Home / Romansa / Suamiku Bos Galak / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Suamiku Bos Galak: Chapter 21 - Chapter 30

35 Chapters

Bab 20. Surga Dunia

Ternyata tes DNA yang dilakukan Anna dengan Mr. Jacky hasilnya positif. Anna sangat bahagia telah bertemu dengan ayah kandungnya. Orang tua yang selama ini tidak pernah ia kenali.Setelah mengetahui hasil tes DNA, Anna dan Sadam pun melangsungkan pernikahan. Malangnya, setelah Anna bertemu dengan ayah kandung, Neneknya yang tinggal di kampung meninggal dunia hingga wanita yang membesarkannya itu tidak dapat menghadiri pernikahannya. Acara pernikahan yang dilangsungkan di salah satu hotel mewah berlangsung sangat meriah. Hati Sadam sangat bahagia ketika Jagat, lelaki yang selama ini selalu menjadi rivalnya datang ke acara pernikahannya. "Terima kasih atas kedatanganmu," ucap Sadam puas ketika Jagat menyalaminya di atas pelaminan. Sorot mata Jagat begitu tajam."Sama-sama." Suara lelaki yang tengah merasa kecewa itu penuh penekanan. Jagat menghampiri Anna, namun Sadam melarang istrinya menjabat telapak tangan Jagat. "Aku cuma mau mengucapkan selamat, Sadam." Jagat sangat kesal karena
last updateLast Updated : 2025-03-31
Read more

Bab 21A. Jangan Tanya!

Anna benar-benar merasa bermimpi memiliki suami Sadam. Lelaki yang selama ini menjadi bos galaknya. Siapa sangka, dibalik sikap galak, Sadam mencintainya bahkan setengah jam lalu, mereka melakukan penyatuan. Meski awalnya perih, tetapi lama-kelamaan rasa perih berubah menjadi kenikmatan. Anna masih menatap lelaki yang berbaring di sampingnya. Kedua mata lelaki itu terpejam. Pandangan Anna menyusuri wajah tampan Sadam. Lalu, berhenti di bibir. Tanpa disadari, Anna memegang bibirnya yang sempat disentuh beberapa kali oleh Sadam. "Kamu masih mau?"Pertanyaan Sadam menyentak gadis yang belum mengenakan pakaian. Anna memalingkan wajah, menatap lurus ke langit-langit kamar. Dipikirnya Sadam sudah terlelap ternyata belum. "Annabel, kalau ditanya jawab! Bukan diem begitu!" sentak Sadam. Merasa kesal karena tak langsung dijawab pertanyaannya. Anna terlonjak kaget, menoleh. "Eng-enggak, Bos. Enggak mau lagi. Masih perih soalnya," jawab Anna meringis. Sadam menatap wanita yang berbaring di si
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

Bab 21B. Sayang

Suasana hening kembali tercipta. Anna melipat kedua tangan di depan dada. Ia ingin tahu, sebenarnya Sadam mau membawanya kemana? "Anabel!"Panggilan Sadam memecah keheningan diantara mereka. Anna menoleh, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Iya, Bos?" sahut Anna. "Sekarang status hubungan kita apa?Atasan dengan bawahan? Atau suami istri?" Pertanyaan yang disampaikan Sadam membuat kening Anna mengkerut. Dia tak mengerti maksud ucapan si Bos. "Dua-duanya," jawab Anna enteng. Tanpa beban. Sadam menarik napas dalam-dalam. "Jawab salah satunya. Kamu ini gimana sih? Maksud aku .... sekarang, saat ini, di luar kantor, kamu sama aku statusnya apa?" sentak Sadam. Wajahnya memerah, karena menahan emosi. Dalam hati Sadam menggerutu. Anna tak juga mengerti arti ucapannya. "Oh ... kirain ... ya habis, pertanyaan Bos gak jelas. Saya kan gak ngerti," kata Anna apa adanya. "Udah, jawab ... status kita di luar kantor apa sekarang?" desak Sadam seolah ingin Anna menjawab dengan jelas sej
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

Bab 22. Di Atas Pangkuan

"Filmya gak seru. Nyesel udah nonton. Biasanya kalau aku nonton sendirian, filmnya pasti seru. Ini gara-gara ngajak kamu, kenapa filmnya jadi gak seru? Menyebalkan sekali," gerutu Sadam saat keluar dari bioskop. Anna yang berjalan di samping Sadam, mengerucutkan bibir beberapa centi. "Besok-besok kalau kamu mau nonton, pergi sendirian aja. Gak usah ngajak-ngajak saya," timpal Anna pelan. Langkah kaki Sadam terhenti, menoleh pada wanita yang berdiri di sampingnya. "Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Kamu gak mau temenin aku nonton?" Anna memejamkan kedua mata, menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya yang ingin meledak. "Bukan begitu. Tadi kan kamu sendiri yang bilang, kalau nonton bareng aku, filmnya jadi gak seru."Sadam salah tingkah, menggaruk tengkuk kepala. "Udahlah jangan dibahas lagi. Kamu mau shopping gak?""Enggak. Aku pengen pulang.""Shopping dulu, nanti baru pulang. Ayok!"'Dasar bos sekaligus suami aneh, istri gak mau shopping dipaksa shopping. Bodo amat ah, su
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more

Bab 23. Pintu Dikunci

"Video apaan ini?" tanya Anna memicingkan kedua mata, menatap video yang diputar suaminya di layar laptop. "Ini sih bukan video, tapi film. Film Jepang?" Anna menoleh, menatap wajah Sadam yang berada di belakang tubuhnya. "Iya. Aku lebih suka film Jepang kayak gini. Mafia-mafia-an, driver-driver-an. Dari pada film di bioskop tadi." Sadam mengeratkan rengkuhan pada pinggang Anna. Wanita itu tak bisa berkutik, pasrah akan perlakuan Sadam yang mulai bergerilya. "Bos, tangannya bisa diem dulu gak?" "Emang kenapa?""Geli tau ...."Sadam tak peduli, meneruskan aksinya. Usai nonton film, keduanya mandi bersama. Di dalam sana, Sadam kembali memberikan nafkah batin yang entah sudah berapa kali. ***"Sayang, Sadam kenapa udah pulang dari hotel ya? Apa mereka bertengkar?" tanya Salsa ingin tahu penyebab anak tunggalnya dan menantunya pulang lebih cepat. "Kayaknya enggak. Sadam cuma kepikiran masalah kerjaan aja.""Emang kamu nyeritain masalah kerjaan kantor ke dia?" tanya Salsa sewot. Me
last updateLast Updated : 2025-04-05
Read more

Bab 24. Akankah Kembali?

Dug, dug, dug!"Sadam, Anna ... buka pintunya! Sadam ... dug, dug. dug!"Anna dan Sadam yang baru saja selesai melakukan hubungan suami istri terkejut. Bergegas turun dari tempat tidur, lalu masuk ke dalam toilet. "Bos, gak mandi dulu?" tanya Anna saat Sadam hendak membuka pintu usai mengenakan pakaian lengkap. "Kalau aku mandi dulu, nanti Papa curiga. Kamu duluan saja!" Anna tak berani membantah lagi. Dia masuk ke dalam toilet, mandi besar. Sadam mematut diri di depan cermin. Lalu keluar kamar, berjalan tenang ke pintu ruangan. "Ada apa, Pa?" tanya Sadam setelah mengenakan jas rapi. Damian menelisik penampilan anak semata wayangnya. "Kenapa pintu dikunci?""Emang dikunci?" Sadam pura-pura pilon. Mengecek handle pintu. "Pake nanya. Anna mana?"Sadam terkejut, mendapati pertanyaan papanya. Namun, Sadam berusaha tetap tenang. "Annabel ... Annabel aku suruh ke kantin. Papa ada apa ke sini? Harusnya Papa enggak usah ke kantor. Sekarang kan ada aku dan Annabel. Papa diam-diam saja
last updateLast Updated : 2025-04-06
Read more

Bab 25. Jangan Cuma Katanya!

"Bukan urusanmu! Kerja lagi sana!"Hati Anna sangat sakit dan tersinggung akan ucapan Sadam. Seolah Anna bukanlah istrinya. Anna terdiam, tak menimpali. Seketika Anna mulai ragu akan cinta Sadam. Apa mungkin pernikahan ini hanya terpaksa?Anna membatin sepanjang melakukan pekerjaannya. Mati-matian ia menahan air mata agar tangisannya tidak pecah. Belum satu jam lalu, mereka melakukan hubungan selayak dua pasang manusia yang saling mencintai dan menyayangi. Perlakuan lembut Sadam ketika berhubungan, sangatlah berbeda dengan keseharian. Jika keseharian Sadam sering membentak dan marah-marah, ketika sedang berhubungan suaranya begitu lembut dan penuh cinta. 'Apa semua itu palsu? Apa aku hanya dijadikan pemuas n4fsunya belaka? Astaghfirullah ....' Anna mengusap wajah dengan kasar. Menarik napas panjang, lalu beranjak keluar ruangan. "Annabel kamu mau kemana?" Sadam bertanya, namun pertanyaannya tak mendapat jawaban. Anna keluar ruangan dengan wajah ditekuk. Hatinya ingin marah tapi t
last updateLast Updated : 2025-04-07
Read more

Bab 26. Jaga Perasaan

Tiba di rumah sakit jiwa, Sadam langsung berjalan menuju kamar pasien bernama Juwita Rahayu, mantan kekasih Sadam dulu. "Sadaaaaammmmm ... lepasin! Lepasin tangakuuuu ... aku pengen Sadaaaamm ... Huhuhu ... Hahahahahaha ...."Lengkingan suara tangisan dan gelak tawa keluar bergantian dari mulut wanita yang telah lama menghuni rumah sakit jiwa. Sadam menelan air liur. Tubuhnya kaku di depan jendela kaca ruangan Juwita. Tiga perawat yang berusaha menenangkan Juwita sudah kewalahan. Pandangan dokter Indira beralih pada sosok lelaki yang tinggi tegap berdiri di ambang pintu. "Juwita, Juwita, Mas Sadam sudah datang. Itu dia ... Kamu lihat ke sana!" dokter Indira memalingkan pelan wajah pasiennya ke arah pintu. Bibir pucat itu seketika melengkung, kedua mata yang mencekung membeliak lebar. "Sa-Sadam ... Sadaaaam ... Sayang ... Sadam sayangkuuu ...."Kondisi Juwita terlihat tenang. Tiga perawat mengikat kedua tangan Juwita dan juga kedua kakinya. Mereka khawatir kalau tindakan Juwita me
last updateLast Updated : 2025-04-09
Read more

Bab 27A. Informasi

Setelah meyakinkan Anna, Sadam kembali melajukan kendaraannya. Meski belum sepenuhnya yakin, tetapi Anna tak lagi emosi, berusaha percaya akan ucapan Sadam. Sampai di kantor, keduanya berjalan beriringan. Anna menolak menggamit lengan Sadam, memilih berjalan lebih dulu. Sadam berusaha tidak tersinggung, hanya menghela napas berat, menggelengkan kepala berulang kali. Di dalam ruangan, Anna langsung duduk di kursi meja kerja. Menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Sadam memerhatikan Anna cukup lama. Perasaan bersalah menyusupi hati. Sadam memejamkan kedua mata, memijat pelipis lalu berusaha fokus melakukan pekerjaannya. "Mau makan siang dulu enggak?" tanya Sadam ketika waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Lepas salat Dzuhur tadi, Anna kembali bekerja, tidak mengajak Sadam makan siang seperti biasa. "Kalau kamu mau makan siang, makan duluan saja. Pekerjaan saya belum selesai," jawab Anna tanpa menoleh pada lelaki yang berdiri di sampingnya.Sadam tak menanggapi, berjalan
last updateLast Updated : 2025-04-10
Read more

Bab 27B. Diam-Diam

Anna masuk lagi ke dalam taksi. Menyuruh supir taksi melajukan kendaraannya. Kali ini Anna ingin pulang ke rumah, bisa jadi Sadam sebenarnya sudah di rumah. Tiba di halaman rumah keluarga Adiwilaga, tidak ada kendaraan pribadi suaminya. Anna turun dari taksi setelah membayar ongkos. Ia tak langsung masuk ke dalam rumah, berjalan sambil menenteng tas kerja ke bagasi. Memastikan, apakah mobil suaminya ada di bagasi atau tidak? Ternyata tidak ada. Berarti Sadam belum pulang. "Sadam kemana sih? Pergi kemana-mana kenapa enggak bilang?" gerutu Anna kesal. Menghentakkan kedua kakinya. "Anna!"Sebuah panggilan membuatnya membalikan badan. "Mama," pekik Anna tertahan. "Kamu ngapain di bagasi?" selidik Salsa, menghampiri menantunya yang berdiri di depan deretan mobil mewah. Sikap Anna salah tingkah namun ia berusaha tetap tenang. "Euu ... itu, Ma ... hm ...." Anna tidak ingin Salsa menaruh curiga kalau dirinya sedang ada masalah dengan Sadam. Anna menggigit bibir bawah, bingung menjawab.
last updateLast Updated : 2025-04-10
Read more
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status