Semua Bab Pernikahan Kontrak dengan Ibu dari Anakku: Bab 111 - Bab 120

124 Bab

Emilia -- Menerima

Emilia menarik napasnya dalam-dalam. Kecewa? Iya. Namun, apa daya? Nasi sudah menjadi bubur. Mungkin memang takdirnya menikah dengan Kevin. Emilia mencoba tersenyum. "O-oh, begitu, ya?""Maafkan, Papa, Nak. Papa ingin yang terbaik untukmu," ujar Robert "Tidak masalah. Kalau begitu, kami Pamit, Pa." Emilia berbalik badan. Emilia menatap Kevin. "Kami sudah sepakat akan langsung pergi bulan madu. Iya, kan, Sayang?"Kevin membalas tatapan itu. Raut kesedihan dan kecewa terpancar jelas di sana. Pria itu mengerti mengapa Emilia sampai berbohong dengan mengatakan jika mereka akan pergi bulan madu. Emilia pasti benar-benar ingin segera pergi di hadapan mereka. Kevin tersenyum. Sambil menatap Robert, ia berkata, "Iya, Pa. Semalam kami sudah membicarakan ini.""Baiklah kalau itu keputusan kalian. Tap--""Sebelumnya aku minta maaf kepada Nyonya Mitha, Tuan dan Nyonya Aaron atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat," ucap Emilia dengan badan sedikit membungkuk, menjeda perkataan Robert. Aa
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-06-12
Baca selengkapnya

Perkara Gendut

Satu minggu sudah berlalu. Esok, adalah hari wisuda John. Saking tidak sabarnya, pria tampan itu masih berdiri di depan cermin dengan toga yang membalut tubuhnya. Betapa bangganya ia dengan pencapaian yang sudah diraih, dimana John lulus dengan nilai cumlaude. Tok tok tok! Terdengar suara pintu diketuk. "Sebentar!" seru John, yang kemudian bergegas membuka toga dan kembali menggantungnya di lemari. "Lagi apa, sih, lama banget buka pintunya!" cicit Bella yang menerobos masuk. Tak hanya Bella, ternyata Aaron pun turut. Aaron duduk di tepi ranjang. Sedangkan Bella berdiri tepat di depan John dengan tangan terulur memberikan kantong berisi kemeja. "Coba pake! Semoga saja ukurannya pas!" John menerimanya, tetapi tak lekas mencoba. Ia justru memeluk Bella, sangat erat. "Makasih, ya, Kak? Karena Kakak aku bisa kuliah dan membuat bangga Ayah."Tinggi badan mereka yang tak berbeda jauh, membuat Bella dengan leluasa mengusap-usap punggung John. "Tidak usah berterima kasih. Kamu lulus d
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-06-14
Baca selengkapnya

Wisuda

Di ruang makan, semua saling menoleh melihat Bella yang cemberut bahkan hampir menangis. "Ada apa, Nak?" tanya Belinda. Bella menarik kursi, lalu duduk. Dengan bibir mengerucut, ia menjawab, "Itu, Bu ... masa aku dibilang gendutan!"Aaron yang baru bergabung mengangkat kedua bahunya saat mertua dan adik ipar menatapnya. Aaron duduk di sebelah Bella. "Sayang? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud bilang seperti itu."Belinda menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Coba berdiri!" titahnya. Bella pun patuh. "Sini, berdiri deket Ibu!"Bella menghampiri. "Kamu sedang hamil, Nak?"Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Bella tercengang. Ia menatap Ibunya. "Enggak mungkin, Bu. Aku masih datang bulan. Tapi, memang tidak seperti biasanya. Hanya flek-flek sedikit saja. Hanya hari pertama saja yang cukup banyak.""Coba periksakan ke rumah sakit!" ucap Belinda sembari menatap Aaron. "Iya, Bu, dengan senang hati. Maaf, aku lalai, tidak memerhatikan Bella, Bu. Karena aku pikir siklus haidnya ba
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-06-17
Baca selengkapnya

Masuk Rumah Sakit - Pemeriksaan

Kamar bernuansa putih dengan tirai berwarna biru yang mengelilingi menjadi pemandangan pertama saat Bella membuka mata. Bella memegang keningnya saat bergerak untuk duduk. "Sayang?! Jangan banyak gerak! Berbaringlah!" ucap Aaron yang baru saja datang dan mendapati Bella hendak duduk. "Aku kenapa?" tanya Bella. "Tadi kau pingsan, Sayang."Bella mengernyit. "Pingsan?" Bella terdiam, mengingat apa yang sudah terjadi. Bella menghela napas. "Ya ampun! Aku sudah merusak acara John.""Tidak, Sayang. Ayok, aku bantu kau berbaring." Aaron menuntun Bella agar kembali merebahkan diri. Aaron duduk di kursi tepat di samping Bella. Ia menggenggam tangan istrinya itu. Bella menoleh. "Apa ada hal serius yang terjadi?"Aaron tersenyum. Pria itu mengusap perut Bella. "Kata dokter, ada kemungkinan kamu hamil."Bella membulatkan kedua matanya. Ada rasa senang sekaligus tidak percaya. "Bagaimana bisa? Kan, aku haid, Sayang.""Biar jelas, lebih baik aku panggilkan dokter. Tunggu sebentar." Aaron pun
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-06-22
Baca selengkapnya

Kekhawatiran Aaron

Dokter itu menyudahi pemeriksaan dan duduk menghadap Bella. "Kehamilan ini adalah kehamilan ektopik.""Maksudnya, Dok?" tanya Bella yang terlihat cemas. Dokter pun menjelaskan bahwasanya kehamilan ektopik adalah kelainan reproduksi dimana kehamilan terjadi di luar rahim. Kondisi ini sangat berbahaya bagi ibu dan janin karena menyebabkan janin sulit berkembang secara normal. Hamil di luar kandungan berisiko menyebabkan tuba falopi pecah. Komplikasi ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan dapat disertai gejala berupa nyeri hebat di bagian panggul atau perut dengan atau tanpa perdarahan hebat, pusing, dan pingsan. (Sumber : Google) "Pengidap kehamilan ektopik sering salah mengira bahwa pendarahan ini adalah menstruasi pada umumnya. Pada kehamilan ini, pendarahan sering muncul dan berhenti, berair, dan biasanya berwarna coklat gelap.""Iya, Dok, seperti itu cirinya," kata Bella membenarkan. "Jadi, bagaimana ini, Dok?" tanya Aaron. "Kehamilan tidak bisa dilanjutkan karena dapat memicu p
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-06-25
Baca selengkapnya

John -- Cinta Pada Pandangan Pertama

Bruk! John tanpa sengaja menyenggol pundak seorang perawat di koridor, yang membuat dokumen di tangannya terjatuh. "Sorry!" ucap John. Perawat itu tersenyum. "Tidak apa-apa." Sang perawat meraih dokumen itu.John hanya bisa memerhatikan karena sedang menggendong Alessandro dan menenteng satu tas kecil. "Mau besuk?" tanya perawat. "Iya, mau ke kamar VVIP."John tersenyum saat sang perawat itu tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih dengan satu gigi gingsul di bagian atas sebelah kanan. Sungguh terlihat manis di mata John. "Tampan sekali putranya," kata Sang perawat sembari mencubit gemas pipi Alessandro. "Ini keponakan saya. Saya masih single.""Ooh, masih single, maaf."Perawat itu tersenyum, lalu pamit pergi. Kepergian sang perawat ternyata menyisakan rasa penasaran di hati John. John ingin mengenal lebih jauh wanita itu. Tanpa berkedip, John melihat kepergian perawat itu sampai hilang di balik tembok. "Ah, ya Tuhan, maafin Om, Sayang." John tersadar saat Alessandro
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-07-03
Baca selengkapnya

John -- PDKT

Hari menjelang malam. Aaron baru saja mengantarkan Alessandro ke rumah sang mertua. Ia tidak akan membiarkan Alessandro tinggal di rumah sakit meskipun sang istri dirawat di kamar dengan fasilitas paling lengkap. Alessandro sudah bisa berjalan dan pasti ingin bermain di luar. Kekebalan tubuh Alessandro belum tentu kuat menahan segala virus yang ada di sekitar. Oleh karena itu, jalan terbaik adalah Alessandro tinggal bersama kakek dan neneknya. Mobil Aaron baru saja terparkir di area rumah sakit. Ia bergegas turun karena pasti Bella sudah menunggu, karena sang istri meminta dibawakan nasi serta sayur buatan Belinda. Aaron berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara dari orang yang sangat ia kenal, yakni Robert. "Apa kita bisa melewati hari tua bersama?" tanya Robert. "Entahlah."Aaron menajamkan pendengarannya. Rupanya Robert sedang bersama Mitha. "Apa cintamu sudah sepenuhnya hilang untukku?""Kita sudah tua, tidak usah bahas cinta.""A
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-07-08
Baca selengkapnya

Belinda -- Antusias

Di rumah sakit, ada Bella yang sedang berganti pakaian. "Sayang? Apa kau bisa hubungi Kevin?" pinta Bella. "Untuk?""Aku mau minta maaf kepada Emilia."Aaron yang sedang melipat baju kotor pun menoleh. "Sudahlah, kita tidak usah berhubungan lagi dengan wanita itu. Lagipula, kau tidak bersalah.""Aku mohon!" Bella memelas. Aaron menghela napas. Tidak ingin mengecewakan Bella, akhirnya Aaron menghubungi sahabatnya itu. "Oke, dia akan datang ke mari. Paling nanti sore mereka tiba di rumah sakit.""Terima kasih, suamiku!"Aaron tersenyum. "Sama-sama." Aaron melanjutkan kegiatannya. "Tapi, kok, kalau kau yang menghubungi Kevin, dia menjawab. Sedangkan aku, nomornya selalu tidak aktif.""Nomornya ganti.""Oh, pantas kalau begitu."Aaron sudah mengemasi baju kotor. Sedangkan Bella berusaha turun dari ranjang. Ia akan belajar berjalan. Aaron yang melihat dengan sigap membantu. Saat asyik belajar berjalan, Bella berkata, "Kok, Ale belum ke sini, ya?""Kenapa memangnya?"Bella sedikit men
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-07-09
Baca selengkapnya

Aaron -- Merasa Bahagia

Belinda menghela napas. Rasa iba berhasil bergelayut manja dalam benaknya. Dengan raut cemas, ia duduk di samping John. "John? Ibu tidak peduli dengan statusnya. Ibu sungguh merasa kasihan. Dekati wanita itu, ambil hatinya. Jadikan dia menantu Ibu."John bernapas lega. Bagaimana tidak? John pikir, tadi ibunya tidak akan merestui. Tetapi ternyata, jauh dari pikirannya. Sang ibu terlihat sangat menyayangi Patricia walau belum mengenalnya sama sekali. Mendapat lampu hijau, sungguh membuat John senang. Ia akan berusaha untuk mengabulkan keinginan Belinda. Keinginan sang ibu yang tentunya dibarengi dengan rasa cinta yang teramat, tentu saja akan ia perjuangkan. "Terima kasih, Bu. Tapi, bagaimana dengan ayah?""Ayah pasti setuju dengan keputusan Ibu. Tenang saja."John tersenyum lebar. "Selamat!" ucap Aaron. "Dan semangat!" timpal Bella cepat, sembari mengepalkan tangan. John mengangguk, lalu pamit ke luar. Belinda tersenyum. Sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu tentu bis
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-07-10
Baca selengkapnya

Dua Tahun Kemudian

Usia Alessandro kini sudah menginjak tiga tahun. Batita itu sangat lincah, cerewet, pintar dan pandai meniru apa yang orang dewasa lakukan. Dua tahun pula Bella menjalani program hamil. Tak kunjung hamil, kadang membuat Bella stress, putus asa. Sampai akhirnya Aaron menyarankan agar Bella mengantar Alessandro sekolah --play group. John, sudah dua tahun ini pria itu belajar tentang perusahaan, bagaimana cara memimpin dan bisnis lainnya. Semua dengan telaten Aaron yang ajarkan. Urusan cinta, jelas saja Patricia sudah resmi menjadi kekasihnya. Patricia pun sudah bekerja di sebuah rumah sakit di kota Birmingham. Semua ia lakukan agar dekat dengan John. Tak hanya pasangan kekasih itu yang pindah ke kota Birmingham, tetapi kedua orang tua Bella. Bukan kemauan mereka, tetapi Bella'lah yang ingin dekat dengan keluarga, walaupun tidak tinggal serumah. Ada Mitha dan Robert yang tinggal di Swiss. Kedua lansia itu memilih hidup berdua, menikmati masa-masa indah yang pernah hilang dahulu. Merek
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-07-12
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
8910111213
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status