisan pasukan loyalis, menyebabkan banyak prajurit terpental dan jatuh tak bernyawa. Para makhluk gaib yang setia kepada kerajaan pun terlihat kesulitan menghadapi kekuatan gelap ini.
Langit di atas medan perang mulai menghitam, tertutup awan tebal yang menandakan kemarahan alam. Angin dingin berhembus kencang, membawa aroma darah dan belerang yang menebal seiring dengan intensitas pertempuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya terus melancarkan serangan brutal, sementara makhluk gaib dari kedua pihak saling bertarung tanpa ampun.Di tengah kekacauan, Raka masih mencoba mengatur napasnya setelah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk melindungi pasukan loyalis. Namun, energinya hampir habis, dan ia merasa dirinya tidak lagi mampu melawan jika serangan baru datang. Dyah Sulastri berdiri di sampingnya, mata hijaunya penuh dengan kekhawatiran."Kau harus istirahat," bisik Dyah pelan. "Kekuatanmu sudah mencapai batasnya."Raka menggeleng lemah. "Aku tidak bisa berhenti sekarang. Jika aku berhenti, kita semua akan mati."Sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, sebuah suara raungan keras memenuhi udara. Sebuah Genderuwo raksasa muncul dari
Pertempuran di luar istana telah berubah menjadi badai kehancuran. Pasukan bayangan Ki Jagabaya yang dipersenjatai dengan senjata mistis dan sihir hitam terus menggempur pertahanan kerajaan. Makhluk-makhluk gaib seperti Banaspati, Buto Ijo, dan Genderuwo juga turut berperang, masing-masing memilih pihak mereka. Di tengah kekacauan itu, Raka berdiri di garis depan, masih mencoba memahami situasi yang semakin tak terkendali. Angin malam membawa aroma belerang yang menusuk, sementara cahaya bulan redup tertutup awan kelabu. Suara gema tombak dan pedang bergesekan dengan energi spiritual memenuhi udara. Raka merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam beberapa hari terakhir, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya. Sejak ritual gaib yang dipimpin Dyah Sulastri di bab sebelumnya, ia merasakan aliran energi aneh di dalam dirinya—seperti gelombang panas yang melingkupi seluruh tubuhnya. Awalnya, ia mengabaikannya sebagai efek sam