Angin berdesir, membawa aroma anyir darah dan debu. Ardian terhuyung, menarik Sita ke balik reruntuhan toko kain Nenek Asih. "Sita, kau terluka?" "Hanya sedikit lecet, Ardian," jawab Sita, menahan napas. "Tapi pasukan ini… jumlahnya tak terhitung!" Api berkobar di sekeliling mereka, membakar sisa-sisa bangunan pasar. Langit gelap, dipenuhi burung-burung hitam yang menyeramkan. "Kita harus keluar dari sini," kata Ardian, matanya menyipit melihat celah diantara reruntuhan toko perhiasan. "Ada celah di sana, tapi…" Ia melirik luka di lengannya yang terus mengeluarkan darah. "Aku akan mengalihkan perhatian mereka," kata Sita, menarik pedangnya. "Kau pergi dulu." "Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Ardian memegang erat tangan Sita. "Ardian, dengarkan aku! Ini satu-satunya cara. Pergilah, dan cari bantuan!" Sita mendesak, suaranya penuh tekad. Ardian ragu sejenak, lalu mengangguk berat. "Baiklah… tapi janji padaku, kau akan menyusul." Sita tersenyum tipis, "Janji." Ardian berlari
Last Updated : 2025-03-04 Read more