Ben melangkah memasuki kafe dengan langkah mantap. Matanya mengitari ruangan, mencari sosok Sari di antara para pengunjung yang sibuk dengan obrolan dan cangkir kopi mereka. Setelah beberapa detik, pandangannya tertuju pada sebuah sudut yang agak terpencil. Di sana, Sari duduk dengan anggun, mengaduk cangkir kopinya perlahan sambil menatap pemandangan di luar jendela. Ben menghampiri Sari, menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa banyak bicara. Sari mengangkat pandangannya, menyambut Ben dengan senyuman tipis yang sulit diartikan. "Ben," Sari membuka percakapan, suaranya tenang namun penuh makna. "Terima kasih sudah mau datang." Ben menatap Sari dengan mata tajam. "Kenapa kamu ngajak aku untuk bertemu di sini?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Ia bukan tipe orang yang suka berlama-lama dalam ketidakpastian, dan malam ini pun tidak terkecuali. Sari meletakkan sendok kecilnya di atas piring kecil dengan gerakan yang lambat dan terkendali. "Aku tau kamu pasti bertanya-tanya tent
Wulan menggenggam kemudi dengan erat, mencoba tetap tenang saat mobilnya melaju menyusuri jalanan Jakarta yang mulai lengang di malam hari. Matanya terfokus pada lampu belakang mobil Ben, yang semakin jauh di depan. Ben tampak memacu mobilnya lebih cepat, seakan ingin menghindar dari sesuatu—atau seseorang. Wulan tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi firasat buruk terus menggelayuti pikirannya."Ben, kenapa kamu begini?" gumamnya pelan, masih berusaha untuk mengimbangi kecepatan Ben. Setiap kali ia mencoba mempercepat mobilnya, Ben tampak semakin jauh, hingga akhirnya, di sebuah tikungan tajam, Wulan kehilangan jejaknya."Astaga..." Wulan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, rasa frustrasi dan ketidakberdayaan membanjiri hatinya. Ia mencoba mengingat rute yang diambil Ben, namun jalanan malam yang sepi dan gelap membuatnya bingung. Dengan perasaan campur aduk, ia menekan pedal gas semakin dalam, berharap bisa menemukan jejak Ben, tapi usahanya sia-sia. Ben sudah menghilang dari
Beberapa hari sebelum acara peluncuran produk kecantikan milik Wulan, seluruh tim kembali berkumpul untuk memastikan segala persiapan sudah sesuai rencana. Ruangan rapat dipenuhi oleh hiruk-pikuk percakapan dan tumpukan dokumen, mencerminkan betapa pentingnya acara tersebut. Sari hadir dalam rapat ini, memenuhi permintaan Rain untuk membantu dalam hal dekorasi. Sebagai seorang dekorator yang berbakat, Sari diundang untuk memberikan sentuhan akhir yang diharapkan dapat menambah kesan elegan pada acara peluncuran tersebut. Saat Wulan memasuki ruang rapat dan melihat sekeliling, pandangannya langsung tertuju pada sosok wanita yang terlihat familiar. Alisnya sedikit terangkat ketika ia mengenali Sari, wanita yang beberapa hari sebelumnya ditemui Ben. Ada kilatan kejutan di mata Wulan yang berusaha ia sembunyikan dengan senyuman ramah. "Selamat siang semuanya." Wulan menyapa dengan nada hangat, meski pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan tentang Sari. Rain mengangkat wajahnya, memba
Sesampainya di rumah, Rain membuka pintu depan dan membiarkan Haru melangkah masuk. Wajah Haru tidak lagi menyimpan keceriaan yang biasanya menyambut ibunya ketika ia pulang. Ia meletakkan tasnya di kursi dan duduk diam di ruang tamu, pandangannya kosong. Summer, yang sedang sibuk di dapur, menyadari kehadiran Haru yang biasanya langsung memanggilnya. Kali ini, tidak ada suara riang dari putranya. Dengan segera, ia keluar dari dapur dan mendekati Haru. "Haru, ada apa, sayang? Kenapa wajahmu lesu begitu?" tanya Summer dengan lembut, duduk di samping Haru. Haru menatap ibunya sejenak, lalu memeluknya erat. "Teman-teman cerita tentang ayah mereka, Bu. Haru... Haru nggak tahu harus cerita apa. Haru nggak punya ayah," katanya dengan suara pelan, nyaris berbisik. Summer menatap Rain yang masih berdiri. Ia meminta penjelasan, namun Rain hanya menggelengkan kepalanya. Summer akhirnya mengelus kepala Haru dengan lembut, merasakan kesedihan yang mendalam dari kata-kata putranya. Ini ada
Pagi itu, suasana di rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Haru, yang biasanya ceria dan penuh semangat setiap kali hendak pergi ke sekolah, kali ini tampak murung. Wajahnya yang imut dan biasanya berseri, kini tertunduk lesu saat ia mengenakan seragam sekolahnya. Summer menatap anaknya dengan perasaan khawatir, tetapi berusaha tersenyum dan memberikan semangat pada Haru. “Haru jangan sedih, dong. Gimana kalau pulang sekolah, ibu sama Haru jalan-jalan? Kita ke taman bermain, mau?” kata Summer lembut, sambil membetulkan kerah seragam Haru. Haru hanya mengangguk pelan tanpa kata-kata, kemudian berbalik menuju pintu. Rain yang sudah menunggu di dekat mobil, membuka pintu untuknya. Saat Haru masuk ke dalam mobil, ia tetap diam dan tidak banyak bicara, hanya menatap kosong ke luar jendela. Summer yang mengikuti dari belakang, memasang wajah khawatir, dan Rain tahu apa yang sedang Summer pikirkan. "Kamu tenang saja. Nanti aku coba hibur Haru," ucap Rain, menenangkan Summer. Summer m
Di dalam ruang kantornya yang mewah, Sari duduk di belakang meja besar yang penuh dengan dokumen dan ponsel yang terus menerus dia intip, berharap ada pesan dari Ben. Jantungnya berdebar kencang setiap kali layar ponselnya menyala, tetapi kekecewaan selalu mengikutinya karena pesan yang dinantikan tak kunjung datang. Pikiran Sari dipenuhi oleh bayangan pertemuannya dengan Ben di kafe beberapa hari lalu. Dia ingat betul tatapan Ben yang terlihat bimbang saat mereka berbicara. Dia yakin Ben mulai goyah, mulai mempertimbangkan tawaran atau ancamannya. Namun, waktu terus berlalu dan Ben masih belum menghubunginya. Hal ini membuat Sari semakin gelisah dan kesal. Rasa gelisahnya berubah menjadi marah. Sari merasa kesabarannya mulai habis. Dia sudah terlalu lama menunggu, dan dia tidak akan membiarkan Ben melarikan diri dari tanggung jawab ini. Pikiran tentang bagaimana dia harus menekan Ben lebih keras mulai memenuhi benaknya. Dia tahu, jika ancaman yang lebih besar tidak dilancarkan,
Summer bisa merasakan perubahan halus pada ekspresi Rain begitu ia menyebutkan kedatangan Lili dan apa yang Lili inginkan. Senyuman Rain yang tadi hangat perlahan memudar, dan tatapannya sedikit berubah, meski Rain berusaha keras menyembunyikannya. Summer merasa bersalah karena telah membawa topik yang berat di momen seperti ini, apalagi di depan Haru yang sedang bersemangat tentang liburan. “Maaf, Rain,” ucap Summer dengan suara lembut, menundukkan kepala sedikit. “Aku tau nggak seharusnya aku bahas soal ini sekarang, tapi aku terbebani dengan permintaan Tante Lili. Maafin aku." Rain menggelengkan kepalanya pelan, berusaha meredakan kekhawatiran Summer. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Summer, menatapnya dengan lembut. "Nggak perlu minta maaf, Summer. Aku ngerti kamu hanya mau aku tahu, dan aku menghargai kejujuran kamu. Tapi, mungkin lebih baik kalau kita bahas ini nanti." Haru, yang sedang sibuk dengan makanan di depannya, tidak menyadari ketegangan yang muncul di anta
Lili maju, memegang tangan Rain. "Mama mengerti. Kamu duduk dulu." Rain mengikuti kemauan ibunya. Ia duduk, lalu menatap ke sekeliling. "Papa mana? Bukannya papa juga harus hadir, biar masalah ini bisa jelas?" Lili menggelengkan kepalanya. "Papa kamu nggak perlu tau soal masalah ini. Semuanya bukan keinginan papa kamu, tapi mama yang mau kamu ambil alih Guardian Group." Rain menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Ma, sepuluh tahun yang lalu, mama sudah dengar janji papa, kan? Papa janji ke aku kalau aku bisa sukses sebagai seniman, papa nggak akan maksain kehendak papa ke aku. Aku sudah mencapai semua itu, tapi kenapa mama masih intervensi karir dan jalan hidup aku? Apalagi, mama minta Summer untuk bujuk aku. Kenapa, ma? Aku butuh penjelasan dari mama." Lili mendengarkan dengan seksama, tatapannya tetap tenang meski ada kilatan emosi yang sulit ditebak di matanya. "Rain, memang benar, kamu sudah mencapai lebih dari yang pernah mama bayangkan. Kamu sudah jadi senima