Share

Bab 224. Ramalan

Penulis: nanadvelyns
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-29 10:12:35

"kita sampai," ucap Arjuna sambil melirik sekilas ke arah Naura yang memeluknya erat dari atas gendongan.

Naura tersenyum tipis, saat ia berusaha untuk turun, Arjuna menahan gerakannya.

"Sabar dulu, di sini kotor," ujarnya lembut, lalu melangkah lebih cepat mendekati halte dan perlahan meletakkan Naura di kursi halte.

Naura tersenyum tipis ke arah Arjuna. "Punggungmu baik-baik saja?"

Arjuna mengangguk. "Bukan masalah." Lalu ia berjongkok dan memasangkan kembali heels Naura.

"Kita akan mampir sebentar jika nanti melewati rumah sakit untuk memeriksa kondisi kakimu," ujar Arjuna lagi.

Naura menggeleng pelan. "Tidak perlu, ini hanya lecet biasa. Sampai di Mansion lebih cepat maka lebih baik."

"Kalau begitu kita akan memanggil dokternya ke Mansion," balas Arjuna, membuat Naura menggeleng pelan sambil tersenyum.

Di momen ini, suara batuk wanita tua terdengar tak jauh dari samping mereka.

Naura pun menoleh, lalu melihat sosok wanita tua dengan pakaian serba hitam yang nyentrik seperti
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 225. Punya Anak?

    Naura menghela napas lega setelah mereka berhasil naik ke dalam bus. Arjuna berdiri tepat di belakangnya, tangan kanan pria itu berpegang erat pada genggaman tangan menggantung di bus, sedangkan tangan kirinya berada di atas bahu Naura untuk melindungi wanitanya dari keramaian. Bus sangat penuh, bahkan AC nya sama sekali tak terasa, angin hanya muncul ketika pintu bus dibuka untuk naik dan turun penumpang. "Kamu baik-baik saja?" tanya Arjuna, berbisik. Naura tersenyum tipis sambil mengangguk singkat. "Iya, aku baik-baik saja."Rasa khawatir Arjuna dapat dirasakan langsung oleh Naura, pria itu sering sekali bertanya mengenai keadaannya. Hal ini tak pernah gagal membuatnya tersenyum samar. Naura kemudian mendongak untuk melihat wajah Arjuna yang agak kelelahan, pria itu bercucuran keringat di sekitar dahi. Dengan cepat Naura membuka tas-nya dan mencari sapu tangan, lalu mengelap dahi Arjuna perlahan. "Terima kasih, sayang," ucap Arjuna, membuat Naura tiba-tiba terkekeh. Bahkan s

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-30
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 1. Kekasih Zafir

    “Nyonya! Tuan Zafir membawa seorang wanita asing masuk ke dalam Mansion!"Ucapan Kate, asisten pribadinya, membuat Naura langsung mengalihkan pandangan dari tumpukkan dokumen di atas meja."Pekerja baru?" tanya Naura.Kate menggeleng. "Bukan, Nyonya! Wanita itu adalah kekasih Tuan Zafir!!"Naura terkejut. Zafir adalah pria yang telah dia nikahi selama enam tahun, lalu apa maksudnya pria itu membawa seorang kekasih ke kediaman mereka?"Bawa aku menemui mereka," titah Naura, membuat Kate menganggukkan kepala dan mengantarnya ke tempat Zafir berada.Baru saja mereka sampai di ruang tamu, Naura bisa mendengar percakapan antara dua orang di dalam sana. “Rumahmu indah sekali, Zafir! Aku sangat menyukainya!” “Kamu akan tinggal di sini, jadi bagus kalau kamu suka.” Tampak seorang wanita dengan rambut hitam panjang bergelombang sedang tersenyum dan tertawa manis ke arah seorang pria. Wajah wanita itu begitu cantik, ditambah dengan ekspresi polosnya, siapa pun yang melihat pasti akan jatuh

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-09
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 2. Naura Egois?

    "Kenapa wanita itu berada di mansion utama? Bukankah kamu sudah berjanji akan membiarkannya tinggal di paviliun samping!?” Terlihat Naura sedang berdiri di hadapan Zafir dengan wajah marah. “Hanya karena masalah sepele seperti itu, kamu berani menerobos ruang kerjaku dan membentakku?” tanya Zafir dengan wajah kesal.“Melanggar janji adalah hal sepele untukmu, Zafir, tapi tidak untukku!” balas Naura dingin.Tepat hari ini, sudah lebih dari dua minggu semenjak Evelyn benar-benar tinggal di kediaman Naura dan Zafir. Di waktu yang bersamaan, sudah dua minggu pula Naura dan Zafir terus bersitegang akibat wanita tersebut.Ketika Naura setuju untuk menjadikan Evelyn ibu penggantinya, dia sudah memberikan sejumlah persyaratan kepada Zafir, termasuk membiarkan Evelyn untuk tinggal di paviliun samping dan bukan di mansion utama. Semua demi menghindari ketidaknyamanan saat bertemu dengan wanita tersebut.Namun, siapa yang sangka bahwa setelah dua minggu Naura pergi mengurus bisnis di negara

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-09
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 3. Pertemuan Bisnis

    “Sayang, makan ini. Kata Ibu, ini bagus untuk kehamilanmu.”“Minum ini juga. Ini akan memperkuat janinnya.”“Pegang tanganku, Sayang! Aku tidak mau kamu terjatuh!”Kalimat manis penuh perhatian terus-menerus dilontarkan oleh Zafir di setiap saat kepada Evelyn, dan hal itu juga didengar oleh orang lain di kediaman, termasuk Naura.Walau kehamilan Evelyn membuat suasana mansion menjadi lebih cerah, tapi untuk Naura … dia merasa tempat tersebut semakin asing dan dingin baginya.Bagaimana tidak? Bagi seorang istri yang sebelumnya sudah berusaha keras untuk memberikan keturunan dan gagal, kenyataan Evelyn hamil dan diberikan sejuta macam perhatian oleh Zafir sama saja dengan sebuah tamparan keras untuk Naura. Meski begitu, Naura berusaha untuk tetap tegar. Wanita itu berusaha sekeras mungkin untuk menanamkan kepercayaan pada suaminya, dan fokus pada tujuan akhir mereka yang ingin memiliki anak–meskipun harus dari rahim wanita lain. Oleh karena itu, Naura pun rutin mengirim vitamin serta

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-09
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 4. Tata Krama Evelyn

    Suasana ruangan VIP itu begitu tegang. Semua orang tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.Tidak ada yang menyangka Arjuna akan begitu marah dengan tindakan Evelyn!Namun, Naura sudah menduganya, karena ini adalah salah satu hal yang paling dia takuti akan terjadi, di mana Evelyn yang tidak tahu tata krama kalangan atas, akan menyinggung Arjuna dengan kebiasaannya yang abai terhadap aturan.Zafir tampak memeluk pundak Evelyn, mencoba untuk melindungi wanita itu dan memastikan dia baik-baik saja. “Kamu tidak apa-apa?”“T-tidak, tapi tanganku sakit.” jawab Evelyn manja, tampak lemah dan begitu takut.Naura memaki dalam hati, bukan karena sikap Evelyn, melainkan karena tindakan Zafir. Tidak bisakah pria itu sadar kalau tamu penting mereka tengah marah besar akibat wanita yang dia lindungi itu!? Bisa-bisanya dia malah abai terhadap Arjuna dan hanya fokus sepenuhnya kepada Evelyn?Khawatir Arjuna tersinggung, Naura gegas maju menghadap pria itu. “Maaf, Tuan Renjana, Evelyn t

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-09
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 5. Amarah Naura

    "Naura!" Setelah Arjuna Renjana meninggalkan mereka begitu saja, Naura justru memberikan tatapan merendahkan pada dirinya. Zafir tidak terima!Setelah sampai di mansion, Zafir mengikuti Naura ke kamar. Ia membuka pintu cepat dan menutupnya kembali, lalu menatap Naura dari ambang pintu. "Apa yang membuatmu menjadi semarah ini?" tanya Zafir, wajahnya menunjukkan perasaan frustasi. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya.Naura menatap tajam suaminya, kemudian menunjuk Zafir dengan jari telunjuknya. “Kamu tidak tahu–!”“Kamu yang tidak tahu diri!”Zafir memotong kalimat penuh amarah Naura, lalu menuduh Naura yang tidak tahu diri! Naura menahan amarah dengan mengepalkan tangan di kedua sisinya. “Kamu bilang, aku tidak tahu diri?”“Kalau kamu tidak berbuat onar, Tuan Renjana tidak mungkin meninggalkan pertemuan penting itu begitu saja.”Naura menatap Zafir dengan pandangan tidak percaya. Naura bahkan kehilangan kata-katanya.Sekarang Zafir menyebutnya berbuat onar, padahal dia send

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-09
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 6. Menjadi Orang Asing

    Keesokan harinya, Naura sibuk bekerja di ruang kerja. Setelah menandatangani semua dokumen, wanita itu menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas. Dia masih terganggu dengan acara makan malam yang berakhir memalukan kemarin.Sembari dipenuhi rasa canggung, Naura mulai melakukan panggilan ke nomor Arjuna yang baru saja ia minta dari Kate. Tak kemudian, suara berat dari Arjuna terdengar di telinganya."Halo.”Naura mengepalkan kedua tangannya. "Selamat sore, Tuan Renjana. Saya Naura Wajendra. Apakah telepon dari saya mengganggu waktu berharga Anda?"."Nyonya Wajendra? Tidak. Apa ada hal yang ingin anda bicarakan?" tanya pria itu berterus terang. "Ah ya. Sebenarnya, secara pribadi saya ingin meminta maaf terkait pengalaman tidak mengenakkan yang terjadi saat makan malam kemarin, Tuan Renjana. Saya harap Anda tidak menyimpannya dalam hati,” ujar Naura dengan lancar meski jantungnya sudah berdegup dengan tempo yang tidak nyaman.“Mengenai masalah itu, tidak perlu dirisaukan,

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-12
  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 7. Naura Egois?

    "Jika seperti itu masalahnya, maka lebih baik menggunakan langkah yang kamu usulkan. Namun, sejujurnya aku sedikit terkejut karena pihak Renjana akan menyerahkan masalah ini pada kita." kata Zafir sambil duduk di kursi kerjanya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir serius. Naura mengangguk setuju. "Benar, aku juga berpikir demikian. Aku berpikir mereka akan serakah dan mengisi posisi kosong itu dengan orang-orang dari pihak mereka." Zafir tersenyum tipis. "Itu bagus, berarti kita tidak salah dalam memilih partner bisnis." Naura mengangguk lagi. Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Zafir terdiam beberapa saat dan memperhatikan wajah Naura. Saat pandangan mereka bertemu, suasana tiba-tiba menjadi canggung. Zafir terbatuk pelan, kemudian tangan kanannya bergerak menarik laci kerjanya dan mengeluarkan kotak perhiasan kecil berwarna merah. Pria itu kemudian berdiri dan berjalan ke arah Naura. "Soal kemarin... Aku minta maaf, itu... Sepertinya aku memang terlalu be

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-12

Bab terbaru

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 225. Punya Anak?

    Naura menghela napas lega setelah mereka berhasil naik ke dalam bus. Arjuna berdiri tepat di belakangnya, tangan kanan pria itu berpegang erat pada genggaman tangan menggantung di bus, sedangkan tangan kirinya berada di atas bahu Naura untuk melindungi wanitanya dari keramaian. Bus sangat penuh, bahkan AC nya sama sekali tak terasa, angin hanya muncul ketika pintu bus dibuka untuk naik dan turun penumpang. "Kamu baik-baik saja?" tanya Arjuna, berbisik. Naura tersenyum tipis sambil mengangguk singkat. "Iya, aku baik-baik saja."Rasa khawatir Arjuna dapat dirasakan langsung oleh Naura, pria itu sering sekali bertanya mengenai keadaannya. Hal ini tak pernah gagal membuatnya tersenyum samar. Naura kemudian mendongak untuk melihat wajah Arjuna yang agak kelelahan, pria itu bercucuran keringat di sekitar dahi. Dengan cepat Naura membuka tas-nya dan mencari sapu tangan, lalu mengelap dahi Arjuna perlahan. "Terima kasih, sayang," ucap Arjuna, membuat Naura tiba-tiba terkekeh. Bahkan s

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 224. Ramalan

    "kita sampai," ucap Arjuna sambil melirik sekilas ke arah Naura yang memeluknya erat dari atas gendongan. Naura tersenyum tipis, saat ia berusaha untuk turun, Arjuna menahan gerakannya. "Sabar dulu, di sini kotor," ujarnya lembut, lalu melangkah lebih cepat mendekati halte dan perlahan meletakkan Naura di kursi halte. Naura tersenyum tipis ke arah Arjuna. "Punggungmu baik-baik saja?"Arjuna mengangguk. "Bukan masalah." Lalu ia berjongkok dan memasangkan kembali heels Naura. "Kita akan mampir sebentar jika nanti melewati rumah sakit untuk memeriksa kondisi kakimu," ujar Arjuna lagi. Naura menggeleng pelan. "Tidak perlu, ini hanya lecet biasa. Sampai di Mansion lebih cepat maka lebih baik.""Kalau begitu kita akan memanggil dokternya ke Mansion," balas Arjuna, membuat Naura menggeleng pelan sambil tersenyum. Di momen ini, suara batuk wanita tua terdengar tak jauh dari samping mereka. Naura pun menoleh, lalu melihat sosok wanita tua dengan pakaian serba hitam yang nyentrik seperti

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 223. Menyusuri Malam

    "Bocor? Bagaimana bisa?" tanya Naura heran, matanya menatap ke ban mobil Arjuna yang entah sejak kapan mengempes. Arjuna hanya menggeleng singkat sebagai jawaban ketidaktahuannya, tangannya kini sibuk mengutak-atik ponsel untuk menghubungi Damian. "Tidak perlu khawatir, aku akan memanggil helikopter," ujarnya dengan nada bicara yang masih tenang.Setelah lima menit berlalu, decakan menahan kesal mulai terdengar dari bibir Arjuna. Naura menoleh, menatap lembut prianya. "Ada apa?""Tidak ada sinyal di sini," jawab Arjuna cepat dengan nada frustasi.Naura ikut mengerutkan kening, lalu mengambil ponselnya. "Aku akan coba bantu-" Belum selesai Naura menuntas kalimat, wanita itu kembali menambahkan yang baru. "Maaf, sinyalku juga hilang." Arjuna tersenyum tipis mendengarnya, lalu kembali sibuk mencari sinyal. Bahkan setelah sepuluh menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Arjuna berhasil menghubungi Damian atau siapapun itu yang bisa membantu situasi mereka. Naura menghela napas tip

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 222. Kini Aman Bersamamu

    "Kamu baik-baik saja?" tanya Arjuna khawatir setelah melihat Naura terlihat lebih lemas dari biasanya. Naura mengangguk singkat. "Iya, kepalaku hanya agak pusing. Kemana kita akan pergi, Arjuna?"Arjuna terdiam sejenak, namun tak lama ia mengangguk. "Baiklah, kalau dirasa memang benar-benar tidak enak badan tolong segera katakan padaku." Melihat Arjuna tidak menjawab pertanyaannya, Naura pun sedikit melipat keningnya. "Kemana kita akan pergi?" tanya Naura lagi. Arjuna kembali terdiam, lalu tak lama pria itu tersenyum tipis. "Kamu tidur saja, masih ada waktu sekitar dua jam lagi hingga sampai tujuan."Naura menaikkan alis kirinya. "Dua jam?" Itu bukan waktu yang sebentar. Kemana sebenarnya Arjuna hendak membawanya pergi?Arjuna sekali lagi mengangguk. "Istirahat saja, aku akan membangunkanmu setelah kita sampai, sayang."Melihat Arjuna enggan memberitahunya, Naura hanya bisa menghela napas dan menuruti permintaan pria itu. Ia menyandarkan punggungnya dengan nyaman, kemudian matany

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 221. Takut Salah Cinta

    Naura melangkah keluar dari penjara, pikirannya diam-diam penuh dengan pertemuannya bersama Althaf sebelumnya. Jadi... Pria itu memilih untuk berhenti begitu saja tanpa perlawanan apa pun?Meskipun hal tersebut terdengar baik, tetapi tetap patut diwaspadai. Serangan yang sebelumnya dilayangkan Althaf sangat besar, rasanya tanda tanya besar jika pria itu mengaku mengalah. Lamunan Naura pecah begitu melihat sosok Arjuna yang menunggu di parkiran mobil. Pria itu tersenyum tipis, mata hijau emerald-nya terlihat sangat cerah saat bertabrakan dengan cahaya hangat matahari sore. "Sudah?" tanya pria itu. Naura tersenyum tipis, kedua sudut alisnya menyatu bingung. "Kamu di sini?"Arjuna mengangguk. "Apa salah?"Naura tertawa ringan, lalu mulai mendekati Arjuna. Pria itu dengan lembut langsung meraih tangan kanannya dan mengecup singkat. "Bisa ikut aku pergi ke suatu tempat sebentar?" tanya Arjuna. Naura mengangguk. "Tentu, kemana kita akan--""Kamu akan mengetahuinya nanti." Potong Arju

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 220. Cinta Yang Terlalu Besar

    Dua hari setelah kejadian Naura berhasil kembali, Arjuna mulai sibuk 'membersihkan' kekacauan yang Althaf buat di Renjana. Di ruang kerja Arjuna seperti biasa, Damian, Aimee, dan Tiara Bara berkumpul. "Bagaimana hasil kemarin?" tanya Arjuna, pria itu duduk sambil menatap satu persatu wajah di hadapannya. Aimee menggeleng singkat. "Phantom masih belum melakukan pergerakan apa pun, tidak ada laporan terbaru."Arjuna menaikkan alis kirinya, aneh sekali rasanya Phantom tidak bergegas bergerak menyelamatkan Althaf dari penjara. Phantom adalah organisasi yang terkenal besar dan gelap, selain menjual informasi, mereka juga terkenal dengan gerakannya yang agresif. Jika dicocokkan dengan sifat tersebut, seharusnya belum ada satu hari, penjara tempat Althaf dikurung telah hancur. "Phantom tidak mungkin diam saja, sebaiknya kita juga mulai mencari jalan lain untuk banyak kemungkinan." Damian menatap serius ke arah Arjuna. Tiara Bara mengangguk setuju. "Itu benar, seperti mungkin mendobrak

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 219. Kotak Rindu

    Naura duduk tenang di atas ranjang rumah sakit setelah dokter dan perawat selesai memeriksa kondisinya. Arjuna duduk di sofa tak jauh dari ranjang, pria itu masih terlihat sangat sibuk mengutak-atik iPad besar miliknya. Selepas kepergian Althaf, Arjuna tanpa banyak bicara langsung menariknya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Damian masih sibuk mengurus kepala keluarga sembilan pilar negara bersama Tiara Bara, bagaimanapun kejadian tadi cukup menggemparkan. Media yang disiapkan oleh Tiara Bara di luar gedung pertemuan telah sukses mengunci berita dan meledakkannya ke seluruh sosial media. Sedangkan Kate mengurus kebutuhan dan urusan rumah sakit Naura. Naura hanya duduk tenang di posisinya, matanya menatap lembut ke arah Arjuna. Sosok pria yang sangat ia rindukan kini telah kembali, tidak ada rasa tenang lain yang dapat mengalahkan rasa tenangnya saat ini. Tak lama Arjuna mengangkat pandangannya, sepertinya pria itu baru tersadar bahwa dokter telah pergi. Deng

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 218. Mengembalikan Apa Yang Diberi

    "Selamat datang, tuan Renjana." Tiara Bara mengulurkan tangan ke arah Althaf untuk berjabat tangan, bibirnya tersenyum formal. Sejak kematian ayahnya, Tiara Bara mulai menggantikan posisi ayahnya. Saat ini seluruh Indonesia bukan lagi memanggilnya 'nona Bara', tetapi 'nyonya Bara'. Althaf membalas uluran tangan Tiara, matanya menangkap sorot kemisteriusan di tatapan wanita itu. Mengesampingkan semua itu, Althaf pun mulai berbaur dengan para kepala keluarga sembilan pilar negara lainnya. Sejak awal dia menggantikan posisi Arjuna, hanya ada satu keluarga yang tak pernah muncul, yaitu Wajendra. Tidak ada yang tahu bagaimana kabar Zafir Wajendra, pria itu seolah hilang ditelan bumi. Pria itu menutup akses media rapat-rapat, dari kabar yang beredar Zafir Wajendra masih sangat terpukul atas perceraiannya yang kedua kalinya. Sejujurnya Althaf sangat ingin bertatap wajah dengan Zafir secara langsung, pria itu diam-diam ingin meninju wajah pria yang pernah menginjak putri mahkotanya.

  • Bercerailah, Nyonya! Tuan Sudah Menunggu   Bab 217. Selamat tinggal, Dragon Castle

    Naura turun dari mobil dengan hati-hati dibantu Althaf, mereka baru saja kembali dari acara besar kementerian keuangan. Semuanya berjalan lancar, Althaf sama sekali tidak menaruh curiga padanya. Naura pun berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat seperti biasa. Kembali masuk ke dalam Dragon Castle, pandangan mata para anggota Phantom pun kembali jatuh lekat ke arahnya. Seluruhnya membungkuk karena sosok Althaf yang mengikutinya, Naura mulai terbiasa dengan suasana dan tatapan buas mereka. Saat awal kedatangannya kemari, Naura masih memiliki kecemasan dan takut untuk saling tatap dengan mereka. Tetapi sekarang berbeda, kecemasan itu hilang dan digantikan kepercayaan diri. Meskipun sebagian besar mereka menganggapnya 'hutang' atau 'alat pencetak monster', namun tak satupun dari mereka yang berani menyentuhnya karena Althaf. Naura dapat memanfaatkan hal itu. Semuanya pun semakin terasa berbeda setelah kejadian Daisy, hal itu sepertinya cukup menjelaskan dengan tegas seperti apa po

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status