Pagi hari Bianca sudah lebih dulu bangun, ia juga sudah menyiapkan sandwich dan susu kacang untuk Arthur. Tidak lama kemudian Arthur menghampiri Bianca di ruang makan. Bianca pun langsung menyiapkan sarapan untuk Arthur."Arthur ini untuk mu" Bianca memeberikan sandwich dan juga susu kacang pada Arthur."Ya" "Arthur aku ingin mengatakan sesuatu pada mu" ucap Bianca yang kini tengah menikmati sarapannya. "Katakan" "Aku akan ikut ke kantor mu, aku ingin bertemu dengan adik ku, besok kita sudah ke Paris jadi aku ingin bertemu dengan Caroline. Setelah itu aku mungkin akan menjemput Annabeth di sekolahnya." ujar Bianca. "Baiklah, tapi setelah itu lebih baik kau langsung pulang""Ya, aku akan langsung pulang" "Arthur, apa kau sudah lama mengenal Steven?" tanya Bianca yang membuat Arthur langsung menoleh melihat ke arahnya. "Dia sahabat ku sejak kecil, orang tua kami pun sangat dekat. Tidak hanya Steven saja, tapi Richo juga. Kami bertiga sudah dekat sejak kami kecil" jawab Arthur. "B
Setelah Bianca bertemu dengan Annabeth, ia langsung mengantarkan Annabeth pulang ke mansion. Sedangkan dirinya langsung kembali ke mansion suaminya. Bianca memang tidak ke butik hari ini. Bianca sudah kirim pesan pada Lily, jika ia akan pergi ke Paris. Bianca sendiri belum bertanya pada Arthur, berapa lama mereka di Paris. Seluruh pekerjaan Bianca yang berada di Los Angeles, Bianca sudah meminta Lily menyelesaikannya.Bianca kini sudah tiba di mansion milik suaminya. Ia langsung berjalan ke kamar. Sebelum Arthur pulang, ia ingin mengemasi pakaian dirinya dan juga pakaian Arthur. Sudah lama sekali Bianca tidak ke Paris, biasanya manager butik akan melaporkan keadaan butik Bianca yang di Paris.CeklekSuara pintu terbukaBianca yang sedang mengemasi barang-barang, ia langsung menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka."Arthur?" Bianca terkejut saat melihat Arthur berada di kamar. "Kamu sudah pulang?" tanya Bianca yang langsung menghampiri Arthur. "Ya" "Kenapa kamu pulang
Pagi-pagi Bianca dan Arthur sudah bersiap menuju bandara. Arthur membawa beberapa pengawal dan juga pelayan. Meskipun awalnya Bianca menolak, tapi akhrinya Arthur tetap membawa pengawal dan juga pelayan."Arthur, kenapa kita harus pakai private jet sih? aku tidak suka" gerutu Bianca. "Aku lebih suka memakai private jet, kalau pesawat biasa kau tahu banyak sekali penumpangnya" balas Arthur. Bianca berdecak kesal.Keluarga Bianca memang tidak sekaya Arthur, bahkan ketika berpergian biasanya keluarga Bianca hanya memakai first class atau business class saja. Sebenarnya Bianca sudah pernah naik privat jet milik Arthur saat ia di Los Angeles, tapi memang Bianca lebih menyukai pesawat biasa. Percuma saja mengeluh, Arthur pasti tidak akan mendengarkannya."Arthur berapa lama kita di Paris?" tanya Bianca. "Sekitar satu minggu" Perjalanan menuju bandara akhirnya sampai. Arthur menggenggam tangan Bianca saat masuk ke dalam bandara. Sedangkan para pengawal dan pelayan mengikutinya dari bela
Paris, French.Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Bianca dan Arthur sudah tiba di Paris. Jujur saja, Bianca sangat merindukan kota ini, kota dimana ia harus berjuang keras untuk adik dan keponakannya. Paris adalah negara yang menjadi saksi karir Bianca. Mulai dia hanya bekerja di butik, hingga kini ia bisa menjadi seorang designer terkenal. Bianca memang sangat bekerja keras untuk meraih mimpinya. Arthur sudah memilih hotel terdekat dengan menara eiffel, kini supir Arthur sudah tiba menjemputnya di bandara. "Selamat datang Tuan Afford dan Nyonya Afford" sapa supirnya. "Ya""Terimakasih" Bianca membalas dengan senyuman ramah.Di dalam mobil, Bianca memilih diam. Entah kenapa rasanya benar-benar sangat lelah. "Kau lelah?" tanya Arthur dan Bianca hanya mengangguk. "Kemarilah" ucap Arthur seraya menarik tangan Bianca untuk bersandar di dada bidang Arthur.Saat Bianca bersandar, jantung Bianca berdegup kencang. Bianca benar-benar gugup saat di dekapan Arth
Pagi hari, Arthur sudah lebih dulu bangun dan bersiap. Hari ini rencananya Arthur akan membawa Bianca ke kantor cabang miliknya. Saat Arthur tengah berkutat dengan laptop, Bianca mulai membuka kedua matanya. Mungkin karena terlalu lelah membuat Bianca bangun lebih siang. "Arthur?" panggil Bianca dengan suara serak"Sudah bangun?" "Maaf, aku kesiangan" "Tidak apa, lebih baik kau mandi dan bersiap. Aku akan mengajak mu ke kantor ku" Bianca mengangguk dan langsung bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Saat Bianca berada di kamar mandi, terdengar dering ponsel milik Bianca. Awalnya Arthur tidak menghiraukan, namun ponselnya terus berdering. Akhirnya Arthur mengambil ponsel milik Bianca.Ketika Arthur mengangkat ponsel Bianca, ia sedikit terkejut saat mendengar suara pria."Hallo Bianca" "Hallo" "Aku suaminya, Bianca sedang mandi. Anda siapa?" tanya Arthur dengan nada dingin"Maaf Tuan Arthur, saya Brian" Arthur mengernyitkan dahinya, ia sedikit bingung karena Brian menghubun
Hari ini Steven sudah memutuskan untuk datang ke sekolah Annabeth. Ia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan putrinya. Sejak saat ia tahu jika ia sudah memiliki seorang putri kecil yang cantik. Steven terus memikirkan putrinya, ia ingin sekali bertemu dengan putrinya. Steven sudah mencari tahu dimana sekolah Annabeth, ia sudah mendapatkan informasi dari assistantnya. Kini Steven menunggu di halaman depan sekolah Annabeth, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Annabeth. Saat Steven tengah berdiri di depan, ia melihat gadis kecil yang cantik, dengan pipi tembam dan rambut pirang. Steven langsung menghampiri gadis kecil itu. "Hallo Annabeth" panggil Steven dengan lembut seraya menundukan badannya."Hallo paman, paman mengenal ku?" tanya Annabeth."Paman adalah teman dari ibu mu" jawab Steven dengan lembut. "Aku mempunyai dua ibu yaitu Mom Caroline dan Mom Bianca, paman teman dari Mom Caroline atau Mom Bianca?" tanya Annabeth dengan mata yang kini menatap Steven.Sungguh saat Anna
Bianca kini menatap cermin, ia sedang di rias oleh make up artist yang di sewa oleh Arthur. Sejak kejadian di restauran, Bianca tidak berbicara dengan Arthur. Ia merasa kesal dengan Arthur. Entah berapa ratus wanita Arthur di masa lalu, Bianca benar-benar tidak habis pikir. Ia akan menikahi pria seperti itu. Bahkan dulu ia sangat membenci pria yang sering berganti wanita."Perfect" ucap Rossa sang make up artist yang di sewa oleh Arthur. yang kini sudah selesai merias wajah Bianca."Nyonya, anda sungguh cantik" puji Rossa yang tidak henti menatap Bianca. "Terima kasih" balas Bianca seraya tersenyum ramah."Nyonya, mari saya bantu untuk memakai guannya" ucap Rossa dan Bianca langsung mengangguk. Bianca memakai gaun jenis maxi dress berwarna maroon. Gaun ini mempelihatkan bahu serta punggung mulus miliknya. Penampilan Bianca malam ini memang sungguh cantik dan menawan. Warna maroon memang sangat kontras di kulit Bianca yang putih dan halus, rambut Bianca sengaja di tata di gulung ke
Arthur dan Bianca sudah tiba di hotel, Arthur langsung menggenggam tangan Bianca untuk masuk ke kamar. Entah jantung Bianca berdegup kencang mengingat perkataan Arthur tadi. Setibanya di dalam kamar, Bianca melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk ke kamar mandi, namun tangannya sudah di tahan oleh Arthur. "Kau tidak bisa lari" bisik Arthur di telinga bianca, Arthur terus mencium tengkuk leher Bianca. "Arthur" cicit Bianca.Arthur menarik tubuh Bianca hingga menempel di dinding, lalu ia menciumi punggung mulus Bianca. Setelah puas, Arthur mencium bibir Bianca, ia melumat dan mengisap bibir Bianca. Arthur langsung menggedong Bianca tanpa melepaskan pagutan mereka. Arthur membaringkan tubuh Bianca di atas ranjang, lalu ia kembali mengecup bibir Bianca, melumat bibirnya dan menghisap bibir Bianca yang menjadi candu baginya."Arth.ur" desah Bianca."I am going to make you cry with pleasure" bisik Arthur di telinga Bianca. Bibir Bianca kembali mendesah saat tangan Arthur mulai me
Satu minggu kemudian...Bianca tengah duduk di sofa sembari menyusui Nathan. Bianca tersenyum melihat bayi mungilnya. Wajahnya sungguh mirip dengan Justin saat Justin masih bayi. Bianca mengusap pelan pipi Nathan. Kini hidupanya benar-benar sempurna. Memiliki suami yang mencintainya dan memiliki dua putra yang sangat tampan. Suara dering ponsel terdengar, Bianca mengambil ponselnya dengan tangan kanannya. Tangan Kiri Bianca tengah menopang kepala Nathan yang masih menyusu padanya. Bianca menatap ke layar ponsel, tertera nama Irina di layar ponselnya. Kening Bianca berkerut dalam ketika melihat nama Irina. Tidak biasanya Irina menghubungi dirinya. Tanpa menunggu lama, Bianca mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan. Sebelum kemudian, Bianca meletakan ponselnya di telinganya. "Irina?" sapa Bianca saat panggilan terhubung. "Bianca? Kau masih menyimpan nomorku?" tanya Irina dari seberang line. "Tentu Irina, aku masih menyimpannya. Apa kabar Irina?" "Aku baik, bagaimana denganmu
Beberapa bulan kemudian.. Di ruang operasi, Arthur terus berada di samping Bianca. Bayi dalam kandungan Bianca, tidak dalam posisi yang tepat. Hingga akhirnya dokter menyarankan untuk Bianca kembali operasi caesar. Arthur terus mengecupi kening Bianca saat dokter melakukan proses operasi. Sudut mata Bianca mengeluarkan air mata haru, dia kembali bisa melahirkan buah cintanya dengan Arthur. Oeee...Oee.... Sura tangis bayi pecah di ruang operasi. Air mata Bianca menetes ketika mendengar bayinya menangis. Arthur mengecup kening istrinya. Mata Arthur tidak mampu lagi menahan, air matanya menetes saat mendengar suara bayi. "Terima kasih sayang," bisik Arhur. "Bayi laki-laki," ucap sang dokter. Tidak perduli apa jenis kelaminya, terpenting bagi Bianca dan Arthur anaknya lahir dengan selamat. Kehamilan yang kedua ini, Bianca memang sengaja tidak memeriksa jenis kelamin bayinya. "Nyonya Bianca, silahkan lakukan proses IMD." Dokter menyerahkan bayi mungil itu dalam gendongan Bianca. Me
Viola duduk di tepi ranjang, menatap Richo yang masih terus menutup matanya. Dokter memang mengatakan peluru tidak mengenai jantung Richo, tapi hingga detik ini Richo masih juga belum sadar. Beberapa hari ini, Viola menjalani harinya begitu berat. Viola merasa kehilangan sosok Richo yang setiap hari selalu mengganggunya. Viola menyentuh tangan Richo, mengelus pelan."Richo, kapan kau bangun? Aku merindukan mu Richo..." air mata Viola tidak mampu lagi tertahan. Dia sungguh merindukan kekasihnya itu. Rasanya beberapa hari tanpa Richo dia benar-benar merasakan tidak lagi bernyawa. "Selama ini aku selalu menutupi perasaan ku. Aku menyukai cara mu yang tidak pernah menyerah mendapatkan ku. Aku sungguh menyukai setiap cara mu Richo. Kau tidak pernah lelah mengejar ku. Bahkan berkali-kali aku mengusir mu dari kehidupan ku, kau tetap meminta ku menjadi wanita mu. Andai waktu bisa di putar, sudah sejak awal aku menerima mu." "Masa lalu mu memang membuat ku ragu menerima mu. Tapi percayalah,
Beberapa hari kemudian... Altov turun dari mobil, dia melangkah masuk ke dalam rumah tempat dimana dia menyembunyikan Clarissa. Altov masih mengurung Clarissa sebelum menjebloskannya ke dalam penjara. Sebenarnya Arthur tidak setuju dengan apa yang di rencanakan Altov, tapi Altov memiliki alasan tersendiri mengurung Clarissa. Tidak hanya Clarissa, tapi Jesslyn yang turut membantu Clarissa juga di kurung oleh Altov. Alasannya karena permintaan dari Viola. Saat itu ketika Viola mendengar Jesslyn sudah berhasil di tangkap oleh Altov, Viola meminta waktu sebentar sebelum menjebloskan Jesslyn ke penjara. "Tuan," sapa Christian saat Altov melangkah masuk ke dalam. "Dimana Clarissa?" tanya Altov dingin. "Masih berada di kamarnya tuan," jawab Christin. Altov mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Tempat dimana Clarissa di kurung. Setiap kali Altov bertemu dengan Clarissa, dia merasa dirinya tidak berguna. Harusnya sejak awal Altov menyeret paksa Clarissa meningg
Arthur dan Drake kini pergi ke tempat persembunyian Clarissa. Alvin sudah memberikan informasi saat ini Clarissa dan Jessly dalam perlindungan Jasson Steele. Itu artinya Arthur sendiri yang harus turun tangan. Tidak hanya Arthur, tapi Drake juga turun tangan. Drake ingin langsung berhadapan dengan Jasson. Jika sampai Jasson mempersulit, maka tidak ada pilihan lain bagi Drake untuk melakukan tindakan kekerasan. Mobil Arthur telah tiba di sebuah rumah yang jauh dari Manhattan. Arthur tahu, Jasson memang sengaja menyembunyikan Clarissa di tempat ini. Arthur dan Drake turun dari mobil. Beberapa pengawal Arthur dan Drake berada di belakang. Arthur tersenyum melihat penjagaan ketat demi menyelamatkan Clarissa. Tapi Arthur tidak perduli sedikit pun. Arthur dan Drake tetap melangkah masuk ke dalam. Langkah Arthu terhenti ketika pengawal Jasson menghadang dirnya. Alrthur tersenyum sinis menatap para pengawal Jasson yang menghalanginya. Rupanya Jasson memang berniat untuk melawan dirinya. Sun
Perlahan Bianca mulai membuka matanya, dia menatap ruangan putih. Bianca menoleh dan melihat ada Arthur dan Paula yang berjaga di sisinya. Mereka sama-sama tersenyum saat Bianca sudah membuka matanya. "Bianca? Kau mendengar ku?" Arthur mengelus dengan lembut pipi Bianca. "Arthur kenapa aku di sini?" Bianca mengerutkan keningnya. Dia berusaha mengingat kenapa dirinya berada di rumah sakit. Namun, ketika Bianca mengingat sesuatu. Ingatan di kepalanya begitu jelas tentang Tasya, Richo dan Ella yang tergeletak dengan berlumuran darah. Wajah Bianca langsung memucat, saat dia mengingat semuanya. "Arthur? Bagaimana keadaan Tasya? Richo dan Ella bagaimana?" Bianca semakin panik, kepalanya semakin sakit dan memberat."Ssst, jangan pikirkan itu Bianca. Aku yakin mereka akan selamat," Arthur membawa tangannya mengusap lembut perut istrinya. "Aku minta pada mu, jangan memikirkan hal berat, Dokter mengatakan kandungan mu lemah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita." Sebelumnya dokter
Bianca menatap cermin, kini tubuhnya sudah terbalut dengan gaun berwarna gold dengan model atas kemben. Hari ini adalah ulang tahun putranya, Justin. Bianca masih tidak menyangka usia Justin sudah satu tahun. Perjuangan yang Bianca hadapi dulu saat melahirkan putranya itu, tidak pernah bisa terlupakan. Beruntung Tuhan masih melindungi dirinya dan putra kesayangannya. Arthur yang melangkah masuk ke dalam kamar, dia menatap istrinya sudah terbalut dengan gaun yang membuat istrinya terlihat sangat cantik dan seksi. Arthur mendekat, dia langsung memeluk Bianca dari belakang. Memberikan kecupan di tenguk leher. hingga ke pundak mulus milik istrinya itu. "Kenapa kau selalu cantik hem?" bisik Arthur di sela-sela kecupannya. Bianca tersenyum, lalu membalikan tubuhnya menatap lekat wajah suaminya. Bianca mengelus lembut rahang Arthur. "Dan kau selalu tampan."Arthur mengeratkan pelukannya. "Aku rasanya tidak ingin keluar kamar. Aku ingin terus di sini bersama mu." "Kau ini bagaimana! Putra
Viola menyandarkan punggungnya di sofa. Sejak kejadian dirinya bertengkar dengan ayahnya, Viola lebih menyendiri. Daisy ibunya kini sudah mengetahui semuanya. Viola sengaja mengatakan langsung pada Daisy. Viola tidak ingin Daisy terus tertipu pada Carlos yang memberikan sebuah cinta palsu. Selama ini Carlos selalu menunjukan peran ayah yang terlihat begitu sempurna. Tapi kenyataan yang Viola dapatkan ayahnya sendiri berusaha mengahancurkan kehidupannya. Richo melangkah masuk ke dalam rumah, dia menatap Viola tengah melamun. Richo langsung berjalan mendekat ke arah Viola, dan langsung duduk di samping kekasihnya itu. "Kau sedang memikirkan apa?" tegur Richo yang membuat Viola menghentikan lamunannya. Viola mengalihkan pandangannya dan menatap Richo yang duduk di sampingnya. "Kau sudah pulang? Maaf aku tidak menyadari kau datang." "Ada yang kau pikirkan?" Richo kembali bertanya, dia menatap wajah kekasihnya terlihat begitu muram. "Tidak ada," jawab Viola yang berbohong. Dia tidak i
Hari ini hari dimana Viola meminta Richo menemani dirinya untuk bertemu dengan ayahnya. Viola sengaja meminta Richo untuk menemani dirinya. Viola ingin tahu apa reaksi dari ayahnya setelah dia mengetahui semuanya. "Apa kau yakin ingin bertemu dengan ayah mu?" tanya Richo yang kini berada di depan mobil. Sebelum masuk, dia kembali memastikan pada Viola. Viola mengangguk. "Kita harus menemuinya. Aku ingin langsung melihat tindakan apa yang dia ambil setelah melihat kita berdua." "Allright, dengan senang hari aku bertemu dengan calon mertua ku." Richo masuk ke dalam mobil. Begitu pun dengan Viola. Kemudian Richo mulai melanjukan mobilnya meninggalkan halaman parkir mansionnya. "Apa kau sudah tahu dimana rumah ayah ku yang baru?" Viola membuka suara ketika Richo tengah fokus melajukan mobil. "Lebih tepatnya itu adalah rumah lama ayah mu. Rumah itu tempat tinggal ayah mu dan Aria. Aku rasa Jesslyn juga berada di sana. Karena tadi aku meminta assistant ku dan melihat apartemen Jesslyn