Share

Bab 7

Author: Evie Yuzuma
last update Last Updated: 2023-05-12 04:09:52

“T--tapi, Mas. Aku gak mau pergi. Aku mau, kamu tanggung jawab sama apa yang sudah kamu lakukan malam tadi!” pekiknya seraya menepis tanganku. Ya Tuhaaan! Hampir pecah kepalaku jadinya sekarang.

“Kita pergi dulu, ya! Aku gak mau ada keributan di sini. Masalah itu, kita urus nanti.” Aku mengisyaratkan agar Meli nurut. Dia tampak menghela napas panjang. Beruntungnya dia tak keras kepala, lalu mengangguk dan menuruti apa yang kukatakan.

Aku menatap Ibu ketika Meli pergi ke kamar.

“Aku akan ajak dia pergi, Bu. Tadi malam ada insiden. Pulang kerja nanti aku ceritakan.” Aku berucap sambil menunduk. Enggan menatap wajah Ibu yang diliputi kemarahan.

Namun tiba-tiba Ibu terduduk dan menangkup wajah. Aku yang kaget lekas membangunkan tubuhnya.

“Bu, jangan nangis.”

“Hanum ke mana, Dan? Gimana nasib Mahe sama Daffa? Kamu kenapa gak cari mereka?” Ibu terisak.

“Maafin aku, Bu. Hanum suka bikin gara-gara terus, sih. Aku jadinya kelepasan. Nanti aku cari lagi. Kemarin aku seharian sampai malam cari dia, tapi gak ketemu. Aku akan merujuknya.”

“A—Apa? J—jadi k—kamu ceraikan menantu Ibu?” Kedua bola mata itu menatapku tajam.

“Maaf, Bu. Hanum itu selalu bikin aku kesal. Aku kelepasan. Nanti aku jemput dia. Pasti dia mau pulang lagi. Secara dia kan yatim piatu, mana ada tempat dia untuk bernaung kalau bukan di rumah ini. Aku yakin, dia akan mau aku rujuk.” Aku mencoba meyakinkan Ibu. Berdasarkan analisaku, Hanum pasti mau. Dia gak kerja, gak punya pemasukan, lalu pergi bawa dua anak kembar kami yang sedang aktif-aktifnya. Pasti dia akan mempertimbangkanku lagi.

“Cepet cari mereka, Dan. Ibu gak mau cucu mantu Ibu kenapa-kenapa.” Ibu mengusap air matanya.

“Mas, ayo!” Kudengar suara Meli.

Aku menoleh pada Ibu. Lekas kucium tangannya dan berpamitan.

“Aku pergi dulu, Bu.”

Dia tak menjawab hanya memandang ke arah Meli dengan tampak kesal. Aku yang merasa iba pada Meli lekas menarik tangannya agar segera keluar dari rumah ini.

“Maaf, ya, Mel. Gak tahu, kenapa Ibu tiba-tiba ke sini.” Aku meminta maaf padanya.

“Gak apa, Mas.” Hanya itu yang dia jawab.

Kami bersama melaju menuju kantor. Satu mobil dengan Meli dan melihat wajahnya tampak murung membuatku tak tega. Lekas aku memutarkan music yang ritmenya cepat agar bisa memperbaiki mood Meli. Sedikit banyak, aku masih ingat tentangnya dan kebiasaannya. Termasuk dia suka mendengarkan music dengan ritme cepat ketika tengah bad mood.

“Makasih, Mas.” Dia seperti paham dan mengulas senyum padaku.

Pakaian Meli disimpan dalam bagasiku. Hari ini kami lewati dengan baik. Kesibukan membuat kami lupa pada apa yang terjadi semalam.

“Mel, pulang nanti bisa kan cari kosan sendiri? Mas harus cari Hanum. Ibu sudah marah-marah.” Aku menatapnya.

“Iya, Mas. Sudah dapat info dari temen. Nanti sekalian lewat saja anter ke sana. Memang mau cari Mbak Hanum ke mana, Mas?” Dia menatapku.

“Mungkin coba ke panti asuhan. Dulu sebelum diangkat anak oleh Paman dan Bibi, dia tinggal di sana. Hanya saja lokasinya berada di luar kota. Jadi harus cepat-cepat. Tiga jam saja sih dari sini kalau gak macet. Ya, kalau macet lain cerita. Bisa lima jam,” tukasku.

Hatiku mengatakan kalau Hanum ada di sana. Namun Meli menatapku dengan pandangan nanar.

“Mas, kalau kamu cari lagi Mbak Hanum, gimana nasib aku?” tanyanya.

Aku terdiam, kuhembuskan napas kasar. Kutatap wajah cantik itu lekat-lekat.

“Kita gak ngapa-ngapain, Mel. Kamu gak akan hamil.” Aku menatap wajahnya yang tampak mendung.

“Kamu bisa yakin kayak gitu, sih, Mas? Kamu sendiri saja gak sadar. Apa kamu gak kasihan sama aku, Mas?” Dia memelas.

“Sudah, sudah! Nanti aku pikirkan lagi, ya! Namun, aku harus tetap cari Hanum. Dia bawa anak-anakku soalnya.”

Meli beranjak pergi. Dia tak memaksakan lagi kehendaknya. Aku harap dia paham. Tak semudah itu juga aku menikahinya walau memang sudah kelepasan mengucap kata talak pada Hanum.

Pulang jam kerja, aku mengantar Meli. Rupanya cepat juga dia mendapatkan kosan. Lantas aku berpamitan padanya.

Mobil yang kutumpangi langsung membelah keramaian kota Bekasi. Cianjur menjadi tujuanku kali ini. Sebuah panti asuhan di mana dulu Hanum diambil oleh Paman dan Bibi.

Aku sudah mengajukan cuti, Rasanya aku akan menginap di sana. Sebelum ke Cianjur, aku sudah menelpon Ibu. Dia harus ikut. Hanum hanya takluk pada Ibu. Andai aku pergi sendiri, mungkin walaupun ada, dia tak akan mau menemuiku.

Ba’da maghrib kami berangkat. Risna tampak tak suka aku mencari keberadaan Hanum. Dia selalu mendukung Meli dan menjudge kalau Hanum adalah pelakor. Karena keberadaannya, aku dan Meli tak jadi menuju ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.

Ya, aku tahu. Dia sudah sahabatan lama dengan Meli. Karena itu juga, Hanum gak betah tinggal di rumah Ibu karena Risna selalu bersikap judes padanya.

Perjalanan tiga jam kami lalui dengan selamat. Sekitar pukul sepuluh malam, kami tiba di depan sebuah rumah bercat putih. Gerbang berwarna biru yang tampak catnya sudah pudar sudah tertutup rapat. Rumah itu tampak sepi karena sudah waktu tidur semua pastinya.

“Bu, sudah pada tidur, gimana?” Aku melirik pada perempuan berusia sekitar lima puluh tahun yang merebahkan tubuhnya pada jok di sampingku.

“Sudah, nunggu saja di sini. Ibu bisa tidur di mobil. Nyari saja tempat parkir yang aman.”

Akhirnya aku setuju saran Ibu. Hanum, benar-benar merepotkan.

Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh terasa pegal. Tidur di jok mobil benar-benar tak nyaman. Andai lokasinya agak kota, mungkin sudah kucari penginapan. Namun, sayang, di sini kampung.

Pagi-pagi, Ibu sudah minta melajukan kembali mobil ke rumah panti tersebut. Benar saja, pintu pagar sudah terbuka. Tampak anak-anak berlarian pulang dari masjid yang lokasinya gak jauh dari sana. Dalam remang, kulihat sosok yang tak asing tengah menyapu halaman. Senyum pada bibirku mengembang. Lekas aku turun dan menghampirinya.

“Assalamuálaikum, Hanum!” sapaku pada perempuan yang dikerubuti anak kecil itu.

“Waálaikumsalam!” Aku sudah tersenyum senang. Tak salah lagi, itu adalah Hanum. Namun, ternyata bukan. Hanya postur tubuhnya saja yang mirip. Dia bukan Hanum. Dia orang lain. Mungkin otakku sudah gila, semua orang yang kutemui jadi mirip Hanum.

Aku pun bertanya padanya. Dia ternyata pekerja di panti asuhan tersebut. Dia membenarkan jika Hanum sempat datang, tetapi karena kondisi panti sedang kesulitan. Dia pun pergi lagi.

Aku menatap Ibu, dia bersandar lemas pada tepian gerbang. Rasa sesal kian melonjak. Apalagi Ibu yang sudah nangis-nangis terus memikirkan kondisi dua cucunya. Semua ini membuat kepalaku terasa hampir meledak.

“Kalau boleh tahu, ke mana katanya dia mau perginya, Bu?” tanyaku lagi pada perempuan itu.

“Kebetulan, kemarin ada dari orang yayasan pembantu memang sedang cari orang yang mau kerja. Hanum ada saya kasih alamatnya. Mungkin dia ke sana, Mas.”

“Boleh saya minta alamatnya, Bu?” tanyaku. Perempuan itu mengangguk, lalu sebuah kartu nama pun diberikan padaku.

“Jakarta?” Aku menatap sederet alamat itu. Lekas aku mengajak Ibu pulang kembali. Biar siang nanti aku sendiri yang mencarinya ke sana. Gila, masa dia mau bawa anak-anakku jadi pembantu. Ibu macam apa sih, dia?

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
ngapain juga bertahan dengan laki-laki PECUNDANG kayak lo di jebak aja nggak tahu masa iya orang nggak SADAR bisa ngadon kamu GOBLOOOOOOOOOOK
goodnovel comment avatar
Yani Sugiani
bagus banget ceritanya
goodnovel comment avatar
Nur Hanif
cukup bagus buat bacaan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 8

    “Jakarta?” Aku menatap sederet alamat itu. Lekas aku mengajak Ibu pulang kembali. Biar siang nanti aku sendiri yang mencarinya ke sana. Gila, masa dia mau bawa anak-anakku jadi pembantu. Ibu macam apa sih, dia?Perjalanan ini terasa melelahkan. Ibu duduk bersandar pada jok di sampingku. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Kami sempat mampir dulu istirahat dan membeli makan, tetapi Ibu tetap diam seribu bahasa. Jujur, aku jadi sangat merasa bersalah. Aku tahu, Mahe dan Daffa sangat disayangi Ibu. “Bu, mau apa minumnya?” tanyaku. Namun, Ibu tak menjawab. Dia hanya fokus menyuap, menghabiskan makanan pada piringnya. “Bu, nambah, ya, sopnya!” Aku menawarinya, tetapi lagi-lagi, dia diam seribu bahasa. Ya sudahlah. Aku pun akhirnya diam. Kami di sini bersama tetapi seperti orang yang tak saling kenal. Kadang bingung juga dengan sikap Ibu. Dia selalu lebih membela Hanum dan anak-anak dari pada aku. Padahal ‘kan yang tiap bulan ngasih uang ke dia gaji siap

    Last Updated : 2023-05-14
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 9

    “Maafin Ayah, Mahe! Daffa!” Aku keluar dari mobil dan berlari-lari menuju ke arah orang berkerumun. Mendengar anak lelaki itu meninggal. Rasanya seluruh duniaku hancur lebur. Senyuman manis Meli yang memabukkan, bahkan terasa menjadi memuakkan. Bukankah gara-gara dia aku menjadi terlambat mencari kedua buah hatiku. Bunyi ambulance meraung kencang. Aku terlambat. Ketiga korban tersebut sudah di evakuasi. “Mahe! Daffa!” Aku seperti orang gila. Berlari-lari mengejar ambulance yang sudah melesat membelah kemacetan.“Mas, Mas! Percuma, kalau lari gak akan ke kejar. Mas keluarga korban?” Seorang tukang ojek dengan jaket berwarna hijau meneriakiku. Aku berhenti mengejar. Kujatuhkan tubuh dan bersedeku di tanah. Rasanya percuma aku sekolah tinggi-tinggi, bahkan kini aku merasa benar-benar gagal menjadi seorang ayah. Sepeda motor dengan lelaki berjaket hijau itu berhenti di sampingku. Tanpa kuduga, dia menyodorkan helm padaku. “Ayo, Mas! Kita kejar ambulance nya. Paling dibawa ke rumah s

    Last Updated : 2023-05-15
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 10

    Aku berdecak. Sepertinya Meli sengaja hendak kembali menggagalkanku mencari keberadaan Mahendra dan Daffa. “Dengar, Mel! Saya harus cari anak saya! Dia lebih penting dari segalanya bahkan dari kamu! Paham?!” Tanpa terasa, emosi yang meluap tak tertahan. Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar benci dengan yang namanya perempuan. “M--Mas t--tapi?” Kudengar Meli hendak bicara lagi. Namun, aku lekas mematikan sambungan telepon. Perset*n dengan bibir manisnya kali ini. Apa dia gak tahu aku hampir saja gila membayangkan Mahe dan Daffa yang terkapar di rumah sakit tadi. Andai tadi bukan salah orang? Mungkin aku tak akan pernah memaafkan diriku untuk selamanya. Aku pulang dengan lunglai, di antara rasa kacau yang semakin menjalar. Pintu terbuka dengan lebar, ruangan yang rapi dan bersih menjadi pemandangan yang kulihat. Entah kenapa, makin hari, pemandangan ini terasa membosankan. Aku merindukan remahan biskuit yang bercecer, aku merindu celotehan dua buah hatiku yang biasanya menya

    Last Updated : 2023-05-15
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 11

    Aku pun turun menghentikan mobil dan mengatur napas. Rasanya berdebar sekali mau ketemu dengan Mahe dan Daffa. Aku merapikan rambut, lantas menyemprot parfum juga pada badan. Aku tak mau, ketika anak-anak kupeluk, dia menjauh karena bau. Namun, baru saja aku hendak turun. Dari arah berlawanan, sebuah mobil Alphard dengan plat nomor yang kukenal tiba-tiba berhenti di depan gerbang. Seorang security jaga lekas-lekas membukakan pintunya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Tak salah lagi itu mobilnya Bu Hana. Putri salah satu pemilik saham perusahaan ternama. Lalu, apa ini artinya jika Hana itu benar-benar Hanum? Ataukah Hanum memang bekerja di rumah Hana? Setelah alphard warna putih itu masuk, aku pun lekas melajukan fortunerku dan berhenti di depan gerbang. Lekas mematikan mesin mobil, berjalan keluar dan berdiri di depan gerbang. Seorang security menghampiri. “Selamat siang, Pak!”“Siang!” Aku mengangguk sopan, sementara itu kedua netraku memindai halaman luas yang tampak asri da

    Last Updated : 2023-05-16
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 12

    Pov Hanum Aku benar-benar tak habis pikir pada isi kepala lelaki seperti Mas Ramdan. Selalu saja menyalahkanku yang katanya gak bisa ngatur rumah, ngurus anak dan diri sendiri. Andai dia tahu, mengurus rumah sebesar itu dan harus menjaga dua anak kembar yang tengah aktif-aktifnya bahkan menyita sebagian besar waktuku.Di otaknya yang ada hanyalah yang capek itu dia karena habis kerja, sedangkan aku? Aku di rumah saja. Semua ini sebetulnya sudah sejak lama, hanya saja entah kenapa enam bulan terakhir ini semakin menjadi saja. Dia pun kerap menyendiri di ruang bawah dan bertelepon dengan entah siapa. Senyumannya lebar dan manis, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Ah, andai … andai secuil saja dia berikan senyum itu buatku. Mungkin lelah dan capek setelah seharian pontang-panting mengurus rumah dan anak-anak, sedikit terobati. Aku tak minta banyak hal, tak minta juga diberikan ART. Hanya meminta pengertiannya saja ketika tak semua pekerjaan bisa kuselesaikan. Namun, nyatanya tida

    Last Updated : 2023-05-16
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 13

    Pov Hanum.Tak terasa aku sudah beberapa hari tinggal di rumah megah ini. Setiap hari dipenuhi rutinitas yang menguras tenaga. Hanya saja, entah kanapa aku terasa ringan menjalanknnya. Selain karena sikap ramah Bu Pramesti, mungkin bisa dikatakan jika pekerjaanku sekarang adalah pelarian diri dari masalah yang menyita energi dan pikiran. Pagi itu, aku baru selesai menyiapkan sarapan ketika kulihat wanita paruh baya itu tengah duduk di ruang tengah dan tengah membersihkan wajahnya. Pantas saja, setua ini mukanya tetap mengkilap dan kulitnya tampak bersih dan kenyal. Rupanya dia memang rutin melakukan perawatan. “Bu, sarapannya sudah siap.” Aku menghampirinya sambil membawa alat pembersih kaca. Hendak kubersihkan kaca yang ada di depan. “Hanum, sini!” Bu Pramesti menepuk sofa yang masih kosong. Aku menatapnya dan menautkan alis. “Iya, Bu? Ada apa?” tanyaku. “Ibu lihat, kamu jarang sekali merawat wajah. Padahal ‘kan kerjaan rumah juga ada beresnya.” Baru saja dia menutup cream skinc

    Last Updated : 2023-05-17
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 14

    Pov Hanum “Nah itu Mbak Hana datang!” Mas Rega tampak sumringah. Aku ikut-ikutan menoleh pada pintu mobil bagian depan yang terbuka. Seketika netraku membulat menatap sosok cantik yang turun dari balik kemudi. Bukan karena wajahnya yang glazed, bukan pula karena tas brandednya yang dia tenteng atau karena gamisnya yang terlihat mahal. Namun, aku seolah melihat wajahku dalam versi lainnya. Pantas saja Mas Rega mengira aku Mbak Hana. Kenapa bisa, aku dan dia begitu serupa? Bedanya dia cantik dan aku kumal, itu saja. “Hay, Ga! Dari tadi!” Yang pertama disapanya adalah Rega. “Hay juga, Mbak. Duh makin ngefans saja jadinya gue, ya ampuuun … punya Mbak bening kek gini, dah!” Rega langsung mengusap wajah dan menghela napas. Hana tampak terkekeh dan mendekat. “Biasa aja kali, Ga. Ya kali kita mau branding terkait skincare, terus diri kita gak mewakilinya. Bisa-bisa dihujat pasar, Ga.” Dia ikut duduk dan menemani kami. “Mbak Hanum, ya?” Dia melirik ke arahku. Inilah pertama kalinya kam

    Last Updated : 2023-05-17
  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 15

    Bab 15 - Pov Hanum Beberapa hari berlalu dari kejadian itu. Namun, tak ada yang berubah. Kenyataan baru itu masih tetap sama. Bu Pramesti menyatakan kalau aku adalah putrinya yang hilang. Bahkan, esok hari, katanya seorang ART baru sudah didatangkan kembali dari yayasan. “Bu, katanya esok mau ada ART baru dari yayasan, ya? Lantas kerjaan saya gimana?” Sore itu, aku membawakan teh kamomil kesukaan Bu Pramesti. Sudah hapal lagi kebiasaannya jika setiap sore dia akan duduk di teras sambil menikmati kudapan ringan dan segelas teh beraroma kamomil. Dia bilang, teh herbal ini menjadi teman yang wajib. Semenjak mendiang suaminya berpulang dalam kecelakaan tragis di mana mobilnya rem blong dan akhirnya jatuh ke tebing. Menanti bayi Hana yang masuk ruang ICU terselamatkan dan mencari bayi Hanum yang tak kunjung ditemukan. Aroma daun teh herbal itulah yang menemaninya menghabiskan hari dalam penantian. Kata Bu Pramesti, aroma daun teh itu bisa mengatasi kecemasan dan sebagai terapi susah ti

    Last Updated : 2023-05-18

Latest chapter

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 42 - End

    “Hanum ….” Aku tengah mengusap seprai yang kosong seperti hatiku, ketika derit pintu terdengar. Sontak aku mengerjap ketika melihat sosok yang kurindukan datang dan berjalan masuk ke dalam kamar. “Apakah Hanumku sudah berubah pikiran? Apakah dia mau tidur bersamaku malam sekarang?” batinku meracau. Sementara netraku memperhatikannya yang berjalan dan membuka lemari pakaian. “Num!” Aku menatapnya yang ternyata mengambil selimut. Dia menoleh. “Ya, Mas.” “Kamu ambil apa?” Dia hanya mengangkat tangannya dan menunjukkan satu buah selimut yang dia ambil. “Kamu tidur di mana?” Dia yang sudah hendak melangkah, menoleh dan tersenyum. “Di kamar sebelah, Mas. Bareng anak-anak.” Aku beranjak dan menahannya. “Boleh Mas peluk kamu, Num?” Wajah sudah memanas, tetapi kukesampingkan rasa gengsi. Aku benar-benar merindukan dia. Sepasang mata bening itu menatapku sekilas. Namun sebuah anggukan membuatku merasa lega.“Sebentar saja, ya ….” Langsung saja kurengkuh tubuhnya. Harum yang mengu

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 41

    “Kata orang, titik terbesar sebuah rasa cinta adalah merelakan. Jika kamu benar-benar mencintaiku, kenapa kamu tak merelakanku pergi menjalani hidupku sendiri, Mas? Hmmm, kamu tadi sudah janji akan mengabulkan apapun permintaanku ‘kan, Mas?” Dia bertanya lagi dan menatapku. Kali ini lebih lekat, bahkan aku yang tak sanggup membalas pendar manik hitam itu dan memilih membuang pandang.“Mas?” Suaranya kembali terdengar, meminta jawaban. Aku mengangguk ragu. Semoga saja dia tak meminta yang bukan-bukan. “Katakanlah … asal jangan kamu meminta Mas untuk melepasmu kembali, hmm?” Aku sudah menahan napas. Rasanya seperti hendak mendengar pengumuman hasil siding skripsi. Dia menggeleng. Lantas mengangkat wajah dan menatapku dengan pandangan yang entah.“Alasan kamu kembali demi anak-anak ‘kan, Mas?” “Hmmm.” “Aku mau kita tidur di kamar yang terpisah sampai aku benar-benar yakin jika kamu telah berubah.” Hening. Aku menggaruk tengkuk. Permintaannya begitu berat kurasa bagiku yang sudah s

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 40

    Seratus gram emas batangan antam menjadi mas kawin pernikahanku yang kedua kalinya dengan dia dan dua cincin perak yang sama agar aku bisa juga memakainya. Setelah berpisah aku baru tahu kalau lelaki tak boleh memakai emas. Perempuan yang arti kehadirannya kurasakan setelah kusia-siakan. Ijab qabul kuucap dengan fasih. Sesekali kulihat wajahnya yang menunduk. Jujur, hati takut jika dia menolakku lagi. Kemarin ketika dia mendengar jika dia sudah menerima CV taaruf dari seorang istri kyai. Aku langsung mencari tahunya, hingga pada akhirnya aku bertemu dengan pucuk pimpinan pondok pesantren itu hanya demi satu hal, meminta bantuannya untuk menyerahkan profilku CV yang kubuat mendadak itu padanya. Aku tak banyak menuliskan detail diri. Percuma baginya posisi manager dan uang berlimpah, sebagai putri dari pemilik saham, dia pasti sudah punya semuanya. Aku hanya menuliskan satu hal. Aku ingin menebus semua kesalahanku padanya, menyayangi anak-anak dan membangun rumah tangga sakinah, mawadd

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 39

    “Han, Mbak Hanumnya sudah dipanggil Mama.” Aku mengangkat wajah, Mas Rega melirik ke arah kami. “Yuk!” tukasnya seraya membagi pandang padaku dan Hana. Hana bangkit dan meraih lenganku. Aku pun ikut berdiri dan melangkah mengimbangi langkah Hana yang lebih dulu mengayun. “Mbak, tangannya dingin banget.” Hana terkekeh seraya berbisik. “Gugup, Na.” Aku menjawab sejujurnya. Bahkan aku merasa jika saat ini lebih gugup dari pada ketika aku pertama menikah dulu. “Bismillah, Mbak … Insya Allah ini yang terbaik buat Mbak Hanum.” Hana kembali meyakinkan. Aku pun menuruni anak tangga perlahan, Hana menggenggam erat lenganku dan menemani meniti anak tangga satu-satu. Sementara itu, Mas Rega sudah berjalan lebih dulu dan kembali bergabung di ruang tengah. Aku hanya menoleh sekilas, tetapi tak bisa jelas melihat seperti apa sosok lelaki pilihan Mama. Barulah ketika titian pada anak tangga terakhir, aku mendongakkan wajah. “Hanum, sini, Nak!”Mama melambaikan tangan ke arahku yang mematung

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 38

    “CV-nya ada di rumah. Ummi sudah tunjukkan soft copy sama Bu Esti. Dia sudah pilih juga yang mana buat kamu. Mari ….” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Bukannya apa-apa aku tak mau melihat-lihat dulu. Namun melihat kesetiaan Mama pada almarhum Papa, hal itu saja sudah membuktikan jika lelaki yang meninggalkannya adalah lelaki terbaik, tak bisa tergantikan hingga sekarang. Karenanya aku juga yakin, kalau Mama tak akan salah pilih untuk anaknya. Semoga saja setelah aku memilih, Mas Ramdan akan berhenti mengejar-ngejarku lagi.Kami sudah tiba di teras rumah luas milik Ummi. Seseorang datang dan menyajikan minuman. Tak berapa lama Ummi permisi ke dalam, lalu kembali dengan satu map yang dia pegang.“Bu Esti, ini hard copynya. Kemarin Ibu sudah baca-baca semua yang dikirimkan melalui whatsapp.” Ummi menyerahkan amplop berwarna cokelat itu pada Mama. Aku menunduk menetralkan jantung yang tiba-tiba terasa lebih cepat berdegub. “Makasih, Ummi.” Mama menerimanya dan tersenyum padaku.“Bis

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 37

    “Ya sudah, nanti Mbak check kalau sudah sampai. Hati-hati kalau ada indikasi mencurigakan, kamu panggil keamanan saja, ya!” Aku wanti-wanti padanya. Sepulang dari psikolog kenalan Mama, aku tergesa minta di antar ke toko. Mahe dan Daffa pastinya sudah pulang juga kalau jam segini dan sudah di rumah. “Emang kenapa kok buru-buru banget, Num?” Perempuan paruh baya yang tengah memegang setir itu menatap padaku. “Hmmm, ada yang kirim paketan, Ma. Cuma rasanya aku gak ada pesan belanja online akhir-akhir ini.” “Salah alamat kali, Num.” Aku menggaruk kepala. Pikiranku juga sama, tapi kata Fitria memang benar namanya Hanum. Mobil berhenti juga. Aku turun dan lekas mencium punggung tangan Mama. Bergegas turun dan masuk ke dalam toko. Fitria tampak merapikan bekas makannya di atas meja. Biasanya memang dia suka makan kalau sambil kerja. Sudah kubilang gak apa, tetapi mungkin ada rasa tak enak juga. “Mbak, katanya sejam lagi?” Fitria bangun dan menyapaku. “Iya tadi ternyata lebih cepet

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 36

    Aku lebih memilih diam, tak menimpali mereka. Kugiring menuju parkiran. Aku baru hendak memarkirkan sepeda motor ketika pertanyaan dari mulut mungil Mahendra membuat pergerakanku terhenti.“Ma, kenapa, sih, Papa gak tinggal sama kita?” “Ayo cepetan naik, sudah mau ujan!” tukasku. Tak hendak menjawab pertanyaan mereka. “Jadi ke timezone sama Papanya gak jadi, Ma?” Mahe mendesak. “Iya, Ma. Mau main basket lagi.” Daffa menimpali. “Sama mau mobil lagi sama Papa, Ma.” Mahe juga tak mau kalah. “Sekarang kita pulang dulu, ya! Time zonenya belum buka.” Ah apa saja yang penting mereka diam. “Oh belum buka, Ma?” “Hmmm ….” “Bukanya jam berapa, Ma?” Duhhh … makin hari, mereka makin aktif. Makin saja membuatku kewalahan tentang pertanyaannya yang semakin detail. “Kita pulang dulu, ya, Sayang! Habis Mahe sama Daffa makan, bobok siang, nanti Mama lihat apakah Timezonenya sudah buka atau belum? Oke?” tukasku untuk menyudahi perdebatan yang pastinya akan panjang ini. “Okeee.” Aku pun melaj

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 35

    “Yah, Mama lupa. Jas ujannya gak kebawa.” Aku menghela napas kasar. Pada saat bersamaan, terdengar klakson dari arah belakang. “Duh, bentar, ya! Motor saya mogok!” Aku menoleh. Kukira orang yang kesal karena aku menghalangi jalannya. Namun, ketika aku menoleh, seketika sepasang mata ini mengerjap menatapnya. Seorang lelaki tersenyum dan bergegas keluar dengan sebuah payung menembus hujan. “Ayo naik mobil Papa!” tukasnya seraya berjalan mendekati Mahendra dan Daffa. Aku tersenyum ketika dia pun menoleh padaku. Aku dan dia sudah tak ada masalah lagi. “Num, ayo naik saja. Kebetulan tadi memang Mas mau ke sekolah anak-anak.” Lelaki dengan wajah tirus dan rambut gondrong itu mengalihkan perhatiannya padaku. Saat ini, anak-anak sudah berada di bawah payungnya. “Ahm, gak usah, Mas. Titip Mahe sama Daffa saja, ya … tolong anterin ke sekolah. Saya masih harus urus motor ini ke bengkel.” Kutepuk dua kali sepeda motor kesayanganku. “Gak apa, biar sekalian! Nanti pulang dari sekolah, kamu

  • APA KABAR MANTAN ISTRIKU?   Bab 34

    Pov Hanum “Seperti biasa, Num. Permintaan Mama kamu sama Ummi, minta dicarikan jodoh buat kamu. Apa kamu sudah membuka hati lagi untuk lelaki lain?” Dia memandang lekat wajahku. Pertanyaan yang bukan pertama kali kudapatkan dari pemilik pondok yang tiap bulan memang selalu mendapatkan bantuan yang cukup besar dari Mama ini. Aku tersenyum, lantas menatap perempuan itu dan mama bergantian, lalu setelahnya aku menggeleng perlahan. Mama menghela napas kasar, tetapi Ummi tetap tersenyum dan mengangguk paham. “Sampai kapan, Num?” Mama menatapku. “Sampai hatiku siap, Ma.” Satu jawaban yang membuat Mama kembali bungkam. Aku kembali fokus pada kehidupanku yang sudah tertata dengan lebih baik. Menjadi seorang single mom dan memiliki usaha agen skincare dan kosmetik membuatku memenuhi waktu dengan rancangan masa depan. Mama juga mendukung usahaku. Dia memberiku sejumlah modal dan kini aku sudah mulai membuka satu toko juga. Jaraknya memang agak sedikit jauh dari rumah, tetapi masih bisa d

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status