Share

Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
Author: Chintya Putri

Bab 1

Author: Chintya Putri
“Ma, aku menerima pernikahan yang diatur keluarga.”

Ruang tamu yang gelap, suaraku yang lembut terdengar kosong dan mati rasa.

Mama kaget saat mendengar aku menerima pernikahan: “Bukannya kamu kemarin masih nggak mau? Kenapa ini tiba-tiba setuju? Sarah, pernikahan ini bukanlah main-main, pernikahan keluarga ini tidak penting, mama hanya mau kamu bahagia, kamu harus pikirkan baik-baik, jangan impulsif.”

Mendengar perkataan mama, aku merasa mataku berkaca-kaca.

“Ma, sudah aku pikirkan dengan baik, kalian sudah bisa siapkan acara pernikahan.”

Mama tahu aku lagi sedih, diam sebentar lalu menghiburku.

“Kamu sudah pacaran begitu lama dengan Willy, tapi dia tidak mau secara resmi mengumumkan hubungannya denganmu, tidak mau bertemu orang tua, aku dan papamu tahu kalau kalian nggak bakal lama.”

Perkataan mama seperti jarum menusuk ke hatiku.

Ternyata, orang samping begitu jelas, yang bodoh hanyalah aku.

“Adam ini calon yang aku sama papamu sudah bantu nilaiin, pasangan yang papa mama bantu cariin, kepribadian dan latar belakang keluarga pasti sangat bagus, Sarahku pantas mendapatkan yang terbaik.”

Aku menarik nafas dalam-dalam: “Terima kasih ma, aku percaya pandangan mama sama papa.”

Mama melanjut lagi: “Dua hari ini, mau aku aturin untuk kalian bertemu dulu?”

“Nggak perlu ma, kalian langsung siapin acara saja.”

Menutup telepon, Willy tidak tahu sejak kapan sudah muncul di belakangku, tangannya membawa kue dan dengan bingung menanyaku:

“Acara pernikahan apa? Siapa yang mau menikah?”

Aku, aku yang sudah mau menikah.

Aku menjawabnya di dalam hati, perkataan sudah sampai di tepi mulut, tapi tidak kuucapkan.

Aku dengan tenang menggelengkan kepala, “Nggak, teman saja.”

Setelah ku jawab, aku menyadari ekspresinya jadi lebih santai.

Tiba-tiba hatiku terasa pahit.

Tadi dia begitu cemas, apa karena kira aku mau paksa dia nikah? atau dikiranya aku tahu kalau dia sama sekretarisnya Gina mau menikah?

“Kubawain kue yang paling kamu suka, mau makan sekarang?”

Dulu, Willy pulang kerja, dia selalu membawakan makanan yang enak.

Walaupun banyak rasa yang nggak cocok, aku tetap merasa terharu.

Karena menurutku, selalu diingatin dan dibeliin makan sama orang tersuka, jauh lebih penting dari rasa makanan tersebut.

Tapi sekarang melihat kue ini, aku merasa penuh dengan sindiran.

Baru tadi saja, aku melihat semua postingan Gina yang awalnya hanya privat, baru melihat beberapa saja, aku sudah tidak mau melihatnya lagi.

Sekarang, aku baru tahu betapa konyolnya diriku.

Ternyata kue ini kesukaan Gina.

Bukan hanya kue ini, kacang-kacangan dan cemilan lainnya semua kesukaan Gina.

Yang paling menyedihkan adalah aku baru tahu kebiasaan Willy setelah pulang kerja bawa makanan untukku itu dimulai setelah Gina masuk kerja.

Willy, jadi saat kamu lagi memberiku makan, kamu menganggap aku ini siapa? Sarah atau Gina?

Aku menelan kepahitanku, dengan tenang berkata:

“Aku tidak suka makan yang manis, terlalu eneg, lain kali jangan beli lagi.”

Willy tidak menyangka reaksiku bisa begini, tatapannya kelihatan sedikit terkejut:

“Kok bisa? Biasanya kamu makan juga kok.”

Sudah bersama begitu lama, kalau dia benaran peduli samaku, mana mungkin tidak tahu kesukaanku?

Beberapa kata kalau diulang berkali-kali akan capek, akhirnya hanya bisa mengalah.

Aku tidak mau berdebat lagi hanya kasih alasan: “Belakangan ini seleraku sudah berubah.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 2

    Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.Dua tiket.[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.Seketika aku merasa diriku seperti badut.Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekreta

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 3

    “Kamu salah paham, aku bukan......”Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri. Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:[Bang, pengantinnya ganti orang?]J

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 4

    Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”Mendengarnya, Wil

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 5

    Willy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, detak jantungnya tiba-tiba jadi cepat dan bicara sendiri: “Pasti aku salah orang.”“Sarahku masih lagi liburan, mana mungkin bisa di sini?”“Pasti karena aku terlalu merindukannya jadi halusinasi.”Gina juga kaget, dengan ekspresi yang terkejut melihatku, nggak bisa berkata apapun.Dibandingin sama kekagetan mereka, aku terlihat sangat tenang, tidak ada ekspresi apapun di mukaku, lalu aku mengasih bunga pernikahanku.Gina baru sadar, dengan bengong menerimanya lalu memberikan punyanya ke aku.Aku dengan senyum berkata: “Semoga kalian bahagia.”Jendela mobil tertutup kembali, mobil dinyalakan kembali dan kedua mobil melanjutkan jalan masing-masing yang saling berlawanan.Sama seperti hubungan aku dan Willy, sudah ditakdirkan untuk berpisah dan mengambil jalan yang berbeda.Hanya saja, di saat mobil pergi, aku sepertinya mendengar suara teriakan yang memedihkan hati.Aku refleks melihat ke arah suara tersebut.Adam yang duduk di

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 6

    Rombongan penjemputan sangat cepat sudah sampai di hotel.Di saat lagi retouch makeup, aku mengambil handphone, baru saja diaktifkan, banyak pesan yang masuk terus.Semuanya harusnya dikirim oleh Willy:[Sarah, kamu angkat telepon dulu][Sarah, aku bersalah, kamu kembali ya? Kamu jangan nikah sama orang lain!][Kumohon, kembalilah! Aku tidak bisa kehilangan kamu......]Banyak panggilan yang tidak terjawab, banyak pesan masuk, selain Willy, Gina juga mengirimku pesan.Namun semuanya lagi pamer:[Sarah, hari ini adalah pernikahanku sama Willy, dia takut kamu datang ribut, jadi sengaja menyuruhmu pergi liburan][Kalau kamu masih ada harga diri, mintalah putus, jangan gangguin dia lagi][Orang yang tidak disukai adalah orang ketiga, kamu kira Willy tidak putus samamu karena cinta? Enggak, dia itu hanya kasihan samamu][Dia sudah tidak ada perasaan samamu, kamu sudah berusia, tidak seperti aku yang masih muda, cantik dan aktif. Bersamaku, dia baru bisa merasakan keindahan hidup dan semangat

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 7

    Pergi antar makan lagi, Gina tetap dengan penuh semangat menyambutku.Tetapi hanya sekali melihatnya, aku melihat kalung yang di lehernya, rumahku, juga ada satu yang sama persis.Itu adalah hadiah yang diberikan Willy saat anniversary, aku ingat saat itu Gina pernah memberi pujian, “Kalung ini cantik sekali, selera bang Willy bagus kali, kakak sangat beruntung, nggak kayak aku, kurasa seumur hidup ini juga nggak ada kesempatan untuk pakai kalung yang secantik ini.”Saat itu, aku merasa jijik kali.Melihat aku sedang melihat lehernya, Gina juga dengan senyum melihatku, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.“Kalungmu ini......”Dia dengan terus terang mengakuinya, “Ini Pak Willy yang kasih.”Saat itu, aku berantam dengan Willy, tapi dia bilang itu hanya hadiah kerja untuk Gina, aku yang berpikir terlalu banyak.Kali itu juga, di saat aku balik ke kantor Willy ambil tasku yang ketinggalan, aku melihat nasi yang kubawa dibuang di tong sampah.Dan Gina juga pertama kali tidak berpura-pura l

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 8

    Saat itu, aku menangis terus karena merasa bersalah dan menyesal.Tetapi dia dengan lembut mengusap air mataku dan dengan senyum acuh tak acuh:“Nggak papa, bekas saja, tidak akan mempengaruhi kegantenganku.”Air mataku turun makin deras, “Kamu sakit nggak?”Dia melihat aku menangis, panik sampai nggak tahu apa yang harus dilakukannya, “Nggak sakit, sama sekali nggak sakit, kamu jangan nangis lagi oke? Tolong, anggap saja aku mohon samamu, kamu nangis aku merasa manapun jadi sakit......”Saat itu, dia bisa dengan tanpa keraguan masuk ke dalam menolongku.Tetapi sekarang, orang yang dia tolong tanpa keraguan sudah bukan aku lagi.Lalu, Willy yang terlahir dari keluarga terhormat, keluarganya mengalami bencana. Hanya satu malam, keluarganya jadi hancur kacau balau dan punya banyak utang. Seketika dia jatuh dari langit ke lumpur.Aku menjinjitkan kaki mencium air matanya, “Kamu masih ada aku, aku akan terus menemanimu.”Aku dengan tanpa keraguan memilih universitas yang sama dengannya, te

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 9

    Ini acara pernikahan aku sama Adam, orang yang datang rata-rata adalah orang yang terkenal, aku nggak mau terkenal karena ini, juga nggak mau merusak acara yang sudah di tunggu lama papa mama.Aku minta Adam pergi cari satpam langsung tarik Willy keluar.Masalah kecil ini tidak mempengaruhi pernikahanku.Selanjutnya, semuanya sangat lancar, sampai acara terakhir selesai dan sudah mengantar tamu pulang, aku melihat ke Adam:“Bisa kasih aku waktu untuk mengurusi masalah tadi? Aku mau selesaikan semuanya.”Adam percaya samaku, dengan tanpa ragu mengangguk kepalanya:“Pergilah, tapi harus jaga dirimu, kalau perlu bantuan bisa panggil aku, aku tetap di sini.”Nggak tahu kenapa, raut wajahnya membuatku terasa sangat aman.Willy ditempatkan di sebuah ruangan, ada satpam yang menjaganya, melihat aku datang, satpam dengan cemas bilang:“Kamu cepat nasehatin dia, dia kecelakaan mengeluarkan banyak darah, kami saranin dia untuk ke rumah sakit, tapi dia sama sekali tidak mau pergi.”“Kalau begini

Latest chapter

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 10

    Di dalam ingatanku, Willy sepertinya tidak pernah merendahkan diri seperti sekarang di depanku.Aku sangat tenang: “Willy, jangan keras kepala lagi, mengakui kalau berubah hati bukanlah hal yang memalukan.”“Aku percaya dulunya kamu benaran cinta aku, tapi kamu berubah hati itu juga adalah kenyataan.”Dia dengan panik memotongku: “Bukan, aku sekarang masih cinta kamu, kamu harus percaya aku Sarah.”Aku tertawa: “Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi kamu tidak ingat sama kesukaanku, makanan yang kamu beli itu semua kesukaan Gina. Kamu bilang kamu cinta aku, kado yang kamu berikan ke aku, Gina juga ada yang sama persis. Kamu bilang kamu cinta aku, tetapi ulang tahunku, bahkan hari anniversary kita, kamu bisa aja lupa. Kamu bilang kamu suka aku, tetapi di saat yang paling bahaya, kamu melupakan aku, tanpa ragu menolong orang lain.”“Willy, apakah ini cinta yang kamu maksud? Kalau begitu, cintamu terlalu murahan.”Dia melihat aku sama sekali acuh nggak acuh, langsung cemas dan panik.“Sarah,

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 9

    Ini acara pernikahan aku sama Adam, orang yang datang rata-rata adalah orang yang terkenal, aku nggak mau terkenal karena ini, juga nggak mau merusak acara yang sudah di tunggu lama papa mama.Aku minta Adam pergi cari satpam langsung tarik Willy keluar.Masalah kecil ini tidak mempengaruhi pernikahanku.Selanjutnya, semuanya sangat lancar, sampai acara terakhir selesai dan sudah mengantar tamu pulang, aku melihat ke Adam:“Bisa kasih aku waktu untuk mengurusi masalah tadi? Aku mau selesaikan semuanya.”Adam percaya samaku, dengan tanpa ragu mengangguk kepalanya:“Pergilah, tapi harus jaga dirimu, kalau perlu bantuan bisa panggil aku, aku tetap di sini.”Nggak tahu kenapa, raut wajahnya membuatku terasa sangat aman.Willy ditempatkan di sebuah ruangan, ada satpam yang menjaganya, melihat aku datang, satpam dengan cemas bilang:“Kamu cepat nasehatin dia, dia kecelakaan mengeluarkan banyak darah, kami saranin dia untuk ke rumah sakit, tapi dia sama sekali tidak mau pergi.”“Kalau begini

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 8

    Saat itu, aku menangis terus karena merasa bersalah dan menyesal.Tetapi dia dengan lembut mengusap air mataku dan dengan senyum acuh tak acuh:“Nggak papa, bekas saja, tidak akan mempengaruhi kegantenganku.”Air mataku turun makin deras, “Kamu sakit nggak?”Dia melihat aku menangis, panik sampai nggak tahu apa yang harus dilakukannya, “Nggak sakit, sama sekali nggak sakit, kamu jangan nangis lagi oke? Tolong, anggap saja aku mohon samamu, kamu nangis aku merasa manapun jadi sakit......”Saat itu, dia bisa dengan tanpa keraguan masuk ke dalam menolongku.Tetapi sekarang, orang yang dia tolong tanpa keraguan sudah bukan aku lagi.Lalu, Willy yang terlahir dari keluarga terhormat, keluarganya mengalami bencana. Hanya satu malam, keluarganya jadi hancur kacau balau dan punya banyak utang. Seketika dia jatuh dari langit ke lumpur.Aku menjinjitkan kaki mencium air matanya, “Kamu masih ada aku, aku akan terus menemanimu.”Aku dengan tanpa keraguan memilih universitas yang sama dengannya, te

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 7

    Pergi antar makan lagi, Gina tetap dengan penuh semangat menyambutku.Tetapi hanya sekali melihatnya, aku melihat kalung yang di lehernya, rumahku, juga ada satu yang sama persis.Itu adalah hadiah yang diberikan Willy saat anniversary, aku ingat saat itu Gina pernah memberi pujian, “Kalung ini cantik sekali, selera bang Willy bagus kali, kakak sangat beruntung, nggak kayak aku, kurasa seumur hidup ini juga nggak ada kesempatan untuk pakai kalung yang secantik ini.”Saat itu, aku merasa jijik kali.Melihat aku sedang melihat lehernya, Gina juga dengan senyum melihatku, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.“Kalungmu ini......”Dia dengan terus terang mengakuinya, “Ini Pak Willy yang kasih.”Saat itu, aku berantam dengan Willy, tapi dia bilang itu hanya hadiah kerja untuk Gina, aku yang berpikir terlalu banyak.Kali itu juga, di saat aku balik ke kantor Willy ambil tasku yang ketinggalan, aku melihat nasi yang kubawa dibuang di tong sampah.Dan Gina juga pertama kali tidak berpura-pura l

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 6

    Rombongan penjemputan sangat cepat sudah sampai di hotel.Di saat lagi retouch makeup, aku mengambil handphone, baru saja diaktifkan, banyak pesan yang masuk terus.Semuanya harusnya dikirim oleh Willy:[Sarah, kamu angkat telepon dulu][Sarah, aku bersalah, kamu kembali ya? Kamu jangan nikah sama orang lain!][Kumohon, kembalilah! Aku tidak bisa kehilangan kamu......]Banyak panggilan yang tidak terjawab, banyak pesan masuk, selain Willy, Gina juga mengirimku pesan.Namun semuanya lagi pamer:[Sarah, hari ini adalah pernikahanku sama Willy, dia takut kamu datang ribut, jadi sengaja menyuruhmu pergi liburan][Kalau kamu masih ada harga diri, mintalah putus, jangan gangguin dia lagi][Orang yang tidak disukai adalah orang ketiga, kamu kira Willy tidak putus samamu karena cinta? Enggak, dia itu hanya kasihan samamu][Dia sudah tidak ada perasaan samamu, kamu sudah berusia, tidak seperti aku yang masih muda, cantik dan aktif. Bersamaku, dia baru bisa merasakan keindahan hidup dan semangat

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 5

    Willy sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, detak jantungnya tiba-tiba jadi cepat dan bicara sendiri: “Pasti aku salah orang.”“Sarahku masih lagi liburan, mana mungkin bisa di sini?”“Pasti karena aku terlalu merindukannya jadi halusinasi.”Gina juga kaget, dengan ekspresi yang terkejut melihatku, nggak bisa berkata apapun.Dibandingin sama kekagetan mereka, aku terlihat sangat tenang, tidak ada ekspresi apapun di mukaku, lalu aku mengasih bunga pernikahanku.Gina baru sadar, dengan bengong menerimanya lalu memberikan punyanya ke aku.Aku dengan senyum berkata: “Semoga kalian bahagia.”Jendela mobil tertutup kembali, mobil dinyalakan kembali dan kedua mobil melanjutkan jalan masing-masing yang saling berlawanan.Sama seperti hubungan aku dan Willy, sudah ditakdirkan untuk berpisah dan mengambil jalan yang berbeda.Hanya saja, di saat mobil pergi, aku sepertinya mendengar suara teriakan yang memedihkan hati.Aku refleks melihat ke arah suara tersebut.Adam yang duduk di

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 4

    Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”Mendengarnya, Wil

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 3

    “Kamu salah paham, aku bukan......”Tapi dia mengangkat tangannya dengan maksud tidak mau dengar penjelasan dariku”“Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, aku saranin jangan lakukan hal-hal begini yang bisa menguras perasaanku padamu.”Pintu tertutup dengan sangat keras, seketika seluruh kamar jadi hening sekali.Aku berdiri di tempat cukup lama, lalu tetawa diriku sendiri. Willy, perasaanmu padaku masih sisa berapa banyak? Masih ada yang bisa dikuras?”Kalau dulu, aku pasti akan susah tidur karena sedih dia salah paham, sekarang aku sudah dengan cepat menenangkan diri.Lanjut melihat hal yang berkaitan dengan pernikahan yang dikirim mama.Sebelum keluar, aku melihat tanda merah yang ada di status teman, lalu melihat Willy yang tidak pernah upload, memposting sesuatu.[Kamu begitu baik, tentu harus aku nikahi dan bawa pulang baru bisa tenang]Fotonya adalah foto Gina dan undangan pernikahan mereka.Nggak sampai 1 menit, ada teman kami yang komentar:[Bang, pengantinnya ganti orang?]J

  • Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama   Bab 2

    Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.Dua tiket.[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.Seketika aku merasa diriku seperti badut.Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekreta

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status