Home / Romansa / After 30 / 37. Kencan yang gagal.

Share

37. Kencan yang gagal.

Author: Tamie_chan
last update Last Updated: 2022-09-01 12:24:44

Ruangan di dalam bioskop tidak begitu ramai, padahal kan sekarang hari minggu.

Mungkin banyak orang lebih suka menonton film-film di jaringan TV kabel berbayar daripada nonton di bioskop.

Sebenarnya Lia pun sama, dia malas nonton di bioskop. Dia lebih senang menonton drakor lewat ponselnya sambil rebahan.

Saat film sudah dimulai dan lampu-lampu telah dimatikan, tiba-tiba Ivan menyandarkan kepalanya di bahu Lia.

Lia sempat terkejut, dia berusaha menjauhkan bahunya agar Ivan tidak seenaknya bersandar di sana. Namun ternyata kepala Ivan terlalu berat sehingga membuat Lia sulit bergerak.

“Van,” panggil Lia. Namun Ivan diam dan berpura-pura tertidur.

Lia mendengus. Kalau hanya ingin tidur, kenapa harus mengajak dirinya nonton? Lia sudah kesal karena Ivan datang terlambat lalu dia pula yang harus mengantri membeli tiket dan sekarang Ivan malah tertidur.

Kalau bukan karena Anita dan Adam, Lia sudah enggan pergi dengan Ivan. Lia merasa tak sreg dengan sikap Ivan yang seenaknya.

Tiba-tiba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Putrinya Chaniago
blm jg up ya sedih
goodnovel comment avatar
Irawati Sianipar
update yg banyak dong thor
goodnovel comment avatar
Putrinya Chaniago
kaaihan lia tar skit mlah rapat Novi lgi yg wakilin
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • After 30   93. Sudah tak tahan.

    Lia terbangun dari tidurnya, dia sedang berada di atas sebuah ranjang yang sangat empuk. Rasanya nyaman sekali. Tapi dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, kulitnya terasa dingin saat menyentuh sprei super lembut ini. Lalu dengan perlahan tangan Lia masuk ke dalam selimut untuk memeriksa, ternyata benar di dalam selimut itu, Lia tak mengenakan apapun. jantung Lia berdebar kencang, lalu masih dengan perlahan dan sangat hati-hati, Lia mengangkat sedikit selimutnya dan dilihatnya didalam sana, dia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Lia menutup mulut dengan kedua tangannya, takut suara jeritannya memecah kesunyian. “A-apa yang sudah aku lakukan?” gumamnya bingung, karena Lia tak mengingat apapun. “Hmmm…” Lia tersentak dan menoleh ke asal suara rintihan tadi, ternyata benar saja, Revan tidur tepat di sebelahnya, mengenakan selimut yang sama dengan dirinya. Lia menelan salivanya, jantungnya berdebar makin kencang. Mungkinkah mereka baru saja melakukannya? lagi? set

  • After 30   92. lanjut tidak?

    “Ayo, Lia!” ajak Tinik sambil menarik tangan Lia yang sedang sibuk memasukkan nota ke dalam map. Karena uang yang diberikan Nyonya Cici tak cukup untuk membeli map ordner, Lia memutuskan membeli map plastik yang murah. “Kemana, Mbak?” tanya Lia bingung. “Kalau sudah jam setengah 4, kita harus turun, ketemu sales dan terima setoran mereka, sambil dengerin briefing dari Bos.”Masih bingung, namun Lia menurut saja. Lia di ajak ke garasi mobil, dan disanalah sudah berjejer banyak lelaki paruh baya, ada beberapa yang masih muda dan seumuran Lia. Lia melihat Anggi sedang membagikan makanan dan minuman dan sesekali beberapa seles menggodanya. Anggi tersenyum bahkan tertawa karena candaan para lelaki itu. Lia menelan salivanya, sedikit enggan bergabung dengan orang-orang ini, tapi dia harus bekerja, kan? “Nah, ini ada karyawan baru, namanya Lia,” ucap lelaki yang tadi bertemu Lia di ruang tengah dan bertelanjang dada. Untunglah sekarang dia sudah mengenakan kaos oblong tapi masih menggu

  • After 30   91. Tempat kerja baru.

    Lia menatap pantulan dirinya di cermin dan merapikan lipatan bajunya yang masuk ke dalam celana bahan kain warna hitam. Hari ini Lia mendapat panggilan interview di sebuah perusahaan distributor alat-alat listrik. Ya, memang bidang alat-alat listrik belum pernah Lia geluti sebelumnya. Karena semenjak lulus hingga sekarang, Lia hanya bekerja di perusahaan distribusi obat-obatan. Tapi, tidak ada salahnya mencoba hal baru, kan? lagi pula jika Lia mencari perusahaan yang sama seperti sebelumnya, dia takut gosip tentang dirinya pasti tersebar di beberapa distributor obat saingan perusahaannya sebelumnya.“Aku pasti bisa!” ucap Lia bermonolog, mengafirmasi dirinya dengan energi positif.“Oke,semuanya sudah siap, aku harus be_” tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan segera Lia mengangkatnya.“Halo, Van? aku lagi buru-buru, nih.”“....”“Halo? Van?”“Hatiku sakit,” jawab Revan dengan lemas.“Kenapa? ada apa?” tanya Lia, kaget. Lia Bahkan membeku di ambang pintu menunggu jawaban Revan.“Aku

  • After 30   90. Menyiksa.

    “Tlililit… Tlililit…’“Siapa sih, pagi-pagi gini…?!” Dengan mata masih setengah terpejam, Lia meraba-raba kasur busanya, mencoba mencari-cari di mana ponselnya berada. “Ini dia!” dengan lega, Lia berhasil menemukan ponsel yang ternyata tertindih tubuhnya sendiri. Saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, mata Lia langsung terbuka lebar, kantuk yang dari tadi masih menggantung di kelopak matanya seketika menghilang. “Revan?” pekiknya lirih.“Halo.”“Baru bangun?” tanya Revan dari seberang. Suaranya sama paraunya seperti Lia, sehingga Lia yakin jika Revan pun baru saja bangun tidur sama seperti dirinya.“Iya…” jawab Lia sambil tersenyum.“....”“Halo? Revan?”“Eh, ya. Kamu sehat-sehat saja kan?”Lia mengernyitkan alis, merasa aneh dengan pertanyaan Revan. “Ada apa?”“Ng… Nggak ada apa-apa.”“Hmmm… dasar aneh, oh ya, kemarin aku jalan-jalan sama Anita.”“jalan ke mana?” sambar Revan cepat.“Ke Mall, shopping sama jajan dimsum…”“Terus?” tanya Revan penasaran. Sebenarnya Revan i

  • After 30   89. Ulah Novi

    “jadi kamu sekarang sudah pindah? kos di tempat yang sama dengan Adrian?” tanya Tristan. Nada suaranya menunjukkan dia sangat terkejut.“Kenapa?”Lia tersenyum, “nggak apa-apa. Rumah itu juga kan, bukan milikku seorang, jadi memang ada rencana di jual. Aku cuma mempercepat pindahanku.”“Tapi Revan, kan, punya Vila, kenapa kamu nggak tinggal di sana saja?” cecar Tristan. “Kalian nggak lagi bertengkar, kan?”“Nggak kok, Villa Revan itu kan jauh, kemana-mana jauh, dan terlalu besar untuk aku tinggali sendiri, jadi aku memilih sewa kamar kos aja.”Tristan berpikir sejenak,”kamu tau? aku selalu siap membantu jika kamu butuh apapun. Jangan sungkan minta tolong padaku ya?”Lia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “terima kasih,” ucapnya lirih.“Aku heran! cuma di sini pelakor di sanjung-sanjung! dimana-mana yang namanya pelakor itu kan biasanya di maki-maki, di hajar sampai babak belur atau di laporin ke polisi! huh, dunia memang sudah mau kiamat!” ucap Novi sambil melirik sinis pada Li

  • After 30   88. Dunia memang sempit

    “Mbak Lia, nggak makan?” tanya Adrian yang sejak tadi memperhatikan Lia. “Eh? Makan kok,” Lia mencoba tersenyum sambil mengambil gelas jusnya dan meminumnya melalui sedotan. “Nggak napsu makan karena nggak ada Pak Revan, ya?” Celetuk Novi sambil menggigit kentang goreng dan tersenyum sinis pada Lia. Lia tak peduli, dia enggan menanggapi omongan Novi yang selalu sinis padanya. Lagipula jika dia meladeni Novi, Lia takut perayaan ulang tahun Adrian akan kacau. Lia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menghela napas, “Sudah jam sembilan malam, aku pulang dulu ya,” ucap Lia pada Adrian. “Loh, kenapa, Mbak? Acaranya sampai jam 12 loh. Setelah ini ada live perfomance aku, masa Mbak Lia nggak mau nonton?” Lia tersenyum kecil, “Anita besok harus kerja, aku nggak enak sama dia.” Adrian tampak kecewa, “paling tidak makanlah ini, dari tadi aku perhatikan Mbak Lia cuma minum jus,” Adrian mendekatkan sepiring spageti ke arah Lia. “Aku nggak mau Mbak Lia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status