Share

Bab 106

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2025-03-24 17:12:46

"Maaf, Bos, tadi hanya orang tidak penting," ucap Ayunda setelah kembali ke ruangan.

Kemudian dia pun meneguk mineral yang ada di atas mejanya, dia harus bisa menenangkan diri agar bisa tenang menghadapi pekerjaan hari ini.

Sungguh bertemu dengan David membuat suasana hatinya menjadi sangat kacau.

"Sepertinya kamu sangat kesal," tebak Yusuf.

"Sedikit," kata Ayunda lagi.

"Sedikit?"

"Aku nggak tahu kenapa dia terus saja menggangu aku, dulu dia kemana aja?" ucap Ayunda penuh kekesalan.

"Dia siapa?"

"Ayah Kenzie," ucap Ayunda.

"Ah, iya. Aku juga mau mengatakan padamu bahwa proyek Erwin telah digantikan oleh David. Aku dengar Erwin menjualnya pada David," terang Yusuf.

"Menjual?" tanya Ayunda tak habis pikir.

"Iya."

"Menjual atau dia yang memaksa," gerutu Ayunda.

Yusuf pun mengangkat kedua bahunya, dia juga tak mengerti.

"Sehingga dari sini dan kedepannya kita akan terikat kerja sama dengan David, sampai proyek ini selesai, lagi pula jika proyek ini kita putuskan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Eka Vesa Longa
up lagi kk Thor... semangat utk Ayunda
goodnovel comment avatar
Ipak Munthe
terimakasih Kak..... ....
goodnovel comment avatar
Nurul
semngat thor ..aq menunggu bab seterusnya ..salam dari malaysia
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 107

    Desa yang masih begitu asri, tempat dimana mereka akan memulai proyek untuk kemajuan desa tersebut. Sekaligus membuka lapangan pekerjaan, dimana penduduknya banyak yang merantau ke kota karena sulitnya mencari pekerjaan di sana. Ayunda sampai terkagum-kagum melihat desa tersebut. Terbiasa tinggal di kota membuatnya merasa nyaman dengan kondisi desa yang begitu asri ini. "Suaranya indah banget," kata Ayunda sambil membuka tangannya lebar-lebar menikmati udara segar yang berhembus. Kemudian dia pun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan secara perlahan. "Semua beban rasanya hilang," ucapnya lagi. "Iya, ini indahnya kebangetan," ucap Tere yang juga membenarkan. Perjalanan dari kota ke desa tersebut memakan waktu tempuh lebih kurang 7 jam, sehingga mereka pun tidak mungkin dalam satu hari pulang dan pergi. Apa lagi melihat pemandangan yang sangat indah ini. Tapi mereka sudah disediakan rumah oleh kepala desa tersebut untuk menginap selama satu malam ini.

    Last Updated : 2025-03-25
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 108

    Sedangkan David merasa khawatir karena sejak tadi Ayunda tidak bisa dihubungi. Bukankah Ayunda mengatakan untuk tidak menghubunginya selama 1 jam saja? Tapi ini apa? Sudah berjam-jam wanita tersebut tidak bisa dihubungi. David pun semakin merasa cemas, dan dia tidak bisa diam saja. Segera menuju rumah Ayunda dan bertepatan dengan Wina yang sedang menggendong Ken di teras. "Selamat sore, Tenta," sapa David. "Iya." David pun menatap wajah putranya yang sudah terlelap dalam gendongan Wina. Kemudian kembali menatap Wina. "Tante, Ayunda sudah pulang ke rumah ya?" tanyanya. Tak peduli jika pun Wina kesal padanya, sebab kini lebih sering berkunjung ke sana. Yang terpenting bisa bertemu dengan Ayunda dan anaknya adalah hal yang membuatnya bahagia. "Ayunda pergi dengan teman-teman kantornya ke desa, tapi Tante juga lupa nama desanya. Katanya menginap di sana," terang Wina. David pun dibuat terkejut mendengar penjelasan Wina. Ayunda tak memberitahu jika dia akan perg

    Last Updated : 2025-03-25
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 109

    "Sepertinya ini desanya, sesuai dengan alamat di sini, ini gambar rumah tempat Yunda menginap," kata Zidan sambil membandingkan sebuah gambar di ponselnya dan rumah sederhana di hadapannya yang dia dapatkan dari karyawan perusahaan Yusuf. Kemudian matanya pun melihat mobil David yang terparkir di samping mobilnya. "Si gila ini ternyata sudah tiba duluan," ucap Zidan. Zidan benar-benar menjaga adiknya, ibunya memang tidak begitu membenci David lagi. Tapi bukan berarti bisa diterima kembali seperti dulu, apa lagi jika David menjadi suami Ayunda. Tidak mungkin! Kemudian dia pun berjalan menuju teras, tapi saat itu sebuah pas bunga gantung jatuh di kepalanya. "Akh....." Zidan pun menatap ke bawah, tanahnya berserakan di lantai. Kemudian dia melihat ke atas, ternyata pengait pas bunga itu terlepas. Zidan pun merasa tidak nyaman saat ada tanah yang masuk ke dalam bajunya. Dia pun mencoba untuk menepuk-nepuk pundaknya. Sayangnya masih terasa tidak nyaman, saat itu Zid

    Last Updated : 2025-03-26
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 111

    "Baiklah, kebetulan di sini ada penghulu," kata Pak Kades. "Maaf, Pak tapi apa harus menikah?" tanya Tere memberanikan diri. "Jadi mau kamu bagaimana? Wanita kota bisanya mengotori desa orang!" seru seorang warga. "Pak, Bu, sebenarnya apa yang barusan terjadi hanya salah paham. Aku tidak tahu kalau ada dia di sana," kata Tere lagi. "Kau pikir aku mengintip mu begitu?!" sahut Zidan yang merasa disudutkan oleh Tere. Tere pun menggelengkan kepalanya dengan cepat karena tidak bermaksud demikian. "Nggak usah banyak omong, karena kami sudah melihatnya!" jawab warga. "Jangan-jangan mereka ingin mengatakan kalau kita bohong!" timpal warga lagi. "Bukan begitu, Pak, Bu. Maksudnya, kami punya keluarga, keluarga kami di kota. Apa tidak bisa tunggu sampai keluarga kami datang dulu?" tanya Ayunda. "Bilang saja kalian mau melarikan diri!" sahut seorang warga yang dibenarkan juga oleh warga lainnya. "Banyak bicara, ayo gantung saja mereka di pohon tanpa pakaian!" "Ayo!" "Tunggu

    Last Updated : 2025-03-26
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 112

    Sepanjang malam Tere tak bisa terlelap, dia masih menangis karena apa yang barusan menimpanya. "Tere, udah dong nangisnya. Aku jadi ikut sedih tau," kata Ayunda yang berbaring di sampingnya. Jika dulu Tere yang memeluknya, tapi kini sebaliknya. Ayunda memeluk sahabatnya itu penuh dengan kesedihan, dia ikut prihatin dengan kejadian itu. "Kenapa ya semuanya jadi begini?" tanyanya. "Aku juga bingung, tapi udah dong nangisnya. Lagian tadi cuma nikah siri aja, yang penting kamu nggak kena gantung," ucap Ayunda yang benar-benar ingin membuat Tere berhenti menangis. "Ya sih, tapi......" "Gampang, nanti pas kita udah balik kamu bisa minta diceraikan, satu kata cerai, sah," kata Ayunda lagi. Tere pun menatap wajah Ayunda, dia mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut. "Tapi aku jadi janda?" "Tidak ada yang tahu, lagi pula kamu juga nggak ngapa-ngapain sama Kak Zidan." "Aku tidak melakukan apa-apa, tapi mereka malah berpikir buruk." "Iya, aku tahu, kita berdua

    Last Updated : 2025-03-27
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 113

    David pun memeluk Ayunda dari belakang, dia mencium tengkuk leher Ayunda dengan begitu liarnya. Sedangkan tangannya mulai menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. Tubuh Ayunda yang basah menampakkan lekuk tubuh yang indah. Kini tubuh Ayunda lebih berisi dari sebelumnya, membuat David semakin panas dingin jika bertemu begini. Dada wanita itu begitu besar dan penuh. David semakin menjadi-jadi karena tidak dapat mengendalikan diri. Lantas bagaimana dengan Ayunda? Ayunda pun tersenyum sambil menikmati pelukan hangat David. Tangan liar David membuat Ayunda melayang jauh di awan. Sesaat kemudian David pun melumat bibirnya dengan sangat rakus. Ayunda pun membalasnya dengan tidak kalah panas. Saat itu tangan David mulai menelusup masuk ke dalam dress Ayunda. Meremas gunung kembar yang selalu menentang jiwa kelelakiannya selama ini. Saat itu terdengar suara teriakan. "Ahhhhh!" Teriak itu membuyarkan lamunannya, David kecewa ternyata apa yang terjadi barusan hanya se

    Last Updated : 2025-03-28
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 114

    "Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den

    Last Updated : 2025-03-28
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 115

    Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk

    Last Updated : 2025-03-28

Latest chapter

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 117

    Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 115

    Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 114

    "Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 113

    David pun memeluk Ayunda dari belakang, dia mencium tengkuk leher Ayunda dengan begitu liarnya. Sedangkan tangannya mulai menjalar ke seluruh tubuh wanita itu. Tubuh Ayunda yang basah menampakkan lekuk tubuh yang indah. Kini tubuh Ayunda lebih berisi dari sebelumnya, membuat David semakin panas dingin jika bertemu begini. Dada wanita itu begitu besar dan penuh. David semakin menjadi-jadi karena tidak dapat mengendalikan diri. Lantas bagaimana dengan Ayunda? Ayunda pun tersenyum sambil menikmati pelukan hangat David. Tangan liar David membuat Ayunda melayang jauh di awan. Sesaat kemudian David pun melumat bibirnya dengan sangat rakus. Ayunda pun membalasnya dengan tidak kalah panas. Saat itu tangan David mulai menelusup masuk ke dalam dress Ayunda. Meremas gunung kembar yang selalu menentang jiwa kelelakiannya selama ini. Saat itu terdengar suara teriakan. "Ahhhhh!" Teriak itu membuyarkan lamunannya, David kecewa ternyata apa yang terjadi barusan hanya se

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 112

    Sepanjang malam Tere tak bisa terlelap, dia masih menangis karena apa yang barusan menimpanya. "Tere, udah dong nangisnya. Aku jadi ikut sedih tau," kata Ayunda yang berbaring di sampingnya. Jika dulu Tere yang memeluknya, tapi kini sebaliknya. Ayunda memeluk sahabatnya itu penuh dengan kesedihan, dia ikut prihatin dengan kejadian itu. "Kenapa ya semuanya jadi begini?" tanyanya. "Aku juga bingung, tapi udah dong nangisnya. Lagian tadi cuma nikah siri aja, yang penting kamu nggak kena gantung," ucap Ayunda yang benar-benar ingin membuat Tere berhenti menangis. "Ya sih, tapi......" "Gampang, nanti pas kita udah balik kamu bisa minta diceraikan, satu kata cerai, sah," kata Ayunda lagi. Tere pun menatap wajah Ayunda, dia mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya tersebut. "Tapi aku jadi janda?" "Tidak ada yang tahu, lagi pula kamu juga nggak ngapa-ngapain sama Kak Zidan." "Aku tidak melakukan apa-apa, tapi mereka malah berpikir buruk." "Iya, aku tahu, kita berdua

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 111

    "Baiklah, kebetulan di sini ada penghulu," kata Pak Kades. "Maaf, Pak tapi apa harus menikah?" tanya Tere memberanikan diri. "Jadi mau kamu bagaimana? Wanita kota bisanya mengotori desa orang!" seru seorang warga. "Pak, Bu, sebenarnya apa yang barusan terjadi hanya salah paham. Aku tidak tahu kalau ada dia di sana," kata Tere lagi. "Kau pikir aku mengintip mu begitu?!" sahut Zidan yang merasa disudutkan oleh Tere. Tere pun menggelengkan kepalanya dengan cepat karena tidak bermaksud demikian. "Nggak usah banyak omong, karena kami sudah melihatnya!" jawab warga. "Jangan-jangan mereka ingin mengatakan kalau kita bohong!" timpal warga lagi. "Bukan begitu, Pak, Bu. Maksudnya, kami punya keluarga, keluarga kami di kota. Apa tidak bisa tunggu sampai keluarga kami datang dulu?" tanya Ayunda. "Bilang saja kalian mau melarikan diri!" sahut seorang warga yang dibenarkan juga oleh warga lainnya. "Banyak bicara, ayo gantung saja mereka di pohon tanpa pakaian!" "Ayo!" "Tunggu

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 109

    "Sepertinya ini desanya, sesuai dengan alamat di sini, ini gambar rumah tempat Yunda menginap," kata Zidan sambil membandingkan sebuah gambar di ponselnya dan rumah sederhana di hadapannya yang dia dapatkan dari karyawan perusahaan Yusuf. Kemudian matanya pun melihat mobil David yang terparkir di samping mobilnya. "Si gila ini ternyata sudah tiba duluan," ucap Zidan. Zidan benar-benar menjaga adiknya, ibunya memang tidak begitu membenci David lagi. Tapi bukan berarti bisa diterima kembali seperti dulu, apa lagi jika David menjadi suami Ayunda. Tidak mungkin! Kemudian dia pun berjalan menuju teras, tapi saat itu sebuah pas bunga gantung jatuh di kepalanya. "Akh....." Zidan pun menatap ke bawah, tanahnya berserakan di lantai. Kemudian dia melihat ke atas, ternyata pengait pas bunga itu terlepas. Zidan pun merasa tidak nyaman saat ada tanah yang masuk ke dalam bajunya. Dia pun mencoba untuk menepuk-nepuk pundaknya. Sayangnya masih terasa tidak nyaman, saat itu Zid

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 108

    Sedangkan David merasa khawatir karena sejak tadi Ayunda tidak bisa dihubungi. Bukankah Ayunda mengatakan untuk tidak menghubunginya selama 1 jam saja? Tapi ini apa? Sudah berjam-jam wanita tersebut tidak bisa dihubungi. David pun semakin merasa cemas, dan dia tidak bisa diam saja. Segera menuju rumah Ayunda dan bertepatan dengan Wina yang sedang menggendong Ken di teras. "Selamat sore, Tenta," sapa David. "Iya." David pun menatap wajah putranya yang sudah terlelap dalam gendongan Wina. Kemudian kembali menatap Wina. "Tante, Ayunda sudah pulang ke rumah ya?" tanyanya. Tak peduli jika pun Wina kesal padanya, sebab kini lebih sering berkunjung ke sana. Yang terpenting bisa bertemu dengan Ayunda dan anaknya adalah hal yang membuatnya bahagia. "Ayunda pergi dengan teman-teman kantornya ke desa, tapi Tante juga lupa nama desanya. Katanya menginap di sana," terang Wina. David pun dibuat terkejut mendengar penjelasan Wina. Ayunda tak memberitahu jika dia akan perg

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 107

    Desa yang masih begitu asri, tempat dimana mereka akan memulai proyek untuk kemajuan desa tersebut. Sekaligus membuka lapangan pekerjaan, dimana penduduknya banyak yang merantau ke kota karena sulitnya mencari pekerjaan di sana. Ayunda sampai terkagum-kagum melihat desa tersebut. Terbiasa tinggal di kota membuatnya merasa nyaman dengan kondisi desa yang begitu asri ini. "Suaranya indah banget," kata Ayunda sambil membuka tangannya lebar-lebar menikmati udara segar yang berhembus. Kemudian dia pun menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskan secara perlahan. "Semua beban rasanya hilang," ucapnya lagi. "Iya, ini indahnya kebangetan," ucap Tere yang juga membenarkan. Perjalanan dari kota ke desa tersebut memakan waktu tempuh lebih kurang 7 jam, sehingga mereka pun tidak mungkin dalam satu hari pulang dan pergi. Apa lagi melihat pemandangan yang sangat indah ini. Tapi mereka sudah disediakan rumah oleh kepala desa tersebut untuk menginap selama satu malam ini.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status