Bab 28 Bulan Madu yang DipaksakanMatahari bersinar dengan indah, cahayanya menyelusup ke sela-sela tirai rumah keluarga Saraswati. Udara pagi yang segar seharusnya mampu menciptakan suasana hati yang ceria, tapi tidak demikian dengan Evan. Ekspresi wajahnya datar, menandakan hatinya yang berat. Pagi itu, Saraswati mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya yang elegan—sebuah tiket pesawat yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. “Ini, Evan,” Saraswati menyodorkan tiket itu dengan senyum penuh arti. “Mama harap kamu bersenang-senang, Nak.” Evan mengambil tiket itu dengan dahi mengernyit. Matanya membaca cepat, lalu membulat penuh keheranan. “Apa ini, Ma?” “Itu tiket ke Paris,” Saraswati menjelaskan dengan lembut. “Mama sengaja belikan untuk kamu dan Chintya. Sebagai hadiah pernikahan kalian. Mama ingin kalian menikmati bulan madu yang indah, Nak.” Evan langsung meletakkan tiket itu di meja, seolah benda itu adalah barang tak berguna. “Ma, Evan nggak punya waktu untuk ini. Evan
Bab 29. "Apa yang kurang dari diriku? Kenapa Evan menolak untuk menyentuhku? Bukankah aku ini sekarang istrinya?"Chintya kesal, karena Evan begitu menjaga diri agar tidak sampai jatuh ke pelukan Chintya. "Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memancing nya? Sekuat apa dia menahan gairah nya, dan sial nya. Seharusnya dia yang melakukan ini padaku," lanjut Chintya yang bergumam sendiri di dalam hatinya, sesekali ia melirik ke arah Evan yang tidak justru sibuk dengan ponselnya, tanpa menghiraukan Chintya sebagai seorang istri. "Evan," panggil Chintya. "Mmmm." Evan memang menjawab, tapi tidak menoleh ke Chintya, sebisa mungkin Evan mengalihkan pandangannya dari Chintya. Chintya jenuh, ia memutuskan untuk lebih berusaha lagi agar mendapat perhatian Evan. Dengan cara ia berpura-pura terjatuh ke atas lantai. "Aduh," erangnya, sambil ia memijat pelipis kakinya. "Apa dia juga tidak peduli?" tanya Chintya di dalam hatinya, ia sesekali melirik ke arah Evan. Ingin melihat reaksi Evan. "
Bab 30: Rahasia di Balik Keputusan“Belum juga masuk sudah di suruh pulang, mau apa sih mereka? Minggu lalu aku dipecat tanpa alasan jelas, sekarang dipanggil masuk kerja lagi, lalu hari ini malah disuruh pulang. Mereka pikir aku mainan atau apa?” gerutunya. Nathan yang berdiri di sampingnya mencoba menenangkan. “Sabar, Anya. Mungkin ada alasan jelas kenapa mereka menyuruhmu pulang. Kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Anya menoleh tajam ke arah Nathan, ekspresi wajahnya menunjukkan kejengkelan. “Alasan apa lagi, Nathan? Kalau mereka nggak suka sama aku, bilang saja langsung. Kenapa harus putar-putar begini? Rasanya aku seperti dipermainkan.”Nathan tertawa kecil mencoba mencairkan suasana. “Ya sudah, mendingan kita pulang aja. Atau, kalau kamu mau, kita bisa jalan-jalan dulu. Sekalian cari udara segar biar mood kamu membaik.”“Bukannya kamu harus kerja juga?” tanya Anya sambil menaikkan satu alis.“Tenang aja. Bosku nggak terlalu ketat. Kalau aku bilang ada urusan penting,
Bab 31 "Hey Evan, sekalipun kamu tidak menyukaiku, tapi kamu harus mengingat satu hal Evan. Kalau aku ini adalah istrimu, kamu tahu itu. Aku adalah istrimu.""Terus mau mu, apa?" "Sentuh aku, lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan." DegEvan mematung untuk beberapa saat, ucapan itu membuatnya meruntuhkan tekadnya yang tidak akan memperlakukan Chintya layaknya seorang istri. Sebab wanita itu tidak ia cintai, tapi ... ucapan Chintya ada benarnya juga. Dan ... Chintya ternyata sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya Evan. "Apa yang membuatmu masih diam, Evan. Ayo lakukanlah. Aku sudah tidak tahan." Dalam hitungan detik, Evan mendekatkan diri ke Chintya, ia mulai melakukan sesuatu persis seperti keinginan Chintya. Walaupun ia melakukannya tanpa cinta, tapi ia cukup bernafsu pada tubuh mulus Chintya yang sampai menggeliat di atas ranjang. "Kamu ganas juga, Evan. Lakukan lagi sayang, lakukan dengan perlahan-lahan sayang. Yes, aku suka itu sayang. Ahhhh ... ini sangat nikmat sa
Bab 32Evan baru saja kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan bulan madunya bersama Chintya. Meski baru saja menjalani momen yang seharusnya penuh kebahagiaan, hatinya terasa kosong. Hubungannya dengan Chintya tak lebih dari sekadar formalitas. Di dalam kamar hotel yang kini menjadi saksi bulan madu mereka, tidak ada cinta, hanya rutinitas. Begitu tiba di rumahnya, hal pertama yang Evan lakukan adalah mengambil ponselnya dan mengetik pesan kepada seseorang yang selalu ada di pikirannya. *"Anya, aku sudah sampai di Indonesia. Besok aku mulai ngantor. Aku ingin kamu datang lebih awal, dan pastikan untuk tidak terlambat."* Evan mengirim pesan itu tanpa ragu, lalu melemparkan ponselnya ke meja. Ia menunggu dengan harapan mendapat balasan cepat. Namun, setelah beberapa menit berlalu, ponselnya tetap sunyi. “Dia benar-benar berani,” gumam Evan, merasa sedikit kesal. Tidak puas dengan diamnya Anya, Evan mengetik pesan lain. "Anya, aku serius. Besok aku ingin kamu datang lebih
Bab 33Evan menatap tajam ke arah Anya, membuat wanita itu merasa seperti sedang diinterogasi oleh seorang hakim yang tidak kenal belas kasihan. Suasana di dalam ruangan itu terasa mencekam, hanya diisi oleh napas keduanya yang terengah-engah, seolah sedang berada di medan perang tanpa kata. Evan akhirnya berbicara dengan nada dingin namun penuh tekanan. "Anya, aku tanya sekali lagi. Siapa bosnya di sini?" Anya yang sejak tadi mencoba menahan emosinya akhirnya menjawab dengan suara pelan namun cukup jelas untuk didengar. "Bapak bosnya." Evan tersenyum sinis, senyuman yang tidak mengisyaratkan kebahagiaan, melainkan tanda bahwa ia tengah bermain-main dengan emosinya sendiri. "Kalau aku bosnya, kenapa kamu berani menentangku? Kenapa kamu mengabaikan pesan dan teleponku? Apa kamu pikir kamu istimewa, Anya?" Anya menatap Evan dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu betul bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik kemarahan ini, tapi ia tidak ingin memperpanjang drama. "Pak Evan, maaf
Bab "Sebenarnya kamu bisa hamil gak sih!? Sudah setahun menikah kamu belum juga hamil." ucapan itu keluar dari dalam mulut Saraswati, ia tengah memarahi menantunya Chintya karena sampai sekarang tidak kunjung memberikan keturunan pada Evan. Tapi sayangnya Chintya lebih marah dari pada Saraswati. Dengan terdengar tajam Chintya menjawab ucapan Saraswati. "Ma, seharusnya yang seperti ini Mama bilang ke Evan! Kenapa dia sangat jarang sekali menggauli ku? Jangan salahkan aku, Ma. Salahkan tuh anakmu itu!" "Kamu dibilangin malah membantah, seharusnya kamu berusaha Chintya. Bagaimana caranya agar Evan anakku tertarik menggauli mu. Kalau kamu nya aja nyebelin gitu. Mana mau Evan dengan kamu, Chintya. Sadar diri dong." "Jadi maksud Mama, aku ini jelek, aku ini tidak menarik atau aku ini kurang bisa membuat Evan tertarik, Ma? Nggak Ma, Anak Mama itu yang salah. Sampai kini dia masih mengharapkan mantan kekasihnya itu!" Chintya menegaskan ucapannya. "Lagian aku heran, semenarik apa sih wa
Bab 35. Rencana mantan kekasih yang tersakiti Setelah kepergian Saraswati yang penuh amarah, Evan duduk di kursinya dengan wajah yang penuh tekanan. Ia menghela napas panjang, menatap Anya yang masih berdiri di ruangan dengan ekspresi tenang, namun sorot matanya menunjukkan sesuatu yang sulit diartikan. Evan akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih lembut daripada sebelumnya. "Anya, kamu tidak usah mengambil pusing ucapan Mama. Apapun yang ia katakan nanti, jangan kamu masukkan ke dalam hati." Anya menatap Evan dengan mata yang sulit ditebak. "Baik," jawabnya singkat, lalu menundukkan kepala. Evan memperhatikan wajah Anya yang tetap datar, tetapi ia tahu betul di balik ketenangan itu pasti tersimpan perasaan yang berbeda. "Aku ingin kamu tahu," lanjut Evan, "Aku melakukan semua ini demi perusahaan. Tidak lebih." Anya menganggukkan kepalanya, tapi dalam hati ia berbisik, *Memangnya aku peduli? Aku tidak peduli, Evan. Tapi ibumu sudah sangat kelewatan. Aku sangat mem
Bab 94 – Kebenaran yang TerungkapLangit mendung menggantung rendah di atas gedung tinggi Sanjaya Grup saat Anya dan Dewi tiba di lobi utama. Perasaan harap dan gugup bercampur dalam dada Anya, sementara Dewi tampak optimis dan percaya diri. Mereka berdua melangkah menuju lantai tempat kantor HRD berada.“Tenang saja, Anya,” bisik Dewi saat mereka memasuki ruangan. “Aku sudah bilang ke mereka soal kamu. Mereka bahkan tampak tertarik.”Namun, saat Dewi menyampaikan kedatangan mereka kepada resepsionis, ekspresi ramah yang semula terpancar di wajah staf tersebut berubah menjadi kaku.“Satu momen, saya panggilkan Ibu Sisca dari HRD,” ujar staf tersebut dengan suara datar.Tak lama kemudian, Sisca—wanita paruh baya dengan raut wajah tegas dan pakaian formal rapi—muncul dari balik pintu kaca. Dewi langsung berdiri dan menyambutnya dengan senyum.“Selamat pagi, Bu Sisca. Ini Anya, teman saya yang ingin saya rekomendasikan. Dia sangat kompeten dan—”Namun, Sisca mengangkat tangannya, memoton
Bab 7 Laura terisak di atas ranjang dengan kedua tangan masih terborgol. Rasa dingin dari es yang tadi digunakan Zaky mulai menghilang, digantikan dengan tubuh yang lelah dan gemetar. Matanya basah oleh air mata, sementara pikirannya berputar mencari jalan keluar dari neraka ini. Entah sejak kapan, ia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Dalam tidurnya, wajah ibunya kembali muncul, seperti mencoba meraih dan menenangkannya. "Mama...," bisiknya lirih dalam mimpi. Namun, ketenangan itu hanya sementara. Sebuah suara lirih terdengar dari pintu kamar yang kembali terbuka. Langkah kaki perlahan mendekatinya. Zaky, pria keji yang menculiknya, kini berdiri di samping tempat tidurnya, menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu cantik... dan kamu akan menjadi milikku," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan setan di tengah kegelapan. Tangan Zaky terulur, mengelus pipi Laura yang masih basah oleh air mata. Sentuhan itu membuat Laura terbangun seketika. Matan
BabKeesokan paginya, Anya bangun dengan semangat yang sedikit berbeda dari biasanya. Setelah perbincangan panjang dengan ibunya, ia memutuskan untuk bertemu dengan sahabatnya, Dewi, guna mencari pekerjaan. Ia tahu bahwa jika ingin merebut kembali hak asuh Kenzo, ia harus bekerja keras dan menyisihkan uang untuk menyewa pengacara terbaik. Ini bukan perkara mudah, tetapi Anya siap menghadapi segala rintangan.Dengan langkah mantap, Anya menemui Dewi di sebuah kafe kecil tempat mereka biasa bertemu. Begitu melihat Anya datang, Dewi langsung melambaikan tangan dan tersenyum lebar. "Anya! Duduk sini, aku sudah pesan kopi untukmu."Anya duduk dan menarik napas dalam. "Terima kasih, Dewi. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Aku ingin menyewa pengacara dan merebut kembali Kenzo."Dewi menatap sahabatnya dengan penuh simpati. "Aku mengerti, Anya. Kebetulan di tempatku bekerja sedang membuka lowongan. Kamu bisa melamar di sana. Gajinya lumayan dan kamu bisa
Bab 96 - Cinta yang DiujiNathan yang baru sampai rumah langsung menatap ibunya dengan mata yang penuh kemarahan. Hatinya terasa seperti terbakar oleh kata-kata Bu Rina yang seolah-olah menganggap Anya sebagai sampah yang tidak pantas berada dalam hidupnya.'Kamu dari mana saja, Nathan? Tadi Citra menunggumu cukup lama disini, Nathan," ujar Bu Rina tiba-tiba, tapi Nathan memilih untuk tidak menanggapinya. Ia justru berjalan berlalu menuju arah kamarnya membuat Bu Rina kebingungan dengan apa yang terjadi pada anaknya Nathan. "Nathan, kamu kenapa sih? Nathan," panggil Bu Rina. Karena tidak ada jawaban, membuat Bu Rina justru berjalan menghentikan langkah Nathan dan tiba-tiba membalikkan badan Nathan menatap ke arahnya. "Nathan, kamu berani mengabaikan ibu?" pertanyaan itu membuat Nathan tidak tahan lagi, sampai akhirnya Nathan berkata, "Bu, sebenarnya apa yang Ibu mau?" tanya Nathan dengan suara bergetar menahan emosi.Bu Rina menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan taja
Bab 95 – Api yang Kian MembesarAnya masih berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun menahan emosi setelah Chintya pergi meninggalkan apartemennya. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan tadi, tetapi lebih dari itu, kata-kata Chintya terus terngiang di kepalanya. *"Aku peringatkan, Anya! Berhenti berpura-pura menjadi korban! Jangan berani lagi mengganggu rumah tanggaku, atau aku pastikan hidupmu akan lebih menderita!"* Anya mengeratkan genggamannya. Ia tidak akan mundur. Ia tidak akan menyerah. Jika Chintya berpikir ancaman itu bisa menghentikannya, maka dia salah besar. Namun, jauh di dalam hatinya, ada ketakutan yang mulai tumbuh. Chintya bukan hanya wanita biasa—dia istri Evan, seseorang yang memiliki posisi kuat dalam hidupnya. Jika Chintya benar-benar berniat menghancurkannya, ia harus siap menghadapi konsekuensi besar. Saat pikirannya masih kacau, suara ketukan pintu kembali terdengar. Anya menghela napas panjang, berharap itu bukan Chintya yang kembali untuk melan
Bab 94 – Luka yang Belum SembuhNathan menghela napas panjang sambil menggenggam erat tangan Anya. Amarahnya belum reda setelah pertemuan dengan Evan. Matanya masih menyiratkan kemarahan yang tertahan.“Anya, kamu harus melawan. Jangan biarkan Evan memperlakukanmu seperti ini.”Anya terdiam. Kata-kata Nathan menggema di kepalanya, tapi ada perasaan lain yang berkecamuk di hatinya. Hatinya terluka bukan hanya karena Evan merendahkannya, tetapi juga karena ia masih belum bisa sepenuhnya membenci pria itu.“Aku hanya ingin Kenzo kembali padaku, Nathan,” suara Anya bergetar. “Aku tidak peduli dengan Evan, tidak peduli dengan masa lalu, aku hanya ingin anakku.”Nathan mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita harus melawan. Kalau dia tidak mau mengembalikan Kenzo dengan cara baik-baik, kita akan menggunakan cara lain.”Anya menatap Nathan dengan keraguan. “Maksudmu?”Nathan tersenyum tipis, tapi ada ketegasan di matanya. “Kita bisa membawa masalah ini ke pengadilan, Anya. Kamu ibunya. Kam
Bab 93 – Pertemuan yang MenyakitkanEvan duduk di dalam mobil dengan jantung berdegup kencang. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, memastikan bahwa pesan dari Anya memang benar-benar ada. Ia masih tidak percaya bahwa Anya ingin bertemu dengannya. Rasa bahagia mengalir di hatinya, seolah-olah ada harapan baru yang muncul. Mungkinkah Anya sudah memaafkannya? Apakah ini kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya?Dengan semangat yang sedikit berlebihan, Evan menghidupkan mesin mobil dan segera menuju kafe tempat mereka berjanji bertemu. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus membayangkan bagaimana pertemuan ini akan berjalan. Ia membayangkan Anya tersenyum padanya, mengatakan bahwa semua sudah berakhir dan mereka bisa kembali seperti dulu.Namun, begitu ia tiba di kafe dan melihat Anya turun dari mobil bersama Nathan, hatinya langsung mencelos. Senyumnya yang tadinya mengembang perlahan pudar. Evan mengepalkan tangannya di atas meja saat melihat bagaimana Nathan dengan santainya m
Bab 92 – Kecurigaan Chintya dan Amarah yang Memuncak.Pagi masih terasa dingin ketika Evan melangkah masuk ke rumah. Wajahnya tampak letih, pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam—Anya yang marah, Nathan yang nyaris menghajarnya, dan perasaan bersalah yang semakin menekan dadanya. Namun, sebelum sempat menghela napas lega, suara Chintya yang tajam menyambutnya. "Dari mana saja kamu semalaman?" Evan menoleh dan menemukan Chintya berdiri di depan pintu ruang tamu dengan tangan bersedekap. Matanya menatap tajam, penuh dengan kemarahan yang ditahan. "Aku…" Evan berusaha mencari alasan yang masuk akal, tetapi kepalanya masih terlalu lelah untuk berpikir jernih. Chintya melangkah mendekat, ekspresinya semakin tegang. "Kamu pikir aku bodoh, Evan? Aku menunggumu semalaman, menghubungimu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Lalu tiba-tiba kamu pulang pagi dengan wajah seperti itu?" Evan mengusap wajahnya. "Chintya, aku tidak ingin bertengkar sekarang." "Oh, kamu pikir aku akan
Bab 91 – Malam yang Penuh PenyesalanLangit malam tampak kelam, seolah ikut merasakan kehampaan di hati Anya. Ia berjalan tanpa arah di trotoar kota, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya yang basah oleh air mata. Hidupnya terasa seperti kapal yang kehilangan arah, hanyut dalam ombak keputusasaan. Anya tidak punya siapa-siapa lagi. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan hak asuh Kenzo, dan bahkan kehilangan sahabatnya. Semua terasa begitu gelap dan tak ada cahaya harapan di ujungnya. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke depan sebuah klub malam. Lampu neon berkelap-kelip, musik menggelegar dari dalam, dan suara tawa orang-orang mabuk terdengar di sekitarnya. Tanpa berpikir panjang, Anya melangkah masuk. Di dalam klub, suasana begitu ramai dan bising. Anya berjalan menuju bar dan tanpa ragu memesan minuman keras. Ia ingin melupakan segalanya—rasa sakit, kehilangan, dan terutama Evan. Satu gelas... dua gelas... tiga gelas... Namun, bukannya menghilang, rasa sakit itu justru se