Huuuufff. Ayunda pun membuang nafas panjang setelah merapikan pakaiannya. Dia menatap wajahnya di depan cermin yang berukuran cukup besar di hadapannya. Tak lama berselang Tere ikut masuk ke dalam toilet. "Yunda, kamu serius mau ketemu Kak Erwin" tanya Tere setelah sebelumnya Ayunda memberitahunya melalui chat. Ayunda pun mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Tere. "Iya, aku nggak mau mencampur adukan pekerjaan dengan masalah pribadi. Kalau ditanya sebenarnya aku males banget ketemu dia, tapi Yusuf udah baik banget sama aku," jelas Ayunda dengan rasa bingung. Tapi sudahlah apapun yang terjadi dia tak boleh menghindar. Justru dia harus melawan semua rasa yang berkecamuk di dalam hatinya, lagi pula tidak ada yang harus dia takutkan. Jika selama ini dia mampu menghadapi semuanya sendiri kenapa kali ini dia harus ragu? Memangnya kenapa kalau dia bertemu dengan Erwin. Justru bila perlu Ayunda akan meminta perceraian mereka segera disahkan oleh pengadilan. "
Sedangkan ditempat lainnya dan waktu yang sama David mulai kehilangan konsentrasi nya dalam bekerja. Setelah malam itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan Ayunda. David berpikir jika Ayunda masih berada di rumah sakit menjaga anaknya. Namun, karena rasa penasaran dia pun segera menuju rumah sakit. Sepertinya dia juga mulai merindukan baby Ken. Ah tidak, maksudnya bukan begitu. Mungkin karena wajah mereka yang memiliki kemiripan membuat David ingin melihatnya terus. Sebab seperti melihat dirinya sendiri tapi versi bayi. Lucu ya? Entahlah, pikirannya benar-benar kacau hanya karena memikirkan bayi mungil yang entah mengapa begitu mirip dengan dirinya. Namun, sesampainya di rumah sakit dia baru mengetahui ternyata beberapa hari yang lalu baby Ken sudah dibawa pulang. Anehnya David merasa Ayunda belum pulang ke rumah. Ataupun mungkin saja karena kesibukan David akhir-akhir ini membuat mereka tidak pernah bertemu. Padahal sebenarnya Ayunda ada di rumah? Ada apa
Hari libur membuat Ayunda merasa senang, artinya selama seharian ini dia bisa bersama dengan putranya. "Anak Bunda udah besar," katanya sambil membalut tubuh sang putra dengan handuk setelah selesai dia mandikan. Kemudian Ayunda membawanya ke ranjang untuk selanjutnya memakai pakaian. Bayinya sangat wangi juga segar setelah mandi, bahkan bayinya tersenyum melihat dirinya. "Eeeeemuuuah!" Ayunda mencium pipi gemas bayinya dengan penuh kasih sayang. Terlihat jelas dia sangat menikmati peranannya sebagai seorang ibu. Meskipun masih perlu belajar lebih banyak lagi tentang cara menjadi ibu yang baik. Kini pikirannya pun lebih tenang karena tak lagi mendengarkan hinaan yang membuatnya terbebani. Tapi saat itu dia pun mendengar suara ketukan pintu. Dengan segera Ayunda pun membuka pintu, dia yakin yang datang adalah Tere. Tapi ternyata bukan Tere yang datang melainkan Yusuf. Yusuf menenteng paperbag di tangannya dan kini bergerak memberikan pada Ayunda. "Selamat pagi,"
"Sepertinya pekerjaan kotor itu telah mendarah daging dalam diri wanita ini," gumamnya. Dia pun tersenyum miring sambil memikirkan pekerjaan kotor Ayunda. Rasanya tidak mungkin jika seorang wanita bersama dengan seorang pria tak melakukan hal tersebut. Uang? Itulah sebabnya, meskipun demikian cara kotor akan dia halalkan! "Apa kabar?" sapa David. Ayunda yang sudah berbalik badan pun seketika kembali memutar badannya. Matanya melihat wajah David. Dia tidak menyangka jika David ada di hadapannya. Tapi apa tujuan pria ini, khusus menemuinya ataupun mungkin melihatnya tanpa sengaja. Dari mana David tahu tempat tinggalnya sekarang? Dan apa alasannya berada di hadapannya? "Ada yang bisa saya bantu, Tuan David?" tanya Ayunda. Sepertinya Ayunda sangat malas untuk bertemu apa lagi berbicara dengan David. Tapi saat ini orang itu ada di hadapannya dan dia tak mau jika nanti pria ini mempermalukan dirinya. "Ternyata kau tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang ada
Kemarin adalah hari libur, sedangkan hari ini pekerjaan kembali dimulai. Ayunda masih begitu bersemangat untuk bekerja, apa lagi dia baru mendapatkan pekerjaan. Sayangnya hari ini Tere tidak bisa menjemputnya karena sedang tidak enak badan, Ayunda pun terpaksa naik ojol. Tapi sebelum memesan ternyata Yusuf menghubunginya dan mengatakan mereka bisa berangkat ke kantor bersama-sama. Ayunda pun setuju apa lagi mengingat anaknya yang masih bayi. Dia kasihan pada anaknya jika terkena panas dan abu. Usia bayinya masih dua bulan, untuk bayi tentunya sangat rentan terhadap cuaca, apa lagi sempat dirawat di rumah sakit. Ayunda tak mau sampai terulang kembali, dia ingin anaknya sehat dan perkembangannya yang sesuai dengan usianya. "Hay," kata Yusuf yang kini tiba dan menyapa Ayunda dari mobilnya setelah menurutnya kaca jendela mobil. "Selamat pagi, Pak Bos," balas Ayunda yang juga sudah menunggu di depan kosan sambil menggendong anaknya. "Ayo berangkat." Ayunda pun segera
Duaarrr! Suara petir seakan menggema di sana dengan tiba-tiba, ucapan Ayunda yang seakan mengguncangkan dunia David dengan begitu mudahnya. Sampai dia terdiam larut dalam kebingungan. "Mana janji mu untuk bertanggungjawab setelah malam itu? Mana janji mu menikahi aku? Sampai akhirnya aku tahu aku hamil anak mu! Dan, saat itu aku pun tahu kamu telah dijodohkan dengan pilihan Ibumu. Lalu bagaimana dengan aku?" lanjutnya lagi. Apa lagi yang ingin didengar oleh David? Semua pertanyaan akan dijawab oleh Ayunda tanpa ragu. Agar David tahu penderitanya berawal dari tanggungjawab David terhadapnya hanya kebohongan saja. "Apa maksudmu?" tanya David dengan rasa bingung. Dia masih belum mengerti mengapa bisa Ayunda berkata demikian. "Jika kau tidak mencintaiku saat itu, kenapa kau menyatakan cinta padaku? Kau memainkan perasaan ku seakan-akan akulah wanita yang paling kau cintai. Tapi apa? Nyatanya aku hanya sebatas cadangan mu saja!" Sepertinya David tidak bisa berkata-kat
Air mata Ayunda tidak bisa berhenti menetes padahal dia sudah berusaha untuk menghentikannya. Bahkan berulangkali tangannya menyeka air matanya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Yusuf yang justru khawatir dengan keadaan Ayunda. "Iya," kata jawab Ayunda. Meskipun sebenarnya dia masih terlalu sakit dengan apa yang dilakukan oleh David padanya. Membuat Yusuf pun kembali menepikan mobilnya, akan tetapi kini mereka sudah sangat jauh dari tempat sebelumnya dimana bertemu dengan David. Yusuf merasa tidak mungkin melanjutkan perjalanan menuju kantor dengan keadaan Ayunda saat ini. Sebenarnya Yusuf tahu jika keadaan Ayunda sedang tidak baik-baik saja, namun dia hanya ingin memastikan. Tapi sepertinya Ayunda memilih untuk tidak mengatakan bahwa dia masih terlalu terluka. Bagaimana mungkin Ayunda tidak apa-apa setelah kejadian tadi, jika memang baik-baik saja tentunya tidak akan menangis seperti ini. Jelas terlihat dia sangat sulit untuk menghentikan air matanya yang terus sa
Semetara ditempat lain David masih belum bisa melupakan semua yang dikatakan oleh Ayunda. Semua ucapan Ayunda seakan menjadi teror yang mengerikan dalam hidupnya. Selama ini belum ada yang membuatnya menjadi seperti ini. Apa yang dia dengar seperti bom yang meledak diwaktu yang telah ditentukan. Tidak pernah terbayangkan hari ini akan seperti ini, sebuah kenyataan yang membuatmu tidak bisa berkata-kata. Terdiam sambil mendengarkan semua ucapan Ayunda. Tidak seperti biasa yang dengan lantang bicara tanpa perduli pada perasaan Ayunda. Ada apa? Ada kenyataan yang lebih mengerikan! Semuanya benar-benar diluar akal sehatnya. Ternyata David sudah memiliki seorang anak? Lalu bagaimana dengan Ayunda yang selama ini dia jadikan sebagai pembantu di rumahnya? Keadaan Ayunda sedang hamil. Ternyata semuanya sangat mengerikan sekali. "Anak haram yang kau hina itu adalah anak mu sendiri!" Begitulah ucapan Ayunda sebelumnya. Ucapan yang diulang oleh Ayunda karena ucapan David
"Hey, kamu!" terdengar suara Zidan membuat Ayunda dan Tere pun menoleh. Tentu saja yang dia panggil adalah Tere. Tapi Ayunda yang kesal saat mendengarnya. "Kak Zidan, manggil siapa? Kami punya nama!" sinisnya Tapi Zidan tidak perduli dengan ucapan sang adik yang dia ingin temui adalah Tere. "Kenapa kau belum menyetrika pakaian ku?!" tanyanya. Tere pun merasa bingung mendengar ucapan Zidan, karena sebelumnya sudah mengerjakan apa yang diminta oleh pria yang tak lain suaminya itu. Seorang suami yang benar-benar tidak dia inginkan. Pernikahan tanpa cinta dan perkenalan lebih dalam, keduanya benar-benar asing. Namun, mengapa Zidan mengatakan belum menyetrika pakaian yang dia minta? Jelas-jelas Tere sudah melakukannya. "Kamu mendengar saya bicara atau tidak?!" tanya Zidan lagi karena Tere masih diam saja. "Maaf, Kak. Tapi, tadi Tere udah ngerjain kok. Sekarang bajunya ada di atas ranjang," jawab Tere. "Udah kamu bilang? Udah apanya?!" "Kak Zidan, apa sih? Biasan
Ting! Suara ponsel Ayunda dan ternyata Yusuf yang mengirimkan sebuah pesan. [Yunda, Mama ngotot pengen ketemu dengan Mama kamu, bisa tolongin aku nggak?] Yusuf. Ayunda pun tersenyum setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Yusuf padanya. Tentu saja ini adalah cara untuk membuat David menjauhinya. [Datang aja ke rumah, Mama di rumah juga] Yunda. Ayunda tersenyum bahagia karena merasa ide kali ini akan berjalan dengan baik. "Kenapa?" tanya David yang melihat Ayunda tersenyum sambil memegang ponselnya. "Apaan sih, mau tau banget urusan orang!" *** Yusuf dan Rika pun telah tiba di kediaman orang tua Ayunda. Mereka datang dengan membawa banyak buah tangan. Wina pun cukup terkejut melihat kehadiran Yusuf dan sang ibu yang tidak memberitahukan padanya sebelumnya. Akan tetapi Wina tentunya merasa bahagia atas kehadiran Yusuf dan ibunya. "Silahkan masuk," Wina pun mempersilahkan keduanya untuk masuk. "Terimakasih," balas Rika sambil berjalan masuk. "Ayo du
Ayunda pun memasuki toko kosmetik. Dia langsung saja melihat beberapa make-up di sana. Kemudian dia pun menatap wajah David. "Mana bibirnya, aku mau nyobain yang warna ini," kata Ayunda. "Aku?" tanya David tak percaya. "Iyalah, siapa lagi?" "Tapi....." "Nggak mau?!" "Mau," David pun kembali menurut pada perintah Ayunda. Dia pun sedikit berjongkok dan Ayunda pun mulai memakai lipstik di bibirnya. Kacau! Gila! Aneh! Bukan lagi hal itu yang dipikirkan oleh David. Tapi rasanya begitu nyaman berdekatan dengan Ayunda seperti ini. Wajah Ayunda begitu dekat dengan dirinya, andai saja dia tidak memikirkan kemarahan Ayunda dia sudah melumat bibir itu. Meski sadar di tempat umum, tapi wanita ini benar-benar mudah membuatnya panas dingin. "Udah! Sana jauh-jauh!" ketus Ayunda. Saat itu Ken juga memegang hidung David, akhirnya David pun kembali menetralkan dirinya. "Mbak, kok dipakein ke suaminya?" ucap pramuniaga. "Ha?" Ayunda syok berat mendengar apa yang d
Masa bodo, mau pemilik mall, pemilik kuburan sekalian, bodo! Batin Ayunda. Kemudian dia pun mencari toko selanjutnya yang akan dia masuki. Toko dalaman khusus wanita. Ayunda pun tersenyum sambil menoleh pada David. "Ayu masuk," kata Ayunda. David pun terdiam sejenak saat berdiri di depan toko, sepertinya dia sedang berpikir di tempatnya. "Kamu nggak mau?!" "Mau," jawab David yang benar-benar pasrah, meskipun dia tengah begitu kesulitan dalam mengangkat semua barang belanja milik Ayunda. "Ya ampun, cowoknya ganteng banget," bisik seorang pramuniaga pada seorang temannya. Sedangkan temannya mengangguk membenarkan. Apa lagi jika mereka tahu saat ini mereka sedang bertemu dengan pemilik mall tersebut, sudah pasti mereka akan semakin terkagum-kagum. Tapi tidak semua orang tahu, hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Mas?" tanya sang pramuniaga. Ayunda tahu pramuniaga tersebut tertarik pada David, dan itu tidak masalah bagi
"Dia manusia atau apa sih? Aku curiga dia itu titisan jalangkung," gerutu Ayunda yang tak hentinya sambil membayangkan wajah David. "Kamu kok basah kuyup?" tanya Tere yang tak sengaja bertemu dengan Ayunda di ruang keluarga. Tepatnya ketika Ayunda tengah melintas. "Ini karena jailangkung," jawabnya penuh kekesalan. "Jailangkung?" "Hem......Dia datang dan pergi tanpa ijin, siapa lagi kalau bukan ayah Ken," ucap Ayunda. "Kayaknya dia serius pengen balikan sama kamu ya, buktinya tidak ada hentinya berusaha untuk mendekati mu," kata Tere lagi. "Enggak ya, aku nggak mau balikan sama dia. Dulu juga dia mati-matian berusaha untuk dapatkan cinta aku. Tapi apa? Dia malah menyakiti aku," Ayunda seakan tak bisa melupakan semua yang telah dia lewati. David, Erwin keduanya sama saja. Sama-sama jahat ketika sudah mendapatkan keinginannya. Lupa pernah berusaha mati-matian untuk mendapatkan Ayunda. "Kamu gimana? Kak Zidan nggak nyakitin kamu kan?" tanya Ayunda yang justru penasara
Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin
Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk
"Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den
David pun memeluk Ayunda dari belakang, dia mencium tengkuk leher Ayunda dengan begitu liarnya. Sedangkan tangannya mulai menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. Tubuh Ayunda yang basah menampakkan lekuk tubuh yang indah. Kini tubuh Ayunda lebih berisi dari sebelumnya, membuat David semakin panas dingin jika bertemu begini. Dada wanita itu begitu besar dan penuh. David semakin menjadi-jadi karena tidak dapat mengendalikan diri. Lantas bagaimana dengan Ayunda? Ayunda pun tersenyum sambil menikmati pelukan hangat David. Tangan liar David membuat Ayunda melayang jauh di awan. Sesaat kemudian David pun melumat bibirnya dengan sangat rakus. Ayunda pun membalasnya dengan tidak kalah panas. Saat itu tangan David mulai menelusup masuk ke dalam dress Ayunda. Meremas gunung kembar yang selalu menentang jiwa kelelakiannya selama ini. Saat itu terdengar suara teriakan. "Ahhhhh!" Teriak itu membuyarkan lamunannya, David kecewa ternyata apa yang terjadi barusan hanya se