Share

Bab 8: Belum Usai

Penulis: Rihanna Roi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-26 18:10:36

“Bu Rika, terima kasih banget atas kerjasamanya,” kata Lara sumeringah. “Seneng bisa mengawal proyek ini sampai selesai, semoga SmartGrid sukses tiada usai!” ia berjabat tangan dengan Rika erat.

Hiruk pikuk memenuhi gedung perkantoran di kawasan Kuningan pagi itu. Lantai 23, markas perusahaan teknologi yang dipimpin Andreas ramai oleh dekorasi modern. Banner biru dan hijau bertuliskan SmartGrid: Powering Tomorrow menghiasi ruang utama. Karyawan berlalu-lalang, beberapa membawa kota souvenir, sementara tim media menyiapkan kamera untuk acara peluncuran produk. Aroma kopi, kue-kue serta catering memenuhi udara. Menciptakan suasana semangat.

Di salah satu sudut ruang rapat, Lara berdiri bersama Rika, kepala tim promosi. Ia mengenakan blazer cokelat dan celana jeans rapi. Tas selempang tergantung di bahu, sebagai tanda ia bersiap pergi. Di tangan terdapat gulungan kertas sketsa SmartGrid yang sudah jadi. Materi iklan sudah diangkat ke udara, terpampang dalam layar-layar besar.

Rika membal
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 9: Cahaya Dan Bayangan

    Saat Andreas pulang, pintu apartemen terbuka pelan. Rina masuk sambil membawa wadah berisi sop buntut dan nasi. “Kak, nih … Ibu titip. Katanya jangan cuma ngopi, makan yang bener.” Ia meletakannya ke wadah di meja. Lara melirik Andreas sekilas, penasaran sesuatu. “Wah, mukamu seger banget hari ini. Pulang juga nggak buru-buru kayak biasa. Ada apa?”Andreas menoleh sambol menyesap air, mengangguk santai. “Iya, hari ini lancar di kantor. Peluncuran SmartGrid sukses, jadi agak lega,” jawabnya, suara ringan tapia da kehati-hatian yang ingin disembunyikan.Rina mengangguk, lalu duduk di kursi sambil membuka ponsel. “Bagus dong. Seneng denger kakakku balik semangat. Ibu pasti lega mendengar kabar ini,” katanya. “Aku sih … tahu kamu bakal bangkit perlahan-lahan.”“Iya, Rin. Kasih tahu Ibu aku baik-baik aja,” kata Andreas. Ia lalu berjalan ke sofa dan duduk. Tak ingin membuka ruang untuk pertanyaan apapun lagi.“Baiklah, aku balik dulu. Sop buntut-nya jangan lupa dimakan, awas kalau cuma jadi

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 10: Pertemuan Hati

    Sore itu, kafe kecil di kawasan Senopati dipenuhi aroma kopi panggang. Mesin espresso bersuara pelan, meja-meja kayu sederhana berjajar rapi. Dari jendela besar membiarkan cahaya mantahari menyelinap masuk. Andreas dan Lara duduk. Andreas mengenakan kemeja putih, sementara Lara sweater cokelat longgar. Rambutnya disisir rapi dan di meja mereka terdapat kopi hitam mengepul. Segelas latte disesap Lara, memburamkan gambar hati di atasnya.“Jadi, ini tempat ngopi favorit Bos Besar?” tanya Lara dengan mata berkilat penuh godaan. “Aku kira bakal diajak ke kafe fancy yang pake gelas emas gitu.”Andreas tersenyum kecil, tangan memutar cangkir kopinya. “Nggak, aku suka yang sederhana untuk ngobrol santai. Di sini kopinya enak, nggak terlalu rame.”Lara mengangguk, menatap sekeliling. “Bagus sih, cozy. Aku juga lebih suka tempat kayak gini dibanding heboh. Apalagi abis kerja rasanya pengen duduk diam aja.”“Ngomongin kerja.” Andreas meiliriknya. “Setelah dari perusahaanku, kamu sekarang ngapain?

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 11: Kenangan Dulu

    Tumpukan sketsa menghiasi apartemen Lara. Lampu meja tua di sudut ruang tamu menyala redup. Milo, kucing oranye-nya meringkuk di atas bantal sofa. Dia mendengkur, menemani Lara yang duduk bersila di karpet. Ponsel menyala dengan notifikasi yang diabaikan sedari tadi. Pikirannya terpaku pada nama di layar: Rendra.Dengan napas berat, Lara akhirnya mengetuk pesan itu. Layar terbuka, menampilkan rangkaian kata yang membuat jantungnya bergetar. “Lara, apa kabar? Aku tahu udah lama banget nggak kontak tiga tahun ini. Aku kerja di USA, tapi minggu depan balik ke Indo bentar. Mau ketemu boleh? Ada yang pengen aku omongin.”Lara mengerutkan kening. Jarinya berhenti di atas tombol balas. “Udah bertahun-tahun, mendadak mau ketemu? Mau ngapain?” Nadanya penuh sarkasme. “Dasar nggak penting.”Setelah beberapa menit menatap layar, Lara mengetik balasan singkat. Ia tekan send, lalu meletakkan ponsel di karpet. Berusaha mengalihkan perhatian ke sketsa-nya. Tak sampai lima menit, sebuah pesan dari Ren

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 12: Garis Takdir

    Lima hari kemudian, di sebuah lapangan terbuka di kawasan Kemang, sebuah bazaar seni dan desain lokal digelar. Booth-booth kayu berjejer dihiasi lampu gantung dan kain warna-warna. Tempat itu menawarkan karya seni dan pernak-pernik handmade. Pedagang kaki lima juga andil menjajakan makanannya secara keliling.Lara berdiri di salah satu booth, mengenakan jaket denim longgar. Di depannya terdapat meja kecil berisi sketsa cetak dan stiker desain buatannya. Lara kadang mengerjakan proyek sampingan untuk menambah penghasilan. Ia melayani pembeli sambil mengobrol dengan mereka. Selama lima hari Lara mencoba melupakan kekesalannya terhadap Rendra dengan terus berkarya. Kepalanya refleks menepis bayang-bayang lelaki itu setiap datang.Tak jauh dari situ, Andreas melangkah masuk area bazaar. Ia datang atas saran Bima, asistennya yang bilang ada booth bertema teknologi di sini yang mungkin bisa dijadikanmitra proyek berikutnya. Lebih dari itu, Andreas butuh udara segar. Kantor terasa pengap akhi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-01
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 13: Langkah Pelan

    Pertemuan tak sengaja itu terasa berbeda bukan hanya karena kehadiran Rendra yang membawa ketegangan, tapi senyum Lara yang lagi-lagi meringankan beban dada. Andreas menghela napas, jari-jarinya memutar gelas air. "May, aku nggak tahu ini apa," gumamnya dalam keheningan malam. "Aku cuma ngobrol sama dia, tapi rasanya menyenangkan banget."Malam itu, langit Jakarta digantungi awan tipis. Andreas duduk di balkon apartemen sambil membawa segelas air. Benda itu menggantikan wiski yang menemani hari-hari sebelumnya.Pesan Lara menyadarkan Andreas dari lamunan: "Pak Bos, stikernya udah dipasang belum? Jangan cuma disimpan ya? Milo bakal sedih." Disertai emotikon kucing menangis.Andreas segera menanggapi gadis itu sambil membayangkan wajahnya. "Makasih buat sore tadi, seru banget liat kamu jualan. Bentar lagi aku pakai."Tak sampai semenit Lara menyahut: "Sama-sama, seneng kamu di sana. Tapi lain kali bantu jualan beneran ya. Aku kasih komisi 30%, pasti laris manis kalau yang handle ganteng

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-02
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 14: Mimpi Berharga

    Malam itu, dalam tidurnya Andreas bermimpi sedang berada di taman asing. Pohon-pohon tinggi mengelilinginya dengan daun bergoyang berisik. Di depannya Maya muncul dengan wajah pucat tapi lembut. Persis seperti sebelum kecelakaan. Ia mengenakan gaun putih sederhana. Rambut hitam Maya tergerai dan matanya menatap Andreas dengan senyum sederhana. Andreas ingin berlari memeluknya, tapi kakinya terasa berat seperti ditahan tanah."May?" panggilnya, serak penuh kerinduan.Maya tak menjawab, hanya tersenyum lebih lebar. Dia memeluk seorang gadis dari samping, yang rambutnya merah jambu. Andreas mengerutkan kening, jantungnya berdetak lebih kenceng. Ada sesuatu yang harusnya Andreas tahu, tapi kabut membuat wajahnya samar."Siapa?" gumam Andreas, melangkah maju susah payah.Maya menoleh ke arahnya, mata berkilat penuh ketenangan. Gadis berbaju merah jambu itu berbalik perlahan. Wajahnya terlihat jelas saat kabut disingkirkan cahaya bulan. Mata cokelat berkilau dengan pipi bersemu tipis. Sosok

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 15: Ungkapan Hati

    Trotoar Kafe Senopati terasa sesak meski tak ada kerumunan. Rendra duduk di aspal sambil bersitegang dengan Mile dan Lara. Darah menetes semakin deras di kemeja biru tuanya.Andreas berdiri tegak, napasnya masih cepat, belum sepenuhnya tenang. Keceplosan tadi membuat wajahnya merah, tapi tidak gentar. Ia melirik Lara yang ternyata mampu memahami ajakan aktingnya.Tanpa mengangguk Lara pun memeluk lengan pria itu seolah memamerkan sesuatu.“Ren, udah cukup,” kata Lara. "Aku sama Andreas--jadi jangan ganggu kami lagi. Apa yang kamu minta, lupain aja karena hal ini percuma."Rendra mendongak. “Sama dia?” ulangnya dengan mata menyipit sangsi. “Kamu bilang nggak mau terjebak drama, tapi tiba-tiba punya pacar? Mana ada orang tolol di dunia ini yang percaya."Andreas melangkah maju, posisinya benar-benar menyudutkan Rendra kali ini. “Sejak kapan urusan kami jadi urusanmu?” tanyanya penu

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 16: Bertanya Ibu

    Di apartemen, Lara melihat Milo meringkuk di bantal sofa. Sementara sang pemilik teringat Andreas yang ngotot mengantar pulang dan membantu membawa barang-barang sampai depan pintu. Pria itu membelikan sekotak makanan ringan, teh hijau premium, beberapa cokelat batangan, dan buku sketsa baru sore tadi, setelah mereka memutuskan masuk kafe usai drama trotoar. Gadis itu pun menatap semua oleh-oleh dengan wajah memerah.“Ya Tuhan, ini beneran apa?” gumamnya penuh kebingungan. Lara teringat fakta sang bos ternyata duda dan bilang cinta kepadanya. Tangan Lara menutup wajah karena malu. Ia bolak-balik terkadang duduk, berdiri, atau jalan-jalan dengan pikiran penuh Andreas. Suaranya yang berwibawa menggetarkan jantung dalam dada. “Um, sebaiknya kusapa dulu lewat ponsel.”Ia membaca sebuah pesan yang berbunyi: “Sampai rumah istirahat dan jangan kerja terlalu larut.” Lara pun menghela napas, dengan jantung be

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05

Bab terbaru

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 26: Menuju Pengadilan

    Pagi di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Langit abu-abu tebal menyelimuti kota, seolah mencerminkan beban yang kini Andreas pikul. Di kantornya di Kuningan, ruang rapat besar dipenuhi suasana tegang. Meja panjang dikelilingi tim hukum perusahaan, Bima, dan beberapa staf senior, sementara Andreas duduk di ujung, tangannya mencengkeram pena dengan tatapan tajam. Lara duduk di sampingnya, kali ini tak hanya sebagai pendamping, tapi sebagai bagian dari perjuangan yang kini mereka hadapi bersama. Di depan mereka, layar proyektor menampilkan dokumen-dokumen lama terkait saham Maya—bukti yang akan menjadi senjata mereka.“Pak Andreas,” mulai Rudi, kepala tim hukum, dengan suara tenang tapi tegas. “Kami udah cek semua dokumen. Saham yang diminta Pak Hartono dan Bu Siska memang awalnya atas nama Alm. Maya Wirawan, tapi itu udah dilebur ke aset perusahaan tiga tahun lalu atas persetujuan tertulis dari beliau. Secara hukum, posisi kita kuat. Tapi mereka bisa bawa ini ke ranah emosional

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 25: Berjuang Bersama

    Sore itu, kantor Andreas di Kuningan terasa hening setelah kepergian Pak Hartono, Bu Siska, dan pengacara mereka. Ruang rapat yang tadi penuh ketegangan kini kosong, hanya menyisakan aroma kopi dingin dan kertas-kertas yang berceceran di meja. Andreas duduk di kursi utama, tangannya mencengkeram sisi meja, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung Jakarta di bawah langit kelabu. Lara berdiri di sampingnya, tangannya memegang pundak Andreas lembut, memberikan kekuatan tanpa kata.“Kamu baik-baik aja?” tanya Lara pelan, suaranya hati-hati tapi penuh perhatian.Andreas menarik napas dalam, lalu menoleh ke Lara dengan senyum lemah. “Aku nggak tahu, Sayang,” katanya jujur, suaranya serak. “Aku pikir aku udah siap hadepin mereka, tapi denger Bu Siska bilang aku berubah … itu ngena banget.”Lara duduk di kursi sebelah, tangannya kini menggenggam tangan Andreas erat. “Kamu nggak berubah, Andreas. Kamu cuma lanjut hidup, dan itu nggak salah. Mereka lagi

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 24: Harga Kepercayaan

    Pagi di rumah keluarga Andreas di Menteng terasa dingin, meski matahari sudah menyelinap melalui celah-celah jendela. Aroma teh dan roti bakar dari dapur tak mampu mencairkan ketegangan yang masih menggantung sejak malam sebelumnya. Andreas duduk di meja makan, tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin, matanya sayu menatap ponsel di depannya. Lara berdiri di dekat jendela ruang tamu, memandang taman kecil yang dipenuhi bunga mawar putih—bunga yang mengingatkannya pada cerita Andreas tentang Maya. Rina sibuk di dapur, berusaha menciptakan suasana normal dengan menggoreng telur, sementara Maharani duduk di sofa, tangannya mencengkeram buku doa tua yang tak dibuka.“Andreas,” panggil Maharani pelan, suaranya serak tapi tegas. “Kamu udah telepon Bima? Soal investor sama surat dari Hartono, kita nggak boleh diem aja.”Andreas menoleh, mengangguk lelet. “Udah, Bu. Bima bilang rapat sama investor bisa diatur besok pagi. Soal surat Hartono, aku minta dia cek ke pengacara perusahaan.

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 23: Bayang di Ambang Pintu

    Malam di rumah Andreas terasa lebih hidup dari biasanya. Aroma udang saus asam manis dan nasi goreng buatan Lara mengisi udara. Denting piring dan gelak tawa dari Rina membuat suasana makin meriah. Andreas berdiri di samping Lara untuk memotong bawang dengan gerakan canggung. Sesekali lelaki itu melirik Lara dengan senyuman. Maharani duduk di meja makan, mengamati mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara kaku dan agak melunak.“Kamu beneran jago masak, ya,” komentar Rina, mencicipi sambal dari ujung sendok. “Kak Andreas beruntung banget, aku aja nggak bisa bikin gini.”Lara pun tertawa kecil. “Makasih, Rina. Ini cuma resep sederhana, kok. Kalau mau, aku ajarin kamu kapan-kapan,” katanya.Di sisi lain Andreas melirik ibunya, mencoba membaca apa yang Maharani pikirkan. “Bu, kalau tertarik coba rasanya ini enak banget,” katanya.Namun Maharani hanya menanggapi singkat. “Ibu makan kalau udah jadi,” jawabnya, lantas tedengar bunyi bel di pintu. Rina pun mengerutkan kening sambil

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 22: Bukanlah Jurang

    Bab 22:Pesawat mendarat di Jakarta membawa Andreas dan Lara kembali ke hiruk-pikuk kota yang kontras dengan ketenangan Bali. Langit kelabu menyambut mereka, seolah mencerminkan ketegangan menanti. Di dalam mobil yang dikemudikan Pak Hadi, Andreas duduk di samping Lara sambil menggenggam tangannya. Ia memberi isyarat bahwa betul-betul di sisi sang kekasih. Lara memandangnya dari samping dengan mata penuh kecemasan.“Kamu yakin nggak apa-apa ketemu Ibu sekarang?” tanya Andreas. “Aku nggak mau kamu jadi sasaran karena Ibu lagi sensi. Tapi kalau sanggup pasti kubantuin mengobrol.”Lara tersenyum kecil. “Aku yakin, Andreas. Aku nggak mau jadi pacar yang disembunyiin. Kalau Ibu sama Rina nggak terima aku, biar aku hadepin sendiri. Aku nggak takut,” katanya tegasAndreas menatapnya lekat. Ada kelegaan bercampur kekaguman di matanya. “Makasih, Lara. Aku cuma nggak m

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 21: Konfrontasi Mama

    Pagi di Bali terasa segar dengan aroma laut bercampur embun. Andreas dan Lara menginap duduk di balkon, menghadap pemandangan pantai yang masih sepi. Di meja kayu dua cangkir kopi hitam mengepul pelan. Lara mengenakan kaus longgar dengan motif bunga dan rambutnya dikuncir. Andreas masih memakai kemeja putih yang kusut dari malam sebelumnya.Andreas memandang laut dengan tangan memutar cangkir kopi miliknya.Lara memperhatikan. “Kamu kenapa dari tadi diam aja?” tanyanya. “Capek apa kangen sama Jakarta?”Andreas menoleh. “Bukan,” katanya. “Cuma … tadi malem Rina telepon dan kamunya udah tidur.”Lara mengerutkan kening. “Rina? Ada apa? Semuanya baik-baik aja?”Andreas menggeleng. “Sepertinya ada masalah di rumah yang membuat Ibu sama Rina ribut besar. Mereka nggak menyangka aku ke Bali sama kamu tanpa bilang ke

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 20: Malam Hangat

    Malam di Bali terasa lembut, ditemani suara ombak yang terdengar dari jendela kamar hotel. Angin laut menyelinap masuk, membawa aroma garam bercampur bunga kamboja taman bawah. Lampu kamar sengaja diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu meja. Suasana itu menciptakan ketenangan yang membungkus Andreas dan Lara, seolah dunia di luar sana berhenti berputar untuk mereka.Lara masih duduk di tepi ranjang, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Pensil bergerak lincah, menggoreskan garis-garis halus yang perlahan membentuk sesuatu. Andreas yang sudah melepas kemeja luar kini hanya mengenakan kaus sederhana. Sang kekasih duduk di sampingnya sambil memandang penuh perhatian. Andreas tahu Lara suka memberi kejutan, dan ia menikmati momen menunggu.“Jadi, besok pagi ke pantai lagi?” tanya Lara sambil tetap fokus pada gambar.“Ya, aku pengen lihat sunrise bareng kamu,” jawab Andreas. Ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat. “Terus abis itu kita cari sarapan. Ada tempat bagus katany

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 19: Kejujuran Andreas

    Langit Bali sore membentang luas dengan gradasi oranye dan ungu, menyatu sempurna di ufuk barat. Pantai Kuta ramai oleh suara ombak bergulung diiringi tawa wisatawan dan deru angin laut membawa aroma garam. Andreas dan Lara duduk berdampingan di atas tikar sederhana yang mereka sewa. Di depan mereka, kotak makanan buatan Lara sudah terbuka. Udang saus asam manis tinggal beberapa potong, sementara cumi goreng hampir habis. Andreas memegang tusuk sate kecil, matanya berbinar kagum setiap kali menyuap. “Lara, ini beneran enak banget,” katanya sambil mengunyah, suaranya. “Aku nggak nyangka kamu jago masak gini. Kalau tiap hari dikasih bekal aku bisa lupa makan di restoran.” Lara tersenyum kecil. “Jangan alay, Andreas,” balasnya sambil memainkan ujung rambut. “Aku cuma takut rasanya kurang pas, makanya bikin simpel aja. Lagian, ini pertama kalinya aku masak buat … pacar.” Kata terakhir hampir seperti bisik.

  • Balada Cinta Sang Presdir   Bab 18: Foto Kencan Pertama

    Langit Bali sore membentang luas dengan gradasi oranye dan ungu, menyatu sempurna di ufuk barat. Pantai Kuta ramai oleh suara ombak bergulung diiringi tawa wisatawan dan deru angin laut membawa aroma garam. Andreas dan Lara duduk berdampingan di atas tikar sederhana yang mereka sewa. Di depan mereka, kotak makanan buatan Lara sudah terbuka. Udang saus asam manis tinggal beberapa potong, sementara cumi goreng hampir habis. Andreas memegang tusuk sate kecil, matanya berbinar kagum setiap kali menyuap.“Lara, ini beneran enak banget,” katanya sambil mengunyah, suaranya. “Aku nggak nyangka kamu jago masak gini. Kalau tiap hari dikasih bekal aku bisa lupa makan di restoran.”Lara tersenyum kecil. “Jangan alay, Andreas,” balasnya sambil memainkan ujung rambut. “Aku cuma takut rasanya kurang pas, makanya bikin simpel aja. Lagian, ini pertama kalinya aku masak buat … pacar.” Kata terakhir hampir

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status