Sekar berdiri di samping ranjang, menatap wajah Andika yang tirus dan pucat. Nafasnya teratur, tetapi kosong, seolah hanya bergantung pada mesin yang berdengung pelan di sudut ruangan. Dadanya terasa berat, seperti ada beban yang menekan kuat, menolak untuk melepaskan.Dia menyentuh tangan Andika sekali lagi, terasa dingin dan tak berdaya. Kilasan kenangan masa lalu berputar di benaknya, tawa hangat, janji-janji manis, dan cinta yang pernah begitu dalam. Meski pengkhianatan telah melukai hatinya, tidak bisa dipungkiri bahwa cinta itu masih ada, tersisa di relung hatinya yang terdalam.Sekar mengusap air matanya yang mengalir perlahan. “Kenapa harus berakhir seperti ini, Mas?” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara mesin yang terus berdetak. “Jika waktu bisa diputar ulang... mungkin semuanya akan berbeda.”Dia menggigit bibir, menahan perasaan yang begitu mengoyak. Dengan langkah berat, Sekar mulai berbalik, memaksakan dirinya untuk pergi. Namun, sebelum membuka pintu, dia berhent
Huling Na-update : 2025-02-27 Magbasa pa