Hati Regina mendadak tegang, tetapi dia masih tetap berkata dengan dingin, "Selain aku sendiri, nggak ada seorang pun yang berhak mengambil keputusan dalam pernikahanku."Liam mendengus dingin. "Sudah kuduga, kamu akan menolak. Tapi percuma saja. Pernikahan ini sudah diputuskan oleh kepala keluarga dan juga petinggi Keluarga Suteja yang lainnya. Meski kamu nggak setuju, kamu juga nggak bisa berbuat apa-apa!"Terakhir, Liam memalingkan wajahnya sambil memperlihatkan ekspresi puas. Setelah itu, dia pun berbalik dan pergi.Meninggalkan Regina di ruangan itu sendirian. Wanita itu tampak membeku di tempat. Kemudian, bersandar lemah di kursinya."Pada akhirnya, apa aku juga akan dijadikan sebagai batu loncatan untuk bisnis keluarga? Meski Keluarga Kusuma punya pengaruh kuat, aku ... juga nggak mau!"Ekspresi tekad baru saja muncul di wajahnya, tetapi sesaat kemudian, berangsur-angsur kembali memudar.Dia mentertawakan dirinya sendiri dan bergumam dengan suara yang hanya bisa didengar dirinya
Rumah Sakit Perdana. Tiga hari telah berlalu.Bulu mata Emilia yang panjang tampak bergerak. Wanita itu perlahan membuka matanya.Hal yang pertama dia lihat adalah bangsal rumah sakit kelas atas.Ada sosok tinggi berjas putih sedang membelakanginya.Tampangnya yang serius itu, dengan lekuk garis yang menawan, masih indah seperti dalam ingatannya.Nathan tiba-tiba berbalik. "Kamu sudah bangun?"Emilia buru-buru mengalihkan pandangannya. Wajahnya sedikit merona. "Ya, aku sudah bangun.""Kalau begitu, aku akan hubungi keluargamu. Kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit!" ucap Nathan.Emilia berkata dengan tidak senang, "Aku baru saja siuman. Kamu tega ingin aku langsung pergi?"Nathan menatapnya lurus-lurus. "Lantas, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus meminta Bu Emilia tetap di sini dan jangan pergi?"Untuk sesaat, Emilia terdiam.Setelah beberapa saat, dia menggertakkan giginya dan berkata, "Nathan, bisakah kita nggak berdebat dan jangan berprasangka buruk? Apa kita nggak bisa bica
Setelah ragu sejenak, Emilia pun membuka mulut.Putra sulung Keluarga Halim merasa hatinya seakan tertusuk. Dia memaksakan senyuman. "Emilia, lihat apa yang kamu katakan. Di antara kita apa masih ada yang namanya leluasa atau nggak.""Tanyakan saja apa yang kamu tanyakan. Aku pasti akan menjawabnya dengan sepenuh hati."Nathan yang berada di samping tak kuasa menahan senyum sinis.Tampaknya Emilia telah menemukan kelemahan putra sulung Keluarga Halim ini.Namun, Nathan tidak peduli dengan masalah ini."Saat Waldi menangkapku hari itu, dia bilang kamu berutang ratusan miliar padanya. Edward, apa hal ini benar?" tanya Emilia.Edward dengan tegas menyangkal. "Mana mungkin. Sudah pasti nggak benar.""Terus terang saja, Waldi hanyalah orang biasa. Sebagai anggota Keluarga Halim dan talenta muda kelas atas di Beluno, jangankan berutang padanya, bahkan berbicara dengannya saja membuatku malu."Tamara tersenyum dan berkata, "Emilia, apa yang kamu pikirkan? Keluarga Halim termasuk keluarga kaya
Perkataan Nathan seketika membuat suasana hati Keluarga Sebastian dan Edward berubah.Khususnya Edward. Ekspresinya tampak muram. Dia pun berkata, "Aku sudah bilang tadi. Saat Emilia ditangkap, aku langsung pergi mencari koneksi dan bantuan. Aku sangat sibuk.""Nathan, kamu terus mencari-cari kesalahanku. Apa itu menyenangkan?"Nathan berkata sambil menyeringai, "Meski Tuan Edward pergi mencari bantuan, kamu juga masih bisa mengangkat telepon, 'kan?""Atau masalah Tuan Edward mencari bantuan itu palsu? Meski kamu tahu Emilia dalam bahaya, kamu takut pada Waldi, jadi kamu hanya bisa berpura-pura mati dan berpura-pura nggak tahu?"Kali ini, ekspresi wajah Edward langsung berubah gelap.Lantaran yang dikatakan Nathan memang benar.Saat itu, Waldi bukan hanya tidak memberinya muka, tetapi malah mengejeknya dengan kasar. Edward sangat emosi.Selanjutnya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.Dia berutang ratusan miliar pada Waldi, jadi dia tidak punya nyali untuk pergi dan menuntut penj
Emilia tidak tahan lagi dan berkata, "Bu, kalian nggak perlu berlebihan seperti itu lagi. Lihat, di sini masih ada begitu banyak orang.""Edward, sebelumnya kamu bilang wilayah Hessen sana akan melakukan pembongkaran dan investasi. Pernyataan seharusnya sudah dikeluarkan, 'kan? Bagaimana hasilnya?"Begitu mendengar kata-kata itu, Edward segera memasang senyum penuh percaya diri. "Emilia, kamu benar. Pernyataan itu sudah dikeluarkan secara resmi.""Awalnya aku ingin menunggumu siuman dan memberimu kejutan. Siapa sangka kamu begitu pintar dan sudah mengetahuinya."Tamara berkata dengan gembira, "Kalau begitu, Edward, apa keuntungan investasi 200 miliar akan segera cair?"Ken berkata dengan cemas, "Kak Edward, punyaku juga. Aku nggak serakah seperti ibuku. Beberapa puluh miliar saja sudah cukup.""Begitu uang jatuh di tanganku, aku akan langsung membeli Bugatti. Aku jamin mobil itu akan seratus kali lebih keren dibandingkan mobil bobrok milik seseorang."Ken takut orang-orang di sekitarny
Edward langsung mencibir. Pecundang ini memang harus dia tangani."Nathan, sebelumnya aku sudah berbaik hati menyarankanmu untuk menginvestasikan uang agar kamu bisa menjadi kaya. Apa boleh buat, kamu nggak memanfaatkan kesempatan yang kuberikan padamu. Kamu menyesal sekarang?"Edward memandang Nathan sambil memperlihatkan seringaian.Dia berharap bisa melihat wajah Nathan yang penuh dengan penyesalan.Orang-orang dari Keluarga Sebastian juga ikut mentertawakan Nathan hanya demi menyanjung Edward."Tuan Edward, jangan harap orang rendah seperti itu bisa mendapatkan kesuksesan. Terkadang memang ada orang yang ditakdirkan untuk hidup miskin sepanjang hidup mereka.""Tuan Edward, kalau lain kali ada kesempatan bagus seperti ini lagi, jangan lupa sama aku ya. Jangan khawatir, aku bukan orang bodoh. Siapa yang akan menolak keuntungan seperti itu, 'kan?""Benar, Tuan Edward, kalau kelak ada kesempatan menghasilkan banyak uang, katakan saja pada kami. Buat apa repot-repot beri tahu pecundang
"Kamu barusan menyebut tentang rencana pembangunan distrik baru. Kalau bukan di Hessen, memangnya di mana lagi?""Lupakan saja. Ayo kita nyalakan TV dan saksikan beritanya langsung. Aku rasa media pasti akan segera menghubungi pemenang besar sepertiku, untuk diwawancarai!"Edward memperlihatkan senyuman bangga, seolah-olah dialah yang akan menjadi pemenang besar dalam investasi kali ini. Dia tampak sangat sombong saat ini.Ken bergegas menyalakan TV.Setelah menyetel saluran, anggota Keluarga Sebastian pun menonton berita dengan penuh perhatian dan penuh semangat."Eh, tempat yang ada diperlihatkan di berita ini sepertinya bukan di Hessen!""Bukan wilayah Hessen, melainkan wilayah Analin sana.""Benar, itu daerah kumuh di sebelah Analin. Di sebelahnya juga terdapat banyak tanah murah dan tanah terlantar. Sebenarnya, wilayah sana sudah pernah mencari investor untuk mengambil alih dengan harga murah, tapi sayangnya nggak ada perusahaan yang menginginkannya."Tanpa butuh waktu lama, anggo
"Bagaimana bisa jadi seperti ini? Nggak seharusnya begitu, nggak seharusnya begitu ...."Edward seakan-akan kehilangan jiwanya. Dia berdiri di sana dengan linglung, lalu bergumam pada dirinya sendiri.Dia tidak bisa menerima hasil seperti ini. Dia sulit menerima kenyataan ini.Untuk mengembalikan reputasinya, Edward bukan hanya meminjam uang dan menunda pembayaran utang, tetapi dia juga menginvestasikan semua aset keluarganya.Dia bahkan menipu Keluarga Sebastian agar mereka meminjamkan uang untuk berinvestasi.Awalnya, setelah berhasil mendapatkan keuntungan, dia berencana akan mengambil sebagian keuntungan untuk membagikannya pada Keluarga Sebastian.Sisanya akan dia simpan sendiri. Dia bisa makan sepuasnya dan menjadi kaya raya dalam semalam.Namun kali ini, jangankan menjadi kaya raya dalam semalam, krisis keuangan yang tengah dia hadapi malah bertambah buruk. Dia telah menjerumuskan keluarga mereka ke dalam situasi putus asa.Bahkan, Edward sempat berpikir untuk mengakhiri hidupny
Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun
Edward berkata dengan ekspresi tidak senang, "Aku tahu semua yang Ayah katakan. Tapi masalahnya, aku nggak membeli mahkota ini dengan harga 40 miliar."Thomas mengerutkan kening. "Apa kamu bilang?"Jelas-jelas dia pergi ke acara lelang Grup Valentino dan langsung menekan situasi tersebut secara terang-terangan.Apa Roland berani tidak menunjukkan rasa hormat pada Keluarga Halim?Edward berkata sambil memasang ekspresi serba salah, "Sebenarnya, aku sudah bisa mendapatkan mahkota berlian itu dengan harga 40 miliar.""Tapi tiba-tiba ada bajingan yang muncul dan menantangku sampai akhir. Alhasil, harganya naik menjadi 200 miliar lebih. Jadi aku, aku ...."Tanpa menunggu Edward selesai berbicara.Wajah Thomas tiba-tiba berubah pucat. Dia menunjuk putranya dengan jari gemetar. "Apa yang kamu katakan? Kamu menghabiskan lebih dari 200 miliar lagi?""Anak durhaka! Bukankah aku sudah memperingatkanmu kalau harganya nggak boleh melebihi 100 miliar? Kamu ... kamu ingin menghancurkan kondisi keuang
Ibu tirinya Edward tersenyum dingin dan berkata, "Nona Emilia memang hebat. Kamu bukan hanya berani menolak calon kepala Keluarga Halim secara terang-terangan.""Sekarang kamu juga berani mengabaikan perkataan kepala keluarga kami. Apa kamu pikir Keluarga Sebastian sekarang sanggup melawan Keluarga Halim?"Ekspresi Emilia sedikit berubah.Namun sebelum dia menjawab, Thomas sudah lebih dulu menampar wajah wanita cantik di sebelahnya."Tutup mulutmu. Sejak kapan wanita sepertimu boleh ikut campur dalam masalah keluarga? Minggir."Setelah melihat istrinya mundur, Thomas masih terus tersenyum ramah dan berkata, "Emilia, kamu dan Edward juga sudah lama berpacaran.""Mana ada pasangan yang nggak bertengkar? Tapi belum sampai tahap putus. Begini saja. Kamu kembali dan istirahat dulu. Nanti aku akan suruh Edward mengunjungimu dan minta maaf padamu."Emilia menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat muak dengan Edward."Maaf, Pak Thomas. Aku nggak bisa melakukannya. Sebaiknya akhiri sampai di si
Nathan.Namun saat dia baru saja bersiap mengeluarkan ponselnya, tubuhnya langsung membeku.Jika dia meminta bantuan Nathan sat ini, bukankah itu sama dengan mengakui bahwa penilaiannya salah?Dia harus bagaimana menghadapi pria itu? Penilaiannya salah, harga dirinya hancur, dan reputasinya juga lenyap.Semua perkataan yang diucapkan Emilia saat itu berubah menjadi pisau tajam yang kembali mencabik-cabik dirinya sendiri.Melihat gerakannya, Edward menyeringai dan berkata, "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu ingin Nathan si pecundang itu menyelamatkanmu, 'kan?""Emilia, kamu bukan hanya berlagak sok suci, tapi kamu juga ingin berperan menjadi gadis jalang secara bersamaan?""Dulu kamulah yang mencampakkan Nathan dan mendekatiku. Sekarang kamu masih mau pergi memohon padanya? Kamu nggak merasa malu? Kamu sungguh bisa membuka mulut padanya?"Kata-kata Edward yang tajam itu langsung membuat wajah Emilia berubah pucat pasi.Edward tertawa. "Begini baru benar. Jangan khawatir, aku
"Siapa yang berani pergi? Aku akan membunuhnya."Melihat tiga anggota Keluarga Sebastian hendak pergi, Edward menjadi gila.Dia langsung memerintahkan dua puluh pengawal Keluarga Halim masuk ke dalam dan mengepung tiga anggota Keluarga Sebastian itu.Tamara ketakutan hingga hampir kehilangan keseimbangan. Dia gemetar dan berkata, "Edward, apa yang ingin kamu lakukan? Dasar bajingan! Apa kamu ingin Emilia membencimu?"Ken mengangkat tangannya dan berkata dengan arogan, "Kita lihat saja siapa yang berani bertindak? Sialan! Keluarga Halim kalian hebat, tapi memangnya kamu bisa memaksa orang menikah denganmu?"Mata Edward memerah. Dia maju ke depan dan menampar wajah Ken.Plak! Plak! Plak!Tamparan demi tamparan itu membuat mulut dan hidung Ken menyemburkan darah. Dia menjerit dan bersiap untuk balik melawan Edward.Salah seorang pengawal Keluarga Halim mendengus dingin dan langsung menendang pinggang Ken.Sembari berteriak histeris, Ken langsung berguling-guling di tanah sambil memegangi
"Edward, aku sungguh nggak bisa menikah denganmu."Ekspresi putra sulung Keluarga Halim tiba-tiba berubah.Tanpa disadari, tangannya yang memegang mahkota juga bergetar.Tamara dan Ken juga panik."Emilia, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Itu mahkota senilai 200 miliar. Apa kamu pikir hadiah lamaran yang mahal itu nggak berharga? Cepat ambil dulu!""Benar, Kak. Setidaknya kamu terima lamarannya dulu dan ambil mahkota itu. Kalau kamu memang nggak menyukainya, kamu masih bisa menolaknya nanti!"Emilia mengabaikan keserakahan dan rasa tidak tahu malu ibu dan adiknya.Sambil menatap Edward, dia berkata dengan nada serius, "Edward, aku rasa kita benar-benar nggak cocok untuk menikah sekarang."Jadi, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak bisa menerima mahkota ini!"Putra sulung Keluarga Halim akhirnya sadar bahwa dirinya telah ditolak."Emilia, aku akan beri kamu satu kesempatan lagi. Pilih kata-kata yang tepat dan jawab aku dengan benar."Penghinaan, kemarahan, kegilaan, semua itu memb
Nathan tentunya tidak tahu tentang percakapan antara Roland dengan Monika.Sekalipun tahu, dia mungkin juga tidak akan peduli."Begitu cepat keluar? Dokter Nathan, apa Nona Monika nggak mengajakmu berkencan?"Regina memperlihatkan tatapan ambigu. Dia terus mengedipkan matanya pada Nathan.Nathan merasa kepalanya berdenyut. "Aku nggak punya waktu."Regina berkata dengan nada tidak senang, "Jadi, gadis bernama Monika itu benar-benar mengajakmu, Dokter Nathan? Huh! Dia masih terlalu muda untuk bersaing denganku dalam mendapatkan pria."Tiara bertanya dengan penuh minat, "Nathan, Monika itu primadona Grup Valentino dan kecantikannya cukup populer di kalangan sosial kelas atas Beluno. Bahkan, banyak kepala keluarga bangsawan yang ingin menikahinya.""Kenapa kamu menolaknya?"Nathan mengangkat bahu dan berkata, "Aku nggak tertarik dengannya. Apalagi, kami juga nggak kenal, jadi aku menolaknya.""Kamu menolaknya dengan tegas, tapi kalau hal ini sempat ketahuan sama Liam, Julian, dan para play
Lelang terus berlangsung hingga larut malam.Banyak tamu yang masih belum puas.Bahkan, setelah meninggalkan acara lelang, mereka masih mengenang dua pertarungan seru yang terjadi barusan.Apalagi, semua kejadian itu berhubungan dengan pria bernama Nathan itu.Liam menghibur Edward. "Tuan Edward, berpikirlah positif. Bagaimanapun juga, mahkota berlian sudah menjadi milikmu.""Meski Nathan itu menyebalkan, pada akhirnya dia tetap dikalahkan olehmu, 'kan? Dia bahkan nggak berani bersaing denganmu."Senyum Edward tampak canggung.Apa Nathan, si bajingan itu, benar-benar dikalahkan oleh dirinya?Edward tidak merasa begitu.Bajingan itu jelas-jelas mencelakainya. Dia benar-benar keji.Meski Edward sadar dengan semua itu, dia masih harus memaksakan senyuman saat menghadapi Liam dan yang lainnya. Dia harus bersikap seakan dirinya baik-baik saja.Nyatanya, hatinya sudah hancur berkeping-keping dan hampir berdarah.Julian mendengus dingin. "Bocah ini cukup sombong.""Dia bukan hanya menyinggung
Edward merasa dadanya sudah hampir meledak karena emosi.Dia tidak menyangka Nathan akan memberikan pembalasan yang begitu kejam.Edward berteriak sambil menunjuk ruang VIP nomor satu, "Nathan, kalau kamu hebat, keluarlah dan tantang aku. Kita duel satu lawan satu."Bajingan ini keterlaluan.Semua orang memberi hormat pada Keluarga Halim. Dia malah sengaja merusak rencananya.Apalagi, dia juga terus mengincarnya tanpa henti. Yang jelas menunjukkan bahwa dia menganggap Keluarga Halim bukanlah apa-apa.Nathan tidak tergerak dan hanya tersenyum sinis. "Tuan Edward nggak menginginkan mahkota berlian lagi?""Atau Tuan Edward bersedia mengakui kekalahan dan memilih menjadi seorang pengecut?"Nathan sedang memprovokasinya!Beraninya Nathan memprovokasinya!Ekspresi wajah Edward langsung berubah.Tuan Edward berteriak keras, "200 miliar. Aku pasti menemanimu bermain sampai akhir malam ini."Dia sekarang sudah berada dalam situasi sulit, tetapi masih terus menawar sampai akhir.Karena mahkota b