Mataku membulat sempurna, tidak percaya jika ternyata Safeea benar-benar menggugat cerai diriku. Seharusnya aku bersorak gembira, karena hal inilah yang aku inginkan sejak dua tahun lalu, tapi, entah mengapa, seperti ada yang mencubit hatiku, hingga aku merasakan nyeri yang teramat.Sekali lagi aku membacanya, berharap tadi aku salah membaca informasi yang disampaikan, namun sayang, berulang kali kubaca, berulang kali juga aku merasakan sakit yang sama, saat mata ini dengan jelas memindai nama penggugat adalah Safeea Azzahra Kalyani dan Damar Pramudya Bayanaka sebagai tergugat.==================================================================Aku masih terus memandang surat gugatan cerai yang Safeea kirimkan untukku, masih berusaha mencari celah di sana, mengenai kemungkinan jika yang tertulis di dalamnya adalah tidak benar, bukan sebuah kenyataan yang harus kuterima. Namun, keinginan hanya tinggal harapan, nyatanya semua yang tertulis di sana benar adanya.Ku ambil ponsel yang ter
“Maksudmu apa?”“Safeea terluka bukan karena ulahku, tapi karena ulah orang jahat yang ingin memperkos*anya, beruntung dia berhasil kabur dan menghubungiku, kalau tidak, mungkin dirinya tinggal nama saja,” ungkapnya jelas, kulihat matanya berkaca-kaca saat mengatakannya. Apa yang dia katakan benar? Kalau malam itu Safeea hampir menjadi korban pemerkos*an? Kalau benar. Mengapa dia tidak menghubungiku? Dan yang parahnya, aku malah memperkos*anya di rumah. Bodoh kau, Mar!==================================================================Seperti ada batu besar yang menghantam dadaku, rasanya sakit dan juga sesak, membayangkan Safeea ketakutan karena ulah orang jahat yang ingin menodainya, namun, bayangan wajah Safeea menangis dan enggan melihat wajahku saat aku menggaulinya ternyata lebih menyakitkan, aku suaminya, yang seharusnya melindungi justru malah yang paling sering menyakitinya.Adriyan sudah pergi meninggalkanku yang masih tidak berdaya, terduduk lemas di atas kursi kantin rumah
Kufikir selama ini dia yang tidak pantas bersanding denganku, namun nyatanya, akulah yang tidak pantas mendampinginya selama ini. Aku akan mencari Safeea, akan kuperbaiki segela kerusakan yang sudah kuperbuat kepadanya, tidak akan kubiarkan dirinya lepas dariku dalam keadaan terluka. Aku menginginkannya, memeluknya erat seperti malam kemarin, membisikkan permintaan maaf seraya mengecup punggungnya polos.==================================================================“Lebih baik sekarang kamu pulang, Mar! Adelya pasti mencarimu, cukup Safeea yang kau telantarkan perasaannya, jangan buat wanita yang sangat kau cintai itupun menanggung pahitnya diabaikan oleh suaminya sendiri,” tandas Om Farhan menyindirku, aku ingin marah, namun apa yang dia katakan adalah benar. Aku memang terlalu lama menelantarkan dan mengabaikan perasaan Safeea.Tanpa membantah aku pergi meninggalkan kantor om Farhan, membawa kenyataan pahit dan rasa bersalah yang menggebu. Selama ini aku bersalah pada bapak dan
“Enggak sih, tapi agak pusing, eh sebentar!” kataku memotong pembicaraan, karena tiba-tiba ada dorongan kuat dari perutku untuk segera di keluarkan.Seingatku semalam aku tidak salah makan, tapi mengapa pagi ini aku bisa sampai memuntahkan makanan yang ku santap tadi malam? Atau ini efek kecapean? Aku mencuci wajah dan mulutku di wastafel, dari pantulan kaca aku melihat Tiara berdiri di belakangku, memandangku dengan pandangan yang sulit kugambarkan, ada apa sebenarnya dengan dirinya? Seperti melihat hantu saja.==================================================================Aku sudah berada di dalam mobil milik dokter Fadly, yang akan mengantarkan kami ke lokasi acara donor darah yang diadakan dalam rangka reuni akbar alumni Universitas Pelita Cemerlang, di mana tempat dokter Fadly menimba ilmu kedokterannya. Setelah memuntahkan makananku tadi pagi, saat ini kondisiku sudah lebih baik dari sebelumnya, Tiara masih tutup mulut mengenai ekpresinya tadi saat melihatku muntah-muntah.
“Peserta atas nama Sinta, Toni, Desta, Adelya, dan Damar silahkan masuk ke ruangan donor!” suara salah satu panitia menginfokan. Aku berjalan beriringan dengan Adelya, memasuki ruangan aula, cukup terkejut karena jumlah tenaga medis yang menurutku kurang banyak, dibandingkan jumlah peserta yang menunggu di luar. Aku menoleh saat tiba-tiba tangan Adelya mencubit kecil lenganku, kemudian berbisik pelan.“Mar, itu Safeea, kan?”==================================================================Ada getar yang tidak bisa kujelaskan, ada rindu yang membuncah untuk segera di salurkan, akhirnya, dewi fortuna datang kepadaku. Berhari-hari aku mencarinya, namun takdir membawanya sendiri kepadaku, Safeea kembali, dia ada tepat di depan mataku sekarang. Menggunakan blazer putih khas seorang dokter yang dipadukan dengan celana bahan sedikit ketat berwarna coklat dan atasan kemeja berwarna senada dengan motif bunga-bunga, Safeea tampil cantik di tengah para peserta donor darah. Rambutnya yang hit
“Maaf, mbak Adelya, sampai kapanpun, saya tidak pernah bermaksud untuk menjadi duri dalam daging di rumah tangga orang lain, jika saat ini akhirnya saya memilih mundur, hal itu bukan karena saya menyerah, tapi lebih kepada akhirnya saya sadar, jika tidak ada yang bisa diharapkan dari pria yang kini sudah resmi menjadi suami mbak Adelya. Tidak ada sedikitpun niat saya untuk mencari perhatian dari mas Damar, jadi mbak Adel dapat bernafas lega sekarang, karena sebentar lagi mas Damar resmi hanya menjadi milikmu, permisi!” tandasku mengakhiri percakapan yang hanya membuang-buang waktu dan energiku saja.==================================================================Aku meninggalkan Adelya sendiri di toilet, kembali ke dalam aula dan melanjutkan tugasku untuk kegiatan donor darah ini. Rasanya aku tidak habis fikir dengan jalan fikiran Adelya, dulu, ku kira dia wanita yang baik, ya walaupun tidak ada wanita baik, yang mau menjadi perusak rumah tangga orang lain, tapi setidaknya dulu kul
Lagu masih mengalun indah, dibawakan dengan penghayatan dalam, yang semakin membuat dadaku sesak, teringat seonggok surat gugatan cerai yang Safeea kirimkan untuk mengakhiri kisah kelam kami. Mungkinkah aku harus rela melepaskannya? Memulai hidup baru hanya dengan Adelya saja? Namun, sungguh, hatiku tidak bisa membiarkan ini selesai begitu saja tanpa ada penjelasan.Aku berniat pergi meninggalkan venue, sebelum hatiku benar-benar merasa rapuh karena lagu yang masih berputar, saat tidak sengaja mataku menatap Safeea bersama Adriyan baru saja memasuki venue bersama salah satu panitia acara. Brengs*k!==================================================================Emosiku mendadak membucah, melihat istriku berjalan akrab dengan pria lain, yang notabene pernah menjalin hubungan spesial dengannya. Tergesa aku berjalan ke arah mereka, ingin memberikan sedikit pelajaran kepada pria tidak tahu malu tersebut, karena masih berani mendekati istriku, Safeea. Namun, kuurungkan, karena tiba-tib
“Permisi, Pak, Bu, ada titipan surat buat bu dokter,” sela seorang panitia acara, menginterupsi candaanku dengan Mas Essa. Memberikan secarik kertas tanpa amplop kepadaku.‘Buktikan kalau kamu serius mau cerai dari Damar!’Degh! Aku tau siapa yang menulis ini.==================================================================Tanpa meliat siapa yang mengirim, aku pastikan tebakanku tidak akan salah, mengenai siapa yang sudah menitipkan surat ini kepada panitia tadi. Aku mengarahkan pandangan ke sekitar venue, berharap dapat menangkap basah si penulis surat tersebut. Namun, sayang, tidak kutemukan jejaknya di sana.Aku menyimpan suratnya ke dalam kantong jas putihku, membiarkan Mas Essa penasaran dibuatnya, sengaja aku tidak membiarkannya mengetahui isi surat tersebut, karena kurasa ini bukanlah urusannya, biarlah, akan kutangani masalah ini bersama pengacaraku saja.Selesai menghabiskan makan siang kami, aku mengajak Mas Essa untuk segera balik ke ruangan di mana donor darah diadakan
Damar Pramudya BayanakaDisinilah aku sekarang, duduk membungkuk di dalam tahanan yang busuk, menatap pilu pada jeruji besi yang menahanku untuk menghirup udara kebebasan di luar sana. Sudah enam bulan lamanya aku mendekam di sini, tepatnya setelah aksiku yang berusaha untuk membalaskan dendam kepada Safeea dan Adriyan.Aku tidak menyangka jika akhirnya akulah yang terbakar dan hancur dalam kisah ini, kisah yang awalnya aku menjadi superior karena harta yang kumiliki, nyatanya akhir menyayat yang kualami.Selain harus mendekam selama lima tahun di penjara, aku juga kehilangan perusahaanku yang akhirnya di lelang. Aku masih tidak menyangka, perusahaan yang almarhum ayahku rintis dari nol, kini benar-benar kembali menjadi nol karena ulah dan kebodohanku yang mendarah daging.Andai dapat kuulang waktu, aku tidak akan melakukan segala kesalahan yang kulakukan dulu. Setidaknya, aku tidak akan menyakiti Safeea hingga segitu parahnya, sehingga membuat wanita yang selalu hadir dalam mimpiku t
“Safeea!! Buka!!” teriaknya lagi, kali ini menggunakan kakinya untuk mendobrak pintu kamar.Safeea yang mendengar suara gebrakan dari luar membuatnya berjingkat ketakutan. Mulutnya tidak henti berdoa dan menangis, berharap bantuan segera datang untuk membantunya terlepas dari manusia yang paling tidak ingin dirinya temui di muka bumi ini.“Safeea!! Buka! Jangan buat aku murka! Kamu harus tanggung jawab sekarang juga!!”“Tanggung jawab apa yang anda maksud, Bapak Damar?”=========== Berbekal ijin yang dia dapatkan dari Adriyan untuk membawa Safeea ke Mall, Tiara datang bermaksud untuk menjemput Safeea bersama Gianira dan ketiga anaknya. Namun, saat turun dari mobil dan mendapati pintu rumah Safeea terbuka, membuat Tiara curiga jika ada hal buruk yang terjadi.Dirinya berjalan cepat ke dalam rumah bersama Gianira, setelah sebelumnya meminta ketiga anak-anak Riza tersebut menunggu di dalam mobil. Tiara khawatir terjadi sesuatu di dalam rumah, sehingga dirinya berinisiatif menyuruh anak-
Pagii semuaa 😍🤗Maaf Euy baru bisa up lagi, qodarullah keadaan kurang fit ditambah file bab baru yang siap up malah hilang karena enggak sengaja ketiban file baru jadi harus ngumpulin niat dulu untuk ketik ulang kemarin kemarin tuh 🤭Oia, ini satu bab menjelang bab terakhir yang Insya Allah ku posting besok atau lusa ya ..Selamat membaca ✌️✌️========= Benar kata pepatah yang mengatakan, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bukan kurir yang datang melainkan tamu tidak diundang, pria yang ingin paling tidak ingin kutemui di dunia ini justru datang menemuiku di rumah.“Hai, Saf. Apa kabar?”============ Tanpa menjawab aku langsung berusaha untuk menutup pintu rumah, tetapi tenaga Mas Damar lebih kuat, sehingga dengan mudah menerobos masuk hanya dengan sedikit dorongan yang dia lakukan.Aku yang sadar saat ini hanya seorang diri di rumah tidak dapat berbuat apapun, asisten rumah tangga yang mas Essa pekerjakan baru saja pulang hampir setengah jam yang lalu. Lingkungan
Hai, ada sedikit bocoran. Ini sudah mendekati akhir lho 🤗=====Jangan tanya aku mendapatkan info darimana, karena tentu dengan mudah aku mengakses informasi tersebut dari sepupuku yang seorang bisnisman ulung namun kurang beruntung di dunia percintaannya.“Mas,”“Ya, ada apa, Sayang?” tanyaku, saat mendapati Zahra keluar dari toilet kamar kami.“I have surprise for you,” bisiknya, sambil memberikan sebuah kotak beludru berwarna biru. Kurasa isinya jam tangan? ========= “Apa nih, Sayang?” tanyaku heran, seingatku aku tidak sedang berulang tahun maupun ada hari spesial hari ini, lalu mengapa tiba-tiba Zahra memberikan surprise? Ditambah lagi dirinya memegang kamera dan menyalakan fitur merekam saat memberikan kotak beludru tersebut.“Buka aja!”“Aku sedang tidak melewatkan hari spesial kita, kan?” selidikku, karena heran melihat Zahra terus tersenyum ke arahku. Sebelah tangannya masih sibuk memegang ponsel yang diarahkan ke arahku.“Enggak, Sayang. Ini surprise spesial dari aku buat
Aku kembali menghubungi Jerryan, memintanya untuk mendesak Safeea menghentikan kegiatan bodohnya tersebut. Namun, aku justru mendapat berita yang lebih mencengangkan. Jerryan mengatakan tidak dapat mengubungi Tiara karena panggilannya selalu dialihkan. Selain itu, Jerryan memberitau jika ada seseorang dengan akun Instegrem Adl.ya membuat pengakuan jika dia adalah saksi dari seluruh kebenaran yang Safeea katakan. Dan aku sangat hafal, siapa orang di balik akun Adl.ya tersebut. ============= Kurasakan seluruh persendianku melemas karena kabar yang Jerryan sampaikan. Bagaimana bisa Adelya bersekongkol dengan Safeea untuk menyerangku malam ini? Bukankah selama ini Adelya begitu membenci Safeea? Bahkan menurut Bagus, dirinya mendapat informasi jika Adelya sempat menyerang Safeea ketika di rumah sakit kemarin, karena menganggap Safeea sebagai penyebab aku menjatuhkan talak kepadanya.Dengan mata membulat aku menyaksikan lagi live dari layar ponselku yang lain, melihat bagaimana kali ini
“Selama pernikahan juga mas Damar tidak pernah sekalipun memberikan nafkah bathin kepada saya, kecuali di malam terakhir sebelum akhirnya saya putuskan untuk menyerah. Dia meminta saya melayaninya tapi ...,” kalimatku terputus, rasanya aku tidak sanggup untuk mengungkit kembali kisah pahit pada malam itu. Tangisku mulai pecah, Mas Essa sibuk menenangkanku, merangkulku dengan hangat.=============== Mbak Gia memberikan ku segelas air putih yang langsung kuteguk hingga habis setengahnya. Tubuhku masih bergetar tiap kali mengingat peristiwa jahanam yang mas Damar perbuat kepadaku. Perbuatan tidak tau malu yang dilakukan dengan penuh pemaksaan. Memperlakukanku laiknya binatang jalang yang sesuka hatinya dia perlakukan sekasar dan sehina yang dia inginkan.[Lanjutin dong ceritanya! Penasaran, nih][Gila, jadi hampir sepekan ini kita di bohongin sama si Damar?][Dasar cowok playing victim, manipulatif!][Spill selingkuhannya dong, Kak!][Keluarganya enggak tau kalau kelakuan anaknya kay
Aku masih terus menggulir akun sosmedku, mencari informasi mengenai ke-viral-an aksi Damar sore tadi. Hingga tidak sengaja mataku menangkap sebuah postingan yang memberitakan jika Zahra meminta cerai dari Damar dan lebih memilih menikah denganku di saat Damar dalam keadaan lumpuh dan tidak dapat berbuat apa-apa. Fu*k, apa-apaan ini? Berita-berita ini benar-benar sudah kelewatan.=========== POV SafeeaAku tidak menyangka jika kecelakaan dua hari yang lalu berbuah buntut panjang, akan kewarasan mentalku yang seakan diuji oleh maraknya berita-berita hoax yang bertebaran di jaga dunia maya. Berita mengenai pernikahan dan perceraianku dengan mas Damar tersebar begitu massive, padahal selama ini aku tidak pernah memposting apapun mengenai pernikahan dan kehidupanku bersama mas Damar, setahuku begitupun sebaliknya.Lalu mengapa kini banyak tersebar berita tentang kami berdua? Bahkan aku dianggap mencampakan mas Damar karena bercerai dengannya di saat dia sedang sakit kala itu dan menikah
Sekuat tenaga aku menggerakan kaki ku agar mau terangkat, namun nihil susah sekali rasanya, hingga saat jaraknya semakin dekat, aku seakan mendapat dorongan kuat untuk kembali mencoba menggerakan kaki ku dan berlari menghampiri Safeea. Mendorongnya hingga kami jatuh berpelukan.Brakkk!!Suara reklame berdebam saat jatuh menimpa lantai beton rumah sakit. Kudengar Safeea berteriak karena kaget mendengar suara reklame jatuh, kemudian banyak orang berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.============= Riuh ramai suara orang berdatangan mencoba memastikan keadaanku dan Safeea. Kuabaikan pertanyaan dari pihak keamanan rumah sakit yang mencoba mencari info keadaan kami.Namun, dadaku masih berdegup begitu kencang, karena selain baru saja mengalami peristiwa berbahaya, tapi juga karena Safeea saat ini masih dalam dekapanku. Tubuhnya bergetar, mungkin dirinya merasakan takut dan kaget bersamaan karena reklame jatuh barusan.Aku coba menenangkannya, mengatakan jika semua baik-baik saja. Kem
Benar yang Jerryan katakan, mengapa Adelya bisa berubah secepatnya ini? Apakah tidak ada sedikitpun tersisa rasa cintanya untukku? Hampir dua belas tahun kami menjalin hubungan dan hilang hanya dalam waktu tiga pekan?“Bagus bukan? Aku jadi bisa fokus untuk berusaha merebut kembali Safeea ke dalam pelukanku jika sudah resmi bercerai dari Adelya,” ucapku akhirnya, yang membuat Jerryan hanya bisa menepuk kepalanya. Memang apa yang salah dengan yang kukatakan barusan? Aneh!============== POV SafeeaDua bulan sudah aku menjalani kehidupan baruku sebagai seorang istri dan tentu saja aku merasa benar-benar menikmatinya. Walaupun sebenarnya aku sudah pernah mengalaminya selama dua tahun lebih sebelumnya, tetapi kali ini benar-benar berbeda.Jika dulu pergi dinas ke Rumah sakit merupakan tempat pelarianku untuk menenangkan diri dari perlakuan buruk mas Damar di rumah, kini setelah menikah dengan mas Essa, pulang ke rumah adalah sesuatu yang kunanti-nantikan. Karena di sana aku benar-benar m