Siang hari itu terjadi keramaian di puncak gunung Wudang. Seorang anak laki laki tampak berdiri di atas podium sekte itu, dia terlihat kikuk dikerumini banyak anak lainnya. Anak itu adalah Rong Guo, yang diminta untuk memberika penjelasana dari mana dia bisa mengolah energi Hawa Murni.Rong Guo mulai memberikan klarifikasi, diikuti pandangan mencemooh kerumunan anak-anak baru.“Dengan ini, aku menegaskan bahwa tidak pernah menggunakan taktik licik atau berlaku curang dalam tindakanku di uji coba Energy meter.” Rong Gu berhenti dan menghela nafas. Dia berusaha meredam detak jantungnya.Meski-un suaranya berbicara tidak menggunakan hawa murni, namun karena keadaan saat itu begitu hening, maka setiap kata yang diucapkannya terdengar jelas dan langsung dipahami oleh para pendengarnya.Rong Guo melanjutkan… “Pada hari itu, saat aku sedang melakukan perjalanan mencari sumber daya di tengah Hutan Pinus Awan, tanpa sengaja menemukan sebuah pohon yang sangat aneh. Pohon tersebut memiliki daun
Pada malam yang sunyi, di sebuah gubuk terpencil yang berada jauh dari kerumunan perumahan di Sekte Wudang, tampak Rong Guo sedang melakukan persiapan untuk melakukan kultivasi. Dia membuka pintu kayu yang sudah lapuk, pikirannya tampak melayang-layang dalam keheningan."Sudah beberapa hari ini, kultivasiku di bawah sinar Rembulan terpaksa harus terhenti, akibat pengawasan yang begitu ketat di setiap sudut sekte. Namun, sepertinya malam ini adalah malam yang sempurna untuk menyerap energi dingin dari Rembulan!" ucap Rong Guo dengan semangat yang mulai membara.Secara keseluruhan, raut wajah dan gerakan Rong Guo mencerminkan isi hatinya yang penuh kegembiraan.Karena, meskipun pada saat itu bulan berada dalam fase bulan mati, yang tampak hanya kegelapan yang menyelimuti cakrawala, namun hal ini tidak menghalangi keinginannya untuk melakukan kultivasi.Sambil memegang dua buah pil di kantong, perasaan hangat menjala di dadanya. "Pil Qi dan Pil darah yang baru saja dibagi sebagai hadiah
Perhitungan jam berdasarkan jam Chen Shi dalam sistem waktu Shichen, yang berarti saat sekarang adalah antara pukul 07.00 hingga 09.00 pagi, pada waktu itu Matahari telah naik dan berada di langit. Cahaya yang terang terpncar ke Hutan Bambu menimbulkan pesona.Di sebuah gubuk yang terlihat reyot dan rampuh, cahaya Mentari tampak menembus celah-celah jendela yang dilapisi kertas tua yang telah sobek di beberapa tempat. Sinar terang yang masuk itu membuat mata Zhao Lei terpapar cahaya menyilaukan, membuatnya menyipitkan mata."Di mana aku berada?" desis Zhao Lei dalam hati. Ia baru saja tersadar dari pingsan dan berusaha untuk bangkit dengan segera.Namun, ketika dia baru saja bergerak tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa muncul, menyerang bagian dada."Aduh!" jeritnya.Rasa sakit itu begitu pedih, hingga membuat air mata jatuh dari pelupuk matanya."Apa yang terjadi padaku? Apakah tulang dadaku patah?" pikir Zhao Lei dalam kepanikan.Kemudian, ia mulai mengingat. Di tengah malam, sebel
Di depan Perpustakaan Sekte Wudang, di antara semilir angin yang membawa harum bau tanah basah dan daun-daun pinus dari hutan, hampir saja terjadi insiden antara empat anak orang kaya yang sombong melawan Rong Guo.Setelah Ouyang Jun mengeluarkan kata-kata hinaan, dia langsung berjalan melewati Rong Guo dan Xiao Ning dengan cepat. Dia menutup hidungnya dengan jepitan dua jarinya, seolah-olah ada bangkai tikus di sekitarnya. Di belakangnya, tiga anak lainnya ikut bersama-sama dengannya. Mereka juga adalah anak-anak orang kaya dari Kota Tanshan dan desa di sekitar Gunung Wudang."Anak ini sungguh bau!" kata Chao Sui dengan keras. Ayah anak ini adalah seorang juragan gandum di desa sekitar kaki Gunung Wudang. Suaranya terdengar meremehkan."Bahan bajunya sudah demikian lapuk. Aku tak heran kalau itu tercium apak!" jawab yang lain.Gerombolan itu lalu menyambar Rong Guo dari jalan di Koridor sekte, sehingga dia hampir saja jatuh.Melihat kekasaran, juga saat mendengar kata-kata yang penuh
Penjelasan yang paling relevan atas pertanyaan yang menggelayut dalam hati Rong Guo adalah: mengapa dia mampu mengeksekusi Teknik Pedang Tiga Belas Gerakan Burung Terbang – suatu Teknik pedang Peringkat Pertama, yang pada halaman depan buku petunjuknya diberi peringatan, ‘membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikan pelatihan’? Jawabannya terletak pada Tingkat Kultivasi Rong Guo. Sejak mendapatkan Inti Mutiara dari senior Mi Shilin, kekuatannya langsung melonjak, mencapai puncak ranah Pendekar Harimau Giok.Sementara itu, Teknik Pedang Tiga Belas Gerakan Burung Terbang, dirancang khusus untuk murid-murid di tahun pertama, yang rata-rata berkultivasi di ranah Pendekar Embun Kristal. Jadi, ketika Rong Guo yang melakukan pelatihan Teknik Pedang tersebut, jumlah energi yang dia miliki jauh melebihi ketentuan. Akibatnya, setiap kali dia mengeksekusi Gerakan Pedang tersebut, semuanya terasa mudah dan lancar.Namun, Rong Guo tetap tidak menyadari satu hal.Kekuatannya sudah cukup kuat, b
Hari itu, setelah menyelesaikan pelajaran di Aula Kuliah Umum Sekte Wudang, Rong Guo bergegas kembali ke gubuknya di tepi Hutan Bambu. Dia berulang kali merapalkan seni pernafasan yang ia pelajari di kuliah umum. Saat itu, hari masih terang dan sinar matahari belum terbenam. Dengan memanfaatkan sisa sinar matahari yang ada, Rong Guo mencoba berlatih teknik seni pernafasan yang dia pelajari.Baru saja setengah jam dia memejamkan matanya sambil menghimpun energi dari hawa yang beredar di udara, Rong Guo langsung membuka matanya. Dalam hatinya, dia merasa heran."Mengapa proses perubahan aliran energi yang mengalir masuk ke dalam dantianku sangat sedikit? Ini berbeda jauh jika aku menggunakan teknik kultivasi senior Mo Shilin," wajah Rong Guo penuh tanda tanya. "Apakah ini berarti seni kultivasi yang diajarkan Senior Mo Shilin lebih bagus, dibanding seni kultivasi Sekte Wudang?"Setelah hatinya dipenuhi dengan tanda tanya, dia akhirnya memutuskan untuk berlatih sesuai ajaran yang diajark
Payung tersebut dibuat dari Kayu Ash, jenis kayu yang mirip dengan kayu pohon Ek. Kayu Ash dikenal memiliki kekuatan yang memadai untuk digunakan dalam pembuatan senjata. Kayu ini juga memiliki daya tahan yang baik terhadap kerusakan dan pengaruh lingkungan. Dalam beberapa budaya, Kayu Ash sering digunakan sebagai bahan senjata untuk memusnahkan mahluk sihir.Ketika Rong Guo melihat payung yang gagangnya terbuat dari Kayu Ash, dan permukaannya dilukis dengan gambar Naga dan Phoenix yang terbang bersama seperti pasangan, hatinya dipenuhi oleh kegembiraan."Bagus! Aku rasa payung ini akan cocok untuk digunakan sebagai senjata. Bukankah Senior Mo Shilin pernah mengatakan bahwa pada masa jayanya, dia dikenal dengan julukan 'Si Payung Iblis'? Bukankah ini cocok dengan kultivasiku, yang berbasis energi bulan?" Meskipun wajahnya tertutupi oleh topeng Raja Neraka, namun suara Rong Guo terdengar sangat bersemangat.Gadis yang berprofesi sebagai tenaga administrasi di Arena tersebut, langsung m
Imam Gangyi, dengan mata terbelalak, terpana melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh Petarung San saat memblokir serangan pedang dari Petarung Beruang. Dia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya, menatap sosok bertubuh kurus namun tinggi di hadapannya, yang menutupi wajahnya yang sudah bertopeng, dengan payung bertanda Naga dan Phoenix.Meski Petarung San tampak berusaha menerapkan Teknik 'Blokir' dengan cara yang tampak sembarangan, Imam Gangyi tidak bisa dibohongi. "Siapakah sosok misterius di balik Payung Naga dan Phoenix ini, yang bersembunyi di balik topeng Raja Neraka?" tanya Imam Gangyi, dipenuhi oleh rasa penasaran yang mendalam.“Dalam perjalanan karirku sebagai seorang penatua di Sekte Wudang, aku telah berkenalan dengan banyak murid yang berbakat dan jenius. Namun, baru kali ini aku melihat seorang murid sekte yang memiliki kekuatan luar biasa, hampir menyerupai kekuatan seorang ahli tingkat menengah!” Mata, milik Imam Gangyi, tak henti-hentinya memindai sosok misterius di b
Tiga bulan telah berlalu sejak peristiwa besar yang mengguncang dunia persilatan. Di Puncak Wudang, keramaian tak biasa memenuhi setiap sudut.“Pemimpin Sekte Wudang akan menikah!” teriak seseorang di kerumunan dengan semangat.“Mari kita saksikan! Ini peristiwa yang jarang terjadi!” sahut yang lain, ikut terbawa antusias.“Pemimpin Rong akan menikahi Penatua Xiao, sahabat semasa kecilnya!”Kabar ini telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, membuat semua orang berbondong-bondong datang, meskipun tanpa undangan.Setelah kemenangan besar melawan Kekaisaran Matahari Emas, reputasi Sekte Wudang berada di puncaknya. Dipimpin oleh Rong Guo, seorang Abadi, Sekte ini kini menjadi pusat dunia persilatan.Pagi itu, Puncak Wudang terasa hidup. Murid-murid sibuk mempersiapkan segala sesuatu dengan teliti, sementara tokoh-tokoh dari dunia persilatan turut hadir untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Para pemimpin sekte aliran putih, datuk sekte sesat, dan praktisi independen berkumpul, meningga
Peristiwa pertarungan itu menyisakan kepedihan yang mendalam. Bau darah masih memenuhi udara, bercampur dengan aroma tanah basah yang terhantam ledakan energi.Langit di atas Puncak Gunung Wudang kini mulai cerah, namun suasana di bawahnya tetap mencekam.Sosok Khaganate dari Benua Podura terbaring diam di atas tanah yang hancur.Armornya yang hitam pekat kini penuh retakan, memancarkan kilau redup seperti batu obsidian yang kehilangan cahayanya.Tubuhnya yang sebelumnya memancarkan aura menakutkan kini terlihat rapuh, seperti sisa abu dari api besar yang telah padam.Dalam sekejap mata, Rong Guo melesat, gerakannya begitu cepat hingga hanya meninggalkan bayangan samar di udara.Ketika orang-orang mengedipkan mata, ia sudah berdiri di sisi jasad Khagan, seperti bayangan yang muncul dari kehampaan.Semua ahli di puncak Wudang segera berkerumun, namun tidak ada yang berani terlalu dekat.Mereka berhenti beberapa langkah di belakang Rong Guo, mata mereka penuh dengan rasa ingin tahu berc
Getaran ledakan meruntuhkan tebing-tebing di kejauhan, sementara retakan-retakan dalam menjalar liar di tanah, melahap apa saja yang dilewatinya.“Langit akan runtuh! Kita semua akan mati!” teriak seorang pria tua, tubuhnya gemetar ketakutan.“Lari! Jangan lihat ke atas!” jerit seorang ibu sambil menarik anaknya yang menangis, wajahnya penuh kecemasan.Penduduk berlarian kacau, beberapa terjatuh akibat guncangan, sementara yang lain terus mencari tempat berlindung.Percikan energi dari ledakan di langit jatuh seperti hujan meteor, membakar apa saja yang disentuhnya.Di langit, tubuh kedua Abadi itu terlempar jauh ke belakang akibat dampak besar serangan mereka. Rong Guo tersungkur ke tanah, tubuhnya memar dan dipenuhi luka.Napas Rong Guo tersengal, darah mengalir di sudut bibirnya, tubuhnya bergetar karena energi yang hampir habis.Napas Rong Guo tersengal, darah mengalir di sudut bibirnya. Tubuhnya tampak melemah, tetapi auranya tetap menguasai langit. Ia melayang dengan stabil di u
Langit tampak seperti tercabik-cabik, retakannya menjalar seperti guratan api yang membakar langit malam.Setiap lapisan atmosfer bergetar hebat, seolah tak mampu lagi menahan kekuatan dahsyat dari dua ahli peringkat Abadi yang bertarung di cakrawala.Matahari memerah, cahayanya memudar seperti nyala lilin yang hampir padam.Dunia seolah berubah menjadi tua.Udara dipenuhi energi gelap dan terang yang saling bertabrakan, menciptakan ledakan menggema yang membuat tanah retak dan sungai meluap.Dua sosok raksasa, perwujudan energi mereka, melesat berpindah-pindah. Ke Utara, Selatan, Barat, dan Timur, setiap langkah mereka mengguncang bumi dan menghancurkan gunung.Bayangan mereka memanjang di atas tanah, menebar teror yang membuat semua makhluk di bawah langit merasa kecil dan tak berdaya.Di seluruh penjuru Benua Longhai, penduduk keluar dari rumah mereka.Wajah-wajah pucat pasi mendongak ke langit, menatap pemandangan apokaliptik yang terjadi di atas mereka.Napas mereka tertahan, dad
Secara alami, pertarungan antara dua Abadi di cakrawala adalah sesuatu yang sangat luar biasa.Pertarungan yang terjadi antara Rong Guo dan Khagan dari Benua Podura mengguncang cakrawala. Kedua sosok abadi itu bertarung dengan kekuatan luar biasa, memecah langit dan menggoncangkan bumi di sekitar mereka.Kedatangan Rong Guo yang terlambat membuatnya terkejut, melihat apa yang terjadi di puncak Gunung Wudang.“Terlambat! Kita terlambat,” tangis Biarawati Fear tak tertahankan.Ia merunduk di tanah puncak gunung, sambil menangisi satu demi satu jenazah murid-murid dari Sekte Gurun Gobi yang tergeletak kaku.Sementara Rong Guo hanya diam.Meski emosinya bergejolak, namun dengan tingkat kultivasi yang telah mencapai puncak dunia, yaitu Yongheng—atau abadi—dia tidak mudah hanyut dalam perasaan sedih yang mendalam.Sambil memindai dengan energi spiritualnya yang tajam, Rong Guo menemukan jejak aura ribuan tentara Kekaisaran Matahari Emas yang menyebar di Puncak Terlarang.Sedetik sorot mata
"Apa yang terjadi?" suara seseorang bergetar memecah keheningan."Siapa yang melakukan ini? Siapa yang menghabisi semua tentara Matahari Emas?"Tidak ada yang mampu menjawab. Keheningan kembali menyelimuti, berat dan penuh tanda tanya.Zhang Long Yin memandang pemandangan itu dengan dahi berkerut tajam. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, tapi pikirannya dipenuhi kebingungan. Siapa yang memiliki kekuatan sebesar ini, yang mampu menyingkirkan ribuan tentara dalam sekejap?Xiao Ning menggigit bibir, emosinya bercampur aduk.Keajaiban ini mungkin telah menyelamatkan mereka, tetapi muncul pertanyaan besar: keajaiban macam apa yang terjadi di Puncak Terlarang malam tadi?>>> Di langit...Dua sosok bertarung dalam bentuk yang melampaui nalar manusia.Pemuda berbaju putih longgar berdiri di udara dengan ketenangan yang menusuk, seperti puncak gunung es yang tersembunyi.Senjata di tangannya adalah sebuah payung istimewa yang memancarkan aura magis. Angin berputar di sekelilingny
Malam yang panjang berlalu dengan cepat.Di dalam array Puncak Terlarang, semua orang terdiam, menutup mata, berusaha mengabaikan hiruk pikuk di luar. Ada yang tenggelam dalam meditasi, ada pula yang sibuk mencoba menyembuhkan luka dengan sisa obat seadanya.Kesibukan itu membuat tak seorang pun memperhatikan keanehan yang muncul di luar.Di langit yang kelam, sebuah kilat tiba-tiba menyala, hanya sekejap. Namun, efeknya sungguh menggetarkan.Saat kilat itu lenyap, ribuan tentara Kekaisaran Matahari Emas tergeletak, saling bertumpuk di atas tanah Puncak Terlarang.Tubuh-tubuh mereka tidak bergerak tak bernyawa, nyaris menyatu dengan ribuan jasad yang sudah lebih dulu menjadi korban perang.Tak lama kemudian, matahari mulai bersinar lembut.Cahayanya menyelinap melalui celah array, menyentuh permukaan tanah yang dingin dengan kehangatan samar.Zhang Long Yin, pemimpin Sekte Wudang, membuka mata perlahan setelah semalaman bermeditasi untuk memulihkan energi Qi-nya.Di dekatnya, Xiao Nin
Jauh sebelum perang ini pecah, dalam sebuah diskusi, Zhang Long Yin pernah mengungkapkan bahwa mereka masih memiliki tempat persembunyian, jika keadaan mendesak.“Aku akan bersiul sebagai kode, dan semua orang harus segera bergegas menuju Puncak Terlarang Sekte Wudang. Di sana, kita akan aman!” ujarnya dengan tegas, suaranya penuh keyakinan.Namun, siapa yang bisa membayangkan bahwa saat ini, kata-katanya akan menjadi kenyataan yang mengerikan?“Array dan formasi sihir di Puncak Terlarang sangat kuat. Tidak ada yang bisa menembusnya jika kita berlindung di sana!” jelas Zhang Long Yin lebih lanjut, seperti mengingatkan dirinya sendiri bahwa satu-satunya harapan adalah puncak terlarang itu.Para pemimpin sekte, bersama datuk-datuk dunia persilatan, bahkan telah melakukan simulasi tentang cara evakuasi ke Puncak Terlarang jika keadaan semakin genting.Namun, mereka tidak menyangka bahwa hari itu akan datang dengan begitu cepat.“Tapi semoga ini tak terjadi. Kita akan berperang mati-matia
Di belakang Sekte Wudang, terdapat satu puncak yang belum pernah tersentuh oleh siapapun. Puncak itu dikenal sebagai "Puncak Terlarang", dan hanya pemimpin sekte yang diperbolehkan menginjakkan kaki di sana.Desas-desus beredar bahwa di puncak daerah terlarang tersebut terdapat sebuah jurang yang sangat dalam, yang disebut-sebut sebagai neraka dunia.Jurang itu mendapat juluka "Neraka Dunia" karena di sanalah para praktisi Sekte Wudang yang sesat dan melanggar aturan golongan putih dibuang.Tempat itu menyimpan penderitaan yang tak terbayangkan, dan tak seorang pun yang pernah kembali untuk menceritakan kisahnya.Pagi mulai menjelang, cahaya matahari menyemburat lembut di ufuk timur, namun pertempuran yang berkecamuk tak juga mereda.Di atas Puncak Sekte Wudang, bukanlah pemandangan yang biasanya terlihat—sekarang lebih tepat disebut puncak pemakaman daripada puncak sekte dari dunia persilatan aliran putih. Lantaran darah yang berceceran, dan tubuh yang berserakan, udara terasa begit