"Maaf ya gue gak bisa nemenin lo. Yah, doain aja lancar semuanya." Setelahnya Angkasa memakirkan motornya, berjalan berbeda arah, Bintang ke kelas, dirinya harus ke kantor dan menunggu lainnya yang belum datang.
🌸🌸🌸
Farhan tersenyum senang ketika dikelas Bintang hanya cewek itu saja yang ada dikelas."Sendirian aja." Farhan duduk disamping Bintang yang kini tengah memakan sandwichnya.
Bintang sewot, suara itu! Ia harus tetap berani walaupun berkebalikan dengan hatinya. "Mau apa sih lo! Pergi sana!" usir Bintang mendorong bahu Farhan hingga cowok itu terjatuh dari kursinya. Farhan kesal sudah cukup ia dipermainkan oleh Bintang, diberi kelakuan manis malah minta perlakuan sadis!
"Lo ngusir gue sama aja pingin Angkasa celaka dan...batal mengikuti olimpiadenya." ancam Farhan lalu pergi dengan menutup pintu kelas hingga menimbulkan suara beedebum.
'Angkasa, lo harus hati-hati dan jaga diri baik-baik. Gue takut kalau Farhan itu bakalan habcurin se
"Angkasa... Bangun, jangan tinggalin gue secepat ini." Bintang menangis tiada henti, ia menggenggam tangan Angkasa yang dingin. Beberapa selang dan alat lain menyatu di cowok itu, wajah Angkasa pucat. Kalau saja sekarag Angkasa sudah selesai dengan olimpiadenya dan membawa pulang prestasinya.Rangga yang tak jauh dari Bintang pun menatapnya sendu, kata-kata dokter tadi pun masih teringat jelas, Bintang sudah tau. Tapi cewek itu tak henti-hentinya menangis. Virgo dan Pandu sudah lelah menenangkan Bintang mulai dari tingakh konyolnya, gurauan recehnya dan berbagai pose lucu."Dokter, bagaimana keadaan Angkasa? Dia akan selamat kan? Selamat kan dok?" tanya Bintang khawatir, dokter bernama Prabudi pun menggeleng."Maaf, kepalanya mengalami benturan keras. Dia juga mengalami pendarahan di otaknya, doakan saja yang terbaik. Karena kemungkinan pasien selamat itu sangat kecil." jelasnya, Bintang langsung menerobos pintu masuk UGD tak peduli dengan dua suster yang masih
Bau rokok, lampu temaram dan udara yang pemgap membuat Farhan masih betah sambil memakan satu loyang pizza yang ia beli. "Gue pingin tau nasib Angkasa gimana? Dan masalah lombanya sih batal, sekolah kita berusaha menutupi nama baiknya dengan menggantikan selain Angkasa, walaupun kalah yang terpenting sudah ikut serta."Igo mengangguk. "Iya, menurut infotmasi sih, Angkasa masih belum sadar. Dan lo tau kan reaksinya Bintang gimana?"Farhan tertarik, ah Bintang pasti kondisi cewek itu sedang tertekan."Gimana?""Bintang sering ngelamun, jalannya itu kayak orang linglung, tapi dia dikelilingi oleh geng Elang. Kemanapun dia pergi, pasti ada yang menjaganya." jawab Igo.'Semoga raga lo balik lagi ya Bintang sayang.'🌸🌸🌸Angkasa membuka matanya perlahan, pusing dan rasa sakit dikepalanya menerjangnya. Pandangan samar, nuansa putih, bau obat, dan seorang cewek yang memegang tangannya, nafasnya teratur, Angkasa tak tau siapa.Rangga masuk da
Hanya keheningan yang menyelimuti keduanya, Bela berusaha mencari perhatian Angkasa lagi. "Sayang, kamu masih inget aku kan?" tanya Bela dengan nada manja, dirinya ingin memeluk Angkasa. Tapi cowok itu membatasi dengan tas."Gak." jawab Angkasa terkesan angkuh.'Sabar bela, mungkin butuh waktu.'🌸🌸🌸"Kak, dongengin aku dong, biar bisa tidur." rajuk Lala.Bintang menangguk, ia akan mendongeng tentang Cinderella.Angkasa belum pulang, entah apa yang dilakukan cowok itu sampai jam 9 malam. Bintang khawatir, bisa saja kan Angkasa lupa jalan pulang? Atau alamatnya tak ingat?Sedangkan ditempat sebuah kafe yang masih buka, Angkasa mencoba mengerjakan sebagai writers ia ingin mengidupi dirinya dan sekolah dengan kecukupan, terutama pada anak kecil dirumahnya yang mengaku sebagai adiknya. Dia lucu, suka dongeng, dan menangis jika ia tak berada dirumahnya.Angkasa menghampiri meja nomor 18 yang ingin memesan makanan. "Mas ganteng
Setelah Virgo menjelaskan semuanya, Rangga dan Pandu langsung emosi. "Beraninya main dibelakang, pengecut lo Farhan!" gertak Rangga emosi, suaranya terdengar oleh seisi kantin bahkan Farhan dan gengnya sekalipun yang kini duduk di pojok kanan.'Oh, macannya sudah bangun. Baiklah, sebelum lo menghalangi ini gue akan singikirin lo terlebih dahulu.'batin Farhan menyeringai.🌸🌸🌸Tanpa sadar Virgo lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Rangga, sebelum dini hari. Ia mengirimkan spam chat ke Rangganteng, biarlah tidurnya tergaganggu asalkan Virgo bisa mengucapkannya walaupun tak langsung.Sedangkan Rangga yang memimpikan dirinya kini menjadi artis dan banyak yang memotretnya langsung buyar mendengar suara ponselnya berdering, nada CuteNaughty mengusiknya."Hah, siapa sih yang ganggu boboknya Rangganteng ini?!" kesal Rangga, pop-up dari Virgo yang mengirkmkan spam chat. Selamat ulang tahun Rangga yang ke-17 cuwitcepentin katanya.Rangga bersorak
Angkasa merasa familiar dengan gelang yang dipakai Bintang. Cewek periang ini tengah membantunya menyelesaikan PR yang tak sempat ia kerjakan karena kerja sampingannya. Bintang menjelaskan layaknya guru Biologi dengan lancar. Angkasa tersenyum tipis, pintar sekali kau Bintang. Kepala Angkasa berdenyut nyeri, sekelebat bayangan melintas. Dirinya tengah memakaikan gelang berbandul kerang yang ia ambil dari pantai dan memakaikannya dengan anak perempuan yang wajahnya masih belum jelas.Seorang cewek lugu tersenyum senang melihat gelang berbandul kerang tersebut telah dipasangkan oleh Angkasa."Makasih yah Angkasa, gue janji bakalan jagain gelang ini."Angkasa kembali menatap Bintang, apakah dia? Ah, semuanya yang jelas belum tentu pasti."Selesai, kalau yang gue kerjain ini ada yang salah, lo tinggal benerin aja yah. Gue ngantuk, bay Angkasa." Bintang beranjak dari meja belajar Angkasa, cowok itu tak membalasnya.DrrttAngkasa meraih ponselnya
Setelah jam olahraga selesai, Virgo sudah mengganti kaos olahraganya dengan seragam putih abu-abunya kembali. Virgo heran mengingat posisi ponselnya yang semula menghadap utara berubah ke timur. 'Masa iya bisa pindah sendiri? Apa ada yang otak-atik?' Virgo mengecek ponselnya, tidak ada yang mencurigakan. 'Mungkin perasaan gue aja.'batin Virgo mencopa berpikir positif.🌸🌸🌸Rangga yang tadinya ingin membalas para cewek-cewek yang suka padanya di chat, langsung kesal mengenai ia lupa mengisi daya. 'Haduh mana bisa gue kasih kepastian sama mereka.'Setelah ponselnya terisi beberapa persen Rangga mengerutkan dahi heran. 'Virgo mau bikin kejutan? Tapi kan dia gak mungkin ngerayain yang mewah.'batin Rangga dan membaca pesan tersebut. Datanglah ke kafe dekat SMA PERMATA, gue pingin ngerayain ulang tahun lo. Kapan lagi kan seneng-seneng? Bentar lagi kelas 12, pastinya ujian teruslah. Datang yah, jam 8.30 am."Pasti go, makasih udah mau bikin gue bahagia, gue ta
Virgo yang melihat Farhan terlalu kelewatan pun menghampiri Igo dan membantunya berdiri. "Ayo go, lo masih punya gue. Jangan dengerin dia." Virgo menggenggam erat tangan Igo yang gemetar, jujur cowok ini sudah takut akan Farhan. Entah secepat apa tentang dirinya yang ketahuan membocorkan lokasinya."Iya, makasih."'Liat aja go, gue akan menghancurkan hidup lo pelan. Secara perusahaan lo kan lagi tentram, bisa saja bikin gue bangkrut.' Farhan menatap remeh punggung Igo yang kini menjauh, cowok yang pernah menjadi korban bullying dan dirinyalah yang melindunginya. Bahkan Farhan yang awalnya berteman baik dengan Ryan pun sekarang berbeda hanya karena membela Igo pada waktu itu uang SPP-nya dirampas. Marah, Farhan pun menghajar Ryan. Memperingatkannya bahwa memalak uang adik kelas ataupun yang setara sudah kelewatan. Mencuri bukanlah hal baik, tapi Igo tak bisa melawannya, cowok itu hanya diam dan pasrah jika miliknya beralih ke orang lain. Ialah tamengnya, tapi sekarang a
Pandu mencoba memalingkan wajahnya. Virgo kini berusaha menyuapkan roti isi stroberi kesukaannya, tapi mengenai hal kemarin Pandu tak akan melupakannya. "Gak mau go, emang gue balita?"Seisi kelas yang menatap mereka pun tertawa."Kalau Pandu ngambek gue bisa kok beliin roti stroberi sama pabriknya sekalian. Kalau cemberut gitu kan gantengnya luntur.""Untung masih jomblo, kapan sih Pandu itu bisa peka sama perhatian gue?""Halah, lo modus! Ngapel Pandu di perpustakaan, tapi aslinya lo anti kan sama buku-buku bacaan yang bikin kepala pusing keliling tujuh?"Angkasa yang bagian mengawasi didepan pintu pun langsung kembali ke tempat duduknya. Galang sang ketua kelas hari ini izin karena ada acara keluarga. "Bu Risti datang tak pulang." Angkasa heboh sendiri, keadaan langsung sunyi. Kemudian disusul langkah sepatu high heels bu Risti yang memasuki kelas. Virgo langsung menyumpalkan seluruh roti ke dalam mulut Pandu secara paksa. Ketahuan makan siap-si