Jika kita memang sepaket pasti kita akan sepakat terus walau udah beda status.
"Eh biji kuaci nggak usah bersuara, berisik gue mau tidur!!" Ucap seorang cowok dengan suara Ngantuk nya.
Naya menghentikan aksi nyanyi nya dan memutar mata nya dengan malas. "Bodoh!! Nggak peduli gue."
"Ayolah mantan, beri gue waktu untuk tidur sebentar aja. Gue nggak ada tidur dari tadi malam."
"Seriusan Lo?" Naya menarik kursi nya untuk lebih dekat dengan Fano. "Kok bisa Lo nggak ada tidur? Ngapain aja Lo Fan?" Tanya Naya dengan muka penasaran.
Fano menempelkan jari telunjuk nya di bibir Naya."Ssstttt, anak TK nggak boleh tau urusan orang dewasa."
"Kurang ajar Lo banci!! Lagi serius juga gue." Ucap Naya yang sudah emosi meladeni ucapan Fano.
"Stop!! Stop panggil gue banci ya Nay." Ucap Fano dengan membulat kan matanya kearah Naya. "Gue ini cowok tulen, bukti nya aja gue bisa suka sama Lo dan jadiin Lo pacar gue dulu walau sekarang Lo udah masuk dalam daftar mantan sih." Fano memukul dadanya dengan bangga.
Naya memasang muka mengejek nya. "Oh ya? Bukan nya kemaren itu gue Nerima Lo karena..."
"Lo mau liat dulu ya Nay dedek gue baru Lo percaya gue ini tulen kalau Lo kasi rangsangan sedikit." Potong Fano yang kini sudah bersiap untuk membuka celana nya.
"Apaan sih Fan. norak tau!!" Ucap Naya dan berlalu pergi dari situ takut Fano akan bicara lebih intim lagi pada nya.
Sedangkan Fano hanya tertawa melihat ekspresi Naya. Entah kenapa hanya Naya yang mempunyai ciri khas yang buat ia selalu ingin menganggu ketenangan Naya dan membuat ia marah.
Cewek yang kini sudah masuk dalam daftar mantan nya itu. Selalu saja punya daya tarik sendiri untuk selalu ia dekati tanpa bosan dan tanpa mengungkit perihal putus mereka.
Nama lengkap nya Naya Aryani. Cewek yang anti sekali dengan minyak kayu putih, jauh dari kata cantik tapi mampu membuat Fano Arga Tara mengklaim nya sebagai pacar dengan banyak kali penolakan.
Entah lah, bagi Fano itu Naya mempunyai tempat ternyaman tersendiri. Mungkin itu adalah daya tarik yang di Anugrahi oleh Tuhan kepada nya. Jangan salah ya, walaupun ia tak memiliki wajah yang cantik bagaikan bidadari tapi cowok yang mengincar nya dari kalangan cowok ganteng bagaikan pangeran. Salah satunya ya seperti Fano itu.
Setelah kepergian Naya, Fano kembali membaringkan badannya di kursi untuk melanjutkan ritual tidurnya yang sempat terganggu tadi.
Kalian semua harus tau bahwa Fano mempunyai IQ di atas rata-rata. Walaupun ia tidur dan tiba-tiba guru suruh mengerjakan soal ia selalu bisa menjawab nya dengan benar.
"Woy Fan kebo aja sih Lo." Ucap Riko teman nya Fano dari SMP yang entah darimana datangnya itu.
"Apaan sih, tadi Naya ini Lo pula lagi. Ganggu aja sih gue mau tidur juga." Ucap Fano yang kesal karena tidur nya terganggu.
"Guna rumah Lo buat apa sih kalau sekolah Lo mau tidur juga."
"Buat gue numpang makan." Jawab Fano ketus
"Gile Lo bang. Lo pikir rumah Lo restoran apa cuma buat makan aja."
"Serah deh malas gue." Balas Fano dan berjalan meninggalkan Riko.
"Loh kok kabur sih Fan. Nggak sopan banget Lo jadi orang."
Fano terus melangkah mengabaikan ucapan dari Riko. Sungguh, saat ini ia sangat membutuhkan tidur. Sekilas ia melihat arloji nya yang masih menunjukkan jam 11.00. masih lama lagi waktu untuk pulang.
"Gue ngantuk gila. Guru juga sih udah tau rapat nggak mau pulangin murid nya." Omel nya sambil terus berjalan melewati koridor.
Tiba-tiba ada ide yang melintas di kepalanya membuat ia tersenyum memandangi kantor guru. Ia melihat kanan dan kiri memandangi sekitarnya. Setelah merasa aman ia segera masuk ke dalam kantor guru dengan mengendap.
Ia menyapu sekeliling nya mencari sesuatu. Saat matanya menemukan yang di cari ia kembali tersenyum sambil mendekati benda itu. Fano melihat arloji di tangan nya yang menunjukkan pukul 11.10.
"Setelah ini kalian harus berterima kasih sama gue karena udah buat kalian semua pulang lebih awal dari seharusnya." Ucap nya sambil menekan tombol bel
Dan ketika bel berbunyi 3 kali semua siswa berhamburan keluar kelas. Iya, jika bel berbunyi sebanyak 3 kali maka itu adalah alarm surga bagi siswa karena itu menandakan pulang.
"Ketahuan banget sih yang nunggu jam pulang." Ucap Fano ketika sudah berada di luar kantor guru sambil melihat sekolah seketika menjadi lautan baju putih abu-abu yang berhamburan untuk pulang.
"Terimakasih bapak dan ibu sekalian karena telah pulang kan kami lebih awal. Saya sungguh tersanjung untuk itu." Ucap nya sambil membungkuk kan badan seperti memberi hormat.
Fano kemudian bertukar posisi menjadi dihadapan nya. Jika ada dua orang maka kini posisi mereka sedang berhadapan. Iya, saat ini Fano sedang berdialog sendiri.
"Aahhaha, iya Fano. Saya tau kalian lelah untuk belajar makanya saya pulang kan lebih awal agar kalian bisa istirahat." Ucap Fano sambil memperagakan gaya salah satu guru dan tak lupa ia mengelus kepalanya sendiri.
Fano tersenyum menyadari kelakuan nya tadi seperti orang gila yang berbicara sendiri.
Tak lama dari itu Fano segera kembali ke kelas untuk mengambil tas nya dan pulang secepatnya. Siswa yang lain juga sudah banyak yang pulang terbukti dengan sudah sepi nya sekolah dalam waktu 5 menit.
**
"Ayo dong Nay temanin gue ya." Ucap
Tania dengan penuh memohon.
"Tania sayang Lo nggak liat apa ini udah jam 8 malam loh. Dan Lo mau ngajak gue keluar dengan jam segini? Mau pulang jam berapa? Gue nggak percaya dengan kata bentar Lo itu."
"Ya elah Nay bentar dong juga kok. Banci aja nih ya jam segini belum dandan Nay. Nggak usah kan dandan mandi aja belom."
"Gila Lo!! Lo sama kan gue sama banci?" Ucap Naya yang tak terima karena disamakan dengan banci.
Tania hanya nyengir kuda menanggapi ucapan Naya Membuat Naya menghela nafas panjang menghadapi sahabat nya ini.
"Udah ayo." Ucap Naya kemudian.
"Oke, yuk Beby."
Mereka pun pergi mengunakan taksi online yang dipesan oleh Tania. Di sepanjang perjalanan ke mall Tania terus bicara namun tak di respon oleh Naya sama sekali. Naya asik melihat jalanan kota di malam hari.
Setalah taksi berhenti Tania membayar nya sedangkan Naya sudah keluar terlebih dahulu.
"Ini yang terakhir ya Tania. Gue nggak mau ikut Lo lagi kalau mau pacaran. Bosen gue dari dulu sampai sekarang jadi obat nyamuk Lo."
"Iya iya, ini yang terakhir dan nanti juga yang terakhir. Akan banyak yang terakhir nya Nay. Gue udah bosen dengar Lo ngomong itu Mulu tiap kali gue ajakin keluar bareng cowok gue."
Naya hanya diam saja mendengar ucapan sahabat nya itu. Ya emang benar seperti itu. Tapi ia akan selalu ikut ketika Tania memohon untuk di teman kan.
"Dimana sih cowok Lo? Jadi Dateng nggak sih Tan?" Tanya Naya setelah mereka sampai ditempat yang sudah di janjikan oleh Tania dan pacarnya itu.
"Jadi kok Nay." Jawab Tania dengan terus menyapu sekeliling mencari sosok yang ia tunggu. " Nah itu dia Nay." Tunjuk Tania pada sosok cowok berbadan tinggi sekitar 168 cm tidak terlalu putih tapi cocok untuk poster dirinya.
Cowok itu melambaikan tangan dengan sedikit senyuman pada Tania. Tania membalas nya dengan sangat kegirangan membuat Naya menarik sudut bibirnya melihat tingkah sahabatnya itu.
Tiba-tiba ponsel Naya berbunyi membuat si empunya segera mengambil ponsel nya itu dari dalam tas nya. Naya mendengus saat melihat nama yang menelpon nya itu.
"MANTAN TERINDAH." Ucap Tania sambil tertawa terbahak bahak.
"Sejak kapan Lo alay kayak cabe gini sih Nay." Sambung nya lagi di sela tawa nya.
Naya menajamkan mata nya kearah Tania yang sudah lancang membaca privasi nya itu. Sungguh bukan dia yang membuat nama itu. Dan sudah dipastikan si kampret itu lah pelakunya.
"Udah tau gue nelpon sok banget sih nggak mau di angkat Nay. Mau sok ngatris ya Lo?" Ucap seseorang membuat Naya mengalihkan tatapannya dari Tania.
Naya melotot kan matanya ketika tau siapa si pemilik suara itu. "Eh banci, ini kerjaan Lo kan bajak hp gue. Lo kan yang ngubah nama Lo si banci jadi kayak gini. Mantan terindah apaan ha maksud nya?"
"Duh, apa nama nya kurang cute ya Nay. Atau perlu gue ubah lagi jadi mantan tersayang biar tambah cute?"
"Cute, cute gigi Lo. Tau ah kesel gue jadi nya." Ucap Naya sambil berlalu pergi
"Lah Nay, gimana ceritanya nih Lo kabur gitu aja? Nggak jadi temanin gue?" Teriak Tania dari arah belakang
"Bodoh, Gue mau pulang." Jawab Naya sambil terus berjalan menghiraukan panggilan dari Fano di belakang nya yang terus mengejar nya.
"Santai aja keles Nay. Gitu banget sih marah nya. Padahal kan cuma gue gantiin nama aja di ponsel lo bukan gue perkosa Lo." Ucap Fano yang kini berhasil membuat langkah kaki Naya terhenti dengan menahan lengan Naya.
Naya melotot kan mata nya. Sungguh emosi nya sudah ingin meledak saat ini menghadapi Fano. Tapi ia harus tau diri untuk marah, disini sedang ramai orang dan ia tak ingin membuat Fano malu.
"Mau Lo apa sih Fan?" Ucap Naya setelah menetralkan rasa marah nya.
Fano tersenyum sebentar dan menarik Naya agar lebih dekat dengannya.
Sontak perlakuan Fano tadi membuat Naya kaget. Selama ini ia tak pernah melakukan hal seperti ini.
Naya menarik tubuh nya untuk sedikit menjauh dari Fano. Tapi ketika Naya menarik tubuh nya Fano lebih cepat mencium kepala Naya sekilas membuat Naya jadi diam mematung.
"Buat Lo yang udah mau jadi mantan yang paling dewasa." Ucap Fano dan menarik Naya yang masih diam mematung itu keluar dari mall.
Bodoh amat ia di liatin banyak orang. Ia tak perduli karena ia melakukan apa pun yang membuat ia senang bukan yang membuat orang lain senang. Urusan bakalan di omelin sama Naya nanti akan ia urus.
Entah lah, tanpa mengusik ketenangan mu membuat ada yang kurang dalam daftar aktivitas harian ku."Sekali lagi saya bertanya siapa yang nyuruh kalian untuk pulang tanpa arahan dari sekolah?" Ucap pak Kepala sekolah yang kini sudah tak bisa menahan rasa kesal nya pada murid yang tidak bertanggungjawab.Kini satu sekolah sedang berdiri di lapangan mendengar ocehan dari kepala sekolah yang sedang mencari pelaku. Sudah hampir satu jam mereka di jemur di lapangan karena belum ada yang mengakui kesalahannya."Baiklah, jika kalian tidak ada yang mau mengaku maka hari ini kalian semuanya saya jemur sampai jam sekolah berakhir dan tidak ada yang boleh keluar dari barisan." Ucap kepala sekolah kemudian dengan rasa kesal nya karena sampai satu jam berlalu belum ada yang mau mengaku.Terdengar suara keluhan dari para siswa dan siswi dari semua kelas. Termasuk kelas XII IPA 1. Fano masih asik bermain game di ponsel nya sedari ta
Entah kutukan apa yang dikirim kan tuhan pada ku lewat kamu yang terlalu menguji kesabaran ku setiap hari.Naya melihat keluar jendela, memandangi setiap tetes air hujan yang turun. Kebetulan hari ini guru mata pelajaran sedang tidak masuk jadi saat ini sedang berlangsung jam kosong.Naya mengalihkan pandangannya pada sosok cowok yang saat ini sedang berada dalam mimpi. Hawa dingin dari hujan yang turun saat ini mampu menghantarkan Fano Arga Tara pada tidur yang sangat nyenyak.Ia menarik bibirnya membentuk senyum ketika bayangan masa lalu mereka tiba-tiba melintas. Tak ingin tertangkap basah karena menatap Fano secara diam-diam, Naya kembali mengalihkan pandangannya ke jendela melanjutkan aktivitasnya tadi.Memang benar bahwa hujan selalu mengingat kan kita pada kenangan."Hujan turun aja di liatin, ya elah Nay sejak kapan Lo jadi alay?" Ucap seseorang yang ntah sejak kapan sudah berada disamping n
Menjadi mantan lebih menyenangkan dari pada menjaga jodoh orang lain.Kelas XII IPA 1 seperti pasar saat mengetahui ada PR fisika. Masing-masing pada berhamburan mencari contekan. Naya yang baru tiba terasa aneh melihat teman-teman nya yang sibuk merebut buku."Ada apaan sih?" Tanya Naya pada Fano yang saat ini sedang sibuk mengigit sedotan air mineral.Fano mengeluarkan buku dari dalam tas dan di berikan nya kepada Naya. "Nih pr fisika buat mantan tersayang udah gue kerjain. Jadi Lo nggak usah seperti mereka yang rebutan buku gue untuk nyontek. Cukup merebut hati gue aja Nay."Naya yang baru mengerti langsung tersenyum. Tau saja Fano kalau Naya akan merengek mintak di kerjain pr Nya.
Menghukum mantan itu sama kayak menghukum diri sendiri .Naya dan Fano kini sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Memandangi tinggi panggar didepan nya. Suasana sudah sepi mengingat bel masuk kelas sudah berbunyi 20 menit yang lalu. Harus nya mereka telat 10 menit tapi karena perdebatan kecil yang terjadi antara Fano dan Naya yang tak ada mau mengalah membuat mereka harus telat 20 menit."Coba deh Nay kasi tau gue, motif Lo buat telat itu apa sih? Lo nggak tau ya hari ini siapa yang ngajar di jam pertama?" Tanya FanoNaya hanya tersenyum memandangi pagar di depannya. "Tau kok, nyantai aja lagi Fan. Bukan nya telat udah langganan kita ya di sekolah ini?"Fano menarik rambut nya frustasi menghadapi Naya. "Iya, tapi nggak di hari ini juga kali Nay. Wakil kesiswaan loh yang ngajar jam pertama." Peringat Fano"Jadi Lo takut?" Tantang Naya dengan muka mengejekFano men
Terkadang kamu lucu saat tiba-tiba mampir di ingatan ku. Kadang-kadang pula kamu menyebalkan saat bertatap muka langsungHujan kembali menguyur kota malam ini. Naya menatap lurus kedepan melihat rintik hujan yang turun. Memang benar kalau hujan selalu membuat kita terkenang akan masa lalu. Tak ingin merasa sendiri, Naya memutar laguuntuk menemani malam nya itu.Hembusan angin yang sejuk menusuk kulit hingga ke tulang. Rambut ikal nya seperti di belai lembut oleh angin yang terus menerus bertiup. Lagu kesukaannya terus mengalun seperti mengajak nya untuk bernostalgia sebentar pada masa lalu."KITA PUTUS." Ucap FanoNaya hanya tersenyum merespon ucapan Fano tanpa ingin berkomentar sedikit pun dari pernyataan Fano itu."Ya elah, nggak usah senyum gue nggak bisa liat senyum Lo." Ucap Fano dengan ketusNaya hanya mengangguk kan kepala tanda mengerti.Fano men
Kita mungkin salah mengakhiri hubungan ini tanpa kompromi dengan takdir namun aku percaya bahwa takdir yang akan mengurus sisanya nanti. Percayalah!"Selamat pagi mantan kesayangan babang Fano." Sapa Fano saat melihat Naya sedang duduk di sebuah kursi panjang di depan kelasnya.Naya menoleh sebentar ke arah Fano tanpa menjawab nya, Naya kembali memusatkan pandangan pada cowok yang berada di lapangan tengah ngobrol santai dengan seorang wanita.Kesal karena tak mendapatkan jawaban atau perlawanan dari Naya, Fano mengikii arah pandang Naya yang sedang menatap seseorang di lapangan sana."Cemburu?" Tanya Fano ketusNaya menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Fano itu. "Maksudnya?""Lo cemburu lihat Galih dekat dengan Siska.""Cemburu?" Tanya Naya, "Gue? Sama si siska?" Lanjutnya
Nanti, akan kembali gue jelaskan tentang lo dihati gue dengan rumus sains.Hari ini sekolah ada acara seni. Oleh karena itu, semua siswa sibuk dan proses belajar mengajar diliburkan sementara.Acara seni ini adalah acara dimana masing-masing ekskul menunjukan keterampilan nya dalam kategori seni. Acara ini akan dimulai nanti malam. Untuk saat ini mereka sedang mendirikan tenda untuk perkumpulan masing-masing ekskul. Tak lupa juga bazar yang akan diadakan dari masing-masing ekskul. Di penghujung acara akan ada pengumuman pemenang.Biasanya acara ini dinamakan hari siswa dimana siswa memiliki hak penuh dalam menentukan apa yang ia mau tanpa campur tangan guru atau pembina.Kebetulan sekali Naya dan Fano berada dalam satu ekskul. Dan sampai detik ini juga belum ada keputusan apa pun dari ekskul mereka."Ketua, apa yang akan kita tampilkan nanti malam?" tanya Gilang masih dengan aktivitasnya
Aku atau kamu semoga tidak pernah menjadi cerita di bagian mana pun itu. Cukup menjadi cerita di bagian kita saja.Malam sudah tiba, lampu dari berbagai tenda ekskul sudah mulai menyala dilengkapi dengan pernak-pernik yang menghiasi tenda masing-masing guna menarik orang untuk datang ke tenda mereka.Acara sudah mulai sejak tadi. Ekskul yang pertama tampil adalah teater. Dalam cabut undi tadi, ekskul sains berada pada undian terakhir."Undian kita nomor berapa ketua?" tanya Gilang yang sedang menyaksikan ekskul yang sedang menampilkan seni mereka."Kita kebagian nomor terakhir." jawab Reno memelas.Gilang melihat arlojinya yang sudah menunjukan jam 20.02, "Bisa kalah kita ketua. Mana ada yang mau menyaksikan acara sampai selesai. Pasti udah pada pulang lah mereka.""Gue juga mikirnya gitu sih Lang." Reno tediam sejenak, "Oh iya,
"Kalian." Gumam Fano."Ih seriusan ini Fano Loh." Ucap Tania yang mulai mendekati Fano diikuti dengan Aldi dan juga Riko dibelakangnya.Mereka bertiga benar-benar terkejut saat melihat sosok Fano yang sudah sangat lama tak pernah terlihat sama sekali sejak hari itu."Apa kabar Fan?" Tanya Riko, terasa sedikit canggung namun tetap ia sapa sosok yang dulu selalu ia susahkan itu."Baik, kalian apa kabar?" Tanya Fano dengan sangat hati-hati sekali.Ia takut jika ia masih seperti dulu lagi maka teman-teman nya itu akan berpikir aneh. Toh mereka sudah lulus begitu lama dan juga ia yakin bahwa saat ini mereka semua sudah bergelut pada dunia kerja yang menuntut keseriusan.Tania menulis nama mereka bertiga di daftar tamu yang hadir dan kemudian langsung menyerahkan undangan biru muda itu kepada petugas."Woi, ayo masuk. Ngapain sih lama bnget dis
Fano sampai pada parkiran mobil, di hadapannya saat ini berdiri sebuah bangunan dimana ia pernah menimba ilmu dulunya.Ia masih bingung antara masuk atau tidak, entahlah terasa begitu gugup sekali saat ini.Pikirannya saat ini hanya satu saja, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan demi pertanyaan semua orang nantinya.Jika nnati orang bertanya tentang Syasa, apa yang harus ia jawab?Sudahkah dirinya ini siap untuk masuk dan bertemu dengan banyak orang dari masa lalu nya itu?Beberapa pertanyaan terus memenuhi isi kepalanya saat ini hingga membuat ia tak tahu harus bagaimana.Apakah ia harus pulang saja? Jika iya, maka kedatangan nya kesini itu untuk apa? Hanya untuk melihat bangunan yang pernah ia tempati dulu yang mempunyai banyak sekali kenangan antara dirinya dan juga Naya?Lama sekali Fano terdiam di dalam mobil, matanya terus saja me
Gerbang yang menjulang tinggi itu dihiasi lampu warna-warni disana. Tak lupa juga balon warna warni juga ikut turut serta meramaikan keindahan dekorasi yang dibuat oleh sekolah melalui anak-anak OSIS yang bergerak sesuai bidangnya.Sekolah sudah begitu ramai sekali yang datang, reunian kali ini benar-benar terasa begitu berbeda dari reunian yang dilakukan setiap tahunnya.Jika tiap-tiap tahun yang datang mengisi acara hanya sedikit maka kali ini para alumni yang datang benar-benar di luar dugaan sehingga bagian konsumsi harus bergerak cepat untuk menambah makanan dan jamuan untuk para hadirin yang datang.Benar-benar merupakan reunian yang paling berbeda dari biasanya. Seluruh anak OSIS kesana sini menyiapkan banyak kekurangan itu. Tak Mereka sangka bahwa alumni yang hadir akan benar-benar ramai melewati batas target mereka."Buset dah, tumben banget reunian kali ini Ramai. Biasanya tiap tahun sepi,
Beberapa hal datang tanpa kita tahu maksud sebenarnya tapi kita tahu ada sesuatu yang harus kita temukan dari semua itu.Fano berada dalam ruangannya, sejak tadi ia mencoba untuk fokus pada kerjaannya itu melupakan semuanya, namun entah kenapa bayangan wajah Naina terus saja menghantui nya.Anak nya itu seperti sedang melakukan pemberontak dengan cara sangat halus sekali.Tapi ia juga tidak tahu apa sebabnya, seingatnya ia dan Naina tidak terlibat dalam perdebatan apapun itu. Jika pun mereka terlibat perdebatan, Naina akan mengunci diri di dalam kamar dan tak akan bicara apapun padanya.Tapi tadi, Naina masih memanggil nya dengan panggilan papa dan masih menggenggam tangan Fano dengan begitu erat. Tak ada tanda-tanda Naina marah padanya tapi kenapa rasanya itu ada yang berbeda dengan anak yang sudah ia besarkan bertahun-tahun lamanya?Fano mengingat apa saja kegiatan yang telah m
Dari banyak hal, membenci mu setelah menoreh luka adalah hal yang tak bisa gue lakukan sampai saat ini.Naina terdiam menatap sarapan yang ada di atas meja. Kata-kata yang diucapkan oleh nenek nya tadi malam begitu memukul dirinya sampai ke dasar hati yang paling terdalam.Rasanya ia sungguh ingin tertawa saja sekarang, menertawakan kebodohan nya selama ini."Sayang kamu kenapa? Sakit ya?" Ucap Fano yang langsung membawa Naina kembali pada kesadaran nya semula.Naina menatap papanya di hadapannya itu, ia juga tidak tahu harus menunjukkan ekspresi dan bersikap seperti apa di hadapan papa nya saat ini.Tak mendapat kan jawaban apapun dari Naina, Fano bergerak menghampiri Naina yang duduk tak jauh
"Kemari sayang," ucap ibu Fano pada Naina sambil menepuk kasur empuk disampingnya itu.Naina melangkah untuk mendekat ke arah nenek nya dengan perasaan yang bercampur aduk. Mimik wajah dari sang nenek yang terasa beda dari biasanya membuat Naina merasa bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan tak ia ketahui sama sekali.Senyum wanita yang sudah tua itu begitu manis. Jarang sekali ia melihat neneknya bisa tersenyum seperti saat ini. Bukan jarang malah lebih tepatnya tidak pernah. Namun saat hanya dengan menyebut nama wanita itu, sisi lain nenek nya dan sang papa yang tak pernah ia ketahui muncul begitu saja."Berapa umurmu sekarang sayang?" Tanya ibu Fano saat Naina sudah duduk disampingnya."Hampir delapan tahun nek." Jawab Naina.Kembali wanita itu mengembang senyumnya hingga menampakkan bentuk keriput di matanya."Kau sudah sangat besar ternyata, tap
Rasa penasaran dan teka-teki entah kenapa berjalan beriringan dalam hidup gue saat ini. Tentang kamu, dia dan kita yang telah berlalu.Sejak pulang ke rumahnya Naya tak sedikitpun Bergerak dari tempat tidurnya. Ia terus saja memikirkan pertemuan nya bersama dengan Fano tadi.Beberapa pertanyaan terus saja berputar di otaknya saat ini mengingat dengan jelas ucapan gadis kecil yang memanggil Fano dengan panggilan papa."Apakah itu anak Syasa? Apakah mereka sudah menikah dan dikaruniai seorang anak? Ah, pasti nya hidup mereka telah bahagia selama beberapa tahun ini."Naya menggeleng kan kepalanya cepat menghapus setiap dugaan yang muncul. Bagaimanapun ia tak ingin terlalu cepat menyimpulkan semua yang terjadi hari ini. Tapi bayangan wajah Naina yang begitu mirip dengan Syasa begitu menghantui dirinya sendiri."Ck! Mengapa gue harus repot-repot memikirkan semua itu? Ast
Ketika takdir dan waktu berkerja sama dalam menghancurkan diriku, disaat itulah kamu harus tahu bahwa hancurnya diriku itu karena kamuSesampainya dirumah, Fano langsung menuju lantai dua dimana kamarnya berada tanpa mengucapkan apapun pada Naina. Naina menaikkan alisnya karena merasa bingung dengan keadaan papa nya itu yang tiba-tiba saja berubah. Padahal tadi saat mereka pergi dan belanja di mall papanya itu masih baik-baik saja. Lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi?Ibu Fano yang melihat Naina kebingungan langsung menghampiri cucu nya itu."Ada apa sayang?" Tanya Ibu Fano sambil mengusap lembut puncak kepala Naina."Nggak tau sih Nek, papa tiba-tiba aneh.""Aneh? Aneh kenapa hm?" Tanya ibu Fano, sebenarnya ia melihat semuanya saat mereka baru saja turun dari mobil. Ibu Fano melihat wajah Fano yang berbeda."Nggak tau Papa itu kenapa setelah bertemu sama
Entah apa jadinya pada hati ini saat mengetahui kebenaran dari semuanya saat kita kembali bertemuTapi tanpa di duga sebelumnya, langkah kaki Naya berhenti. Naya diam membeku ditempat nya itu. Bahkan matanya juga tidak berkedip sama sekali saat berpas-pasan dengan seseorang yang selalu menganggu nya selama ini. Orang itu juga sama, sama-sama terkejut dan tak percaya apa yang sedang di lihat oleh Mata nya sendiri.Kedua nya larut bersamaan tatap mata yang sama sekali tidak berkedip itu, seolah-olah sedang berbicara tanpa perantara mulut."Fan-o." Ucap Naya terbata-bata. Lidah nya tiba-tiba saja kelu menyebutkan nama Fano itu."Naya." Kini giliran Fano pula yang bersuara. Berbanding terbalik dengan Naya yang nampak sedikit shock itu. Fano malah nampak begitu bahagia saat ini.Baru selangkah Fano berjalan untuk mendekati Naya tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat mata nya menangka