Semua Bab Please, Ceraikan Aku!: Bab 11 - Bab 15

15 Bab

Bab 11. Tangisan Gadisku

***“Bunda, emang harus ya kami gantiin karyawan bunda entar malam?” tanya Candu saat aku sudah memarkir mobil.“Wajib, Sayang. Kalian tidak sedang punya banyak tugas. Bunda tidak menerima alasan. Bunda sudah beri tahu dari Minggu lalu ‘kan? Kalian bantu gantiin karyawan di acara pertunangan anak koleganya bunda. ” “Kak Candu kenapa sih? Ya kan tidak setiap hari kita membantu Bunda. Toh kita juga tidak memiliki kesibukan apa-apa,” ujar Candi dengan lembut. Ucapan Candi membuatku tersenyum. Anakku yang satu ini memang sangat lembut. Aku melirik lewat spion dalam, Candi terlihat sendu. Wajah yang selalu dihiasi senyuman, tak nampak terlihat. Apa dia sedang punya masalah yang ditutupi dariku?“Ahhh, Bunda! Tapi aku sedang malas, jadwal nonton ku di ganggu. Aku sekarang lagi penasaran. Udah episode dua puluh, Bun! ” tutur Candu sambil menghentak-hentakan kaki. “Bunda tidak menerima bantahan, Sayang. Ini wajib, perintah dari bunda yang harus kalian ikuti. Kalian tidak boleh membantah. L
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-09-26
Baca selengkapnya

Bab 12. Pertemuan Tak Terduga

Setelah berbincang dengan Candu, aku pun ke kamar meninggalkan Candu yang hanya terdiam. Mungkin dia bertanya-tanya tentang alasan atas semua ucapanku. Aku sungguh belum bisa menceritakan semuanya pada mereka.Mungkin di luar sana banyak orang yang akan menilai jika aku adalah seorang ibu yang jahat. Aku tak akan marah dengan pikiran mereka. Aku akui memang jahat karena tak membebaskan kedua putriku untuk dekat dengan lelaki diluar sana. Bahkan aku mengekang mereka untuk tidak menjalin hubungan asmara saat ini. Entah sampai kapan, aku juga belum tahu. Rasa takut ini terlalu menggerogoti dan menjadikan mereka sebagai tumbal atas rasa takut.Tepat pukul tujuh, aku keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih. Di tangan, ada tas putih. Tak lupa, aku juga memakai high heels berwarna putih. Sedangkan baju yang aku pakai berwarna hitam dan kepala dibaluti jilbab yang juga berwarna hitam. Aku berusaha untuk berpenampilan elegan.“Candu, Candi, apakah kalian sudah selesai bersiap-siap?”
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-09-27
Baca selengkapnya

Bab 13. Sebuah Kejujuran

Ya, perempuan yang berkata pada Mas Anjas adalah Ana. Perempuan terjahat yang pernah aku kenal. Perempuan polos yang berhati munafik. “Vara,” lirih Ana sambil menatapku kaget. Mas Anjas tidak berpaling pada Ana, sedari tadi dia hanya menatapku. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang, itu bukan lagi urusanku. “Vara kita perlu bicara,” ucap Mas Anjas masih dengan tatapan yang tajam. Aku langsung menunduk. Berusaha pura-pura tidak mengenal Mas Anjas, namun nyatanya dia enggan untuk mengikuti. Kenapa bibirnya terlalu lancang menyebut namaku dan mengajak untuk berbicara. Nisa mengusap lenganku. Bibirnya pun berkata, “Var, kamu kenal dengan Pak Anjas?” Meskipun berkata dengan lirih, aku dapat mendengar. “Yuk pulang. Tempat ini tidak baik untuk kita. Nisa tolong kamu tetapi berada di sini sampai acara ini selesai,” ujarku sambil menoleh pada Candu, Candi dan kemudian Nisa. “Iya, Bun. Yuk kita pulang,” tutur Candu, sedangkan Candi, sedari tadi dia hanya menunduk. Baru saja ingin
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-10-04
Baca selengkapnya

Bab 14. Seorang Ayah (POV Anjas)

*** Malam ini aku bertemu dengannya. Perempuan yang sudah hampir dua puluh tahun hilang entah kemana. Ahh, bukan hilang. Lebih tepatnya melarikan diri dari kehidupanku. Tak ingin menyalahkannya, aku lah yang pantas disalahkan. Lelaki yang tidak bisa tegas dengan hidup. Lelaki yang telah menorehkan luka pada perempuan tersayang. Andai saja saat itu aku bercerita jujur. Andai saja ketika itu, aku tak menyangkal. Mungkin dia tak akan pergi dariku. “Aku tidak akan lagi melepaskan kamu, Vara. Apalagi kamu pergi dengan membawa anak-anakku. Kenapa menyembunyikan mereka dariku. Ternyata aku memiliki anak dari kamu. Ternyata aku telah menjadi seorang ayah. Begitu kecewanya kah kamu, hingga tak berkata apapun saat pergi,” lirihku. Namun lantas terdiam. Aku terus saja berpacu mengejar mobil yang takut jika hilang dari pandangan. Dalam keheningan,bibir pun kembali berkata lirih, “pantaskah aku disebut sebagai seorang ayah. Selama ini aku tak pernah membiayai hidup mereka.” Rasa bersa
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-10-04
Baca selengkapnya

BAB 15. Tak Ada Kesempatan (POV Anjas)

“Kamu membiarkan aku berjuang sendiri. Kamu tidak pernah mengakui jika telah menikah dengan Ana, tetapi kamu juga tidak menjelaskan apapun padaku. Kamu membiarkan aku merasa bersalah. Kamu membiarkan aku menunggu tanpa kepastian, kapan akan pulang. Aku menunggu kamu di Rumah dalam keadaan khawatir, takut kamu kenapa-napa. Saat itu aku sedang hamil muda, Mas. Dokter menyuruhku untuk beristirahat total, tetapi aku tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang sedangkan kamu tidak ada kabar. Dengan semua kekhawatiran itu, nyatanya kamu sedang berada di tempat aman dalam keadaan yang sangat bahagia. Siapa perempuan yang tak akan kecewa melihat kenyataan itu?” Aku hanya mampu mendengarkan dengan perasaan yang sangat merasa bersalah. Sejahat itu aku! Seharusnya bisa menjelaskan sejak dulu. Jika memberitahu Vara sejak dulu, dia pasti lebih bisa menerima dan memaklumi. Bukan lari dan pergi jauh dariku. Aku yakin jika Vara bisa memaafkan, jika aku lebih dulu jujur padanya. “Kamu tahu nggak
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-10-04
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status