Steven kini tengah berada di ruang kerjanya, sejak pertemuannya dengan Caroline di club malam, ia yakin Carolin tengah berbohong dengannya. Akhirnya kemarin Steven meminta assistantnya untuk mencari tahu tentang Caroline.Saat Steven sedang membaca laporan, terdengar suara ketukan pintu. Ia yakin itu sudah pasti assistantnya. Ia pun langsung menyuruh masuk. "Selamat pagi Tuan Steven" sapa Dennis dengan sopan."Pagi, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang Caroline Lancanster?" tanya Steven."Sudah tuan""Katakan""Nona Caroline Lancaster tidak pernah menikah tuan. Saya mendapat informasi Nona Caroline dan kakaknya di usir dari rumah keluarganya. Kakaknya menolak perjodohan dan Nona Caroline hamil di luar nikah." ujar Dennis. "Apa kamu tahu bagaimana pergaulan Caroline?" tanya Steven kembali."Nona Caroline tidak sembarangan bergaul, bahkan dari kabar dia tidak pernah dekat dengan pria manapun. Saya tidak mendapatkan informasi siapa pria yang menghamili Nona Caroline" tutur Denn
Bianca masih menatap tajam Steven yang berada di hadapannya. Bianca memang sengaja meminta Caroline untuk pergi meninggalkan ruangan. Bianca ingin sendiri menghadapi pria yang tengah menghancurkan masa depan adiknya. "Bianca, aku tahu aku salah. Tapi itu sungguh hal itu terjadi karena aku dan adik mu tengah mabuk" ujar Steven. "Aku tidak akan mungkin berniat menghancurkan masa depan seorang gadis" lanjut Steven. Saat itu memang Steven dan Caroline tengah dalam keadaan mabuk. Lalu Steven mengira Caroline adalah jalang yang tengah ia sewa untuknya. Tapi ternyata ia salah, Caroline bukanlah jalang yang ia sewa. "Kau bilang tidak berniat menghancurkannya? bahkan kau mengira adik ku adalah jalang, kau memang bajingan" seru Bianca. "Kau datang dan ingin bertemu dengan keponakan ku? jangan mimpi kamu steven" seru Bianca "Kau tidak akan pernah pantas menjadi ayah dari Annabeth" geram Bianca yang mencoba menahan emosinya."Dan Aku pastikan akan membunuhmu saat ini" Bianca mengambil sala
Keesokan hari Arthur sudah lebih dulu berangkat. Arthur mengatakan pada Bianca jika ia memiliki meeting pagi hari, Tapi sebenarnya, ia ingin langsung bertemu dengan Steven, Arthur memang sengaja berbohong, ia takut Bianca memaksa ingin ikut dengannya. Mobil Arthur kini sudah tiba di kantor Steven. Perusahaan milik Steven merupakan salah satu perusahaan besar di Amerika. Meskipun tidak sebesar milik Arthur namun perusahaan milik Steven memiliki reputasi yang sangat baik. Perusahaan Steven bergerak di bidang teknologi dan juga ia memiliki beberapa hotel di New York. Selain itu, Steven juga memiliki beberapa bar di New York dan Las Vegas. Sebenarnya bukan hanya Steven saja yang memiliki bar, tapi Arthur pun memilki bar yang berada di mexico dan juga Las Vegas. Hanya saja Arthur meminta anak buahnya yang mengurus bar miliknya. Arthur yang sudah tiba, ia langsung berjalan masuk dan langsung menuju lift pribadi yang sering di gunakan oleh Steven. Arthur memang memiiki saham di perusahaa
Tadi pagi Arthur sudah lebih dahulu berangkat, dan Bianca kini baru saja tiba di butiknya, Seperti biasa ia menyelesaikan pesanan para customernya. Saat Bianca sedang mendesign, terdengar suara ketukan pintu ia yakin itu adalah Liy assistantnya. Bianca langsung memintanya masuk.Dan benar saja, tidak lama kemudian Lily masuk."Selamat pagi Nona Bianca" sapa Lily. "Pagi, ada apa li?" tanya Bianca. "Nona, ada customer yang meminta nona untuk mendesign jas untuknya" jawab Lily. "Jas? siapa customernya?" tanya Bianca kembali. "Tuan Brian, nona" "Brian?" Bianca mengernyitkan dahinya saat mendengar nama Brian. "Persilahkan Tuan Brian masuk ke ruang kerja ku" ucap Bianca."Baik nona" Lily langsung meninggakan ruang kerja bosnya dan menghampiri Brian di ruang tunggu. Lily mempersilahkan Brian untuk masuk ke ruang kerja bosnya.Tidak lama kemudian Brian masuk ke ruang kerja Bianca dan Bianca menyambutnya dengan senyuman ramah."Selamat pagi Tuan Brian" sapa Bianca dengan sopan. "Selama
Pagi hari Bianca sudah lebih dulu bangun, ia juga sudah menyiapkan sandwich dan susu kacang untuk Arthur. Tidak lama kemudian Arthur menghampiri Bianca di ruang makan. Bianca pun langsung menyiapkan sarapan untuk Arthur."Arthur ini untuk mu" Bianca memeberikan sandwich dan juga susu kacang pada Arthur."Ya" "Arthur aku ingin mengatakan sesuatu pada mu" ucap Bianca yang kini tengah menikmati sarapannya. "Katakan" "Aku akan ikut ke kantor mu, aku ingin bertemu dengan adik ku, besok kita sudah ke Paris jadi aku ingin bertemu dengan Caroline. Setelah itu aku mungkin akan menjemput Annabeth di sekolahnya." ujar Bianca. "Baiklah, tapi setelah itu lebih baik kau langsung pulang""Ya, aku akan langsung pulang" "Arthur, apa kau sudah lama mengenal Steven?" tanya Bianca yang membuat Arthur langsung menoleh melihat ke arahnya. "Dia sahabat ku sejak kecil, orang tua kami pun sangat dekat. Tidak hanya Steven saja, tapi Richo juga. Kami bertiga sudah dekat sejak kami kecil" jawab Arthur. "B
Setelah Bianca bertemu dengan Annabeth, ia langsung mengantarkan Annabeth pulang ke mansion. Sedangkan dirinya langsung kembali ke mansion suaminya. Bianca memang tidak ke butik hari ini. Bianca sudah kirim pesan pada Lily, jika ia akan pergi ke Paris. Bianca sendiri belum bertanya pada Arthur, berapa lama mereka di Paris. Seluruh pekerjaan Bianca yang berada di Los Angeles, Bianca sudah meminta Lily menyelesaikannya.Bianca kini sudah tiba di mansion milik suaminya. Ia langsung berjalan ke kamar. Sebelum Arthur pulang, ia ingin mengemasi pakaian dirinya dan juga pakaian Arthur. Sudah lama sekali Bianca tidak ke Paris, biasanya manager butik akan melaporkan keadaan butik Bianca yang di Paris.CeklekSuara pintu terbukaBianca yang sedang mengemasi barang-barang, ia langsung menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka."Arthur?" Bianca terkejut saat melihat Arthur berada di kamar. "Kamu sudah pulang?" tanya Bianca yang langsung menghampiri Arthur. "Ya" "Kenapa kamu pulang
Pagi-pagi Bianca dan Arthur sudah bersiap menuju bandara. Arthur membawa beberapa pengawal dan juga pelayan. Meskipun awalnya Bianca menolak, tapi akhrinya Arthur tetap membawa pengawal dan juga pelayan."Arthur, kenapa kita harus pakai private jet sih? aku tidak suka" gerutu Bianca. "Aku lebih suka memakai private jet, kalau pesawat biasa kau tahu banyak sekali penumpangnya" balas Arthur. Bianca berdecak kesal.Keluarga Bianca memang tidak sekaya Arthur, bahkan ketika berpergian biasanya keluarga Bianca hanya memakai first class atau business class saja. Sebenarnya Bianca sudah pernah naik privat jet milik Arthur saat ia di Los Angeles, tapi memang Bianca lebih menyukai pesawat biasa. Percuma saja mengeluh, Arthur pasti tidak akan mendengarkannya."Arthur berapa lama kita di Paris?" tanya Bianca. "Sekitar satu minggu" Perjalanan menuju bandara akhirnya sampai. Arthur menggenggam tangan Bianca saat masuk ke dalam bandara. Sedangkan para pengawal dan pelayan mengikutinya dari bela
Paris, French.Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Bianca dan Arthur sudah tiba di Paris. Jujur saja, Bianca sangat merindukan kota ini, kota dimana ia harus berjuang keras untuk adik dan keponakannya. Paris adalah negara yang menjadi saksi karir Bianca. Mulai dia hanya bekerja di butik, hingga kini ia bisa menjadi seorang designer terkenal. Bianca memang sangat bekerja keras untuk meraih mimpinya. Arthur sudah memilih hotel terdekat dengan menara eiffel, kini supir Arthur sudah tiba menjemputnya di bandara. "Selamat datang Tuan Afford dan Nyonya Afford" sapa supirnya. "Ya""Terimakasih" Bianca membalas dengan senyuman ramah.Di dalam mobil, Bianca memilih diam. Entah kenapa rasanya benar-benar sangat lelah. "Kau lelah?" tanya Arthur dan Bianca hanya mengangguk. "Kemarilah" ucap Arthur seraya menarik tangan Bianca untuk bersandar di dada bidang Arthur.Saat Bianca bersandar, jantung Bianca berdegup kencang. Bianca benar-benar gugup saat di dekapan Arth
Satu minggu kemudian...Bianca tengah duduk di sofa sembari menyusui Nathan. Bianca tersenyum melihat bayi mungilnya. Wajahnya sungguh mirip dengan Justin saat Justin masih bayi. Bianca mengusap pelan pipi Nathan. Kini hidupanya benar-benar sempurna. Memiliki suami yang mencintainya dan memiliki dua putra yang sangat tampan. Suara dering ponsel terdengar, Bianca mengambil ponselnya dengan tangan kanannya. Tangan Kiri Bianca tengah menopang kepala Nathan yang masih menyusu padanya. Bianca menatap ke layar ponsel, tertera nama Irina di layar ponselnya. Kening Bianca berkerut dalam ketika melihat nama Irina. Tidak biasanya Irina menghubungi dirinya. Tanpa menunggu lama, Bianca mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian, Bianca meletakan ponselnya di telinganya. "Irina?" sapa Bianca saat panggilan terhubung. "Bianca? Kau masih menyimpan nomorku?" tanya Irina dari seberang line. "Tentu Irina, aku masih menyimpannya. Apa kabar Irina?" "Aku baik, bagaimana denganmu
Beberapa bulan kemudian.. Di ruang operasi, Arthur terus berada di samping Bianca. Bayi dalam kandungan Bianca, tidak dalam posisi yang tepat. Hingga akhirnya dokter menyarankan untuk Bianca kembali operasi caesar. Arthur terus mengecupi kening Bianca saat dokter melakukan proses operasi. Sudut mata Bianca mengeluarkan air mata haru, dia kembali bisa melahirkan buah cintanya dengan Arthur. Oeee...Oee.... Sura tangis bayi pecah di ruang operasi. Air mata Bianca menetes ketika mendengar bayinya menangis. Arthur mengecup kening istrinya. Mata Arthur tidak mampu lagi menahan, air matanya menetes saat mendengar suara bayi. "Terima kasih sayang," bisik Arhur. "Bayi laki-laki," ucap sang dokter. Tidak perduli apa jenis kelaminya, terpenting bagi Bianca dan Arthur anaknya lahir dengan selamat. Kehamilan yang kedua ini, Bianca memang sengaja tidak memeriksa jenis kelamin bayinya. "Nyonya Bianca, silahkan lakukan proses IMD." Dokter menyerahkan bayi mungil itu dalam gendongan Bianca. Me
Viola duduk di tepi ranjang, menatap Richo yang masih terus menutup matanya. Dokter memang mengatakan peluru tidak mengenai jantung Richo, tapi hingga detik ini Richo masih juga belum sadar. Beberapa hari ini, Viola menjalani harinya begitu berat. Viola merasa kehilangan sosok Richo yang setiap hari selalu mengganggunya. Viola menyentuh tangan Richo, mengelus pelan."Richo, kapan kau bangun? Aku merindukan mu Richo..." air mata Viola tidak mampu lagi tertahan. Dia sungguh merindukan kekasihnya itu. Rasanya beberapa hari tanpa Richo dia benar-benar merasakan tidak lagi bernyawa. "Selama ini aku selalu menutupi perasaan ku. Aku menyukai cara mu yang tidak pernah menyerah mendapatkan ku. Aku sungguh menyukai setiap cara mu Richo. Kau tidak pernah lelah mengejar ku. Bahkan berkali-kali aku mengusir mu dari kehidupan ku, kau tetap meminta ku menjadi wanita mu. Andai waktu bisa di putar, sudah sejak awal aku menerima mu." "Masa lalu mu memang membuat ku ragu menerima mu. Tapi percayalah,
Beberapa hari kemudian... Altov turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam rumah tempat dimana dia menyembunyikan Clarissa. Altov masih mengurung Clarissa sebelum menjebloskannya ke dalam penjara. Sebenarnya Arthur tidak setuju dengan apa yang di rencanakan Altov, tapi Altov memiliki alasan tersendiri mengurung Clarissa. Tidak hanya Clarissa, tapi Jesslyn yang turut membantu Clarissa juga di kurung oleh Altov. Alasannya karena permintaan dari Viola. Saat itu ketika Viola mendengar Jesslyn sudah berhasil di tangkap oleh Altov, Viola meminta waktu sebentar sebelum menjebloskan Jesslyn ke penjara. "Tuan," sapa Christian saat Altov melangkah masuk ke dalam. "Dimana Clarissa?" tanya Altov dingin. "Masih berada di kamarnya tuan," jawab Christin. Altov mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Tempat dimana Clarissa di kurung. Setiap kali Altov bertemu dengan Clarissa, dia merasa dirinya tidak berguna. Harusnya sejak awal Altov menyeret paksa Clarissa meningg
Arthur dan Drake kini pergi ke tempat persembunyian Clarissa. Alvin sudah memberikan informasi saat ini Clarissa dan Jessly dalam perlindungan Jasson Steele. Itu artinya Arthur sendiri yang harus turun tangan. Tidak hanya Arthur, tapi Drake juga turun tangan. Drake ingin langsung berhadapan dengan Jasson. Jika sampai Jasson mempersulit, maka tidak ada pilihan lain bagi Drake untuk melakukan tindakan kekerasan. Mobil Arthur telah tiba di sebuah rumah yang jauh dari Manhattan. Arthur tahu, Jasson memang sengaja menyembunyikan Clarissa di tempat ini. Arthur dan Drake turun dari mobil. Beberapa pengawal Arthur dan Drake berada di belakang. Arthur tersenyum melihat penjagaan ketat demi menyelamatkan Clarissa. Tapi Arthur tidak perduli sedikit pun. Arthur dan Drake tetap melangkah masuk ke dalam. Langkah Arthu terhenti ketika pengawal Jasson menghadang dirnya. Alrthur tersenyum sinis menatap para pengawal Jasson yang menghalanginya. Rupanya Jasson memang berniat untuk melawan dirinya. Sun
Perlahan Bianca mulai membuka matanya, dia menatap ruangan putih. Bianca menoleh dan melihat ada Arthur dan Paula yang berjaga di sisinya. Mereka sama-sama tersenyum saat Bianca sudah membuka matanya. "Bianca? Kau mendengar ku?" Arthur mengelus dengan lembut pipi Bianca. "Arthur kenapa aku di sini?" Bianca mengerutkan keningnya. Dia berusaha mengingat kenapa dirinya berada di rumah sakit. Namun, ketika Bianca mengingat sesuatu. Ingatan di kepalanya begitu jelas tentang Tasya, Richo dan Ella yang tergeletak dengan berlumuran darah. Wajah Bianca langsung memucat, saat dia mengingat semuanya. "Arthur? Bagaimana keadaan Tasya? Richo dan Ella bagaimana?" Bianca semakin panik, kepalanya semakin sakit dan memberat."Ssst, jangan pikirkan itu Bianca. Aku yakin mereka akan selamat," Arthur membawa tangannya mengusap lembut perut istrinya. "Aku minta pada mu, jangan memikirkan hal berat, Dokter mengatakan kandungan mu lemah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita." Sebelumnya dokter
Bianca menatap cermin, kini tubuhnya sudah terbalut dengan gaun berwarna gold dengan model atas kemben. Hari ini adalah ulang tahun putranya, Justin. Bianca masih tidak menyangka usia Justin sudah satu tahun. Perjuangan yang Bianca hadapi dulu saat melahirkan putranya itu, tidak pernah bisa terlupakan. Beruntung Tuhan masih melindungi dirinya dan putra kesayangannya. Arthur yang melangkah masuk ke dalam kamar, dia menatap istrinya sudah terbalut dengan gaun yang membuat istrinya terlihat sangat cantik dan seksi. Arthur mendekat, dia langsung memeluk Bianca dari belakang. Memberikan kecupan di tenguk leher. hingga ke pundak mulus milik istrinya itu. "Kenapa kau selalu cantik hem?" bisik Arthur di sela-sela kecupannya. Bianca tersenyum, lalu membalikan tubuhnya menatap lekat wajah suaminya. Bianca mengelus lembut rahang Arthur. "Dan kau selalu tampan."Arthur mengeratkan pelukannya. "Aku rasanya tidak ingin keluar kamar. Aku ingin terus di sini bersama mu." "Kau ini bagaimana! Putra
Viola menyandarkan punggungnya di sofa. Sejak kejadian dirinya bertengkar dengan ayahnya, Viola lebih menyendiri. Daisy ibunya kini sudah mengetahui semuanya. Viola sengaja mengatakan langsung pada Daisy. Viola tidak ingin Daisy terus tertipu pada Carlos yang memberikan sebuah cinta palsu. Selama ini Carlos selalu menunjukan peran ayah yang terlihat begitu sempurna. Tapi kenyataan yang Viola dapatkan ayahnya sendiri berusaha mengahancurkan kehidupannya. Richo melangkah masuk ke dalam rumah, dia menatap Viola tengah melamun. Richo langsung berjalan mendekat ke arah Viola, dan langsung duduk di samping kekasihnya itu. "Kau sedang memikirkan apa?" tegur Richo yang membuat Viola menghentikan lamunannya. Viola mengalihkan pandangannya dan menatap Richo yang duduk di sampingnya. "Kau sudah pulang? Maaf aku tidak menyadari kau datang." "Ada yang kau pikirkan?" Richo kembali bertanya, dia menatap wajah kekasihnya terlihat begitu muram. "Tidak ada," jawab Viola yang berbohong. Dia tidak i
Hari ini hari dimana Viola meminta Richo menemani dirinya untuk bertemu dengan ayahnya. Viola sengaja meminta Richo untuk menemani dirinya. Viola ingin tahu apa reaksi dari ayahnya setelah dia mengetahui semuanya. "Apa kau yakin ingin bertemu dengan ayah mu?" tanya Richo yang kini berada di depan mobil. Sebelum masuk, dia kembali memastikan pada Viola. Viola mengangguk. "Kita harus menemuinya. Aku ingin langsung melihat tindakan apa yang dia ambil setelah melihat kita berdua." "Allright, dengan senang hari aku bertemu dengan calon mertua ku." Richo masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengan Viola. Kemudian Richo mulai melanjukan mobilnya meninggalkan halaman parkir mansionnya. "Apa kau sudah tahu dimana rumah ayah ku yang baru?" Viola membuka suara ketika Richo tengah fokus melajukan mobil. "Lebih tepatnya itu adalah rumah lama ayah mu. Rumah itu tempat tinggal ayah mu dan Aria. Aku rasa Jesslyn juga berada di sana. Karena tadi aku meminta assistant ku dan melihat apartemen Jesslyn