Alya menatap nenek Aiko dengan tatapan yang sulit diartikan. Jantungnya berdegup kencang, seakan kata-kata neneknya tadi menyentak bagian terdalam dari jiwanya.
Suasana di dalam ruang rawat terasa sunyi. Hanya suara detak mesin medis yang menemani keheningan di antara mereka. Cahaya matahari dari jendela yang terbuka sedikit menerangi wajah lelah sang nenek yang kini tampak linglung.
"Nenek... aku bukan bunda Clarissa," ujar Alya dengan suara pelan, mencoba menenangkan sang nenek yang masih tampak kebingungan. "Aku Alya, Nek. Anak bunda."
Namun, Nenek Aiko masih menatap Alya dengan ekspresi penuh kerinduan. Matanya yang sayu sedikit berkaca-kaca, seolah menelusuri wajah cucunya yang baginya begitu familiar.
"Tapi... kau terlihat begitu mirip dengannya... persis seperti Clarissa muda... kamu cantik," bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Kakek Bakhtiar yang berdiri di sisi ranjang menarik napas panjang. Ia mengusap pundak Alya, memberikan i
Alya menatap kakek Bakhtiar dengan wajah penuh kebingungan. Kata-kata itu menggema di kepalanya."Dia pergi... untuk melindungi kamu, Alya."Jantungnya berdetak lebih cepat. Ruang tunggu rumah sakit yang awalnya terasa sejuk kini seakan mencekiknya."Melindungi aku? Dari apa, Kek?" Suaranya bergetar.Kakek Bakhtiar menarik napas panjang. "Alya, ada banyak hal yang belum kamu ketahui. Kepergian ibumu bukan sekadar karena cinta pada ayahmu, tapi karena ada ancaman nyata yang bisa membahayakanmu."Raditya yang duduk di samping Alya langsung menggenggam tangannya erat. "Ancaman apa? Siapa yang mengancamnya?"Kakek Bakhtiar menunduk sesaat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk berbicara. "Saat ibumu jatuh cinta pada Satria, banyak yang menentang. Bukan hanya dari keluarga kami, tetapi juga dari pihak lain. Ada seseorang yang tidak menginginkan pernikahan mereka terjadi."Alya mengernyit. "Siapa?""Seseorang yang sangat berpenga
Alya merasa tubuhnya melemas, sementara pikirannya berputar liar. Nama Haruto Takahashi kini terasa begitu menakutkan di telinganya. Raditya, yang duduk di sampingnya, merasakan kegelisahan Alya dan segera menggenggam tangannya lebih erat."Kakek, apa maksudnya Haruto datang ke Jepang? Apakah dia tahu kami di sini?" tanya Raditya dengan nada tajam.Kakek Bakhtiar menghela napas panjang. "Aku belum bisa memastikan, tapi melihat pergerakan mereka selama ini, aku rasa kedatangannya bukan kebetulan."Alya menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak. "Lalu... apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita harus pergi dari sini?"Kakek Bakhtiar menggeleng. "Tidak. Jika kalian pergi, itu justru akan membuat mereka semakin curiga. Kita harus tetap di sini, namun dengan pengamanan yang lebih ketat."Raditya menatap Alya, lalu kembali ke kakek Bakhtiar. "Aku akan menjaga Alya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya."Ka
Raditya menggenggam tangan Alya lebih erat, matanya menyiratkan kewaspadaan. "Kita harus pergi sekarang. Jika Haruto Takahashi benar-benar ada di sini, itu berarti dia sedang mencari sesuatu. Atau seseorang." Alya menelan ludah, rasa takut mulai menjalari tubuhnya. "Tapi, kenapa sekarang? Setelah sekian lama, kenapa dia baru muncul?" Kakek Bakhtiar menghela napas dalam. "Itu yang harus kita cari tahu. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak datang tanpa alasan. Kita harus memastikan kalian tetap aman." Raditya menatap kakeknya dengan serius. "Ke mana kita akan pergi?" "Aku punya tempat yang lebih aman. Sebuah vila di daerah pegunungan. Tidak banyak orang yang tahu keberadaannya, dan kita bisa mengawasi situasi dari sana," jelas Kakek Bakhtiar. Alya menggigit bibirnya, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. "Tapi, bagaimana dengan nenek? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Kakek Bakhtiar tersenyum tipis. "Jangan khawatir, Nak. Aku sudah memastikan nenekmu mendapat pe
Raditya berdiri tegap di depan Alya, tubuhnya menegang. Matanya menatap tajam pria yang berdiri di ujung gang sempit itu."Haruto Takahashi," Raditya mengulangi nama itu dengan nada dingin. "Apa maumu?"Haruto melangkah pelan, tangannya diselipkan ke dalam saku jas hitamnya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tapi sorot matanya tajam dan penuh perhitungan."Aku tidak mengincarmu, Raditya Wijaya," ucapnya santai. "Aku datang untuk berbicara dengan Alya Elvaretta."Alya, yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuh Raditya, menegang mendengar namanya disebut. Ia menggenggam lengan Raditya erat, jantungnya berdetak kencang."Kenapa aku?" tanyanya dengan suara bergetar.Haruto menyeringai kecil. "Karena kau adalah kunci dari sesuatu yang sangat berharga bagi kami."Kakek Bakhtiar, yang sejak tadi mengamati, maju selangkah. Matanya menyipit penuh kewaspadaan. "Kau tidak akan menyentuh cucuku."Haruto menatap kakek Bakhtiar sebentar sebelu
Suasana di dalam vila tiba-tiba menjadi sunyi, hanya ada suara napas mereka yang tertahan. Alya menggenggam tangan Raditya lebih erat, merasakan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat.“Kakek, apa mungkin ini ulah Haruto?” tanya Alya dengan suara bergetar.Kakek Bakhtiar tidak langsung menjawab, matanya menatap tajam ke arah jendela yang hanya diterangi oleh cahaya redup dari luar. “Mungkin saja. Tapi kita tidak boleh mengambil kesimpulan sebelum tahu pasti.”Raditya segera berdiri, tubuhnya menegang. “Aku akan periksa keluar.”Alya langsung menarik lengannya. “Tidak! Itu terlalu berbahaya, Radit.”Raditya berusaha menenangkan Alya dengan mengelus lembut tangannya. “Aku harus memastikan keadaan. Tenang saja, aku tidak akan bertindak gegabah.”Sebelum Raditya bisa melangkah, terdengar suara ketukan di pintu, pelan namun berirama. Semua orang langsung terdiam, tubuh mereka me
Raditya segera menarik Alya ke dalam pelukannya, melindunginya dari kemungkinan serangan. Kakek Bakhtiar berdiri dengan waspada, matanya tajam menyelidiki sekitar. Suara langkah kaki semakin mendekat, terdengar lebih dari satu orang."Radit… siapa itu?" bisik Alya, suaranya gemetar."Aku tidak tahu," jawab Raditya pelan, menajamkan pendengarannya.Pintu depan diketuk tiga kali, suara berat terdengar dari luar. "Pak Bakhtiar, ini saya, Hiroshi. Kami dari keamanan vila."Kakek Bakhtiar mengerutkan kening, lalu mengisyaratkan Raditya untuk tetap waspada. Dengan hati-hati, dia melangkah ke arah pintu dan membuka sedikit.Di luar, seorang pria paruh baya dengan jas hitam berdiri bersama dua orang lainnya. "Kami mendapat laporan ada aktivitas mencurigakan di sekitar vila ini. Apakah Anda semua baik-baik saja?" tanya Hiroshi.Kakek Bakhtiar menghela napas lega, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuklah, Hiroshi. Aku pikir tadi ancaman baru d
Suasana sangat tenang disini, hanya ada suara hewan-hewan kecil yang bertenger di pepohonan. Alya dan Raditya memasak bersama di dapur yang berada di rumah kayu tersebut. Kini kebersamaan yang hangat mereka rasakan kembali. Usai memasak mereka mengajak Kakek Bakhtiar makan bersama, ini adalah kali pertama bagi sang kakek menikmati masakan cucunya.Di rumah itu sebenarnya ada orang bagian masak sendiri, namun karena Alya yang mengambil alih tugasnya, ia pun tak berani ikut memasak. Di rumah itu juga ada beberapa penjaga yang siaga menjaga kawasan ini. Semua itu Kakek Bakhtiar lakukan untuk menjaga Alya dari Haruto.Beberapa saat kemudian, setelah suasana damai kegentingan pun mulai terasa.Raditya segera menarik Alya ke belakangnya saat suara langkah kaki semakin dekat. Cahaya bulan yang redup dari jendela hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menciptakan bayangan panjang yang menambah ketegangan di udara."Kakek, ada senjata di sini?" tanya Raditya deng
Rei menekan Haruto, akhirnya Haruto bisa dilumpuhkan dengan kerja sama Rei dan Raditya. Rei menodongkan pistol ke depan kepala Haruto, sementara Raditya mendekat ke arah Haruto dan menjegal kakinya. Seketika, Haruto terjatuh dengan keras ke lantai."Brak!"Tanpa memberi kesempatan, mereka segera mengikat Haruto di sebuah kursi. Wajahnya sudah lebam akibat beberapa pukulan yang sebelumnya dilayangkan oleh Raditya dan Rei."Plak! Duk!"Haruto mengerang pelan, darah mengalir dari sudut bibirnya. Raditya menatapnya tajam, napasnya memburu akibat amarah yang membara."Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Alya? Hah!!" bentak Raditya, suaranya menggema di ruangan itu."Asal kau tahu, Alya adalah istriku! Wanitaku! aku tak akan membiarkan orang lain menyakitinya," lanjut Raditya, ia berdiri didepan Haruto, sementara satu kakinya bertumpu pada kursi yang diduduki Haruto.Haruto mendengus pelan, lalu tertawa kecil meski wajahnya penuh luka. "Alya istrimu?" tanyanya dengan suara lemah namun tet
“Akhirnya sampai juga.”Alya melangkah keluar dari pesawat jet pribadi yang baru saja mendarat di Bandara Nusant. Ia merapatkan coat tipisnya saat angin malam menyapu kulitnya. Raditya turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya.“Lelah?” tanyanya sambil menggenggam jemari Alya erat.Alya mengangguk kecil. “Sedikit. Tapi aku lebih ingin segera sampai di rumah.”Raditya tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di bahu Alya, membawanya berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggu di landasan.Di dalam mobil, Alya menyandarkan kepalanya ke jok dengan nyaman. “Kangen juga sama Nusant.”“Dan penthouse kita,” tambah Raditya. Ia melirik Alya yang sudah memejamkan mata. “Tidurlah sebentar, sayang. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai.”Tak butuh waktu lama, mobil mereka meluncur melewati jalanan kota Nusant yang berkilauan oleh lampu-lampu gedung pencakar langit. Dalam hitungan menit, mereka sudah memasuki area eksklusif tempat penthouse mereka berada. Raditya menggoyan
Matahari pagi menyinari Mansion keluarga Wiranagara dengan lembut, seakan ingin menghangatkan suasana yang penuh haru. Di ruang keluarga, Alya dan Raditya duduk bersama Bunda Clarissa, Kakek Bakhtiar, dan Nenek Aiko. Hari ini, mereka akan berpamitan.Nenek Aiko menggenggam tangan Alya erat, matanya berkaca-kaca. "Sayang, seminggu terasa begitu cepat. Nenek masih ingin bersama kalian lebih lama."Alya tersenyum lembut. "Aku juga, Nek. Rasanya belum cukup waktu untuk menghabiskan momen bersama kalian. Tapi... ini bukan perpisahan selamanya."Raditya menatap neneknya dengan penuh kasih. "Nenek harus menjaga kesehatan. Jangan lupa minum obat dan makan makanan sehat, ya."Nenek Aiko mengangguk pelan. "Tentu sayang, tentu. Jika nenek sudah sehat, nenek akan ke Nusant mengunjungi kalian."Alya menggenggam tangan neneknya. "Semoga kondisi nenek semakin sehat, hingga kita bisa bertemu kembali di Nusant ya, Nek."Bunda Clarissa menatap menantunya dengan penuh kehangatan, lalu tersenyum jahil. "
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raditya, menikmati semilir angin pagi yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Sementara itu, Raditya menggenggam tangannya erat, seakan meyakinkan bahwa kebahagiaan ini akan bertahan selamanya."Radit, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Alya, mencoba mencari tahu rahasia yang disimpan suaminya.Raditya tersenyum penuh misteri. "Kalau aku kasih tahu sekarang, nggak seru dong. Yang jelas, kamu pasti suka."Alya mengerucutkan bibirnya. "Kamu selalu suka bikin aku penasaran."Raditya tertawa kecil dan mencubit ujung hidung Alya. "Karena kamu selalu terlihat lucu kalau penasaran."Alya mendengus pelan, tapi tak bisa menahan senyum. "Baiklah, aku ikut saja. Tapi kalau ternyata aku nggak suka tempatnya, siap-siap ditagih kompensasi.""Siap, Nyonya Raditya," jawab Raditya santai.Setengah jam kemudian, mereka sudah bersiap dan masuk ke dalam mobil. Raditya yang menyetir, sementara Alya duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat ten
Setelah cukup lama berendam dalam kehangatan, Alya menyandarkan kepalanya ke dada Raditya, merasa begitu nyaman dalam pelukannya."Radit..." panggilnya pelan."Hmm?" Raditya merespons sambil mengusap lembut lengan istrinya di bawah air."Kita bisa seperti ini terus nggak?" tanya Alya, suaranya terdengar sedikit mengantuk.Raditya terkekeh kecil. "Maksudmu berendam terus di bathtub? Bisa sih, tapi nanti kita jadi ikan," canda Raditya.Alya tertawa kecil dan mencubit lengan suaminya. "Bukan itu maksudku. Maksudnya, bisa nggak kita terus bahagia kayak gini?"Raditya menghela napas, lalu mencium puncak kepala Alya. "Tentu bisa. Aku akan pastikan itu terjadi."Alya tersenyum puas. "Kalau begitu, ayo keluar. Aku sudah cukup segar."Raditya mengangguk, lalu membantu Alya bangkit. Setelah membungkus tubuh istrinya dengan handuk, ia sendiri mengeringkan tubuhnya dengan santai.Saat mereka keluar dari kamar mandi, Raditya lebih dulu mengenakan pakaian santainya. Sementara itu, Alya sibuk memili
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai membuat Alya menggeliat pelan. Tubuhnya terasa sedikit lelah setelah malam panjang yang mereka lalui semalam. Ia merenggangkan kedua tangannya di atas kepala, mendesah pelan. Raditya yang duduk di tepi ranjang hanya tersenyum, merasa istrinya begitu menggemaskan."Sayang, kamu sudah bangun?" suara serak Alya terdengar manja.Raditya mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi istrinya. "Sudah dari tadi. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kita."Alya membuka matanya perlahan, menatap Raditya yang sudah tampak segar. "Apa itu?"Raditya tersenyum kecil. "Bathup sudah aku isi air hangat. Aku tahu kamu butuh merilekskan tubuh setelah..." ia berhenti sejenak, menatap Alya dengan penuh arti, "setelah gemuranku semalam, bahkan kita semalam sama- sama mencapai pelepasan tiga kali, apa kamu ingat sayang?" goda Raditya.Alya yang masih dalam keadaan setengah sadar langsung memerah wajahnya. Ia menarik selimut m
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga terasa hangat. Alya dan Raditya bersiap untuk berangkat honeymoon ke salah satu daerah di Jepang, tepatnya ke Shirakawa-go, desa tradisional dengan pemandangan salju yang romantis. Mereka berpamitan kepada Kakek Bakhtiar, Nenek Aiko, dan Bunda Clarissa."Kalian hati-hati di sana. Nikmati bulan madu kalian, jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ujar Kakek Bakhtiar."Raditya, jaga Alya baik-baik. Jepang itu indah, tapi tetap waspada, ya," kata Nenek Aiko.Raditya menggenggam tangan Alya erat, "Tentu saja, Nek. Aku nggak akan membiarkan Alya sedikit pun terluka," jawab Raditya.Bunda Clarissa tersenyum lembut, "Alya, sayang. Jangan terlalu manja sama Raditya, nanti dia makin posesif," ujar Bunda Clarissa.Alya yang mendengarnya otomatis tertawa kecil, "Sudah terlanjur, Bun. Radit memang posesif dari dulu," kata Alya.Raditya hanya menatap Alya dengan mata tajam penuh arti, membuat Alya tersipu.**
Malam itu, suasana di kediaman keluarga Bakhtiar terasa berbeda. Setelah perbincangan serius siang tadi, Kakek Bakhtiar akhirnya mengambil keputusan."Kita akan bertemu dengan Haruto nanti malam di ruang khusus," ucap Kakek Bakhtiar dengan suara mantap. "Rei, pastikan dia dalam kondisi yang pantas untuk berbicara dengan kita. Suruh dia mandi dan bersihkan diri. Aku yakin keadaannya sekarang tidak baik-baik saja."Rei mengangguk dengan hormat. "Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya."Beberapa jam kemudian, Rei memasuki ruang bawah tanah tempat Haruto ditahan. Haruto tampak duduk diam di sudut ruangan, tubuhnya terlihat lelah, dengan wajah yang penuh dengan bekas luka dan kotoran. Rei melipat tangannya di depan dada, menatap pria itu dengan ekspresi netral."Bangun. Tuan Bakhtiar ingin bertemu denganmu malam ini. Tapi sebelum itu, kau harus mandi dan membersihkan diri. Pakaiannya sudah disiapkan."Haruto mengangkat kepalanya, menatap Rei dengan sorot mat
Alya menarik napas dalam, hatinya berdebar kencang. Ia tahu ini bukan keputusan yang mudah, tetapi ia harus mengatakannya. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara angin lembut dari luar jendela yang berbisik pelan. Dengan suara pelan namun tegas, ia mulai berbicara, “Nenek, Kakek, Bunda, sebenarnya kami ingin kembali ke Nusant.”Ruangan mendadak membeku. Semua mata tertuju padanya. Clarissa yang tadinya masih menggenggam tangan Nenek Aiko terdiam, sementara Kakek Bakhtiar mengerutkan keningnya, mencoba memahami maksud Alya lebih dalam. Nenek Aiko, yang baru saja merasakan kebahagiaan bertemu kembali dengan putrinya, kini menatap Alya dengan pandangan penuh kebingungan dan kesedihan.“Sayang, kenapa tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang mengganggumu di sini?” tanya Nenek Aiko dengan suara penuh harap, sedikit gemetar.Alya menggeleng, senyum lembut tetapi sendu terukir di wajahnya. “Bukan begitu, Nek. Aku sangat bahagia bisa
Siang itu, Kakek Bakhtiar, Alya, dan Raditya berjalan menuju ruang perawatan Nenek Aiko di rumah sakit. Wajah Nenek Aiko terlihat lebih segar dari sebelumnya, meski masih terlihat lelah."Bagaimana perasaanmu hari ini, Nek?" tanya Alya lembut sambil menggenggam tangan Nenek Aiko.Nenek Aiko tersenyum tipis. "Jauh lebih baik, sayang. Apa kita benar-benar akan pulang hari ini?"Kakek Bakhtiar mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah siapkan semuanya. Kita akan pulang ke mansion."Raditya membantu merapikan barang-barang Nenek Aiko. "Kami sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa di rumah, Nek.""Sesuatu yang istimewa?" Nenek Aiko menatap mereka dengan bingung."Nanti juga Nenek akan tahu," kata Alya dengan senyum penuh arti.Setelah semua siap, mereka meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nenek Aiko terlihat lebih bersemangat, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa penasaran. Mobil yang membawa mereka melaju dengan tenang di jalanan kota