Share

Takjub

Author: Rumza
last update Last Updated: 2021-10-10 09:31:04

**Sungguh indah kuasa-Mu, takjub netra memandang hasil karya luar biasa. Tak' pernah bosan aku bersyukur, sanubari tersenyum bahagia tatkala matahari menyongsong pagi.**

🌹🌹🌹

Kami terus bercerita, tanpa terasa kami sudah separuh jalan. Hutan yang lebat dan sepi, terdengar riuh tatkala kami melintasi nya. Canda tawa kami seakan bergemah didalam hutan.

Saat ini kami sudah melewati hutan yang berganti hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang.

Aku selalu terkagum saat melihat hamparan yang indah ini, mataku seakan dimanjakan dengan pesonanya. Para petani berkumpul di bawah pondok-pondok kecil sambil terus memantau padi mereka.

Burung-burung Pipit beterbangan di atas tanaman padi, bunyi-bunyian yang khas dan orang-orangan sawah yang berada di tengah sawah.

Nuansa indah yang jarang kutemui, sorak-sorai saling bersahutan membuat suasana semakin ramai ditengah sawah hijau membentang.

Saat seperti inilah yang terkadang bisa membuat ku bahagia, sekaligus merasa rindu secara bersamaan. Betapa tidak, suasana ini akan sangat mengingatkan akan orangtuaku nan jauh di sana.

Aku menghela nafas panjang, rasa rindu menumpuk didalam dada. Tatapan mata mulai berkabut teringat keluarga yang jauh dimata namun, dekat dihati.

Namun, aku belum bisa pulang setelah kembali ke pesantren karena, aku sudah memakai izin pulang bulan ini.

"Lia, kenapa melamun?" Mila menyadarkanku dari lamunan yang melanda.

"Apa hamparan ini mengingatkanmu pada keluarga?" tanyanya lagi sambil menepuk bahuku pelan dan mengedarkan pandangannya sambil membuang nafas kasar, seakan ia juga merasakan rasaku.

Aku tersenyum, menganggukkan kepala. Menandakan tebakannya benar.

"Ya sudah, ayo kita lanjut perjalanan! sebentar lagi kita sampai rumah," Mila langsung menggandeng tanganku, mengajak mengayunkan langkah kaki yang sempat terhenti.

Jalan yang kami lalui begitu indah, hamparan sawah hijau, di tengah dan pinggirnya terdapat bunga Lotus yang sedang mekar. Keindahan pagi yang sangat indah, matahari pun menyinari dengan sepenuh hati.

"Sungguh, kenikmatan yang mana lagi yang ku dustakan," gumam ku didalam hati, sambil terus menyusuri alam indah ini. Hasil mahakarya luar biasa ciptaan Allah.

Perjalanan terus berlanjut, tak' terasa kami sudah sampai di sungai yang membelah kampung halaman Mila. Untuk sampai ke kampungnya, kami harus menyeberangi sungai ini.

Kami menaiki perahu, saat pertama kali mencobanya aku merasa 'ngeri-ngeri sedap' karena aku tidak bisa berenang. Walau seperti itu, aku tak' pernah berpikir untuk menyudahinya malahan aku merasa ketagihan.

'Aneh kau ... gak bisa berenang bukannya takut, malah kesenangan!'

Ada yang pernah bilang seperti itu padaku. Namun, aku hanya tersenyum tidak menanggapi karena menurut ku tak' ada yang salah pada kata-katanya. Yang dia katakan memang benar adanya.

Biarlah aku di anggap aneh, toh perkataan itu tak kan mengurangi tekatku untuk naik perahu.

"Mila, siapa yang akan mengantar kita ke seberang?" tanyaku saat sudah berada di dekat deretan perahu nelayan.

"Budi yang akan mengantar kita," jawabnya sambil melihat sekeliling seperti mencari sesuatu, "itu dia!" tunjuknya saat melihat yang dicari sudah tertangkap netra.

Aku mengikuti arah tunjuknya, di sana sudah ada Budi yang tengah mempersiapkan perahu untuk kami menyeberangi sungai.

Ya — kami tadi memang pulang bersama, orangtuanya sedang berada di sawah yang kami lalui tadi. Jadi, tidak sulit juga baginya mendapatkan perahu untuk menyeberang.

Seperti biasa, saat di atas perahu tanganku selalu terulur kedalam air. Ada kesenangan tersendiri saat melakukan itu, rasa damai di dalam hati menyeruak bersama aliran air yang membelai tanganku.

"Mila saat sampai rumahmu, aku ingin segera mandi ya. Aku merindukan berendam di dalam sungai," pinta ku sambil tersenyum bahagia, memang benar walau sejenak aku bisa melupakan rasa rindu terhadap keluarga.

"Iya ... nanti akan ku temani, aku juga ingin segera mandi. Sudah gerah juga nih badan, perjalanan yang kita tempuh 'kan lumayan jauh. Berendam di sungai bisa melepas penat juga loh," jawabnya sambil cengengesan.

"Iya, oleh karena itu aku sangat ingin berendam didalam sungai," ucapku sambil menerawang jauh. "Airnya yang dingin dan menyegarkan, aku ingin segera sampai!"

"Sabar neng, bentar lagi juga sampai," ucap Mila sambil geleng-geleng kepala karena melihat tingkahku seperti ikan yang akan bertemu dengan air.

Tidak sabar rasa hati ingin segera sampai, saat mandi di sungai aku bisa merasa nyaman walaupun aku tidak bisa berenang.

Related chapters

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Perjalanan

    **Makan nasi pakai sambalSambal ditumbuk hingga halusPersahabatan bukan abal-abalNamun, disertai rasa yang tulus*****Sekitar setengah jam, kami berempat berada di atas perahu. Pasti ada yang nanya 'kenapa berempat ya, bukannya tadi cuma bertiga?'Ya ... berempat, Aku, Mila, Budi dan satu lagi adalah saudara laki-laki Budi. Dia ikut sebab perahu akan dibawa kembali kesawah saat setelah mengantar kami bertiga.Kami berhenti tepat didepan bilah bambu bertiangkan kayu ulin, yang di susun dipinggir sungai, sebagai labuhan untuk perahu yang kami tumpangi.Setela

    Last Updated : 2021-10-11
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Belajar Berenang

    "Ayo ... sini nanti kuajarkan berenang!" seru Mila terhadapku yang hanya duduk di bilah bambu yang ada di sungai tersebut."Tidak mau ah ... aku takut tenggelam, nanti kamu melepaskan genggaman tanganmu lagi," ucapku sambil cengengesan, karena aku sudah tahu apa yang bakalan ia ucapkan."Memangnya kamu pikir aku gak ada perasaan gitu, memangnya aku tega buat kamu tenggelam di sungai, memangnya aku sekejam itu. Tega ya kamu!" ucapnya sambil cemberut."Tuh kan, sudah kuduga ocehan anpaedah nya keluar," pikirku sambil menggaruk lengan yang tak gatal."Terimakasih Mila karena sudah mau jadi sahabatku," gumamku dalam hati sambil tersenyum sangat manis kepadanya."Kebiasaan ya ... kamu itu suka banget godain aku, kan jadi keluar cerewetnya aku," ucapnya masih cemberut.

    Last Updated : 2021-10-12
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Keliling Desa part 1

    Setengah jam berlalu setelah kepergian Mila, aku pun mulai membereskan peralatan mandi yang tadi kami bawa bersama, saat ingin turun ke sungai.Badanku terasa sangat segar setelah berendam begitu lama, penat yang kurasakan tadi tak lagi melanda.Aku mulai menapaki tanjakan yang dibentuk seperti tangga tersebut, satu-persatu anak tangga kulalui, seolah enggan untuk beranjak dari posisiku yang sekarang.Namun 'tak mungkin juga aku hanya menghabiskan waktu di dalam sungai dan terus menghitung anak tangga.Saat melanjutkan langkahku, diam-diam aku tersenyum, teringat akan pepatah lama 'roda terus berputar' begitu juga dengan yang kualami sekarang.Menapaki anak tangga, seolah kita memulai fase dalam kehidupan. Memulai dari bawah untuk terus menanjak ke atas, selalu berusaha walaupun keadaan tak semudah melalui jalan yang lurus.Kehidupan —, kadang aku berpikir.

    Last Updated : 2021-10-17
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Keliling Desa Part 2

    Setelah selesai berkeliling, kami semua mulai menaiki perahu untuk menyeberang ke hulu sungai. Total kami sekarang ada enam orang, sedangkan yang menjalankan perahu adalah Budi.Tak ada wajah ketegangan, yang kulihat hanya wajah bahagia yang terukir indah dalam tatapan netra. Kalau ada yang bertanya keadaanku bagaimana? jawabanya hanya satu kata 'bahagia'. Ya, bahagia itulah yang aku rasakan.Entah mengapa, saat bersentuhan dengan air aku merasa sangat bahagia. Tangan mulai terulur membelai air seiring berjalannya perahu yang kami tumpangi. Membelah sungai, dihari nan cerah matahari seolah berpihak."Kak Lia! kakakkan tidak bisa berenang, apa tidak takut kalau seumpama perahu terbalik dan kakak akan tenggelam?" tanya Mirna, salah satu adik kelaku di pesantren yang ikut dalam rombongan."Alhamdulillah tidak takut dek, walaupun kakak tidak bisa berenang," seketika sedikit rasa takut menyelinap dalam sa

    Last Updated : 2021-10-17
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   PDKT Part 1

    Tatapan itu seolah mengunci pergerakan langkahku.Hati bergumam namun mulut tak mau berucap.Rasa ingin melawan, dikala mulut tak mampu berujar dari tatapan seolah bermakna.***Kami menyusuri jalan setapak yang diapit oleh rumah penduduk, pemandangan yang masih asri tersuguh dihadapan, guna memanjakan mata yang melihatnya.Perjalanan kali ini terasa sangat menyenangkan, aku benar-benar bisa melupakan kerinduan tentang keluargaku nan jauh di sana barang sejenak.Namun, aku tak memungkiri rasa itu akan hadir menyelinap ke relung hati yang sepi dikala aku sendiri.Aku menatap wajah Mila sejenak yang berada di sampingku, sangat terlukis nyata, gambaran kebahagiaan di wajahnya. Tanpa sadar ataupun tidak rasa itu ikut menjalar ke relung sukma."Lia, kamu kenapa liatin aku gitu amat," protesnya setelah menangkap basah aku sedang memandangnya.

    Last Updated : 2021-10-23
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   PDKT Part 2

    Lia hanya diam, tidak berniat menerima ataupun menolak. Dia bingung dengan hatinya, menolak takut menyakiti sedangkan menerima takut tersiksa perasaan sendiri. Keheningan mengiringi langkah mereka berdua, Erik juga tidak melanjutkan pembicaraan yang membuat Lia tidak nyaman. Sebenarnya dia tahu akan perasaan Lia. Namun, dia menepis semua itu. Sedangkan Lia tak ingin menerima Erik lantaran seminggu sebelum ini, Erik pernah menyatakan cinta kepada seseorang temannya. Tak mungkin bagi Lia jika menerima seseorang, yang belum jelas akan perasaannya sendiri. Apa memang benar Erik mencintainya, atau cuma sekedar mencari pelarian lantaran baru ditolak seorang wanita. ***Sore menjelang, sumburat cahaya jingga menghiasi langit senja. Matahari mulai turun ke peraduan, malam mulai menyongsong mengantikan siang. Kini Lia dan Mila telah berada di rumah, bersiap untuk shalat magri

    Last Updated : 2021-10-25
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Perdebatan Kecil

    Kata cinta bak mutiara yang indahNamun, kata itu juga bisa membuat lukaTersayat tapi, tak berdarahSakit, perih dan ngilu bagai teriris sembilu.***Matahari telah menyingsing menyingkap tabir dibalik kegelapan malam. Berganti sejuknya pagi dengan tetesan embun. Suara burung bersautan, berkicau menemani hari yang indah."Besok pagi kita udah harus di pesantren ya?" Mila bertanya dengan lesu."Iya, kenapa emangnya. Kan kita udah janji sama ustadzah," sahut Lia tanpa mempedulikan wajah Mila yang murung.Mila tidak

    Last Updated : 2021-10-26
  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Kembali Pulang

    Persahabatan yang tulus tak pernah menuntut atau 'pun meminta hal 'tak mungkin.Persahabatan saling mengerti, menerima, dan melengkapi.Mengingatkan di kala salah,Merangkul di kala bersedih. Itulah arti dari persahabatan, persahabatan tanpa syarat.***Saat tengah sibuk dengan perdebatan kecil mereka, tiba-tiba Ibu memanggil mereka."Ayo ..., ibu manggil tuh!" ajak Mila sambil mengarahkan pandangannya ke pondok."Bentar, aku mau bawa ini dulu. 'Kan sayang pepayanya," jawab Lia menahan langkah kaki Mila yang hampir melangkah jauh.

    Last Updated : 2021-10-31

Latest chapter

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Memasak Bersama

    Aku kembali ke asrama, berhubung waktu sudah melangkah ke pukul lima sore. Tanpa aku sadari, rasa penasaran pada pemberian Erik mulai mengusikku.Perlahan tapi pasti, aku mendudukkan diri di lantai dan bersandar di lemari kayu milikku. Aku mulai membuka lembaran surat yang terselip, di atas kado yang ku terima.Bait demi bait ku baca, ada rasa takut akan hal ini. Namun, tak' memungkiri ada rasa senang juga. "Ternyata ada juga laki-laki yang menyukaiku, rasa yang tak' seharusnya kau tunjukan Erik," aku bergumam di dalam hati, sembari membaca surat darinya."Maaf, sepertinya aku gak bisa balas perasaan mu ini Erik. Aku tak' pernah berharap, seseorang mulai mengagumi ku," Aku berfikir, sambil mendongakkan ke atas. Setelah selesai membaca surat dari Erik.Aku hanya tersenyum penuh arti, tak' berniat menerima keingi

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Sebuah Bingkisan Cinta

    Jam istirahat telah tiba, kami langsung menuju mushola karena telah menunjukan waktu ashar. Selesai shalat kami kembali ke kelas, saat aku ingin menghampiri Mila.Tiba-tiba, Erik muncul dihadapan ku, entah dari mana tuh anak. Tahu-tahu sudah muncul, seperti hantu. Iya, seperti hantu. Suka muncul seenak hati dan menghilang tanpa bekas.Berkata seperti itu, seolah-olah aku pernah menjadi korban ghosting. Erik yang muncul secara tiba-tiba membuat ku sedikit terperanjat, betapa tidak. Dia muncul bagai malaikat pencabut nyawa.*Tadi hantu sekarang malaikat, authornya gabut nih. hehehehe.*Membuat jantung ku menjadi tidak normal, jantung ku berdetak lebih cepat. Desiran darah seakan memompa lebih dari biasanya. Namun, ini bukan perasaan jatuh cinta seperti di novel-novel roman.Melainkan perasaan takut. Takut akan ketahuan para staf pesantren dan aku bisa mendapatkan hukuman. Kalau sam

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Perhitungan Yang Tertunda

    Jam sekolah umum sudah hampir dimulai, waktu yang ku nanti sekaligus tak' ku harapkan.Menanti untuk belajar dan tak' berharap bertemu Erik. Lelaki yang selalu ada seperti parasit, akhir-akhir ini.Aku bukan membencinya tetapi, aku hanya risih atas kelakuan yang diperbuatnya. Kalau sekarang masih aman. Namun, tidak tau apa yang akan dilakukan dia selanjutnya.Sebenarnya Erik termasuk laki-laki yang baik, di tambah lagi dengan keahlian yang dimilikinya. Namun, entah mengapa aku tidak ingin mendekat, seperti ada sekat di antara kami.Di tengah perjalanan, aku berhenti di bawah pohon rindang, aku mendongak ke atas dan berfikir. Bisakah aku seperti pohon ini? Selalu meneduhi saat panas menerpa tanpa meminta balasan, atas apa yang dilakukannya.Tetap kokoh saat angin berhembus dan memberi udara sejuk di sekitarn

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   APAC (Assalamu'alaikum Pesantren_Assalamu'alaikum Cinta)

    Aku menunduk memperhatikan telunjuknya, dan aku tersenyum saat mengangkat wajahku. Memperhatikan pahatan yang elok di depan mataku, wajahnya yang ayu rupawan, meneduhkan siapa pun yang memandang. Aku tersentak, dikala ingat sesuatu yang sempat aku lupakan .... "Astaghfirullah —!" "Ada apa?" "Aku lupa, ada janji sama Juju." "Janji—, janji yang kemaren?" "Iya, aku lupa." "Ya udah, nanti aja. Mending sekarang kita mondok dulu, kalo telat bisa kena marah loh!" "Iya deh, nanti siang aja." "Iya lah, kan kita ketemu di kelas mata pelajaran umum nanti siang." jawab Vivi sambil tersenyum menenangkan ku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Vivi, kami keluar dari asrama menuju kelas. Saat pagi seperti ini kami akan belajar ilmu tasawuf dan kitab kuning lainnya.

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Rasa Malu

    Hutan yang mereka lalui sedikit lagi berlalu dan berganti padang rumput hijau nan indah. Karena kurang berhati-hati saat berjalan Lia hampir saja tergelincir, dengan sigap Erik menarik tangan Lia. Namun hal tak terduga terjadi.....Lia hampir terduduk di tanah. Jika saja Erik tidak sigap, semua teman-teman di belakang mereka tiba-tiba berhenti saat melihat kejadian itu."Ka — kamu, gak apa-apa kan?" tanya Erik sedikit tergagap."Gak apa kok tapi, apa kamu bisa melepaskan tanganmu dari lenganku?" jawab Lia sambil menunduk, karena rasa malu. Bagai awan hitam yang seakan menumpahkan hujan."Oh — maafkan aku, aku cuma berniat menolong," jawab Erik sembari melepas genggaman tangannya di lengan Lia."Iya— gak apa

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Kembali Pulang

    Persahabatan yang tulus tak pernah menuntut atau 'pun meminta hal 'tak mungkin.Persahabatan saling mengerti, menerima, dan melengkapi.Mengingatkan di kala salah,Merangkul di kala bersedih. Itulah arti dari persahabatan, persahabatan tanpa syarat.***Saat tengah sibuk dengan perdebatan kecil mereka, tiba-tiba Ibu memanggil mereka."Ayo ..., ibu manggil tuh!" ajak Mila sambil mengarahkan pandangannya ke pondok."Bentar, aku mau bawa ini dulu. 'Kan sayang pepayanya," jawab Lia menahan langkah kaki Mila yang hampir melangkah jauh.

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   Perdebatan Kecil

    Kata cinta bak mutiara yang indahNamun, kata itu juga bisa membuat lukaTersayat tapi, tak berdarahSakit, perih dan ngilu bagai teriris sembilu.***Matahari telah menyingsing menyingkap tabir dibalik kegelapan malam. Berganti sejuknya pagi dengan tetesan embun. Suara burung bersautan, berkicau menemani hari yang indah."Besok pagi kita udah harus di pesantren ya?" Mila bertanya dengan lesu."Iya, kenapa emangnya. Kan kita udah janji sama ustadzah," sahut Lia tanpa mempedulikan wajah Mila yang murung.Mila tidak

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   PDKT Part 2

    Lia hanya diam, tidak berniat menerima ataupun menolak. Dia bingung dengan hatinya, menolak takut menyakiti sedangkan menerima takut tersiksa perasaan sendiri. Keheningan mengiringi langkah mereka berdua, Erik juga tidak melanjutkan pembicaraan yang membuat Lia tidak nyaman. Sebenarnya dia tahu akan perasaan Lia. Namun, dia menepis semua itu. Sedangkan Lia tak ingin menerima Erik lantaran seminggu sebelum ini, Erik pernah menyatakan cinta kepada seseorang temannya. Tak mungkin bagi Lia jika menerima seseorang, yang belum jelas akan perasaannya sendiri. Apa memang benar Erik mencintainya, atau cuma sekedar mencari pelarian lantaran baru ditolak seorang wanita. ***Sore menjelang, sumburat cahaya jingga menghiasi langit senja. Matahari mulai turun ke peraduan, malam mulai menyongsong mengantikan siang. Kini Lia dan Mila telah berada di rumah, bersiap untuk shalat magri

  • Assalamu'alaikum Pesantren (Assalamu'alaikum Cinta)   PDKT Part 1

    Tatapan itu seolah mengunci pergerakan langkahku.Hati bergumam namun mulut tak mau berucap.Rasa ingin melawan, dikala mulut tak mampu berujar dari tatapan seolah bermakna.***Kami menyusuri jalan setapak yang diapit oleh rumah penduduk, pemandangan yang masih asri tersuguh dihadapan, guna memanjakan mata yang melihatnya.Perjalanan kali ini terasa sangat menyenangkan, aku benar-benar bisa melupakan kerinduan tentang keluargaku nan jauh di sana barang sejenak.Namun, aku tak memungkiri rasa itu akan hadir menyelinap ke relung hati yang sepi dikala aku sendiri.Aku menatap wajah Mila sejenak yang berada di sampingku, sangat terlukis nyata, gambaran kebahagiaan di wajahnya. Tanpa sadar ataupun tidak rasa itu ikut menjalar ke relung sukma."Lia, kamu kenapa liatin aku gitu amat," protesnya setelah menangkap basah aku sedang memandangnya.

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status