“Kedip, Nduk. Malu,” bisik Ibu sambil menyenggol lenganku.Aku buru-buru menundukkan kepala dan mengikuti arahan mbak perias untuk duduk di kursi yang dibalut kain satin putih. Namun, sebesar usahaku untuk mengikuti ucapan Ibu, tapi mata sialan ini tetap kurang ajar melirik lelaki di sampingku.Bagaimana tidak, mendapati lelakiku mengenakan peci hitam dan berkalung rangkaian bunga melati. Rambut kecoklatan yang sedikit panjang menyebul kontras dengan warna peci. Siluet wajah yang sempurna, sungguh memaksa mata ini enggan berkedip.“Nduk.” Sekali lagi tepukan terasa di lenganku.‘Ck! Ibu ini, lo,’ gerutuku dalam hati, dan menghadapkan diri ke depan. Penghulu dan team mulai mengambil posisi. Begitu juga Eyang Jaya yang duduk di seberang meja, tepat di depanku.“Baik kita mulai, ya,” ucap Pak Penghulu sembari mengulurkan tangan dan disambut oleh Alexander. Ruangan hening seakan menunggu suara yang akan dikumandangkan.Seketika tubuh ini seperti tidak menapak di bumi. Ini seperti mimpi.
Terakhir Diperbarui : 2024-05-24 Baca selengkapnya