Share

Part 41

last update Last Updated: 2025-03-06 22:14:36

Raditya duduk di ruangannya dengan ekspresi serius. Aryo baru saja melaporkan sesuatu yang menarik—ada bisikan di antara orang-orangnya bahwa seseorang di dalam tim inti telah mulai bermain di dua sisi.

"Kau yakin ini bukan hanya rumor?" tanya Raditya, suaranya tajam.

Aryo menggeleng. "Bukan hanya rumor, Tuan. Aku mendapatkan beberapa petunjuk kecil bahwa seseorang dalam lingkaran kita telah melakukan komunikasi rahasia dengan pihak luar."

Raditya menyipitkan matanya. "Siapa?"

Aryo mengambil napas sebelum menjawab. "Prasetyo."

Ruangan itu menjadi hening. Nama itu bukan sembarang nama—Prasetyo adalah salah satu otak strategi terbaik yang dimiliki Raditya. Namun, justru karena kepintarannya itulah, Raditya tahu bahwa Prasetyo bukan orang yang akan setia jika situasinya berubah.

Raditya menyandarkan tubuhnya, berpikir sejenak. "Apa kau punya bukti?"

Aryo menggeleng. "Belum ada bukti konkret. Tapi gelagatnya aneh. Ia terlihat lebih tertutup dari biasanya, dan ada informasi y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bangkitnya Johan   Part 42

    Prasetyo tiba di lokasi yang dijanjikan—sebuah gudang tua di pinggiran kota. Ia memarkir mobilnya, mengambil napas dalam, lalu keluar dengan hati-hati. Matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Di dalam, Adrian dan Felix sudah menunggu. Felix bersandar di meja kayu yang sudah tua, sementara Adrian duduk dengan tenang, tatapannya penuh perhitungan. “Selamat datang, Prasetyo,” ucap Adrian dengan senyum tipis. “Akhirnya kau membuat keputusan yang tepat.” Prasetyo tetap berdiri, tidak langsung menjawab. Ia menatap Adrian dengan tajam. “Aku tidak punya pilihan lain.” Adrian tertawa kecil. “Tidak ada yang pernah benar-benar kehabisan pilihan. Kau hanya memilih yang paling masuk akal untuk bertahan.” Prasetyo menatap Adrian lebih lama sebelum akhirnya duduk. “Baik. Aku di sini. Apa yang kau inginkan?” Adrian bersandar ke kursinya, menyilangkan tangan. “Kau tahu jawabannya. Aku tidak butuh sekadar orang yang berpindah pihak. Aku butuh seseorang yang bis

    Last Updated : 2025-03-06
  • Bangkitnya Johan   Part 43

    Prasetyo menyandarkan punggungnya di kursi, menatap layar ponsel dengan ekspresi dingin. Pesan-pesan sudah terkirim. Kini, yang perlu ia lakukan hanyalah menunggu dan mengamati reaksi yang muncul. Tak butuh waktu lama sebelum efeknya mulai terasa. Di dalam lingkaran Raditya, bisikan mulai menyebar. Orang-orang yang selama ini patuh mulai mempertanyakan posisi mereka. “Kenapa Raditya makin paranoid?” “Apa dia benar-benar masih bisa memimpin?” “Jika dia jatuh, siapa yang akan menggantikannya?” Prasetyo tahu betul, dalam dunia kekuasaan, kesetiaan hanya bertahan selama pemimpin masih terlihat kuat. Dan sekarang, ia harus membuat Raditya terlihat lemah. ________________________________________ Di Markas Raditya Raditya berdiri di depan jendela kantornya, menatap gelapnya malam. Tangannya mengepal. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa orang kepercayaannya mulai bertingkah aneh. Ada yang mulai menghindari tatapan matanya. Ada yang berbicara lebih pelan s

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 44

    Raditya mengamati lingkaran kepercayaannya dengan pandangan penuh curiga. Setiap orang yang berdiri di hadapannya kini adalah tersangka. Beberapa jam yang lalu, dua orang terdekatnya dihilangkan karena dicurigai berkhianat. Tapi yang aneh, tidak ada bukti nyata. Semua hanya didasarkan pada desas-desus yang beredar. Namun, ia tidak bisa mengambil risiko. “Kita harus bersih dari pengkhianat,” katanya dengan nada tegas. Namun, di sudut ruangan, seseorang diam-diam menyaksikan kehancuran yang terjadi—Prasetyo. ________________________________________ Di Sisi Prasetyo Prasetyo melihat bagaimana paranoia mulai menggerogoti Raditya. Persis seperti yang ia rencanakan. Ia tidak butuh senjata atau kekuatan untuk menjatuhkan pemimpin yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Ia hanya butuh menanam benih ketakutan. Dan kini, benih itu telah tumbuh menjadi monster yang siap melahap Raditya sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan: “Target mulai bertindak di luar ken

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 45

    Raditya menatap Prasetyo dengan penuh kewaspadaan. Instingnya berteriak ada sesuatu yang salah. Selama ini, Prasetyo adalah salah satu orang yang paling ia percaya. Namun, saat ini, ada sesuatu yang tidak beres dalam sorot matanya. “Duduklah.” Raditya menunjuk kursi di depannya. Prasetyo menurut, lalu bersandar dengan santai. “Tuan, apa yang sebenarnya ingin Anda tanyakan?” Raditya menyilangkan jari-jarinya. “Keuangan kita mulai tersedot ke arah yang tidak jelas. Orang-orang kepercayaanku lenyap tanpa jejak. Dan anehnya… semua ini terjadi dengan sangat rapi. Terlalu rapi.” Prasetyo tetap tenang. “Anda yakin ini bukan karena keputusan-keputusan Anda sendiri, Tuan?” Raditya menyipitkan mata. “Jangan mencoba membelokkan pembicaraan, Pras. Aku tahu ada seseorang yang menarik tali dari belakang. Dan aku ingin tahu siapa.” Prasetyo menghela napas pelan, lalu tersenyum. Saatnya memutar permainan. ________________________________________ Di Sisi Adrian Felix berdiri di dekat jendela

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 46

    Adrian mengenakan jasnya dengan tenang, tetapi sorot matanya tajam. Raditya telah tumbang, tetapi ini baru permulaan. Felix, yang berdiri di dekatnya, tersenyum tipis. “Dengan jatuhnya Raditya, keluarga Gunawan akan segera mencari pemimpin baru. Kau siap?” Adrian menatap Felix sekilas. “Aku sudah mempersiapkan ini sejak lama. Sekarang, kita pastikan semua berjalan sesuai rencana.” Felix mengangguk. “Prasetyo akan mengurus transisi di dalam. Tapi ada kemungkinan beberapa orang masih setia pada Raditya.” Adrian tidak terkejut. “Itu wajar. Namun, mereka hanya memiliki dua pilihan: beradaptasi atau tersingkir.” Felix tersenyum sinis. “Kita mulai dari siapa?” Adrian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo?” suara di ujung telepon terdengar hati-hati. “Ini aku,” kata Adrian. “Aku ingin bertemu. Sekarang.” Ada jeda di seberang sana sebelum akhirnya orang itu menjawab, “Di mana?” Adrian menyebutkan lokasi. “Bersiaplah. Kita akan membahas masa depan keluarga Gu

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 47

    Adrian duduk di dalam mobilnya, memandangi amplop yang diberikan oleh Leonard. Nama Jonathan Lim kini menjadi pusat perhatian. Namun, menyingkirkannya secara langsung bukanlah opsi yang cerdas. Felix, yang duduk di kursi pengemudi, menatap Adrian melalui kaca spion. “Kau benar-benar ingin menyelesaikan ini dalam 48 jam?” Adrian menutup matanya sejenak, berpikir. “Bukan hanya menyelesaikan. Aku ingin memastikan Jonathan tidak hanya hilang, tetapi juga menciptakan efek domino yang menguntungkan kita.” Felix tersenyum miring. “Jadi, bagaimana caramu mengotori tangan tanpa benar-benar menyentuhnya?” Adrian membuka amplop dan mengamati profil Jonathan dengan lebih teliti. Latar belakangnya bersih, tetapi ada satu kelemahan—perusahaan tempatnya bekerja memiliki banyak musuh. Adrian tersenyum tipis. "Kita biarkan orang lain melakukan pekerjaan kotor ini untuk kita." Felix mengangkat alis. “Maksudmu?” Adrian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah beberapa deri

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 48

    Di dalam ruang kantornya yang semakin sunyi, Jonathan Lim mengusap wajahnya yang berkeringat. Semua jalur yang ia coba untuk menyelamatkan dirinya sudah tertutup. Teleponnya masih terus berdering, tetapi ia tidak lagi berani mengangkatnya. Setiap panggilan hanya berisi tuntutan, ancaman, atau pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Laporan keuangan yang ada di mejanya kini terasa seperti bom waktu. Skandal yang baru saja meledak ini terlalu terstruktur untuk sekadar kebetulan. Seseorang telah merencanakan ini dengan cermat. “Siapa yang ingin menghancurkanku?” gumamnya. Pintu kantornya diketuk keras. Seorang pria berjas hitam masuk, ekspresinya tegang. “Pak Jonathan, kita punya masalah. Ada sekelompok orang yang menunggu di lobi.” Jonathan menegakkan punggungnya. “Siapa mereka?” Pria itu menelan ludah. “Saya tidak tahu pasti, tapi… mereka bukan dari media atau pemerintah. Dan mereka terlihat… tidak sabar.” Jantung Jonathan berdegup lebih cepat. Bukan dari media atau peme

    Last Updated : 2025-03-08
  • Bangkitnya Johan   Part 49

    Mobil hitam yang membawa Jonathan akhirnya berhenti di sebuah gedung tua di pinggiran kota. Ia melirik ke luar jendela, mendapati suasana sekitar yang sepi. Pintu mobil terbuka. Salah satu pria berjas hitam memberi isyarat agar ia turun. Jonathan menarik napas dalam-dalam. Tidak ada gunanya melawan sekarang. Aku harus melihat siapa yang ada di balik ini. Saat ia memasuki gedung, udara dingin menyambutnya. Di dalam, hanya ada satu meja panjang dengan seorang pria tua yang duduk di ujungnya. Jonathan langsung mengenali pria itu—Li Guang, kepala keluarga Li. Salah satu dari 12 penguasa negeri ini. Pria itu menatap Jonathan dengan mata tajam namun penuh perhitungan. “Duduklah.” Jonathan menelan ludah dan duduk. Pertemuan ini bukan sekadar peringatan. Ini perhitungan. “Aku tahu kau telah melakukan kesalahan besar, Jonathan,” kata Li Guang dengan suara rendah. “Dan aku tahu siapa yang menarik benang di belakang layar.” Jonathan tidak menjawab, tetapi ia bisa merasakan tata

    Last Updated : 2025-03-08

Latest chapter

  • Bangkitnya Johan   Part 112

    Pertarungan di dalam klub Abyss meledak seperti badai yang tak terbendung. Suara tembakan bercampur dengan dentingan logam, teriakan, dan amukan para petarung bayaran Falken yang kini satu per satu tumbang di hadapan Evelyn dan Darius. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, perhatian semua orang tertuju pada satu titik—pertarungan antara Johan dan Vladimir. Johan menghindari ayunan brutal dari palu besar Vladimir, lalu membalas dengan tendangan keras ke arah rusuk. Vladimir terguncang tapi tetap berdiri, tertawa gila. “Ayolah! Tunjukkan kau bukan hanya simbol keadilan bodoh!” Namun tepat sebelum Johan menyerang kembali, suara berdesing terdengar dari atas—dan atap klub tiba-tiba runtuh sebagian. Semua orang berhenti. Debu dan reruntuhan jatuh, dan dari lubang yang terbuka… muncul sosok bertudung gelap, dengan lambang Seekor Serigala Bersayap di punggungnya. Evelyn menegang. “Itu… bukan lambang Falken.” Darius segera menarik pistolnya. “Itu... lambang keluarga Nacht.” Johan tak bergemi

  • Bangkitnya Johan   Part 111

    Malam menjelang di Zeigrad, namun kota itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkelap-kelip di distrik hitam, tempat hukum bergantung pada siapa yang memegang lebih banyak peluru. Klub malam Abyss berdiri di tengahnya, mewah dan menjulang, menjadi jantung kehidupan gelap kota. Tepat pukul dua dini hari, sebuah mobil lapis baja berhenti beberapa blok dari klub. Johan melangkah keluar dengan Darius dan Evelyn di belakangnya. Pakaian mereka hitam, menyatu dengan malam, tetapi aura Johan tetap terpancar—dingin, tajam, dan penuh amarah yang terpendam. “Menurut laporan, lantai bawah tanah klub itu dipakai Vladimir sebagai ruang pertemuan dan penyiksaan,” ujar Darius sambil menunjukkan denah digital. Evelyn menambahkan, “Keamanan di dalam dijaga oleh unit elit Falken. Petarung jalanan, tentara bayaran, dan mesin tempur modifikasi.” Johan hanya mengangguk. “Bagus. Aku ingin melihat siapa saja yang cukup bodoh untuk melindungi Vladimir.” Mereka berjalan melewati lorong semp

  • Bangkitnya Johan   Part 110

    Zeigrad, ibu kota Astvaria, adalah kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di balik megahnya gedung-gedung pemerintahan dan cahaya lampu istana malam hari, jaringan kekuasaan dan pengaruh bekerja seperti nadi yang tak terlihat. Di sanalah keluarga-keluarga terkuat—Castello, Falken, Nacht, dan Voss—menanamkan cengkeramannya paling dalam. Namun, sejak kabar tentang kejatuhan keluarga Ludger dan Rangga tersebar secara diam-diam, ketegangan mulai terasa. Terutama bagi keluarga Castello dan Falken, yang selama ini merasa kebal terhadap ancaman. Di salah satu ruang bawah tanah kastil Castello, Lady Selene Castello duduk bersandar, membaca laporan intel dari agen rahasia mereka. “Johan sebentar lagi akan tiba di Zeigrad.” Matanya menyipit. "Jadi anak itu akhirnya menantang kami secara langsung?" Di sisinya, salah satu penasihat keluarga menjawab pelan. “Dan dia tidak datang sendirian. Perusahaannya, Arthura Trade & Co, telah mengirimkan tim penyusup ke distrik perdagangan. Mereka diam

  • Bangkitnya Johan   Part 109

    Zeigrad. Jantung kekuasaan Astvaria. Kota dengan menara perak menjulang dan lorong-lorong kelam yang penuh konspirasi. Saat malam turun, cahaya lampu neon menciptakan siluet tajam di balik kaca-kaca gedung pemerintahan dan markas keluarga bangsawan. Di salah satu distrik kelas atas yang dijaga ketat, Keluarga Castello sedang mengadakan perjamuan. Para pejabat, bangsawan, dan pengusaha asing terlihat tertawa dan bersulang, seolah tidak ada perubahan apa pun di dunia luar. Tapi di bawah tanah, jauh dari hingar-bingar pesta, bayangan mulai bergerak. Salah satu agen Arthura Trade & Co menyusup ke dalam jaringan intel keluarga Falken. Mereka menyampaikan laporan melalui jalur komunikasi rahasia ke Johan yang masih berada di Riefenstadt. “Johan,” suara Evelyn terdengar dari alat komunikasi. “Kita dapat akses. Salah satu penjaga arsip keluarga Falken bersedia bicara. Tapi kita harus segera kirim tim penyusup ke Zeigrad.” Johan menatap peta besar yang terbentang di mejanya. Beberapa titi

  • Bangkitnya Johan   Part 108

    Api dan baja menghujani laut. Gelombang tinggi berubah menjadi merah saat dua armada raksasa saling bertabrakan di Teluk Treius. Kapal-kapal meledak satu per satu, serpihan kayu dan baja beterbangan di udara. Namun di tengah semua itu, dua sosok berdiri tenang di jantung pertempuran: Johan dan Sebastian Ludger. Arthura Prime menabrak sisi kapal utama Ludger, menciptakan gemuruh keras yang mengguncang seluruh dek. Anak buah Johan menyerbu ke kapal lawan lewat jembatan baja yang diturunkan. Johan sendiri melompat lebih dulu. Tubuhnya mendarat tepat di depan Sebastian. Sebastian menarik pedangnya yang bersinar biru, terbuat dari logam laut dalam. “Akhirnya kau datang juga.” Johan memasang sarung tangan perangnya. “Aku tidak suka membuang waktu.” “Begitu juga aku.” Tanpa aba-aba, duel pun dimulai. Pedang Sebastian berputar cepat, memotong angin dan baja. Tapi Johan membaca gerakannya dengan dingin, menangkis dan melawan balik dengan pukulan-pukulan berat yang membuat gelad

  • Bangkitnya Johan   Part 107

    Pagi menyelimuti kota Levantine dengan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tidak ada lagi suara siaran propaganda dari istana keluarga Levant, tak ada lagi rapat rahasia dengan para pejabat bayangan. Kota itu kini dalam kendali penuh Johan dan pasukannya. Di sebuah ruangan taktis di pusat administrasi, Johan berdiri diam menghadap jendela, memperhatikan matahari yang terbit perlahan. Peta besar Astvaria terhampar di belakangnya, merah pada setiap nama keluarga yang telah tumbang. Evelyn melangkah masuk membawa dokumen. “Auren sudah dipindahkan ke sel isolasi. Pasukan keluarga Levant yang tersisa sudah menyerah. Tak ada perlawanan berarti.” Johan menoleh sedikit. “Penjabat tuan muda?” “Selene Levant,” jawab Evelyn. “Sepupu jauh Gregoire. Latar belakangnya diplomatik, tidak ambisius, dan—sejauh ini—tidak terlibat dalam skema politik jahat keluarga Levant.” Darius ikut menimpali, “Kami juga mengkonfirmasi bahwa jaringan luar negeri Gregoire telah runtuh. Koneksi

  • Bangkitnya Johan   Part 106

    Dari atas menara observasi Kota Levantine, Johan berdiri bersama Evelyn dan Darius, mengamati hiruk pikuk ibu kota politik itu. Meski kota itu tampak tenang, Johan tahu, di balik ketenangan itu tersembunyi kekuatan yang berbahaya—kekuatan Keluarga Levant yang kini dipimpin oleh Auren. Darius menatap ke arah kantor pusat keluarga. “Kita yakin Auren akan muncul?" Johan mengangguk pelan. “Dia bukan seperti Gregoire. Dia lebih licik. Tapi dia pasti sedang menunggu. Mereka yang terlalu percaya pada bayang-bayang, biasanya lupa kalau bayangan bisa ditelan kegelapan.” Evelyn menambahkan dengan dingin, “Kita perlu pukul pusat pengaruh mereka. Bukan hanya fisik. Kita harus potong akar jaringan politik mereka.” Johan menyeringai kecil. “Sudah aku kirim orang ke tiga negara yang pernah tunduk pada Levant. Di Lusitania, Indrasia, dan Hollstein. Mereka akan buka kembali luka yang ditanam keluarga Levant selama ini.” Sementara itu, di kedalaman markas rahasia keluarga Levant, Auren membac

  • Bangkitnya Johan   Part 105

    Malam mulai turun saat Johan tiba di markas intel Arthura yang tersembunyi di sudut kota Drakenfeld. Di sana, Darius telah menunggu bersama Evelyn dan beberapa agen kepercayaannya. "Ini laporan terakhir," ucap Darius sambil menyerahkan dokumen. "Setelah kekalahan keluarga Rangga, hanya tersisa enam keluarga dari 12 Teratas. Tapi ini bukan kemenangan mutlak—mereka yang tersisa jauh lebih kuat… dan lebih berbahaya." Evelyn menyela, "Terutama Keluarga Levant. Mereka tidak bergerak secara terang-terangan, tapi jejak mereka ada di mana-mana—dari parlemen negara tetangga sampai dalam tubuh pemerintahan Astvaria sendiri." Johan membuka berkas itu dan melihat foto lama Gregoire Levant, tuan muda dari keluarga tersebut. Meski pria itu telah tewas di Varestia, bayang-bayang kekuasaan Levant masih terasa. Pasalnya, Gregoire bukan satu-satunya yang berperan. Di balik kematiannya, masih ada para tangan kanan, boneka politik, dan jaringan kekuasaan yang tersebar di berbagai wilayah. "Mereka

  • Bangkitnya Johan   Part 104

    Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, tetapi Johan tetap berdiri dengan tenang di hadapan Tristan Rangga dan Rendra Rangga. Keduanya memimpin keluarga yang terkenal dengan pasukan bayangan dan pengawal elit Astvaria. Tristan akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas perlahan sebelum berbicara. "Johan, kau datang untuk memastikan kesetiaan keluargaku, tapi aku ingin tahu satu hal lebih dulu." Johan mengangguk, menunggu pertanyaan yang akan diajukan. Tristan menatap matanya dalam-dalam. "Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak tunduk padamu? Jika aku memutuskan bahwa Keluarga Rangga tetap berdiri sendiri, tidak berpihak pada siapa pun?" Johan tersenyum kecil. "Aku tidak meminta kalian tunduk. Aku hanya meminta kalian memilih. Apakah kalian tetap berpegang pada tugas kalian untuk melindungi negara, ataukah kalian akan menjadi bagian dari mereka yang melupakan kewajibannya?" Rendra, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami bukan pengkhianat, Joha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status