RS. Kenangan IndahKota Jakarta Barat saat ini, berada dalam titik suhu terpanas di minggu ini. 33°C, itulah yang tertulis di perkiraan cuaca dari ponsel pintar milik seorang gadis. Menengadahkan kepala ke atas, menatap cakrawala yang begitu terang benderang dengan kedua mata menyipit. Gadis yang saat ini mengangkat satu tangannya untuk mengipas-ngipasi wajah, tertegun menatap sang surya di atas sana—dengan keringat bercucuran. "Mbak! Ngapain duduk di situ sendirian? Saya aja yang berteduh di sini kepanasan." Sesaat ada seseorang yang bersuara, gadis itu menolehkan kepala pada sumber suara. Tepat 5 meter dari tempatnya duduk, ada seorang perempuan yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Saya nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma lagi pengen gerah aja." Lengkungan tipis, terurai dari bibir bentuk cupid milik gadis itu. "Dasar orang aneh," dengus perempuan itu, sebelum dia memilih pergi meninggalkan gadis yang dia sebut 'aneh' itu. Sepeninggal perempuan itu, gadis yang tidak lain adalah Jen
Ada beberapa hal yang sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan bagi Jenna dalam hidup. Satu, saat ayahnya mengaku telah menduakan sang bunda. Dua, saat sang ayah membawa Dania atau istri keduanya ke rumah. Dan hari ini, Jenna kembali merasakan itu.Mendapatkan fakta jika Cahaya sengaja mengatur rencana untuk menjadikannya seorang madu, karena mereka terikat masa lalu—membuat Jenna merasa terkejut juga tersakiti.Bagaimana bisa Cahaya mengambil jalan pintas seperti ini? Menyatukan dirinya dengan Reyhan yang sudah tak saling kenal dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana mungkin Cahaya menyatukan dirinya dan Reyhan, yang sekarang tak mempunyai perasaan seperti dulu.Jenna tidak habis pikir dengan Cahaya. Hanya karena dia overthinking tentang kematian, wanita itu mengambil jalan yang tidak dia pikirkan lebih panjang lagi. Di sini, banyak perasaan yang akan terluka. Bukan hanya dirinya ataupun Cahaya, tapi ada Reyhan dan Anala yang terpenting."Jenna!” Tiba-tiba saja, sebuah tepukan di bahu
“Kak Aya!” Setitik air mata jatuh tanpa diduga dari sudut mata seorang gadis yang duduk terperenyak di trotoar. Ia memaksa diri untuk menegakkan tubuh, membawa tubuhnya itu berlari kencang pada sosok yang terkapar lemah di jalanan sana. Langit yang bahkan tadi terang benderang, seolah ikut merasakan kesedihan teramat di hari ini. Gelegar petir tiba-tiba bersahutan, rintik hujan—mungkin tak akan sampai 5 menit lagi akan turun membasahi bumi. Gemuruhnya saja sudah terdengar nyaring, sudah pasti gemericik air kehidupan itu akan sampai ke tempatnya berpijak kini.“Aku mohon bertahan, Kak Aya!” Tubuh gadis itu ambruk di depan tubuh seorang wanita yang terkapar lemah. Dia angkat kepala wanita berhijab itu pada pahanya. Tanpa merasa jijik, dia menyeka cairan kental berwarna merah di sekitar wajahnya.“Aku, aku akan bawa Kak Aya ke rumah sakit.” Gadis itu berceloteh, dia berusaha untuk membawa tubuh wanita yang masih sempat membuka matanya.“J-jenna?” panggil lirih wanita yang dipanggil Aya
Saat itu sang surya seolah sedang berada di atas kepala. Tentu saja, hal itu membuat siapa pun yang berada di luar ruangan—merasakan hawa panas yang menjalar ke tubuhnya. Tapi itu tidak berlaku bagi dua orang perempuan berbeda usia, yang tengah duduk saling berhadapan. Karena hawa sejuk yang dihasilkan oleh air conditioner di dalam ruangan, membuat keduanya tidak berkeringat. "Ada satu hal yang mau aku bicarain sama kamu, Jenna." Yang berbicara saat ini adalah Cahaya Ghaliya Mahasin—seorang perempuan berhijab yang berstatus sebagai psikiater di RS Kenangan Indah. Perawakannya indah. Dengan tinggi semampai 168 cm, berkulit putih bersih, serta wajah perpaduan Indonesia-Pakistan yang membuatnya nampak begitu sempurna jika dipandang. "Jenna ...," panggil Cahaya dengan ragu pada sosok perempuan muda yang duduk di hadapannya. "Iya, Dok?" Perempuan muda di depannya menyahuti. Ada tatap penasaran dari kedua pasang mata monoloid perempuan itu. "Selama dua tahun ini ... ikatan yang terbang
Satu bulan yang lalu, hidup Jenna masih seperti biasa. Memang tidak sebahagia dulu, tapi Jenna masih bisa tertawa bersama teman-teman sesama penulisnya saat nonton drama komedi, ataupun menonton video tiktok yang menampilkan review makanan India dari kalangan sudra. Tapi hari ini, tawa itu seperti hilang dari Jenna. Ucapan dokter Cahaya yang memintanya untuk menjadi 'madu' wanita itu—terus terngiang-ngiang di pikiran Jenna. Padahal itu sudah berlalu 3 hari dari sekarang. Sudah 3 hari pula dirinya tidak bertemu dengan wanita yang ingin memintanya menjadi madu itu. "Aku nggak ngerti lagi sama arah pikiran dokter Cahaya," ucapnya sambil menahan kesal di dada. Tapi tangannya tak serta merta diam di atas paha, melainkan melemparkan baru kerikil ke arah danau yang membentang luas di depannya. "Bisa-bisanya dia memintaku menjadi madunya? Memang aku perempuan seperti apa? Aku sama sekali nggak mau dan bahkan benci status itu." Bayangan demi bayangan masa lalu yang membuatnya trauma, hingga
"Hei, kamu! Perempuan opacraphile yang berambut seperti jagung, tolong saya!" Mulut Jenna terbuka lebar ketika seorang lelaki yang tadi terdengar meringis itu, menyebut rambut coklat mahoninya ini seperti jagung. Memangnya dia siapa, berhak mengatai rambut favoritnya seperti rambut jagung? "Hei! Kenapa diam saja?!" Lagi, lelaki tak tahu malu itu berkata pada Jenna. Merasa kesal, Jenna memilih untuk membuang muka ke arah yang lain. Memasang wajah super jutek, meski kesan pertama lelaki itu padanya akan kurang baik—tapi tak apa. Jenna juga tidak berniat untuk kenal lebih jauh lagi dengan lelaki itu. "Mau minta tolong saja pakai acara ngatain rambut saya kayak jagung segala," cibir Jenna mengulang perkataan lelaki tadi. "Lho, kamu marah? Pada kenyataannya memang begitu kok. Rambut kamu itu mirip seperti rambut jagung," balasnya malah semakin meledek. Sial sekali Jenna sore ini. Niat hati ingin menenangkan hati dan pikirannya karena dokter Cahaya, malah harus terganggu dengan lelaki
Udara sejuk yang dihasilkan oleh air conditioner (AC) di dalam kamar seorang gadis, semakin membuat si gadis yang terlelap dalam tidurnya itu bergulung dalam selimut tebal. Entah dia terlalu kecil mengatur suhu, hingga membuatnya kedinginan. Atau karena suhu badannya yang sekarang cukup hangat. Tapi satu hal yang pasti, gadis itu enggan turun dari kasur dan memilih untuk terus memejamkan matanya. Sampai sebuah suara ketukan pintu tak sabaran, yang diiringi dengan suara seseorang memanggilnya dengan intens-gadis itu baru menggeliat."Jenna! Bangun! Kamu harus shalat shubuh dulu." Seseorang, dari luar kamarnya—mengetuk pintu berulang kali. Hingga menyebabkan kedamaian tidur seorang gadis yang tak lain adalah Jenna itu, terganggu. "Jenna! Bangun! Tidak ada alasan lagi untuk hari ini tidak shalat shubuh," kata orang itu lagi. Kali ini, suaranya terdengar lebih tegas dari sebelumnya.Mendengar teriakan menjengkelkan, pun suara ketukan pintu yang diketuk tidak sabaran—Jenna pun berdecak.
Cakrawala di siang itu begitu sangat memancar. Sang surya yang bersinar, seolah berada tepat di atas kepala. Tapi hawa panas yang dirasa oleh seorang gadis, bukan saja berasal dari sinar sang surya. Melainkan juga dari sebuah postingan akun Instagram milik adik satu darahnya—Kiara Arsyila, yang memperlihatkan tiga orang termasuk Kiara sendiri—seolah seperti keluarga bahagia tanpa kehadiran dirinya. Tiga orang itu nampak sedang makan bersama, ada senyum dan canda tawa yang diperlihatkan di foto itu. Jelas saja, foto itu pasti diambil setelah kepergiannya beberapa jam yang lalu. “Sial, dia pikir orang-orang bakal lebih simpati sama dia? Orang-orang nggak tau aja kalau dia itu anak dari pelakor." Gadis yang tidak lain adalah Jenna tersebut mengumpat. Udara yang saat ini terasa panas, lebih membakar lagi saat ia tak sengaja melihat postingan Kiara.“Tenang, tarik nafas.” Jenna memejamkan mata, ia sadar jika gejolak amarahnya bisa saja menimbulkan gangguan kecemasannya kambuh begitu saja.
“Kak Aya!” Setitik air mata jatuh tanpa diduga dari sudut mata seorang gadis yang duduk terperenyak di trotoar. Ia memaksa diri untuk menegakkan tubuh, membawa tubuhnya itu berlari kencang pada sosok yang terkapar lemah di jalanan sana. Langit yang bahkan tadi terang benderang, seolah ikut merasakan kesedihan teramat di hari ini. Gelegar petir tiba-tiba bersahutan, rintik hujan—mungkin tak akan sampai 5 menit lagi akan turun membasahi bumi. Gemuruhnya saja sudah terdengar nyaring, sudah pasti gemericik air kehidupan itu akan sampai ke tempatnya berpijak kini.“Aku mohon bertahan, Kak Aya!” Tubuh gadis itu ambruk di depan tubuh seorang wanita yang terkapar lemah. Dia angkat kepala wanita berhijab itu pada pahanya. Tanpa merasa jijik, dia menyeka cairan kental berwarna merah di sekitar wajahnya.“Aku, aku akan bawa Kak Aya ke rumah sakit.” Gadis itu berceloteh, dia berusaha untuk membawa tubuh wanita yang masih sempat membuka matanya.“J-jenna?” panggil lirih wanita yang dipanggil Aya
Ada beberapa hal yang sangat mengejutkan sekaligus menyakitkan bagi Jenna dalam hidup. Satu, saat ayahnya mengaku telah menduakan sang bunda. Dua, saat sang ayah membawa Dania atau istri keduanya ke rumah. Dan hari ini, Jenna kembali merasakan itu.Mendapatkan fakta jika Cahaya sengaja mengatur rencana untuk menjadikannya seorang madu, karena mereka terikat masa lalu—membuat Jenna merasa terkejut juga tersakiti.Bagaimana bisa Cahaya mengambil jalan pintas seperti ini? Menyatukan dirinya dengan Reyhan yang sudah tak saling kenal dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana mungkin Cahaya menyatukan dirinya dan Reyhan, yang sekarang tak mempunyai perasaan seperti dulu.Jenna tidak habis pikir dengan Cahaya. Hanya karena dia overthinking tentang kematian, wanita itu mengambil jalan yang tidak dia pikirkan lebih panjang lagi. Di sini, banyak perasaan yang akan terluka. Bukan hanya dirinya ataupun Cahaya, tapi ada Reyhan dan Anala yang terpenting."Jenna!” Tiba-tiba saja, sebuah tepukan di bahu
RS. Kenangan IndahKota Jakarta Barat saat ini, berada dalam titik suhu terpanas di minggu ini. 33°C, itulah yang tertulis di perkiraan cuaca dari ponsel pintar milik seorang gadis. Menengadahkan kepala ke atas, menatap cakrawala yang begitu terang benderang dengan kedua mata menyipit. Gadis yang saat ini mengangkat satu tangannya untuk mengipas-ngipasi wajah, tertegun menatap sang surya di atas sana—dengan keringat bercucuran. "Mbak! Ngapain duduk di situ sendirian? Saya aja yang berteduh di sini kepanasan." Sesaat ada seseorang yang bersuara, gadis itu menolehkan kepala pada sumber suara. Tepat 5 meter dari tempatnya duduk, ada seorang perempuan yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Saya nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma lagi pengen gerah aja." Lengkungan tipis, terurai dari bibir bentuk cupid milik gadis itu. "Dasar orang aneh," dengus perempuan itu, sebelum dia memilih pergi meninggalkan gadis yang dia sebut 'aneh' itu. Sepeninggal perempuan itu, gadis yang tidak lain adalah Jen
Jenna kira, kesakitannya dalam hidup—hanya karena sang ayah mengkhianati sang bunda dan membuatnya terluka waktu itu. Tapi saat mendengar tangisan dari anak kecil, yang tak menerima kehadirannya—cukup membuat hati Jenna mencelos seketika. Perasaan mendebarkan tadi pagi, yang dia rasakan saat Reyhan memeluk dirinya tanpa sadar—raib entah ke mana. Sekarang, hanya ada rasa penyesalan mendalam atas pernikahannya ini. “Aku nggak mau punya mama baru, Ma.” Anala, gadis kecil yang sebentar lagi masuk ke sekolah dasar itu masih menangis. Tangisannya sesenggukkan, begitu menyayat hati orang yang mendengarnya. Dalam hal ini, Jenna tidak membenarkan sikap Cahaya. Bagaimana mungkin, wanita itu terang-terangan menjelaskan siapa dirinya pada Anala? Sudah pasti, jika gadis kecil itu tidak akan mengerti apa yang terjadi. Justru dia sekarang malah menilai Jenna sebagai perebut papanya. Atau mungkin kehadirannya memang seperti itu? “Panggi dia Bunda Jenna, Bunda Jenna adalah mama baru untuk Anala. N
Keheningan menyapa seorang perempuan yang tengah bersujud. Dalam gerakan sujud terakhirnya, hatinya banyak bermunajat—merapalkan semua doa dan keinginan pada Sang Ilahi Rabbi. Di antara semua keinginannya, selain ia memohon ampunan atas dosa di masa lalu—ia meminta petunjuk terkait pernikahan kontrak yang terjadi ini.Saat ini masih pukul 02.00 malam, di mana banyak orang yang tengah tertidur dengan nyenyaknya. Tapi perempuan yang sekarang telah bangun dari sujudnya, memilih mengisi waktu malamnya dengan shalat sunah tahajjud 4 raka'at dan diakhiri oleh witir 3 raka'at.Shalat sunnah tahajud adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan. Bahkan Imam Syafi'i pernah berkata. "Doa di saat tahajud, bagaikan anak pahah yang melesat tepat mengenai sasaran." Tajamnya anak panah yang dimaksud di sini itu, dua tangan yang menengadah pada Allah SWT di sepertiga malam, tidak akan pernah kembali dengan sesuatu yang hampa. “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”“Assalamualakum warrahmatulla
Malam kini telah menyapa. Kebetulan sekali, malam ini nampak indah dibandingkan malam lalu. Bagaimana indurasmi itu hampir keseluruhan membuat terang benderang, belum lagi gemerlap bintang yang ikut menemani—membuat semesta di malam ini begitu disukai oleh banyak orang. Salah satu orang yang kini memandangi malam itu adalah Jenna. Entah kenapa, keluar dari rumah yang selama 8 tahun ini membuatnya banyak terluka—Jenna merasa cukup tenang. Meskipun demikian, hatinya tak urung bersedih—saat tau jika sang ayah di sana pasti akan merindukannya. Meskipun Jenna ataupun Reyhan menganggap pernikahan yang terjadi ini adalah kontrak, tapi berbeda dengan Cahaya. Justru wanita itu menginginkan pernikahan yang benar-benar pernikahan, antara Jenna dan suaminya itu. Lihat saja buktinya!Di saat Jenna tengah menikmati malamnya dengan menghirup udara sejuk di balkon kamar, perempuan itu tersentak kaget saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, pada akhir
Dalam hidup, Jenna sudah seringkali mengalami banyak kegagalan. Di mana, semua itu tidak sesuai dengan ekspektasi dan mimpi-mimpinya. Seperti halnya saat ia mendapatkan nilai di bawah KKM saat dulu masih sekolah, atau karena tidak lolos masuk jurusan kedokteran di universitas impiannya. Tapi semua itu, tidak sampai membuat Jenna merasakan gelisah seperti saat ini. Kegagalan yang pernah terjadi dulu, yang sifatnya masih cukup wajar—hanya mampu membuatnya sedih sementara saja. Tentunya, mempunyai keinginan untuk mendapatkan surga impian—di saat dirinya menjadi saksi nyata, atas hancurnya surga yang dibangun oleh sang ayah untuk sang bunda, membuat Jenna terpikirkan. Apakah ia akan mendapatkan surga impian itu dalam pernikahannya ini? Meskipun pada dasarnya, Jenna mengajukan sebuah syarat untuk setuju dengan pernikahan ini. Yang di mana syarat tersebut adalah jangka waktu yang dia tentukan untuk tetap berada dalam pernikahan ini, tapi Jenna tidak mungkin mempermainkan pernikahan dalam
“Allah, kenapa aku masih hidup?” Sepasang mata milik seorang wanita, masih terpejam. Tapi tangannya menyentuh kasur serta selimut yang terpakai di tubuhnya. Kala mencoba membuka mata, penglihatannya samar-samar terpaku pada ruangan yang tadi malam menjadi saksi—atas sebuah pernikahan yang terjadi karena permintaan darinya. Wanita itu menyentuh dada, di sana dia masih merasakan adanya kehidupan. Terbukti dengan degupan jantung yang masih berirama. Langit-langit kamar berwarna putih, dan lampu yang sinarnya begitu menyilaukan mata jika dipandang—masih bisa ia lihat dengan jelas. Jadi benar, tadi malam ia mengantuk itu bukan akan pergi selamanya? “Kukira, malam tadi adalah malam terakhir untukku di dunia ini.” Si wanita itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia sudah cukup lega jikalau tadi malam benar-benar waktu terakhirnya, karena suami dan madunya itu bisa menjalankan kehidupan baru tanpa bayang-bayang dirinya. Cahaya, si wanita itu berusaha untuk duduk. Dia menatap ke sekeli
8 tahun ini, Jenna merasa hidupnya banyak berubah. Ya! Karena peristiwa di mana luka hati untuk sang ibunda dan dirinya terjadi. Sejak saat itu, Jenna sadar—jika hubungannya dengan sang ayah cukup merenggang. Tidak ada lagi Jenna yang manja seperti dulu—merengek setiap kali ayahnya pulang bekerja, meminta dibelikan cemilan. Ataupun Jenna yang mengadu pada sang ayah, kala nilai di sekolahnya menurun. Tapi di malam ini, Jenna harus menurunkan ego demi sesuatu hal yang entah baik ataukah buruk untuknya. Melihat jika keadaan dokter Cahaya semakin tidak stabil, Jenna memutuskan untuk bersedia menuruti permintaannya. Dia tidak memikirkan hal lain, selain permintaan dokter Cahaya yang dikhawatirkan jika itu adalah wasiat darinya.Selang pertemuannya dengan lelaki asing yang sedikitnya berhasil mengetuk hati Jenna, pembicaraan mereka tidak berhenti ketika Reyhan—nama lelaki itu, mengatakan tak ingin menikahi perempuan mana pun lagi. Pembicaraan mereka baru berhenti, saat sadar jika Cahaya ke