“Nilai ujian tertinggi diraih oleh Prince Reagan Maverick.”
Riuh di ruang kelas sebesar setengah lapangan badminton itu menggema. Seisi kelas berdecak iri, pandangan mereka terpaku pada Reagan.
Para Mahasiswi meliuk-liukkan tubuh mereka, berusaha menggoda Reagan dengan aset yang mereka miliki di tubuhnya.
Kontras dengan itu, para Mahasiswa justru berdecak iri. Seperti salah satunya, pria yang duduk di kursi paling belakang.
Dia memandang Reagan dengan tatapan yang sulit diartikan. Mencibir kemampuan Reagan dalam menguasai materi kuliah. “Apakah dia sehebat itu? Apa isi kepalanya sampai dia mendapatkan nilai sempurna di semua mata kuliah?” katanya.
Dia adalah Jonas. Salah satu Mahasiswa dengan predikat nilai terbaik. Tetapi, saat ini, posisinya berhasil digeser oleh Reagan.
“Aku dengar dia diund
Di saat ini Reagan sedang bertindak layaknya orang bodoh. Ikut menatap layar ponsel Erik dengan seksama. Meski dia tahu siapa sosok wanita di foto itu.“Sepertinya itu penggemarmu,” kata Reagan, secara tak langsung sedang mengejek Erik.Wajah Erik mengerut, terlihat gelisah karena sebuah panggilan gairah yang tidak bisa dielakkan. Reagan tertawa. Otak Erik sama cabulnya dengan dia, hanya saja Erik masih pemula.“Aku bahkan tidak tahu siapa dia,” kata Erik. Dia duduk gelisah, miliknya di balik celana jeans mulai mengeras. “Tapi dia seksi juga.”“Bagus kalau kamu menyukainya. Berarti aku tidak salah ambil keputusan,” kata Reagan.Erik mengernyit, “Apa maksudmu?”“Aku ingat kamu sudah lama menjomblo. Jadi aku berikan satu orang untuk menemanimu.” Reagan mengatak
“Aku akan membayarmu sebesar dua puluh juta dollar jika kamu berminat mengambil tawaran ini.” Pada akhirnya Reagan menerima ajakan wanita asing yang mengenakan dres cocktail tadi. Namun, demi menghargai statusnya yang sudah menjadi suami Claire, dia memboyong serta Erik bersamanya. Selembar cek dengan sejumlah nominal uang yang disebutkan wanita itu sudah tertulis di sana. Jangan tanya berapa banyak tumpukkan uang yang akan Reagan dapatkan untuk melakukan penyerangan siber pada sistem keamanan database sebuah perusahaan. Di samping Reagan mata Erik melotot. Peretas kelas menengah seperti dirinya perlu mengorek telinga hanya untuk memastikan dia tidak salah mendengar nominal yang ditawarkan pada Reagan. Dia memiringkan tubuhnya, berbisik pada Reagan. “Ini kesempatan emas untuk memperkaya diri. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Kamu akan menerimanya ‘kan?” tanya Erik antusias.Sebaliknya, Reagan justru menatap kertas cek itu datar. Dia dibayar dua puluh juta dollar untuk merusak s
Reagan duduk di sebuah sofa empuk yang megah. Tepat di tengah ruangan kerja berukuran besar yang didominasi oleh warna putih dan hitam ini. Dari kafe, kini mereka pindah ke salah satu gedung kantor pencakar langit di bilangan kota. Perusahaan milik wanita tadi Di tangannya memegang bolpoin dengan ukiran nama perusahaan berwarna emas di salah satu sisi. “Jordan Consisto.” Reagan bergumam ketika membaca sebuah nama yang terasa asing di telinga. Di sebelahnya, Erik diam saja. Dia akan berperan sebagai seorang saksi atas perjanjian hitam di atas putih antara Reagan dengan wanita tadi. “Aku Pricilla,” kata wanita itu memperkenalkan diri. Dia terlihat lebih santai saat ini setelah berdiskusi alot dengan Reagan terkait penawaran. “Hmm.” Reagan hanya bergumam pelan. Matanya memicing membaca setiap poin di surat perjanjian yang akan ditandatangani oleh kedua pihak. Semuanya sudah sesuai dengan mau Reagan. “Kamu sudah memikirkannya dengan matang, bukan? Biarkan aku memberitahumu.” Reagan m
Di dalam ruangan Rektor Alex, aura kebanggaan tercium pekat. Sederet kertas laporan hasil ujian tertata rapi di atas meja.“Aku sudah menduga. Bahwa mengundang kamu untuk menjadi bagian dari Universitas Georgia adalah pilihan yang tepat,” ucap Rektor Alex di kursinya.Tubuh Reagan berdiri menjulang berjarak satu meter dari meja kerja Rektor Alex. Sebuah tas punggung tersampir di pundak. Terlihat santai, namun siapa sangka dengan berbagai alat di dalam tas itu Reagan bisa menghancurkan dunia.“Kamu mendapatkan nilai sempurna di semua mata kuliah. Dan aku berniat untuk mengajakmu mengikuti sebuah kompetisi.”Rektor Alex mengeluarkan selembar kertas dari nakas kemudian me
Taman belakang kampus lebih lengang dibandingkan taman-taman lain yang mengelilingi gedung dua.Di bawah rindangnya pohon Sequoia Reagan duduk beralaskan rumput. Dia membuka ponselnya, dan menemukan pesan dari Claire. [Aku ada kegiatan dengan teman kelasku hingga sore. Kamu makan siang saja lebih dulu. Jangan pikirkan aku.] Tulis Claire di pesan itu. Reagan mengetikkan balasan di layar. Setelahnya, dia membuka laptop. Erik sudah mengirim surel berisi tugas yang harus dia kerjakan hari ini. Termasuk, mengerjakan maha proyek dari Croma Tech. Baru Reagan ketahui kalau Erik telah menyepakati kerja sama dengan perusahaan itu. Dan pemiliknya, ingin bertemu dengan Reagan tempo hari tetapi Reagan menolak. Dia tidak ingin terlalu banyak orang mengetahui siapa dirinya. Hidup seperti ini jauh lebih membuatnya tenang. Saat ini Reagan meluruskan kedua kakinya ke depan. Memandangi layar laptop dengan tatapan awas. Deretan kode berjajar tidak beraturan. Banyak tab yang dibuka di panel bar menu
Insting Reagan mencerna situasi dengan cepat ketika dua wanita di kanan dan kirinya mulai memanas. “Tunggu, Ladies,” ucap Reagan. Dia berdiri di antara Nayla dan Delia. “Bisakah kita bicara dengan tenang?” Nayla lebih dulu menjawab. Dia sangat berapi-api saat ini. “Aku harus bicara dengannya, Reagan,” katanya. Dia mencoba meraih Delia yang berlindung di balik tubuh kekar Reagan. “Dia terlalu malu untuk mengakui kalau dia menyukaimu. Sedangkan, dia juga tahu kalau aku menginginkanmu.” “Apa salahnya jika Delia menyukai aku?” Reagan membalas. Kini matanya menyorot tajam. Kian lama sikap Nayla semakin berlebihan. “Kamu juga menyukaiku, tapi tidak ada yang menghalangimu.” Ucapan Reagan mampu membuat Nayla bungkam seribu bahasa. Niatnya hanya membuat keadaan lebih tenang, tetapi Nayla justru bersikap di luar kendali. “Berhenti mengatur apapun yang tidak bisa kamu kendalikan, Nayla.” Reagan berkata lagi. Dia menatap Delia yang pundaknya bergetar ketakutan. “Lebih baik kalian bereskan
Reagan tersenyum getir dan itu membuat Claire semakin yakin kalau Reagan menyembunyikan sesuatu darinya. Dia melepas sabuk pengaman, kemudian berkata, “Kalau kamu tidak mau berjanji, aku juga tidak bisa memberitahumu apapun tentangku. Biar saja pernikahan ini hanya sebuah nama. Kita akan menjalaninya seperti orang asing.” Setelah mengatakan itu Claire turun dari mobil. Dia meninggalkan Reagan yang melongo di tempatnya. “Bukan begitu maksudku, Claire! Tunggu aku.” Reagan turun dari mobilnya secepat kilat. Memberikan kunci mobilnya pada petugas valet apartemen. Dia melewati kerumunan orang-orang yang ada di lobi. Dan menghentikan langkahnya ketika melihat Claire menunggu private lift menuju unit penthouse mereka. Reagan meraih tangan Claire, namun dengan cepat Claire menepisnya. “Claire dengarkan aku dulu,” kata Reagan setengah memohon. Dia tidak peduli pandangan orang-orang di sekitarnya. Di dalam lift perang dingin antara pasangan suami istri terjadi. Reagan berusaha menyentuh Cl
Wanita itu terus menggoda Reagan. Tidak peduli kini para tamu yang baru masuk ke dalam Madison Bar menatap aneh pada mereka. “Bisakah kamu menjauhkan tubuhmu?” kata reagan. Dia cukup kesulitan melepas pelukan di tubuhnya. Wanita itu cemberut. Wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajah Reagan. Siap mencumbunya dengan pagutan paling memabukkan. Namun sebelum itu terjadi, Reagan akan mengasingkan diri lebih dulu. “Maafkan aku,” katanya. “Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menghubungi nomor ini.” Reagan mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya. Kartu nama Erik yang baru jadi kemarin sore. Reagan tidak menunggu reaksi wanita penggoda ini. Dia lantas menjauhi dirinya, memberi jarak hingga bayangan tubuhnya tenggelam di balik riuh para tamu yang berjoget di lantai dansa. Sepeninggalan Reagan, wanita bertubuh molek itu tidak melepaskan pandangan dari titik terakhir kali Reagan terlihat. Hingga sebuah suara menginterupsi. “S
“Itu akibat kamu berani membentak Claire!” teriak Reagan dari dalam kamar. Baru saja Reagan memberikan tendangan keras pada tubuh Elenio sebab, saat Reagan menginjakkan kakinya di kamar itu, Elenio tertangkap basah hendak melayangkan tamparan pada wajah Claire. Reagan tidak bisa diam melihat itu, sehingga, dia lekas menarik kerah kemeja Elenio dan menghempaskan tubuh pria itu dalam sekali tendangan. Di lantai yang dingin, Elenio meringis kesakitan. Punggungnya nyeri bukan main setelah menghantam pintu kayu yang cukup tebal hingga membuat benda itu hancur berkeping-keping. Saat ini, Reagan melangkah menghampiri Elenio dengan sorot mata merah menyala. Ada api amarah yang siap membakar Elenio kapanpun pria itu berulah lagi. “Apakah telinga keturunan bangsawan seperti dirimu mengalami masalah?” tandas Reagan sinis. Tubuhnya menjulang tinggi tepat di hadapan Elenio yang merangkak mundur menjauh. “Apa kamu tidak dengar ribuan kali Claire mengatakan tidak dan dengan keras menolak tuntuta
Sebelumnya…Ketika sampai di salah satu rumah elit di kawasan Cobbham, Reagan memarkirkan mobilnya di salah satu sisi pelataran rumah itu. Pria disampingnya nampak gugup. Melihat ke arah rumah itu dan Reagan bergantian. “Kamu serius membawaku kemari?!” katanya dengan ekspresi wajah terkejut-kejut. “Aku sudah mengatakannya, kamu yang tidak percaya,” sahut Reagan. Dia membuka sabuk pengamannya, juga milik pria itu sebelum benar-benar turun dari mobil. “Kamu akan menemui ajalmu hari ini.” Setiap ucapan yang keluar dari mulut Reagan terdengar santai sekaligus menusuk. Pria itu gelagapan diserang panik seakan ucapan Reagan saat ini adalah ancaman nyata yang tidak bisa dielak. Kini Reagan sudah turun dari mobil, dan beralih ke kursi penumpang untuk melepas ikatan tangan pria itu. “Ayo turun! Kamu harus menunjuk siapa di antara mereka yang telah mengusik ketenangan aku dan Claire.”Tubuh lemah penuh lebam itu diseret paksa keluar dari mobil. Langkahnya terseok-seok karena Reagan tidak c
Satu tangan terkilir dan diputar ke belakang. Gagang pisau yang masih di tangan pria itu, menyisakan sedikit patahan besi runcing. Jika pria itu cukup cerdik, dia bisa menghunus perut Reagan dengan itu. Sayangnya, dia tidak cukup pintar. Seringai di wajah Reagan membuat pria itu merinding. “Kamu tidak akan bisa mematahkan satupun tulangku, bajingan! Pria rendahan sepertimu sebentar lagi akan takluk pada kematian!” ucapnya. Berusaha menggoyahkan Reagan dengan kalimat-kalimat intimidasi. “Berhenti mengatakan omong kosong! Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu atau kamu memang sengaja memintaku mematahkan tulang ekor!” Ketika Reagan melayangkan ancamannya, pria itu bungkam seketika. Antara hidup dan mati saat ini nyawanya dipertaruhkan. Dia melirik ke arah temannya yang tergeletak mengenaskan. Tidak bergerak pun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Apakah dia sudah mati? Sialan! Bahkan di sisa hidupnya saja dia menyebalkan! Pria itu kini hanya bisa berdialog dengan diri
Saat ini Reagan mengusap wajahnya frustasi. Di depannya, Delia menatapnya dengan penuh harap. “Bagaimana? Kamu mau ‘kan, Reagan?” Delia bertanya lagi. Dia meluruskan pandangannya pada Delia. Benar-benar serius. “Kita akan bahas masalah ini lain kali,” ujar Reagan dengan nada dingin. “Aku harus mencari seseorang.” Reagan hendak pergi, tetapi Delia menahannya, “Kamu mau cari Claire?” Niat Reagan tertahan. Raut wajah Delia kini berubah murung. “Apakah kamu… ada hubungan dengannya?” Kali ini dia terdengar sangat kecewa.Reagan menghela napas berat. Dia tidak merasa harus mengklarifikasi apapun pada siapapun. Delia bisa merasakan dinginnya sikap Reagan. Sesuatu yang tidak pernah dia temukan sebelumnya. “Tolong berhenti mencari tahu,” ucap Reagan. Dia hanya melontarkan beberapa kata, tetapi ucapannya cukup menusuk dada. Setelah mengatakan itu dan menyisakan kebekuan di hati Delia, Reagan pergi dengan cepat. Siapapun yang berpapasan dengannya, lekas menyingkir karena aura kuat yang pe
Tidak hanya penonton dan tamu yang datang ke acara itu yang terkejut. Reagan juga diam mematung di tempatnya. “Delia! Penggemar rahasia wanita terbaik malam ini!” Suara pembawa acara semakin membuat kesadaran Reagan hilang.“Delia?” Reagan bergumam lirih. Terlalu terkejut untuk menerima kenyataan. Di tempatnya berdiri Delia melempar senyum tipis nan malu-malu ke arahnya. Dia bahkan tidak segan menghampiri Reagan dan meraih tangan pria itu. “Hai, Reagan! Aku tidak menyangka kamu yang akan menjadi pasangan penggemar rahasiaku,” ujar Delia girang. “Dan aku akan menjaga rahasia tentang kita,” ucap Delia. Dia kini sudah mendekatkan wajahnya ketika mengatakan itu. Tubuh Reagan langsung menegang, tetapi dia juga tidak ingin terlihat lemah di hadapan Delia. Detik itu juga Reagan menyadari, dia telah salah langkah. “Ikut aku,” ucap Reagan tegas. Dia meraih tangan Delia kemudian memboyong gadis itu meninggalkan bilik. Semua orang melempar pandang ke arah mereka, penuh tanya. Bisik-bisik
Bilik penggemar rahasia berisi dua pintu. Akan ada satu orang pria dan satu orang wanita yang dipilih secara acak dari nomor gelang yang mereka pasang dengan sistem. Saat ini, panitia sedang mempersiapkan dua orang yang akan masuk ke dalam bilik. Keduanya tidak akan mengetahui siapa yang akan keluar jadi pasangannya dari bilik itu. “Nomor gelang tiga belas!” Satu panitia laki-laki bertugas memanggil kandidat lelaki di barisan. Merasa nomornya dipanggil, Reagan mengangkat tangan. “Kamu nomor tiga belas? Kemarilah!” kata pria itu. Reagan menurut. Berjalan santai mendekatinya. Dia tahu ini terlalu beresiko. Apalagi dia membawa Claire bersamanya. Bagaimana jika nantinya bukan Claire yang ditemui di bilik itu? Dia cukup khawatir ketika memikirkannya, tetapi, di sinilah tantangannya. “Kamu siap untuk masuk ke bilik?” tanya sang panitia. Reagan mengangguk. “Semoga orang di balik bilik itu adalah orang yang memang kamu harapkan,” sambungnya lagi. Panitia menyuruh Reagan masuk ke dalam bi
“TRING”Tambahan angka seribu muncul di kredit salah satu finalis. Para penonton tercengang dengan hasil yang terpampang di layar besar.Terdengar wanita hologram bersuara lagi. “Selamat! Tambahan seribu poin untuk SpectraVant!”“SpectraVant, kamu telah memenangi kompetisi peretas internasional. Berikan ucapan selamat untuknya!”Kemenangan telak telah diumumkan. Suara pendukung Reagan mulai bergemuruh menyorakkan kemenangan. Sedang Reagan sendiri di balik topengnya tersenyum tipis.Dia tahu dia bisa mendapatkan nilai sempurna dalam lima tugas itu, tetapi dia tidak berniat untuk memamerkan kemampuan
Poin diungguli oleh Black Code. Kompetisi menjadi semakin sengit. Hanya perlu menambahkan poin sempurna di tugas terakhir untuk Black Code, dia menjadi kandidat terkuat untuk menang saat ini.“Tidak masalah, SpectraVant. Sejauh ini Anda sudah melakukan yang terbaik. Selesaikan salah satu tugas untuk mendapatkan poin dan menyeimbangkan lawan!” Wanita hologram itu menyemangati Reagan yang masih berkutat dengan perintah di perangkat lunak.Saat ini kamera membidik Reagan. Menaruh fokus dunia padanya. Topeng anonim yang dia pakai semakin mempersulit massa untuk menduga, siapa sosok jenius di baliknya.Di tempat lain, di Universitas Georgia, para Mahasiswa membentuk beberapa kelompok. Mereka menatap layar laptop, sedang di kelas lain lebih kreatif me
“Permintaanmu tentang rekam jejak para pejabat? Tenang, aku sudah merangkumnya. Akan aku kirimkan padamu malam ini.”Erik terlihat bangga dengan usahanya. Semalaman suntuk dia habiskan untuk mengulik setiap profil pejabat dari berbagai situs media. Tetapi, pria di sampingnya malah menggeleng.“Bukan hanya itu,” kata Reagan sambil menggelengkan kepala. “Permintaanku tentang Claire.”Saat ini Erik menjelajah setiap sudut kepalanya. “Oh, permintaan itu.” Dia mengingat sesuatu. “Sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu membuatnya merasa spesial di malam Valentine nanti.”Reagan mengangguk puas. Senyumnya mulai terbit membayangkan bagaimana ekspresi