“Berikan kunci mobilnya!” Claire menengadahkan tangan di depan wajah Reagan. Reagan menggeleng cepat tak terima. Tempo hari, Claire sama keras kepalanya seperti saat ini dan berakhir mereka celaka. Reagan tidak akan membiarkan itu terjadi.“Tidak, aku yang akan menyetir!” tegas Reagan memutuskan. Dia menarik tangan Claire, membimbing sang istri menempati kursi penumpang. Claire berdecak kesal. Dia hendak berdiri lagi setelah Reagan mendudukkannya di sana. “Jangan sentuh aku, Reagan!” Tetapi dia kalah cepat. Dua tangan Reagan yang kokoh sudah membenamkan bahu kecil Claire ke jok mobil. “Kita akan lebih aman jika aku yang menyetir,” kata Reagan. Kemudian memutari mobil duduk di balik kemudi. Ucapan Reagan barusan membuat Claire menelan ludah berat. Setelahnya dia tertawa miris, “Ya, aku akui kecelakaan kemarin adalah salahku.” Tangan Reagan sudah menutup pintu mobil, menggantung di udara. “Tolong jangan salah paham, aku tidak bermaksud menyalahkanmu,” kata Reagan merasa bersalah. “
Kedua tangan Reagan melindungi kepalanya. Masih dalam posisi terikat dengan sabuk pengaman di balik kemudi, dia baru berniat untuk membuka mata. Dia bukan pengecut, tetapi melibat insiden kecelakaan langsung di depannya, adalah hal yang mengejutkan. Dari balik kaca film depan yang retak sedikit, Reagan melihat sebuah truk tronton berhenti di depan mobilnya, menghalangi jalan dan pandangan dalam keadaan penyok di bagian muka. Tronton itu menghantam bagian depan mobil Reagan setelah menyeruduk empat mobil lain di jalurnya. Kepulan asap keluar berterbangan dari kap mobil, tetapi Reagan tidak peduli. Dia turun dari mobilnya dengan sedikit kesulitan, karena sedikit lagi tronton itu lebih dalam menabrak, dipastikan setengah dari kaki Reagan remuk. Reagan mengabaikan keberadaan truk itu. Sekilas melihat siapa sosok di balik kemudinya namun dia tidak menemukan siapapun.“Pengecut!” Reagan mengutuk. Karena truk ini, Reagan kehilangan jejak Mini Van misterius itu. Ketika Reagan berjalan menj
Seorang pria pemilik kaki panjang yang terulur di atas meja tertawa puas. Dia menjentikkan ujung cerutunya dengan satu jari lalu menghisap benda panjang itu hingga kilat bara menyala. “Kerja bagus! Dengan begitu keluarga Delanney akan berpikir dua kali untuk membalas kita. Keselamatan putrinya, ada di tanganku,” ucap pria itu. Tawanya membahana mengisi ruang kerja yang dipenuhi oleh barang-barang antik koleksi pribadi. “Kalian boleh pergi sekarang.” Pada dua orang di depannya, pria dewasa berusia 45 tahun itu berkata.“Baik, bos. Kami permisi dulu.” Dua pria berbadan kekar itu adalah orang-orang yang menculik Claire hari ini. Mereka mundur selangkah, kemudian berbalik meninggalkan ruang kerja sang bos besar. Mereka keluar dari bangunan tua yang menjadi markas sekelompok pengawal bayaran. Kemudian berjalan menuju mobil Mini Van yang terparkir tak jauh dari pelataran. “Target kita hari ini cantik juga. Tubuhnya sangat menggoda. Aku hampir mati menahan gairahku sendiri,” kata salah s
Pandangan Claire beradu dengan langit-langit kamar ketika matanya baru terbuka. Dia sudah bangun sejak setengah jam lalu, tapi baru bisa memberanikan diri untuk benar-benar melihat situasi di sekitarnya sekarang. Bayangan kelam berputar di kepalanya. Sebuah alasan mengapa Claire memilih terpejam lebih lama. Dia melirik jam weker di atas nakas. Sudah jam delapan pagi. Dia beruntung hari ini adalah akhir pekan, tidak perlu dibebankan oleh serentetan teori perkuliahan. Claire merasakan tubuhnya sangat dingin. Bahkan kulitnya mengkerut dan kering karena suhu pendingin ruang berada dalam mode minimal. Dia mengambil jaket di lemari, kemudian melangkah keluar kamar sambil menata pikiran. “Hai, sudah bangun?” Claire hampir terperanjat, ketika mendengar suara Reagan mengagetkannya. “Kamu.. sejak kapan berada di sana?” “Apakah kamu yakin bertanya?” Reagan terkekeh. Dia berdiri di balik kitchen island. Baru saja menuang dua porsi pasta dari pan ke atas piring. “Kemarilah. Aku punya makanan e
“Nilai ujian tertinggi diraih oleh Prince Reagan Maverick.”Riuh di ruang kelas sebesar setengah lapangan badminton itu menggema. Seisi kelas berdecak iri, pandangan mereka terpaku pada Reagan.Para Mahasiswi meliuk-liukkan tubuh mereka, berusaha menggoda Reagan dengan aset yang mereka miliki di tubuhnya.Kontras dengan itu, para Mahasiswa justru berdecak iri. Seperti salah satunya, pria yang duduk di kursi paling belakang.Dia memandang Reagan dengan tatapan yang sulit diartikan. Mencibir kemampuan Reagan dalam menguasai materi kuliah. “Apakah dia sehebat itu? Apa isi kepalanya sampai dia mendapatkan nilai sempurna di semua mata kuliah?” katanya.Dia adalah Jonas. Salah satu Mahasiswa dengan predikat nilai terbaik. Tetapi, saat ini, posisinya berhasil digeser oleh Reagan.“Aku dengar dia diund
Di saat ini Reagan sedang bertindak layaknya orang bodoh. Ikut menatap layar ponsel Erik dengan seksama. Meski dia tahu siapa sosok wanita di foto itu.“Sepertinya itu penggemarmu,” kata Reagan, secara tak langsung sedang mengejek Erik.Wajah Erik mengerut, terlihat gelisah karena sebuah panggilan gairah yang tidak bisa dielakkan. Reagan tertawa. Otak Erik sama cabulnya dengan dia, hanya saja Erik masih pemula.“Aku bahkan tidak tahu siapa dia,” kata Erik. Dia duduk gelisah, miliknya di balik celana jeans mulai mengeras. “Tapi dia seksi juga.”“Bagus kalau kamu menyukainya. Berarti aku tidak salah ambil keputusan,” kata Reagan.Erik mengernyit, “Apa maksudmu?”“Aku ingat kamu sudah lama menjomblo. Jadi aku berikan satu orang untuk menemanimu.” Reagan mengatak
“Aku akan membayarmu sebesar dua puluh juta dollar jika kamu berminat mengambil tawaran ini.” Pada akhirnya Reagan menerima ajakan wanita asing yang mengenakan dres cocktail tadi. Namun, demi menghargai statusnya yang sudah menjadi suami Claire, dia memboyong serta Erik bersamanya. Selembar cek dengan sejumlah nominal uang yang disebutkan wanita itu sudah tertulis di sana. Jangan tanya berapa banyak tumpukkan uang yang akan Reagan dapatkan untuk melakukan penyerangan siber pada sistem keamanan database sebuah perusahaan. Di samping Reagan mata Erik melotot. Peretas kelas menengah seperti dirinya perlu mengorek telinga hanya untuk memastikan dia tidak salah mendengar nominal yang ditawarkan pada Reagan. Dia memiringkan tubuhnya, berbisik pada Reagan. “Ini kesempatan emas untuk memperkaya diri. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Kamu akan menerimanya ‘kan?” tanya Erik antusias.Sebaliknya, Reagan justru menatap kertas cek itu datar. Dia dibayar dua puluh juta dollar untuk merusak s
Reagan duduk di sebuah sofa empuk yang megah. Tepat di tengah ruangan kerja berukuran besar yang didominasi oleh warna putih dan hitam ini. Dari kafe, kini mereka pindah ke salah satu gedung kantor pencakar langit di bilangan kota. Perusahaan milik wanita tadi Di tangannya memegang bolpoin dengan ukiran nama perusahaan berwarna emas di salah satu sisi. “Jordan Consisto.” Reagan bergumam ketika membaca sebuah nama yang terasa asing di telinga. Di sebelahnya, Erik diam saja. Dia akan berperan sebagai seorang saksi atas perjanjian hitam di atas putih antara Reagan dengan wanita tadi. “Aku Pricilla,” kata wanita itu memperkenalkan diri. Dia terlihat lebih santai saat ini setelah berdiskusi alot dengan Reagan terkait penawaran. “Hmm.” Reagan hanya bergumam pelan. Matanya memicing membaca setiap poin di surat perjanjian yang akan ditandatangani oleh kedua pihak. Semuanya sudah sesuai dengan mau Reagan. “Kamu sudah memikirkannya dengan matang, bukan? Biarkan aku memberitahumu.” Reagan m
Nayla berdiri tak jauh dari Reagan dan Delia. Dia menatap Delia dengan sorot tak suka sejak semalam. Nayla tidak mengerti apa yang sebenarnya Delia pikirkan sampai dia bisa membuat Reagan terlihat frustasi saat ini. “Semalam aku melihat kalian berdua kompak keluar dari bilik penggemar rahasia. Sekarang kalian diam-diam bersembunyi di sini. Apa kalian benar-benar punya hubungan spesial?” tanya Nayla terdengar menghakimi. Matanya nyalang menatap Delia. “Kamu, aku pikir kamu tidak punya cukup nyali untuk mengejar Reagan,” cibirnya lagi. “Apa perlu aku memberitahu dunia tentang skandal kalian berdua?” Wajah Delia sontak memucat. Dia sangat menjaga reputasinya sebagai Mahasiswi berprestasi. “Aku hanya bicara pada Reagan dan mengakui aku mengaguminya karena dia …” Saat ini Reagan tidak akan membiarkan Delia dengan mudah mengungkap identitasnya sebagai sosok di balik SpectraVant. Dia melempar tatapan dingin pada Delia sebagai bentuk peringatan namun, nampaknya Delia tidak cukup peka unt
Pada saat ini Reagan sedang berkutat dengan layar laptopnya. Pikirannya terfokus pada laman website perusahaan Jordan Consisto, kliennya. Perusahaan itu adalah perusahan tambang batubara bonafit di kelasnya. Sudah berdiri sejak dua puluh tiga tahun lamanya namun empat tahun belakangan, diketahui bahwa Jordan Consisto berada di ambang kebangkrutan. Dan kini, mereka sedang membangun kembali perusahaan itu di bawah kepemimpinan Pricilla. Direktur sekaligus CEO baru Jordan Consisto. Reagan membuka setiap bar di laman itu. Membaca profil hingga informasi pendapatan empat tahun terakhir dan perkembangan saham perusahaan itu. Mata Reagan bergerak semakin awas dari kiri ke kanan. Memicing sesekali irisnya membola tiap kali melihat beberapa data yang terasa rancu. Tanpa Reagan sadari, seseorang telah mengisi kursi di sampingnya. Seorang pria mengenakan hoodie hitam mengisi kursi yang selalu kosong itu tanpa ragu. “Hai! Kamu Reagan ‘kan?” sapa pria itu. Reagan menoleh ke samping. Sosok pri
“Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar. Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan. Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping. Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis. Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta
Sebelumnya…Ketika sampai di salah satu rumah elit di kawasan Cobbham, Reagan memarkirkan mobilnya di salah satu sisi pelataran rumah itu. Pria disampingnya nampak gugup. Melihat ke arah rumah itu dan Reagan bergantian. “Kamu serius membawaku kemari?!” katanya dengan ekspresi wajah terkejut-kejut. “Aku sudah mengatakannya, kamu yang tidak percaya,” sahut Reagan. Dia membuka sabuk pengamannya, juga milik pria itu sebelum benar-benar turun dari mobil. “Kamu akan menemui ajalmu hari ini.” Setiap ucapan yang keluar dari mulut Reagan terdengar santai sekaligus menusuk. Pria itu gelagapan diserang panik seakan ucapan Reagan saat ini adalah ancaman nyata yang tidak bisa dielak. Kini Reagan sudah turun dari mobil, dan beralih ke kursi penumpang untuk melepas ikatan tangan pria itu. “Ayo turun! Kamu harus menunjuk siapa di antara mereka yang telah mengusik ketenangan aku dan Claire.”Tubuh lemah penuh lebam itu diseret paksa keluar dari mobil. Langkahnya terseok-seok karena Reagan tidak c
Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri
Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe
Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik
Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi
“TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan