Ryu dan Arum otomatis menoleh Rara, merasa heran. Sementara, Rara yang sudah terlanjur bicara sembarangan hanya bisa meringis, memutar otak untuk segera melontarkan revisi ucapannya. Entah mengapa ia merasa tidak rela jika Ryu terlibat akrab dengan Arum. Apa ini kecemburuan? "Maksud saya, kalau memang berhubungan dengan pekerjaan, saya bantu siapkan Pak, saya kan asisten Pak Ryu. Nggak mungkin kan saya enak-enakan makan sementara Pak Ryu ngurus kerjaan," ucap Rara meralat kata-katanya. "Nggak perlu," jawab Ryu. "Saya mau ngobrol berdua aja sama Bu Arum, ini soal pribadi, bukan kerjaan," ujarnya ketus. "Ah iya," wajah Rara tampak pias. "Silakan," ujarnya dalam suara yang sedikit bergetar, lantas melirik Arum curiga. "Ke kantin sambil ngambil es kopi saya," kata Ryu mempersilakan Arum berjalan lebih dulu, meninggalkan Rara yang terdiam kikuk.
"Kita nginep di sini lagi?" Rara menghela napas panjang. "Sengaja," ucap Ryu langsung turun dari kursi kemudinya dan menenteng tas ransel miliknya menuju lobi hotel. "Biar ibu tiri saya gampang nyarinya?" tembak Rara. "Biar temen kamu makin panas kalau tau kamu nginep di sini lagi sama saya." "Kalau mau bikin dia panas, kenapa pesen dua kamar Pak? Nggak sekalian sekamar?" sindir Rara. "Ide bagus," sambar Ryu menyeringai. "Ish! Pak Ryu kenapa sih!" Ryu menoleh, "Emang saya kenapa?" "Saya udah keliatan cantik ya di mata Bapak?" Rara melebarkan senyumnya, sengaja terlihat memesona di mata Ryu. "Kamu serius pengin kita sekamar? Saya bisa urus pembatalan kamar kamu." "Ck," terdengar Rara berdecak. "Ck? Macam cicak," dengus Ryu. "Abis Bapak ih, gemes saya nih!" desis Rara, "jangan bilang nanti Pak Ryu minta Ayah
"Silakan masuk," Ryu membuka pintu kamarnya iseng, tak memedulikan pertanyaan Rara. Tangannya terulur mempersilakan. "Kok?" kedua alis Rara bertaut. "Katanya kamu mau sekamar sama saya?" "Ih, Bapak! Kan bercanda!" keluh Rara panik. "Nanti ibu tiri saya makin menjadi kalau liat kita sekamar," tukasnya. "Saya yang akan jawab kalau itu ibu tiri kamu. Tapi kalau Pak Darwis, saya masih sangat menghormati beliau," ucap Ryu. "Masih? Pak Ryu kayak udah kenal lama sama ayah saya." "Hah?" Ryu tergagap, kelepasan bicara. "Saya capek, mau rebahan!" katanya lalu kabur masuk ke dalam kamar tanpa penjelasan, menutup pintunya cepat-cepat. "Pak!" panggil Rara mengetuk pintu kamar Ryu. "Bapak, buka dulu!" pintanya. "Apalagi?" Ryu muncul di depan pintunya. "Saya tau soal ayah kamu dari Pak Rain!" terangnya asal mencari alasan. "Bukan itu ih Bapak ni! Cardlo
"Kami nggak perlu persetujuan Bu Endah untuk menikah. Dan persoalan jujuran, biar Azura sendiri yang menentukan," tegas Ryu menatap Darwis dan Endah bergantian. "Saya ibunya, kami wali resminya. Ayahnya yang membesarkan Rara sampai bisa seperti sekarang, wajar kalau kami yang berhak menentukan besaran nominal jujuran-nya!" ucap Bu Endah berapi-api. "Ndah," Pak Darwis menengahi, "biar Rara yang urus masalah jujuran, kita tinggal kasih restu," ungkapnya bijak. Seringai Ryu muncul setelah mendengar ucapan Pak Darwis. Puas sekali ia bisa membuat ibu tiri Rara itu bungkam dan tak bisa membantah. Setelah pertemuan dadakan tadi di hotel yang hanya diketahui oleh Ryu dan Bu Endah saja, mereka bertemu kembali di rumah keluarga Rara, keluarga tiri tepatnya. "Ngomong ikam Ra! Jangan hanya diam, ini kamu yang mau menikah, minta yang jelas berapa kamu mau dikasih jujuran!" sergah Bu Endah berapi.
"Ayah dan Ibuk nggak perlu repot sama persiapan pernikahanku. Urusin aja persiapan pernikahan David, bukannya dia juga perlu nyiapin uang jujuran buat calon istrinya?" cibir Rara seraya mengusap air matanya. "Obrolan ini udah selesai kan Yah? Aku udah sebutin jujuran yang kuminta," tutupnya. "Saya nggak keberatan dengan nominalnya," sambar Ryu. "Sudah selesai ya Pak?" tanyanya meminta ijin. Pak Darwis tampak berat untuk mengangguk, bingung bagaimana harus bersikap. Di sebelahnya Bu Endah hanya diam, pundaknya saja yang naik-turun tak teratur, masih terlihat emosi dari matanya yang membulat. "Saya tidak bisa berhutang budi terlalu banyak, Pak Ryu, dan saya tidak mau orang-orang menilai jika Rara memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memeras keluarga Pak Ryu seandainya berita mengenai jujuran ini sampai terdengar," ucap Pak Darwis lemah. "Ini bukan hutang budi Pak, ini murni apresiasi saya pada Rara, jangan dipikirkan," kata Ryu bijak. "Pak Darwis sudah sangat mengenal keluarga
"Soal nominal jujuran tadi, saya nggak serius, Pak," ungkap Rara akhirnya angkat bicara. "Kita bahas itu sambil makan, saya laper soalnya tadi kamu nolak pas disuruh makan sama Pak Darwis," sindir Ryu setengah menggoda. Rara ingin segera mendebat, tapi Ryu sudah lebih dulu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam salah satu rumah makan padang andalannya. Benar, Ryu memang terkesan galak dan kejam, tapi ia sangat detail. Terbukti, bukannya mencari tempat makan yang sesuai seleranya, ia justru membawa Rara ke rumah makan padang favorit perempuan berusia 25 tahun itu. "Pak, soal jujuran itu, saya nggak serius. Saya nggak akan menyebutkan nominal. Tadi itu saya cuma spontan karena saya nggak tahan sama sikap ibu tiri saya," ungkap Rara setelah mengambil makanannya dan duduk menghadapi Ryu. "Makan dulu," ucap Ryu singkat. "Pak," Rara tidak
"Kamu yakin nggak mau pake wedding dress ala-ala princess?" tanya Ryu meyakinkan Rara. Setelah kejadian tidak mengenakkan sore hari tadi, malam harinya Ryu mengajak Rara untuk bertemu dengan vendor gaun pernikahan. Rara justru memilih satu set kebaya simpel berwarna broken white dipadu kain batik kalimantan yang nantinya akan dijahit sesuai ukuran tubuh Rara. "Saya nggak mau terlihat memanfaatkan kesempatan banget Pak." "Kenapa? Kesempatan itu terbuka lebar buat kamu, manfaatkan!" ujar Ryu. Rara menggeleng, "Keluarga Pak Rain dan Bu Mika sudah terlalu baik sama saya. Ngasih saya kerjaan, bantuin ayah saya pensiun dengan nyaman, sekarang ngasih anak sulungnya pula buat nikah sama saya. Saya nggak bisa nerima banyak kebaikan lagi. Pak, Pak Ryu yakin bisa punya perasaan ke saya nantinya kalau kita nikah? Ya saya tau saya ini cantik, tapi lebih cantik cewek-cewek di kota sana," katanya meracau gemas. "
Ucapan Ryu yang terdengar sedikit mencibirnya itu membuat Rara memanyunkan bibirnya. Namun, gadis ini tidak berucap apapun, ia memilih untuk mengalah. Ditatapnya Ryu dari pantulan cermin di depan sana. Ryu memiliki semua yang diidamkan perempuan, wajah tampan, harta, tahta, juga kehidupan yang sempurna. Menjadi pendamping Ryu dan berperan sebagai seorang istri dari lelaki seluar biasa itu tentu bagaikan mimpi bagi Rara. Mimpi yang sebentar lagi akan berubah menjadi kenyataan. Beranikah ia menumbuhkan perasaan? Mungkinkah ikatan pernikahan itu akan bertahan lama jika semua dilakukan atas dasar ego dan rasa kasihan? "Abang mau dibikinin jas aja untuk temen kebaya hitamnya?" tawar Nurma sebelum menyelesaikan ritual pengukurannya. "Ikut Tante gimana bagusnya. Yang penting harus mencolok dan jadi pusat perhatian. Terutama dia!" ucap Ryu mengedikkan dagunya ke arah Rara yang melamun. "Oke, sebentar kita urus tanda jadinya ya," ujar N
"Ayah ke mana?" tanya Rara tersadar. "Pak Darwis di Sampit, kamu lupa Ayah udah nikah lagi?" tanya Ryu balik, pelan-pelan menuntun ingatan Rara. Rara terpana, untuk beberapa saat ia terdiam sambil menutup mata. Tidak ada yang bisa ia ingat dari lelaki di depannya ini, tapi kenapa memori tentang ayahnya yang menikah lagi juga tidak ia temui? Meninggalnya sang bunda menjadi luka yang tak bisa Rara lupakan, dan kehadiran Bu Endah adalah luka lain baginya tapi masih bisa ia atasi. "Ayah nikah sama perempuan yang udah ngasih aku minuman aneh itu kan?" gumam Rara, tatapannya tampak kosong sekarang. "Kamu inget itu?" "Aku nggak bakalan lupa. Mas, kenapa dia beginiin aku? Kenapa dia jahat?" Ryu menghela napas sabar, ia raih jemari Rara dan digenggamnya jemari istrinya itu. "Aku boleh cerita?" tanya Ryu meminta ijin. "Boleh," jawab Rara lagi-lagi mengangguk. "Namanya Bu Endah, dulu satu SMA sama ayah kamu, mantan pacar lebih tepatnya," mulai Ryu hati-hati. Ia menghela napas sebentar,
Tiga hari lamanya, Ryu berperan sebagai orang asing untuk Rara. Praktis, selama 3 hari itu pula, Rara tidak bisa bekerja hingga Ryu terpaksa memberi istrinya cuti tahunan. Ryu juga meminta HRD untuk menugaskan Elok, personal assistant manajer operasional untuk menggantikan posisi Rara sementara. Kabar cepat merebak tapi Ryu tidak menganggapnya dan memilih fokus pada proses penyembuhan Rara. "Sudah makan, sudah mandi dan sepertinya, Mbak Rara suasana hatinya baik sekali hari ini, Pak," lapor Susi saat Ryu pulang dari GMO menjelang senja. "Dia nggak ngaco lagi kan Mbak ngomongnya?" tanya Ryu sambil melepas jasnya, ia langsung menuju ke kamar, melihat keadaan sang istri. "Enggak Pak, seperti kemarin, Mbak Rara udah nggak bilang mau mati lagi," jawab Susi. "Oke Mbak, biar saya yang temenin Rara. Mbak bisa bersih-bersih, kalau Mbak pengin mandi dan makan," ujar Ryu. Susi mengangguk, ia segera ke dapur meletakkan bekas piring yang tadi ia gunakan untuk membawakan Rara camilan, lal
"Mbak Rara sudah saya lap tubuhnya Pak, sudah tiduran dan sudah tidak menangis," lapor Susi sekembalinya Ryu dari pinggir danau. "Oke, makasih Mbak," jawab Ryu lega. "Saya masakin untuk makan malam ya Pak, seadanya bahan," ucap Susi lagi, meminta ijin. "Tadi saya minta Jaka belikan makanan untuk siang ini Mbak, sebelum masak, tolong suapin Rara dulu," pinta Ryu. "Oh, iya Pak, siap," Susi segera berbalik menuju dapur. Ryu mengekor Susi yang masuk ke kamarnya untuk menyuapi Rara. Ia sengaja menjaga jarak agar Rara tidak histeris melihatnya. Wajah Rara sudah lebih cerah, Susi sudah merapikan rambut dan mengganti pakaiannya. "Mbak Rara, makan dulu ya," bujuk Susi ceria. Rara spontan menggeleng, "Mau mati aja," katanya. "Heh, mau apapun itu, harus makan dulu, Mbak Susi bantu ya," kata Susi tak menyerah. Sorot mata Rara yang tadinya kosong menatap keluar jendela, akhirnya berpindah menatap pada Susi. Air matanya mengalir, tapi ia tidak meracau, hanya bibirnya saja yang bergetar me
"Kenapa kamu pengin mati?" Luna, dokter jiwa yang sejak bertahun-tahun lalu menangani Rara akhirnya didatangkan Ryu ke kebun. Mengingat kondisi Rara yang tidak mungkin untuk dibawa perjalanan jauh ke Sampit, Ryu meminta Jaka untuk menjemput Luna. Rara masih mengisolasi diri dan tak mau didekati lelaki, ia melempar apapun yang bisa dijangkaunya untuk menghalau Ryu saat berusaha mendekat. Baru ketika Luna datang, Rara menjadi lebih tenang. "Mau mati," jawab Rara lirih, pandangannya kosong, penampilannya sangat berantakan. "Kamu takut hidup sendiri ya?" tebak Luna berusaha untuk bertanya dengan santai. "Aku nggak mau hamil, nggak mau hidup, nggak mau semuanya," ucap Rara. "Tapi ada yang pengin kamu tetep hidup dan ada di sisinya," Luna menghela napas panjang. "Coba kamu inget Ra, ada seseorang yang sangat bisa kamu andalkan, sangat mencintai kamu. Ada nggak di ingatanmu tentang orang itu?" pancingnya. "Nggak! Dia nggak boleh tau! Dia nggak boleh liat aku begini. Aku kotor, menjiji
"Bundaaa," rintih Rara tak berdaya. Saat ia membuka mata, tubuhnya diseret begitu saja melewati semak, meski tak kuat, ia masih memiliki keinginan untuk melawan. "Pukul aja kepalanya!" perintah sebuah suara lain yang baru saja datang. Perlahan Rara mencoba membuka matanya, seragamnya sudah compang-camping sobek, roknya susah tersingkap. Saat itulah ia juga sadar bahwa ada 5 orang lelaki di sekitarnya, mengerubunginya. Satu orang sudah berlutut di depan Rara, siap menindih Rara yang setengah sadar. Air mata Rara mengalir, suaranya sudah tenggelam dalam rasa nelangsa yang tanpa akhir. Pening di kepalanya semakin terasa saat ia mendengar tawa dan obrolan vulgar orang-orang yang merudapaksanya. Tak ada lagi kekuatan Rara untuk sekadar membuka mata, tubuhnya digerayangi pun Rara seperti mati rasa. Kepalanya lalu dihantam sebuah benda keras, kesadaran Rara menghilang. *** "Bunda!" seru Rara seketika bangun dari posisi tidurnya dengan mata nyalang ketakutan. "Azura," panggil Ryu
"Kenapa motornya, Dek?" Jepi, buruh panen lepas berbadan kurus kecil tapi bertato ini mendekat ke arah Rara yang tengah mengamati motor mogoknya. "Kayaknya habis bensin, Om," jawab Rara tanpa rasa curiga. "Lhoh? Emang mau ke mana?" Randu, si tambun dengan kumis tipis dan menenteng 'dodos' di tangannya ikut keluar dari sawitan, menghampiri Rara. "Mau ambil paketan ke GMO, Om," balas Rara ramah. "Lha kok sendirian, nggak takut? Rumahnya mana?" tanya Jepi lagi, pura-pura ikut mengamati motor yang dibawa Rara. "Rumahnya di Borneo Capital Om," gumam Rara. "Oh, iya, habis ini bensinnya. Kami ada bawa tapi motornya di blok I, mau dipake?" tawar Randu. "Boleh kah ulun pake, Om?" tanya Rara mengakrabkan diri. "Boleh, tapi kamu ambil sendiri ke sana ya, kami mau panen sawit lagi ini," ucap Jepi. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Rara mengangguk setuju. Kondisi di tengah hutan sawit, masih setengah jalan sampai ke tujuan, bantuan dari Jepi dan Randu adalah keajaiban yang tidak
Rara menggigit bibir bawahnya sensual saat Ryu menegakkan tubuh untuk melepas kemejanya. Tubuh Ryu selalu menarik, apalagi hiasan tato nama Rara yang terpatri di dadanya itu, sungguh lambang kesetiaan yang tiada duanya."Tato ini, namaku kan Mas?" tanya Rara meraba dada Ryu hati-hati. "Emang ada lagi perempuan bernama Lembayung selain kamu? Nama itu khas dan langka, jelas itu nama kamu. Mau kubikin pake nama lengkap kepanjangan, sakit," ujar Ryu setengah bercanda. Dikecupinya leher Rara lembut, mengembus napas hangatnya. "Ih, gitu deh," Rara mencembikkan bibirnya. Tak menanggapi sang istri, Ryu bergerak lagi. Ia loloskan t-shirt yang Rara kenakan hingga menampilkan bra warna abunya yang penuh. Kecupannya di leher Rara perlahan semakin turun, tulang selangka, kemudian menghirup aroma manis tubuh istrinya dalam-dalam. Baru setelahnya, tangan Ryu terampil melepas kaitan bra hingga Rara spontan menopang lenga
"Nggak pa-pa nih kita di sini?" gumam Rara menerima uluran tangan suaminya dan naik ke atas dermaga. "Ya nggak pa-pa," Ryu tersenyum. "Aku udah sengaja bawa kuncinya. Kutitip kunci mobil ke Mas Aldi biar dikasih Jaka. Ikan yang tadi kita beli biar Jaka yang bawa sekalian anter mobil ke rumah. Nanti kita jalan kaki aja ke rumah, nggak pa-pa?" gumamya seraya membuka pintu samping guest house milik perusahaan di pinggir danau itu. "Iya, iya. Kalau lewat darat, jalan kaki aja dari sini ke rumah juga deket ya Mas," gumam Rara mengitarkan pandangan. "Jadi kerasa jauh karena tadi kita naik klotok dari Kampung dan turun di dermaga," ujarnya takjub. Isi di dalam guest house selalu rapi dan bersih karena memang dirawat seminggu dua kali oleh divisi perawatan khusus. Ada dua ranjang besar di kamar yang berbeda, lengkap dengan dapur dan ruang tamu, hanya ukurannya memang lebih kecil ketimbang rumah dinas yang Ryu tempati. Di kamar mandi pun dilengkapi dengan handuk bersih dan peralatan mand
"Di mana ada banyak orang pasang perangkap, Mas?" tanya Ryu. "Nanti kalau kita keluar di hilir sungai ketemu sama danau, banyak yang pasang Pak," ucap Aldi informatif. "Nggak sabar," ujar Rara senang. "Dulu pas jaman aku kecil, Ayah sering ngajak aku pasang lukah di belakang rumah, Mas. Enaknya kalau mancing ikan taja yang kecil-kecil kayak teri gitu, pake minyak jelantah nanti mereka udah ngumpul sendiri, tinggal dijaring," ceritanya penuh semangat. "Kangen ya sama Ayah?" tanya Ryu maklum. Rara menggeleng, "Kenangannya. Beruntung kenangan itu nggak ikut kulupain," desisnya. "Sekarang kuajak cari ikan juga ini," kata Ryu. "Bentar lagi kita sampe muara," ujarnya menunjuk papan rambu warna biru yang memang dipasang sebagai panduan lalu lintas air di danau dan sungai. "Ibu mau mancing? Saya ada bawa joran, umpannya bisa pakai tempe," tawar Aldi. Mata Rara yang tengah bertatapan dengan suaminya itu berbinar indah. Ia spontan berdiri menghampiri Aldi, menerima joran dari sang