Share

22. Mencari Nayra

Author: Kafkaika
last update Last Updated: 2025-02-16 18:02:17

“Mau apa?” Seorang petugas menahan Devran yang hendak ikut melihat korban.

“Kalau  tidak ada kepentingan tidak boleh mendekat!” bentak pria itu sembari menghalau beberapa orang yang masih bandel tidak mau pergi.

“A-aku suaminya, Pak!”   

“Kau suaminya?” serempak beberapa orang yang tadi menyingkir dari kerubungan menatap Devran dengan sungguh heran.

“Benar, karenanya izinkan aku melihatnya. Aku punya hak untuk melihatnya...” Dengan percaya diri Devran mengakuinya. Padahal dia juga tidak begitu yakin.

Biar saja, yang penting dia bisa melihat wanita itu dan tidak mati penasaran.

Melihat kesungguhannya seorang petugas memberi kode agar membiarkan Devran melihatnya. Siapa tahu memang dia adalah suami korban laka itu.

Selangkah lagi mendekati tubuh yang te

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Kafkaika
ikuti terus kak,,,
goodnovel comment avatar
Kafkaika
terima kasih kak, ...... siap.........
goodnovel comment avatar
hanna es
pantes sih devran sama ODGJ, jaharaaaa dia
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   23. Hipotermia

    “Jangan melompat. Airnya deras. Kau bisa mati kalau melakukannya!” suara pria brandalan itu mengingatkan Nayra.Gadis itu sudah lelah dan putus asa. Dilihatnya arus yang deras di bawah sana. Dia tidak takut.Kakinya sudah memanjat pagar beton itu untuk bersiap terjun ke sungai. Dipejamkannya matanya erat-erat, seolah melihat bayangan bundanya melambai-lambai di ujung sana memanggilnya.“Aku datang, Bunda...” gumamnya sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke dalam sungai.Namun sebelum itu terjadi sebuah tangan menarik tubuhnya dan memeluknya erat.“Lepasin, jangan sentuh aku...” teriaknya merusal sebelum akhirnya semua terlihat gelap dan sunyi...Ketika matanya mulai terbuka, Nayra melihat langait-langit putih di atasnya.“Apa aku sudah meninggal?” gumamnya sendiri.Dia baru menoleh ke sekitar dan tempat ini benar-benar asing baginya.Tapi satu yang Nayra sadari, dia tidak sedang berada di alam lain tapi sebuah kamar yang sunyi hingga suara detakan jarum jam dinding bisa terdengar di t

    Last Updated : 2025-02-17
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   24. Hipotermia(2)

    “Sudah beres, Mas. Aku sudah melaporkan dua wanita itu ke kantor polisi.” Musa memberikan laporan apa yang sudah dikerjakannya.“Bagus. Oh, ya, Om. Jangan dulu memberitahu mama atau papa tentang Nayra. Biar nanti aku beritahu sendiri.” Devran mengingatkan Musa.Meski mamanya yang paling bawel agar dia punya kekasih yang dikenalkan padanya, tapi Devran tahu wanita itu sangat perfeksionis. Tidak mau sembarangan memilih calon menantu.“Bukan karena alasan pernikahan yang dadakan itu, kan?” Musa bertanya. Dia sedikit sudah diberitahu Devran tahu tentang hal itu.“Maksud, Om?” Devran bertanya balik apa yang dimaksudkan Musa.Musa tertawa dan menepuk pundak anak muda itu. Sejak dia kecil, Musa sudah bekerja untuk papanya. Lebih sering mengawal anak muda ini saat dulu masih bandel-bandelnya. Jadi sedikit banyak mengetahuilah tentang karakter Devran.“Mas Devran tidak pernah seperhatian ini pada wanita lain selain sama Mbak Damay. Kalau sekarang Mas Devran kembali memberikan perhatian pada w

    Last Updated : 2025-02-17
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   25. Temani Aku Tidur

    Nayra sudah memejamkan matanya karena merasa Devran akan menciumnya. Posisi wajah mereka sudah dekat sekali. Bahkan ujung hidung mereka saling bersentuhan. tiba-tiba pria itu berkata, “Ada paku, hampir mengenai kakimu!”Mata yang tertutup itu seketika terbuka. dan wajah yang menegang itu pun memudar, terganti perasaan sebalnya. Padahal Nayra Sudah merasakan deg-degan sekali. seperti saat dicium pria ini sebelumnya.Tapi kalau ingat hal itu dia jadi sedih. Dicium di pagi harinya, lalu di siang harinya hatinya berbunga-bunga, dan di sore harinya dia di tuduh mencuri. Ini seperti perasaannya sedang diroller-coasterkan. Naik setinggi-tingginya, lalu diturunkan serendah-rendahnya.“Iya, Mas. Terima kasih!” ujarnya sembari bangkit dari pangkuan Devran.Dia memang melihat paku di lantai kayu itu mencuat dan bisa saja menyakiti kakinya. Nayra seharusnya tidak bepikir kalau Devran mau menciumnya lagi.Bisa-bisaya masih saja berharap Devran menciumnya?*** Hari berlalu begitu-begitu saja k

    Last Updated : 2025-02-17
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   26. Manisnya Asmara

    “Yang ini lebih gemoy dan empuk. Rasanya lebih enak.”Nayra menyodorkan bakpao pada Devran saat mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar di sekitar vila.“Enggak ada bedanya, sama saja!” Devran melahap makanan itu ke dalam mulutnya.“Itu karena mas kurang menikmati esensi rasa sebuah makanan. Padahal, dari harganya saja sudah beda. Bahan pembuatnya pun beda. Tidak mungkin kalau rasanya sama.” Nayra mencebik melirik pria yang melahap makanan itu. Sama makanan juga dia jutek abis.“Tidak perlu diperdebatkan. Lidahku dan lidahmu beda. Jadi jangan memakasakan pendapat dari sudut pandangmu.” “Ya, deh. Terserah!” Nayra memutar bola matanya, tak mau mempersoalkan lagi. Perkara bakpao doang kenapa bahasnya jadi dalam begitu.Mungkin karena sembari menggerutu dalam hati, saat makan Nayra sampai seret di tenggorokan hingga membuatnya cegukan.Devran langsung bangkit dan membelikan air mineral untuknya. Membukakan tutup botol itu dan membantunya minum.Perasaan Nayra terasa hangat mendapat pe

    Last Updated : 2025-02-18
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   27. Manisnya Asmara(2)

    Tengah malam Nayra keluar kamar karena merasa haus. Air minum dalam botolnya sudah habis dan dia lupa belum mengisinya.Saat membuka pintu tidak tahunya Devran masih berjibaku dengan pekerjaannya di ruang tengah.Melihat Nayra keluar dengan hanya memakai daster tali sedangkan tidak memakai apapun lagi di dalamnya. Mata pria itu nyalang.“Mau apa?” tanyanya pada gadis itu. Pasti tidak sadar tidak memakai kimononya saat keluar.“Mau ambil minum, Mas.” ujarnya lempeng dan berjalan ke arah galon untuk mengisi botolnya.Devran memperhatikan gerak-gerik gadis itu, lalu menghela napas.Bahu dan punggungnya terekspos saat rambut panjang yang tergerai itu melorot ke samping ketika Nayra membungkuk mengisi air.Belum lagi posisi yang seperti itu benar-benar secara tidak langsung menerbitkan pikiran yang tidak-tidak saja di kepala pria jablai ini.Gadis ini benar-benar mengujinya. Padahal dia sendiri yang tidak mau dimacam-macamin Devran.“Ambilkan juga aku segelas minuman.” Devran akhirnya tid

    Last Updated : 2025-02-18
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   28. Masalah Ranjang

    Nayra baru sadar kalau ponsel Devran tertinggal saat mendengar suara deringan dari benda itu.Mungkin masih di luar karena belum terlalu lama keluarnya. Jadi, Nayra mengambil benda itu dan melangkah dengan cepat untuk menyusul Devran.Namun sepertinya Devran sudah tidak ada.Sementara ponsel itu belum juga berhenti berdering.Siapa Arini? Apa teman kantornya?Nayra tidak mau tahu. Dia mau melanjutkan memasak lagi. Namun suara deringan ponsel itu masih juga terdengar. Sungguh sangat mengusiknya.“Aku angkat saja, deh. Nanti tinggal bilang sama Mas Devran.”Lalu ketika diangkatnya, Nayra mendengar suara lembut dari seberang sana.Deg! “Hallo, Dev. Maaf pagi-pagi udah nelpon. Tidak perlu sarapan di rumah, ya. Berangkat ke kantornya pagi-pagi kita bahas proyek kamu yang hampir selesai.”Oh. Urusan kantor. Nayra tanpa sadar menghela lega.“Maaf, Mas Devrannya sedang jogging. Nanti akan saya sampaikan.” Nayra menjawabnya.“Eh, bentar. Ini siapa?” suara dari seberang tampak heran.Sayang

    Last Updated : 2025-02-18
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   29. Wanita Lain

    “Tidak perlu semurahan ini. Aku bukan pria yang bisa menyenangkanmu!”Devran melepaskan rangkulan Arini dan mendorong wanita itu dengan sebal.“Hah, dasar kau ini. Aku jadi curiga, jangan-jangan kau tidak normal!”Arini yang untuk kesekian kalinya ditolak Devran merasa kesal. Tidak kurang dia menggodanya sepanjang waktu tapi pria itu benar-benar tak meresponnya.Bahkan pernah saat itu dia sengaja memberikan suplemen pria dewasa pada Devran. Ternyata Devran terlihat biasa-biasa saja.Kalau benar orientasi seksualnya sudah berubah, usahanya selama hampir setahun ini sia-sia belaka.“Anggap saja begitu. Jadi mending kau keluarlah dan urusi pekerjaanmu. Aku masih banyak kerjaan!”Devran meminta wanita itu keluar dari ruangannya. Hanya dia yang berani melakukannya pada pimpinan perusahaan cabang itu.“Jangan nglunjak. Kau tidak lupa kalau aku ini bosmu?!”Arini merasa pegawainya ini benar-benar kelewatan. Dia sudah dibilang murahan dan harga dirinya jatuh karena berulang kali ditolak. S

    Last Updated : 2025-02-19
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   30. Wanita Lain(2)

    “Tapi, aku memberinya saran agar melakukannya setelah mengenalkan Mbak Nayra ke keluarganya. Tidak mungkin keluarga Alana tidak mengadakan pesta pernikahan putra tunggalnya itu. Makanya, sekarang anggap saja pacaran dulu. Pacaran tapi sudah halal.”Musa terkekeh menyampaikan hal itu. sayangnya Nayra malah tampak gelisah dan gugup. Nayra hanya gugup mendengar kata keluarga. Terbayang, bagaimana kalau mereka tidak menyukainya?Ah. Kenapa belum apa-apa dia sudah berpikir yang jauh.“Tapi...”Nayra teringat kembali tentang kejadian di ruangan Devran tadi. Maunya meminta penjelasan tentang hal itu pada Musa yang katanya mengenal betul Devran.Namun, tidak jadi karena melihat Devran sudah berjalan mendekati mereka. “Eh, Mas Devran sudah selesai kerjanya?” Musa menoleh ke arah Devran yang baru datang.“Ya, Om. Ayo, Nay. Ikut aku!” Devran langsung menarik lengan Nayra mengikutinya keluar.Musa melihat mereka sembari tersenyum kecil dan geleng-geleng.Ada rasa sumringah sebenarnya yang mu

    Last Updated : 2025-02-19

Latest chapter

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   151.

    “Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   150. Kenyataan Masa Lalu(3)

    “Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   149. Kenyataan Masa Lalu(2)

    “Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   148. Kenyataan Masa Lalu

    “Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   147. Masalah Perusahaan(2)

    “Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   146. Masalah Perusahaan

    “Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   145. Mesra(2)

    “Ah, Mas?”Nayra menjambaki rambut kepala Devran yang terus menyerusuk di dadanya mencari kenyamanan diri. Tapi pria ini bukannya berhenti justru semakin bersemangat hingga seperti biasa Nayra menjerit-jerit dan menggelinjang. Tampaknya dia suka sekali mendengar Nayra mengeluarkan suara mesra itu di bawah kuasanya.Ciumannya tak cukup lagi di bibir, leher, dan dada. Tapi dengan nakalnya malah melorot semakin ke bawah.Nayra hampir meledak dibuai kelakuan pria ini. Tapi Devran mana mau melepasnya begitu saja kalau tidak sampai serak tenggorokan Nayra karena desahan jeritan manjalitanya.Beberapa gaya mereka coba eksplor, dari dengan berdiri, duduk, nungging, atau tiduran. Di bathtub, di meja, di sofa dan berakhir di tempat tidur, semuanya mereka lakukan dengan sama—sama bergairah dan menyenangkan.Hingga Nayra lemas, belum bisa mengimbangi tenaga pria ini yang sungguh bak kuda yang tak habis-habis. Tubuh Nayra kini jadi seperti jeli yang hanya bisa terkulai di tempat tidur karena

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   144. Mesra

    “Aku hanya mau sambang kantor cabang sebentar, Nay.”Devran mencoba melepas pelukan Nayra karena tidak membiarkannya bangkit dari tempat tidur mereka.“Katanya ke sini karena aku, kok masih kerja?” dengan manja Nayra masih menahan Devran. Seperti bocah kecil yang takut ditinggal emaknya.Devran terkekeh. Lalu dengan lembut mengelus punggung Nayra dan menciumi puncak kepalanya. Mereka beberapa hari ini selalu lengket berdua. Tahu Devran bilang mau menyempatkan ke kantor perusahaannya yang ada di kota ini, Nayra jadi sedikit bete.“Semalam masih belum puas, nyonya? Nanti deh aku puasin lagi sampai lemas. Sekarang aku kerja dulu ya...” bisik pria itu.Nayra langsung mendongak menatap Devran seolah menyangkal dia merajuk karena minta dikelonin pria ini. “Aku enggak minta begituan?”“Oh, yah?” Tatapan Devran tidak percaya.“Mas Devran tahu enggak kenapa aku tidak suka Mas Devran ke kantor? Itu karena aku ingat, dulu Mas Devran suka sekali peluk-peluk cewek di ruangan Mas Devran. Sekarang

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   143. Tentang Masa Lalu

    “Apa kau yang mengancamnya hingga harus meninggalkanku?” Tidak tahan Alana langsung mengintrogasi Tamara.“Siapa yang kau bicarakan?” Tamara menatap suaminya itu dengan heran. Walau dengan cepat otaknya menyambungkan bahwa Alana sedang membahas tentang istri ke duanya.Tamara juga sudah diberitahu Ludwig, bahwa Alana pergi ke Eropa beberapa bulan kemarin untuk mencari wanita itu. “Aku yakin kau bukan orang yang tidak tahu siapa yang aku maksudkan, Tamara.”Tamara justru tertawa kecil, melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu kini menatapnya dengan menahan geram dan rasa penasaran yang tinggi.Itu sungguh membuat Alana tersinggung.“Sekretaris cantikmu yang kau nikahi waktu itu kah yang kau maksud?” tanya Tamara.Alana merasa tak perlu menyahuti pertanyaan itu.“Bagaimana aku bisa mengancamnya, Alan? Dia sudah meninggal, kan?” dengan santainya Tamara mengingatkan hal itu.Alana juga sudah mencari tahu informasi itu bertahun-tahun sejak wanita itu meninggalkannya. Hingg

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status