Ningsih merengut saat Karjo memberitahunya tentang tugas Tiara yang baru. Wanita paruh baya itu merasa tak terima karena ada pekerja yang di anak emaskan. Apalagi itu pendatang baru dan masih muda.
Jiwa bersaing muncul seketika di hati Ningsih. Padahal dialah yang paling lama mengabdi di kediaman keluarga Baskoro. Harusnya pekerjaan wanita itu lebih ringan mengingat usia yang semakin renta.
"Apa Tiara pakai pelet untuk memikat Mas Arya? Kok bisa-bisanya dia yang diminta membersihkan kamar."
Ningsih sengaja memancing Karjo untuk bercerita. Sebagai wanita lanjut usia pada umumnya, bergosip adalah salah satu hiburan selain menonton televisi.
"Maksudmu apa?"
Karjo mengatakan itu sembari menyeruput kopi panas. Sepotong pisang goreng langsung tandas di mulutnya karena kelaparan. Sejak tadi lelaki itu menunggu Ningsih selesai masak.
"Sama seperti ibunya. Melet juragan kita biar dapat kemewahan."
Ningsih mencibir saat mengingat Darsih. Ibunya Tiara itu memang cantik walau memasuki usia empat puluh. Kulitnya sawo matang tetapi bersih tanpa noda.
"Ya aku ndak tau. Aku cuma ditugaskan begitu."
Karjo mengutak-atik ponsel membalas chat dari istrinya. Beras dan lauk pauk di rumah mereka sudah habis. Namun, lelaki itu sungkan untuk meminjam uang kepada Arya.
Sebagian gajinya telah habis untuk membayar cicilan. Sejak Baskoro tak ada, Karjo jarang mendapat tip karena Arya lebih suka menyetir sendiri saat berpergian. Sedangkan Nyonya Arjani sudah tak waras untuk dimintai uang.
"Tapi aku mau anak itu tetap membantuku memasak dan mencuci piring. Tanganku sakit kalau harus mengerjakan semua."
Ningsih mulai mengeluarkan jurus andalan. Mengiba dan meminta belas kasihan. Hanya saja, tangan yang sakit itu memang benar adanya.
"Kan ada pembantu yang lain."
Karjo sedang tak fokus membalas ucapan Ningsih. Omelan istrinya dichat membuat lelaki itu pusing. Entah dari mana bisa mendapatkan uang, dia masih memikirkan caranya.
"Tapi kerjaan Tiara yang paling bagus. Kalau motong sayur teliti."
Harus diakui bahwa Tiara begitu telaten walau masih muda. Walaupun hasilnya lama, tetapi Ningsih merasa puas. Wanita itu begitu teliti memisahkan sayuran busuk dan sangat rapi memotong wortel.
Hasil cucian dan gosokan Tiara juga apik. Dia cukup rapi menata baju sehingga memudahkan pembantu yang lain menyusunnya.
"Mbuhlah. Ndasku mumet."
Karjo kembali melahap gorengan. Kali ini tahu dan tempe mendoan yang menjadi sasaran. Aroma harum opor dan rendang yang sejak tadi dimasak Ningsih belum juga selesai.
"Kamu mendukungku atau tidak?" desak Ningsih.
"Aku mendukung yang membayar gajiku."
Karjo menjawab asal. Lelaki itu bahkan meletakkan ponselnya dengan kasar karena kesal. Sungguh istrinya benar-benar keterlaluan.
"Kamu ini--"
"Sudah-sudah. Aku pusing mendengar ocehanmu. Lihat istriku minta uang terus," sungut Karjo sembari menunjuk ponselnya.
"Lah, gajimu habis toh?"
"Habislah. Istriku kan minta mobil baru," sungutnya.
Ningsih menatap Karjo dengan iba. Bagaimanapun lelaki itu pernah menolongnya saat sakit. Dengan cepat, wanita paruh baya itu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari balik bajunya.
"Nih."
"Lah ...."
Karjo terkejut bukan main. Ningsih yang terkenal perhitungan tiba-tiba saja menjadi royal begini.
"Biar istrimu senang."
Ningsih mengulum senyum melihat tangan Karjo begitu gemetaran saat mengambil uangnya.
"Matur nuwun, Mbakyu."
Karjo sengaja mengucapkan itu agar Ningsih semakin tersanjung. Lelaki itu baru menyadari bahwa rekan kerjanya itu bisa dimintai pertolongan jika keadaan terdesak. Sayangnya dia tak terpikiran sejak dulu.
"Tapi kamu bantu aku. Bilang sama Mas Arya kalau Tiara tetap bantu memasak. Biar cuci gosok dikerjakan sama yang lain."
"Siap, Nyonya besar."
Ningsih tergelak mendengarnya. Bayangan menjadi nyonya besar mendampingi Baskoro berkelebat di pelupuk matanya.
Sayang, semua itu hanyalah khayalan semu. Tuan Baskoro lebih memilih Darsih untuk menjadi gundiknya. Padahal hingga kini, cinta masih bersemayam di dada Ningsih.
***
"Dari mana saja kamu? Lama sekali."
Arya bersungut saat Tiara datang. Sejak tadi dia menunggu karena kamar begitu kotor.
Semalam, Arya bergadang mengerjakan laporan dan menghabiskan banyak snack juga minuman kemasan. Sehingga sisa bungkusnya memenuhi tempat sampah.
"Tadi ke dapur sebentar bantu Bik Ningsih masak."
"Bukannya aku sudah bilang kalau tugasmu hanya mengurus kamarku?" tanya Arya heran.
"Tapi kasihan Bik Ningsih. Dia kecapean kalau mengerjakan semua," jelas Tiara.
"Memangnya yang lain kemana?"
"Anu, Den. Itu--"
"Jawab saja. Jangan cenga-cengo!" ketus Arya.
"Yang lain ndak tahan sama omelan Bik Ningsih."
Untuk sesaat Arya memahami mengapa selama dia berada di sini, ada beberapa pembantu baru yang mengundurkan diri. Lelaki itu berpikir jika gaji yang diberikan terlalu kecil. Tenyata Ningsih penyebabnya.
"Tapi masakannya enak," ucap Arya jujur.
"Yang memang begitu, Den. Perempuan kalau bawel, masakannya pasti enak."
Arya tergelak mendengar ucapan Tiara. Untuk sesaat lelaki itu lupa akan dendam yang telah berakar di hatinya. Ketika melihat wanita itu tampak kebingungan, akhirnya dia tersadar.
"Cepat kamu bereskan semua. Pel yang bersih. Sikat kamar mandi dan susun baju di lemari yang sana. Barang lainnya jangan kamu sentuh."
Arya kembali ke mode awal dan bersikap sinis kepada Tiara. Lelaki itu tak mau wibawanya jatuh. Rasa benci kembali muncul saat teringat mendiang ayahnya.
"Ingat Den Arya. Tiara itu anaknya Darsih, pembunuh tuan besar."
Arya tersentak saat teringat kata-kata Karjo. Dia tak boleh menaruh iba kepada Tiara, apapun alasannya. Wanita itu harus menderita di rumah ini. Setidaknya menjadi pembantu seumur hidup.
"Apa saya boleh membersihkan tempat tidur?"
"Tentu saja. Ganti semua alasnya dengan yang baru. Kalau perlu cuci gordennya sekalian."
"Tapi gordennya berat dan tinggi " keluh Tiara.
Berbeda dengan ibunya, Tiara memang lebih berani mengutarakan pendapat. Darsih tipikal manusia yang pasrah dan lebih menurut, sehingga Baskoro bisa memanfaatkan kelemahannya.
Darsih menerima semua perlakuan Baskori di bawah tekanan dan ancaman. Wanita itu membutuhkan uang untuk melanjutkan hidup. Di saat Baskoro memberikan kepercayan, insiden itu malah terjadi.
"Bukan urusanku."
Arya bergegas keluar kamar menuju ruang kerja ayahnya. Lelaki itu tak merasa khawatir meninggalkan Tiara sendirian karena ada CCTV di setiap sudut kamar.
***
Satu jam berlalu dan Arya masih berkutat dengan berbagai macam pembukuan keuangan. Ada beberapa transaksi yang dianggapnya berlebihan dan harus ditekan.
Omset penggilingan padi dan usaha lain saat ini cukup menutun dibanding pada waktu ayahnya dulu. Ada banyak faktor, salah satunya kehilangan kepercayaan.
Beberapa relasi bisnis masih ada yang meragukan kemampuan Arya dalam mengelola usaha keluarga. Apalagi lelaki itu baru lulus kuliah dan belum berpengalaman.
"Kenapa harus beli alat baru padahal yang lama masih berfungsi dengan baik?"
Arya bergumam dalam hati. Lelaki itu membuka setiap lembar pengajuan budget tambahan dengan teliti. Ada beberapa permintaan yang dia coret karena tak masuk akal.
Kenaikan tunjangan karyawan.
Bonus lembur.
Service dan penggantian alat.
Juga banyak hal lain yang Arya perimbangkan untuk disetujui atau tidak. Lelaki itu mencium aroma kenakalan dan korupsi, hanya saja dalam jumlah yang kecil. Namun, semua akan tetap ditindak.
"Baru penggilingan padi. Belum pabrik, masalah rumah dan ibu."
Arya meregangkan pinggang di kursi. Dia berjalan menuju kulkas di sudut ruangan untuk mengambil minuman. Namun, langkahnya terhenti saat melihat CCTV kamar.
Tiara sedang membersihkan meja. Namun, wanita itu tampak lancang dengan memegang foto-foto yang terpanjang di sana.
Tiara membuka laci-laci di bawah dan memeriksanya.
"Astaga!"
Arya bergegas menuju kamar. Langkah panjangnya menimbulkan derap di lorong. Tadi dia sudah memperingatkan Tiara agar jangan menyentuh barang-barang lain. Namun sepertinya wanita itu lupa.
"Letakkan di tempat semula atau tanggung akibatnya!"
Tiara terlonjak mendengarnya. Gadis itu cepat-cepat meletakkan benda yang tadi diambilnya dari laci. Tangannya gemetaran karena ketakutan.
"Apa kau lupa pesanku tadi?"
Tiara menggeleng tanpa suara. Gadis itu pasrah jika mendapatkan hukuman karena telah lancang.
"Kamu sama seperti ibumu, tak tahu diri!"
Arya berjalan mendekat dan mengambil benda yang tadi sempat diambil Tiara dari laci.
"Aku bisa saja melenyapkan kalian dengan alat ini. Apalagi ibumu sudah terbukti membunuh ayahku."
Arya meletakkan benda itu di belakang kepala Tiara. Lelaki itu menarik kokang untuk menakut-nakuti, agar menimbulkan efek jera.
"Maaf, Den."
Tubuh Tiara mengigil karena ketakutan. Gadis itu bahkan memejamkan mata sembari berdoa agar tetap selamat.
"Sekali lagi kamu berani membuka laci-laci di kamar ini, maka kepalamu akan aku ledakkan."
"Aaa!"
Tiara berteriak histeris lalu berlari keluar. Gadis itu kembali ke kamarnya dan mengunci pintu karena trauma.
Tubuh Tiara seketika menjadi lemas. Untuk pertama kali, dia jatuh sakit setelah berminggu-minggu bekerja di sini.
Ningsih menegur Tiara yang sedang menyapu lantai. Sejak kemarin sore hingga pagi ini, sikap gadis itu berubah. Biasanya terlihat bugar, tapi sekarang tampak lemas. "Kenapa kamu masih di sini? Kamar Den Arya belum dibereskan dari tadi."Biasanya Tiara akan banyak bicara dan menjawab omelan Ningsih. Namun, seharian ini dia hanya diam dengan wajah murung."Kamu kenapa, sakit?"Ningsih mendekati Tiara dan meraba dahinya. Lalu, dia terkejut saat merasakan panas yang cukup tinggi."Ya ampun kamu demam."Ningsih mengambil sapu yang dipegang Tiara dan menuntun wanita itu duduk di kursi. Dengan cepat dia mengambil air putih dan menyodorkan sepiring kue."Makan!" perintahnya. Tiara menggeleng lalu melipat tangannya di meja. Gadis itu mencari posisi yang nyaman, lalu meletakkan kepala dan memejamkan mata."Makan dulu supaya bisa minum obat," paksa Ningsih.Lagi-lagi Tiara menggeleng. Gadis bahkan mendorong piringnya karena tak berselera makan. Rasanya dia ingin beristirahat saja seharian. "Duh
Tiara menggigil di balik selimut. Wanita itu bahkan tak bisa makan sama sekali. Sejak tadi dia muntah dan diare. Obat yang diberikan Ningsih tak berpengaruh apa apa."Ibu, ibu--" lirihnya.Sudah dua hari kondisi Tiara begini dan tak ada perubahan. Tak ada juga orang yang merawatnya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing."Kamu apakan Tiara sampai begitu?" tanya Karjo. "Ndak ada, sumpah," jawab Ningsih jujur."Jangan-jangan ndak dikasih makan," tuduh Karjo."Enak saja, dia makan 3 kali sehari. Lauknya bebas, boleh milih yang ada dipanci.""Pasti kamu paksa kerja rodi," lanjut Karjo.Mata Ningsih mendelik tak terima. Sekalipun tak suka dengan Tiara, wanita paruh baya itu tak mau sembarangan bertindak. Dia masih mau bekerja lama di sini. "Dia cuma membersihkan kamar Den Arya," sanggah Ningsih. Dia tak mau dituduh menyuruh Tiara mengerjakan pekerjaan berat. "Mungkin kerjaan terlalu banyak. Sementara fisiknya ndak kuat," tebak Karjo."Nah, mungkin. Dia kan ndak pernah jadi babu maca
"Kemasi barangmu!"Karjo masuk ke ruang rawat inap begitu saja tanpa mempedulikan kondisi Tiara yang masih lemah."Kata dokter saya belum boleh pulang," tolak Tiara. Jangankan pulang, berdiri saja tubuhnya limbung. "Jangan membantah. Ini perintah Den Arya."Tiara terdiam dan tak mau berdebat. Namun, ketika seorang perawat datang dan mencabut infus, dia tahu bahwa tenaga medis di rumah sakit inipun tak bisa berbuat apa-apa."Bisa bantu saya berdiri?" pinta Tiara dengan wajah memelas. Setidaknya ada orang yang membantunya di saat seperti ini. "Tentu saja." Perawat itu memegang tangan Tiara dan menuntunnya di kursi roda. Wajahnya tampak iba, tetapi tak berani melawan."Biar aku saja," ucap Karjo sembari mengambil alih kursi roda dan mendorong Tiara keluar. "Tunggu!" Ucapan perawat itu menghentikan langkah Karjo. Lelaki itu tampak beringas sehingga membuat si perawat ketakutan."Barang-barangnya ketinggalan.," ucap perawat sembari menyodorkan sebuah ras kumal. "Tidak perlu. Itu cuma sa
Dengan langkah gontai, Tiara mengambil vacum cleaner untuk membersihkan kamar Arya. Pintu kamarnya diketuk pada pukul lima pagi. Sehinggga gadis itu terpaksa bangun dengan kondisi tubuh yang payah. "Bantu-bantu kami di dapur. Habis itu bersihkan kamar Mas Arya."Tiara tak mau berdebat dengan Ningsih. Jika saja kondisi tubuhnya lebih baik, mungkin gadis itu akan membalasnya. Namun dia menahan diri. Sakit dan tidak ada yang peduli itu menyakitkan."Den Arya sudah berangkat dari pagi," ucap Ningsih saat melihat Tiara mengeluarkan vacum cleaner dari lemari penyimpanan barang. "Iya, Bik.""Mungkin nanti sore dia akan pulang.""Aku tau," jawab Tiara cepat. "Jadi baiknya kamu berhati-hati. Jangan sampai ada barang yang hilang. Cukup ibumu saja yang jadi pembunuh. Jangan sampai anaknya ikutan maling."Rasanya Tiara ingin menyedot mulut Ningsih dengan alat ini. Apalagi saat mengucapkan hinaan, bibir tuanya itu ikut mencebik dengan mata melotot. Dalam hatinya berkata, andai saja dia sudah se
"Jadi, apa yang sudah kau saksikan sejak tadi?"Tiara mengakat bantal yang menutupi telinganya. Gadis itu menatap Arya dengan wajah pucat. Tubuhnya gemetaran, seolah-olah memohon ampunan. Jangan sampai Arya murka lagi akibat perbuatannya. "Kau memang lancang seperti ibumu!" bentak Arya."Maaf, Den," ujar Tiara sembari menunduk. "Keluar!"Arya menarik Tiara dan membawanya keluar dari walk in closet. Dia mendorong si mungil itu hingga terjatuh di sofa kamar, lalu menarik leher baju istrinya. "Apa yang kau lakukan di kamarku?" ucapnya dengan penuh amarah. "Saya .... saya membersihkannya," jawab Tiara terbata-bata. Tiara menunduk, tak berani menatap mata Arya yang begitu buas. "Kenapa begitu lama?"Arya benar-benar malu karena aktivitas intimnya bersama Clarisa diketahui orang lain. Apalagi orang itu adalah Tiara, makhluk di muka bumi ini yang paling dibencinya. Arya memang menjalani hubungan bebas sejak mereka berpacaran. Namun, keduanya tak pernah mengumbar kemesraan yang berlebiha
Tiara mondar mandir mengambil balanjaan yang diturunkan dari pick up. Sejak subuh mereka semua tampak sibuk di dapur. Bahkan kamar-kamar yang tadinya kosong kini terisi.Hari ini tepat 100 hari wafatnya Tuan Baskoro. Sehingga keluarga Diningrat akan mengadakan acara. Tak tanggung-tanggung, semua keluarga akan hadir. Bahkan ada yang datang jauh-jauh hari karena berasal dari luar kota. Selama satu minggu ini tugas mereka bertambah. Tiara tak lagi membersihkan kamar Arya, tetapi kamar-kamar kosong itu. Dia bahkan melayani semua kebutuhan mereka, mulai dari makan minum dan mencuci pakaian."Bawa ini ke dapur."Tiara termenung saat salah satu pengawal Arya menunjuk beberapa tabung gas berwarna hijau itu. Gadis itu memasang wajah memelas. Tega sekali mereka menyuruh seorang wanita mengangkatnya. "Apalagi? Cepat angkat. Ibu-ibu di dapur mau masak!"Tiara terdiam lalu dengan enggan mengangkat tabung-tabung itu walau kepayahan. Dia sudah lelah dari subuh dan tak sanggup mengangkat barang bera
Rumah keluarga Diningrat tampak ramai malam itu. Lampu-lampu besar dipasang di halaman untuk menerangi acara tahlilan 100 hari almarhum Tuan Baskoro. Puluhan, bahkan ratusan orang memadati halaman rumah yang luas. Sejak sore, beberapa warga sudah berdatangan. Mereka membatu menyiapkan hidangan dan juga menata kursi. Sementara itu, anggota keluarga besar Diningrat berkumpul di depan menyambut tamu-tamu yang datang, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Hanya satu orang yang tak ada di rumah ini. Gayatri, nyonya rumah yang beberapa bulan ini tinggal di rumah sakit jiwa. "Letakkan ini di sini. Dan yang itu di sana!"Di salah satu sudut halaman, Tiara sibuk mengatur meja buah. Sudah seharian ia bekerja, membantu segala persiapan untuk acara malam ini. Wajah Tiara menunjukkan kelelahan. Namun gadis itu tetap tersenyum saat beberapa warga mendekati mejanya, lalu mengambil buah-buahan yang disediakan untuk tamu."Susun rapi buah yang berantakan. Nanti aku suruh Karjo m
Setelah acara selesai, Tiara berbaring di kamar karena merasa begitu lelah. Hari itu adalah hari yang sangat panjang. Penuh dengan tamu, memasak, dan berusaha memenuhi segala kebutuhan semua orang."Lelahnya. Hari ini benar-benar luar biasa."Tiara hanya ingin tidur, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah seharian bekerja keras. Namun, keinginannya terganggu ketika pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Ningsih masuk dan mendekati Tiara dengan nampan berisi makanan. Raut wajah wanita paruh baya itu juga tampak kelelahan. "Tiara, tolong antarkan ini ke kamar Den Arya.""Sekarang?""Tentu saja. Memangnya besok?" tanya Ningsih dengan sewot. Tiara membuang pandangan karena kesal. Entah mengapa semua orang di rumah ini selalu membuatnya kesal. "Dari tadi Den Arya belum makan," ucap Ningsih dengan nada penuh desakan.Tiara memandang nampan itu dengan ragu, lalu menggelengkan kepala."Aku capek sekali, Bik. Apa ndak bisa orang lain?" pinta Tiara memohon. "Semua orang juga capek. Aku bahk