Tidak lama lagi Ana pasti akan melakukan sesuatu untuk melarikan diri dari sini. Jagad sangat yakin itu. Tekanan dari kehidupan sebagai Edna yang Jagad berikan terlalu berat untuk Ana. "Awasi Ana dengan baik. Kalau ada sedikit saja gerak-gerik dia yang aneh segera laporkan kepada aku dan lakukan hal yang diperlukan untuk mengatasinya. Jangan sampai dia terluka, camkan itu baik-baik. Ana adalah orang yang berharga untuk kehidupanku. Ana adalah orang yang berharga untuk menjalankan rencanaku sehingga karena itulah dia tidak boleh sampai kenapa-kenapa." "Baik, pak." Asisten pribadi Jagad menerima perintah Jagad dan pergi dari tempat itu. Jagad duduk di kursinya dan kemudian berpikir dengan keras. Apa yang kira-kira perlu dia lakukan untuk mengatasi sifat implusif dan mudah menyerah dari Ana? Rasanya sulit sekali untuk bisa mengatasi anak seperti itu. Jagad bahkan tidak mengira kalau Ana berani mengambil pilihan untuk melakukan bunuh diri demi mati dalam keadaan terhormat. Jagad yakin
Ana tidak mengira jika dirinya akan bertemu dengan ayah kandungnya di penginapan ini. Penginapan ini bukanlah penginapan yang bisa dijangkau oleh kantong ayah kandungnya itu. Jadi dapat uang darimana ayah kandungnya itu? Dapat dari siapa dan setelah melakukan perbuatan seperti apa hingga bisa mendapatkan uang sebesar itu? "Non Edna baik-baik saja? Terakhir kali Non Edna berkunjung ke rumah saya malah pemandangan kurang menyenangkan yang non lihat. Saya minta maaf untuk itu ya." Wajah dan suara Afandi terdengar sangat ramah. Tidak pernah Edna mendengar suara dan raut wajah seperti ini saat Edna menjadi Ana. Apakah karena Edna adalah orang yang sangat berkuasa hingga Afandi merasa jika lebih baik dia berlutut di hadapan Edna? Sungguh mengenaskan. Ternyata memang benar bahwa hanya harta lah yang dapat menyelamatkan sebuah harga diri. "Gakpapa, pak. Saya gak tahu ada masalah apa antara anda dan suami saya tapi saya minta maaf atas sikapnya yang kasar. Kalau begitu saya masuk ke kamar sa
Rupanya memang benar jika Jagad adalah pembunuh dari Vivaldi. Ana sudah mengira akan hal ini. Lalu kata Afandi, Jagad membunuh Vivaldi karena rasa cintanya dengan Edna? Ucapan ini terdengar tidak asing. Ah, ya memang benar terdengar tidak asing karena Leona pernah mengatakan hal yang sama. Leona bilang Jagad pernah berkata kepada Edna yang masih hidup dulu kalau rasa cintanya pada Edna membuatnya rela untuk membunuh seseorang. Apakah seseorang yang dimaksud itu adalah Vivaldi? Memang apa kesalahan Vivaldi pada Edna hingga Jagad sampai hati untuk membunuh saudara tiri dari pacarnya sendiri? "Membunuh? Anda punya peran apa memangnya?" Lalu mengapa Jagad harus membunuh kakak saya?" Wajah Ana terlihat heran. Kali ini rasa heran yang ada pada diri Ana tidaklah dibuat-buat. Ana sungguh-sungguh merasa heran dengan fakta yang baru dia ketahui ini. "Anda dan Vivaldi memang tidak pernah akur. Berbeda dengan Patrik, Vivaldi itu pergaulannya memamg tidak benar sedari kecil. Saat anda lahir mun
Bertanya pada Claudia? Memang apa gunanya itu semua sekarang? Ana kan memang sudah berniat untuk melarikan diri dari kehidupan Edna. Ana pun heran pada dirinya sendiri yang masih mau mengikuti Afandi untuk mendengar cerita yang sebenarnya tidak perlu dia dengar ini. "Maaf tapi saya rasa saya gak perlu menanyakan hal seperti itu kepada ibu saya. Saya minta maaf karena membuat anda menceritakan hal-hal yang mengenaskan seperti itu tapi saya merasa itu tidak ada gunanya juga. Saya ingin melanjutkan hidup saya ke arah yang lebih baik sehingga rasanya bukan pilihan yang bijak ketika saya terus terpaku pada hal-hal di massa lalu seperti itu." Ana memang orang yang plin plan dan menyebalkan. Ana mengakui hal tersebut. Tapi itu semua kan dia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Ana tidak ingin jatuh pada keputusasaan yang tidak berujung karena merasa melakukan segalanya tapi tidak pernah mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya. "Saya dengan sukarela menceritakan hal ini. Saya
Melarikan diri? Apa Afandi mengetahui sesuatu? Sungguh mengerikan jika Afandi benar-benar bisa membaca pikiran Ana. "Maksud anda itu apa? Saya gak mungkin melarikan diri. Saya hanya berniat untuk jalan-jalan saja kok." Ana mencoba menjawab dengan nada sesantai yang dia bisa walaupun Ana tetap merasa bahwa intonasi suaranya terlalu keras dan dia terlalu cepat dalam bicara. Afandi hanya tertawa dan kemudian lanjut bicara. "Sepertinya asumsi saya terlalu jauh ya." Suara Afandi terdengar geli dan kemudian dia tersenyum tipis. "Terima kasih sudah mau mendengarkan orang tua ini bicara ya. Saya merasa sedang berbicara dengan putri saya. Semasa dia hidup saya tidak punya kesempatan untuk bicara dengan penuh kasih sayang dan santai seperti ini. Saya rasa saya akan bisa mati dengan tenang setelah ini. Jika banyak orang bilang bahwa bunuh diri akan mendapatkan balasan neraka dan siksaan yang berat, saya tidak masalah karena saya sudah mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan anda sehingga sa
Ana hanya terpaku di dalam kamar penginapannya. Percakapan terakhir dengan Afandi tadi sungguh me membekas di hati Ana. Salahkah Ana jika dirinya marah besar karena kebohongan yang dilakukan oleh Afandi? Dari tadi Afandi terus saja mengatakan hal-hal yang harusnya bisa dia sampaikan sebagai ayah. Seharusnya Afandi bilang dari tadi kepada Ana kan kalau dia mengenali Ana. Mengapa sekarang malah jadi seperti ini? "Menurutku sebaiknya aku menunggu berita saja akan penemuan jasad ayah. Bukankah besok sudah ada beritanya." Ana sebenarnya tidak yakin kalau kematian Afandi akan tersebar di media karena ayahnya itu bukanlah siapa-siapa. Tidak ada yang peduli juga dengan kematian ayahnya itu. Ana bahkan tidak tahu dimana dia lahir sebenarnya. Ingatan yang Ana miliki hanyalah saat dia diperlakukan dengan buruk oleh keluarganya itu. Yah mungkin malam ini Ana bisa tidur saja kan karena tidak ada juga yang bisa dia lakukan. *"Edna masih belum ditemuka
"Patrik, adiknya baru datang kok langsung disapa dengan sapaan kayak gitu sih! Gak sopan lho kamu itu." Wajah Claudia terlihat memerah karena merasa marah. Claudia takut kalau Edna merasa tersinggung dan tidak pantas untuk berasa di rumah ini. Claudia takut Edna akan meninggalkan keluarga Hariman sungguhan dan benar-benar bergantung pada Jagad. Ah itu benar-benar mengerikan. Patrik segera menetralkan raut wajahnya lalu perlahan mendekati Ana. "Edna, kamu disini dari kemarin kah?" Sekarang sudah pukul 10 pagi dan Patrik tidak tidur dari semalam. Sungguh matanya ini tidak bisa diajak untuk kerja sama agar tetap terbuka. Rasa kantuknya benar-benar besar hingga dia berniat untuk tidur di rumah sebentar. Namun tanpa diduga Edna yang sedang dicari-cari malah ada di rumah keluarga Hariman. "Adikmu itu baru saja sampai lho. Sudahlah, kalian berdua tidur saja ya. Mama mau ngerjain pekerjaan mama di ruang kerja mama. Ah, nggak. Mama mau baca buku saja di perpustakaan. Edna, Patrik, kalian yan
Jagad tidak mengira Ana yang dia jadikan sebagai boneka untuk mempermudah tujuannya malah memberontak seperti ini. Jagad tahu bahwa Ana adalah orang yang plin plan sehingga Jagad harus memberikan ketegasan pada Ana. Namun Jagad sungguh tidak mengira kalau Ana bukan hanya plin plan tapi juga tidak punya kesetiaan kerja. Apa yang salah dari perlakuan Jagad? Seingat Jagad dia sudah memberikan semua kemewahan yang harusnya disukai oleh Ana yang miskin seperti itu. Segala fasilitas dia dukung dan apapun yang Ana ingin lakukan asalkan tidak bertentangan dengan rencana Jagad pun akan Jagad terima. Nyatanya tidak seperti itu. Apakah Ana adalah orang yang mudah luluh dengan kasih sayang orang lain hingga akhirnya Jagad harusnya memberikan kasih sayang juga? Tidak, Jagad tidak terlatih untuk memberikan hal semacam itu kecuali kepada Edna. Jagad pun tidak yakin apakah kasih sayang yang dia berikan pada Edna itu sudah sesuai dengan kasih sayang normal manusia pada umumnya. "Gila. Ana benar-benar
Ana tahu ucapan Edric ini amat berbahaya. Sebaiknya Ana segera berhenti dan tidak membahas hal ini lagi. Ini akan lebih baik untuk Ana juga. "Walaupun kita gak ada perasaan cinta satu sama lain kok rasanya tetap gak etis ya kamu ngomongin cewek lain. Sudahlah, aku capek banget sekarang ini. Sekarang aku mau istirahat saja. Kamu memangnya gak mau istirahat sekarang?" Ana dengan langkah yang terburu-buru mulai mengalihkan pembicaraan. Bukan hal yang baik kalau Edric sampai mengungkit hal semacam itu. "Yang mancing-mancing kan juga kamu ini tadi. Ya sudah kamu sendiri maunya gimana? Kita stop pembicaraan ini? Lalu besok kamu masih mau kerja di tempat itu? Kalau kamu gak mau juga gak masalah lho. Aku akan carikan tempat lain untuk kamu supaya kamu bisa bekerja lebih nyaman. Aku tahu kalau Leo mungkin saja akan mencari-cari alasan untuk datang ke tempat itu. Selain memang untuk menganggu kamu tapi dia juga menjalani hubungan istimewa dengan Nata." Edric memberitahukan Ana sesuatu yang la
Edric terdiam lama saat mendengar pertanyaan Ana dan kemudian menjawab dengan santai. "Yah aku Edric, Edna. Edric yang dikenalkan sama keluarga Sastrawidjaja untuk menikah dengan kamu. Kamu berharap aku ini siapa?" Edric mengakhiri pertanyaannya dengan tawa geli. Tawa yang sayangnya tidak membuat Ana ikut merasa lucu karena dia merasa ada yang aneh disini. "Aku gak berharap kamu siapa-siapa. Aku cuma berharap kamu Edric yang seperti aku kenal. Edric yang mau membangun hubungan baik dengan aku tanpa ada rasa permusuhan di pernikahan ini. Ya walaupun aku tetap tidak paham kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu tetap apa ya? Kenapa sikap kamu terlalu baik? Buatku itu aneh sekali. Aku gak tahu kenapa dibanding menjaga hubungan dekat supaya tidak bermusuhan aku menganggap kamu seakan melakukan pernikahan ini dengan sungguhan bukannya seperti pernikahan yang dijodohkan." Ana tahu tata kalimatnya berantakan dan entah bisa dipahami atau tidak oleh Edric. Tapi Ana hanya menyampaikan apa yang a
"Aku beneran gak tahu na kalau Leo jadi investor di tempat itu. Tempat itu seperti yang Nata bilang ke kamu, aku gak peduli sama sekali. Aku menempatkan kamu disitu karena aku ingin kamu belajar dulu dari tempat yang gak menguntungkan. Aku beneran gak punya maksud apapun kok untuk itu. Aku benar-benar minta maaf ya, na. Sumpah aku gak tahu dan beneran minta maaf." Edric yang tahu soal kejadian tidak menyenangkan dari Nata tanpa aba-aba langsung meminta maaf pada Ana yang sedang merebahkan dirinya di atas kasur. Kejadian di kantor tadi bisa dibilang telah membuang seluruh tenaganya menjadi tidak bersisa. "Kenapa sih? Kenapa juga kamu harus meminta maaf? Aku juga tahu kalau tempat itu gak kamu urus karena orang-orang disana sudah ngasih tahu. Jadi gak perlu minta maaf soal itu. Lagian gak usah lagi lah dibahas soal itu. Aku saja mau melupakan itu kok. Lah ini kamu malah membahas hal itu lagi." Ana tahu Edric adalah tipe yang langsung menjelaskan inti permasalahan tapi masalahnya disini
Apa hubungan antara Edric dan Leo? Bukannya harusnya Edric tahu kalau dirinya dan Leo ini bisa dianggap sebagai musuh bebuyutan. Bagaimana mungkin Edric menyuruh Ana untuk bekerja di tempat yang sama dengan Leo? Walaupun kemungkinannya mereka akan jarang bertemu tapi tetap saja kan ini menyebalkan sekali namanya. "Ah, Edna. Untuk urusan investor disini aku yang mengurus. Tempat ini kebetulan tidak terlalu disukai oleh Edric sehingga dia tidak terlalu peduli. Oleh karena adanya Leo disini karena persetujuanku, buat persetujuan Edric." Nata menjelaskan situasi yang terjadi hingga mampu menghilangkan kesalahpahaman yang sempat Ana pikirkan. "Aduh. Kenapa kamu harus menjelaskan hal seperti itu sih? Kesannya itu adik ipar... oh salah, mantan adik ipar itu gak suka sama aku kan. Kesannya kami punya hubungan yang buruk. Padahal hubungan kami baik-baik saja. Bukan berarti Edna bercerai dari Jagad lantas membuat hubungan kami juga jadi ikutan memburuk. Itu salah besar, Nata." Leo dengan seny
Saat ini Nata dan Ana berjalan bersebelahan. Kalau berjalan bersebelahan begini mereka mau bicara apa sebenarnya. Apa nanti kalau Ana melakukan kesalahan yang fatal. Bagaimana kalau nanti karenaAna tidak mengerti apapun ya jadi yang dia kerjakan pada umumnya akan jadi tertawaan sih kalau menurut pikiran buruknya yang selalu punya firasat negatif. "Sebenarnya sih kalau dibilang staf magang itu kurang terima karena pekerjaan kamu itu menjadi model suatu produlk. Kamu kan cantik jadi sangat sesuai dengan hal itu. Edric pandai memanfaatkan situasi yang ada dengan memanfaatkan istrinya." Nafa dengan suaranya yang terdengar ramah sekaligus tegas telah berhasil membuat Ana merasa terusik. Kata-kata cantik ini adalah kuncinya. Kamu yang punya kekuatan seperti itu harus bisa memanfaatkan hal tersebut dengan baik kan pasti. Nah jadi mulai sekarang kamu harus percaya diri dan melakukan segalanya yang terbaik dengan rasa percaya diri itu ya. Aku gak mau setiap kita bertemu untuk melakukan perte
"Edna, tadi kamu lari begitu karena apa? Aku minta maaf kalau kamu kaget dengan kedatangan Nata. Nata mungkin bikin kamu gak nyaman ya sampai akhirnya kamu pulang. Kamu bisa jelasin apa yang bikin kamu gak nyaman sama Nata?" Edric pulang malam dan mendapati Ana sudah merebahkan dirinya di kasur. "Gak ada yang bikin gak nyaman kok. Aku tuh cuma kaget saja. Nata itu kan wajahnya cantik, pembawaannya mahal. Pasti dia dari kalangan sosialita juga kan. Aku cuma gak enak karena orang terhormat seperti itu malah harus mengajari aku. Aku merasa gak nyaman saja sih." Ucapan Ana memang perlu dikonfrontasi. Pada awalnya Ana bilang tidak ada hal yang membuatnya tidak nyaman. Tapi diakhir dia bilang dia merasa tidak nyaman karena bagi Ana si Nata itu terlihat sangat terhormat. "Owh jadi kamu merasa gak nyaman karena itu. Nata itu gak se wah yang kamu bayangkan kok. Nata memang butuh pekerjaan ini karena dia butuh uang. Lagipula seandainya dia adalah orang dari kalangan sosialita memang kenapa? A
Wajah Edric terlihat datar. "Nata, jangan melewati batas. Tugas kamu disini adalah membuat Edna bisa beradaptasi dengan pergaulan kelas atas. Kalau memang dia sudah memutuskan untuk menjadi Edna maka gak ada alasan untuk aku menghalangi keinginannya itu. Harusnya kamu sudah paham akan hal itu bukan? Kenapa hal seperti ini saja kamu tidak mengerti sih?" Edric terlihat geram dan tak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Nata. "Yah tugas aku memang hanya itu saja kok. Aku paham akan hal itu. Hanya saja melihat orang yang dengan tidak tahu malunya mengambil identitas orang lain itu cukup membuatku terganggu. Kamu masih mencintai orang itu? Sadar gak kalau dia bukanlah Ana yang sama dengan Ana yang menemani masa kecil kamu? Dia adalah Ana yang benar-benar berbeda, Edric. Kamu harus paham akan hal itu mulai hari ini. "Aku sudah paham sejak awal. Sejak aku dinikahkan dengan dia aku sudah paham dengan siapa yang aku nikahi. Kamu pikir aku mau menikahi Edna yang asli? Tentu saja tidak. Aku
Sosok yang dimaksud oleh Edric ternyata adalah orang yang benar-benar di luar perkiraan Ana. Dari tampangnya sih kelihatan sekali kalau orang ini adalah orang yang judes? Ya mungkin semacam itu. Bagaimana cara Ana bisa percaya dengan orang ini coba? Belum apa-apa saja Ana sudah merasa takut dengan manusia yang satu ini. "Edna, dia adalah Nata. Nata ini adalah orang yang sangat paham dengan pergaulan kelas atas. Nata yang akan mengajarkan kamu gimana cara bersikap dengan baik. Intinya Nata akan mengajarkan kamu bagaimana caranya untuk bisa bersosialisasi dengan baik di masyarakat ini. Oleh karena itu kamu gak perlu khawatir lagi ya. Semuanya akan baik-baik saja kok setelah ini." Edric memberikan senyum yang sebenarnya menenangkan untuk Ana. Tapi masalahnya adalah di Nata. Nata ini kelihatan sekali bukan orang yang akan mudah dihadapi. Ana harus mengambil sikap seperti apa terhadap Nata? Apakah Ana harus diam saja begitu? Tampaknya tidak bisa sesederhana itu. "Edna, aku diminta oleh E
"Cerita ini beneran? Bukannya aku gak percaya sama kamu sih. Tapi selama aku temenan sama Marchelia aku gak pernah dengar nama Yudhis. Aku bahkan gak tahu kalau dia punya adik." Edric dan Marchelia adalah orang yang sama-sama baru dikenal oleh Ana. Untuk itulah Ana tidak tahu lagi dirinya harus percaya kepada siapa. "Kalau kamu punya saudara pembunuh apa iya kamu mau mengakui dia? Anggaplah kamu mau mengakui dia nih. Tapi masalahnya itu kalau saja hubungan kalian berjalan dengan baik kan? Kalau hubungan kalian saja gak berjalan dengan baik apa iya masih sudi untuk mengakui saudara seperti itu? Kalau aku sih gak akan sudi ya. Label gelap semacam itu sampai kapanpun akan tetap melekat, Edna. Tidak peduli bagaimanapun juga kamu tetap akan dikenang dengan label buruk semacam itu. Begitu juga dengan Yudhis. Karena kepala keluarga Sastrawidjaja sekarang adalah Yudhis maka Yudhis masih beruntung bisa punya nama belakang keluarganya. Keluarga besar sudah menolak kehadiran Yudhis tapi pada ak