Home / Romansa / Jodoh Dalam Perjanjian / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of Jodoh Dalam Perjanjian: Chapter 11 - Chapter 20

38 Chapters

11. Sambutan hangat

Setelah menempuh satu jam perjalanan, mereka pun tiba di tujuan. Anak-anak panti dan juga ibu pengurus menyambut kedatangan mereka di halaman depan. Sambutan itu begitu hangat. ternyata kehadiran Noura selalu dinantikan oleh mereka, dia sangat disukai oleh penghuni panti yang rata-rata anak usia lima hingga lima belas tahun. Ibu kepala panti mempersilakan Noura dan Prawira masuk."Biar saya ambil barang-barang dulu, Buk." Prawira pamit dengan sopan."Terima kasih, Nak." Ibu Hasna--kepala panti tersenyum ramah. "Kalau gitu kalian bantuin Mas Jaka ya!" ucap Ibu Hasna kepada anak asuhnya.Salah seorang anak perempuan enam tahun berlari dari arah belakang. Noura yang baru masuk ke ruang tamu tersenyum, bergerak turun, lalu menempelkan lutut ke lantai dan membentang tangan menyambut gadis kecil itu."Kak … Nou!" teriaknya sambil melambaikan tangan. Detik kemudian, dia berakhir di dekapan Noura."Citra, apa kabar, Sayang?" Noura mencium pipi gadis itu."Citra baik, Kak. Citra udah lama nung
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

12. Memikirkan kamu

Area panti itu lumayan luas dengan tiga gedung di setiap fungsinya. Satu gedung untuk kamar, serta ruang santai anak-anak. Satu gedung lagi untuk dapur, ruang makan sekaligus aula. Lalu, gedung yang lain digunakan untuk kantor dan ruang tamu. Dahulu di lokasi lama, panti itu memiliki banyak anak asuh, sehingga mendapat bantuan untuk memindahkan mereka ke tempat yang lebih luas.Hanya satu tempat yang belum mereka periksa dalam kawasan, yaitu halaman belakang, tempat bermain outdoor. Citra tidak mungkin keluar area panti, jadi Noura pun mengajak suaminya ke taman belakang. Mereka langsung menuju area bermain bajak laut, dan Citra benar ada di sana. Gadis itu sedang bersembunyi dalam perosotan yang berbentuk tabung."Citra?" Panggil Noura lembut, helaan napasnya lega setelah berhasil menemukan gadis kecil itu. "Kamu ngapain di sini, Sayang?"Citra sedang menopang kening di lutut yang dipeluknya, lalu menoleh ke samping. Tangisan yang dia tahan sedari tadi pun berderai sudah. "Kak Noura,
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

13. Definisi ketertarikan

Ucapan Prawira tegas, memandang lurus pada wajah cantik Noura. Membuat wanita itu terpaku sejenak, menyembunyikan perasaan gugupnya. Kemudian Noura mengangguk santai menanggapi dan menatap balik sang suami."Kenapa mikirin aku?" tanya Noura kemudian. Raut wajah dibuat setenang mungkin, berusahan tidak terlihat terpengaruh dengan ucapan pria itu."Ya karena menikahi kamu ternyata adalah pilihan tepat,” jawab Prawira tersenyum tipis. “Kamu bukan hanya baik dan patuh sama Ayah. Kamu juga sangat menyayangi anak-anak. Pasti rasa sayang kamu ke anak-anak kita nanti bisa lebih daripada tadi," ujarnya jujur, yang sebenarnya pria itu rasakan. Sepertinya, semakin hari rasanya dia benar-benar semakin jatuh cinta pada Noura.Namun, wanita itu mengerutkan kening sebagai reaksi menyembunyikan rasa gugupnya. "Apaan sih, Mas?"Noura jadi berpikir, apa pria itu mulai menganggap serius dengan pernikahan mereka? Tidak, ini tidak mungkin bisa diterima, Noura pasti tidak akan serius, karena hatinya sudah p
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

14. Kehadiran sosok mencurigakan

Suasana di kantor kelurahan telah riuh ketika Prawira dan Noura sampai. Banyak warga berkumpul di halaman dan dalam aula. Mayoritas warga yang bekerja di sawah dan ladang, menyempatkan hadir di sela waktu. Ada juga kalangan ibu-ibu yang datang meski repot dengan momongan mereka. Seketika balai desa itu dipenuhi warga yang datang karena penasaran dengan kejadian ini.Setelah berhasil melewati kerumunan, pasangan pengantin baru itu masuk ke dalam langsung menemui Pak Lurah. Sosok sang ayah terlihat sedang berbicara dengan Pak Usep dan Pak Dadang. Rapat sepertinya masih belum dimulai."Ayah, ada apa ini?" Noura langsung bertanya setelah mendekat.Pak Sugiarto berbalik, lalu menyahut panggilan Noura. "Noura, Jaka, bagus kalian sudah datang. Keduanya mengangguk bersamaan."Jadi benar, ternak Pak Usep dan Pak Dadang sudah ketemu? Di mana, Yah?" tanya Noura kemudian."Ayah juga tidak tahu. Kata Pak Dadang ada yang bantu cari dan bawa pulang. Langsung diantar ke rumah. Rapat ini juga ayah ta
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

15. Kecurigaan

Warga sangat antusias saat sembako mulai dibagikan. Satu persatu warga berbondong bondong mendekat pada dua orang pria tegap di luar pintu. Suara riuh dari banyaknya mulut membuat suasana kelurahan desa itu seketika ramai. Para rombongan ibu-ibu mendesak ke depan. Sedangkan yang bapak-bapak menunggu giliran belakangan. Sesuai slogan, 'wanita selalu terdepan, laki-laki harus mengalah'."Sabar ibu-ibu! Semua pasti kebagian!" teriak pria yang membagikan sembako. Kerumunan itu sudah hampir seperti kerusuhan.Dari kejauhan, Pak Sugiarto masih bersama dengan Pak Hernanto di dalam aula. Masih ditemani Prawira dan Noura ikut mendengarkan semua pembicaraan. Mereka merasa harus mendampingi sang ayah dalam keadaan ini."Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak. Warga terlihat sangat senang dengan pemberian Anda. Semoga kembalinya Anda ke kampung ini, bisa saling berbaur dan merasa nyaman. Tapi, lain kali kalau mau mengadakan keramaian, tolong izin ke saya dulu, ya?" tutur Pak Sugiarto sekedar
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

16. Cemburu

Godaan seperti ini memang sudah biasa Prawira dapatkan. Meski tidak menanggapi, tapi setidaknya dia tidak menolak. Anggap saja untuk hiburan. Karena sikapnya yang selalu ramah kepada siapa pun, orang-orang jadi semakin suka mengajaknya bercanda.Keduanya gadis remaja itu tertawa karena gombalan mereka sendiri. Prawira masih tersenyum seperti biasa mendengar godaan dari keduanya. Hingga mereka pun menjadi histeris melihat pesona seorang Prawira."Aaaa … Mas Jaka, cukup! Aku nggak kuat, pesona Mas Jaka meluber-luber ke mana-mana. Aku sampai kejang-kejang," rengekan salah satu remaja."Iya, Mas … jangan. Sebelum nikah aja pesona Mas Jaka udah menggegerkan Kampung Ciptoasih. Kenapa setelah menikah makin menjadi-jadi?" Remaja perempuan lain menanggapi.Percakapan itu otomatis membuat Prawira menahan tawa dan menggelengkan kepala. Kedua remaja itu melompat kegirangan karena reaksi Prawira yang semakin mereka suka. "Apa pun ekspresi wajah Mas Jaka, aku suka. Nggak kalah sama aktor-aktor Kor
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

17. Malam dingin

Hujan lebat sudah membasahi jalanan Kampung Ciptoasih sejak satu jam lalu. Malam sudah beranjak semakin larut. Noura yang telah meringkuk dalam selimut hendak berlanjut ke peraduan. Prawira yang masih berdiri di samping tempat tidur memandangi lantai yang terdapat karpet biasa dia tiduri. Selimutnya masih terlipat rapi di atas kasur. Dia terlihat enggan untuk membentangkannya di bawah."Noura, kamu sudah tidur?" tanyanya sambil duduk di ranjang. Sang istri hanya menjawab dengan gumaman kecil. "Saya tidur di atas, ya?" tanyanya kemudian.Mata Noura langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan Prawira. Dia melirik tajam pada pria itu. "Apa, Mas?""Kamu tidak melihat, hujan lebat di luar. Kamu mau biarkan saya mati kedinginan di bawah?" Dia langsung masuk ke dalam selimut tanpa menunggu persetujuan dari sang istri."Mas!""Tenang saja, saya tidak akan apa apakan kamu. Saya cuma mau tidur dengan nyaman," kilahnya membenarkan selimut pada dada. Kemudian melirik sekilas pada Noura yang mende
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

18. Masalah baru

Noura berteriak spontan karena terkejut, tangannya bergerak cepat dan tiba-tiba mendorong Prawira hingga jatuh ke lantai. Terdengar bunyi gedebuk dari bawah sana, Prawira mengaduh."Astaghfirullah, Noura. Ini kedua kalinya kamu buat saya jatuh!"Noura yang tidak sadar dengan perbuatannya, segera bangun dan melihat ke bawah. "Mas? Maaf, Mas. Mas sih yang ngagetin." Pria itu tampak jatuh dalam posisi tengkurap."Ya jangan didorong juga. Baru beberapa hari nikah, saya sudah dua kali kena KDRT," ujarnya lagi. Pria itu berbalik langsung duduk dan memegang puncak hidungnya.Noura masih di atas tempat tidur, duduk bersila sambil bersedekap. Sedikit tidak terima dengan ucapan sang suami. "Masa begitu saja dibilang KDRT, Mas? Mas juga ngapain tidur peluk-peluk. Semalam kan sudah dibatasi guling!" Namun, dia hampir tertawa melihat pria itu saat mengusap hidung. Sepertinya puncak hidung mancung itu terbentur lantai dan telah memerah."Kamu yang mendekat dan peluk saya duluan. Guling juga kamu ya
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

19. Hak sebagai suami

Bukan hanya di satu toko saja tepung tidak tersedia di pasar. Sebelum berangkat ke pasar besar, Prawira memastikan kembali bagaimana kondisi pasar yang biasa mereka datangi. Stok memang ada tapi hanya untuk pembeli kecil atau perorangan. Sedangkan untuk mereka yang membutuhkan banyak, tidak akan dijual. Pasalnya, dari agen pemasok besar belum memastikan kapan barang akan dikirim. Tampaknya, mereka memang harus pergi ke pasar besar di kabupaten. Demi mendapatkan bahan yang mereka butuhkan. Di pasar kabupaten, mereka malah dikejutkan dengan kelangkaan sama persis dengan pasar di wilayah kampung. Tidak hanya langka, harga yang dijual lebih mahal dari biasanya."Bagaimana ini, Mas?" tanya Kardiman saat mereka di dalam mobil.Prawira belum bisa memutuskan sendiri. Dia harus menghitung pemasukan dan pengeluaran terlebih dahulu. Harus disesuaikan juga dengan bahan lainnya. Isaha bisa rugi besar jika salah memutuskan."Sebelumnya tidak ada informasi akan ada kelangkaan seperti ini, Mas. Bias
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

20. Seorang yang penting

Prawira yang gagal, terdiam tak bisa berkata apa-apa. Keningnya dia lekatkan ke pintu, hingga terdengar bunyi ‘tuk’. Dengan wajah kecewa dia menghela napas panjang. "Siapa yang tiba-tiba telpon, ganggu orang saja." Geramnya dalam hati. Helaan napas berat sekali lagi, lalu pria itu berbalik. Dia memilih mengamati, mencari tahu siapa orang yang menelpon sang istri.Noura nampak tersenyum saat melihat layar ponselnya. Tanpa berpikir dia menggeser tombol hijau itu. "Haii …."Pandangan Prawira menyipit begitu melihat reaksi Noura setelah mengangkat panggilan itu. Suaranya terdengar lembut dan manis. Tidak perlu menebak lagi, dia sudah yakin siapa si penelpon. Raut wajah pria itu langsung berubah gelap. Beberapa hari ini dia merasa hubungannya dengan Noura bisa sampai ke tahap baru. Tidak adanya gangguan dari orang yang dikatakan telah mengisi hati sang istri. Namun, kali ini sepertinya dia sedang diuji oleh takdir. Tampak wajah Noura sangat senang, d
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status