Part 159. Tiga puluh juta."Cih! Sudah jelas anakmu yang sering datang ke rumahku dan bilang masih mencintai Rahman. Begitu kan, Helen?" tanya ibu sambil menatap lekat ke arah perempuan berambut pirang yang duduk paling pojok itu. Wajah Helen pias seketika. Mungkin ia tak menyangka akan ada permintaan seperti itu. "Helen!" panggil ibunya dengan pelototan yang seakan mau menerkam wanita itu. "Ibu, Aku—" ———RatuNna Kania———Helen tergagap mendengar perkataan ibu. Mungkin ia tak menyangka kalau mertuaku bisa juga memojokkannya. Ibu yang mana yang akan diam jika anaknya dihina seperti tadi, aku pun sudah berniat menjawab ucapan-ucapan ibunya Helen. Tapi aku kalah gesit dengan ucapan ibu. "Jawab, Helen! Kenapa mendadak gagap?" bentak ibunya. Kulihat Helen menyurai rambut pirangnya dan menatap ke arah ibunya. "Apaan sih, Bu.""Apa benar yang dikatakan oleh bu Samirah itu?" tanya ibunya lagi dengan tatapan menghunus. Aku tidak tahu ada apa dengan ibunya Helen. Apa membenci mas Ra
Part 160. Wani Piro ?"Kak Eni, tunggu!" teriakku, karena kakak iparku itu telah naik ke motor suaminya dan hendak pulang. "Apalagi?" kehebatannya. paling jelas belum memudar."Aku lupa sesuatu," ucapku sambil menghampirinya. "Apa? Cepetan aku dah ngantuk," katanya dengan judes. "Siapa yang mengirim fotoku dan bang Anton di Kakak?" ——RatuNna kania——"Wani Piro?" tanyanya dengan wajah menyebalkan. "Serius, Kak! Kalau nggak—""Kalau nggak mau apa? Hah?! Urusan kita sudah kelar. Dan kalau mau tau siapa si pengirim foto tersebut. Bayar dulu sepuluh ju—ta!" katanya dengan memelototkan matanya. Allah, rasanya ingin ku cakar mulutnya itu. Dan kenapa aku bisa lupa hal sepenting ini. Kini aku balik di minta duit sama kak Eni. Cerdik juga iparku itu ternyata. Dia minta kembali uangnya. Tidak begitulah. Nanti juga ketahuan siapa si pengirim foto itu. Daripada uang sepuluh jutaku hilang kembali. Mending aku tidak tahu sekalian. Iya kali, demi mengetahui siapa biang keroknya, aku
Part 161. Kembalikan uangnya, kasian."Mala, kamu mau apakan uang tiga puluh juta itu?" tanya ibu. Oh, rupanya dari tadi ibu mau membahas uangku. Hingga menunggu suasananya sepi seperti ini. Pantas saja ibu bertahan di dinginnya semilir angin malam ini, ternyata ada maksud tertentu. "Mala, belum tahu, Bu. Nanti Mala coba tanyakan sama Mas Rahman dulu.""Kamu kurangilah uang kompensasi si Eni. Kasian dia. Bila perlu kembalikan!" ucap ibu. "Maksudnya?" tanyaku sambil memandang ke wajah tuanya. Kulit yang mulai keriput menampilkan gelambir di leher dan dibawah kelopak mata. Wanita tua yang melahirkan suamiku itu, mencoba menego lagi denganku. Padahal persoalannya sudah selesai. Bahkan kak Eni dan bang Anton tak mempermasalahkan. Kenapa ibu kembali membicarakannya. Huft."Kamu tau sendiri ini kehidupan Eni kan? Masih belum punya apa-apa. Bahkan rumahnya pun masih ngontrak dan kadang-kadang tak bisa bayar. Apa kamu tidak kasihan dengan meminta uang sepuluh juta sebagai kompensasi pada Ka
Bagian 162. Ponsel Baru. "Bu Usman, Mau?" "Boleh deh. Gak usah banyak-banyak," ucapnya sambil tersenyum bahagia. Aku mengambil lima belas biji rengginang dan memasukkannya ke dalam plastik kemudian menyodorkannya pada tetanggaku itu. "Tanggung amat ini nanti menggorengnya," gerutunya sambil mencebik. Allahuakbar. Rengginang di nampan banyak sekali belum kering pula. "Tadi, Bu Usman, bilangnya jangan banyak-banyak. Sekarang bilang tanggung!" Aku menautkan alisku heran. "Ya, maksudnya e—anu," ucapannya terhenti sambil matanya di seisi dapurku. Mungkin dia masih mencari sesuatu. "Kamu lagi makan, La?" tanyanya. Pandangan terhenti di atas meja, tepatnya di piringku. "Iya, Bu Kami. Aisyah membuatkan nasi goreng," ucapku. "Ibu suka nasi goreng juga, kebetulan belum sarapan, masih ada?" "Bu Usman, mau?" Ia mengangguk dengan mantap. Aku mengambil piring dan membagi dua nasi yang terhidang yang baru sempat aku makan satu suap aja. Telur ceploknya pun ku bagi dua. "Tidak apa-apa, Ibu
Aku terkejut melihat apa yang keduanya lakukan. Bayangkan saja, di usia mereka yang sudah senja masih bisa berlaku layaknya anak tujuh belas tahun, bahkan Aisyah yang usianya masih muda saja, tak pernah melakukan hal seperti itu.Untung saja nampan yang ada di tanganku tak terlepas meski aku shock dengan apa yang barusan aku lihat. Astaghfirullah haladzim, Astaghfirullah, Astaghfirullah. Aku coba menenangkan diri dengan melafalkan istighfar beberapa kali. "Sini! Mala, ikutan," ucap ibu dengan tetap bergoyang, tak ada rasa malu atau apapun di raut wajahnya padahal aku merapalkan istighfar dengan suara yang keras. "Anggap aja senam, biar kita keringetan," sahut bu Usman. What, senam? Hahaha, pintar ngelesnya sungguh luar biasa. Aku bingung bagaimana caranya untuk mencegah ibu dan bu Usman, akhirnya aku putuskan menelpon Ria, tapi ponselnya mati. Ria pasti sedang bekerja di jam seperti ini. Aku coba menekan nomor mas Rahman, cuma berdering lalu mati pula. Akhirnya aku buka video dan
"E-eh, Bu Usman! Jangan diangkat, biarkan ibu mertuaku belajar untuk mengangkatnya." Sontak aku memekik saat melihat bu Usman hendak mengusap logo gagang telepon yang sedang meloncat-loncat itu. Bu Usman sontak menghentikan jarinya sebelum mengenai layar HP lalu menatap ke arahku. "Sini!" Aku segera meraih ponsel ibu dari genggaman Bu Usman lalu menyodorkan pada ibu. "Usap keatas tanda gagang telepon yang loncat-loncat itu, Bu!" titahku dengan sedikit suara yang meninggi. Aku takut keburu mati panggilannya. Ibu segera mengusapnya ke atas dengan telunjuknya dan muncul wajah mas Rahman, suamiku tercinta."Assalamualaikum, Ibu," sapanya dengan tersenyum pada ibunya. "Rahman," panggilnya. Terlihat gurat kerinduan di binar matanya memandang suamiku. Kata emak, mau sedewasa apapun seorang anak, tapi dimata ibunya dia adalah tetap anak kecil. Perihal menyayangi, maka hanya seorang ibu-lah pemilik cinta yang tulus tanpa syarat."Ibu, sehat-kan?" tanya suamiku. Ibu yang duduk dihadapanku s
Part 165. Sini uangnya saja. Aku beristighfar lagi dan lagi sambil menoleh ke arah ibu mertuaku. Aisyah sudah mulai tertawa-tawa karena melihat tingkah Bu Usman dan ibu di bawah pohon nangka seketika adikku itu melirikku dan bertanya. "Sejak kapan Bu Samirah jadi gesrek begitu?" Aku mendengus dengan pertanyaan yang Aisyah lontarkan, bahasanya tak kusukai. Jujur, aku tak begitu suka anak muda yang bahasanya kasar pada orang tua. "Berbicara yang baik dan benar, Is. Ingat! Beliau mertuaku," tegurku dengan wajah judes sambil meletakkan nampan kecil yang aku bawa di meja makan."Maaf," cicitnya. Aku duduk di meja makan sambil mataku tetap memperhatikan ibu dan bu Usman sedang lipsing adegan film si Roma dan Ani."Tapi bisa pas gitu, ya nadanya, Teh," tanya Aisyah lagi dengan melirik ke arahku. Seandainya Aisyah tau saat ibu dan bu Usman pargoy mungkin dia tertawa hingga terkencing-kencing di celananya. ———Semalam mas Rahman telah mentransfer uang bulanan untuk aku dan ibu. Rencananya
Part 166. Perlawanan Mala."Mala … Mala," teriak seseorang dari luar. Mala serta Bu Samirah juga Eni gegas keluar guna melihat siapa yang datang. "Ada apa, Tika?" Bu Samirah langsung bertanya begitu melihat Tika ada di halaman rumahnya. "Eh, nggak, Bu Sam. Saya mau ke Mala," ucap Tika dengan cengengesan. Hatinya ciut melihat mertua tetangganya itu, karena semua orang sekampung ini sudah tahu peringai tak baik Bu Samirah pada Mala, menantunya sendiri. "Gak ada apa-apa, kok teriak-teriak!" ketus Bu Samirah sambil mendelik. Ia kesal karena baru saja mau minta uang ke Mala malah datang hambatan tak jelas. "Saya mau ke Mala, Bu," sahut Tika dengan melirik ke arah Mala yang sedang berdiri disamping mertuanya. "Ada apa, Tik? Aku kok deg-degan," ucap Mala dengan mengelus dadanya. "E—anu, La," Tika terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya. "Ada apa sih? Cepat bilang!" Kini Eni yang berkata, mungkin ia juga ikut penasaran dengan kedatangan Tika. Tika terlihat menghembuskan nafasnya dengan
Bab 223. Suka sama Abang, nggak?"Man, ayo pulang. Aku harus ke Jakarta hari ini," ucap Arif memotong omongan Rahman dengan segera. Karena setelah dipikir-pikir olehnya, ini memang terlalu cepat. "Tadi katanya—""Sekarang nggak! Ayo pulang," ucap Arif dengan gusar karena Rahman malah terlihat seperti orang bodoh."Akh, ok!" Hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Rahman lalu ia bangkit dan berpamitan pada mertua serta adik iparnya. Bu Sarah menyuruh mereka untuk makan dulu, tapi Rahman menolak dengan alasan Mala susah memasak. Bu Sarah tak bisa memaksa karena dia pikir juga anaknya pasti sudah menyediakan makanan yang enak. Satu persatu mereka saling berjabat tangan tak lupa Arif juga meminta maaf telah merepotkan semuanya. Namun hanya disambut tawa oleh keluarga pak Ahmad dan mereka bilang tak merasa direpotkan."Jangan pacaran, ya!" bisik Arif saat dia bersalaman dengan Aisyah. Gadis itu mengerutkan dahinya dan menatap pria dewasa yang berbadan tegap itu."Ingat pesan, Abang, ya!"
Bab 222. Maaf.Sementara di rumah Mala, wanita itu kini tengah bercerita kepada mertuanya yang sedang duduk dan melihat wajah menantunya dengan seksama. "Bu, alhamdulillah Arif sudah ditemukan, jadi tidak lama lagi mas Rahman akan pulang," ucap Mala sambil menutupi kaki Bu Samirah oleh selimut yang baru saja selesai dipijit olehnya.Bu Samira menarik sedikit ujung bibirnya, dia tersenyum lega saat mengetahui bahwa teman anaknya itu kini sudah ditemukan.Ibu mau tidur sekarang atau mau menunggu mas Rahman dulu?" tanya Mala dengan lembut."Ibu nunggu Rahman aja!" sahut Bu samirah dengan pelan membuat mata Mala sedikit terbuka karena ternyata mertuanya menyahuti pertanyaanya setelah lama terdiam."Alhamdulillah, Ibu sudah bisa menyahuti saya," ucap Mala sambil terduduk lagi dan memegang bahu mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa diucapkan oleh kata-kata. betapa bahagianya dia saat ini mengetahui sang mertua sudah bisa kembali berkomunikasi. "Memangnya kamu pikir, Ibu ini bisu?" tany
Bab 221. Kesasar Bagian 2. "Ais kamu kok bisa ke sini?" Arif malah bertanya seperti itu."Aku mencari Abang! Bang Rahman tadi ke rumah, katanya Abang belum pulang. Akhirnya kami mencari Abang, takutnya Abang kesasar dan benar saja Abang ada di sini. Abang kenapa ngambil jalan sini sih?" ucap Aisyah dengan sedikit kesal."Maafkan Abang ya, is jadi merepotkan semuanya. Abang tadi lupa beloknya harus kemana, ini kan jalan cabang empat jadi Abang bingung mau lurus, belok kanan atau belok kiri. Eh, Abang malah ke sini dan ternyata ini nggak ada kampung malah kebun semua," ucap Arif dengan jujur dan tak enak hati."Lah iyalah, ini kan jalan untuk ke hutan, Bang. Disebelah sana ada kebun-kebun para warga dan memang ada pemukiman juga, tapi itu khusus untuk mereka yang rumahnya jauh dan memiliki ladang disini. Dan tentu saja tidak setiap hari mereka menginap maka tidak akan ada orang. Jadi sangat sepi, terus mobil Abang mana?" tanya Aisyah."Mobil Abang di sebelah sana, Is. Bannya nyelip jad
Bab 220. Kesasar.Rahman mengendarai motornya dengan pelan. Karena ternyata pas keluar dari kampungnya harus melalui jalanan yang becek akibat hujan. Padahal di rumahnya seharian tadi, panas sekali. Jangankan hujan, mendung pun tidak. Bangunan rumah sang mertua sudah terlihat, namun mobil Arif tak ada disana. Rahman langsung turun dan mengetuk pintu. "Assalamualaikum!" "Loh, Bang Rahman?" pekik Aisyah saat pintu sudah terbuka lebar. Negatif thinking langsung menerpa pikirannya."Arif mana?" tanya Rahman pada Aisyah."Udah pulang dari tadi.""Mala gak menelpon kamu?" tanya Rahman lagi."Nggak, eh tapi sebentar. Aisyah lihat dulu ponselnya." Gadis itu seketika berbalik menuju kamarnya dan mencari ponselnya. Ternyata ada banyak panggilan dari WhatsApp dari sang kakak. Namun sayang sebelum sholat dia telah memasang silent mode on di ponselnya. Aisyah membaca pesan yang dikirim Mala satu persatu. Dia baru paham apa sebabnya yang membuat Rahman datang ke rumahnya. Di ruang tamu, Bu Sar
Bab 219. Kesasar atau hilang.Aisyah langsung masuk ke kamarnya meletakkan seluruh barang bawaannya. Kemudian gadis itu menuju ke dapur, berniat membuatkan minuman untuk Arif dan juga kedua orang tuanya. Tiba-Tiba Bu Sarah pun muncul di dapur."Kamu bikin apa, Is?" tanya Bu Sarah. "Ini aku bikin kopi buat Bapak sama Bang Arif, ada cemilan apa, Mak di rumah?" tanya Aisyah"Tuh ada rengginang sama goreng opak aja, baru digoreng tadi pagi sama Emak!" ucap Bu Sarah dengan menunjukkan letak toples rengginang dengan dagunya. Aisyah pun menata nampan dengan dua buah toples berukuran sedang, serta dua buah cangkir kopi. Lalu mengantarkannya ke hadapan Pak Ahmad dan Arif di ruang tamu.Pak Ahmad terlihat asik mengobrol dengan Arif, hingga sesekali tawa dari keduanya terdengar. Aisyah masuk kembali dan duduk di ruang tengah karena melihat bapaknya dan Arif sedang asik berbincang. Gadis itu gak berani ikut duduk disana."Hmz, Pak boleh saya bertanya?" ucap Arif dengan ragu-ragu. Dia menautkan
art 112. Hilang atau kesasar? Aisyah mengangguk tanda membenarkan pertanyaan Arif. Gadis berlesung pipit itu begitu sangat terlihat manis dipandang dari samping. "Hmz … bagus, Is. Abang salut sama kamu!" Hanya itu ucapan Arif. Sungguh bertentangan dengan isi hatinya. "Tapi, kalau seandainya ada laki-laki yang tiba-tiba melamar kamu, apa kamu mau terima, Is?" tanya Arif dengan perasaan yang roller coaster. Keringat sudah membasahi tubuhnya. Meski ia telah bersiap dengan penolakan, tapi sisi egoisnya mengatakan bagaimanapun harus bisa memiliki Aisyah. Gadis tujuh belas tahun itu telah memporak porandakan hatinya, membuatnya gila dengan pikiran-pikiran masa depan yang indah jika dirinya beristrikan Aisyah."Gimana, ya! Lagian belum pernah ada yang melamar aku," sahut Aisyah dengan terkekeh geli. Mengingat banyak orang bilang dirinya cantik, pintar dan sebagainya. Tapi belum pernah ada yang melamarnya. "Hah … serius? Tapi pacar punya dong?" Arif mencoba mengorek hal yang paling rahasi
"Arif bukan anak kecil. Dia sudah dua puluh tujuh tahun. udah biarin aja! Kamu sekarang kalau mau pulang, ayo cepetan. Arif udah manasin mobil tuh," ucap Mala dengan langsung berbalik pergi. Dia tidak mau lagi mendengar penolakan Aisyah atau apapun. Sedangkan sang adik hanya mengerang pelan, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya bagaimana mungkin seorang tamu yang tidak tahu wilayah tempat tinggal mereka disuruh mengantarkan dirinya, lelaki yang baru dikenalnya dalam hitungan jam.Meskipun bagi kakaknya, Arif pada sosok yang baik tapi belum tentu dengan dirinya. Tapi apa boleh buat, dia tidak mau menyinggung perasaan siapapun. Akhirnya suka tidak suka, Aisyah menyetujuinya dengan berusaha meyakini bahwa Arif itu orang baik.Aisyah menenteng ranselnya setelah berpamitan terlebih dahulu pada bu Samirah yang sedang duduk diatas kasur. Dia menuju ke teras depan, dimana Kakak dan Kakak iparnya beserta Arif berada."Tuh, Ais sudah siap," ucap Rahman saat matanya menangkap sosok
"Aisyah itu agamanya kuat. Mungkin saja dia itu tidak akan nyaman dengan keberadaan aku, orang yang dianggapnya memang bukan muhrim. Walaupun sama aku yang sudah jadi keluarganya. Memang dari dulu anak itu seperti itu, kalau aku nggak ada pasti dia akan disini bersama kakaknya. Tapi kalau aku pulang, dia akan gegas pulang juga ke rumahnya. Cuma pernah waktu Mala lahiran, dia disini agak lama," tutur Rahman. "Tapi bukan karena aku kan, Man?" Arif menatap cemas. Arif sangat takut kepulangan Aisyah karena ada dirinya di rumah Rahman. "Bukan! Bukan lah. Dari dulu semenjak aku pulang-pergi ke Lampung Aisyah hanya akan disini kalau aku tidak ada, kalau aku pulang, maka dalam hitungan jam dia akan langsung pulang," tegasnya dan diangguki oleh Mala.Arif tersenyum simpul mendengar apa yang dikatakan Rahman. Dia tidak salah menjatuhkan hati. Dia tidak salah menganggumi. Tatap matanya begitu penuh harap saat kata demi kata diucapkan oleh pasangan suami-isteri itu."Ya … udah, Mas ambil moto
Bersamaan dengan itu, Aisyah berbalik badan hendak masuk karena memang kegiatan menyapunya telah selesai. "Bang Arif, ngapain di sini?" tanya Aisyah, matanya beradu pandang dengan lelaki bertubuh tegap itu. Arif memejamkan matanya seketika. Setelah Rahman dan Mala kini targetnya sendiri tengah menanyainya. "E—anu, Sah. Abang mau ke kamar mandi," sahut Arif sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, matanya tak berani menatap kearah Aisyah, namun berulang kali membuang pandangannya tapi kembali menatap gadis tujuh belas tahun itu."Ais, Bang. Aku nggak mau dipanggil Sah!" ucap Aisyah dengan cemberut. Dia memang tidak suka dipanggil ujung namanya, dia lebih suka dipanggil awal namanya saja. "Ow … Maaf, ya! Abang nggak tau," ucap Arif lagi sambil tersenyum canggung. Dadanya begitu bergemuruh bak pasukan akan perang, tubuhnya terasa panas dingin dan gemetaran."Iya, tapi jangan di ulangi panggil itu lagi, nanti aku ngambek!" ucap Aisyah sambil berlalu ke dapur guna menyimpan sapu seda