Share

Bab 128. Foto dalam plastik.

Penulis: Kencana Ungu
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-03 00:09:59

"Kenapa harus bawa Roni segala, Ita? Kamu, kan tahu dia biang masalah?” Rupanya Ibu tidak setuju.

“Bukan begitu Bu, kalau kita bawa Mas Roni ke sini, kita bisa tahu apakah dia yang selama ini melakukan teror itu atau bukan? Lagi pula, Bu, yang namanya menyambung silaturahmi kita tidak boleh memandang-mandang orang dan pilah-pilih yang dari luarnya terlihat jahat belum tentu dalamnya, begitu juga sebaliknya Bu,” jelasku pada ibu.

“Iya, sih, Ibu paham, Ta, tapi Ibu takut saja orang ini akan bikin masalah malah Nanti kamu malu.”

“Tenang saja, Bu, kan, Mbak Asih sudah bilang kalau Mas Roni bikin masalah, Mbak Asih yang akan bertindak. Kita lihat saja besok.”

“Semoga semuanya baik-baik saja, ya, Ta, dan acara yang kamu akan adakan nanti berjalan lancar juga kita bisa tahu siapa pelaku sebenarnya.”

“Aamiin, Bu, semoga saja begitu. Kita hanya bisa berdoa semoga saja Allah memudahkan dan melancarkan semuanya.”

**

Paginya aku mengantar Mas Danu sampai depan. Saat dia mau berangkat kerja t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 129. Jatuh.

    “Looh ... Ita, apa yang kamu lakukan? Naik-naik tangga begitu nanti jatuh, loh?” tegur Mamah Atik beliau sedang membawa kain pel hendak mengepel lantai.“Mau ambil foto ini, Mah, ada sesuatu yang terjadi saat Mas Danu tadi hendak pergi ke toko. Nanti aku jelaskan,” jawabku tanpa menoleh pada Mamah Atik dan juga pada bapak yang memegang tanggaku.“Sudah, kamu turun saja, Nak, biar Bapak yang mengambil. Itu bingkainya lumayan berat nanti kamu tidak kuat,” pinta bapak, setelah aku coba pun memang benar bingkai ini lumayan berat karena memang terbuat dari kayu jati asli yang sudah tua. Ini dipesan khusus oleh Mas Danu pada temannya yang memiliki usaha mebel jati.“Iya, benar loh, kata Bapakmu, kamu turun saja, Nak, nanti kamu jatuh malah jadinya tambah ribet urusannya! Sudah perempuan itu, di bawah aja dan laki-laki yang naik!” seru Mamah Atik.“Siap, Mah!” jawabku seraya tersenyum dan dengan hati-hati aku turun ke bawah.“Nah, biar Bapak yang ngambil saja tolong pegangin tangganya, ya

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 130. Apa tujuannya?

    "Astagfirullah ... ya, Allah! Apa yang akan terjadi pada anakku? Ya, Allah, tolong jauhkanlah dan lindungilah anakku dari mara bahaya!” teriak Ibu histeris dan memeluk Kia.Mbak Asih yang sedang asyik menonton TV pun berlari menghampiri kami.“Ada apa, Bulek? Kia, kenapa?” tanya Mbak Asih dikiranya Kia yang terluka.Mbak Asih memang sangat sayang pada kia dan juga dekat, jadi kalau terjadi sesuatu pada Kia, pasti akan sangat khawatir.“Bukan, Kia, foto ini jatuh untung tidak ngenain Kia, makanya Ibu histeris,” jelasku pada Mbak Asih."Ya, Allah, iya. Untung Kia, enggak kena jatuhan foto ini lagi pula kenapa diambil si, Ta? Kan, bagus dipajang di situ, bapakmu enggak bisa ngambilnya, jadi jatuh,” ucap Mbak Asih.“Bukan bapakku tidak bisa mengambil Mbak, tapi memang fotonya jatuh sendiri. Tadi yang depan pun begitu jatuh sendiri. Ah, ya, sudahlah mungkin karena memang kena angin atau mungkin memang karena pakunya sudah longgar. Sudah jangan diambil pusing, Ayo, Mbak Asih tolong dibawa

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 131. Melawan.

    [Biasa aja, tuh! Aku dan suamiku sama sekali tidak takut atas ancaman-ancaman yang kamu lakukan untuk keluargaku. Bagi kami itu hanya kerikil kecil yang dengan kami injak atau kami tendang saja sudah meluncur jauh.] Balasku dan langsung dibaca.[Oh, ya, hebat sekali kalian! Itu pun hanya butiran pasir yang aku tunjukan pada kalian. Masih banyak lagi kejutan-kejutan yang akan aku berikan pada kalian, jadi nikmati saja.] balasnya.[Lakukan jika memang kamu mampu. Lakukan jika kamu memang bisa, dan lakukan jika itu membuatmu puas kami terima tantanganmu.] jawabku lagi.Hanya dibaca saja dan nomornya kembali tidak aktif. Oke, aku bisa menyimpulkan bahwa ini adalah orang yang sama dengan seseorang yang meneror Mas Danu.Aku sengaja tidak akan pernah memblokir nomor-nomor yang sudah meneror kami agar itu untuk bukti jika sewaktu-waktu kami perlukan dan aku pun sama sekali tidak menghapus pesan-pesan dari nomor peneror itu.Kejahatan memang harus dilawan, jika tidak dia akan terus merasa me

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 132. Menutup akses.

    "Ya, sudahlah, Ta! Aku itu kalau disuruh gesit. Enggak nunggu waktu nanti. Kue cubitnya juga sudah habis dimakan ibu, katanya ibu mau ke pasar mau belanja karena mau bikin acara 7 bulanan kehamilanku, Ta, tapi belum tahu juga sih, jadi atau tidak. Karena tadi sewaktu mau berangkat Wak Romlah datang ke rumah. Entah sama Wak ngobrolin apa terus pamit sama aku, mereka pergi ke kebun,” jelas Mbak Asih.“Oh, ya, alhamdulillah ... Mbak Asih, sudah mau 7 bulan ya, hamilnya? Kebetulan sekali bisa ini kita gabungin acaranya sekalian dengan kumpulan keluarga besok Rabu, mau kan?” tanyaku.“Ya, maulah, Ta. Aku mau banget yang penting acara 7 bulanannya itu berjalan lancar dan juga bisa membawa keberkahan untuk kehamilanku dan juga anakku.”“Aamiin ... semoga, ya, Mbak Asih. Semoga saja nanti acara kita berjalan dengan lancar. Ya, sudah Mbak, mainnya dilanjut lagi. Aku mau mengerjakan sesuatu dulu di kamar nitip Kia, ya, Mbak?”“Oke ... santai saja, Ta. Aku senang kok, main sama Kia, kalau main

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-04
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 133. Pandai bersilat lidah.

    “Bu, jangan menangis begitu kalau Ibu menangis, malah aku akan semakin sedih dan aku akan jadi down,” pintaku pada ibu.“Ibu menangis karena sedih, Nak. Kenapa orang-orang itu buat jahat sama kamu, Ita, padahal kamu itu juga sudah berusaha berbuat baik pada semua orang. Ibu janji akan selalu ada untuk kamu dan Ibu akan selalu mendoakan kamu. Ya, sudah ayo, kita ke kamar, Ibu, akan temani kamu!” ajak ibu.“Baik, Bu, ayo!”Akhirnya aku ditemani Mamah Atik dan juga ibuku di kamar. Aku fokus menyeting akun sosial mediaku agar tidak terlihat publik ataupun teman.Aku setting private dengan begitu orang-orang tidak akan pernah melihat postingan-postingan fotoku dan aku juga mengganti foto profil dengan gambar bunga. Sejujurnya aku pun tidak pernah menyetting aplikasi sosial media ke publik, tapi takutnya orang yang mengambil foto itu adalah teman yang berada di akun sosial media aku dan tanpa sengaja aku dulu pernah mengupload foto itu, makanya dengan mudah dia mendapatkan foto kami.Tidak

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 134. Mencurigai Wira.

    “Mas, tidak mau memperpanjang masalah saja , Dik, makanya Mas, jawab iya. Karena yang, Mas, pikirkan adalah kamu dan juga Kia dan yang tadi sebenarnya Mas tidak tenang karena foto yang kita lihat ada di plastik kresek hitam itu, Dik. Mas, benar-benar marah dan juga jadi tidak konsen.”“Sama, Mas, aku pun begitu tadi aku sudah memprivat semua akun media sosialku agar tidak sembarangan orang bisa melihat. Aku takutnya foto itu diambil saat aku tidak sengaja mengupload karena hanya orang-orang terdekat saja yang selalu rajin melihat Story WA aku ataupun status Facebook, jadi aku berkesimpulan bahwa yang meneror kita adalah orang-orang terdekat. Kita harus waspada itu Mas dan Aku curiga kalau yang melakukan ini adalah Wira. Kamu tahu kan, Mas, Wira Seperti apa orangnya?”“Tidak, Dik, kamu tidak boleh curiga begitu. Wira kan, pergi merantau setelah kita usir dari rumah semoga saja dia benar-benar bekerja dan tidak mengganggu kehidupan kita. Wira sebenarnya tidak mungkin karena menurut, M

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-06
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 135. Ulang Mbak Ning di WAG

    Aku beruntung sekali bisa kenal dekat para orang yang berilmu agama dengan baik. mereka selalu mendoakan dan menyemangatiku juga selalu mengingatkan aku di jalan kebaikan. Aku benar-benar beruntung.“Iya, Ustazah, Makanya itu aku dan suamiku dari tadi tetap berpikir positif agar tidak terus terlalu kepikiran. Takutnya kalau kami semakin memikirkan itu akan membuat kami semakin tidak tenang. Bagaimana menurut Ustazah?”“Iya, Mbak Ita, bagus begitu. Lebih baik lagi Mbak Ita dibarengi dengan zikir, jadi selain pikiran tenang hati pun ikut tenang. Ustazah bantu doa dari sini ya, semoga Mbak Ita dan keluarga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.”“Aamin ... terima kasih Ustazah doa yang baik juga untuk Ustazah dan keluarga. Kalau begitu terima kasih atas waktunya. Kami tunggu kedatangan Ustazah, lusa Assalamualaikum ....”“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, sama-sama Mbak Ita.”Setelah selesai teleponan dengan Ustazah, aku segera mengambil wudu dan melaksanakan salat z

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-07
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 136. Darurat?

    [Wah, mantap banget baru lagi nih, Mbak! Aku pingin juga, dong?] tulis Mbak Susi.[Iya, dong! Keren, siapa dulu Mbak Ning, gitu loh, ya, hitung-hitung agar uang kita tidak cepat habis makanya Mbak tabungin ke Antam.] jawab Mbak Ning lagi.[Mending Mbak Ning, bisa nabung, lah, aku sama suamiku boro-boror nabung bisa makan sehari-hari saja sudah alhamdulillah, Mbak. Kemarin kami panen kopi coklat, tapi tidak banyak alhamdulillah bisa untuk nutup pupuk sama beli beras dan sayuran.] komentar Mbak Susi lagi.Aku baru tahu kalau Mbak Susi sekarang jadi petani. Syukur alhamdulillah kalau kakakku sudah menghasilkan dengan begitu pelan-pelan hidupnya akan jadi berubah.[Wah, panen coklat ya, Mbak? Enak, dong! Bagi sini, uangnya.] komentar Wira.[Bagi? Tanam sendiri, dong! Aku dan suamiku saja panas-panasan ngambilin coklatnya, digigit nyamuk banyak sekali. Aku tidak pernah mengeluh dan aku lakukan dengan ikhlas. Jika kamu capek mengikuti langkah kami, Kamu duduk saja, tapi kamu hidup miskin,

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-08

Bab terbaru

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 237. Ending.

    Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 236. Terungkap.

    "Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 235. Tak salah.

    Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 234. Tertangkap.

    “Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 233. Beraksi lagi.

    "Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 232. Bayangan hitam.

    “Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 231. Datang lagi.

    Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 230. Wak Tono.

    "Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 229. Tegarnya hati.

    "Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status