Sementara dirinya sendiri jika tidak mendapatkan jatah dari Bu Mega, akan melampiaskan pada istri keduanya. Lelaki butuh itu. Sesuatu yang terkadang tidak bisa ditunda dan dikendalikan. Makanya beberapa laki-laki melepaskan keinginannya di Dolly, sebuah tempat prost*t*si yang terbesar di Asia Tenggara. Namun sekarang tempat itu sudah diubah menjadi tempat wisata religi. Dolly, Moroseneng, atau di Kembang Kuning tempat laki-laki hidung belang mencari kenikmatan. Karena ingin mencari sensasi, tidak mendapatkan perhatian dari istrinya, atau karena dasarnya lelaki brengs*k.Tujuh bulan waktu yang cukup lama bagi lelaki menahan diri. Lalu apa dia akan bilang pada Yoshi 'jangan sentuh Anastasya'.Posisinya sebagai lelaki yang berpoligami, membuatnya lemah untuk bertindak keras pada Yoshi. Tidak lagi punya wibawa untuk membela putri-putrinya. Sungguh memalukan. Benarkah ini karma?"Papa harus pulang, Sa. Kamu jaga diri baik-baik," ucap Pak Bastian. Kalimat yang menyentil perasaan Yoshi. Seo
(Bukan) Istri Pilihan - Frustasi Author's POV "Apa yang harus mas lakukan?" tanya Yoshi lagi dengan tatapan penuh pengharapan."Aku sebenarnya sudah bilang kalau memaafkanmu kan, Mas? Aku sudah memaafkan dan aku memilih mundur. Mas, nggak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dariku. Bahkan aku juga nggak meminta syarat, akan memaafkan dengan imbalan perceraian. Aku memaafkan, Mas. Dan aku minta tolong segera selesaikan perceraian kita. Talak ada di tangan, Mas. Kurasa nggak susah untuk mengatakannya. Aku tunggu itu loh!"Tenggorokan Yoshi tersekat. Seolah ada benda sebesar bola pingpong menyumbat di sana. Berulang kali ia minum air putih untuk melonggarkannya. Dalam dada juga terasa sakitnya."Empat tahun Mas sudah nyaman dengan apa yang kalian lakukan di belakangku. Jika sekarang aku yang memilih untuk menyudahi, bukankah ini memudahkan Mas untuk pergi. Mereka menunggumu.""Mas akui kalau salah, Nas. Tapi nggak akan ada perceraian di antara kita. Tolonglah beri mas kesemp
Anastasya tidak berkata apa-apa. Setelah melepaskan genggaman tangan sang suami, dia langsung masuk mobil dan duduk di bangku tengah. Fauzi tersenyum pada Yoshi kemudian duduk di belakang kemudi."Bu, saya minta nomer ponselnya Ibu." Yoshi mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Bu Eri bingung. Dikasih atau tidak. Karena tidak enak kalau menolak, akhirnya wanita itu menyebut sederet angka."Makasih, Bu.""Kami pergi dulu, Nak Yoshi. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Bu."Bu Eri duduk di sebelah Anastasya dan mobil bergerak meninggalkan halaman apartemen. Yoshi memperhatikan kepergian sang istri dengan perasaan frustasi. Inilah puncak di mana ia takut kehilangan Anastasya. Belum pernah istrinya berkata seperti tadi. Mengungkapkan semua hal yang menguliti Yoshi.***L***Yoshi masih di kantornya. Duduk berdua bersama Egi. Sidang perkara perdata di mulai jam sepuluh pagi. Jadi masih ada waktu untuk mereka ngobrol berdua. Bukan membahas kasus yang akan dihadapi nanti, justru
(Bukan) Istri Pilihan - Di mana dia?Author's POVSepertinya Fauzi telah mematikan akses lokasi pada Google di handphone ibunya. Juga pengaturan lokasi pengguna. Rupanya sudah di antisipasi sebelumnya. Makanya tidak terlacak oleh Yoshi tentang keberadaan mereka sekarang ini.Bisa jadi sebelum ini, Fauzi sudah tidak mengaktifkan lokasi. Agar tidak terlacak oleh ibu tirinya. Walaupun Bu Mega tidak pernah kelayapan mencari dan bertemu dengan ibu Eri. Tapi memendam perasaan masing-masing, itu seperti ancaman dan menyimpan api dalam sekam. Yang sewaktu-waktu bisa meledak, membakar, dan membumihanguskan semua yang ada.Dalam pandangan Yoshi, Fauzi ini pemuda yang luar biasa. Tidak jumawa ketika mendapatkan seorang ayah sambung seorang jutawan. Menyimpan luka, menyembunyikan perasaan sebenarnya yang menolak jika ibunya menjadi wanita kedua. Namun sebagai anak, ia menghormati keputusan itu. Mungkin Pak Bastian adalah kebahagiaan yang selama ini dicari ibunya. Seringnya bertemu, menumbuhkan s
"Apa kamu yang ngajarin Ayun agar bilang kalau Anastasya itu Tante jahat?"Mayang kaget dan spontan berubah pias. "Siapa yang bilang? Aku mana mungkin ngajarin Ayun seperti itu," sangkal Mayang."Mungkin Nastasya salah paham padaku, Mas. Dia kan yang ngomong gitu?""Bukan.""La-lalu siapa?""Ayun sendiri yang ngasih tahu aku. Kamu dan neneknya yang ngajarin dia ngomong seperti itu."Wajah Mayang merah padam. Malu, takut, dan tentu saja khawatir. Jika Yoshi percaya omongan Ayun, apa yang berusaha ia tutupi selama ini, usahanya untuk mendapatkan Yoshi kembali, tidak akan pernah ia bisa raih lagi."Itu hanya omongan anak-anak, Mas." Mayang mengalihkan pandangan ke luar kafe. Wajahnya pias."Anak-anak nggak mungkin berbohong kecuali sudah di dikte, May. Aku terlalu mempercayai kalian hingga membuatku tidak mempercayai Anastasya. Padahal dia istriku sekarang. Dia sedang hamil tujuh bulan."Mayang menatap Yoshi. Kaget bercampur kecewa. "Jadi beneran dia hamil?""Ya."Hening. Mayang mulai gu
(Bukan) Istri Pilihan - Kidung SunyiAuthor's POVAnastasya diam memandang ponsel yang diulurkan oleh Bu Eri. Kenapa ibu tirinya menerima telepon dari Yoshi. Padahal tadi siang ia sudah bilang kalau tidak perlu menerima panggilannya. Tapi, Anastasya melihat itu nomer berbeda.Fauzi yang duduk di sebelah sang ibu memandang Anastasya sekilas. Kemudian mengalihkan perhatian pada layar televisi yang menyala."Maaf, ibu terlanjur menjawabnya tadi," ucap Bu Eri lagi."Nggak apa-apa, Bu." Anastasya mengambil ponsel. Kemudian dengan susah payah ia berdiri di bantu Bu Eri. Kehamilannya seolah tidak seimbang dengan ringkihnya badan. Wanita itu masuk kamar dan duduk di tepi dipan."Halo.""Sayang, kamu di mana?" Terdengar Yoshi tidak sabar untuk segera tahu keberadaannya. Nada suaranya terburu-buru dan terdengar cemas."Aku di Malang.""Malangnya di mana?""Aku nggak tahu. Kami ada di rumah keluarga ayahnya Mas Fauzi.""Besok mas longgar. Kasih alamatnya, besok mas akan susul kalian."Anastasya
Mungkin Bu Mega makin marah karena Anastasia dekat dengan dirinya dan sang ibu. Yang notabene dianggap rival olehnya. Andai bisa memilih, Fauzi tidak ingin menjalani hidup seperti ini. Seandainya dulu dia sudah besar dan bisa mencukupi kebutuhan ibunya, tidak akan membiarkan sang ibu menjadi wanita kedua.Namun jujur saja. Ia melihat Pak Bastian dan ibunya sangat bahagia meski tidak tentu waktunya untuk bertemu. "Mama tuh sayangnya cuman sama Mbak Lidia dan Mbak Sinta, Mas. Sejak kecil aku sudah biasa di marahi, di maki, kalau buat salah atau lambat mengerjakan sesuatu. "Seandainya aku pinter, aku pengen jadi psikolog. Aku bisa menentukan keputusanku sendiri untuk membantu orang lain. Pilihan kedua aku pengen jadi guru Taman Kanak-kanak. Tiap hari berkumpul bersama anak-anak di sekolah. Tapi mama menentangnya. Aku juga sempat memilih untuk mondok saja. Mama nggak merespon dan malah bilang alangkah baiknya kalau aku segera menikah.""Mas Yosh itu baik. Ganteng lagi." Anastasya terkek
(Bukan) Istri Pilihan - Terserah Author's POV"Pa, kenapa papa nggak ngasih tahu kalau Nastasya hamil? Kenapa diam saja selama ini?" tanya Bu Mega pada sang suami yang berada di ruang kerjanya.Jam sembilan pagi tadi, Pak Bastian baru tiba di rumah setelah dua hari ada pekerjaan di Jakarta. Bukan disambut hangat, langsung dicerca pertanyaan."Mama, tahu dari mana?""Jeng Nana yang cerita." Bu Mega duduk di kursi depan suaminya."Sudah tau hamil kenapa masih keras kepala nggak mau pulang ke suamiya. Memangnya dia bisa menjalani semuanya sendirian? Papa juga diam saja."Pak Bastian meletakkan buku yang dibacanya di atas meja. Kemudian serius memandang sang istri. "Apa pernah Mama bertanya keadaan Sasa? Kalau pun bertanya, hanya untuk marah-marah saja. Menyalahkan Sasa tanpa ngasih kesempatan padanya untuk membela diri.""Dia terlalu berani karena Papa selalu ada di belakangnya. Apa dia pikir, semuanya bisa di selesaikan sendiri. Selain Papa, ada juga yang mendukungnya. Jangan Papa kir
Baru tiga menit memejam, pintu kamar perlahan terbuka. Lidia muncul dari sana. Agung kembali duduk."Kutelepon nggak kamu angkat tadi," ujar Agung. "Aku lagi meeting, Mas. Selesai meeting kutelepon nomer Mas nggak aktif. Aku telepon rumah, katanya Mas sudah pulang." Lidia menjelaskan seraya melepaskan blazer yang dipakainya."Ponselku kehabisan baterai tadi."Agung menarik lengan istrinya supaya duduk di dekatnya. "Aku mau mandi dulu, Mas. Terus nyiapin pakaian. Setelah Lili pulang ngaji kita langsung berangkat, kan?""Iya. Kalau gitu kita mandi bareng.""Jangan. Biasanya Lili nyelonong masuk setelah pulang ngaji. Mas, duluan saja yang mandi. Biar aku nyiapin pakaian." Lidia membuka lemari. "Aku sudah bilang ke mbak yang nganterin Lili ngaji. Kita akan ngajak dia staycation sore ini," kata Agung sambil melepaskan kancing kemeja."Kenapa ngajak si mbak, Mas?""Aku sudah booking dua kamar. Tidak mungkin kita biarkan Lili tidur sendirian, kan?"Lidia diam sejenak. "Mas, memang nggak
(Bukan) Istri Pilihan - Cinta yang Indah Author's POVMobil Agung langsung masuk ke dalam carport rumahnya. Hujan masih deras mengguyur malam. Mereka turun. Agung membuka pintu samping yang terus terhubung dari area carport ke ruang keluarga.Masuk ke dalam suasana rumah sepi. Ruang tamu hanya ada lampu malam yang menyala. Setelah mengunci pintu, ia menggandeng tangan istrinya menaiki tangga. "Mbak ART ke mana, Mas?" tanya Lidia sambil melangkah di samping suaminya."Aku suruh pulang sore tadi. Selama tiga hari dia nggak akan ke sini. Kita habiskan waktu tiga hari hanya berdua saja," jawab Agung sambil memandang sang istri. Tatapannya begitu jahil dan menyiratkan rencana besar dalam benaknya.Lidia bisa menangkap apa yang akan terjadi tiga hari ke depan. Siap-siap saja kalau ia akan dibuat tak berdaya oleh Agung.Mereka berdua masuk kamar. Agung mengunci pintu. Meski tiada sesiapa di sana, ia tidak ingin dibuat was-was. Kamar menguarkan wangi vanila, aroma kesukaan Lidia. Harumny
Usai makan malam, Pak Bastian, Bu Mega, Lidia, dan Agung duduk di ruang keluarga. Sedangkan Lili sedang belajar bersama guru lesnya di ruangan lain yang biasanya digunakan juga untuk bersantai karena langsung menghadap ke taman samping yang ada miniatur air terjun di sana."Papa dan mama merestui kalian berdua jika ingin rujuk. Segera menikah, sama-sama saling mendukung dan memperbaiki diri. Menjadi orang tua yang bisa jadi panutan anak kalian. Tapi papa menyarankan, Agung tetap mengajak Lidia untuk menemui kedua orang tuamu. Minta restu apapun tanggapan mereka. Yang terpenting pada orang tua, jika nggak ingin bertemu keluarga yang lain.""Bener apa kata papamu. Kalian berdua tetap harus menemui kedua orang tuamu, Gung." Bu Mega setuju dengan pendapat sang suami. Apapun tanggapan mereka, yang terpenting tetap meminta restu."Kapan rencana kalian akad nikah?" tanya Pak Bastian."Minggu depan, Pa," jawab Agung spontan. Membuat Lidia menatapnya karena kaget. Sebab mereka belum membahas t
(Bukan) Istri Pilihan - Akad Nikah Author's POV"Beneran kamu mau rujuk sama Lidia? Kamu nggak dengar mama bilang apa sama kamu?"Agung masih diam mendengarkan kemarahan sang mama, saat ia memberitahu akan rujuk dengan Lidia. Sedangkan -Pak Ringgo- papanya diam menatap layar televisi yang menampilkan acara berita."Kenapa kamu keras kepala? Sedangkan keluarga sudah sepakat dengan perjodohanmu dan Grace.""Sejak awal aku nggak setuju dengan rencana, Mama. Aku hanya akan menikah lagi dengan Lidia. Kami punya Lili, Ma. Keluarga setuju atau pun tidak, aku akan kembali menikahi Lidia."Bu Ringgo menatap marah pada putranya. "Mengenai Lili, kamu kan masih bisa menemuinya. Atau ambil dia dan ajak tinggal bersamamu."Tidak semudah itu. Apa mamanya pikir, Lidia akan diam saja kalau Lili diambil darinya?"Kamu nggak ingat apa yang terjadi dua tahun kemarin? Kita harus menanggung malu atas semua yang terjadi," lanjut Bu Ringgo."Itu salahku, Ma," bantah Agung. "Bahkan keluarga Lidia yang telah
"Mas mau meeting di kantor papa nanti jam dua. Makanya mas mampir pulang dulu." Yoshi mengusap pipi Yasha dan mengecupnya. "Yusa, mana?""Barusan tidur.""Kamu belum makan?" Yoshi memandang piring yang masih berisi penuh di atas nakas."Belum. Mau makan keburu Yasha nangis."Yoshi mengambil piring. "Mas suapi."Anastasya makan dari tangan Yoshi hingga makanan di piring tandas. Yasha kembali terlelap dan ditidurkan di atas tempat tidur. Untuk sementara ini kedua anaknya memang tidur di pisah. Khawatir akan saling ganggu jika salah satunya terbangun lebih dulu."Mas, mau makan apa sholat zhuhur dulu?" Anastasya bangkit dari duduknya."Mas sudah sholat sebelum masuk kamar tadi.""Ya udah, kalau gitu aku ambilin makan dulu." Anastasya keluar kamar dan kembali dengan nasi, lauk, potongan buah semangka, dan minum di nampan."Makasih, Sayang." Yoshi mengecup kening istrinya. Kemudian duduk di karpet ditemani Anastasya."Besok mas ada seminar tiga hari di Malang.""Nginep?" tanya Anastasya un
(Bukan) Istri Pilihan - Kita Akan Menikah Author's POVLidia bangkit dari duduknya sambil membenahi ikatan kimononya. "Aku nemui Sinta dulu, Mas. Ada hal penting yang akan kami bahas." Selesai bicara Lidia langsung keluar kamar. Sedangkan Agung bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat jendela kamar. Menatap langit kelabu di atas sana.Sinta berdehem ketika Lidia masuk ke ruang kerja papanya. Ruangan yang lumayan luas. Ada meja panjang dengan kursi-kursi yang mengitarinya. Juga ada layar proyektor di sana. Biasa digunakan untuk meeting dadakan jika ada sesuatu yang harus dibahas segera."Pasti kamu mikir yang enggak-enggak tadi," ucap Lidia sambil duduk di depan adiknya.Dengan gaun se*si, tipis, dan dibalut kimono luarnya, rambut diikat asal-asalan dan terkesan semrawut, belum lagi wajah dan leher yang basah berpeluh, otomatis pikiran Sinta sudah terbang ke mana-mana. Apalagi jika ingat bagaimana Agung begitu agresif belakangan ini. Mereka manusia dewasa yang pernah hidup bersam
Sambil nyetir, Agung memperhatikan Lidia yang ketiduran bersandar pada jok. Wanita itu tidak bisa menahan kantuknya. Terbesit pula pikiran konyol ingin membawa Lidia pulang saja ke rumah mereka. Sampai mobil berhenti di depan pagar rumah, Lidia tidak terbangun. Akhirnya Agung pun bersedekap dan memejam, karena sudah ngantuk berat. Keduanya sama-sama tertidur hingga azan subuh berkumandang. Lidia yang terbangun lebih dulu, kaget dengan posisinya yang ternyata masih di dalam mobil. Di sebelahnya Agung masih lelap. Kenapa ia tidak dibangunkan ketika mereka sampai?"Mas." Lidia mengguncang pelan lengan mantannya.Dua kali panggilan, Agung membuka mata. Laki-laki itu menegakkan duduknya."Sudah subuh. Kenapa tadi malam mas nggak bangunin aku?""Kamu pules banget tidurnya."Lidia mengambil ponsel dari dalam tas, kemudian menelepon salah satu ART supaya membuka pintu pagar. Tak lama pintu pagar terbuka perlahan secara otomatis."Mas, aku turun dulu, ya. Hati-hati kalau nyetir," pesan Lidia
(Bukan) Istri Pilihan - Menikahlah Denganku Author's POVSuasana bahagia di restoran hotel sejam yang lalu berubah menjadi ketegangan di bangsal rumah sakit. Di akhir acara, Anastasya membisiki sang suami kalau perutnya terasa mulas tak tertahankan. Tanpa banyak bicara, Yoshi pamitan membawa Anastasya ke rumah sakit dan semua keluarga mengikuti. Sampai di rumah sakit sudah bukaan dua ketika diperiksa oleh bidan yang berjaga. Pak Bastian, Deny, Sinta, membawa anak-anak pulang. Sedangkan yang tinggal di rumah sakit, Yoshi, Bu Mega, Lidia, dan Agung. Jarak setengah jam kemudian Bu Nana dan Pak Yudi datang.Yoshi gelisah menemani Anastasya yang berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Ia ingat saat sang istri melahirkan anak pertama mereka waktu itu. Begitu menegangkan karena keadaan Anastasya yang sedang down. Malah sempat berwasiat pula pada kakaknya yang nomer dua. Semoga kali ini tidak ada drama lagi. Sekarang ini Yoshi menyarankan cesar, tapi Anastasya memilih lahiran pervaginam.
Bu Mega meninggalkan ruangan putrinya. Dia tidak bisa memaksa Lidia harus mengubah keputusannya. Biar putri sulungnya itu membuat keputusan sendiri. Walaupun sebagai nenek, ia sangat kashian pada Lili. Sebab dulu ia bertahan dengan rasa sakit demi melihat anak-anaknya tetap memiliki keluarga yang utuh. Sosok ayah yang ada untuk mereka. Broken home efeknya sangat luar biasa untuk psikologi seorang anak.Setelah sang mama pergi, Lidia membuka map yang diletakkan asistennya di atas meja. Namun jujur saja, pikirannya tidak bisa berkonsentrasi. Adakalanya ia ingin bisa hidup seperti kedua adiknya atau wanita lain di luar sana. Lifestyle yang sangat balance dan no overwork. Tapi kesendirian membuatnya gila kerja untuk menghilangkan kesepian.Sepertinya dialah penerus jejak nasib mamanya. Karena perselingkuhan papanya, sejak awal Lidia sudah dipersiapkan sang mama untuk menjadi wanita kuat, tangguh, dan mandiri. Persis seperti masa muda sang mama. Hanya saja, mamanya hidup dalam keluarga tan