Share

Bab 2

Author: Chintya Putri
Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.

Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.

Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.

Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.

Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.

Dua tiket.

[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]

Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.

Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.

Seketika aku merasa diriku seperti badut.

Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekretarisnya melihat konser.

Air hujan yang dingin jatuh ke wajah, hatiku dan tubuh perlahan-lahan menjadi dingin.

Saat ini, mama mengirimkan pesan bilang pernikahan dijadwalkan 2 minggu lagi, kalau aku merasa terlalu mepet, bisa diundurin lagi.

Aku menggelengkan kepala: “Nggak perlu ma, ikuti yang sekarang saja.”

Hujan deras membuat lalu lintas macet total, aku sudah menunggu lama pun tidak kedapatan mobil.

Telepon Willy saat ini baru datang: “Kamu kenapa nggak di rumah?”

Aku dengan suara yang sangat datar menjawabnya, “Aku sekarang di tempat pertunjukan musikal.”

Dia sepertinya sudah teringat, lalu diam sebentar, “Maaf, tadi sore ada urusan, kamu tunggu di sana, aku pergi jemput kamu.”

Aku tidak menolaknya, karena aku tahu dia tidak akan datang.

Detik selanjutnya, Gina memposting lagi:

[Takut aku demam karena kehujanan, suami CEO membuatkan aku teh kunyit, pria yang lagi masak paling ganteng, mau langsung menikahinya!]

Fotonya adalah punggung Willy yang sedang sibuk di depan kompor.

Aku hanya sekilas melihatnya, lalu dengan tenang keluar dari halaman tersebut.

Hujan deras ini membuat aku demam.

Aku dengan alasan tidak mau nularin ke Willy, pindah ke kamar tamu.

Bisa-bisanya Willy meninggalkan kerja, hanya di rumah untuk merawatku.

Aku jadi tidak terbiasa, “Hanya flu ringan saja, lagi pula aku sudah dewasa bisa menjaga diriku sendiri, kamu pergi kerja saja.”

Dia dengan tatapan aneh melihatku sebentar.

“Bukannya dulu kamu paling berharap aku bisa nemanin kamu saat sakit? Hari ini kenapa aneh kali?

Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosiku, lalu dengan senyum paksa: “Dulu aku terlalu kekanak-kanakan, sekarang sudah enggak lagi.”

Willy dengan mata penuh kekhawatiran melihatku: “Sarah, kamu baik-baik saja kan?”

“Iya, pergilah.”

Dia masih merasa aku aneh, tapi nggak tahu mana yang aneh, lalu hanya bisa menatapku dengan penuh perhatian dan menghela nafas:

“Kalau gitu kamu istirahat dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku.”

Sesudah dia pergi, aku menghela nafas lega, lalu berbaring dan tidur lagi.

Setelah bangun, aku melihat mama mengirimkan rencana pernikahan yang sangat rinci.

Selain itu, mengirimkan 10an jenis gaun pernikahan untuk aku pilih.

Aku menggeser fotonya, lalu perbesar dan fokus memilih, sampai Willy muncul pun nggak sadar.

Dia menarik handphoneku dan melemparnya ke samping, dengan tidak senang mengerutkan dahinya:

“Ngapain kamu lihat gaun pernikahan?”

Aku kira dia sudah tahu aku mau menikah, jadi mau sekalian jelasin semuanya saja.

Tapi kata-kata selanjutnya, membuat aku merasa betapa konyolnya pemikiranku.

“Sarah, kamu ini lagi paksa nikah kah? Aku sudah bilang aku akan menikah denganmu, jadi jangan gunakan cara-cara ini untuk kodein aku, terlihat sangat tidak pantas.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 3

    “Kamu salah paham, aku bukan......”Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri. Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:[Bang, pengantinnya ganti orang?]J

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 4

    Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”Mendengarnya, Wil

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 5

    Willy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, detak jantungnya tiba-tiba jadi cepat dan bicara sendiri: “Pasti aku salah orang.”“Sarahku masih lagi liburan, mana mungkin bisa di sini?”“Pasti karena aku terlalu merindukannya jadi halusinasi.”Gina juga kaget, dengan ekspresi yang terkejut melihatku, nggak bisa berkata apapun.Dibandingin sama kekagetan mereka, aku terlihat sangat tenang, tidak ada ekspresi apapun di mukaku, lalu aku mengasih bunga pernikahanku.Gina baru sadar, dengan bengong menerimanya lalu memberikan punyanya ke aku.Aku dengan senyum berkata: “Semoga kalian bahagia.”Jendela mobil tertutup kembali, mobil dinyalakan kembali dan kedua mobil melanjutkan jalan masing-masing yang saling berlawanan.Sama seperti hubungan aku dan Willy, sudah ditakdirkan untuk berpisah dan mengambil jalan yang berbeda.Hanya saja, di saat mobil pergi, aku sepertinya mendengar suara teriakan yang memedihkan hati.Aku refleks melihat ke arah suara tersebut.Adam yang duduk di

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 6

    Rombongan penjemputan sangat cepat sudah sampai di hotel.Di saat lagi retouch makeup, aku mengambil handphone, baru saja diaktifkan, banyak pesan yang masuk terus.Semuanya harusnya dikirim oleh Willy:[Sarah, kamu angkat telepon dulu][Sarah, aku bersalah, kamu kembali ya? Kamu jangan nikah sama orang lain!][Kumohon, kembalilah! Aku tidak bisa kehilangan kamu......]Banyak panggilan yang tidak terjawab, banyak pesan masuk, selain Willy, Gina juga mengirimku pesan.Namun semuanya lagi pamer:[Sarah, hari ini adalah pernikahanku sama Willy, dia takut kamu datang ribut, jadi sengaja menyuruhmu pergi liburan][Kalau kamu masih ada harga diri, mintalah putus, jangan gangguin dia lagi][Orang yang tidak disukai adalah orang ketiga, kamu kira Willy tidak putus samamu karena cinta? Enggak, dia itu hanya kasihan samamu][Dia sudah tidak ada perasaan samamu, kamu sudah berusia, tidak seperti aku yang masih muda, cantik dan aktif. Bersamaku, dia baru bisa merasakan keindahan hidup dan semangat

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 7

    Pergi antar makan lagi, Gina tetap dengan penuh semangat menyambutku.Tetapi hanya sekali melihatnya, aku melihat kalung yang di lehernya, rumahku, juga ada satu yang sama persis.Itu adalah hadiah yang diberikan Willy saat anniversary, aku ingat saat itu Gina pernah memberi pujian, “Kalung ini cantik sekali, selera bang Willy bagus kali, kakak sangat beruntung, nggak kayak aku, kurasa seumur hidup ini juga nggak ada kesempatan untuk pakai kalung yang secantik ini.”Saat itu, aku merasa jijik kali.Melihat aku sedang melihat lehernya, Gina juga dengan senyum melihatku, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.“Kalungmu ini......”Dia dengan terus terang mengakuinya, “Ini Pak Willy yang kasih.”Saat itu, aku berantam dengan Willy, tapi dia bilang itu hanya hadiah kerja untuk Gina, aku yang berpikir terlalu banyak.Kali itu juga, di saat aku balik ke kantor Willy ambil tasku yang ketinggalan, aku melihat nasi yang kubawa dibuang di tong sampah.Dan Gina juga pertama kali tidak berpura-pura l

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 8

    Saat itu, aku menangis terus karena merasa bersalah dan menyesal.Tetapi dia dengan lembut mengusap air mataku dan dengan senyum acuh tak acuh:“Nggak papa, bekas saja, tidak akan mempengaruhi kegantenganku.”Air mataku turun makin deras, “Kamu sakit nggak?”Dia melihat aku menangis, panik sampai nggak tahu apa yang harus dilakukannya, “Nggak sakit, sama sekali nggak sakit, kamu jangan nangis lagi oke? Tolong, anggap saja aku mohon samamu, kamu nangis aku merasa manapun jadi sakit......”Saat itu, dia bisa dengan tanpa keraguan masuk ke dalam menolongku.Tetapi sekarang, orang yang dia tolong tanpa keraguan sudah bukan aku lagi.Lalu, Willy yang terlahir dari keluarga terhormat, keluarganya mengalami bencana. Hanya satu malam, keluarganya jadi hancur kacau balau dan punya banyak utang. Seketika dia jatuh dari langit ke lumpur.Aku menjinjitkan kaki mencium air matanya, “Kamu masih ada aku, aku akan terus menemanimu.”Aku dengan tanpa keraguan memilih universitas yang sama dengannya, te

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 9

    Ini acara pernikahan aku sama Adam, orang yang datang rata-rata adalah orang yang terkenal, aku nggak mau terkenal karena ini, juga nggak mau merusak acara yang sudah di tunggu lama papa mama.Aku minta Adam pergi cari satpam langsung tarik Willy keluar.Masalah kecil ini tidak mempengaruhi pernikahanku.Selanjutnya, semuanya sangat lancar, sampai acara terakhir selesai dan sudah mengantar tamu pulang, aku melihat ke Adam:“Bisa kasih aku waktu untuk mengurusi masalah tadi? Aku mau selesaikan semuanya.”Adam percaya samaku, dengan tanpa ragu mengangguk kepalanya:“Pergilah, tapi harus jaga dirimu, kalau perlu bantuan bisa panggil aku, aku tetap di sini.”Nggak tahu kenapa, raut wajahnya membuatku terasa sangat aman.Willy ditempatkan di sebuah ruangan, ada satpam yang menjaganya, melihat aku datang, satpam dengan cemas bilang:“Kamu cepat nasehatin dia, dia kecelakaan mengeluarkan banyak darah, kami saranin dia untuk ke rumah sakit, tapi dia sama sekali tidak mau pergi.”“Kalau begini

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 10

    Di dalam ingatanku, Willy sepertinya tidak pernah merendahkan diri seperti sekarang di depanku.Aku sangat tenang: “Willy, jangan keras kepala lagi, mengakui kalau berubah hati bukanlah hal yang memalukan.”“Aku percaya dulunya kamu benaran cinta aku, tapi kamu berubah hati itu juga adalah kenyataan.”Dia dengan panik memotongku: “Bukan, aku sekarang masih cinta kamu, kamu harus percaya aku Sarah.”Aku tertawa: “Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi kamu tidak ingat sama kesukaanku, makanan yang kamu beli itu semua kesukaan Gina. Kamu bilang kamu cinta aku, kado yang kamu berikan ke aku, Gina juga ada yang sama persis. Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi ulang tahunku, bahkan hari anniversary kita, kamu bisa aja lupa. Kamu bilang kamu suka aku, tetapi di saat yang paling bahaya, kamu melupakan aku, tanpa ragu menolong orang lain.”“Willy, apakah ini cinta yang kamu maksud? Kalau begitu, cintamu terlalu murahan.”Dia melihat aku sama sekali acuh nggak acuh, langsung cemas dan panik.“Sarah,

Latest chapter

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 10

    Di dalam ingatanku, Willy sepertinya tidak pernah merendahkan diri seperti sekarang di depanku.Aku sangat tenang: “Willy, jangan keras kepala lagi, mengakui kalau berubah hati bukanlah hal yang memalukan.”“Aku percaya dulunya kamu benaran cinta aku, tapi kamu berubah hati itu juga adalah kenyataan.”Dia dengan panik memotongku: “Bukan, aku sekarang masih cinta kamu, kamu harus percaya aku Sarah.”Aku tertawa: “Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi kamu tidak ingat sama kesukaanku, makanan yang kamu beli itu semua kesukaan Gina. Kamu bilang kamu cinta aku, kado yang kamu berikan ke aku, Gina juga ada yang sama persis. Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi ulang tahunku, bahkan hari anniversary kita, kamu bisa aja lupa. Kamu bilang kamu suka aku, tetapi di saat yang paling bahaya, kamu melupakan aku, tanpa ragu menolong orang lain.”“Willy, apakah ini cinta yang kamu maksud? Kalau begitu, cintamu terlalu murahan.”Dia melihat aku sama sekali acuh nggak acuh, langsung cemas dan panik.“Sarah,

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 9

    Ini acara pernikahan aku sama Adam, orang yang datang rata-rata adalah orang yang terkenal, aku nggak mau terkenal karena ini, juga nggak mau merusak acara yang sudah di tunggu lama papa mama.Aku minta Adam pergi cari satpam langsung tarik Willy keluar.Masalah kecil ini tidak mempengaruhi pernikahanku.Selanjutnya, semuanya sangat lancar, sampai acara terakhir selesai dan sudah mengantar tamu pulang, aku melihat ke Adam:“Bisa kasih aku waktu untuk mengurusi masalah tadi? Aku mau selesaikan semuanya.”Adam percaya samaku, dengan tanpa ragu mengangguk kepalanya:“Pergilah, tapi harus jaga dirimu, kalau perlu bantuan bisa panggil aku, aku tetap di sini.”Nggak tahu kenapa, raut wajahnya membuatku terasa sangat aman.Willy ditempatkan di sebuah ruangan, ada satpam yang menjaganya, melihat aku datang, satpam dengan cemas bilang:“Kamu cepat nasehatin dia, dia kecelakaan mengeluarkan banyak darah, kami saranin dia untuk ke rumah sakit, tapi dia sama sekali tidak mau pergi.”“Kalau begini

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 8

    Saat itu, aku menangis terus karena merasa bersalah dan menyesal.Tetapi dia dengan lembut mengusap air mataku dan dengan senyum acuh tak acuh:“Nggak papa, bekas saja, tidak akan mempengaruhi kegantenganku.”Air mataku turun makin deras, “Kamu sakit nggak?”Dia melihat aku menangis, panik sampai nggak tahu apa yang harus dilakukannya, “Nggak sakit, sama sekali nggak sakit, kamu jangan nangis lagi oke? Tolong, anggap saja aku mohon samamu, kamu nangis aku merasa manapun jadi sakit......”Saat itu, dia bisa dengan tanpa keraguan masuk ke dalam menolongku.Tetapi sekarang, orang yang dia tolong tanpa keraguan sudah bukan aku lagi.Lalu, Willy yang terlahir dari keluarga terhormat, keluarganya mengalami bencana. Hanya satu malam, keluarganya jadi hancur kacau balau dan punya banyak utang. Seketika dia jatuh dari langit ke lumpur.Aku menjinjitkan kaki mencium air matanya, “Kamu masih ada aku, aku akan terus menemanimu.”Aku dengan tanpa keraguan memilih universitas yang sama dengannya, te

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 7

    Pergi antar makan lagi, Gina tetap dengan penuh semangat menyambutku.Tetapi hanya sekali melihatnya, aku melihat kalung yang di lehernya, rumahku, juga ada satu yang sama persis.Itu adalah hadiah yang diberikan Willy saat anniversary, aku ingat saat itu Gina pernah memberi pujian, “Kalung ini cantik sekali, selera bang Willy bagus kali, kakak sangat beruntung, nggak kayak aku, kurasa seumur hidup ini juga nggak ada kesempatan untuk pakai kalung yang secantik ini.”Saat itu, aku merasa jijik kali.Melihat aku sedang melihat lehernya, Gina juga dengan senyum melihatku, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.“Kalungmu ini......”Dia dengan terus terang mengakuinya, “Ini Pak Willy yang kasih.”Saat itu, aku berantam dengan Willy, tapi dia bilang itu hanya hadiah kerja untuk Gina, aku yang berpikir terlalu banyak.Kali itu juga, di saat aku balik ke kantor Willy ambil tasku yang ketinggalan, aku melihat nasi yang kubawa dibuang di tong sampah.Dan Gina juga pertama kali tidak berpura-pura l

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 6

    Rombongan penjemputan sangat cepat sudah sampai di hotel.Di saat lagi retouch makeup, aku mengambil handphone, baru saja diaktifkan, banyak pesan yang masuk terus.Semuanya harusnya dikirim oleh Willy:[Sarah, kamu angkat telepon dulu][Sarah, aku bersalah, kamu kembali ya? Kamu jangan nikah sama orang lain!][Kumohon, kembalilah! Aku tidak bisa kehilangan kamu......]Banyak panggilan yang tidak terjawab, banyak pesan masuk, selain Willy, Gina juga mengirimku pesan.Namun semuanya lagi pamer:[Sarah, hari ini adalah pernikahanku sama Willy, dia takut kamu datang ribut, jadi sengaja menyuruhmu pergi liburan][Kalau kamu masih ada harga diri, mintalah putus, jangan gangguin dia lagi][Orang yang tidak disukai adalah orang ketiga, kamu kira Willy tidak putus samamu karena cinta? Enggak, dia itu hanya kasihan samamu][Dia sudah tidak ada perasaan samamu, kamu sudah berusia, tidak seperti aku yang masih muda, cantik dan aktif. Bersamaku, dia baru bisa merasakan keindahan hidup dan semangat

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 5

    Willy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, detak jantungnya tiba-tiba jadi cepat dan bicara sendiri: “Pasti aku salah orang.”“Sarahku masih lagi liburan, mana mungkin bisa di sini?”“Pasti karena aku terlalu merindukannya jadi halusinasi.”Gina juga kaget, dengan ekspresi yang terkejut melihatku, nggak bisa berkata apapun.Dibandingin sama kekagetan mereka, aku terlihat sangat tenang, tidak ada ekspresi apapun di mukaku, lalu aku mengasih bunga pernikahanku.Gina baru sadar, dengan bengong menerimanya lalu memberikan punyanya ke aku.Aku dengan senyum berkata: “Semoga kalian bahagia.”Jendela mobil tertutup kembali, mobil dinyalakan kembali dan kedua mobil melanjutkan jalan masing-masing yang saling berlawanan.Sama seperti hubungan aku dan Willy, sudah ditakdirkan untuk berpisah dan mengambil jalan yang berbeda.Hanya saja, di saat mobil pergi, aku sepertinya mendengar suara teriakan yang memedihkan hati.Aku refleks melihat ke arah suara tersebut.Adam yang duduk di

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 4

    Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”Mendengarnya, Wil

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 3

    “Kamu salah paham, aku bukan......”Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri. Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:[Bang, pengantinnya ganti orang?]J

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 2

    Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.Dua tiket.[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.Seketika aku merasa diriku seperti badut.Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekreta

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status