Suara alarm masih menggema di seluruh rumah, tetapi Kakek Bakhtiar tetap berdiri tenang di depan penyusup yang terikat di kursi besi. Raditya, di sisi lain, mencoba menahan emosinya. Matanya menatap tajam pria di hadapan mereka, yang meskipun terluka, masih berani menyeringai.
"Aku akan bertanya sekali lagi," suara Raditya terdengar dingin dan mengancam. "Siapa yang mengirimmu?"
Pria itu mendengus kecil, kepalanya sedikit menunduk seolah berpikir. "Apa aku terlihat seperti orang yang mudah bicara?" tanyanya dengan nada mengejek.
Raditya menggeram, nyaris kehilangan kesabaran, tetapi Kakek Bakhtiar mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia tetap tenang. Lalu, dengan suara rendah dan terkontrol, Kakek Bakhtiar berbicara, "Nak, aku sudah lama berurusan dengan orang seperti dia. Jika kau ingin seseorang berbicara, kau harus tahu titik lemahnya."
Kakek Bakhtiar kemudian berjalan mendekat, menatap dalam ke mata penyusup itu. "Kau mungkin berpikir bisa bertahan
Suara tembakan menggema di seluruh rumah. Raditya segera menarik Kakek Bakhtiar ke sudut ruangan, memastikan posisi mereka aman sebelum melangkah lebih jauh."Kita harus keluar dari sini," kata Raditya cepat. "Mereka pasti datang untuk membebaskan orang ini!"Kakek Bakhtiar mengangguk tegas, lalu menoleh pada salah satu pengawalnya yang baru masuk. "Kondisi di luar bagaimana?""Mereka mencoba masuk lewat gerbang belakang, Pak. Tapi pasukan kita sudah menghadang mereka. Beberapa dari mereka bersenjata lengkap," lapor pengawal itu dengan suara tegang.Raditya mengepalkan tangannya. "Kita tidak bisa biarkan mereka menang. Siapkan tim untuk mengamankan penyusup ini. Aku akan lihat situasi di atas.""Raditya," panggil Kakek Bakhtiar. "Jangan gegabah. Mereka datang bukan hanya untuk menyerang, tapi juga menyampaikan pesan."Raditya mengangguk singkat sebelum berlari keluar ruangan, meninggalkan Kakek Bakhtiar dan pengawal di dalam ruangan bawah ta
Asap hitam masih mengepul dari mobil yang terbakar, menciptakan aroma menyengat yang menusuk hidung. Suara alarm rumah terus berbunyi, bercampur dengan teriakan dan langkah kaki para pengawal yang segera mengamankan situasi. Raditya menatap sisa-sisa kendaraan yang meledak, matanya menyipit, pikirannya penuh pertanyaan. Cahaya api yang memantul di wajahnya semakin menegaskan amarah yang mulai membara di dadanya."Dia benar-benar nekat," gumam Alya, masih terengah-engah, tangannya sedikit gemetar. "Hans lebih memilih mati daripada tertangkap," lanjut Alya kemudian.Kakek Bakhtiar menghela napas berat, tatapannya redup. "Atau lebih tepatnya, dia takut bicara," ujar sang kakek.Raditya mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Pertanyaannya sekarang adalah... siapa yang begitu menakutkan sampai Hans lebih memilih bunuh diri?" tanya Raditya.Seorang pengawal datang menghampiri mereka, wajahnya penuh kehati-hatian dan keringat dingin membasahi pelipisnya. "Pak, k
Malam itu, suasana di rumah Kakek Bakhtiar terasa lebih sunyi dari biasanya. Meski para pengawal berjaga di setiap sudut, Raditya tetap waspada. Ancaman yang mereka hadapi belum berakhir, dan ia tahu bahwa musuh mereka bukanlah orang sembarangan. Namun, di tengah semua ini, ada satu hal yang lebih penting baginya.Alya.Ia berjalan pelan menuju kamar tempat istrinya beristirahat. Saat membuka pintu, ia melihat Alya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke luar jendela. Cahaya lampu tidur yang redup memantulkan bayangan lembut di wajahnya yang tampak lelah. Ya, malam ini mereka memutuskan untuk tetap berada di rumah kakek Bakhtiar, karena penjagaan disana bisa diandalkan. Kakek Bakhtiar telah menambah para bodyguardnya."Sayang," panggil Raditya dengan suara lembut.Alya menoleh perlahan, tatapannya dipenuhi kecemasan. "Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan apa yang terjadi."Raditya mendekat, duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangannya erat. "Aku tahu. Semua ini terlalu banya
Di ruang konsultasi Rumah Sakit 'Hospital Healty', Alya duduk dengan tenang di samping Raditya, meskipun jantungnya berdebar menunggu hasil pemeriksaan terakhirnya. Ruangan itu bercat putih bersih dengan aroma antiseptik yang khas. Di dinding, tergantung berbagai sertifikat medis dan gambar anatomi tubuh manusia. Suasana di dalamnya sunyi, hanya terdengar suara detak jam dan sesekali langkah kaki perawat yang berlalu lalang di koridor.Dokter spesialis ortopedi yang menangani cederanya tersenyum hangat setelah memeriksa hasil pemeriksaan terakhir. Dengan kacamata setengah bingkai yang bertengger di hidungnya, ia tampak penuh percaya diri."Selamat, Ny. Alya. Anda sudah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi tanda-tanda cedera pada kaki kiri Anda. Tapi tentu saja, tetap berhati-hati dan jangan sampai mengalami cedera serupa lagi. Kaki yang pernah cedera cenderung lebih rentan," ujar dokter dengan nada penuh kepastian.Alya tersenyum lega, matanya sedikit berkaca-kaca.
Pagi-pagi sekali, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul di cakrawala ketika Raditya dan Alya sudah berada di bandara, bersiap untuk penerbangan menuju Jepang. Raditya menggenggam tangan Alya dengan erat, seolah ingin memastikan bahwa keberadaan istrinya di sisinya adalah nyata."Kamu sudah siap?" tanya Raditya, matanya menatap lembut ke arah Alya.Alya mengangguk kecil, meski di dalam hatinya ada sedikit kegelisahan. "Aku siap. Aku hanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai Kakek meminta kita datang mendadak."Raditya menarik napas dalam. "Aku juga tidak tahu. Tapi apapun itu, kita akan menghadapinya bersama."Mereka kemudian naik ke pesawat dengan penerbangan langsung menuju Jepang. Selama beberapa jam di udara, Alya mencoba tidur sejenak, namun pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan tentang apa yang menanti mereka di sana. Raditya sesekali melirik ke arah istrinya yang bersandar di bahunya, merasa lega melihat Alya bisa beristirahat meskipun hanya sebentar.Se
Kakek bakhtiar muncul dari balik pintu yang terbuka, sebelum Raditya dan Alya masuk keruangan perawatan, kakek Bakhtiar mengajak mereka ke luar terlebih dahulu. Maka disinilah mereka, duduk di kursi tunggu diluar ruang rawat.Di dalam ruang tunggu rumah sakit, Raditya dan Alya duduk bersebelahan dengan Kakek Bakhtiar. Suasana rumah sakit ternama di Jepang, Tokyo Serenity Hospital, terasa begitu hening. Hanya terdengar suara langkah kaki perawat yang berlalu lalang serta pengumuman yang sesekali menggema di pengeras suara. Aroma khas antiseptik memenuhi udara, memberikan kesan steril dan bersih. Lampu-lampu terang di koridor menerangi wajah-wajah yang dipenuhi kecemasan dan harapan.Alya meremas jemarinya sendiri, hatinya tidak tenang. Pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan buruk. "Kakek, siapa yang terbaring di dalam?" tanyanya dengan penuh penasaran, sorot matanya menatap wajah sang kakek dengan gelisah.Kakek Bakhtiar menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara berat,
Alya menatap nenek Aiko dengan tatapan yang sulit diartikan. Jantungnya berdegup kencang, seakan kata-kata neneknya tadi menyentak bagian terdalam dari jiwanya.Suasana di dalam ruang rawat terasa sunyi. Hanya suara detak mesin medis yang menemani keheningan di antara mereka. Cahaya matahari dari jendela yang terbuka sedikit menerangi wajah lelah sang nenek yang kini tampak linglung."Nenek... aku bukan bunda Clarissa," ujar Alya dengan suara pelan, mencoba menenangkan sang nenek yang masih tampak kebingungan. "Aku Alya, Nek. Anak bunda."Namun, Nenek Aiko masih menatap Alya dengan ekspresi penuh kerinduan. Matanya yang sayu sedikit berkaca-kaca, seolah menelusuri wajah cucunya yang baginya begitu familiar."Tapi... kau terlihat begitu mirip dengannya... persis seperti Clarissa muda... kamu cantik," bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar.Kakek Bakhtiar yang berdiri di sisi ranjang menarik napas panjang. Ia mengusap pundak Alya, memberikan i
Alya menatap kakek Bakhtiar dengan wajah penuh kebingungan. Kata-kata itu menggema di kepalanya."Dia pergi... untuk melindungi kamu, Alya."Jantungnya berdetak lebih cepat. Ruang tunggu rumah sakit yang awalnya terasa sejuk kini seakan mencekiknya."Melindungi aku? Dari apa, Kek?" Suaranya bergetar.Kakek Bakhtiar menarik napas panjang. "Alya, ada banyak hal yang belum kamu ketahui. Kepergian ibumu bukan sekadar karena cinta pada ayahmu, tapi karena ada ancaman nyata yang bisa membahayakanmu."Raditya yang duduk di samping Alya langsung menggenggam tangannya erat. "Ancaman apa? Siapa yang mengancamnya?"Kakek Bakhtiar menunduk sesaat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk berbicara. "Saat ibumu jatuh cinta pada Satria, banyak yang menentang. Bukan hanya dari keluarga kami, tetapi juga dari pihak lain. Ada seseorang yang tidak menginginkan pernikahan mereka terjadi."Alya mengernyit. "Siapa?""Seseorang yang sangat berpenga
“Akhirnya sampai juga.”Alya melangkah keluar dari pesawat jet pribadi yang baru saja mendarat di Bandara Nusant. Ia merapatkan coat tipisnya saat angin malam menyapu kulitnya. Raditya turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantunya.“Lelah?” tanyanya sambil menggenggam jemari Alya erat.Alya mengangguk kecil. “Sedikit. Tapi aku lebih ingin segera sampai di rumah.”Raditya tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di bahu Alya, membawanya berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggu di landasan.Di dalam mobil, Alya menyandarkan kepalanya ke jok dengan nyaman. “Kangen juga sama Nusant.”“Dan penthouse kita,” tambah Raditya. Ia melirik Alya yang sudah memejamkan mata. “Tidurlah sebentar, sayang. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai.”Tak butuh waktu lama, mobil mereka meluncur melewati jalanan kota Nusant yang berkilauan oleh lampu-lampu gedung pencakar langit. Dalam hitungan menit, mereka sudah memasuki area eksklusif tempat penthouse mereka berada. Raditya menggoyan
Matahari pagi menyinari Mansion keluarga Wiranagara dengan lembut, seakan ingin menghangatkan suasana yang penuh haru. Di ruang keluarga, Alya dan Raditya duduk bersama Bunda Clarissa, Kakek Bakhtiar, dan Nenek Aiko. Hari ini, mereka akan berpamitan.Nenek Aiko menggenggam tangan Alya erat, matanya berkaca-kaca. "Sayang, seminggu terasa begitu cepat. Nenek masih ingin bersama kalian lebih lama."Alya tersenyum lembut. "Aku juga, Nek. Rasanya belum cukup waktu untuk menghabiskan momen bersama kalian. Tapi... ini bukan perpisahan selamanya."Raditya menatap neneknya dengan penuh kasih. "Nenek harus menjaga kesehatan. Jangan lupa minum obat dan makan makanan sehat, ya."Nenek Aiko mengangguk pelan. "Tentu sayang, tentu. Jika nenek sudah sehat, nenek akan ke Nusant mengunjungi kalian."Alya menggenggam tangan neneknya. "Semoga kondisi nenek semakin sehat, hingga kita bisa bertemu kembali di Nusant ya, Nek."Bunda Clarissa menatap menantunya dengan penuh kehangatan, lalu tersenyum jahil. "
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raditya, menikmati semilir angin pagi yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Sementara itu, Raditya menggenggam tangannya erat, seakan meyakinkan bahwa kebahagiaan ini akan bertahan selamanya."Radit, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Alya, mencoba mencari tahu rahasia yang disimpan suaminya.Raditya tersenyum penuh misteri. "Kalau aku kasih tahu sekarang, nggak seru dong. Yang jelas, kamu pasti suka."Alya mengerucutkan bibirnya. "Kamu selalu suka bikin aku penasaran."Raditya tertawa kecil dan mencubit ujung hidung Alya. "Karena kamu selalu terlihat lucu kalau penasaran."Alya mendengus pelan, tapi tak bisa menahan senyum. "Baiklah, aku ikut saja. Tapi kalau ternyata aku nggak suka tempatnya, siap-siap ditagih kompensasi.""Siap, Nyonya Raditya," jawab Raditya santai.Setengah jam kemudian, mereka sudah bersiap dan masuk ke dalam mobil. Raditya yang menyetir, sementara Alya duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat ten
Setelah cukup lama berendam dalam kehangatan, Alya menyandarkan kepalanya ke dada Raditya, merasa begitu nyaman dalam pelukannya."Radit..." panggilnya pelan."Hmm?" Raditya merespons sambil mengusap lembut lengan istrinya di bawah air."Kita bisa seperti ini terus nggak?" tanya Alya, suaranya terdengar sedikit mengantuk.Raditya terkekeh kecil. "Maksudmu berendam terus di bathtub? Bisa sih, tapi nanti kita jadi ikan," canda Raditya.Alya tertawa kecil dan mencubit lengan suaminya. "Bukan itu maksudku. Maksudnya, bisa nggak kita terus bahagia kayak gini?"Raditya menghela napas, lalu mencium puncak kepala Alya. "Tentu bisa. Aku akan pastikan itu terjadi."Alya tersenyum puas. "Kalau begitu, ayo keluar. Aku sudah cukup segar."Raditya mengangguk, lalu membantu Alya bangkit. Setelah membungkus tubuh istrinya dengan handuk, ia sendiri mengeringkan tubuhnya dengan santai.Saat mereka keluar dari kamar mandi, Raditya lebih dulu mengenakan pakaian santainya. Sementara itu, Alya sibuk memili
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai membuat Alya menggeliat pelan. Tubuhnya terasa sedikit lelah setelah malam panjang yang mereka lalui semalam. Ia merenggangkan kedua tangannya di atas kepala, mendesah pelan. Raditya yang duduk di tepi ranjang hanya tersenyum, merasa istrinya begitu menggemaskan."Sayang, kamu sudah bangun?" suara serak Alya terdengar manja.Raditya mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi istrinya. "Sudah dari tadi. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kita."Alya membuka matanya perlahan, menatap Raditya yang sudah tampak segar. "Apa itu?"Raditya tersenyum kecil. "Bathup sudah aku isi air hangat. Aku tahu kamu butuh merilekskan tubuh setelah..." ia berhenti sejenak, menatap Alya dengan penuh arti, "setelah gemuranku semalam, bahkan kita semalam sama- sama mencapai pelepasan tiga kali, apa kamu ingat sayang?" goda Raditya.Alya yang masih dalam keadaan setengah sadar langsung memerah wajahnya. Ia menarik selimut m
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga terasa hangat. Alya dan Raditya bersiap untuk berangkat honeymoon ke salah satu daerah di Jepang, tepatnya ke Shirakawa-go, desa tradisional dengan pemandangan salju yang romantis. Mereka berpamitan kepada Kakek Bakhtiar, Nenek Aiko, dan Bunda Clarissa."Kalian hati-hati di sana. Nikmati bulan madu kalian, jangan lupa kabari kalau sudah sampai," ujar Kakek Bakhtiar."Raditya, jaga Alya baik-baik. Jepang itu indah, tapi tetap waspada, ya," kata Nenek Aiko.Raditya menggenggam tangan Alya erat, "Tentu saja, Nek. Aku nggak akan membiarkan Alya sedikit pun terluka," jawab Raditya.Bunda Clarissa tersenyum lembut, "Alya, sayang. Jangan terlalu manja sama Raditya, nanti dia makin posesif," ujar Bunda Clarissa.Alya yang mendengarnya otomatis tertawa kecil, "Sudah terlanjur, Bun. Radit memang posesif dari dulu," kata Alya.Raditya hanya menatap Alya dengan mata tajam penuh arti, membuat Alya tersipu.**
Malam itu, suasana di kediaman keluarga Bakhtiar terasa berbeda. Setelah perbincangan serius siang tadi, Kakek Bakhtiar akhirnya mengambil keputusan."Kita akan bertemu dengan Haruto nanti malam di ruang khusus," ucap Kakek Bakhtiar dengan suara mantap. "Rei, pastikan dia dalam kondisi yang pantas untuk berbicara dengan kita. Suruh dia mandi dan bersihkan diri. Aku yakin keadaannya sekarang tidak baik-baik saja."Rei mengangguk dengan hormat. "Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya."Beberapa jam kemudian, Rei memasuki ruang bawah tanah tempat Haruto ditahan. Haruto tampak duduk diam di sudut ruangan, tubuhnya terlihat lelah, dengan wajah yang penuh dengan bekas luka dan kotoran. Rei melipat tangannya di depan dada, menatap pria itu dengan ekspresi netral."Bangun. Tuan Bakhtiar ingin bertemu denganmu malam ini. Tapi sebelum itu, kau harus mandi dan membersihkan diri. Pakaiannya sudah disiapkan."Haruto mengangkat kepalanya, menatap Rei dengan sorot mat
Alya menarik napas dalam, hatinya berdebar kencang. Ia tahu ini bukan keputusan yang mudah, tetapi ia harus mengatakannya. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya suara angin lembut dari luar jendela yang berbisik pelan. Dengan suara pelan namun tegas, ia mulai berbicara, “Nenek, Kakek, Bunda, sebenarnya kami ingin kembali ke Nusant.”Ruangan mendadak membeku. Semua mata tertuju padanya. Clarissa yang tadinya masih menggenggam tangan Nenek Aiko terdiam, sementara Kakek Bakhtiar mengerutkan keningnya, mencoba memahami maksud Alya lebih dalam. Nenek Aiko, yang baru saja merasakan kebahagiaan bertemu kembali dengan putrinya, kini menatap Alya dengan pandangan penuh kebingungan dan kesedihan.“Sayang, kenapa tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang mengganggumu di sini?” tanya Nenek Aiko dengan suara penuh harap, sedikit gemetar.Alya menggeleng, senyum lembut tetapi sendu terukir di wajahnya. “Bukan begitu, Nek. Aku sangat bahagia bisa
Siang itu, Kakek Bakhtiar, Alya, dan Raditya berjalan menuju ruang perawatan Nenek Aiko di rumah sakit. Wajah Nenek Aiko terlihat lebih segar dari sebelumnya, meski masih terlihat lelah."Bagaimana perasaanmu hari ini, Nek?" tanya Alya lembut sambil menggenggam tangan Nenek Aiko.Nenek Aiko tersenyum tipis. "Jauh lebih baik, sayang. Apa kita benar-benar akan pulang hari ini?"Kakek Bakhtiar mengangguk. "Tentu saja. Aku sudah siapkan semuanya. Kita akan pulang ke mansion."Raditya membantu merapikan barang-barang Nenek Aiko. "Kami sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa di rumah, Nek.""Sesuatu yang istimewa?" Nenek Aiko menatap mereka dengan bingung."Nanti juga Nenek akan tahu," kata Alya dengan senyum penuh arti.Setelah semua siap, mereka meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Nenek Aiko terlihat lebih bersemangat, meskipun hatinya masih dipenuhi rasa penasaran. Mobil yang membawa mereka melaju dengan tenang di jalanan kota